Kategori
Celotehanku

Manifesto Hidup Sehat ala Walt Whitman

Walt Whitman quote

Selain Agatha Christie,  ada Walt Whitman yang merupakan penulis penting yang pernah berprofesi sebagai perawat. Whitman, dikenal dalam sejarah sastra kanon Amerika Serikat sebagai penyair yang pertama kali mengenalkan puisi gaya bebas–enggak terikat oleh rima dan matra. Di awal 1860-an, enam tahun setelah menerbitkan secara mandiri Leaves of Grass, Whitman mulai bekerja menjadi perawat sukarela saat Perang Sipil Amerika. Dan pengalamannya dalam merawat si sakit dan menghadapi beragam kematian itu dituangkan dalam kumpulan puisi yang dihimpun dalam The Wound Dresser.

Kategori
Celotehanku

Tenaga Kesehatan, Profesional Dong!

tenaga kesehatan
Sumber: gnb.ca

Hari ini. Yang menyembuhkan sakit anda bukanlah obat, tapi duit. Sehat sudah jadi barang dagangan.

Sial benar memang jadi warga negara dunia ketiga seperti Indonesia. TBC, tifus, campak, gizi buruk, dan penyakit khas negara miskin lainnya masih jauh dari kata punah. Dan parahnya orang miskin maupun orang di daerah terpencil jangan harap diberi belas kasihan sama pelayanan kesehatan, diperhatikan juga tidak. Rumah sakit alergi sama orang sakit tak berduit. Sistem pelayanan di Indonesia belum menjangkau dan berpihak kepada rakyat yang membutuhkan.

Pantas bersyukur saya dan anda yang masih diberi kesehatan finansial. Buat yang kantongnya tebal, kalau sekiranya kurang puas sama layanan kesehatan dalam negeri, tinggal hijrah ke negeri tetangga. Dan bagi mereka yang kantongnya dikuras untuk berobat, jika sudah habis silahkan boleh lari ke pengobatan alternatif. Tak jarang dari klinik beralih ke klenik.

Kategori
Cacatnya Harianku Celotehanku Curhat Non-Informatif

Happy International Nurses Day! ♥

Nurses Day

 

Ketika bocah pas masih SD, pertanyaan paling ga saya suka adalah, “Kalau udah besar mau jadi apa?”. Anak lain sih gampang udah punya jawabannya, pada tau lah kalau ga dokter ya pengen jadi guru atau pilot atau cita-cita pasaran lainnya. Nah, saya.

Ga tau emang sikap pesimisnya udah lahiriah, saya masih bingung buat milih cita-cita. Karena keterpaksaan, biasanya buat jawab pertanyaan di atas ya saya pura-pura kalau cita-citanya pengen jadi dokter.

Sampailah pada akhir masa SMA. Saya kudu menentukan sebuah profesi yg akan menemani kehidupan saya nantinya. Masih absurd juga sebenernya etiologinya, tapi saya menetapkan untuk melanjutkan studi ke keperawatan.

Intinya saya ga ingin kerja yg hanya duduk manis diam di sebuah ruangan. Saya juga ingin bisa mengaplikasikan hobi mulia saya, tersenyum. Dan lagi saya alergi sama yg namanya angka-angka dan hitungan-hitungan.

Sebenarnya ingin kerja di bidang kesehatan masyarakat, tapi adanya juga jenjang S2, ya udah saya pilih keperawatan aja, mungkin menjurus ke sana juga pikir saya.

Alasan lainnya, meski rada konyol sih, pengen ngembangin keterampilan komunikasi sama cewe. Sesuai Rencana pas masuk dulu sih emang niatnya bukan cuma buat belajar tentang ilmu kesehatannya, tapi lebih buat ngembangin sama aktualisasi diri.

Sudah hampir 2 tahun, dan meski masih ada kegundahan tentang pekerjaan yg akan saya jalani ini, tapi saya yakin perawat merupakan suatu profesi yg sungguh mulia dan niscaya.

Selamat Hari Perawatan Sedunia! Makin jaya keperawatan Indonesia!

Kategori
Celotehanku Psikologi

24 Wajah Billy dan Hasrat untuk Berkecimpung di Kesehatan Jiwa

24 wajah billy milligan

Novel psikologi berjudul asli The Many Minds of Billy Milligan karya Daniel Keyes ini menceritakan kisah nyata dari seorang dengan Dissociative identity disorder. Kisah mengenai 24 orang yang hidup dalam diri William Stanley Milligan.

Mengikuti novel yang dirilis pertama tahun 1981 yang beralur flashback ini pada awalnya memang agak membosankan, ditambah ukuran huruf yg terbilang mungil semakin membuat saya merasa lelah untuk membaca. Mulai menarik ketika memasuki pertengahan yang menceritakan masa kecil Billy yang harus tumbuh di bawah tekanan mental yang hebat, terutama akibat dari penyiksaan sang ayah tirinya.

Novel diawali dengan Billy yang ditangkap dan dijadikan sebagai tersangka dalam kasus sejumlah perampokan dan pemerkosaan terhadap 3 mahasiswa.

Kategori
Non Fakta

Standar Operasional Praktek

“Rileks aja ya pak, tahan sebentar”.

Dengan tangan yang sedikit bergetar tegang, aku membilaskan kapas beralkohol di area vena tangan pasien yang tengah terkapar di kasur putih yang tampak agak kucel. Kubilas daerah penyuntikan tadi dengan penuh perasaan, seanggun mungkin yang dapat ku lakukan. Pasienku nampaknya tak keberatan, tak merespon sama sekali.

Kapas kubuang, lalu aku ambil abocath, semacam jarum suntik yang digunakan untuk transfusi darah, dari wadah besi penuh jarum suntik yang kuletakan tepat di samping tangan pasienku yang putih pucat.

Okay, tarik napas dan tahan ya pak, tetap rileks”, abocath sudah sangat siap untuk disuntikan, dan pasienku tetap tenang membisu.

Eh, nyuntik harus berapa derajat sih?”, suara wanita yang sudah duduk menemani pasienku sejak sebelum aku masuk kamar itu membuatku harus menunda tindakan penyuntikan. Mengagetkanku. Menambah sedikit rasa tegangku.

“45 derajat bu”

“Nah. Itu emang udah 45 derajat ya? Agak naik lagi coba”

“Segini ya bu?”, aku menatap wanita dengan jilbab merah menyala itu disertai senyuman palsu yang tercampur rasa tegang. Dengan bangganya, aku memperlihatkan derajat penyuntikan yang kuduga sekarang sudah sesuai dengan ekpektasinya. Wanita berumur hampir kepala tiga itu cuma mengangguk kecil, mengiyakan.