Kategori
Celotehanku

Sensasi Stop Making Sense

image-w1280

Sudah lama saya tahu nama band satu ini, salah satunya karena Radiohead adalah nama yang dicatut dari satu judul lagu mereka, tapi belum sekalipun mencoba mendengarnya. Meski enggak hapal lagu-lagunya, setelah nonton Stop Making Sense, saya otomatis langsung jadi fans Talking Heads. Band rock Amerika yang dibentuk 1975 di New York, mengawali diri sebagai punk kemudian selanjutnya bersinkretis ke funk, menjadi salah satu pionir genre new wave.

Saya menonton Stop Making Sense lewat Youtube. David Byrne, sang vokalis Talking Heads, berjalan ke sebuah panggung melompong di Pantages Theater di Los Angeles mengenakan jas abu-abu, yang tampak lusuh, dan sepatu putih dan membawa boombox. “Hi,” katanya pada penonton. “I got a tape I want to play.” Dia meletakkan stereo, membawakan “Psycho Killer,” dan semuanya menjadi hidup. Kemudian Tina Weymouth sang bassis bergabung di atas panggung untuk memulai lagu berikutnya. Tiap lagu, pemain band lain terus muncul satu per satu. Petugas panggung keluar dari sisi panggung dan mulai menyusun platform bagi sang drummer Chris Frantz. Lalu masuk Jerry Harrison membawa gitar. Berbagai peralatan musik disiapkan di panggung, kabel-kabel terpasang.

Minimalisasi dan dekonstruksi lengkap dari pengaturan panggung konser diartikulasikan dengan indah di seluruh pertunjukan dengan potongan-potongan, baik itu latar, peralatan, pemain, ditambahkan sedikit demi sedikit. Butuh empat lagu sebelum seluruh anggota band tampil di panggung bersama, dan bahkan ada lagi yang akan bergabung. Musisi tambahan masuk: vokal pendukung Lynn Mabry dan Ednah Holt, synthenizer Bernie Worrell, pemain perkusi Steve Scales, dan gitaris Alex Weir. Dan konser makin menggelora.

Stop Making Sense, dirilis pada 1984, adalah sebuah kehebohan selama 88 menit. Direkam selama empat malam di Pantages Theatre di Hollywood pada bulan Desember 1983, ketika kelompok itu sedang tur untuk mempromosikan album baru mereka Speaking in Tongues. Judulnya diambil dari lirik lagu “Girlfriend Is Better”: As we get older and stop making sense...

Yang jadi sorotan tentu saja sang garda terdepan David Byrne. Melihatnya bergerak seperti manusia elastis dengan mik, kakinya dan pinggulnya tampaknya bekerja secara independen dari tubuh bagian atasnya, cukup mengesankan. Joget aneh, kejang-kejang, berlarian di atas panggung, berdansa dengan lampu, dan banyak gaya nyeleneh lain. Yang paling ikonik tentu saja kemeja kerja super gede, yang terinspirasi dari teater Jepang.

Enggak akan pernah ada film seperti Stop Making Sense. Sebagian besarnya memang berkat andil dari band tersebut, karena ini memang konser mereka, tapi mungkin enggak akan ada dalam bentuknya yang dinamis dan unik jika enggak ditangai sutradara Jonathan Demme – yang nantinya menelurkan The Silence of the Lamb (1991) dan The Manchurian Candidate (2004).

Ada banyak film konser hebat yang mengabadikan band-band di saat-saat puncak mereka. Namun, enggak satu pun dari mereka menggunakan media sinematik sebaik Stop Making Sense. Justru lewat kesederhanaan, film konser ini terasa megah. Sebagai sebuah film konser, juga sebagai sebuah film, Stop Making Sense menang di banyak bidang: sebagai hiburan, sebagai teater eksperimental, sebagai pertunjukan musik, atau sebagai latihan dalam dekonstruksi.

“Keahlian Jonathan adalah untuk melihat pertunjukan itu hampir sebagai bagian dari pertunjukan teater, di mana karakter dan keanehan mereka akan diperkenalkan kepada penonton, dan kamu akan mengenal band sebagai orang, masing-masing dengan kepribadian yang berbeda,” kata David Byrne dalam euloginya, diposting setelah kematian Demme pada April 2017. “Mereka menjadi temanmu, dalam arti tertentu.”

Demme menyukai syut dari sudut pandang penonton, layaknya fancam kekinian di Youtube, dan membuatnya terasa mendalam. Demme menghindari syut reaksi penonton, yang menciptakan perasaan bahwa kita bukan penonton, melainkan bagian dari band. Syut close-up pada Byrne dan pemain Talking Heads lainnya sering dilakukan, menciptakan semacam keintiman.

https://www.youtube.com/watch?v=mzFfV-02-Ts

Talking Heads memang beranggotakan para murid sekolah seni, sehingga nyeleneh artsy. Sejak 1980-an, live musik pop, berkat Talking Heads, menjadi sesuatu yang lebih seperti seni pertunjukan. Pementasan jadi sesuatu yang penting, dan penonton akan segera datang untuk mengharapkan kostum yang nyentrik, pencahayaan yang canggih, dan koreografi yang luar biasa.

Stop Making Sense seperti crescendo selama 88 menit, sebuah proyek seni yang berkembang yang semakin rumit dan menarik seiring perkembangannya. Demme, dengan sinematografer Jordan Cronenweth yang sebelumnya menangani Blade Runner (1982), menangkap bagaimana rasanya berada di sana. Dan bahkan jika kamu sepuluh ribu kilometer dari Los Angeles pada tahun 1983, kamu dapat membayangkan berada di baris depan panggung, menari seperti orang gila.

 

 

 

Kategori
Celotehanku

Hanya Ada Kosong di Jok Belakang

1

Usianya 15, masih tolol, dan akan selalu begitu. Ketika hidup hanya disesaki tugas sekolah, saat masa depan terbentang lebar – hanya diburamkan ramalan kiamat 2012. Secara hukum, tentu bocah ingusan umur segini belum boleh mengendarai motor, dan jadi sasaran empuk untuk diperas polisi kalau sedang ada razia. Tapi apa asyiknya hidup jika hanya tunduk pada aturan. Saya berontak; maka saya mengada. Tanpa pamitan, saya membawa kabur Yamaha Mio 2008, yang masih mulus, yang baru beres dibikin plat nomornya, untuk kemudian membawa pulang motor tadi dengan keadaan kaca depan pecah, bodi penuh baret dan dengkul yang terluka. Saat itu bacaan saya masih sebatas komik hentai, dan masih dalam tahap belajar naik motor. Momotoran perdana saya tersebut, berakhir memalukan. Pertama, hampir membuat momotoran ke Kawah Putih yang sudah setengah jalan ini dibatalkan. Selanjutnya, dimarahi orang tua tentu saja suatu keniscayaan, tapi berkatnya saya dibebaskan memakai motor untuk pergi sekolah. Kejadiannya seperti baru kemarin saja. Entah kenapa, saya masih jelas mengingatnya. Padahal secara umum, kita sangat baik untuk melupakan hal-hal sepele. Bahkan, banyak dari pikiran kita, hilang begitu saja. Kita cenderung untuk mengingat hanya hal-hal yang kita pikirkan begitu sering atau yang memiliki ikatan emosi – sebuah masalah, sebuah tanggal, sebuah pertemuan. Untuk mengingat momen, mencatat atau mengabadikannya dalam foto adalah upaya paling sering dilakukan manusia. Saat itu saya belum menulis catatan seperti sekarang. Satu-satunya catatan yang bisa mengkonfirmasi pengalaman ini bisa dilihat di pos teman saya yang berjudul 9 April 2009 . Kawah Putih with x1. Meski belum tau apa pentingnya menulis, bisa dibilang berkat Raditya Dika dan dia yang bikin catatan harian ala-ala Raditya Dika itu, yang membuat saya mau-maunya ngeblog. Membaca kembali catatan-catatan terdahulu, meski penulisannya buruk, adalah sebuah keasyikan tersendiri. Beragam kenangan lain ikut menyerbu. Teringat setelah kecelakan itu, saya yang harus dibonceng diceramahi teman saya sendiri, dengan bahasa Sunda, yang intinya: 1) Jangan dikendalikan motor, tapi kitalah yang harus mengendalikannya; 2) Jangan hanya mengikuti yang di depan, tapi perhatikan jalan yang harus kita lalui. Dua nasihat sok bijak, yang memang bisa diaplikasikan buat hal-hal lainnya, dalam hidup ini.

+

2

Ketika melihat rombongan bermotor, saya sering berdoa agar mereka jatuh masuk jurang berjamaah. Sialnya, doa macam begini jarang ditanggapi. Rombongan motor yang saya maksud adalah mereka yang menganggap dirinya ambulans, yang harus meminggirkan yang lain karena menganggap dirinya sang raja jalanan, yang sebenarnya mereka yang layak masuk ambulans dan dilarikan ke rumah sakit jiwa. Soal momotoran, atau touring motor, atau bermotor beriringan, tentu enggak dilarang, kecuali kalau masuk jalan tol, yang masih sering dilakukan para bebal. Saat masih berseragam putih abu, saya sering momotoran ke selatan Bandung atau jalan-jalan ke kota, ke Kota Bandung maksudnya. Momotoran tentu sesuatu yang seru, begitupun bermotor sendirian. Mungkin banyak yang mengeluh soal macet, saya pun begitu, tapi kadang menikmatinya. Bagi saya, bermotor saat macet, atau ketika menunggu lampu merah, adalah waktu yang berharga bagi hama-hama penggerutu dalam kepala saya untuk melingkar berdiskusi beragam pokok: Dunia ini sungguh absurd karena enggak bisa menerangkan kontradiksi-kontradiksi yang ada padanya; Dunia ini irasional karena enggak bisa menerangkan soal adanya kemalangan, bencana, ataupun tujuan hidup manusia; Dunia seringnya enggak kasih yang kita minta. Beragam pikiran selintas, yang seringnya akan masuk tong sampah dalam korteks serebral. Ada lagi kebiasaan aneh saya lainnya, saya sering menguntit seorang perempuan yang bermotor sendirian, enggak berusaha untuk menyusulnya. Seperti Kanae Sumida yang mengikuti laju Takaki Tohno di depannya dalam film anime tiga babak 5 Centimeters per Second. Hanya meneliti cara dia berkendara, atau stiker yang ditempel di spatbor atau helmnya, atau setelan yang dia pakai. Apakah ini perilaku cabul? Saya enggak tahu, tapi tentu saya enggak berniat jahat. Apalagi kalau malam hari, saya hanya berusaha meneranginya. Meski bejatnya, saya kadang iseng berdoa agar perempuan itu jatuh tergelincir, untuk kemudian saya bisa membantunya. Beruntung, doa macam begini jarang ditanggapi. Bermotor sendiri, meski tragis, kadang bisa romantis. Saya bukan orang yang menggebu-gebu dalam bermotor, juga dalam apapun. Mungkin karena inilah saya suka membaca Yasunari Kawabata, menonton Christopher Nolan, atau Makoto Shinkai, mendengar Radiohead, berlaku seperti tokoh dalam cerpen Utuy T. Sontani, juga layaknya protagonis dalam Haruki Murakami. Ada sebuah rumus, bahwa kebahagiaan itu merupakan hasil dari realita yang dibagi dengan ekpektasi. Jadi, cara untuk berbahagia adalah dengan mengubah realita agar sesuai ekpektasi, lebih bagus lagi melebihinya. Atau, karena mengubah realita begitu sulit, yang paling mudah adalah dengan menurunkan ekpektasi kita. Apapun itu, sikap pesimisme sebagai bentuk kebijaksanaan kuno, yang masih termaktub dalam konsep bersyukur, juga bisa memandu kita untuk mencapai yang namanya kebahagiaan. Kenapa pula manusia begitu susah payah, saling berkejaran, untuk mendapat yang namanya kebahagiaan?

+

3

Semua ini, semua cinta yang kita bicarakan ini, hanya akan jadi kenangan. Mungkin bukan sebuah kenangan. Apakah aku salah? Apakah aku sesat? Karena aku ingin kalian meluruskanku jika kalian pikir aku salah. Aku ingin tahu. Maksudku, aku tak tahu apapun, dan aku orang pertama yang mengakuinya.

– Raymond Carver, Apa yang Kita Bicarakan Ketika Kita Membicarakan Cinta

Kenapa harus mencintai dia yang enggak bakal balik mencintaimu padahal ada beragam masalah yang harus dipikirkan, upaya menggulingkan kapitalisme, misalnya? Mencintai harusnya saling menguntungkan kedua belah pihak, sarana menumbuhkan kesadaran kolektif. Cinta adalah komunisme mungil, kelakar pemikir Alain Baidou. Apa yang didapat dari cinta satu arah coba? Yang satu enggak tahu kalau ada yang mencintainya, yang satunya lagi harus mencintai dengan menyakiti diri sendiri. Sama aja kayak perilaku ganjil masokis, kayak landak yang pengen ngentot, harus kena tusuk duri pasangannya. Entah, mungkin karena itulah disebut cinta. Ya, ya, di sini saya hanya bertugas seperti komentator sepakbola, yang mungkin kalau disuruh bermain bola malah garuk-garuk bokong. Ada dua nasihat dari saya, pelajaran pertama: untuk mencintai, jangan berpura-pura. Pelajaran kedua: jangan percaya nasihat orang yang payah kisah cintanya. Untuk praktek cinta searah, bisa dibilang saya jagonya, saya bahkan bisa mencintai kepada entah siapa, seseorang yang jauh. Kita semua sebagai makhluk sosial memiliki keinginan mendalam dan mendasar untuk menemukan bahwa ada satu orang yang sempurna untuk menghabiskan sisa hari-hari kita. Bahwa ketika kamu bertemu dengannya, kamu merasakan daya tarik enggak terkendali dan rasa akrab yang enggak logis. Seolah-olah kamu sudah tahu orang itu untuk seumur hidupmu. Apa pun yang kamu ingin sebut, film dan serial TV dan buku telah meromantisasi fenomena ini dengan sebutan belahan jiwa atau jodoh. Tapi apa yang benar-benar kita tahu tentang pasangan yang sempurna atau pasangan yang ideal itu? Kenapa ada yang sampai berganti pacar dan berganti suami atau istri? Apakah dengan berpacaran atau bahkan ketika sudah menikah, kita bisa bebas dari yang namanya kesepiaan? Saya enggak mau jadi sinis, tapi dua orang bisa saja tidur di ranjang yang sama dan masih akan merasa sendirian saat mereka berdua menutup mata mereka. Pada akhirnya, entah karena kita sering membaca kalimat “dan mereka bahagia selamanya,” dalam penutup kisah, barangkali begitulah nasib manusia. Kita butuh sebuah tujuan, seilusif apapun: untuk bisa menemukan belahan jiwa kita, untuk bisa mengecupnya, meremas tangannya dengan kuat, untuk memimpikan sebuah tatanan baru dunia, atau sekadar agar bisa bebas ngobrol cabul. Karena tanpa tujuan, mungkin kita akan jadi makhluk yang lebih menyedihkan dan mengerikan. Terus bergerak, meski entah kemana, meski hanya ada kosong di jok belakang kita, dan meski hanya 5 cm/detik secepat gugurnya kelopak sakura untuk sampai ke tanah. Haha, kenapa aing jadi mendayu begini.

Baiklah, entah dialamatkan untuk siapa, tapi saya ingin mengirim video ini. Mungkin, entah kapan, seperti Park Chanyeol, saya akan melancarkan bahasa Jepang dan menyanyikan lagu ini secara langsung buat dia, atau mungkin dia itu kamu yang sedang membacanya. Entah kenapa, orang Jepang sangat paham soal kesepian dan kehampaan.

Kategori
Cacatnya Harianku

Ereksi, Ejakulasi, Eksebisi dan Cara Mengeleminasi Hama

hama-hama

1

“Hei! Apa semua orang di sini melakukan masturbasi?” Midori bertanya sambil menengadah memandang gedung asrama.

“Mungkin ya.”

“Apa semua laki-laki melakukan masturbasi sambil membayangkan perempuan?”

“Ya, tentu begitu,” kataku. “Aku kira tak ada laki-laki yang melakukan masturbasi sambil memikirkan pasar saham, konjugasi verba, atau Terusan Suez, tentu mereka melakukannya sambil membayangkan perempuan.”

— Haruki Murakami, Norwegian Wood

Bagai Putri Salju terlelap tak berdaya, dengan tanpa penjagaan tujuh kurci di sekelilingnya, mungkin butuh kecupan seorang pangeran agar bisa membuatnya terbangun, sebab rentetan alarm dari ponselnya enggak mempan. Masih tenggelam dalam tidur, lelap di atas ranjang lapuk, dadanya turun naik saat bernapas, bibir tanpa lipstiknya mekar, mulutnya membentuk huruf O. Adegannya hampir-hampir seperti dalam video Jepang dewasa saja, terpikir oleh saya saat sekilas memelototinya. Maka sebelum pikiran enggak-enggak melebar lebih jauh, saya lekas mengalihkan posisi. Saya menghela napas. Beruntung, keinginan untuk melanjutkan tidur lebih mendesak ketimbang gairah seksual. Situasinya, persis seperti nukilan dari draft bab pertama novel saya, Perempuan yang Bercinta dengan Anjing. Menulis novel itu seperti seks, tegas Eka Kurniawan, sialnya saya masih payah dalam menulis, dan untuk seks nampaknya masih jauh lagi, jadi entah kapan novelnya bakal rampung. Bab pembuka dengan subjudul “Bagaimana Cara Memperkosa Temanmu Sendiri” tadi tentu bukan arahan menjadi lelaki bajingan. Bagi saya, enggak sampai menyetubuhi, untuk masturbasi dengan foto kawan perempuan saja saya enggak bisa, bahkan saya segan untuk merancapi member Girls’ Generation. Seperti Toru Watanabe yang dibolehkan Midori agar dirinya dijadikan obyek fantasi seksual, Toru sudah berusaha namun enggak bisa. Ya, saya pun enggak bisa merancap ke sembarang orang, coli pun perlu tatakrama. Yang jadi soal adalah, selain menjadi inspirasi tulisan, rekaman adegan ranjang tadi tentu akan masuk alam bawah sadar. Bersama rekaman selintas lainnya ini akan jadi obyek fantasi seksual saat kita bermimpi basah, dan kita enggak bisa melawan. Kasir Alfamart yang menyapa atau petugas SPBU yang melayani kita mungkin dalam mimpi jadi lawan main yang mengulum kontol kita, atau bisa saja kita bersenggama dengan Scarlett Johansson atau kawan sendiri atau tokoh anime berbikini atau monyet betina atau seorang paman tambun atau bahkan ibu kita sendiri. Ketika terbangun, saya selalu lupa dengan siapa dan bagaimana cara mainnya, tahu-tahu basah. Kita enggak bisa menyalahkan diri kita sebagai seorang cabul. Siapa sih yang bisa mengontrol alam bawah sadar? Apalagi mimpi, utamanya mimpi basah, beserta fantasi seksual tadi, ini sesuatu yang masih mengundang banyak pertanyaan, selalu menarik untuk dibahas, dan dituliskan oleh para pemberani.

2

Aku sering berdiri di depan cermin, bertanya-tanya sampai sejauh mana jeleknya seseorang.

— Charles Bukowski, Ham on Rye

Seperti permukaan bulan, seperti jalanan Bandung selatan yang sering saya lewati, yang entah kapan akan diperbaiki, begitulah kondisi wajah yang harus saya lihat di pantulan cermin. Creep-nya Radiohead tentu sangat menyuarakan keluhan saya, dan yang saya butuhkan How to Disappear Completely dari dunia yang serba menghakimi ini. Ah, sampai kapan saya harus jadi bajingan pembenci diri? Saya selalu membayangkan terbangun dan mendapati diri menjadi Park Bogum saat bercermin dan kabar baik bahwa semua jalan di Bandung selatan akan mulus. Membayangkan sudah pasti enak, kau enggak bisa ereksi atau ejakulasi kalau enggak punya kemampuan kreatif ini, apalagi kalau kau melakukannya swadaya. Ya, ya, membayangkan diri jadi seganteng artis Korea adalah delusi yang diciptakan bisnis kapital. Kita tahu, standar kecantikan hari ini sangat terkait dengan yang namanya industri kapital, lebih tepatnya, standar kecantikan adalah bentukan industri. Sebagai negara maju, Korea Selatan tentu punya andil besar dalam membentuk standar kecantikan ini. Memang salah, tapi apakah benar-benar salah untuk punya keinginan menjadi ganteng? Di setiap spesies, hewan dalam percobaannya akan lebih memilih yang lebih cantik, lebih cemerlang, lebih menarik perhatian dalam lingkungannya, yang disebut stimulus supernormal, bahkan ketika rangsangan itu palsu semata. Bunga yang cantik akan lebih menarik hama-hama. Induk burung akan mengabaikan telurnya sendiri untuk kemudian menduduki sarang yang lebih besar, atau mengalihkan makanan dari anak-anak mereka untuk memberi makan anak lain yang punya paruh yang lebih terang. Inti dari stimulus supernormal adalah bahwa imitasi yang berlebihan yang dapat menyebabkan tarikan kuat dari hal yang nyata. Manusia, kalau boleh disetarakan dengan binatang, tentu punya dorongan bernama stimulus supernormal tadi; suka pamer dan suka pura-pura. Apalagi di masa kekininian, karena katanya masyarakat posmodern itu ditandai dengan superfisialitas dan kedangkalan, kepura-puraan atau kelesuan emosi, teknologi reproduktif, pokoknya serba gimmick gitu lah. Jujur, saya tak menampik, saya pun manusia yang ada kecenderungan ingin dianggap lebih; lebih cerdas, lebih keren, lebih unggul. Jadi, seberapa salahkah saya karena membayangkan diri bisa jadi Park Bogum? Lagipula, meski enggak percaya yang namanya Law of Attraction, entah kenapa kalau saya membayangkan dan menulis sompral, bakal kejadian. Seperti dalam film Ruby Sparks. Dia yang terlahir dari perkawinan sel kata dan buah pikiran ini diam-diam mengikuti saya, tulisnya dalam blog pribadinya. Saya setuju dengan gadis Scorpio itu, yang selalu dikerubungi hama-hama dengan stimulus supernormal berlebih. Ketimbang materialis dialektis, saya lebih seorang transedentalis, makanya saya beli novel super tebal Anna Karenina, sebab pernah saya mengarang cerpen kacangan bahwa si tokoh utamanya menemukan belahan jiwanya yang secantik Kim Taeyeon ketika membaca novel karangan Leo Tolstoy itu.

3

Aku pikir ada bahaya besar dalam menulis catatan harian: kau hanya membesar-besarkan segalanya.

— Jean Paul-Sartre, Nausea

Saya membaca kembali cerpen terjemahan saya sendiri Swastika-nya Charles Bukowski dari buku Erections, Ejaculations, Exhibitions and General Tales of Ordinary Madness, dan menemukan keterkaitan dengan kondisi sekarang, bahwa Adolf Hitler masih hidup dan berganti kulit jadi presiden Amerika Serikat. Belajar menulis lewat penerjemahan sungguh sangat membantu saya, apalagi kita tahu para penulis itu sudah jago bermain seks. Masih pagi, gerimis turun, lalu saya lanjut membaca tentang kisah cinta antara Jean Paul-Sartre dan Simone de Beauvoir, sebuah kisah cinta ganjil, di The New Yorker dengan ditemani Girl Who Can’t Break Up, Boy Who Can’t Leave-nya Lessang dan lagu-lagu Korea lainnya. Alkisah, Sartre dan Beauvoir bertemu di Paris pada 1929, Sartre berusia 24, Beauvoir menginjak 21, dan keduanya sedang sama-sama belajar ujian kompetensi agar bisa masuk jadi pengajar di persekolahan Prancis. Beauvoir seorang perempuan jenjang rupawan dan stylish, juga masih punya pacar, tapi ia kemudian jatuh cinta sama Sartre yang bantet, matanya juling, seorang cowok tuna-fashion yang pakai baju kedodoran, mirip bangkong edan, dan Sartre sendiri mengakui keburukrupaannya. Sartre dan Beauvoir terkenal sebagai pasangan dengan kehidupan yang independen, yang bertemu di kafe, tempat mereka menulis buku-buku mereka, dan bebas untuk menikmati hubungan lain, tapi hubungan mereka berdua terpelihara layaknya pasangan yang sudah menikah. Karena enggak mau saling melumpuhkan kebebasan masing-masing, mereka enggan untuk menjalin ikatan pada umumnya. Jika boleh mencatut Sartre; Hama adalah orang lain. Sebagai filsuf, saya menyukai pemikirannya, meski banyak enggak ngertinya, tapi sebagai penulis prosa, saya menikmati karyanya dan sedikit lebih ngerti. Jadi bagaimana cara mengeleminasi hama? Seperti dalam No Exit, menurut tafsiran saya, yang jadi soal bukan orang lain, tapi kesalahan ada pada cara kita memandang orang lain itu, bahwa hama-hama itu adalah yang menggerogoti pikiran kita. Hama-hama penggerutu dalam kepala, itulah yang pertama yang harus kita eleminasi. Bagaimana caranya? Saya pun enggak tahu.

Kategori
Celotehanku

Burung Murakami Berkicau di Klip Radiohead

“Ada satu buku yang aku baca, dari Murakami, The Wind-Up Bird Chronicles,” ungkap Thom Yorke saat ditanya Rolling Stone soal proses pembuatan album Hail to the Thief pada 2003 silam. “Tokoh utama dalam buku ini bukan seorang karakter sama sekali. Ini adalah soal kegelapan yang menyelubungi dan menghantui orang, yang menarik jatuh mereka. Kekuatan gelap dalam buku ini ikut memikatku.”

Sekarang sudah 2016, apakah kekuatan gelap tadi masih terikat pada diri seorang Thom Yorke? Entahlah. Tapi saat memutar lagu teranyarnya Radiohead di Youtube, ada sesuatu yang menarik, juga misterius, sebab terdapat penampakan burung biru berparuh kuning seperti dalam sampul The Wind-Up Bird Chronicles hasil desain dari John Gall. Burung itu bertengger di tangkai pohon, berkicau di awal dan penghujung klip video, mirip seperti cerita dalam novel terbaik Haruki Murakami tadi.

Kategori
Hiburan & Musik

Pasar Bisa Diciptakan dan Radiohead-nya Indonesia

pasar bisa diciptakan efek rumah kaca

‘Cinta Melulu’ memang diciptakan bernada sinis, bahkan ada sebagian yang merasa risih karena menganggap lagu ini rasis akibat bawa-bawa suku Melayu. Maka ‘Pasar Bisa Diciptakan’ terbentuk dengan nuansa optimis.

Akhirnya, setelah vakum beberapa tahun sehubungan dengan sang vokalis yang sedang tholabul ilmi di New York sana, band ini menelurkan album ketiga, dengan pelepasan lagu ‘Pasar Bisa Diciptakan’ ini. Tahun 2015 menandainya genapnya satu dasawarsa perjalanan Cholil Mahmud (vokal, gitar), Adrian Yunan Faisal (bass, vokallatar), dan Akbar Bagus Sudibyo (drum, vocal latar) sebagai unit musik bernama Efek Rumah Kaca.

Kategori
Vlog

[VIDEO] London. Someday. Soon!

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=CkgD0dB65Og]

NB: Aktifkan opsi subtittle video Youtube-nya.