Kategori
Cacatnya Harianku

Sang Penindas Diri

Setiap lelaki punya dua biografi erotis. Biasanya orang hanya berbicara mengenai yang pertama: daftar hubungan gelap dan beberapa kunjungan malam. Biografi satunya lagi terkadang lebih menarik: parade perempuan yang ingin kita miliki, perempuan-perempuan yang melarikan diri. Inilah sejarah yang sangat memilukan dari kesempatan yang terbuang.

The Book of Laughter and Forgetting, Milan Kundera
Kategori
Fiksi

Apa yang Kita Bicarakan Ketika Kita Membicarakan Cinta

raymond carver what we talk about when we talk about love birdman

Temanku Mel McGinnis sedang bicara. Mel McGinnis adalah seorang kardiolog, dan seringnya itu yang membuat dia punya hak bicara.

Kami berempat sedang duduk melingkar di meja dapurnya minum gin. Sinar matahari menaungi dapur dari jendela lebar di belakang bak cuci. Di sana ada Mel dan aku dan istri keduanya, Teresa—Terri, kami memanggilnya—dan istriku, Laura. Kami tinggal di Albuquerque. Tapi kami semua berasal dari tempat berbeda.

Ada seember es di atas meja. Gin dan air tonik terus digilir, dan entah bagaimana kita sampai pada bahasan tentang cinta. Mel berpikir bahwa cinta sejati tak lain tak bukan adalah cinta spiritual. Dia bilang dia sudah menghabiskan lima tahun di sebuah seminari sebelum berhenti untuk pindah ke sekolah kedokteran. Dia bilang dia masih teringat pada tahun-tahun di seminari sebagai tahun terpenting dalam hidupnya.

Kategori
Fiksi

Dusta, Raymond Carver

raymond carver the lie dusta seulgi

“Itu bohong,” ucap istriku. “Bagaimana kau bisa percaya yang seperti itu? Wanita itu hanya cemburu.” Dia menegakkan kepalanya dan tetap menatap padaku. Dia masih belum melepas topi dan mantelnya. Wajahnya memerah karena didamprat tuduhan begitu. “Kau percaya padaku, kan? Sudah jelas kau tak percaya yang seperti itu?”

Aku mengangkat bahu. Lalu aku bertanya, “Kenapa dia harus bohong? Apa yang bakal dia dapat dengan berbohong?” Aku merasa tak nyaman. Aku berdiri di sana dengan sandal sembari membuka tutup tanganku, merasa sedikit menggelikan saat membeberkan persoalan tadi. Aku tak bermaksud hendak jadi jaksa penuntut. Aku harap sekarang kabar itu tak pernah sampai di telingaku, bahwa segalanya akan sama seperti sebelumnya. “Dia sudah jadi seorang teman,” ucapku. “Teman kita berdua.”