Kategori
Argumentum in Absurdum

Cintanometer dan Couplepreneur

yongseo-couple

Hei kamu! Ya, kamu gadis manis yang suatu saat bakal jadi pendamping di sisa hidupku. Kamu yang sekarang entah sedang berada dimana, sedang apa, dan dengan siapa. Yang kehadiranmu belum terdeteksi oleh radarku.

Cintanometer. Oh. Andai teknologi ultra canggih ini benar-benar ada.

Hai kamu yang akan jadi ibu bagi anak-anak kita, kalau ada. Insya Allah, kamu seorang berkelamin berbeda denganku kan? Kalau sama, naudzubillah berarti.

Cintanometer. Andai gadget ini nyata, tak hanya fiksi seperti dalam cerpennya Kang Darwis Tere Liye. Aku tak sabar ingin mengidentifikasi siapa kamu sebenarnya.

Kategori
Argumentum in Absurdum

Jadi Superman

Sumber gambar: fansided

TOK TOK!

“Eh Kang Superman ya?”

“Yeah, I am Clark Kent. I am the man of steel. Congratulation, I’ll lend you Kryptonian ability for a day. Have a nice day. Bye!”

Oh. Diriku jadi bertenaga. Berkarisma. Alhamdulillah dikasih amanah kekuatan Superman buat satu hari ini secara cuma-cuma.

Asyik punya kekuatan Superman. Bisa terbang. Ke Jatinangor ga sampai sejam udah nyampe. Ga perlu mencicipi kemacetan lalu lintas. Tinggal blas terbang. Terbang dengan kecepatan hipertinggi. Ga perlu takut kena tilang.

Ah. Masa cuma ke Jatinangor. Think global dong.

Eh iya yah, cita-cita pergi ke London bisa terealisasi nih. Langsung capcus ah kalau gitu mah. Tapi belum bikin paspor euy. Tapi kalem aja ah, ga apa-apa kali ya.

Blas terbang.

Eh lupa. Untung cuma baru nyampe Batam. Duh HP sama kamera ketinggalan. Ga bisa update Foursquare sama Path kan. Ga bisa foto dengan latar Big Ben entar. Sayang kan udah jauh-jauh ke London, masa ga ada yg tahu. Suatu kebahagiaan kan harus disebarluaskan.

Blas terbang. Lagi.

Wow. Patung Singa Laut. Menara Kembar Petronas. Angkor Wat. Tembok Besar. Gunung Fuji. Gurun Gobi. Gerah sumpah.

Subhanallah. Masjidil Haram. Kabah. Shalat dulu ah. Tahiyatul Masjid lah. Shalat di sini kan faedahnya seratus ribu kali shalat di tempat lain. Sambil numpang minum air zam-zam. Haus.

Sambil berdoa juga. Supaya dilancarkan perjalanannya. Supaya diberi keselamatan. Biar ga nyasar ke Kutub Utara. Ga bawa jaket tadi. Mati kedinginan nanti.

“Ya Allah, tunjukanlah hamba-Mu ini jalan menuju London. Soalnya saya ga tau harus ngambil arah ke mana.”

Kategori
Argumentum in Absurdum

Untuk Yang Akan Jadi Istriku

pink_girl_silhouette-wallpaper-768x1024

Hei kamu! Ya, kamu gadis manis yg suatu saat bakal jadi pendamping di sisa hidupku. Kamu yg sekarang entah sedang berada dimana, sedang apa, dan dengan siapa. Yg kehadiranmu belum terdeteksi oleh radarku.

Hai kamu yg akan jadi ibu bagi anak-anak kita, kalau ada. Insya Allah, kamu seorang berkelamin berbeda denganku kan? Kalau sama, naudzubillah berarti.

Hei kamu yg akan menghiasi bangunku dengan rona senyum indahmu tiap pagi, apakah kita punya selera musik yg sama? Apakah dikau suka dengan alternative rock dan k-pop juga? Kalau kau suka kan kita bisa berduet karaoke, bahkan bergoyang bersama mungkin.

Hei kamu yg akan sekamar dan pastinya akan seranjang bersama, sedang apa kamu malam ini? Semoga sedang tidak melakukan hal senonoh. Dan niscayanya tidak, karena kan laki-laki baik untuk perempuan baik. Nah, saya baik. Kesimpulannya kamu pun baik hati dan tidak songong.

Hei kamu yg akan aku ajak foto bareng pasca wedding, apakah kamu memikirkanku juga? Karena aku tidak terlalu. Aku lebih memilih mempersiapkan diri buat jadi pria terhebat buatmu.

Haha, udah ah. Gara-gara baca Filosofi Kopi-nya Teh Dee nih, jadi terbersit pikirin buat bikin prosa. Ga tau kenapa juga ngebahasnya tentang jodoh pula, ga lagi kasmaran atau apa saya.

Selamat malam, sayangku!