Kategori
Korea Fever

Red Velvet Jadi Cewek Bandel

 

SM Entertainment memang misoginis bangsat. Meski menjadi bagian dari SM, satu korporasi hiburan Korea yang superkaya, berarti dikasih kepastian bahwa sebuah idol akan mendapatkan banyak publisitas, namun grup cewek harus berjuang lebih ekstra untuk beberapa waktu sebelum menjadi populer. Padahal sejak menganut politeisme kontemporer, dewi-dewi bikinan SM selalu jadi pilihan saya.

Sebelum 2014, nama grup ini hanya dikenal sebagai jenis kue. Girls Generation atau SNSD debut pada 2007, f(x) debut 2009, kemudian lahir Red Velvet yang bisa dibilang mengawinkan irisan dari dua grup tadi. Mereka memang memulai dengan sebuah konsep dwitunggal yang jarang ditemukan dalam grup cewek, mengadu antara musik pop yang catchy dalam Red, yang dibenturkan dengan suara berbasis RnB yang lambat dalam Velvet.

Sejak terbentuk pada 2014, Red Velvet telah melesat ke superstardom. Mereka terus merilis lagu hit – lagu-lagu Red Velvet selalu menemani saat saya bermotor. Meski memang, sedikit kalah populer dengan saingan Twice dan Blackpink yang debut lebih dini, namun malah menyusul.

Red Velvet telah menjadi pertengahan antara gaya eksperimental f(x) dan musik yang lebih mainstream dari SNSD, dan itulah yang mereka berikan. SNSD dan f(x), sebagai produk, apalagi setelah lama hiatus dan membernya enggak lengkap, sudah enggak terlalu laku. SM pastinya ngelirik buat mengeksploitasi Red Velvet, yang tahun 2017 kemarin saja sampai tiga kali comeback album baru. Dan di awal tahun ini ujug-ujug bikin repack dari album terakhir Perfect Velvet, jadi The Perfect Red Velvet.

Kwintet memainkan kecenderungan retro mereka yang lebih halus pada album yang diperbarui, dengan All Right yang nu-disco dan Time to Love dengan RnB 90-an dan single utama Bad Boy. Lagu yang terakhir dirilis melalui sebuah video musik yang menampilkan Red Velvet dalam nuansa paling gelap, menunjukkan penampilan grup yang terus berkembang sejak awal mula mereka dengan Happiness yang riang gembira di tahun 2014.

Kontras dengan warna pelangi di Peek-A-Boo, Bad Boy mempertontonkan seragam seksi dan pakaian atletik dan baju kasual dengan dandanan gothic, yang menggambarkan Red Velvet sebagai femme fatale. Para member terlihat mencitrakan diri sebagai cewek-cewek nakal, dengan jins robek, stoking jala, dan rambut berantakan. Meskipun enggak terlalu berorientasi pada plot, nuansa berbahaya dari Irene, Seulgi, Wendy dan Joy kontras dengan citra Yeri yang masih muda, yang tampaknya dilindungi yang lain, Seulgi bahkan menutupi telinga Yeri dalam satu adegan.

Koreografi Bad Boy, seperti yang ditampilkan dalam video musik, adalah yang paling seksi yang pernah Red Velvet tunjukkan sejauh ini, diisi dengan goyangan pinggul yang sugestif dan gerakan tangan yang agresif dan tiba-tiba, memberi isyarat dengan saksama ke arah penonton dan menatap tajam ke arah kamera. Kalau dilihat-lihat, koreografinya rada mirip Bad Girl-nya SNSD, dengan lebih sensual.

Sisi Red sangat dipengaruhi oleh euro-pop sementara sisi Velvet lebih ke RnB Amerika 2000an dan pop British 80an. Sisi Velvet adalah kegemaran saya. Bad Boy adalah konsep Velvet yang paling nyangkut selain Be Natural dan Automatic dan One Of These Night.

Kategori
Korea Fever

Knowing Bros dan Barudak Sekolahan yang Hobi Tubir

Kalau saja Game of Thrones masukin Red Velvet jadi pemainnya, mungkin saja saya bakal rela maraton nonton dari musim pertama. Harus ada alasan, meski konyol, kenapa saya harus nonton itu.

Sebab internet menawarkan beragam kesenangan sekaligus kesia-siaan; buku-buku dan status-status sosmed yang selalu terbarukan dan artikel-artikel panjang untuk dibaca, film-film dan video-video Youtube dan serial televisi dan Instagram Stories dan variety show Korea untuk ditonton. Sehingga, sekali lagi saya tegaskan, harus ada alasan, meski konyol, kenapa saya harus memilih yang satu ketimbang yang lain.

Gara-gara episode SNSD, saya jadi fans Running Man. Sementara untuk Knowing Bros ini ya karena ada episode dari adiknya ini, Red Velvet. Semuanya berawal dari episode 21, sampai saya jadi kenal barudak gacor yang terdiri dari Kang Hodong, Kim Heechul, Seo Janghoon, Lee Soogeun, Min Kyunghoon, Lee Sangmin, dan Kim Youngchul.

Berhubung lagi promosi lagu baru, episode 84 kemarin menghadirkan kembali Red Velvet. Kali ini dengan formasi lengkap. Saat kemunculannya, barudak Knowing Bros langsung antusias dan memuji karena berkat grup cewek binaan SM Entertainment jadi bintang tamu di episode setahun kebelakang, variety show ini makin meroket. Tentu, saya mengiyakan.

Format Knowing Bros saat ini yang mengeksplorasi konsep sekolah menengah baru ditetapkan dari episode 17. Para member berperan sebagai siswa di kelas sementara bintang tamu akan datang sebagai siswa pindahan. Format ini telah mendapat pujian dari pemirsa yang menyebabkan peningkatan peringkat dan popularitas program yang signifikan setelah beberapa episode ditayangkan. Menghadirkan grup idol, utamanya cewek, tentu pilihan cemerlang. Red Velvet salah satu yang masuk di episode-episode awal itu.

Dibagi dua segmen. Yang utama adalah bagian perkenalan dan tebak-tebakan di ruang kelas. Bintang tamu berdiri di belakang meja guru dengan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan dirinya yang sudah disiapkan. Beberapa pertanyaannya samar atau sangat pribadi yang oleh bintang tamu mungkin enggak pernah diungkap kepada publik sebelumnya. Tugas barudak Knowing Bros yang menjawabnya. Seringnya dengan main-main. Bintang tamu diberi palu mainan dan punya hak buat menggetok bagi mereka yang jawabannya ngaco.

02_1

Si gempal Hodong dicitrakan sebagai bosnya, yang sangar sekaligus tengil, sementara si jangkung Janghoon jadi ketua murid yang intelek. Si bantet Soogeun digambarkan jadi tangan kanan Hodong, yang koplak. Si ganteng Heechul jadi yang paling gelo sekaligus maniak televisi dengan Kyunghoon yang pendiam namun cabul merupakan bromance goblok. Sangmin yang duduk di kursi paling belakang digambarkan sebagai murid pemalu sekaligus sengsara. Terakhir, yang sering dilupakan, adalah Youngchul yang berkat kegaringannya justru mengundang tawa.

Salah satu atribut memikat dari format ini adalah cara berbicara informal atau “banmal” yang digunakan oleh semua orang tanpa memandang usia atau senioritas mereka. Mengabaikan undak unduk basa Korea yang ketat. Pembicaraan informal juga mendorong para tamu saling berinteraksi satu sama lain seperti yang sering dilakukan siswa, sehingga membuat mereka merasa cukup nyaman untuk saling menggoda.

Namun pada bulan Desember 2016, variety show yang ditayangkan siaran kabel JTBC ini mendapat tindakan disipliner dari Komite Penyiaran Penyiaran Korea Selatan karena menggunakan ucapan enggak senonoh, biasanya kalau bintang tamunya cewek. Ditambah jam penayangannya yang dimundurkan jadi enggak terlalu malam, Knowing Bros jadi rada lembek. Padahal komentar-komentar cabul dan sinis tadi yang paling saya tunggu.

Ada semacam pemahaman umum bahwa musim pertama dari setiap variety show cenderung lebih bagus. Dalam banyak kasus, seringnya begitu. Saat rating makin menanjak namun kemudian turun, seseorang enggak bisa enggak untuk mulai bertanya, mengapa? Mengapa acara ini tidak berjalan sebagus musim lalu? Apakah orang bosan dengan konsepnya? Apa ada variety show saingan lainnya? Knowing Bros, yang diawal enggak diniatkan jadi acara utamanya JTBC namun sekarang populer, bisa saja bakal begini.

Kategori
Hiburan & Musik Korea Fever

10 Rilisan SM Station Paling Asyik

Musik populer, atau musik pop, bagi saya ibarat Pop Mie, memang kandungan gizinya sedikit, yang jika dikonsumsi kebanyakan dan terus-terusan bakal merusak kesehatan, tapi ini teman setia ketika lapar mendesak. Musik pop, layaknya Pop Mie, diproduksi oleh pabrik besar, disebarluaskan secara masif, dibesar-besarkan dengan iklan, untuk kemudian dimakan dan menjadi berak. Musik hari ini hanya tai, keluh banyak orang, fenomena yang sudah ada bahkan dari sejak Hegel, mereka yang selalu sinis terhadap apa-apa yang didengarkan para bocah. Saya pun mengakuinya, meski dengan wawasan musik cemen, bahwa musik pop itu kacangan, enggak menawarkan kebaruan, penuh kedangkalan, dan tentunya: pasaran. Maka, seperti Pop Mie, saya enggak bisa enggak untuk menikmati musik pop sebagai barang konsumsi. K-Pop adalah rasa yang saya sukai.

Lee Sooman sang pendiri SM Entertainment, yang namanya melambung sebagai penyanyi folk, dan pernah membentuk band hard rock, adalah master arsitek K-pop. SM Entertainment adalah perusahaan yang membentuk K-pop, puji majalah bisnis Forbes. SM Station sendiri adalah proyek musik digital yang dicanangkan langsung Lee Sooman, untuk melepaskan satu single tiap hari Jumat selama satu tahun, mulai dari 3 Februari 2016. Dari beragam musik video yang dirilis, saya mencoba memilih 10 yang menurut saya paling asyik, tentu banyak biasnya.

Rain

Kim Taeyeon membuka SM Station dengan lagu bertema hujan; yang menceritakan soal kenangan yang ikut turun beserta kesedihan yang kemudian menyusul.

| Baca: Hujan, Taeyeon dan Sylvia Plath

+

Spring Love

Videonya sendiri memamerkan dua sejoli, Wendy dan Eric Nam, yang tertawa dan bersenang-senang di sebuah taman bermain di suatu kencan yang manis di musim semi, sebuah duet ceria dan romantis tentang persahabatan yang berubah menjadi hubungan cinta.

+

Deoksugung Stonewall Walkway

Im Yoona adalah member pertama yang dapat saya ingat dan bedakan di Girls Generation, saat saya masih belum denger Kpop, dan hanya suka drama Korea saja. Soal akting memang Yoona jagonya, tapi kalau nyanyi, hmm. Suaranya imut, kok. Vokal Yoona yang gemesin dikolaborasi dengan band duo 10cm yang sering mengisi lagu latar ceria di berbagai drakor. Menonton videonya, kita serasa sedang kencan dengan Yoona mengitari tembok Deoksugung, sambil jepret-jepret yang Instagram.

+

Wave

Berkat ini, saya jadi suka EDM. Luna dan Amber berkolaborasi dengan R3hab, nama panggung dari Fadil El Ghoul, yang merupakan seorang DJ dari Belanda berkebangsaan Maroko.

+

No Matter What

Bisa dibilang awal mula kesukaan saya pada lagu ballad Korea adalah berkat Kwon Boa yang menyanyikan lagu latar Inuyasha. Meski di SM Station kali ini Boa sang ratu Kpop menawarkan house upbeat yang riang. Musik electronica mix yang diselingi rap dari Beenzino. Videonya sendiri berupa animasi, bagus sih, tapi saya lebih mengharapkan kalau Boa ngedance di sini.

+

All Mine

Lagi-lagi EDM. Lagu ini adalah EDM upbeat, yang cocok di musim panas, dengan video menampilkan member f(x) yang melakukan self-cam sambil memberi senyum cerah dan tampak benar-benar bahagia ketika persiapan konser di Jepang.

+

Sailing (0805)

Saya pikir jika dibikin lirik Jepang, lagu ini akan sangat cocok jadi soundtrack ending buat anime One Piece. Karena enggak ada yang dikeluarkan SNSD tahun ini, tentu ini sebuah hadiah membahagiakan di ulang tahun mereka yang ke sembilan. Tapi sayang, cuma animasi doang.

+

Dancing King

Jangan pernah berhenti bermimpi! Yoo Jaesuk, yang berusia hampir setengah abad, bisa menjadi member EXO, dan langsung menjadi main vocal, lead dancer, bahkan maknae – kalau dilihat dari jauh. Melihat variety show Infinite Challenge episode 498 makin membuat saya terharu, tentang proyek kolaborasi Jaesuk yang harus mempersiapkan diri tampil di konser EXO di Bangkok. Seperti judulnya, lagunya enak buat dipakai joget, dan ngedab.

+

Always In My Heart

Video menampilkan kedua penyanyi sebagai pasangan yang baru putus, yang masih teringat kenangan saat mereka masih bersama, dan kemampuan akting mereka mengesankan! Dalam hal vokal, suara Joy dan Seulong berbaur lembut dalam lagu bertempo menengah ini.

+

Sweet Dream

Dengan nuansa J-Pop, cerita di videonya memparodikan Crow’s Zero, dengan mendatangkan orang Jepang asli, Momo Twice. Siapa sangka, bromance di variety show Knowing Brother bisa bikin duet beneran. Kim Heechul sendiri yang menulis lagunya. Sebelumnya, di SM Stasion pun Heechul pernah berduet sama Wheein Mamamoo, dan dia yang nulis liriknya. Untuk proses di balik layarnya bisa nonton Knowing Brother episode 51, asli ngakak.

Kategori
Catutan Pinggir

‘Red’ dan ‘Velvet’ dalam Red Velvet

tumblr_o3erjd0ot61rcoad1o1_1280

Terjemahan dari wawancara Dazed Magazine dengan Red Velvet dalam artikel “Meet the Girl Group Breaking Kpop’s Rules”, oleh jurnalis musik dan penulis asal London Taylor Glasby.

Ketika Red Velvet meledak ke dalam kesadaran publik pada tahun 2014, mereka memulai dengan sebuah konsep dwitunggal menarik yang jarang ditemukan dalam grup K-Pop perempuan, mengadu antara suara berbasis R&B yang agak lambat (‘velvet’), dibenturkan dengan musik pop yang catchy (‘red ‘). Tapi bukan hanya soal musiknya yang membedakan mereka: dengan pengecualian seperti yang juga diperagakan 2NE1 dan Girls’ Generation, target audiens grup K-Pop perempuan umumnya untuk laki-laki, dengan kecenderungan adanya pengkotak-kotakan si artis ke dalam kategori antara ‘sexy‘ atau ‘innocent‘, yang dibuat (seperti kebanyakan wanita dalam musik pop) untuk menyajikan fantasi sebanyak mungkin sebagai sarana menghibur. Red Velvet, di sisi lain, memiliki fanbase yang didominasi perempuan muda, dan grup ini tidak seksi tidak juga polos, dengan video musik yang seringnya gelap, trippy, menyeramkan, atau menghantui, sekalipun ketika mereka tenggelam dalam warna-warni pastel.

Meskipun mereka masih dipandang sebagai pendatang baru sepanjang hirarki K-Pop yang bersangkutan, dua tahun sejak mereka memulai debutnya dengan “Happiness” dan Irene, Seulgi, Wendy, Joy, juga Yeri masih bermain-main dengan aturan. Awalnya dibentuk sebagai grup empat personel (Yeri, anggota termuda mereka, bergabung pada awal tahun 2015), Red Velvet menunjukkan suara mereka yang tak kalah bersaing di dua single A-side seperti “Ice Cream Cake” dan “Automatic”, peleburan lebih lanjut soal pembagian ‘red’/’velvet’  ada di album penuh mereka Red pada tahun 2015, yang seluruhnya didedikasikan untuk eksperimen tempo cepat dalam pop, electronica, dan dance, salahsatunya “Dumb Dumb” yang tak terkalahkan. Tapi dengan rilis terbaru, mini album ketiga mereka Russian Roulette, grup ini terus melakukan hal-hal dengan cara mereka sendiri, secara efektif membuang konsep yang mereka bangun dengan mengawinkan kedua sisi mereka, ‘red’ dan ‘velvet’. Dalam acara musik Show Champion, Joy secara impulsif menyebutkan bahwa mereka tidak akan lagi memisah-misahkan tema tadi, satu momen langka tentang sikap kasual dalam dunia K-pop yang biasanya sangat penuh perhitungan.

Sebuah ‘persaudaraan’ adalah cara paling jelas untuk menggambarkan Red Velvet – hanya sekali saja orang dari luar grup ditampilkan dalam salah satu video mereka. Barangkali karena imej mereka tetap terjaga, bebas dari seksualisasi terang-terangan atau stereotip tak realistis, adalah sebagian alasan grup ini mendapatkan fans loyal, yang membuat “Russian Roulette” langkah mengesankan pada banyak tangga musik Korea Selatan. Tapi mungkin juga disebabkan keunikan dalam tubuh Red Velvet sendiri – grup ini adalah sekumpulan dari banyak bagian, dari yang bersemangat ke yang dengan pemikiran mendalam dan introvert. Kami duduk untuk mengenal mereka, fanbase mereka, album terbaru mereka – dan pelajaran apa yang telah mereka dapatkan dalam dua tahun terakhir sebagai salah satu grup muda K-Pop paling sukses.

‘Russian Roulette’ sejauh ini terasa sebagai lead track ‘red’-nya Red Velvet yang paling matang. Apa yang kalian pikirkan ketika kalian pertama kali mendengar lagu ini?

Wendy: Mungkin karena aku terbiasa dengan lagu-lagu sebelumnya seperti ‘Ice Cream Cake’ atau ‘Dumb Dumb’, (tapi) ketika aku mendengar tempo medium aku berpikir, ‘Bukankah seharusnya dibuat sedikit lebih cepat?” Tapi meskipun kami mendengarkan lagu ini lebih dari seratus kali sehari ketika kami berlatih, aku tidak pernah bosan dan justru makin menyukainya setiap kali diputar.

Irene: Aku pikir kalau ‘Russian Roulette’ akan mirip dengan ‘Ice Cream Cake’ atau ‘Dumb Dumb’, karena banyak orang menyukai lagu ini. Meski memang, ketika aku pertama kali mendengarkan lagu ini aku merasa iramanya agak lemah dibanding dengan lagu-lagu sebelumnya, yang membuatku khawatir kalau-kalau tidak akan memiliki banyak gebrakan. Tapi saat kami sedang dalam rekaman aku pikir ‘Russian Roulette’ menunjukkan sisi penting lain dari ‘red’, dengan pesona yang berbeda.

MV ini memiliki kombinasi menyeramkan antara rasa manis dan ancaman – sulit membayangkan bahwa yang lain bisa melakukan konsep macam ini. Apa ide kalian yang ingin dicoba yang belum ada grup perempuan lainnya pakai – mungkin konsep yang biasanya diberikan pada grup laki?

Wendy: Meskipun ini bukan sebuah konsep yang belum dilakukan, aku ingin melakukan penampilan panggung karismatik, memakai tuksedo seperti dalam ‘Mr. Mr’-nya Girls’ Generation. Aku pikir ini mungkin akan mempertunjukkan sisi lain Red Velvet yang belum kami singkapkan.

Seulgi: Aku ingin melakukan pertunjukan karismatik juga. Aku benar-benar suka genre dance, seperti BoA ‘No.1’ atau ‘MOTO’, dan ingin melihat bagaimana Red Velvet akan terlihat jika kami membuat penampilan penuh tenaga di atas panggung.

Joy: Aku pikir menarik untuk mencoba konsep yang berlawanan, seperti grup laki lakukan, yang kuat, liar, dan bahkan sesuatu yang mungkin tak karuan.

Album terbaru ini adalah campuran antara kedua sisi grup ‘red’ dan ‘velvet’, manakah lagu yang paling mencerminkan kalian?

Yeri: Bagiku, ‘Some Love’. Aku pikir itu mungkin lagu favoritku dari semua lagu Red Velvet, tak bohong. Suaranya benar-benar segar, dan lirik yang begitu manis dan jujur, itulah sebabnya aku pikir lagu ini akan mencerminkan bukan hanya diriku tetapi juga banyak orang yang seusia denganku.

Irene: Aku akan menyebut ‘Some Love’ juga. Lagu ini tidak terlalu riang atau terlalu lambat, dan memiliki suara yang unik. Ketika aku mendengarkan lagunya aku merasa nyaman, seolah-olah aku sedang mengenakan pakaian dan mendapati diriku secara tak sadar mengangguk-angguk terhadap temponya dan merasai iramanya.

Joy: Aku pikir ‘My Dear’ memperlihatkan sisi lucu dari ‘red’ dan sisi feminin dari ‘velvet’ pada saat yang sama, sehingga lagu ini paling mencerminkanku. Ini adalah lagu yang dapat aku ekspresikan dengan baik lewat vokalku. Aku masih ingat begitu bahagia selama sesi rekaman seolah aku terhubung dengan emosi keseluruhan lagu dan berempati dengannya.

Red Velvet memiliki fans perempuan besar, yang dipandang sebagai tidak biasa bagi grup perempuan. Bagaimana perasaan kalian mengetahui begitu banyak perempuan muda yang mengagumi kalian? Apakah kalian merasa terbebani karena dianggap sebagai panutan?

Wendy: Sejujurnya, aku tidak bisa mengatakan kalau aku tidak merasakan tekanan apapun, tapi aku punya perasaan yang lebih besar yakni rasa syukur. Para fans memberi rasa cinta seiring berjalannya waktu, yang memberiku gairah untuk melakukan kinerja yang lebih baik dan lebih baik. Itu sebabnya, jika aku membuat kesalahan di atas panggung, aku merasa sangat menyesal pada fans karena tidak bisa menampilkan performa sempurna yang mereka tunggu-tunggu. Mengetahui akan hal ini, memberiku kekuatan lebih untuk berlatih lebih keras.

Seulgi: Ketika aku masih muda, aku mengagumi artis seperti BoA dan TVXQ!, dan dicintai oleh fans seperti mereka adalah sesuatu yang hebat. Jadi aku ingin mengucapkan terima kasih kepada semua fans di seluruh dunia! Kami berpikir tentang apa yang para fans ingin lihat dari kami dan apa yang bisa kami lakukan untuk menjadi panutan yang baik bagi mereka. Itu sebabnya aku selalu mencoba untuk menunjukkan kepercayaan diri pada apapun yang kulakukan baik di atas dan di luar panggung – dan akan terus melakukannya.

Irene: Aku masih berpikir ada banyak yang harus dipelajari dan diperbaiki karena masih belum lama sejak kami debut, dan aku masih merasa bingung dan bersyukur dari beragam rasa cinta dan dukungan. Aku mencoba untuk berhati-hati dengan apa yang kukatakan atau lakukan karena fans menonton dan mengikuti kami, tetapi aku menganggap itu sebagai tekanan yang baik karena benar-benar membimbingku untuk berkembang lebih baik.

‘My Dear’ adalah lagu cinta yang sangat manis, dan menyentuh. Siapa member yang mampu mengekspresikan ini dengan mudah? Dan siapa yang bukan tipe sentimental sama sekali?

Seulgi: Sedikit memalukan untuk mengatakan demikian, tapi aku pikir alasan mengapa kami mampu mengekspresikan lagu dengan sangat baik karena nada vokal kami benar-benar cocok dengan baik dan setiap anggota memiliki sisi sentimental mereka sendiri. Aku terutama berpikir bahwa nada dan emosi Joy cocok dengan lagu ini. Perasaan menyenangkan dan berdebar-debar yang kamu tangkap dari lagu itu benar-benar pas diekspresikan melalui vokal Joy.

Yeri: Aku setuju dengan Seulgi. Aku benar-benar berpikir tentang Joy ketika aku mendengar lagu ini untuk pertama kalinya!

Joy: Aku sangat suka lagu ini, jadi aku senang dengan member lain memilihku! Aku pribadi sangat suka lagu-lagu seperti ‘My Dear’ yang memiliki lirik manis yang ceria dan melodi yang mengingatkanku akan masa muda – meskipun aku masih muda … (tertawa)

 

 

 

IRENE

Setelah mendapat sambutan baik berkat web drama Game Development Girls, apa peran yang ingin kamu mainkan berikutnya?

Irene: Para member sering meniru-niruku setelah menonton web drama itu. Mereka bersenang-senang dengan itu selama beberapa waktu! Jika aku mendapatkan kesempatan, aku ingin mencoba karakter seperti Pippi Longstocking. (Aku berpikir demikian karena) Yeri benar-benar energik dan memiliki kepribadian yang ceria, dan tiba-tiba aku mendapati bahwa diriku berbeda pada usianya. Aku menikmati masa remajaku dengan caraku sendiri, tapi aku pikir akan menarik untuk menunjukkan sisi yang tidak kumiliki, atau mungkin aku tidak menyadari, lewat akting.

Sebagai leader Red Velvet, apa saranmu kepada anggota yang datang kepadamu dengan masalah? Dan bagaimana kamu menangani masalahmu sendiri?

Irene: Alih-alih memberikan nasihat atau mengatakan hal-hal umum seperti ‘tetap semangat’ atau ‘semuanya akan baik-baik saja’, aku mencoba untuk mendengarkan dengan cermat, bersimpati, dan berbagi situasi yang sama atau perasaan yang pernah kualami di masa lalu. Di sisi lain, aku cukup banyak mencoba untuk mengatasi masalahku sendiri. Jika keprihatinanku terkait dengan kelompok, maka aku akan membahasnya bersama-sama dengan member lain – tetapi jika itu pribadi, aku mencoba menyelesaikannya sendiri dengan penuh pemikiran.

 

 

 

JOY

Dengan suksesnya dalam variety show We Got Married, mana yang akan kamu lakukan selanjutnya?

Joy: Aku benar-benar gugup karena itu adalah variety show pertamaku, tapi itu adalah pengalaman hebat! Jika aku memiliki kesempatan untuk melakukan hal yang lain, aku benar-benar ingin berada di sebuah reality show dengan anggota Red Velvet, di mana kami dapat menampilkan lebih dari sisi alami kami buat fans.

Selama dua tahun terakhir, kita telah mampu mengetahui kepribadian ceria, kadang-kadang penuh semangat. Tapi adakah sesuatu dalam diri Soo-young (nama lahir Joy) yang ingin dibeberkan pada kita? Apakah ada bagian yang kamu ingin agar orang-orang pahami lebih baik?

Joy: Itu pertanyaan yang sangat sulit, karena aku bahkan tidak tahu semua tentang diriku sendiri! Ketika monitoring (menonton pemutaran), aku menemukan ekspresi baru, perilaku, suara, dan lebih dari diriku sendiri, yang sangat mengejutkan bagiku juga. Aku pikir ada lebih banyak sisiku untuk ditelusuri.

 

 

 

SEULGI

Kamu dilatih dalam waktu yang sangat lama. Ketika trainee lainnya debut sebelum kamu, apa yang kamu katakan pada diri sendiri untuk menjaga semangatmu? Apakah kamu pernah berpikir untuk berhenti?

Seulgi: Ada masa-masa sulit dan merosot, tapi aku tidak pernah menghindarinya. Aku percaya bahwa jika aku tidak melalui periode tersebut, aku tidak akan berada di sini sekarang. Juga, jika aku tidak melalui masa-masa sulit ketika aku masih trainee, aku akan menghadapi pula setelah memulai debut, yang akan menjadi lebih sulit untuk diatasi. Melihat ke belakang, masa-masa sulit yang kulalui benar-benar momen tak ternilai yang membuatku fokus pada tujuanku.

Sebagai main dancer, kamu membuat rutinitas Red Velvet ini terlihat mudah sementara sebenarnya tidak. Mana dance yang paling sulit untuk dikuasai, dan yang menurut kamu paling diingat oleh fans?

Seulgi: Anehnya, koreografi untuk ‘Russian Roulette’ itu sebenarnya yang paling sulit bagi ku. Meskipun terlihat mudah dibandingkan dengan yang sebelumnya, koreografinya memerlukan gerakan tubuh dan otot yang tidak biasa kita lakukan, sehingga butuh waktu untuk membiasakan diri. Secara pribadi aku pikir ‘Be Natural’ menjadi bagian dance yang paling mengesankan bagi para fans, karena penampilan dengan kursi benar-benar menunjukkan sisi baru yang berbeda dari imaji Red Velvet miliki saat itu.

 

 

 

YERI

Menonton pertunjukan comeback, rasa percaya dirimu di atas panggung tampaknya telah banyak bertambah. Apa kamu membiasakan diri, selain berlatih?

Yeri: Benarkah? Apa aku terlihat lebih percaya diri di atas panggung? (Tertawa) Yah, aku melakukan banyak pemantauan diri tidak hanya pada penampilan-penampilan terkini, tapi juga penampilan sebelumnya. Juga, sebelum merilis album baru, aku mencoba untuk menonton dan memeriksa semua penampilan terdahulu untuk melihat hal-hal yang kubutuhkan untuk ditingkatkan, yang mana ini sangat membantu. Meski aku masih punya banyak kekurangan, pengalaman yang kuperoleh selama bertahun-tahun benar-benar membantuku untuk tampil lebih percaya diri.

Apakah ada saat-saat menyenangkan ketika merekam album ini? Apa yang kamu lakukan ketika sedang tidak ada giliran dalam kamar rekaman?

Yeri: Meskipun aku seringnya bermain dan bercanda dengan member lain, aku menjadi kebalikannya selama sesi rekaman. Sambil menunggu giliranku di studio, aku fokus dan mendengarkan musik sehingga aku dapat sepenuhnya memahami dan mengekspresikan perasaan dalam lagu tapi, yang paling utama, aku makan! Aku hampir pingsan suatu kali dalam sesi rekaman karena tak makan terlebih dahulu, dan harus beralih bergantian dengan member lain. Karena banyak energi dan stamina yang dibutuhkan selama sesi, makan makanan yang baik adalah nomor satu yang kulakukan untuk dipersiapkan.

 

 

 

WENDY

Sudah dua tahun sejak debutmu. Ketika berpikir tentang grup, apa kekhawatiranmu terbesar, dan apa yang kamu pelajari untuk mengurangi kekhawatiran tadi?

Wendy: Aku merasa lebih bertanggung jawab untuk menampilkan yang lebih baik dan meningkatkan imej Red Velvet karena kami memperoleh dukungan yang lebih besar. Aku khawatir tentang apa yang fans pikirkan tentang album baru ini dan berharap untuk tidak mengecewakan mereka. Namun, aku tak terlalu khawatir soal kerja sama tim. Meskipun kami benar-benar sibuk dan lelah mempersiapkan album baru atau membuat penampilan, aku merasa kerja tim kami telah menjadi lebih kuat – kami memahami satu sama lain tanpa perlu berkata apa-apa.

Keluargamu masih tinggal di Kanada – seberapa besar mereka mengikuti pekerjaanmu? Dan apa jenis umpan balik yang mereka berikan padamu? Apakah membantu, ungkapan cinta atau hal-hal aneh yang orang tua akhirnya katakan?

Wendy: Keluargaku melakukan banyak pemantauan – bahkan mungkin setiap hari! Kami biasanya berkirim pesan satu sama lain di pagi hari dan di malam hari, dan selalu ada beberapa jenis umpan balik dari mereka setiap kali aku tampil di atas panggung. Mereka bahkan tetap terjaga dan mendengarkan program radio malam jika ada aku. Ayah dan kakakku biasanya mengirim dukungan lewat pesan singkat, sedangkan ibuku selalu bertanya tentang kesehatan dan vokalku. Kadang-kadang dia lebih teliti ketimbang aku!

Kategori
Celotehanku

Absurditas Cat’s Cradle

red-velvet-%eb%a0%88%eb%93%9c%eb%b2%a8%eb%b2%b3_%eb%9f%ac%ec%8b%9c%ec%95%88-%eb%a3%b0%eb%a0%9b-russian-roulette_music-video-youtube-mp4_snapshot_02-57_2016-09-11_19-18-32

A cat’s cradle is nothing but a bunch of X’s between somebody’s hands, and a little kids look and look and look at all those X’s … No damn cat, and no damn cradle.

– Cat’s Cradlle, Kurt Vonnegut

Pada saat bom atom dijatuhkan, Dr. Felix Hoenikker duduk dengan nyaman di kursinya. Ketika jutaan nyawa melayang di Horishama, sang pencipta senjata pemusnah masal tersebut duduk dengan masyuk memainkan karet gelangnya. Permainan bernama cat’s cradle. Cat’s cradle? Ayunan kucing? Saat membaca novel Vonnegut ini saya enggak paham betul gimana permainan ini. Hanya bisa membayangkan kalau itu semacam permainan karet gelang pakai tangan, digulung-gulung. Saya sempat bertanya pada Google, dan membaca jawabannya sekilas. Cat’s cradle, hmm. Sampai kalimat terakhir, saya pun enggak ngerti kenapa novelnya dikasih judul Cat’s Cradle. Harimau harus berburu, burung harus terbang; sementara manusia hanya duduk dan bertanya-tanya ‘kenapa, kenapa, kenapa?’. Harimau pergi tidur, burung kembali mendarat; Manusia harus memberitahu dirinya sendiri bahwa ia mengerti. Seperti puisi dalam Cat’s Cradle itu, saya pun pura-pura mengerti saja. Sampai kemudian, saya menonton sebuah video Youtube.

red-velvet-%eb%a0%88%eb%93%9c%eb%b2%a8%eb%b2%b3_%eb%9f%ac%ec%8b%9c%ec%95%88-%eb%a3%b0%eb%a0%9b-russian-roulette_music-video-youtube-mp4_snapshot_02-55_2016-09-09_20-07-33

“Hey, mereka main cat’s cradle, aku dulu suka main begituan juga,” seru seorang perempuan asal AS dalam sebuah video, yang merekam dirinya bereaksi terhadap video musik yang baru rilis. MV reaction disebutnya. Dalam video musiknya sendiri, Russian Roulette-nya Red Velvet, Wendy dan Seulgi mendorong piano untuk menggilas Joy dan Irene yang berada di tangga bawah, yang sedang memainkan benang yang berbelit-belit. Oh yang begini yang namanya cat’s cradle tuh, saya kembali ingat pada novel Vonnegut tadi. Di lain kesempatan, saat fanmeeting beberapa hari yang lalu, Seulgi dan Wendy diperlihatkan foto cuplikan adegan permainan cat’s cradle. Kamu tahu cara mainnya? tanya Seulgi. Iya, jawab Wendy, member yang lama tinggal di utara Amerika sejak kecil, aku pernah main. Ada ssi-teu-ki juga di luar negeri ya?

Di Amerika disebut cat’s cradle, di Korea disebut ssi-teu-ki. Dalam novel Cat’s Cradle pun disebut kalau permainan tali ini sudah ada sejak lama, sering dimainkan orang Eskimo. Hmm, menarik, saya pun buka Wikipedia buat tahu sejarahnya. Juga kembali dibuat bertanya-tanya soal novel sialan si Vonnegut itu.

Yang saya tangkap, permainan enggak berguna, cuma meribetkan diri, pabeulit. Jika saja, saya masih bocah, atau lawan mainnya dengan Joy dan Irene, tentu lain soal. Cat’s cradle hanya membelit-belitkan tali di kedua tangan, lalu yang lain menyambungkan silangan berbentuk X dan memindahkan beragam belitan tadi ke tangannya, dan terus begitu. Apa-apaan coba?

Ya, ya, ini cuma permainan. Dan jeniusnya, seorang Kurt Vonnegut sangat pintar bermain-main. Lewat Cat’s Cradle, kita diajak bermain ketimbang jadi orang beriman. Jika Albert Camus menggambarkan absurditas lewat kisah Sisyphus, maka Vonnegut lewat permainan tali ini. Bahwa seperti cat’s cradle, hidup hanya permainan omong kosong yang cuma meribetkan diri. Bisa juga, cat’s cradle adalah simbol, untuk memberitahu pembaca bahwa banyak dari prinsip-prinsip yang manusia bangun, moralitas, agama, sains, patriotisme, kebebasan, demokrasi, adalah hal-hal yang enggak memiliki arti, seperti tali bersilang berbentuk X. Kita dengan leluasa, kapan saja, sebenarnya bisa langsung melepaskan ikatan-ikatan tadi. Wah, nampaknya saya terlalu pretensius. Kurang main. Hehe.

Kategori
Celotehanku Korea Fever

Main Rolet Rusia, Yuk!

Secara matematis, bermain rolet Rusia relatif aman ketimbang main layangan. Lima dari enam orang bakal selamat, atau ada 83,33% peluang untuk hidup jika memainkannya dengan revolver silinder putar Smith & Wesson, dan peluang bakal meningkat sedikit bila memakai beceng sejenis bermerk Nagant. Rolet Rusia sendiri sejenis permainan adu nasib yang bisa membawa maut, kamu isi sebutir peluru di dalam sepucuk revolver, putar silindernya, arahkan moncong revolver sejajar kepala dan akhiri dengan menarik pelatuknya. Sudah bisa dipastikan, dalam rolet Rusia, kamu hanya akan mati jika ada bunyi dor, bandingkan dengan main layangan, sebab-sebab kematiannya bisa karena jatuh ke jurang atau tertabrak mobil saat berburu layangan putus, atau tersambar gledek, atau leher tersayat benang gelasan. Lewat rolet Rusia kamu bakal tau hasil akhirnya, antara mati dan enggak mati, sementara main layangan kau tetap enggak bisa meramal kapan akan mati.

Semua berkat Red Velvet yang ngerilis mini album juga trek lagu berjudul ‘Russian Roulette’, saya jadi penasaran buat nyari referensi soal permainan maut ini. Banyak fakta seru yang saya temukan. Tapi sebelumnya, sebagai fanboy grup cewek ini, saya berkewajiban untuk sedikit membahas soal video musik mereka. Lagunya sendiri bernuansa retro pop 80an dengan nuansa musik latar game video jadul, yang bakal pas dijadikan lagu soundtrack opening anime. Jujur, saya kurang suka lagunya, tapi bukan berarti buruk, hanya enggak sesuai ekspektasi. Yang paling menarik adalah dari konsep videonya. Secara estetik enggak usah diperdebatkan lagi, mereka selalu berhasil menghadirkan kesintingan, yang kali ini mengawinkan keimutan dan kematian. Saya merasa sedang menonton Happy Tree Friend versi lembut. Dari khazanah internet, saya menemukan sebuah analisis fan yang begitu bombastis: dikatakan bahwa konsepnya mengusung semangat feminisme, serpihan tayangan animasi dari Itchy & Scratchy (parodi Tom & Jerry di The Simpsons) sebagai propaganda anti-kekerasan. Saya menyangsikan kalau $M bisa sebijak ini. Kalau boleh berteori, dan ini didasarkan dari ujaran mereka di siaran langsung V Line App, alurnya sendiri sederhana; soal ‘saling membunuh’ satu sama lain agar kesempatan ditembak kecengan lebih besar.

Kita simpan dulu Russian Roulette-nya Red Velvet, dan kembali bahas rolet Rusia sungguhan. Jauh sebelum istilahnya ada, permainan maut ini sudah ditemukan dalam novel The Fatalist-nya Mikhail Lermontov yang terbit 1840. Seorang karakter minor diceritakan menempatkan senjata yang enggak diketahui berisi berapa peluru ke kepalanya, menarik pelatuknya dan selamat. Istilah rolet Rusia pertama kali digunakan dalam sebuah cerita pendek tahun 1937 oleh Georges Surdez. Namun, cerita menggambarkan pistol yang dipakai hanya menyisakan satu ruang kosong peluru, bukan sebaliknya:

‘Pernahkah kamu mendengar rolet Rusia?’ … Tentara Rusia di Rumania, sekitar tahun 1917 … beberapa petugas akan mengeluarkan pistol, meletakan di mana saja, di atas meja, mengeluarkan satu kartrid dari silinder, memutar silinder, memasangkan kembali seperti semula, mengarahkan ke kepalanya dan menarik pelatuk. Ada peluang lima berbanding satu untuk memicu kartrid berisi dan meledakkan otaknya agar muncrat mengotori ruangan.

Terjemahan cuplikan Russian Roulette karya Georges Surdez

Berkat cerpen ini, Surdez yang orang Amerika dinobatkan sebagai penemu rolet Rusia. Meski ada perdebatan soal penggunaan istilah ini, utamanya dari pengamat sejarah militer Rusia yang mempertanyakan keabsahan ritual itu diamalkan oleh orang Rusia. Sebutan yang cocok harusnya ‘rolet Amerika’, sebab sampai sekarang sudah ada sekitar lebih 50 kasus kematian akibat permainan ini di Amerika Serikat ketimbang di Rusia.

red-velvet-%eb%a0%88%eb%93%9c%eb%b2%a8%eb%b2%b3_%eb%9f%ac%ec%8b%9c%ec%95%88-%eb%a3%b0%eb%a0%9b-russian-roulette_music-video-snapshot

Di video musik Russian Roulette, ditampilkan sebuah pistol seperti di atas. Kalau kamu pintar, jangan pakai yang begini. Karena sudah bisa dipastikan bakal meletus, syukur-syukur kalau mesiunya basah. Jangan pula pakai senapan angin, apalagi bedil semi-otomatis. Tapi terserah sih. Jika kesulitan buat dapetin revolver silinder putar, cara rolet Rusia ini bisa dikreasikan sesuai seleramu, misalnya dengan beli kue bolu red velvet, potong jadi lima potongan sama besar, suntikan campuran obat nyamuk dan racun tikus, putar alasnya, tutup mata, dan ambil salah satu. Ini untuk jaga-jaga saja, siapa tahu nanti menemui kejumudan hidup, dan ingin mencoba cara bunuh diri yang jatmika. Saya sih ogah. Lebih baik mati bahagia karena komplikasi kehabisan napas akibat fanchant dan serangan jantung berkat diberi senyuman maut dari Wendy kalau sekiranya bisa nonton konser Red Velvet.