Kategori
Celotehanku

Realisme Komersil

Kami manusia yang bernalar (miskin, tapi bernaral), bukan roh dari manual realisme magis, bukan kartu pos buat konsumsi asing dan bukan manipulasi hinaan atas kemelaratan nasional.

Roberto Bolano, Semua Menulis, Bukan Hanya di Cile

Kenapa para pekerja kreatif, terutama yang katanya penulis, doyan bawa gawean ke kedai kopi? Jika Anda bertanya-tanya mengapa orang bekerja di kafe, jujur saja, sebut penulis Tony Tulathimutte, ini sebagian besar untuk mencegah masturbasi. Jawaban sangat Freudian dan saya sepakat. Perlu kebijaksanaan ala Diogenes dan kesintingan ekstra agar berani coli di depan publik, kalaupun nekat dengan sembunyi-sembunyi di bawah meja, ada kemungkinan kopi pesanan tumpah karena gempa mungil yang tercipta.

Kategori
Fiksi

Duniazát, Salman Rushdie

150601_r26577-880

Pada tahun 1195, sang filsuf besar Ibnu Rushdi, menjabat sebagai qadi, atau hakim, di Sevilla dan belakangan diangkat jadi dokter pribadi khalifah Abu Yusuf Yaqub di istananya di kota Córdoba, secara resmi didiskreditkan dan dicela karena ide-ide liberalnya, yang tidak dapat diterima oleh kaum fanatik Berber yang semakin kuat menyebar seperti wabah penyakit di lingkungan Arab Spanyol, yang kemudian dikirim untuk tinggal di pengasingan domestik di desa kecil Lucena, sebuah desa tempat bermukim orang-orang Yahudi yang tidak bisa lagi mengatakan diri mereka adalah orang Yahudi karena mereka telah dipaksa masuk Islam. Ibnu Rushdi, seorang filsuf yang tidak lagi diizinkan untuk menjelaskan filsafatnya, yang semua tulisannya dilarang dan dibakar, merasakan berada di rumah sendiri justru saat bersama orang-orang Yahudi yang tidak bisa mengatakan diri mereka adalah orang Yahudi itu. Dia sebelumnya merupakan favorit dari Khalifah dalam dinasti yang berkuasa saat ini, Dinasti Almohad, tapi yang namanya favorit bakal ketinggalan jaman juga, maka Abu Yusuf Yaqub tak bisa mengelak untuk mengizinkan para fanatik untuk mendesak sang juru tafsir terbesar Aristoteles ini ke luar kota.

Kategori
Celotehanku

Berkenalan dengan Realisme Magis

“Saat kita menemukan dunia ini terlalu buruk,” sabda novelis Gustave Flaubert, “kita butuh mengungsi ke dunia lain.” Maka Gabriel Garcia Marquez menemukan dunia lain itu dalam fiksi. Ya, kita bakal menikmati keasyikan akan penemuan sebuah dunia yang hilang, petualangan masa silam lewat pengembaraan sebuah semesta dari novel-novelnya penulis kelahiran Kolombia ini.

Begitu pula ketika menyelami Cantik Itu Luka-nya Eka Kurniawan – yang notabene banyak terinspirasi dari Marquez dan penulis Amerika Latin lain yang hobi membenturkan pemaparan realisme dengan unsur fantasi. Nah, novel realisme magis inilah yang saya pilih untuk Kelas Resensi Buku Lisan Komunitas Aleut pekan ke-13. Dan dua minggu sebelumnya pun saya menunjuk novel dengan spesies sama dari Haruki Murakami, Kafka on The Shore.

Ah ternyata realisme magis sungguh lezat. Apalagi ketika mencicipi kedua novel tadi, saya sukses dibikin ngaceng berkat unsur stensilannya Eka dan hentai khas Murakami. Ajaib dan nyata!

***

Sabtu, 26 September 2015. Hari sedang senja dan bertepatan dengan Persib Day, sekitar sejam lagi menuju kick-off.

“Jadi sebagai pegiat Aleut, gimana kamu menanggapi Eka yang mengacak-acak sejarah di novelnya ini?” tanya pendiri dan editor Pandit Football Indonesia, yang sudah mafhum betul soal realisme magis kalau melihat artikelnya di detikSportObituari Gabriel Garcia Marquez: Surealisme Sepakbola Amerika Latin.

Duh. Satu kesulitan terbesar saya adalah mengolah yang ada dalam otak untuk diturunkan jadi bahasa verbal yang runtut. Ditambah lagi makin tertekan, karena Mang Zen sang penanya ini literary brother alias saudara seperguruannya penulis Beauty Is a Wound tadi.

“Justru Eka hendak mengolok-olok pemaknaan sejarah. Bahwa sejarah nggak melulu soal benar salah, hitam putih,” bacot saya, entahlah, lupa lagi redaksi kalimat aslinya, “malahan saya lebih percaya sejarah yang diceritakan dalam novel ini.”

kelas resensi komunitas aleut

Foto: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Menulis sejarah versi alternatif pada zaman kekinian nampak rumit: versi buku sejarah, versi budaya lokal, versi pengalaman pribadi. Lalu, apakah sejarah hanya pantas menjadi tema sebuah karya realis, yang mesti menghormati “fakta sejarah”, dalam arti sang pengarang harus melakukan riset sebelumnya dan kebebasannya dalam membangun plot dan tokoh dibatasi “fakta sejarah” tadi?

Soal ini sudah dibahas oleh Katrin Bandel dalam esai ‘Pascakolonialitas dalam Cantik Itu Luka‘. Dan ya, realisme magis adalah gaya yang pas untuk diterapkan dalam sastra pascakolonial, seperti yang sering dipakai para penulis Amerika Latin. Karena di tengah konsep sejarah yang plural, cerita fantastis yang membingungkan justru menjadi sejarah paling otentik yang bisa ditulis. Sebenarnya, jauh sebelum Marquez dan kawan-kawan, kakek-nenek moyang kita pun sudah lebih dulu menggunakan gaya penceritaan realisme magis. Sebabnya penulisan sejarah adalah bagian dari konstruksi identitas, misalnya yang dilakukan penguasa untuk melegitimasi kemaharajaannya. Raja-raja masa silam sering mencitrakan silsilah bahwa dirinya keturunan dewa-dewi.

Tapi bukan penguasa saja yang berhak atas sejarah. Oleh sebab itu, Cantik Itu Luka bisa dilihat sebagai sebuah penciptaan versi alternatif sejarah Indonesia dengan gaya mimpi dan main-main. Setara dengan 100 Hundread Year of Solitude-nya Marquez yang mencitrakan Kolombia, lebih jauh menyoroti Amerika Latin. Realisme magis hadir untuk merayakan nuansa pertentangan dua pandangan dunia, antara yang rasional dan saintifik Barat, dengan yang mistis klenik asli Timur, antara yang dominan dan yang terpinggirkan.

***

“TIKET HABIS, RANDA BANYAK!”

“CALO SETAN!”

Sungguh, realisme magis bukan hanya berlaku dalam karya fiksi. Meski bukan Moconda-nya Marquez dan Halimunda-nya Eka, di Bandung yang sesungguhnya pun kegilaan dan keajaiban bisa terjadi, sepakbola lah sebabnya, utamanya Persib. Satu contoh kecilnya, seorang jomblo macam saya pun bisa berbahagia pada malam Minggu, ketika secara serempak antara Persib, Tottenham dan Barcelona meraih kemenangan. Serasa dapat bidadari bernama Devi Kinal Putri jatuh dari langit dan hinggap dalam pelukan.

Maca mah teu nanaon karya fiksi, tapi kabogoh mah ulah fiksi oge atuh.” Membaca boleh karya fiksi, tapi pacar jangan fiksi juga, sebuah nasihat yang dilontarkan esais yang pandai mengawinkan sepakbola dan sastra itu di malam Minggu yang lain. Sialan!