Kategori
Hiburan & Musik

6 Album Untuk Berkenalan dengan Skena Hardcore Jepang

Jepang bertanggung jawab untuk menghidangkan hardcore canggih – jauh sejak pembentukan Typhus pada tahun 1980, salah satu band hardcore pertama Jepang, jika bukan yang pertama. Namun, distribusi internasional yang buruk dan kesempatan terbatas untuk tur di luar Jepang telah membuat sulit bagi seluruh dunia untuk mengikuti.

Kategori
Fotografi

Ketika Brassaï Menginspirasi Dokumentasi Fotografi Punk 1970an New York

Lydia Lunch, Delancey Street Loft, 1977

Pada musim panas 1976, dua peristiwa terjadi, selamanya mengubah arah kehidupan fotografer Amerika Godlis dan sejarah punk. Itu bermula ketika dia membeli salinan The Secret Paris of the 30s, memoar menggembirakan Brassaï dari masa mudanya yang menampilkan petualangannya antara rumah bordil dan sarang opium dari bas monde.

“Selama tahun-tahun pertamaku di Paris, mulai tahun 1924, aku hidup di malam hari, tidur saat matahari terbit, bangun saat matahari terbenam, berkeliaran di kota dari Montparnasse ke Montmartre,” tulis Brassaï, yang saat itu sudah berumur tujuh puluhan. “Aku terinspirasi untuk menjadi seorang fotografer oleh keinginanku agar bisa menerjemahkan semua hal yang membuatku terpesona di Paris malam hari yang aku alami.”

Pada salah satu tamasya malam ini, Brassaï mengunjungi Bals-Musette, sebuah ruang dansa yang teduh tempat masyarakat kelas atas Paris berbaur dengan kelompok bawah tanahnya. Di sini, ia membuat foto-foto yang terlalu memalukan untuk dimasukkan di Paris by Night, sebuah monograf inovatif tahun 1933 yang membawa fotografer Hungaria ini ke panggung dunia. Tetapi pada 1970-an, setelah gerakan Cinta Bebas dan Pembebasan Gay, rasa lapar baru bagi kehidupan libertine seksual sudah mengudara, dan Brassaï menerbitkan gambar-gambar ini dari sisi gelap ibukota Prancis di The Secret Paris of the 30s pada tahun 1976.

CBGB, Bowery view, 1977
CBGB, Bowery view, 1977
CBGB, Chris Parker, 1977
Stiv Bators and Divine, Blitz Benefit, CBGB, 1978
CBGB, Closing Time, 1977
Danielle, Bowery, 1977
CBGB, Jim Jarmusch, 1978
Lovers, Bowery, 1977
No Wave Punks, Bowery, 1978. Harold Paris, Kristian Hoffman, Diego Cortez, Anya Philips, James Chance, Jim Sclavunos, Bradly Field, Liz Seidman
Ramones, CBGB, 1977
Rene Ricard and Diego Cortez, 1977
Godlis: History Is Made at Night

Diambil dengan mata yang sangat jeli dari fotografer Hungaria, Godlis membeli buku hardcover dan membawanya bersamanya untuk bekerja, menghabiskan pagi hari menyuntuki halaman-halamannya sebelum memulai shiftnya di Burger King di Times Square. Seperti rekaman hebat yang menjadi soundtrack hidup Anda setelah Anda memutarnya, foto-foto Brassaï mulai membentuk dan memberi tahu cara Godlis melihat dunia.

Godlis, berusia dua puluhan, baru saja pindah ke New York, dan mencari petualangannya sendiri. Seorang fotografer jalanan yang bercita-cita tinggi di jalur Garry Winogrand dan Robert Frank, Godlis datang ke kota siap untuk menjadi “salah satu karakter di jalan dengan kamera”.

Setelah melihat beberapa iklan di The Village Voice, Godlis menuju ke Bowery dan Bleecker untuk melihat bar lokal bernama CBGB, tempat band-band rock baru bermain. Dari saat dia masuk, dia tahu itu adalah tempat khusus, dan segera menemukan dirinya di sana setiap malam, menikmati orang-orang dan pemandangan. Saat itulah pencerahan menerpa.

“Pencerahan yang aku dapat dari The Secret Paris-nya Brassaï adalah bahwa di Bowery, aku bisa menjadi ‘fotografer jalanan’ di malam hari,” kata Godlis. “Brassaï pejalan malam dapat dilihat sebagai perpanjangan modern dari flâneur, seseorang yang malas, terpisah, sering sendirian, tidak terbebani oleh kendala kehidupan keluarga dan jadwal, dan hanya bisa ada di kota metropolis.”

Couple d’Amoureux dans un Petit Cafe, Quartier Italie, c. 1932
Gala Soirée at Maxims, 1949
Matisse dengan modelnya, 1939
Di Boulevard Saint Jacques, 1930
Pejalan kaki di Place d’Italie, 1932
Pemandangan melalui Pont Royal menuju Pont Solferino, c. 1933
Brassaï: The Secret Paris of the 30s

Godlis begitu klop dengannya. Satu-satunya yang ia inginkan adalah keluar dan membuat foto. Dia mulai belajar sendiri cara memotret di malam hari tanpa flash dan membuat cetakan di kamar gelap rumahnya. “Itu berjalan sempurna dengan skena punk: tiga akord sudah cukup,” katanya.

“Kami semua mencoba meletakkannya dengan gaya DIY betulan dan segera mengeluarkannya. Itulah yang terjadi di CBGB: Jim Jarmusch ingin membuat film, Debbie Harry dan Chris Stein ingin membuat rekaman, Ramones ingin memainkan pertunjukkan. Aku ingin mengambil foto, mencetaknya, dan keluar dan menangkap lebih banyak gambar.”

Selama tiga tahun berikutnya, Godlis mengumpulkan karya seminal yang mendokumentasikan adegan punk New York pada puncaknya. Dalam semangat Brassaï, Godlis menjatuhkan nama depannya dan hanya menggunakan yang terakhir, mengadopsi tanda tangan mononim dalam adegan yang diisi oleh karakter seperti Richard Hell, Johnny Rotten, Stiv Bators, dan Rat Scabies.

Juga seperti Brassaï, Godlis menunggu 40 tahun sebelum foto-fotonya akhirnya diterbitkan sebagai monograf dalam History is Made at Night. Itu tidak disengaja, tetapi paralelnya menambahkan lapisan resonansi lain, pengingat yang kuat untuk mengikuti impianmu tanpa rasa takut, mengetahui suatu hari nanti dunia akan menyusulnya.

Godlis, 1977
*

Diterjemahkan dari How Brassai Inspired These Photographs Documenting Punks in 1970s New York.

Kategori
Celotehanku

Sensasi Stop Making Sense

image-w1280

Sudah lama saya tahu nama band satu ini, salah satunya karena Radiohead adalah nama yang dicatut dari satu judul lagu mereka, tapi belum sekalipun mencoba mendengarnya. Meski enggak hapal lagu-lagunya, setelah nonton Stop Making Sense, saya otomatis langsung jadi fans Talking Heads. Band rock Amerika yang dibentuk 1975 di New York, mengawali diri sebagai punk kemudian selanjutnya bersinkretis ke funk, menjadi salah satu pionir genre new wave.

Saya menonton Stop Making Sense lewat Youtube. David Byrne, sang vokalis Talking Heads, berjalan ke sebuah panggung melompong di Pantages Theater di Los Angeles mengenakan jas abu-abu, yang tampak lusuh, dan sepatu putih dan membawa boombox. “Hi,” katanya pada penonton. “I got a tape I want to play.” Dia meletakkan stereo, membawakan “Psycho Killer,” dan semuanya menjadi hidup. Kemudian Tina Weymouth sang bassis bergabung di atas panggung untuk memulai lagu berikutnya. Tiap lagu, pemain band lain terus muncul satu per satu. Petugas panggung keluar dari sisi panggung dan mulai menyusun platform bagi sang drummer Chris Frantz. Lalu masuk Jerry Harrison membawa gitar. Berbagai peralatan musik disiapkan di panggung, kabel-kabel terpasang.

Minimalisasi dan dekonstruksi lengkap dari pengaturan panggung konser diartikulasikan dengan indah di seluruh pertunjukan dengan potongan-potongan, baik itu latar, peralatan, pemain, ditambahkan sedikit demi sedikit. Butuh empat lagu sebelum seluruh anggota band tampil di panggung bersama, dan bahkan ada lagi yang akan bergabung. Musisi tambahan masuk: vokal pendukung Lynn Mabry dan Ednah Holt, synthenizer Bernie Worrell, pemain perkusi Steve Scales, dan gitaris Alex Weir. Dan konser makin menggelora.

Stop Making Sense, dirilis pada 1984, adalah sebuah kehebohan selama 88 menit. Direkam selama empat malam di Pantages Theatre di Hollywood pada bulan Desember 1983, ketika kelompok itu sedang tur untuk mempromosikan album baru mereka Speaking in Tongues. Judulnya diambil dari lirik lagu “Girlfriend Is Better”: As we get older and stop making sense...

Yang jadi sorotan tentu saja sang garda terdepan David Byrne. Melihatnya bergerak seperti manusia elastis dengan mik, kakinya dan pinggulnya tampaknya bekerja secara independen dari tubuh bagian atasnya, cukup mengesankan. Joget aneh, kejang-kejang, berlarian di atas panggung, berdansa dengan lampu, dan banyak gaya nyeleneh lain. Yang paling ikonik tentu saja kemeja kerja super gede, yang terinspirasi dari teater Jepang.

Enggak akan pernah ada film seperti Stop Making Sense. Sebagian besarnya memang berkat andil dari band tersebut, karena ini memang konser mereka, tapi mungkin enggak akan ada dalam bentuknya yang dinamis dan unik jika enggak ditangai sutradara Jonathan Demme – yang nantinya menelurkan The Silence of the Lamb (1991) dan The Manchurian Candidate (2004).

Ada banyak film konser hebat yang mengabadikan band-band di saat-saat puncak mereka. Namun, enggak satu pun dari mereka menggunakan media sinematik sebaik Stop Making Sense. Justru lewat kesederhanaan, film konser ini terasa megah. Sebagai sebuah film konser, juga sebagai sebuah film, Stop Making Sense menang di banyak bidang: sebagai hiburan, sebagai teater eksperimental, sebagai pertunjukan musik, atau sebagai latihan dalam dekonstruksi.

“Keahlian Jonathan adalah untuk melihat pertunjukan itu hampir sebagai bagian dari pertunjukan teater, di mana karakter dan keanehan mereka akan diperkenalkan kepada penonton, dan kamu akan mengenal band sebagai orang, masing-masing dengan kepribadian yang berbeda,” kata David Byrne dalam euloginya, diposting setelah kematian Demme pada April 2017. “Mereka menjadi temanmu, dalam arti tertentu.”

Demme menyukai syut dari sudut pandang penonton, layaknya fancam kekinian di Youtube, dan membuatnya terasa mendalam. Demme menghindari syut reaksi penonton, yang menciptakan perasaan bahwa kita bukan penonton, melainkan bagian dari band. Syut close-up pada Byrne dan pemain Talking Heads lainnya sering dilakukan, menciptakan semacam keintiman.

https://www.youtube.com/watch?v=mzFfV-02-Ts

Talking Heads memang beranggotakan para murid sekolah seni, sehingga nyeleneh artsy. Sejak 1980-an, live musik pop, berkat Talking Heads, menjadi sesuatu yang lebih seperti seni pertunjukan. Pementasan jadi sesuatu yang penting, dan penonton akan segera datang untuk mengharapkan kostum yang nyentrik, pencahayaan yang canggih, dan koreografi yang luar biasa.

Stop Making Sense seperti crescendo selama 88 menit, sebuah proyek seni yang berkembang yang semakin rumit dan menarik seiring perkembangannya. Demme, dengan sinematografer Jordan Cronenweth yang sebelumnya menangani Blade Runner (1982), menangkap bagaimana rasanya berada di sana. Dan bahkan jika kamu sepuluh ribu kilometer dari Los Angeles pada tahun 1983, kamu dapat membayangkan berada di baris depan panggung, menari seperti orang gila.