Kategori
Celotehanku

Eka Kurniawan: Umberto Eco 2.0

eka kurniawan penulis kapitalis

Seperti Mr. Golyadkin dalam The Double-nya Dostoyevsky, saya selalu merasa berdosa dan tersiksa ketika berbicara, karena enggak punya bakat melisankan apa yang ada dalam otak. Yang dipikirkan apa, keluarnya apa. Oleh karena khawatir lidah saya dapat mencelakai orang lain, saya selalu memilih bungkam saja. Saya orang yang sarkas, bahkan mungkin rasis, dan cawokah (baca: percakapan berbau porno), sehingga hanya berani membuka mulut sama mereka yang saya anggap dekat saja.

Tapi siang menjelang sore itu, ketika mendapat kesempatan untuk bertanya dalam acara bincang-bincang seputar rilis novel terbarunya, saya malah menjelekkan ‘O’; bahwa novel alusi Orwell ini sebuah kesalahan, seperti 1Q84, bagai Indomie beukah (baca: terlalu lama dimasak).

Kategori
Celotehanku

Salman Rushdie dan Tottenham Hotspurs

salman rushdie tottenham hotspurs

Aku pindah ke London pada Januari 1961, sebagai bocah berusia tiga belas setengah tahun, dalam perjalanan ke sekolah asrama, dan didampingi ayahku. Itu bulan yang dingin, dengan langit biru di siang hari dan halimun hijau saat malam. Kami menginap di Cumberland, di Marble Arch, dan setelah kami berkemas, ayahku bertanya apakah aku ingin melihat pertandingan sepakbola sungguh. (Di Bombay, tempatku dibesarkan, tak ada yang namanya sepakbola; olahraga lokalnya cuma kriket dan hoki.)

Pertandingan pertama yang ayahku ajak untuk kulihat adalah apa yang kemudian aku tahu sebagai sebuah “laga persahabatan” (sebab hasil akhirnya tak akan berdampak apapun) antara tim London Utara bernama Arsenal dan juara dari Spanyol, Real Madrid. Aku tidak tahu kalau lawan yang bertamu itu digadang-gadang sebagai klub terhebat yang pernah ada. Atau di antara pemainnya ada dua orang yang paling hebat, keduanya pemain asing; seorang Hungaria bernama Ferenc Puskas, “jenderal kecil”, dan dari Argentina, Alfredo di Stefano.

Inilah yang kuingat dari pertandingan itu: di babak pertama, Real Madrid mempecundangi Arsenal habis-habisan.

*

salman rushdie books

Di atas merupakan serpihan sebagian esei ‘The People’s Game’ dari Salman Rushdie di The New Yorker yang saya terjemahkan, karena tulisan berbayar hanya segitu aja. Intinya, dalam esei yang dirilis 31 Mei 1999 ini, sang penulis ‘Midnight’s Children’ ini menuliskan tentang kecintaannya pada sepakbola, terutama klub Tottenham Hotspurs. Dia melihat pertandingan pertama di London pada tahun 1961, antara Arsenal dan Real Madrid tadi. Cerita tentang Piala Dunia dan soal penjaga gawang. Tentang kemarahan berkepanjangan seorang Pat Jennings, kiper brilian, yang dipindahkan dari Spurs ke Arsenal. Tentang yel-yel yang dinyanyikan oleh orang banyak. Tentang nasib tim Spurs yang berubah lebih baik setelah mempekerjakan mantan manajer sang rival Arsenal, George Graham. Rushdie juga menggambarkan pertandingan di Wembley antara Spurs dan Leicester.

Ah ya, sebelumnya sudah pada kenal Salman Rushdie kan? Dan tau juga kalau ada klub sepakbola bernama Tottenham Hotspur FC? Sir Ahmad Salman Rushdie sendiri merupakan novelis dan esais, dikenal lewat gaya realisme magisnya, namun namanya makin melambung karena membuat novel kontroversial, ‘The Satanic Verses’, Ayat-Ayat Setan, yang membikin Ayatollah Khomenei mengeluarkan fatwa mati buatnya, dan siapa saja yang bisa menghabisi Rushdie bakal dihadiahi satu milyar Rial (sekitar 450 juta rupiah) pada tahun 1989. Bahkan, sekarang ‘bounty’-nya dinaikan lagi sampai 600.000 dollar! (sekitar 8 triliun rupiah!) Udah kayak Monkey D. Luffy di One Piece aja lah, keren!

Lihat: Independent – Salman Rushdie: Iranian state media renew fatwa on Satanic Verses author with $600,000 bounty

Kalau Tottenham Hotspurs? Ya, ya, pasti kalau sama Arsenal kenal, nah, Spurs ini klub sekotanya di London utara. Memang, Spurs bisa dibilang tim medioker, bahkan di film Green Street Hooligan, Pete Dunham berkelakar: “Tottenham… klub tai, juga pendukungnya tai … Yids, mereka disebutnya. Aku benar-benar pernah melempar kacung utama mereka melalui jendela kotak telepon tempo hari.” Jadi kenapa Rushdie masih mendukung klub tai ini?

“Kenapa kau mendukung Tottenham Hotspur?” Rushdie tertawa. “Kamu harus jadi seorang yang taat. Aku datang ke Inggris pada tahun 1961 dan itulah tahun paling baik buat Spurs – terakhir kali mereka memenangkan Liga Championship. Jika kau mendukung sebuah tim yang gagal untuk memenangkan liga selama 44 tahun, ini seperti semacam kultus.”

Time Out London: Salman Rushdie: Interview 

“Ini seperti agama. Tak ada ‘kenapa’,” jawab Orhan Pamuk sang penulis asal Turki yang meraih Nobel Sastra 2006 ketika ia ditanya kenapa menyukai Fenerbahçe. Ya, seperti agama Islam, untuk menjadi bobotoh Persib merupakan warisan dari orangtua. Dan untuk memberikan dukungan kepada keduanya, mungkin, kau enggak butuh yang namanya logika. Sesederhana itu. “Klub tradisional yang saya dukung dalam keadaan menang atau kalah, dalam kejayaan maupun keterpurukan cuma satu,” tulis Eka Kurniawan di pos Sepakbola, “Persib Bandung.”

[tweet https://twitter.com/SalmanRushdie/status/128140779402182657 align=’center’]

Sebagai warga Indonesia, saya pendukung Persib Bandung (seperti Eka Kurniawan), dan sebagai warga dunia, saya pendukung Tottenham (seperti Rushdie), Fenerbahce (seperti Pamuk), dan saya membayangkan apakah Roberto Bolano juga seorang pendukung Barcelona. Kalau iya, makin cinta deh sama mereka.

Kategori
Bandung

5 Quote Persib dan Filosofinya

Bobotoh sungguh kelompok suporter paling merepotkan dan bikin ribet berbagai kalangan. Cuma gara-gara final ‘tarkam’ bertitel Piala Presiden 2015, ribuan personil dikerahkan dan Jakarta ditetapkan dalam Siaga 1 untuk mengamankannya. Semua dibikin pusing, padahal saudara-saudara kita di Sumatera dan Kalimantan sedang dapat musibah asap. Duh, #NegaraLagiNgelawak, ya? #AwayRibet pisan lah.

Sialnya, saya pun bobotoh. Bukan sial, lebih tepatnya beruntung. Ya, karena selain bangsawan, bobotoh merupakan pewaris darah biru juga. Bobotoh bukanlah suporter bola, lebih dari itu, adalah warisan budaya yang terus ditransfusikan dari generasi ke generasi. Jadi, alhamdulillah-nya selain Islam, orangtua saya juga mewariskan gen ke-bobotoh-an sepaket dengan agama tadi. 

Kategori
Celotehanku

Berkenalan dengan Realisme Magis

“Saat kita menemukan dunia ini terlalu buruk,” sabda novelis Gustave Flaubert, “kita butuh mengungsi ke dunia lain.” Maka Gabriel Garcia Marquez menemukan dunia lain itu dalam fiksi. Ya, kita bakal menikmati keasyikan akan penemuan sebuah dunia yang hilang, petualangan masa silam lewat pengembaraan sebuah semesta dari novel-novelnya penulis kelahiran Kolombia ini.

Begitu pula ketika menyelami Cantik Itu Luka-nya Eka Kurniawan – yang notabene banyak terinspirasi dari Marquez dan penulis Amerika Latin lain yang hobi membenturkan pemaparan realisme dengan unsur fantasi. Nah, novel realisme magis inilah yang saya pilih untuk Kelas Resensi Buku Lisan Komunitas Aleut pekan ke-13. Dan dua minggu sebelumnya pun saya menunjuk novel dengan spesies sama dari Haruki Murakami, Kafka on The Shore.

Ah ternyata realisme magis sungguh lezat. Apalagi ketika mencicipi kedua novel tadi, saya sukses dibikin ngaceng berkat unsur stensilannya Eka dan hentai khas Murakami. Ajaib dan nyata!

***

Sabtu, 26 September 2015. Hari sedang senja dan bertepatan dengan Persib Day, sekitar sejam lagi menuju kick-off.

“Jadi sebagai pegiat Aleut, gimana kamu menanggapi Eka yang mengacak-acak sejarah di novelnya ini?” tanya pendiri dan editor Pandit Football Indonesia, yang sudah mafhum betul soal realisme magis kalau melihat artikelnya di detikSportObituari Gabriel Garcia Marquez: Surealisme Sepakbola Amerika Latin.

Duh. Satu kesulitan terbesar saya adalah mengolah yang ada dalam otak untuk diturunkan jadi bahasa verbal yang runtut. Ditambah lagi makin tertekan, karena Mang Zen sang penanya ini literary brother alias saudara seperguruannya penulis Beauty Is a Wound tadi.

“Justru Eka hendak mengolok-olok pemaknaan sejarah. Bahwa sejarah nggak melulu soal benar salah, hitam putih,” bacot saya, entahlah, lupa lagi redaksi kalimat aslinya, “malahan saya lebih percaya sejarah yang diceritakan dalam novel ini.”

kelas resensi komunitas aleut

Foto: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Menulis sejarah versi alternatif pada zaman kekinian nampak rumit: versi buku sejarah, versi budaya lokal, versi pengalaman pribadi. Lalu, apakah sejarah hanya pantas menjadi tema sebuah karya realis, yang mesti menghormati “fakta sejarah”, dalam arti sang pengarang harus melakukan riset sebelumnya dan kebebasannya dalam membangun plot dan tokoh dibatasi “fakta sejarah” tadi?

Soal ini sudah dibahas oleh Katrin Bandel dalam esai ‘Pascakolonialitas dalam Cantik Itu Luka‘. Dan ya, realisme magis adalah gaya yang pas untuk diterapkan dalam sastra pascakolonial, seperti yang sering dipakai para penulis Amerika Latin. Karena di tengah konsep sejarah yang plural, cerita fantastis yang membingungkan justru menjadi sejarah paling otentik yang bisa ditulis. Sebenarnya, jauh sebelum Marquez dan kawan-kawan, kakek-nenek moyang kita pun sudah lebih dulu menggunakan gaya penceritaan realisme magis. Sebabnya penulisan sejarah adalah bagian dari konstruksi identitas, misalnya yang dilakukan penguasa untuk melegitimasi kemaharajaannya. Raja-raja masa silam sering mencitrakan silsilah bahwa dirinya keturunan dewa-dewi.

Tapi bukan penguasa saja yang berhak atas sejarah. Oleh sebab itu, Cantik Itu Luka bisa dilihat sebagai sebuah penciptaan versi alternatif sejarah Indonesia dengan gaya mimpi dan main-main. Setara dengan 100 Hundread Year of Solitude-nya Marquez yang mencitrakan Kolombia, lebih jauh menyoroti Amerika Latin. Realisme magis hadir untuk merayakan nuansa pertentangan dua pandangan dunia, antara yang rasional dan saintifik Barat, dengan yang mistis klenik asli Timur, antara yang dominan dan yang terpinggirkan.

***

“TIKET HABIS, RANDA BANYAK!”

“CALO SETAN!”

Sungguh, realisme magis bukan hanya berlaku dalam karya fiksi. Meski bukan Moconda-nya Marquez dan Halimunda-nya Eka, di Bandung yang sesungguhnya pun kegilaan dan keajaiban bisa terjadi, sepakbola lah sebabnya, utamanya Persib. Satu contoh kecilnya, seorang jomblo macam saya pun bisa berbahagia pada malam Minggu, ketika secara serempak antara Persib, Tottenham dan Barcelona meraih kemenangan. Serasa dapat bidadari bernama Devi Kinal Putri jatuh dari langit dan hinggap dalam pelukan.

Maca mah teu nanaon karya fiksi, tapi kabogoh mah ulah fiksi oge atuh.” Membaca boleh karya fiksi, tapi pacar jangan fiksi juga, sebuah nasihat yang dilontarkan esais yang pandai mengawinkan sepakbola dan sastra itu di malam Minggu yang lain. Sialan!

Kategori
Contest/Giveaway

Pelesir Berpahala ala Cheria Tour & Travel, Mau?

persib umroh

Para pemain klub kebanggaan saya Persib Bandung, bulan kemarin baru aja berangkat ke Tanah Suci Mekah untuk menjalankan ibadah umrah. Kesempatan umroh tadi adalah salah satu bonus dari Persib kepada para pemain setelah berhasil jadi jawara Liga Super Indonesia 2014 dan sudah dijanjikan oleh manajer Persib sejak kompetisi masih di paruh perjalanan.

Wih keren euy, jadi ngiri nih kalau saya bisanya kapan ya ke sana?

Nah sebagai orang yang punya cita-cita jadi bagian Persib, khususnya jadi bagian direksinya, karena kalau jadi pemain mah ga mungkin, pasti bakal bikin nazar juga buat ngasih bonus serupa, insya Allah kalau bisa mah mengumrohkan sekaligus menghajikan. Aamiin. 😀

Kategori
Bandung

Persib Juara!

persib juara isl 2014

Persaingan dan gengsi memang lumrah. Tapi andai ga ada yang namanya kebencian dan permusuhan berbau anarkis.

“Bapa mah pas ’86 nonton langsung final di Senayan. Baheula mah Persib teh 3 kali asup final, ngan eleh wae ku PSMS, baralik teh ngajarentul. Tah pas lawan Papua (Perseman Manokwari) weh menangna, di Puncak teh macet pisan da pesta”.