Kategori
Catutan Pinggir

Sejarah Terjemahan Fiksi Rusia di Indonesia

screen-shot-2015-06-08-at-11-35-52-pm

Para pembaca Indonesia pertama kali mengenal kesusastraan Rusia dalam terjemahan Belanda. Dalam suatu surat yang ditulisnya pada tahun 1903, Kartini, tokoh pencerahan bangsa yang tersohor pada masa kolonial Hindia Belanda, minta dikirimi novel Kebangkitan karya Leo Tolstoy (Kartini 1987: 343). Beberapa karya sastra klasik Rusia pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu Rendah dan diterbitkan mulai tahun 1920-an (Toergenjew 1922; Tolstoy 1922 dan 192?). Buku-buku itu rupanya disadur dari versi Belandanya.

Wawasan tentang kesusastraan dunia semakin luas pada masa Indonesia merdeka, dan minat para pembaca Indonesia pada teks-teks Rusia tidak hanya terbatas pada masalah politik. Popularias karya-karya klasik Rusia tetap bertahan, tanpa dipengaruhi oleh situasi politik. Seperti ditunjukan oleh kritikus sastra H.B. Jassin pada saat itu, para penerjemah muda lebih suka menerjemahkan karya-karya fiksi Rusia (Jassin 1955: 109-110). Idrus, seorang penulis terkemuka pada tahun 1940-an menyoroti kehebatan tokoh-tokoh dan berbagai problem yang disajikan oleh kesustraan Rusia (dikutip oleh Hooykaas 1952). Idrus membandingkan potensi kreativitas S.T. Alisjahbana dengan Leo Tolstoy, Dostoyevsky dan Gogol. Beberapa karya Dostoyevsky diterbitkan terjemahannya oleh M. Radjab. Karya-karya puisi kurang populer, seperti dicatat oleh M. Taslim Ali dalam antologinya mengenai puisi “Slavia dan Latin”.

Kategori
Celotehanku

Menerjemahkan Cerpen

cyg0ugkumaa1zhv

Selain dengan mengisi TTS, cara membuktikan kalau penguasaan Bahasa Indonesia kita, dalam hal ini kosakata, masih buruk dan seuprit, adalah dengan menerjemahkan suatu karya tulis dari Bahasa Inggris.

Ya, akhir-akhir ini saya punya hobi baru: menerjemahkan cerita fiksi. Dan saya sangat kesulitan. Ternyata saya masih pengguna Bahasa Indonesia yang cupu. Tapi harap maklum, karena boleh dibilang bahasa utama saya Sunda – ini pun saya nggak bener-bener pakainya sih. Parahnya, kemampuan Bahasa Inggris saya masih amburadul. Kesimpulannya, saya masih nggak pandai berbahasa.

Kenapa sih menerjemahkan cerpen? Pertama, karena lagi senggang, pengen aja sih biar ada kegiatan. Kedua, sebagai proses kreatif menulis.

Kategori
Celotehanku

Goenawan Mohamad dan Catatan Pinggirnya

Seperti halnya membentuk sebuah cawan yang tak habis untuk dipakai, menulis pada dasarnya adalah pekerjaan yang resah.

Bagi saya, menulis adalah hal yang sulit, sampai hari ini. Saya masih kurang ekspresif dan nggak punya stok kosakata yang melimpah untuk mendeskripsikan sesuatu. Menulis memang benar sebuah pekerjaan yang resah: saya akan gelisah ketika saya kesulitan mencari kata, sebal dengan otak bebal yang gampang mogok. Katanya menulis adalah katarsis, ah bukannya meredakan kegelisahan, menulis malah bikin kadar gelisah saya bertambah.

arif abdurahman goenawan mohamad

Dan ternyata dia pun sama gelisah juga. Bedanya dia menggelisahi Marxisme, Komunisme, Sosialisme, Kapitalisme, Modernisme, Nazi-Hitler, Stalin, Mao, Pembangunan, Birokrasi – pendeknya segala bentuk perekayasaan sosial, karena ini semua menggilas eksistensi individu.

Kategori
Celotehanku

Dia Bernama Humaniora

Satu hal yang paling saya inginkan adalah agar otak ini berhenti bersuara barang sejenak. Dunia di luaran terlalu berisik, begitu pun dalam isi kepala ini. Andai saja bisa berhenti berpikir akan segala hal. Ah tapi bukankah Allah dalam kitab suci-Nya memberi kedudukan tinggi bagi mereka yang berpikir? Sungguh memang amanah itu suatu beban.

Mempertanyakan ulang beragam hal adalah suatu kenikmatan, sekaligus siksaan. Ya karena katanya seks paling nikmat adalah pergulatan dalam pikiran.

Saya berusaha membaca beragam hal. Namun yang dapat saya simpulkan, bacaan paling bikin kepincut adalah si cantik bernama Humaniora. 

Kategori
Celotehanku

Produktivitas di Tengah Gempuran Notifikasi

Saking nggak ingin waktunya terbuang percuma, seorang Pram punya hobi unik: membakar sampah. Kalau ternyata sampah rumah sendiri habis, maka punya tetangga pun disikatnya. Albert Camus-nya Indonesia ini juga gemar dalam hal mengkliping. Pokoknya berbuat, harus produktif dalam menjalani hari.

Dan selamat datang di tanah penuh distraksi! Satu pertanyaan, akankah lahir Pram di zaman ketika perhatian kita tersebar antara beraneka notifikasi?

Kategori
Bandung

Ngaleut Episode “Bandung Untuk Indonesia”

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=IT1O-uCbrp0]

Pada 2007, British Council menjadikan kota Bandung sebagai pilot project kota terkreatif se-Asia Timur. Bandung dan kreativitas merupakan pasangan yang sulit dipisahkan. Hal ini salah satunya disebabkan warganya yang hobi ‘ngariung’, senang kumpul bareng-bareng. Dari sekedar untuk berbagi omong kosong dan keluh kesah sampai untuk beradu pemikiran dan ide.

Ya, hampir semua hal besar memang berawal dari aktivitas ngariung ini. Dan di Bandung, pernah diadakan satu ngariung yang paling fenomenal dan berdampak bagi dunia, Konferensi Asia-Afrika.