Kategori
Blog

Ngeblog: Seni Kelola Informasi dan Upaya Tetap Waras di Masa Pagebluk

Pagebluk, sebuah istilah yang diambil dari Bahasa Jawa untuk menyebut pandemi atau wabah penyakit, menghantam 2020 dan tata kehidupan siapa pun dipaksa berubah. Saya masih enggak percaya mengalami hal macam begini, sesuatu yang mungkin bakal masuk pelajaran sejarah di masa depan. Selain pagebluk tadi, kita makin akrab dengan beragam istilah ini: lockdown, physical distancing (yang sebelumnya social distancing), work for home, online learning, webinar, dan yang terbaru new normal.

Ketika melihat perubahan-perubahan yang ditimbulkan pagebluk ini, banyak dari kita melihat dari sudut pandang penuh ketakutan. Yang lainnya menerima perubahan dan melihat peluang untuk pertumbuhan di masa depan. Tentu saja, untuk bergerak ke opsi yang kedua itu, seringnya kita harus menghadapi yang pertama, menanggulangi ketakutan terlebih dahulu.

Ketakutan sangat alamiah. Ketika saya menulis artikel ini, dunia terasa begitu sureal, dan saya juga merasa takut. Beragam efek pandemi ini banyak memengaruhi pikiran kita. Alasan stres berlimpah akibat pagebluk ini. Adanya risiko penularan menciptakan paranoia, baik karena kita khawatir terkena langsung atau takut jika kehilangan orang yang dicintai. Banyak orang kehilangan pekerjaannya, dihadapkan dengan kesulitan finansial. Semua ini, dan banyak lagi, hadir bagai mimpi buruk dalam pagebluk saat ini.

Meski enggak ada semacam penghapus ajaib untuk perasaan sulit ini, ada langkah-langkah yang setidaknya dapat kita ambil untuk membantu meringankan kecemasan dan meningkatkan kesejahteraan mental kita. Saya menemukan sebuah artikel psikologi kalau menulis pengalaman dan perasaan kita adalah strategi berbasis bukti ilmiah untuk mengatasi kecemasan dan emosi negatif selama krisis ini. Saya sudah menyadur artikel tersebut dalam Menulis Jurnal Sebagai Antidepresan.

Di waktu yang bersamaan, di bulan Mei, hadir sebuah tantangan menulis blog: #31HariMenulis. Untuk berpartisipasi, setiap orang dipaksa menulis sehari satu selama sebulan ini di blognya. Mengawinkannya dengan efek psikologis menulis jurnal tadi, ditambah untuk mengisi blog saya yang sebagian besarnya cuma dipenuhi tulisan buangan paska ditolak redaktur, tak ada ruginya ikut meramaikan tantangan menulis ini. Ternyata, muncul semacam bahan pikiran setelah menjalani #31HariMenulis sebulan kemarin.

https://twitter.com/kearipan/status/1256128799848071168

Blog Sebagai Portofolio

Sebuah blog adalah cara terbaik untuk membuat portofolio online yang memungkinkan kita untuk “ditemukan”. Dengan punya blog saja, kita sudah dianggap seorang penulis, atau setidaknya seseorang yang bisa menulis. Bagi saya yang bekerja dengan teks, dan saya seringnya mendaku diri sebagai esais, meski segala tawaran pasti disambut, ini banyak membantu. Beruntungnya, ini tak hanya berlaku buat pekerja teks komersial seperti saya.

Sebelum pandemi menyerang, beberapa kegiatan di 2019 yang bisa saya jalani akibat ngeblog: pemantik diskusi Selasar Weekend Cinema, partisipan Writingthon Jelajah Kota Garut, pemateri Workshop Menulis Esai di Sabilulung Fest Sosiologi Fisip Unpad, dan tukang review Japanese Film Festival Bandung.

Lanskap jagat maya telah banyak berubah, apalagi dengan adanya media sosial. Namun, masih ada banyak blog yang berfungsi sebagai platform bagi orang-orang untuk menyuarakan ide, pikiran, dan perasaan mereka. Apakah minat kita itu di bisnis, memasak, politik, fotografi, atau berkebun, blog memberi kita kesempatan untuk terhubung dan berjejaring dengan orang-orang yang memiliki pemikiran serupa dan gairah sama.

Bahkan jika kita cuma penggemar drama Korea atau anime, misalnya, dan saya termasuk golongan ini. Kawinkan kegemaran itu dengan minat kita yang lain, ini berguna untuk meluaskan jangkauan pembaca kita sekaligus mendiferensiasi diri kita sendiri. Sering saya menulis soal kokoreaan dan jejepangan, dengan tambahan pendekatan psikologi dan sosial budaya, dan tak jarang dari sini bisa membuka berbagai peluang, dari relasi sampai pintu rezeki.

Ketika internet dan teknologi makin tertanam dalam kehidupan kita sehari-hari, membangun blog perlu dipertimbangkan. Layanan penyedia yang makin ramah pengguna dan banyaknya panduan di internet telah membuat aktivitas ngeblog ini makin gampang.

Saya sendiri sekarang menggunakan platform gratisan Blogspot dengan domain dari Qwords. Dapat rekomendasi dari admin satu media Bobotoh terbesar, dan ternyata puas banget. Tinggal cek domain, dan kalau sesuai langsung bayar. Ada banyak metode pembayaran yang memudahkan, di masa pandemi gini berguna banget. Kalau saya dulu pakai pilihan pembayaran lewat Alfamart, biar ada alasan ketemu sama teteh kasirnya.

Kalau sudah bayar, untuk utak-atik selanjutnya bakal dipandu juga sama pihak Qwords, atau bisa baca di tutorial Cara Pasang Domain ke Blogspot dengan DNS Manager. Waktu pertama mengeset domain, pas ada masalah, saya dibantu sama provider ini dan responnya cepat.

Punya Top Level Domain itu bukan hanya keren, tapi bikin kita semangat ngeblog juga. Logikanya, kita sudah bayar, kalau blog enggak diisi apa-apa pastinya sayang banget.

Memancing Pengetahuan di Lautan Informasi Lewat Ngeblog

Ilustrasi: theifactory.com

Ilmu bagaikan hewan buruan, dan tulisan ibarat tali pengikatnya. Oleh karena itu ikatlah hewan buruanmu dengan tali yang kuat. Adalah tindakan bodoh ketika berburu rusa kemudian setelah rusa itu berhasil ditangkap, kamu biarkan saja dia tanpa diikat di keramaian.

Nasihat dari Imam Syafii itu selalu jadi satu kutipan favorit saya. Hari ini, di zaman internet, hewan buruan itu begitu banyak. Yang jadi masalah adalah ketika kita enggak bisa mengolah informasi, dan seringnya terjebak dalam disrupsi. Wejangan Imam Syafii tampak begitu relevan, dan saya pikir dapat dielaborasi ke dalam konsep data, informasi, pengetahuan, wawasan dan kearifan seperti pada ilustrasi di atas.

Di masa pagebluk ini makin banyak webinar dan online learning, juga beragam diskusi daring. Akses dipermudah, yang berbayar digratiskan. Namun, segala informasi ini akan menguap begitu saja kalau enggak dicatat. Bagaimana mungkin sesuatu yang enggak diingat bisa jadi keahlian?

Mencatat, merumuskan ulang dan mengunggah lagi di blog tentu yang paling ideal. Jika kita suka sesuatu, apapun itu, memulai blog dapat memberikan kesempatan untuk mengedukasi orang lain yang tertarik pada bidang keahlian kita. Bagian terbaiknya adalah, ketika kita membangun sumber daya apalagi menciptakan semacam ekosistem lewat blog, dalam satu kesempatan kita bakal menyadari ada peluang untuk menghasilkan uang dari sini.

Semakin banyak kita menulis, semakin baik kita melakukannya. Jangan minder dengan tulisanmu, saya pun sering ingin muntah kalau baca kembali tulisan-tulisan lama saya, tapi menghargainya karena saya berani mencoba. Kebanyakan blogger profesional, dan setiap profesi yang berkaitan merangkai teks, pasti menulis secara teratur dan karenanya menganalisis dan mengoreksi tulisan mereka terus-menerus. Dengan blog, kita bahkan dapat memperoleh umpan balik langsung dari pembaca untuk membantu kita menjadi penulis yang lebih baik.

Teknologi informasi hanya akan jadi polusi notifikasi dan disrupsi, kalau kita enggak bisa mengelolanya. Ketika seni menulis sudah dikuasai, setidaknya kita bisa mengelola kumpulan informasi dan menyulapnya jadi pengetahuan, atau mungkin sampai tahap wawasan, bahkan mencapai kearipan. Eh, Kearipan udah jadi domain saya, ya. 😀

Yuk, segera bikin blog. Saya bersedia bantu kalau ada yang tanya-tanya soal pengelolaan blog atau soal tulis menulis, konsepnya bukan guru-murid, tapi kita sama-sama belajar. Kalau yang butuh domain dan sekalian hosting murah bisa pesan di Qwords. Bagi yang sudah ngeblog, bisa juga ikutan afiliasi hosting, promosi bisa lewat blognya.

https://www.qwords.com/promocom/
https://www.qwords.com/afiliasi-hosting/

Pagebluk masih belum reda, tapi seperti badai, pasti akan berlalu. Beberapa hari kemarin ada dua tawaran proyek masuk ke saya, yang pertama buat mengembangkan situs otaku (manga, anime, video game Jepang) dan yang kedua kerjaan untuk jadi copy editor naskah fiksi. Dua-duanya itu bisa saya terima karena mereka ngintip blog ini. Saya sendiri masih baru dalam dua pekerjaan itu, tapi saya mengiyakan dengan kasih catatan kalau saya pun masih belajar, dan mereka oke-oke aja. Ah, rezeki di kala pagebluk. Masih mikir kalau punya blog itu enggak guna?

Perubahan adalah satu-satunya yang konstan dalam kehidupan. Terkadang lambat dan bertahap. Kadang-kadang datang dalam momen paling singkat, dalam sekejap mata, lewat sesuatu yang mikroskopik: COVID-19. Terlepas dari bagaimana ia datang, kita semua akan diubah. Konon, mengacu pada perjalanan sejarah umat manusia, pagebluk selalu akan mengubah segalanya. Pertanyaannya, siapkah kita?

lomba blog qwords