Kategori
Celotehanku

Beratus Tahun Kesunyian Tatar Sunda

Hana ngunihana mangke
tan hana nguni tan hana mangke
aya nu beuheula aya tu ayeuna
hanteu ma beuheula hanteu tu ayeuna
hana tunggak hana watang
tan hana tunggak tan hana watang
hana ma tunggulna aya tu catangna


Ada dahulu ada sekarang
bila tidak ada dahulu tidak akan ada sekarang
karena ada masa silam maka ada masa kini
bila tidak ada masa silam tidak akan ada masa kini
ada tonggak tentu ada batang
bila tidak ada tonggak tidak akan ada batang
bila ada tunggulnya tentu ada catangnya.

Amanat Galunggung, Kropak 631 dari Kabuyutan Ciburuy

Masyarakat dan segala masalahnya adalah dua hal yang membentuk sejarah. Mengetahui sepertiapa masyarakat di masa lalu dan evolusi mereka akan memberi petunjuk perihal faktor-faktoryang mengendalikan mereka, motif dan konflik, baik umum maupun personal, yangmembentuk berbagai peristiwa. Sejarah adalah tentang kelompok masyarakat,ceritanya, dan proses bagaimana ia menjadi seperti itu.

Jika kita tidak memahami dunia tempat kita tinggal, kita hanya akan jadi lelucon dan mungkin jadi korban. Memahami sejarah menjadi satu-satunya emansipasi kita. Ketimbang mengulang-ulang semua kebodohan, sejarah menawarkan bekal pengalaman yang tak ada habisnya terhadap apa yang bisa kita dapatkan. Sejarah merupakan kajian yang terkait dengan sifat manusia sepanjang waktu, dan itulah sebabnya mengapa mesti mempelajari sejarah.

Memang tak ada satu ritme atau plot dalam sejarah, tapi ada lebih dari satu ritme, plot, pola, bahkan pengulangan. Oleh karenanya, membuat generalisasi dan mengambil pelajaran dari sejarah dapat dilakukan. Orang-orang besar, baik dalam tindakan maupun kecerdasan, selalu berpikir demikian. Itulah mengapa sejarah menjadi bacaan favorit Napoleon, seperti halnya Winston Churchill, atau bahkan Hitler—meski harus dikecualikan. Semua yang hidup di zaman dahulu, baik orang Yunani maupun Romawi, membaca sejarah tidak hanya untuk kesenangan, tetapi juga mengambil pelajaran darinya.

Seorang individu bisa menjadi terpelajar tanpa mengetahui matematika, kimia, atau teknik karena semua itu merupakan bidang khusus. Namun, pengetahuan sejarah, atau bahkan pemahaman sejarah yang lebih mendalam, adalah bagian penting dari kesadaran diri terhadap lingkungan sekitar.

Inilah yang coba disampaikan lembar kelima kropak 632: kesadaran sejarah. Kropak 632, sebuah naskah yang terdiri dari enam lembar lontar yang ditulis dengan tinta hitam dengan perkiraan pembuatan pada abad ke-15. Naskah yang ditemukan di Kampung Ciburuy, terletak di lereng Gunung Cikuray. Atja dan Saleh Danasasmita melakukan penelitian ulang pada tahun 1987 akan naskah ini, dan memberi judul “Amanat Galunggung”. Inti naskahnya berupa nasihat-nasihat Rakeyan Darmasiksa kepada putranya, Sang Lumahing Taman. Lewat baris hana nguni hana mangke (ada dulu ada sekarang), menegaskan bahwa sejarah harus menjadi semacam kesadaran.

*

Seni narasi sejatinya mendapat posisi utama dalam penulisan sejarah. Karena bagaimanapun juga, kata “history” pada dasarnya berhubungan dengan “story”. Sejarah adalah cerita. Ini menunjukkan bahwa narasi merupakan penyokong utama sejarah.

Di masa kanak-kanak, sebuah cerita, seperti dongeng atau kisah petualangan, punya daya tarik bagi kita. Di tahap kehidupan selanjutnya, cerita itu kemudian menjadi punya makna filosofis. Di sana terletak sebagian besar kepuasan dalam kajian sejarah. Sejarah adalah ilmu yang berkembang bersama kita, materi yang bisa memikat kita saat kecil dan tidak pernah membuat kecewa, tetapi kemudian punya daya tarik lebih dalam bagi orang dewasa. Sebab refleksi akan masa lalu adalah tanda kedewasaan.

Pelajaran sejarah di institusi formal selama bertahun-tahun hanya menawarkan pertanyaan kapan atau di mana, jarang sampai pada pertanyaan bagaimana dan kenapa. Sejarah hanya jadi wawasan, bahkan cuma hafalan, tak sampai jadi kesadaran.

Adapun sejarah bukanlah latar belakang, melainkan cerita itu sendiri, cerita mengenai sekelompok manusia, ataupun kumpulan cerita tentang berbagai kelompok manusia. Dari dasar tersebut, muncul segala keragaman dan detail sejarah. Seorang individu merupakan produk sosial, seorang anak dari orang tua dengan kondisi kehidupan tertentu, anggota dari komunitas tertentu dengan berbagai karakteristiknya; ia menjadi bagian dari suatu kelas masyarakat tertentu, dibentuk dan diciptakan melalui sekolah, teman-teman dan lingkungan saat itu. Demikian pula sebaliknya. Masyarakat terdiri dari individu, dan sejarah tersusun dari berjuta-juta kejadian tertentu.

Selalu ada cara untuk memahami kehidupan, dan sejarah merekam kehidupan yang telah dijalani oleh manusia lain untuk kita. Oleh sebab itu, esensinya terdapat pada fakta yang konkret, berbagai jenis peristiwa dan kejadian yang pernah terjadi di dunia nyata. Tugas sejarawan adalah menarasikannya, menciptakannya kembali. Untuk melakukannya, ia harus menjadi seorang seniman.

Pada pergantian abad 20, terdapat banyak perdebatan mengenai sejarah, apakah termasuk sains atau seni. Sejarah pada awalnya adalah sastra. Namun, ketika menjadi disiplin ilmu tersendiri, dalam penelitian sejarah memerlukan penelitian ilmiah, ada metodologi yang harus ditempuh. Seni berkisah seakan ditanggalkan. Sebagai jalan tengah, sejarah mestinya dipandang sebagai sains sekaligus seni. Svetlana Alexievich, penulis Belarusia yang merekam ribuan suara individu untuk memetakan ledakan Uni Soviet, pada 2015 memenangkan Nobel Sastra.

*

Sejarah menunjukan bahwa tidak ada jeda antara masa lalu dan masa depan. Ketika saya menulis ini masa depan sudah menjadi masa lalu. Semua terjadi terus menerus.

Jawa Barat dapat dikatakan sebagai wilayah yang sarat peristiwa sejarah, bahkan sejak prasejarah. Edi S. Ekadjati dalam Dari Pentas Sejarah Sunda: Sangkuriang hingga Juanda (Kiblat, 2014) memaparkan kiprah sejumlah tokoh Sunda dan Lembaga yang didirikan oleh orang Sunda. Latar belakang waktunya mencakup zaman prasejarah, kolonialisme, dan pascakolonialisme. Untuk memaparkan alam prasejarah masyarakat Sunda, Edi menelisik tokoh mitologis Sangkuriang. Konflik antara Sangkuriang dan Dayang Sumbi ibarat saling berhadapannya konvensi (tradisi) dan inovasi (modern) dalam konsep kebudayaan.

Selanjutnya, ada satu peninggalan budaya yang jadi ciri utama perubahan kehidupan budaya Sunda dari budaya prasejarah ke budaya sejarah. Peninggalan budaya tersebut adalah prasasti. Di Tatar Sunda, prasasti generasi awal ditulis di atas batu menggunakan huruf Palawa dan bahasa Sanskerta. Prasasti yang berasal dari zaman itu yang sudah ditemukan berjumlah tujuh. Dengan adanya pengetahuan tentang huruf dan kegiatan baca-tulis, masyarakat Tatar Sunda zaman Tarumanagara sudah mulai paham mengenai konsep negara, agama dan kemasyarakatan yang lebih luas struktur, wawasan dan jangkauannya. Dalam ketujuh prasati tersebut disebut nama rajanya Purnawarman, yang berkuasa di kerajaan Tarumanagara dan memeluk agama Hindu.

Selama lebih kurang enam belas abad sejak Tarumanagara hingga sekarang, ke Tanah Sunda telah datang silih berganti berbagai pengaruh. Selama itu silih berganti berbagai kerajaan berdiri di Tatar Sunda, di antaranya Galuh, Pajajaran (Sunda), Talaga, Cirebon dan lain-lain. Berlainan dengan di Jawa Tengah dan Timur, kerajaan-kerajaan di Jawa Barat tidak meninggalkan candi-candi atau istana-istana yang megah. Tinggalan sejarah kerajaan di Jawa Tengah dan Timur memberi petunjuk soal apa agama yang dipeluk dan dari sana bisa diketahui corak budaya masyarakat tadi.

Membaca sejarah Nusantara sama menariknya dan tak kalah dramatis dari Game of Throne. Pulau Jawa bagai Westeros, diisi dengan perebutan kuasa tak kenal henti. Setelah Kerajaan Sunda runtuh pada 1579, wilayah kekuasaannya yang meliputi sebagian Pulau Jawa sebelah barat, terpecah ke dalam empat pusat kekuasaan: Banten, Cirebon, Sumedang Larang, dan Galuh. Selanjutnya, ketika Mataram masuk, corak budaya terkait Jawa dan Islam menguat.

Kelompok sosial besar, perkumpulan massa, kelas, komunitas, dan bangsa cenderung bersikap dengan cara serupa pada situasi serupa pula. Bisa dikatakan berbagai hal tersebut memberikan dasar sejarah. Pengetahuan inilah yang digunakan para kolonialis untuk mengokupasi suatu komunitas masyarakat, dan merekacipta sistem sosial yang berfungsi memudahkan kerja mereka. Dari zaman VOC sampai Hindia Belanda, Priangan menjadi titik eksploitasi paling menggiurkan. Namun dari titik ini pula, perlawanan atas kolonialisme menakik.

Seiring dengan perkembangannya menjadi pusat perkebunan di akhir abad ke-19, dibukanya jalur kereta api, dan setelah diresmikannya menjadi gemeente (kotapraja) pada tahun 1906, Bandung makin menggeliat. Namun bagi mereka, Bandung bukan soal pelesiran. Gemerlap kamar bola, pusat perbelanjaan, berbagai bangunan Art-Deco tak menarik minat mereka. Bagi mereka, Bandung adalah sisi lain dunia yang dihisap oleh kolonialisme yang harus dibangunkan dan digerakkan. Banyak tokoh pergerakan nasional ditempa di sini.

Untuk mempersingkat, Tatar Sunda jelas menyimpan kisah seribu satu malam. Yang sayangnya luput digali, dan karenanya masih minim akan kesadaran sejarah.

Untuk menghargai dan memahami sejarah diperlukan terutama akal sehat, simpati dan imajinasi. A.L Rowse dalam buku Apa Guna Sejarah? (Komunitas Bambu, 2014), menyebutkan: “Anda mungkin berpikir bahwa dibutuhkan buku-buku sebanyak satu perpustakaan untuk mulai mempelajari sejarah. Tidak sama sekali. Yang Anda butuhkan hanyalah sepasang sepatu yang kuat, sebuah pensil, dan buku catatan.”

Sejarah adalah ilmu pengetahuan sosial. Di dalamnya terdapat fleksibilitas, keragaman, dan kegembiraanya. Dibanding ilmu fisika, ilmu pengetahuan sosial tidak kaku, lebih rumit, dan menuntut imajinasi karena berhubungan dengan manusia dengan segala kerumitan dan kejutannya.

Hanya melalui sejarah kita mengetahui apa pun yang telah dicatat dan dapat membaginya. Kehidupan manusia menghilangkan batasan dengan sejarah dan menjadi bersinggungan dengan kemanusiaan. Kita tahu bahwa kehidupan seseorang sangat terbatas dan terkekang oleh waktu: mungkin sekitar enam puluh tahun, seringkali tak sampai segitu. Kehidupan manusia dibatasi oleh kesewenang-wenangan waktu, melalui apa yang kita ketahui dari sejarah kita dibebaskan dari ikatan dan melarikan diri—ke dalam waktu.

Pada akhirnya, selalu dalam sejarah, kita kembali kepada semacam momen pencerahan. Sejarah Tatar Sunda dari seorang sejarawan bernama Nina Lubis, yang dilabelinya sejarah paling otoritatif—meski dengan banyak cacat, tentu saja belum mampu mendekatkan kita pada kesadaran sejarah. Kusala Sastra Khatulistiwa 2018 menganugerahkan Kura-Kura Berjanggut-nya Azhari Aiyub sebagai prosa terbaik, sebuah novel tebal tentang sejarah Aceh. Tatar Sunda selalu menanti untuk dinarasikan.

*

Esai pengatar saya sebagai pembicara di diskusi sastra “Sastra dan Sejarah” yang diselenggarakan Disparbud Jawa Barat, pada Kamis, 15 November 2018.

Kategori
Non Fakta

Sejarah Priangan dalam 10½ Paragraf

collectie_tropenmuseum_de_berg_prahu_gezien_vanaf_pelantungan_tmnr_3728-448

Tidak ada dokumen kebudayaan yang pada saat yang sama bukan sebuah dokumen barbarisme. Selain dirinya tidak terbebas dari barbarisme, juga tidak terbebas dari proses transmisi, di mana ia jatuh dari satu tangan ke tangan yang lain. – Walter Benjamin, Tesis Filosofi Sejarah

I

Setiap si lelaki tidur dengan perempuan itu, si lelaki selalu didongengi berjuta kisah memikat. Meski dengan alur kronologi yang kacau, campur aduk antara fakta sejarah dan cerita rakyat yang penuh fantasi, tapi tetap saja, cara bertutur si perempuan memaksa si lelaki tetap terjaga dan mempercayai semua ocehannya. Kisah si perempuan begitu menenangkan, lebih manjur ketimbang lagu-lagu folk kacangan tentang hujan, kopi, rindu, kota, senja, kenangan, semesta atau beragam hal cengeng, yang sering didengar si lelaki. Kisah-kisah si perempuan mampu membuat si lelaki melupakan realitas yang setiap hari memenjarakan dirinya, meski hanya untuk sesaat. Setelah bersenggama, mereka berbaring di tempat tidur dan berbincang-bincang. Lebih tepatnya, si perempuan yang berbicara sementara si lelaki hanya mendengarkan, mengiyakan, menambahkan beberapa komentar, dan sesekali mengajukan pertanyaan. Si lelaki memanggil si perempuan Syahrazad, si pendongeng dalam Kisah Seribu Satu Malam. Tentu, tak ada kepala terputus keesokan paginya. Setiap si lelaki menatap wajah si perempuan, setiap itu pula si lelaki merasa beruntung atas hidupnya. Aku kepikiran Dayang Sumbi, kata Syahrazad tiba-tiba. Ya? tanya si lelaki. Si Tumang yang jadi suaminya kan anjing, sebut Syahrazad terkekeh, apa Dayang Sumbi ga bosan gaya bercinta gitu-gitu aja? Tanpa memikirkan apakah pertanyaan itu perlu dijawab atau tidak, si lelaki menjawabnya dengan kecupan.

II

Setelah waduk buatan Sangkuriang menyurut, lalu berubah jadi rawa-rawa, dan berakhir jadi hutan belantara, beberapa manusia yang bosan berhuma menetapkan diri untuk bermukim di sini, dan seperti spesies manusia lain, membangun negara dan menciptakan Tuhan sekaligus hantu. Kereta sejarah dunia sedang berderak. Jauh di utara, menjelang 1500-an, minuman yang berasal dari biji semak-semak di Ethiopia menyebar melalui kedai-kedai kopi di sepanjang dunia Arab. Dalam 150 tahun kemudian, berawal dari Turki, Eropa ikut-ikutan. Kedai kopi menjadi tempat bukan hanya untuk menikmati secangkir kopi, tapi juga sebagai ruang bertukar gagasan. Revolusi Perancis dirancang di kedai-kedai kopi. Sementara itu, kopi yang mereka sesap berasal dari perbudakan orang-orang Afrika di Koloni Perancis di Karibia. Budak-budak penggarap perkebunan kopi ini nantinya melakukan revolusi kulit hitam pertama yang sukses: Orang-orang kulit hitam menyembelih orang-orang kulit putih. Kopi menyebar, dibiakkan di berbagai koloni. Di sisi waduk besar yang Sangkuriang bangun dalam semalam bersama para kuli dari golongan jin, saat airnya sudah lama surut, hutan-hutan yang telah menutupinya dibabat, ditanami kopi. Orang-orang kulit coklat yang telah lama tinggal di sekitar sana diperintah sebagian kecil orang-orang kulit coklat lainnya atas desakan orang-orang kulit putih yang telah tercerahkan. Banyak yang tak sadarkan diri, yang kesurupan juga, karena memang yang dibabat mungkin habitatnya jin.

III

Putri Ajung Larang jatuh hati pada Bujangga Manik. Pada gagasan tentang Bujangga Manik, lebih tepatnya. Putri termakan kisah Jompong Larang yang mengatakan bahwa dirinya melihat pangeran yang sangat tampan, sekaligus jago merangkai syair, seorang lelaki yang sepadan bagi kecantikan dan keanggunan Putri. Bunga-bunga bermekaran dalam diri Putri. “Aku akan menyerahkan diriku. Aku akan menyambar seperti elang, menerkam seperti harimau, meminta diterima sebagai kekasih.” Sebuah pesan yang dititipkan bersama beragam hadiah buat Bujangga Manik. Tapi Bujangga Manik tak mengikuti nasihat ibunya yang ikut-ikutan berlaga seperti mak comblang. Kebebasan lebih menarik minatnya ketimbang kecantikan. Bujangga Manik angkat kaki dari istana untuk kedua kalinya. Jika tugas utama penyair adalah menyendiri dan membikin patah hati, Bujangga Manik berhasil. Bujangga Manik hanya ingin laut untuk hanyut, suatu tempat untuk kematiannya, suatu tempat untuk merebahkan tubuhnya.

IV

Potongan kepala tergantung, menghiasi pohon-pohon di sepanjang jalan yang menghubungkan bagian barat sampai timur Pulau Jawa dengan menyusuri pesisir utara. Herman Willem Daendels rupanya menginsafi betul Revolusi Prancis, bukan pada slogan “Persamaan, Kebebasan, dan Persaudaraan”, tapi pada gulotin.j uyjmtgfjmrvrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr

Kategori
Cacatnya Harianku Celotehanku

John Berger atau Seni Momotoran ala Komunitas Aleut

Riding has become a pas de deux.  Rider and road are partners dancing.  It can even happen that you fall in love.

  • John Berger

Kalau bulan bisa ngomong, dan motor bisa nulis. Sayangnya tidak. Kalau saja saya bisa merenungkan dan merumuskan pengalaman dan menuliskannya sebaik John Berger. Sayangnya belum. Tapi kalau sekadar berandai-andai, terus-terusan begitu, tak akan ada yang tercipta. Pengalaman momotoran tiap minggu selama sebulan kemarin hanya akan lenyap begitu saja. Tak akan ada yang tertuliskan.

Oke, pertama-tama siapa itu Berger? Singkatnya, dia itu kritikus seni, pelukis, novelis, dan penyair. Seorang intelektual dan humanis Marxis yang meninggal Januari 2017 kemarin, yang banyak pemikirannya akan terus hidup. Lalu apa hubungannya Berger dan motor? Dia juga seorang motoris. Tonton John Berger or The Art of Looking (2016), dan kita bakal melihat seorang aki-aki di usia 90 masih gagah naik motor gede Honda CBR1100XX alias Blackbird. Ini boleh diikuti atau tidak, saat tinggal di pedesaan Prancis, dia hobi membawa motor tadi di jalanan pegunungan Alpen dengan kecepatan tinggi. Yang pasti, beragam pemikirannya soal momotoran sesuatu yang enggak boleh dilewatkan.

Dalam Bento’s Sketchbook, Berger menyebut bahwa selama bertahun-tahun dia terpesona oleh hubungan paralel antara tindakan mengemudikan motor dan tindakan melukis. Hubungan itu mempesonanya karena bisa mengungkapkan suatu rahasia. Tentang apa? Tentang perpindahan dan penglihatan. Bahwa melihat membuat kita lebih dekat. Kamu mengendarai motor dengan matamu, dengan pergelangan tanganmu dan dengan bersandar pada tubuhmu. Matamu yang paling penting dari ketiganya. Motor mengikuti dan membelok ke arah apapun yang diarahkan. Ini menuruntukan penglihatanmu, bukan pikiranmu. Tidak ada pengemudi kendaraan roda empat yang bisa membayangkan ini. Jika kamu melihat dengan susah payah halangan yang ingin kamu hindari, ada risiko besar justru kamu akan menabraknya. Lihatlah dengan tenang jalan di hadapan dan motor akan menempuh jalan itu.

Berger juga menerangkan dalam Keeping a Rendezvous, bahwa momotoran mendekatkan kita dengan dunia. Sebabnya selain perlengkapan pelindung yang dikenakan, enggak ada apa-apa lagi antara kita dan dunia saat bermotor. Udara dan angin menekan langsung. Karena kita berada di atas dua roda dan bukan empat, kita lebih dekat ke tanah. Dengan lebih dekat berarti lebih intim. Membungkuk menghasilkan efek intim lainnya. Setiap garis kontur di peta yang kita lewati berarti poros keseimbangan kita ikut berubah. Persepsi ini bersifat visual tapi juga taktil dan ritmis. Seringkali tubuh kita tahu lebih cepat dari pada pikiran kita.

Lebih jauh, Berger menyebut momotoran sebagai pas de deux. Dansa berpasangan. Pengendara dan jalanan adalah mitra menari.

Saya enggak tahu di Eropa sana apakah ada touring motor dan Berger pernah ikutan atau tidak. Sudah bisa dipastikan, Berger belum pernah merasakan bermotor beriringan di jalanan di wilayah Priangan, dan sesekali melakukan perjalanan jauh menyusuri pantai selatan Jawa Barat dan Banten. Sebulan kebelakang ini Komunitas Aleut memang masih melakukan ngaleut tiap minggunya. Tapi aleut-aleutan dengan motor.

Saya setuju dengan pemikirannya bahwa dengan momotoran membuat kita lebih intim dengan dunia. Semakin sedikit perlengkapan pelindung yang dikenakan, justru makin membuat kita membumi. Tentu saja, keamanan tetap nomor satu. Tapi, setelah saya rasakan, hanya dengan memakai sandal jepit, jaket biasa bahkan cuma kemeja flanel, di sunblock serta body lotion dan barang bawaan seadanya malah membuat saya makin nyaman, bahkan aman. Karena secara psikologis merasa sedang momotoran di kampung sendiri. Meski saya sedang di Sinumbra, Agrabinta, Jampang, Bayah, Darangdan, Tanggeung, Sindangbarang, atau kawasan Priangan lain. Seperti warga lokal.

Enggak seperti kelompok touring motor lain yang seringnya meminggirkan yang lain saat kelompoknya lewat jalanan tertentu, dan biasanya dengan kecepatan edan, momotoran bersama di Komunitas Aleut justru menawarkan keselowan. Enggak sok jago, kecuali yang baru ikutan. Karena memang enggak ada yang jago. Yang paling nyeleneh, dengan hanya motor-motor biasa buat jalanan perkotaan, dan seringnya motor itu jarang diservis, justru doyan menguji kekuatan dengan sengaja memilih rute jalan terpencil dan yang bikin sinting. Masuk hutan, lewat tanjakan curam, turunan licin, melintas jalanan berlubang, berbatu, berlumpur, bahkan jalan yang enggak ada jalannya, dan asyiknya itu semua seringnya dilakukan pas gelap.

Jika Berger hanya bermotor sendiri, maka momotoran di Komunitas Aleut pasti bakal dapat pasangan. Pasangan yang mengisi jok belakang. Itupun kalau mencukupi. Soal pemasangan ini pun sangat politis. Biasanya malam sebelum keberangkatan, ditentukan siapa dengan siapa. Pegiat aktif yang luwes biasanya bakal dipasangkan dengan anggota baru. Tujuannya agar si anggota baru tadi kerasan, sehingga ikut lagi dan lagi. Bahkan, sudah jadi rahasia umum, pemasangan ini jadi semacam biro jodoh. Selain itu, lewat momotoran, kita bisa tahu sifat asli seseorang, karena dalam kondisi lelah secara otomatis topeng seseorang akan terbuka. Mana yang culas atau egois, dan mana yang memang benar-benar berkesadaran secara kelompok.

“Kemudian saya mulai melihat sesuatu yang tidak begitu konseptual namun fenomenologis, berkaitan dengan pengalaman,” ungkap Berger saat diwawancara di pameran lukisannya di London. “Kontur di peta, sungai-sungai, jalan-jalan, barisan pegunungan, mulai membentuk metafora tentang tubuh pengendara dan motornya. Dengan cara yang aneh kamu menjadi perjalanan yang telah kamu buat, sampai perjalanan yang akan dijalani selanjutnya. Kamu memakannya dan kamu memberakkannya; Perjalanan merasuk dalam tubuhmu.”