Kategori
Celotehanku

Realisme Komersil

Kami manusia yang bernalar (miskin, tapi bernaral), bukan roh dari manual realisme magis, bukan kartu pos buat konsumsi asing dan bukan manipulasi hinaan atas kemelaratan nasional. – Roberto Bolano, Semua Menulis, Bukan Hanya di Cile

What is Literature For.MKV_snapshot_00.45_[2017.11.24_01.19.16]

Kenapa para pekerja kreatif, terutama yang katanya penulis, doyan bawa gawean ke kedai kopi? Jika Anda bertanya-tanya mengapa orang bekerja di kafe, jujur saja, sebut penulis Tony Tulathimutte, ini sebagian besar untuk mencegah masturbasi. Jawaban sangat Freudian dan saya sepakat. Perlu kebijaksanaan ala Diogenes dan kesintingan ekstra agar berani coli di depan publik, kalaupun nekat dengan sembunyi-sembunyi di bawah meja, ada kemungkinan kopi pesanan tumpah karena gempa mungil yang tercipta.

Di sanalah saya, Yellow Truck Coffee Jalan Sunda, beberapa meja diisi mereka yang menekuri laptopnya, hujan terus mengguyur di luar, saya memesan Americano panas, dan enggak ada kerja kebudayaan yang harus dibereskan sekaligus enggak ada kapalan yang perlu direpresi. Klub Baca Bandung mengundang dua penulis muda, Rio Johan dengan Ibu Susu-nya, novel oleh-oleh resedensi di Berlin, dan sohibnya Dewi Kharisma Michellia yang residensinya di Paris. Hujan dari sejak siang bikin yang datang sedikit, enggak kayak terakhir ikutan pas bahas Murakami setahun yang lalu. Dari yang hadir, saya bisa ketemu langsung sama seorang kolumnis ngepop dan seorang antropolog yang cuma berkait di media sosial. Sebagai yang enggak terikat sama klub atau lingkaran susastera apapun, gosip-gosip sastra teranyar yang saya kejar. Apalagi setelah baca How Fiction Works-nya James Wood dan How to Talk Book You Haven’t Read-nya Pierre Bayard, jadi pengen berbual-bual soal sastra.

Apa yang salah dengan seorang penulis Indonesia yang justru menulis novel berlatar Mesir Kuno? Rio sendiri mengaku banyak dikritik karena menulis dunia yang jauh, memilih enggak mengangkat kearifan lokal. Saya memuji Rio dengan argumen bahwa novel bukan sekedar kartu pos, yang hanya mengangkat eksotisme kampung halaman sang penulis. Apa itu membumi? Bahkan jika latarnya tentang kehidupan Mars, kalau ditulis dengan apik, lebih baik ketimbang cerita yang mengangkat kearifan lokal yang cuma berfungsi sebagai gimmick dan sangat permukaan. Saya mengomentari juga soal gaya Ibu Susu yang mirip Pyramid-nya Ismael Kadare, dan Rio memang menulis novel Kadare sebagai salah satu inspirasi di halaman epilog. Kadare memakai Mesir Kuno justru untuk mengkritisi Stalinisme yang pernah mencaplok negaranya Albania. Untuk pembacaan soal Ibu Susu, saya justru merasakan dunia sekuler dan seorang protagonisnya yang saya labeli kapitalis-filantropis yang oportunis.

Mimi, panggilan Dewi Kharisma, berpikir lebih visioner: Siapa sih penerbit luar yang tertarik menerjemahkan novel tentang Mesir Kuno yang ditulis seorang Indonesia? Rio justru rugi karena enggak menulis kearifan lokalnya, sebut Mimi. Dengan tetap mengkritisi bahwa novel yang menghadirkan mooi indie masih berupa tempelan, serta komentarnya terhadap novel-novel yang mengeksploitasi isu tragedi 65 supaya laku namun ditulis dengan buruk.

Dalam How Fiction Works, James Wood menyodorkan genre realisme komersil, sebagai salah satu brand paling kuat saat ini dalam fiksi. Brand yang secara ekonomi akan direproduksi, terus dan terus. Realisme sendiri hanyalah salah satu genre dalam fiksi, tak bisa dianggap lebih dekat dengan kenyataan dibandingkan genre lain. Realisme enggak lebih dari satu tata bahasa dan seperangkat aturan. Karena direproduksi terus-menerus, ia menjadi konvensi, lalu menjadi kebiasaan. Memberontak atas konvensi ini? Ia akan menciptakan konvensi baru, tentu saja. “Konvensi ini, seperti metafor, tidak mati tapi selalu sekarat. Seniman senantiasa mencoba mengakalinya.”

Wood juga mengutip Alain Robbe-Grillet dalam Pur un nouveau roman, yang menulis, “Semua penulis percaya bahwa mereka realis. Tak ada yang memanggil dirinya sendiri abstrak, ilusionistik, tak masuk akal, fantastik.” Robbe-Grillet melanjutkan bahwa jika semua penulis itu berhimpun di bendera yang sama, itu bukan karena mereka sepakat soal realisme; justru karena mereka ingin menggunakan ide berbeda mereka soal realisme untuk mengobrak-abrik yang lain.

Faktanya, apapun benderanya, dari realisme sosialis sampai realisme magis, akan masuk ke jurang yang sama bernama realisme komersil. Di sinilah kita berada, di satu kondisi menyebalkan ketika berkarya harus dikatrol selera pasar. Roberto Bolano adalah sosok nakal dan kontroversial, seorang penulis yang lantang menentang efek boom sastra Amerika Latin. Gabriel Garcia Marquez, Octavio Paz dan seluruh kanon karya realis magis menanggung beban amarahnya, Bolano terkenal karena menegaskan bahwa realisme magis itu berbau busuk. Ya, Bolano menciptakan realisme jeroannya, dan akhir ceritanya sudah dapat diprediksi, gaya tersebut jadi realisme komersil. Jauh setelah kematiannya, karya-karyanya terus dikomersialisasi, bahkan kalau ada tulisan Bolano ditemukan sudah pasti bakal diterbitkan.

Seseorang nampaknya harus lebih memikirkan cara merancap yang mutakhir ketimbang memikirkan realisme model baru, yang kemungkinan besar bakal dipecahkan algoritma.

Kategori
Non Fakta

Duniazát, Salman Rushdie

150601_r26577-880

Pada tahun 1195, sang filsuf besar Ibnu Rushdi, menjabat sebagai qadi, atau hakim, di Sevilla dan belakangan diangkat jadi dokter pribadi khalifah Abu Yusuf Yaqub di istananya di kota Córdoba, secara resmi didiskreditkan dan dicela karena ide-ide liberalnya, yang tidak dapat diterima oleh kaum fanatik Berber yang semakin kuat menyebar seperti wabah penyakit di lingkungan Arab Spanyol, yang kemudian dikirim untuk tinggal di pengasingan domestik di desa kecil Lucena, sebuah desa tempat bermukim orang-orang Yahudi yang tidak bisa lagi mengatakan diri mereka adalah orang Yahudi karena mereka telah dipaksa masuk Islam. Ibnu Rushdi, seorang filsuf yang tidak lagi diizinkan untuk menjelaskan filsafatnya, yang semua tulisannya dilarang dan dibakar, merasakan berada di rumah sendiri justru saat bersama orang-orang Yahudi yang tidak bisa mengatakan diri mereka adalah orang Yahudi itu. Dia sebelumnya merupakan favorit dari Khalifah dalam dinasti yang berkuasa saat ini, Dinasti Almohad, tapi yang namanya favorit bakal ketinggalan jaman juga, maka Abu Yusuf Yaqub tak bisa mengelak untuk mengizinkan para fanatik untuk mendesak sang juru tafsir terbesar Aristoteles ini ke luar kota.

Kategori
Celotehanku

Berkenalan dengan Realisme Magis

“Saat kita menemukan dunia ini terlalu buruk,” sabda novelis Gustave Flaubert, “kita butuh mengungsi ke dunia lain.” Maka Gabriel Garcia Marquez menemukan dunia lain itu dalam fiksi. Ya, kita bakal menikmati keasyikan akan penemuan sebuah dunia yang hilang, petualangan masa silam lewat pengembaraan sebuah semesta dari novel-novelnya penulis kelahiran Kolombia ini.

Begitu pula ketika menyelami Cantik Itu Luka-nya Eka Kurniawan – yang notabene banyak terinspirasi dari Marquez dan penulis Amerika Latin lain yang hobi membenturkan pemaparan realisme dengan unsur fantasi. Nah, novel realisme magis inilah yang saya pilih untuk Kelas Resensi Buku Lisan Komunitas Aleut pekan ke-13. Dan dua minggu sebelumnya pun saya menunjuk novel dengan spesies sama dari Haruki Murakami, Kafka on The Shore.

Ah ternyata realisme magis sungguh lezat. Apalagi ketika mencicipi kedua novel tadi, saya sukses dibikin ngaceng berkat unsur stensilannya Eka dan hentai khas Murakami. Ajaib dan nyata!

***

Sabtu, 26 September 2015. Hari sedang senja dan bertepatan dengan Persib Day, sekitar sejam lagi menuju kick-off.

“Jadi sebagai pegiat Aleut, gimana kamu menanggapi Eka yang mengacak-acak sejarah di novelnya ini?” tanya pendiri dan editor Pandit Football Indonesia, yang sudah mafhum betul soal realisme magis kalau melihat artikelnya di detikSportObituari Gabriel Garcia Marquez: Surealisme Sepakbola Amerika Latin.

Duh. Satu kesulitan terbesar saya adalah mengolah yang ada dalam otak untuk diturunkan jadi bahasa verbal yang runtut. Ditambah lagi makin tertekan, karena Mang Zen sang penanya ini literary brother alias saudara seperguruannya penulis Beauty Is a Wound tadi.

“Justru Eka hendak mengolok-olok pemaknaan sejarah. Bahwa sejarah nggak melulu soal benar salah, hitam putih,” bacot saya, entahlah, lupa lagi redaksi kalimat aslinya, “malahan saya lebih percaya sejarah yang diceritakan dalam novel ini.”

kelas resensi komunitas aleut

Foto: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Menulis sejarah versi alternatif pada zaman kekinian nampak rumit: versi buku sejarah, versi budaya lokal, versi pengalaman pribadi. Lalu, apakah sejarah hanya pantas menjadi tema sebuah karya realis, yang mesti menghormati “fakta sejarah”, dalam arti sang pengarang harus melakukan riset sebelumnya dan kebebasannya dalam membangun plot dan tokoh dibatasi “fakta sejarah” tadi?

Soal ini sudah dibahas oleh Katrin Bandel dalam esai ‘Pascakolonialitas dalam Cantik Itu Luka‘. Dan ya, realisme magis adalah gaya yang pas untuk diterapkan dalam sastra pascakolonial, seperti yang sering dipakai para penulis Amerika Latin. Karena di tengah konsep sejarah yang plural, cerita fantastis yang membingungkan justru menjadi sejarah paling otentik yang bisa ditulis. Sebenarnya, jauh sebelum Marquez dan kawan-kawan, kakek-nenek moyang kita pun sudah lebih dulu menggunakan gaya penceritaan realisme magis. Sebabnya penulisan sejarah adalah bagian dari konstruksi identitas, misalnya yang dilakukan penguasa untuk melegitimasi kemaharajaannya. Raja-raja masa silam sering mencitrakan silsilah bahwa dirinya keturunan dewa-dewi.

Tapi bukan penguasa saja yang berhak atas sejarah. Oleh sebab itu, Cantik Itu Luka bisa dilihat sebagai sebuah penciptaan versi alternatif sejarah Indonesia dengan gaya mimpi dan main-main. Setara dengan 100 Hundread Year of Solitude-nya Marquez yang mencitrakan Kolombia, lebih jauh menyoroti Amerika Latin. Realisme magis hadir untuk merayakan nuansa pertentangan dua pandangan dunia, antara yang rasional dan saintifik Barat, dengan yang mistis klenik asli Timur, antara yang dominan dan yang terpinggirkan.

***

“TIKET HABIS, RANDA BANYAK!”

“CALO SETAN!”

Sungguh, realisme magis bukan hanya berlaku dalam karya fiksi. Meski bukan Moconda-nya Marquez dan Halimunda-nya Eka, di Bandung yang sesungguhnya pun kegilaan dan keajaiban bisa terjadi, sepakbola lah sebabnya, utamanya Persib. Satu contoh kecilnya, seorang jomblo macam saya pun bisa berbahagia pada malam Minggu, ketika secara serempak antara Persib, Tottenham dan Barcelona meraih kemenangan. Serasa dapat bidadari bernama Devi Kinal Putri jatuh dari langit dan hinggap dalam pelukan.

Maca mah teu nanaon karya fiksi, tapi kabogoh mah ulah fiksi oge atuh.” Membaca boleh karya fiksi, tapi pacar jangan fiksi juga, sebuah nasihat yang dilontarkan esais yang pandai mengawinkan sepakbola dan sastra itu di malam Minggu yang lain. Sialan!