Kategori
Fiksi

Sejarah Priangan dalam 10½ Paragraf

collectie_tropenmuseum_de_berg_prahu_gezien_vanaf_pelantungan_tmnr_3728-448

Tidak ada dokumen kebudayaan yang pada saat yang sama bukan sebuah dokumen barbarisme. Selain dirinya tidak terbebas dari barbarisme, juga tidak terbebas dari proses transmisi, di mana ia jatuh dari satu tangan ke tangan yang lain. – Walter Benjamin, Tesis Filosofi Sejarah

I

Setiap si lelaki tidur dengan perempuan itu, si lelaki selalu didongengi berjuta kisah memikat. Meski dengan alur kronologi yang kacau, campur aduk antara fakta sejarah dan cerita rakyat yang penuh fantasi, tapi tetap saja, cara bertutur si perempuan memaksa si lelaki tetap terjaga dan mempercayai semua ocehannya. Kisah si perempuan begitu menenangkan, lebih manjur ketimbang lagu-lagu folk kacangan tentang hujan, kopi, rindu, kota, senja, kenangan, semesta atau beragam hal cengeng, yang sering didengar si lelaki. Kisah-kisah si perempuan mampu membuat si lelaki melupakan realitas yang setiap hari memenjarakan dirinya, meski hanya untuk sesaat. Setelah bersenggama, mereka berbaring di tempat tidur dan berbincang-bincang. Lebih tepatnya, si perempuan yang berbicara sementara si lelaki hanya mendengarkan, mengiyakan, menambahkan beberapa komentar, dan sesekali mengajukan pertanyaan. Si lelaki memanggil si perempuan Syahrazad, si pendongeng dalam Kisah Seribu Satu Malam. Tentu, tak ada kepala terputus keesokan paginya. Setiap si lelaki menatap wajah si perempuan, setiap itu pula si lelaki merasa beruntung atas hidupnya. Aku kepikiran Dayang Sumbi, kata Syahrazad tiba-tiba. Ya? tanya si lelaki. Si Tumang yang jadi suaminya kan anjing, sebut Syahrazad terkekeh, apa Dayang Sumbi ga bosan gaya bercinta gitu-gitu aja? Tanpa memikirkan apakah pertanyaan itu perlu dijawab atau tidak, si lelaki menjawabnya dengan kecupan.

II

Setelah waduk buatan Sangkuriang menyurut, lalu berubah jadi rawa-rawa, dan berakhir jadi hutan belantara, beberapa manusia yang bosan berhuma menetapkan diri untuk bermukim di sini, dan seperti spesies manusia lain, membangun negara dan menciptakan Tuhan sekaligus hantu. Kereta sejarah dunia sedang berderak. Jauh di utara, menjelang 1500-an, minuman yang berasal dari biji semak-semak di Ethiopia menyebar melalui kedai-kedai kopi di sepanjang dunia Arab. Dalam 150 tahun kemudian, berawal dari Turki, Eropa ikut-ikutan. Kedai kopi menjadi tempat bukan hanya untuk menikmati secangkir kopi, tapi juga sebagai ruang bertukar gagasan. Revolusi Perancis dirancang di kedai-kedai kopi. Sementara itu, kopi yang mereka sesap berasal dari perbudakan orang-orang Afrika di Koloni Perancis di Karibia. Budak-budak penggarap perkebunan kopi ini nantinya melakukan revolusi kulit hitam pertama yang sukses: Orang-orang kulit hitam menyembelih orang-orang kulit putih. Kopi menyebar, dibiakkan di berbagai koloni. Di sisi waduk besar yang Sangkuriang bangun dalam semalam bersama para kuli dari golongan jin, saat airnya sudah lama surut, hutan-hutan yang telah menutupinya dibabat, ditanami kopi. Orang-orang kulit coklat yang telah lama tinggal di sekitar sana diperintah sebagian kecil orang-orang kulit coklat lainnya atas desakan orang-orang kulit putih yang telah tercerahkan. Banyak yang tak sadarkan diri, yang kesurupan juga, karena memang yang dibabat mungkin habitatnya jin.

III

Putri Ajung Larang jatuh hati pada Bujangga Manik. Pada gagasan tentang Bujangga Manik, lebih tepatnya. Putri termakan kisah Jompong Larang yang mengatakan bahwa dirinya melihat pangeran yang sangat tampan, sekaligus jago merangkai syair, seorang lelaki yang sepadan bagi kecantikan dan keanggunan Putri. Bunga-bunga bermekaran dalam diri Putri. “Aku akan menyerahkan diriku. Aku akan menyambar seperti elang, menerkam seperti harimau, meminta diterima sebagai kekasih.” Sebuah pesan yang dititipkan bersama beragam hadiah buat Bujangga Manik. Tapi Bujangga Manik tak mengikuti nasihat ibunya yang ikut-ikutan berlaga seperti mak comblang. Kebebasan lebih menarik minatnya ketimbang kecantikan. Bujangga Manik angkat kaki dari istana untuk kedua kalinya. Jika tugas utama penyair adalah menyendiri dan membikin patah hati, Bujangga Manik berhasil. Bujangga Manik hanya ingin laut untuk hanyut, suatu tempat untuk kematiannya, suatu tempat untuk merebahkan tubuhnya.

IV

Potongan kepala tergantung, menghiasi pohon-pohon di sepanjang jalan yang menghubungkan bagian barat sampai timur Pulau Jawa dengan menyusuri pesisir utara. Herman Willem Daendels rupanya menginsafi betul Revolusi Prancis, bukan pada slogan “Persamaan, Kebebasan, dan Persaudaraan”, tapi pada gulotin.j uyjmtgfjmrvrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr

Kategori
Cacatnya Harianku Celotehanku

John Berger atau Seni Momotoran ala Komunitas Aleut

Riding has become a pas de deux.  Rider and road are partners dancing.  It can even happen that you fall in love.

  • John Berger

Kalau bulan bisa ngomong, dan motor bisa nulis. Sayangnya tidak. Kalau saja saya bisa merenungkan dan merumuskan pengalaman dan menuliskannya sebaik John Berger. Sayangnya belum. Tapi kalau sekadar berandai-andai, terus-terusan begitu, tak akan ada yang tercipta. Pengalaman momotoran tiap minggu selama sebulan kemarin hanya akan lenyap begitu saja. Tak akan ada yang tertuliskan.

Oke, pertama-tama siapa itu Berger? Singkatnya, dia itu kritikus seni, pelukis, novelis, dan penyair. Seorang intelektual dan humanis Marxis yang meninggal Januari 2017 kemarin, yang banyak pemikirannya akan terus hidup. Lalu apa hubungannya Berger dan motor? Dia juga seorang motoris. Tonton John Berger or The Art of Looking (2016), dan kita bakal melihat seorang aki-aki di usia 90 masih gagah naik motor gede Honda CBR1100XX alias Blackbird. Ini boleh diikuti atau tidak, saat tinggal di pedesaan Prancis, dia hobi membawa motor tadi di jalanan pegunungan Alpen dengan kecepatan tinggi. Yang pasti, beragam pemikirannya soal momotoran sesuatu yang enggak boleh dilewatkan.

Dalam Bento’s Sketchbook, Berger menyebut bahwa selama bertahun-tahun dia terpesona oleh hubungan paralel antara tindakan mengemudikan motor dan tindakan melukis. Hubungan itu mempesonanya karena bisa mengungkapkan suatu rahasia. Tentang apa? Tentang perpindahan dan penglihatan. Bahwa melihat membuat kita lebih dekat. Kamu mengendarai motor dengan matamu, dengan pergelangan tanganmu dan dengan bersandar pada tubuhmu. Matamu yang paling penting dari ketiganya. Motor mengikuti dan membelok ke arah apapun yang diarahkan. Ini menuruntukan penglihatanmu, bukan pikiranmu. Tidak ada pengemudi kendaraan roda empat yang bisa membayangkan ini. Jika kamu melihat dengan susah payah halangan yang ingin kamu hindari, ada risiko besar justru kamu akan menabraknya. Lihatlah dengan tenang jalan di hadapan dan motor akan menempuh jalan itu.

Berger juga menerangkan dalam Keeping a Rendezvous, bahwa momotoran mendekatkan kita dengan dunia. Sebabnya selain perlengkapan pelindung yang dikenakan, enggak ada apa-apa lagi antara kita dan dunia saat bermotor. Udara dan angin menekan langsung. Karena kita berada di atas dua roda dan bukan empat, kita lebih dekat ke tanah. Dengan lebih dekat berarti lebih intim. Membungkuk menghasilkan efek intim lainnya. Setiap garis kontur di peta yang kita lewati berarti poros keseimbangan kita ikut berubah. Persepsi ini bersifat visual tapi juga taktil dan ritmis. Seringkali tubuh kita tahu lebih cepat dari pada pikiran kita.

Lebih jauh, Berger menyebut momotoran sebagai pas de deux. Dansa berpasangan. Pengendara dan jalanan adalah mitra menari.

Saya enggak tahu di Eropa sana apakah ada touring motor dan Berger pernah ikutan atau tidak. Sudah bisa dipastikan, Berger belum pernah merasakan bermotor beriringan di jalanan di wilayah Priangan, dan sesekali melakukan perjalanan jauh menyusuri pantai selatan Jawa Barat dan Banten. Sebulan kebelakang ini Komunitas Aleut memang masih melakukan ngaleut tiap minggunya. Tapi aleut-aleutan dengan motor.

Saya setuju dengan pemikirannya bahwa dengan momotoran membuat kita lebih intim dengan dunia. Semakin sedikit perlengkapan pelindung yang dikenakan, justru makin membuat kita membumi. Tentu saja, keamanan tetap nomor satu. Tapi, setelah saya rasakan, hanya dengan memakai sandal jepit, jaket biasa bahkan cuma kemeja flanel, di sunblock serta body lotion dan barang bawaan seadanya malah membuat saya makin nyaman, bahkan aman. Karena secara psikologis merasa sedang momotoran di kampung sendiri. Meski saya sedang di Sinumbra, Agrabinta, Jampang, Bayah, Darangdan, Tanggeung, Sindangbarang, atau kawasan Priangan lain. Seperti warga lokal.

Enggak seperti kelompok touring motor lain yang seringnya meminggirkan yang lain saat kelompoknya lewat jalanan tertentu, dan biasanya dengan kecepatan edan, momotoran bersama di Komunitas Aleut justru menawarkan keselowan. Enggak sok jago, kecuali yang baru ikutan. Karena memang enggak ada yang jago. Yang paling nyeleneh, dengan hanya motor-motor biasa buat jalanan perkotaan, dan seringnya motor itu jarang diservis, justru doyan menguji kekuatan dengan sengaja memilih rute jalan terpencil dan yang bikin sinting. Masuk hutan, lewat tanjakan curam, turunan licin, melintas jalanan berlubang, berbatu, berlumpur, bahkan jalan yang enggak ada jalannya, dan asyiknya itu semua seringnya dilakukan pas gelap.

Jika Berger hanya bermotor sendiri, maka momotoran di Komunitas Aleut pasti bakal dapat pasangan. Pasangan yang mengisi jok belakang. Itupun kalau mencukupi. Soal pemasangan ini pun sangat politis. Biasanya malam sebelum keberangkatan, ditentukan siapa dengan siapa. Pegiat aktif yang luwes biasanya bakal dipasangkan dengan anggota baru. Tujuannya agar si anggota baru tadi kerasan, sehingga ikut lagi dan lagi. Bahkan, sudah jadi rahasia umum, pemasangan ini jadi semacam biro jodoh. Selain itu, lewat momotoran, kita bisa tahu sifat asli seseorang, karena dalam kondisi lelah secara otomatis topeng seseorang akan terbuka. Mana yang culas atau egois, dan mana yang memang benar-benar berkesadaran secara kelompok.

“Kemudian saya mulai melihat sesuatu yang tidak begitu konseptual namun fenomenologis, berkaitan dengan pengalaman,” ungkap Berger saat diwawancara di pameran lukisannya di London. “Kontur di peta, sungai-sungai, jalan-jalan, barisan pegunungan, mulai membentuk metafora tentang tubuh pengendara dan motornya. Dengan cara yang aneh kamu menjadi perjalanan yang telah kamu buat, sampai perjalanan yang akan dijalani selanjutnya. Kamu memakannya dan kamu memberakkannya; Perjalanan merasuk dalam tubuhmu.”