Kategori
Non Fakta

Clara, Roberto Bolaño

clara roberto bolano

DIA punya dada besar, kaki ramping, dan mata biru. Begitulah caraku ingin mengingatnya. Aku tidak tahu mengapa aku begitu jatuh cinta dengan dia, tapi aku benar-benar mencintainya, dari sejak pertama, maksudku sejak hari pertama, jam pertama, semuanya berjalan lancar; kemudian Clara kembali ke kota tempat dia tinggal, di selatan Spanyol (dia sedang berlibur ke Barcelona), dan semuanya mulai berantakan.

Suatu malam aku bermimpi bertemu seorang malaikat: Aku memasuki sebuah bar besar yang kosong dan melihat malaikat itu duduk di pojok ruangan dengan bertopang siku di meja dan secangkir kopi susu di depannya. Perempuan itu cinta sejatimu, ucap sang malaikat, menatapku, lalu dengan kekuatan tatapannya, api berkobar di matanya, melemparkanku tepat ke seberang ruangan. Aku mulai berteriak, Pelayan, pelayan, kemudian membuka mata dan bisa terlepas dari mimpi buruk itu. Malam lainnya aku tidak memimpikan siapa pun, tapi aku terbangun sambil menitikkan air mata. Sementara itu, Clara dan aku saling bersurat satu sama lain. Surat-suratnya begitu singkat. Hai, bagaimana kabarmu, di sini sedang hujan, aku mencintaimu, dah. Pada awalnya, surat-surat tadi membuatku khawatir. Ini semua akan berakhir, pikirku. Namun, setelah mempelajari lebih saksama, aku mencapai kesimpulan bahwa alasan tulisannya begitu singkat karena ia ingin menghindari kesalahan tata bahasa. Clara berbangga. Dia tidak bisa menulis dengan baik, dan dia tidak ingin membiarkan hal itu diketahui, bahkan jika itu berarti menyakitiku lewat bersikap dingin.