Kategori
Celotehanku

New Directions: Tetap Kecil dan Berani Menerbitkan

13640744_10153869835053235_166664517288692315_o

80 8th Avenue, New York. Di dalam, ada ruang kerja kecil, sepi, lawas, untuk per orangnya. Ada, dan hanya akan ada, sembilan karyawan. Sebuah pohon ceri tumbuh dalam pot di balkon mungil di luar. Karpet kumal, lorong sempit, sistem pengarsipan yang ketinggalan jaman. Di dinding, tergantung beragam artefak: emblem asli perusahaan itu, bikinan Rockwell Kent; sampul “Nightwood” yang dikerjakan Alvin Lustig; Catatan tulis tangan dari William Carlos Williams; Lukisan dari Henry Miller; Sebuah foto sang pendiri penerbitan ini, yang meninggal pada 1997, dalam pose siluet.

Ada pintu menuju sebuah ruangan kecil, yang kalau dibuka berisi satu salinan dari tiap buku yang pernah diterbitkan di sini sejauh ini, lebih dari seribu tiga ratus buku. Knut Hansum, Jorge Luis Borges, Herman Hesse, Pablo Neruda, Yukio Mishima, Vladimir Nabokov, Osamu Dazai, Jean Paul Sartre, Octavio Paz, Roberto Bolaño, Anne Carson, W. G. Sebald, László Krasznahorkai, Enrique Vila-Matas, daftar para penulis beken ini, pertama kali diterbitkan ke khalayak Amerika Serikat dan pembaca bahasa Inggris oleh penerbit ini.

Berbeda dengan Alfred A. Knopf, New Directions enggak dirancang untuk menjadi firma yang besar dan berpengaruh yang akan jadi properti utama layaknya perusahaan media raksasa. Tetap kecil dan tetap menerbitkan. Jika boleh diibaratkan, New Directions adalah Pustaka Jaya, dengan James Laughlin sebagai Ajip Rosidi sekaligus Ciputra.

“James Laughlin merasa untuk tetap kecil itu penting,” sebut redaktur Declan Spring dalam wawancaranya di Literary Hub. “Kami menjaga staf kami tetap kecil. Kami menahan biaya kami sebanyak mungkin. Pada dasarnya, apa yang ingin kami lakukan adalah menjaga agar perusahaan tetap berjalan. Tujuannya adalah untuk membayar gaji, membayar uang sewa, membayar biaya produksi, membayar penulis, dan memiliki uang di bank sehingga kita dapat terus menerbitkan buku.”

*

Menurut Marcel Proust, satu bukti bahwa kita sedang membaca seorang penulis baru yang hebat adalah bahwa tulisannya langsung mengejutkan kita karena terasa jelek. Hanya penulis ecek-ecek yang menulis dengan indah, karena mereka hanya mencerminkan ulang gagasan praduga kita akan keindahan; kita enggak memiliki masalah untuk memahami apa yang mereka tawarkan, karena kita telah melihatnya berkali-kali sebelumnya.

Bila seorang penulis benar-benar orisinil, kegagalannya untuk tampak indah secara konvensional membuat kita melihatnya, awalnya, sebagai sesuatu yang tak berbentuk, nyeleneh, atau rumit. Setelah kita belajar bagaimana membacanya, kita menyadari bahwa keburukrupaaan tadi benar-benar merupakan keindahan baru yang benar-benar tak terduga dan bahwa apa yang tampak salah dalam tulisannya itulah yang membuatnya hebat.

Sebagai pembaca, saya sering merasakan pengalaman itu ketika membaca buku-buku rilisan New Directions. Karena filosofi New Directions sendiri, yang mengacu pada Laughlin, dalam menerbitkan karya adalah memilih yang berbeda dan baru. Karya avant-garde. Bukan hanya karya yang bakal cepat laris. Lebih menerbitkan karya yang baru akan dibaca dan dihargai duapuluh tahun setelah pertama kali diterbitkannya. Mencari para penulis yang belum ditemukan, enggak dihargai, enggak dikenali.

“Ketika kami pertama kali mempublikasikan [Ezra] Pound, [Tennessee] Williams, Dylan Thomas, Marianne Moore, tidak ada yang tahu siapa mereka,” sebut Spring. “Mereka terlalu aneh dan sulit dimengerti. Sekarang mereka adalah bagian dari kanon sastra.”

*

Pada 1934, setelah tiga semester yang menjemukan di Harvard, James Laughlin mengambil cuti panjang dan melakukan perjalanan di Eropa. Laughlin pergi ke Prancis, bertemu dengan Gertrude Stein dan menemaninya dalam tur otomotif di Prancis selatan dan menulis siaran pers untuk kunjungan Stein yang akan datang ke Amerika Serikat. Stein sendiri merupakan tokoh modernisme terkemuka dalam sastra dan seni, yang menggawangi Lost Generation.

Laughlin lalu melanjutkan ke Italia untuk bertemu dan belajar dengan Ezra Pound. Mondok di “Ezuversity”. Penyair penting dari Lost Generation ini memberi wejangan pada Laughlin, “Kamu tidak akan pernah menjadi seorang penyair yang baik.” Pound menyarankan penerbitan. Lakukan sesuatu yang berguna dengan uangmu, Pound menasihatinya, sehingga meskipun kamu tidak dapat menulis baik, kamu dapat memastikan bahwa karya baik bisa ada di luar sana.

Laughlin sendiri adalah anak konglomerat, pewaris dari perusahaan baja. Namun dia tahu sejak usia dini bahwa dirinya tak berkeinginan masuk ke bisnis keluarga. “Seperti Inferno. . . mengerikan,” komentarnya saat melihat pabrik baja.

nd14_p58_01
Foto: Laughlin muda di penerbitan awal New Directions di Connecticut

Ketika Laughlin kembali ke Harvard, dia menggunakan uang dari ayahnya untuk mendirikan penerbitan yang dia jalankan pertama kali di kamar asramanya. Mengambil nama New Directions, dari perumusan Pound, “Nude Erections”. Kantor kemudian pindah ke sebuah gudang di tanah milik bibinya Leila Laughlin Carlisle di Norfolk, Connecticut. Sampai akhirnya, membuka kantor di New York, pertama di 333 Sixth Avenue untuk kemudian menempati 80 Eighth Avenue, tempatnya sampai sekarang.

Publikasi pertamanya, pada tahun 1936, adalah New Directions in Prose & Poetry, sebuah antologi puisi dan tulisan dari William Carlos Williams, Ezra Pound, Elizabeth Bishop, Henry Miller, Marianne Moore, Wallace Stevens, dan EE. Cummings, serta Laughlin sendiri dengan nama samaran. Sebuah daftar yang menggembar-gemborkan bahwa visi New Directions yang baru berojol ini sebagai penerbit sastra modernis yang terkemuka.

Laughlin punya karisma yang membuat orang mempercayainya. Tentu saja, dia punya uang dan selera hidup yang membuat orang ingin bergaul dengannya. Bisa ditebak, dia juga seorang perayu, menikah tiga kali dan punya banyak kekasih, bahkan operasi prostat tak menghentikannya. Dia memancarkan kepercayaan diri dan antusiasme sejati untuk mencicipi pengalaman baru. Sesuatu yang membuat New Directions mengarah di jalan yang sesuai.

Keputusan Laughlin selalu tepat di setiap perkembangan sastra di Amerika Serikat antara tahun 1940 sampai 1980an. Dia menolak untuk mengambil bagian dalam korporatisasi dan konglomeratisasi penerbitan Amerika, bahkan saat dia melihat temannya Alfred Knopf dan saingannya Roger Straus menyerah. Laughlin selalu menjadi pemilik langsung New Directions dan sahamnya dialihkan ke orang kepercayaannya setelah kematiannya pada 1997.

*

“Tim kami luar biasa,” puji Spring. “Ada Barbara dan Laurie Callahan, yang mengedit Cesar Aira, juga merawat kebun balkon kami, dan menangani begitu banyak masalah keuangan penting kami. Dan kami punya Direktur Perizinan baru yang juga merupakan editor kami yang bernama Chris Wait, dan dua direktur publisitas kami Georgia Phillips-Amos dan Mieke Chew, yang bertemu dengan para pengulas, menyiapkan acara, yang melakukan kerja di toko buku.

“Jeff Clapper melakukan akuntansi kami. Jeffrey Yang adalah seorang editor. Art Director dan Production Manager kami, Erik Rieselbach, sangat hebat dalam berhubungan dengan printer namun juga berfungsi sebagai editor dan perancang buku digital. Dia selalu membikin buku terlihat lebih bagus. Kami juga punya Tynan Kogane. Dia bergabung dengan kami beberapa tahun yang lalu dan sekarang kami sangat bergantung padanya untuk mengedit lebih dari sepertiga buku kami. Dia juga membantu kami mengumpulkan katalog dan memastikan bahwa hak cipta terdaftar. Dengan kata lain, semua orang berkontribusi. Semua orang di sini selalu bersedia membantu yang lain. Kami semua adalah teman.”

New Directions beroperasi sesuai dengan keinginan Laughlin, seperti hanya ada sembilan karyawan dan pembatasan jumlah buku yang diterbitkan tiap tahunnya. Meski ini bukan aturan ketat. “Intinya adalah memastikan bahwa jika New Directions berlanjut, maka akan terus berlanjut sebagai New Directions,” tegas Spring. “Anak-anak James Laughlin memperhatikan dengan seksama apa yang kami lakukan. Kami memiliki banyak aturan bebas dan untungnya semua orang berkomitmen dan mengabdikan diri untuk hal-hal baru dan membuatnya berhasil.”

*

“Itu pembukaan yang hebat. Jika Anda tidak dapat melihatnya dan Anda seorang editor sastra, sebaiknya Anda menembak diri sendiri. Atau maksudku, lakukan yang lain,” bela Barbara Epler ketika ditanya mengapa berani menerbitkan Cantik Itu Luka-nya Eka Kurniawan yang tebal, padahal sang presiden New Directions itu baru baca secuil. Keputusan, yang secara hitung-hitungan bisnis, kurang meyakinkan.

Meskipun sambutannya hangat di Indonesia, menawarkan novel ini pada pembaca Amerika adalah usaha yang sulit. Penulisnya enggak punya gelar M.F.A., enggak punya agen New York, enggak punya karya dalam jurnal atau majalah sastra terkemuka. Intinya, engak punya nilai tawar, seperti yang sering dikatakan di kalangan bisnis.

Hubungan antara seni dan profit sering kali menjengkelkan. Dibanding penulis komersil semacam J. K. Rowling atau George R. R. Martin, yang enggak mungkin diorbitkan New Directions, penulis sastra adalah komoditas esoterik, yang dihargai kecil. ” Tapi apa yang akan bertahan?” tegas Epler seperti dilansir dalam artikel The New Yorker, How Staying Small Helps New Directions Publish Great Book. “Pada akhirnya hanya buku-buku seperti karya Eka, atau László, atau Sebald. Itulah yang akan diingat orang; Itulah yang akan ditulis sejarah.”

Mengutip Roberto Bolano dalam Between Parentheses, yang juga dipacak di laman situs New Directions: Pengecut tak menerbitkan pemberani.

Kategori
Non Fakta

Fantasi, Alejandro Zambra

ford 1988 alejandro zambra

1

Ceritanya di tahun 1996, empat atau lima bulan setelah kematian ayahku. Mungkin lebih baik memulai dengan kematian itu, dengan bagian akhir itu. Aku tidak tahu. Saat itu ayahku adalah musuhku. Umurku dua puluh tahun dan aku membencinya. Sekarang aku berpikir bahwa membencinya sungguh tak adil. Ayahku tidak pantas mendapat kebencian itu. Aku tidak tahu apakah dia pantas mendapat kasih sayang, tapi aku yakin dia tidak pantas mendapat kebencian itu.

Dia baru saja membeli sebuah truk, dengan tabungan penghabisannya, sebuah Ford putih tahun 1988 dalam kondisi baik. Pada hari pengiriman, dia memarkirkannya dua blok dari rumah, tapi keesokan paginya dia meninggal – dia meninggal karena serangan jantung, seperti ayahnya dan ayah ayahnya – jadi truk itu berada di sana selama beberapa minggu, terpapar cuaca, menghalangi lalu lintas. Setelah pemakaman, ibuku memutuskan untuk menuju ke selatan; Dia pulang ke selatan, sebetulnya, seolah-olah mematuhi rencana lama yang telah diperhitungkan. Dia tidak ingin mengatakan bahwa dia akan pergi untuk selamanya. Dia tidak memintaku untuk menemaninya. Jadi aku berakhir dengan rumah dan truk itu, yang suatu pagi, karena diliputi kesepian, aku berkendara dengan hati-hati melewati jalan-jalan terpencil sampai aku menemukan tempat untuk meninggalkannya.

Aku menghabiskan hari-hari setengah mabuk, menonton film di ranjang besar dan dengan cemberut menerima ucapan belasungkawa para tetangga. Akhirnya aku bebas. Bahwa kebebasan ini begitu mirip dengan pengabaian yang tak lebih dari sekadar sebuah detail. Aku keluar dari universitas, tanpa terlalu memikirkannya, karena aku tidak tahan belajar buat ujian Kalkulus I, untuk ketiga kalinya. Ibuku mengirim cukup banyak uang, jadi aku lupa tentang truk itu sampai Luis Miguel datang untuk menanyakan hal itu kepadaku. Aku ingat bahwa aku membuka pintu dengan rasa takut, tapi kebaikan hati Luis Miguel segera meredakan kecurigaanku. Setelah mengenalkan dirinya dan meminta maaf selama beberapa jam, dia mengatakan bahwa dia pernah mendengar bahwa aku membawa sebuah truk dan dia ingin mengusulkan agar aku menyewakannya.

Aku bisa mengemudikannya dan membayar biaya bulanan, katanya. Aku menjawab bahwa aku tidak terlalu tertarik pada truk itu, akan lebih baik jika aku menjualnya. Dia bilang dia tidak punya uang, setidaknya kami bisa mencobanya sebentar, bahwa dia sendiri yang akan bertanggung jawab untuk mencari pembeli. Dia tampak putus asa, meski belakangan aku mengerti bahwa dia tak begitu, bahwa dalam kasusnya keputusasaan lebih merupakan kebiasaan, sikap, cara hidup. Aku mengundangnya masuk; Aku menawarinya kentang goreng dan bir, dan kami minum begitu banyak bir hingga esoknya aku terbangun di sampingnya, tubuhku terasa sakit dan dipenuhi dengan keinginan kuat untuk menangis. Luis Miguel memelukku dengan hati-hati, hampir dengan penuh kasih sayang, dan dia membuat lelucon yang tidak kuingat, berbagai hal sepele yang meredakan kesedihan dan aku mengucapkan terima kasih untuknya, atau mengira aku mengucapkan terima kasih kepadanya, dengan sekilas. Kemudian kami memasak mie dan membumbuinya dengan saus hambar, dan kali ini kami minum dua slof anggur.

Dia telah berjanji kepada istrinya bahwa dia tidak akan lagi tidur dengan laki-laki. Istrinya tidak peduli jika dia selingkuh dengan wanita lain, tapi istrinya sangat khawatir jika Luis Miguel bakal tidur dengan laki-laki. Pada saat itu aku sudah yakin bahwa aku tidak menyukai wanita; Pada awalnya, aku telah tidur dengan wanita seusiaku tapi segera setelahnya selalu dengan pria, yang hampir selalu lebih tua, meski tidak pernah terlalu tua seperti Luis Miguel, yang berusia empat puluh empat tahun, memiliki dua anak, dan menganggur.

Aku kasih kamu gawean dengan ewean, kataku, dan kami terus tertawa sangat lama, kembali ke ranjang.

Lengan Luis Miguel dua atau tiga kali lebih kandel dariku.

Dan kontolnya lima sentimeter lebih panjang dariku.

Dan kulitnya lebih gelap dan lembut dari kulitku.

Sebulan kemudian Luis Miguel mengundangku ke La Calera, dan setelah itu ke Antofagasta, dan sejak saat itu undangan tidak lagi diperlukan; Selama satu setengah tahun kami bekerja sama, dalam kemitraan, berbagi keuntungan. Kami mengangkut apa saja: puing-puing, sayuran, kayu, selimut, kembang api, kotak-kotak tanpa tanda yang mencurigakan. Aku tidak akan mengatakan bahwa berjam-jam berlalu begitu saja; Kami bersenang-senang, kami meringankan beban perjalanan kami dengan tertawa, saling menceritakan kisah kehidupan kami; Tapi sedikit demi sedikit jalan bebas hambatan berhasil melenyapkan obrolan kami, dan kami menanggung kilometer-kilometer terakhir dalam keadaan gelisah. Sekembalinya kami, kami akan menghabiskan sepanjang hari untuk tidur dan kemudian bercinta sampai kami kenyang atau sampai rasa bersalahnya muncul, sesuatu yang sering terjadi, hampir setiap hari; dia tiba-tiba menghentikan mendadak cumbuan kami untuk menelepon istrinya dan mengatakan kepadanya bahwa dia berada di dekat Santiago, dan aku menerima komedi itu tanpa keluhan karena aku tahu itu bukan komedi.

Salah satu anakku seusiamu, dia mengatakan kepadaku suatu malam, matanya berkobar, tidak dengan api atau kemarahan, seperti yang sering dibilang, tapi dengan rasa malu yang hitam dan tak berdasar yang tidak aku mengerti saat itu, aku juga tidak mengerti sekarang, atau akankah aku mengerti.

2

Dia hanya teman, kataku pada Nadia.

Luis Miguel menyapanya dengan malu; Dia berjalan dengan telanjang, dia baru saja terbangun; Saat itu pukul sepuluh atau sebelas pagi, dan Nadia tersenyum atau memberi sedikit senyuman. Dia datang untuk memintaku membantunya pindahan.

Aku enggak tahan lagi sama bokap-nyokapku, dia memberitahuku, dan aku tidak memintanya menjelaskannya, tapi dia mulai berbicara dengan kehangatan biasanya yang biasa. Kami bertiga pergi untuk mengambil truk itu, dan kemudian ke rumah Nadia, tempat kami bekerja dengan isak tangis temanku dan ratapan ibunya sebagai suara latar belakang. Kemudian, di jalan, Nadia tidak menangis lagi, tapi tertawa dengan penuh semangat, dengan semacam kegamangan. Kami naik dari Maipú ke sebuah apartemen kecil di Diagonal Paraguay dimana dia berencana untuk tinggal dengan seorang teman. Letaknya di lantai enam, tanpa lift, tapi barang-barangnya sederhana: tidak lebih dari sebuah kasur, dua koper, dan enam kotak buku. Dalam perjalanan pulang, Luis Miguel bertanya kepadaku tentang Nadia, dan aku mengatakan kepadanya bahwa aku telah mengenalnya bertahun-tahun, sejak kecil, bahwa dia adalah sahabat terbaikku, atau paling tidak dia adalah, pada satu titik, sahabat terbaikku.

Dua minggu kemudian kami harus mengulang perjalanan. Kami baru saja kembali dari Valparaíso saat Nadia menelepon dan memohon padaku untuk menyelamatkannya dari temannya: Orang gila, katanya, seorang idiot yang menganggapku babunya. Baru pada akhir perjalanan aku mengerti bahwa Nadia tidak akan kembali ke rumahnya, tapi padaku.

Aku membicarakannya dengan mamamu, katanya, ini bikin dia senang karena tahu kita bakal tinggal bersama. Bertolak belakang dengan harapanku, idenya ternyata tidak mengecewakan Luis Miguel.

Kita kudu bikin sebuah nama fantasi, Nadia mengatakan malam itu juga, saat kami bermain Scrabble. Buat apa? Untuk perusahaan angkutan pindahan kita, dia berkata dengan penuh keriangan. Enggak ada lagi perjalanan jauh, enggak ada lagi jalan raya, katanya, dan kami sepakat, dan mengabdikan apa yang tersisa pada malam hari untuk memilih sebuah nama fantasi; dan pada akhirnya kami memilih yang itu, Fantasi, seperti yang disarankan oleh Nadia, tentu saja: Nama terbaiknya adalah Fantasi, Jasa Pindahan Fantasi, katanya, dan kami dengan senang hati menerimanya.

Keesokan harinya Nadia membuat papan tanda dan membelikan seragam kerja untuk kami bertiga. Dua minggu kemudian kami memiliki klien pertama kami, seorang pengacara yang akan segera menikah dan pindah ke sebuah rumah besar di Ñuñoa; dan sejak saat itu kami tidak berhenti.

Di lingkungan ini orang banyak yang pindahan, ini kayak virus, Nadia mengatakan setiap kali ditanya mengapa bisnis ini terus berjalan. Kami melukis truk itu dengan gambar-gambar yang menurut Luis Miguel sangat aneh, dan dia benar, tapi kami suka mewarnai pemandangan monoton rumah-rumah yang saling bersambungan itu dengan truk pengangkut yang meriah ini. Kami menyukai kehidupan semi-kewirausahaan kami yang baru ini; Kami menghabiskan berjam-jam membuat rencana dan memperbaiki rumah dengan banyak barang-barang yang ditinggalkan oleh klien. Ruang tamu dipenuhi lampu-lampu, kursi-kursi reyot, dan celana-celana sobek.

Suatu pagi ibuku datang tiba-tiba. Pada saat itu, hampir tiga tahun setelah kematian ayahku, kami hampir tidak berbicara lewat telepon. Tapi dia mengirimiku surat, surat panjang dan penuh kasih sayang, yang ditulis dengan tulisan tangan tipis, dengan begitu banyak jorong yang menakjubkan: Selatan. . . adalah tempat terindah di alam semesta. . . Osorno adalah kota yang tenang. . . tempat saya pernah berhubungan dengannya. . . saudara perempuan saya. Itu adalah hari ulang tahunku, tapi aku pasti tidak mengharapkan dia untuk berkunjung, apalagi jika dia membuka pintu dengan kunci lama miliknya dan masuk ke kamar tidurnya untuk melihatku tidur di pelukan Luis Miguel. Ibuku menangis atau mulai mengeluh; Aku mencoba menenangkannya tapi dia malah menjerit. Nadia dan kenalannya – istilahnya untuk tipe teman laki yang sering ia ajak tidur setiap saat – akhirnya muncul. Si kenalan ditinggalkan, dan Nadia dengan cepat membuat beberapa Nescafé dan mengunci diri dengan ibuku sepanjang hari. Luis Miguel ingin tetap tinggal, menemaniku, untuk mendengarkanku dengan ratapan dan teriakan dan keheningan misterius yang datang dari kamar tidur. Baru setelah malam turun, mereka muncul. Ibuku memelukku dan meraih tangannya ke Luis Miguel, dan kami memakan keju, kue kering, dan enguindado yang dibawanya sampai ibuku merasa sangat mabuk sehingga dia bersikeras agar kami menyanyikan “Selamat Ulang Tahun”. Ulang tahunmu tak datang tiap hari, kata ibuku sebelum mulai bernyanyi dan melambaikan tangannya.

Luis Miguel hampir tidak pernah melihat keluarganya lagi, tapi kali ini dia terpaksa berangkat pada tengah malam. Aku tidur di kamar Nadia, dengan Nadia di sampingku di tempat tidur sofa berkarat yang baru saja kami berikan kepada kami. Ibuku tidur di tempat tidur besar dan berangkat pagi-pagi sekali. Dia meninggalkan sebuah catatan dan dua puluh ribu peso di atas meja.

Catatan itu hanya mengatakan: Jaga dirimu. . .

3

Kami punya banyak pekerjaan, tapi kami menyukainya. Kami bahkan berpikir untuk membeli truk lain dan mungkin mempekerjakan orang lain. Tapi ceritanya berakhir dengan cara yang berbeda:

Luis Miguel kembali sangat gugup, dengan sebotol wiski di tangan. Ini adalah hadiah, katanya, kau adalah temanku, kita harus merayakannya, kau harus bahagia dengan berita ini.

Aku mengkhawatirkan yang terburuk. Dan aku benar: setelah beberapa tahun mengajukan lamaran, Luis Miguel dan istrinya telah mendapatkan subsidi dari pemerintah untuk membeli rumah mereka sendiri, sehingga pada akhir bulan mereka akan pindah jauh (tapi itu tidak akan menjadi masalah, kita akan terus bekerja sama, katanya), ke Puente Alto, ke sebuah rumah yang sedikit lebih besar. Aku menerima kata-katanya dengan marah dan sedih. Aku tidak ingin menangis, tapi aku menangis. Nadia juga menangis, meski dia tak ada urusannya untuk menangis. Luis Miguel meninggikan suaranya, seolah-olah melangkah ke dalam sebuah adegan yang mungkin dia latih di depan cermin; Dia tampak berada di luar dirinya sendiri, tapi hanya itu, sebuah penampilan: Dia berteriak dan membanting meja dengan penekanan yang salah. Dia berbicara tentang masa depan, mimpi, anak-anak, peluang, dunia nyata yang tidak kita ketahui sama sekali. Kebanyakan dari semua yang dia katakan tentang itu, tentang dunia nyata yang tidak kita ketahui sama sekali. Nadia menjawab untuk kami berdua: Dia mengatakan kepadanya bahwa pada tanggal 31 Oktober, pukul sembilan pagi, kami akan berada di rumahnya, bahwa dia harus menuliskan alamatnya, agar lebih baik mengepak perabotan dengan hati-hati. Jasa Angkut Fantasi akan memberikan perjalanan ini secara gratis, kampret, tapi sekarang angkat kaki dari sini untuk selamanya dan mulai cari pekerjaan lain.

Hari-hari berikutnya sangat mengerikan. Mengerikan dan tak ada gunanya.

Pada pagi hari tanggal tiga satu, kami terlambat lima belas menit. Luis Miguel tinggal di sebuah unit interior, di sebuah rumah tua untuk penyewa yang membayar dengan duit kecil. Pintu itu dibuka oleh salah seorang anak laki-lakinya, yang tertua, yang seusiaku, meski dia tampak lebih tua; Dia mirip sekali dengan ayahnya: alis yang sama lebatnya, sangat lebat, mata hitam, pipi agak gelap, tubuh yang besar dan indah. Putranya yang paling muda adalah anak laki-laki yang sangat gelap ketimbang enam atau tujuh lainnya yang bolak-balik, dia sedang membaca majalah. Istrinya baik hati. Kekasaran wajahnya tampak kontras dengan tatapan waspada; Sulit untuk tidak menjawab ekspresi itu dengan sapaan memerah. Dia menawari kami untuk dibuatkan teh dan kami menolak, dia menawari kami roti dengan selai blackberry tapi kami dengan sopan menolak; Kami tidak ingin duduk bersama mereka di meja. Seharusnya ini pekerjaan cepat; Seharusnya kami terlihat tak terlalu kentara, secukupnya. Tapi Luis Miguel mencariku, dengan keputusasaan yang telah kulihat sekilas beberapa kali dan sekarang mengungkapkan dirinya dengan begitu emosional.

Kami berangkat dengan truk, kami bertiga, dalam diam. Istri dan anak-anak akan pergi nanti; jadi ada waktu untuk mengucapkan selamat tinggal.

Kita tak akan bertemu lagi, kataku, dan dia setuju. Nadia memeluknya dengan kasih sayang. Aku tidak memeluknya: Aku keluar dan menunggunya di luar, selama dua atau sepuluh menit yang tidak berkesudahan. Kami tidak membicarakannya, tapi Nadia dan aku tahu bahwa kami menginginkannya, agar kami harus meninggalkan truk itu buatnya.

Kami berjalan berblok-blok untuk mencari bus. Setelah perjalanan yang sangat panjang kami sampai di rumah, berpegangan tangan.

Beberapa minggu yang lalu Nadia mulai bekerja sebagai sekretaris. Dia keluar pagi-pagi sekali, meninggalkan buku dan rokok untukku, dan saat dia kembali, kami minum secangkir teh.

Mungkin kamu harus menuliskan cerita ini, dia berkata kepadaku pagi ini, sebelum berangkat.

Baiklah, Nadia. Aku sudah menulisnya.

*

Diterjemahkan dari cerpen Alejandro Zambra berjudul Fantasy dalam Zoetrope: All-Story.

Zambra, dengan nama panjang Alejandro Andrés Zambra Infantas, merupakan penulis asal Cile. Dijuluki Roberto Bolano baru dan bintang sastra baru dari Amerika Latin.

Kategori
Celotehanku

Realisme Komersil

Kami manusia yang bernalar (miskin, tapi bernaral), bukan roh dari manual realisme magis, bukan kartu pos buat konsumsi asing dan bukan manipulasi hinaan atas kemelaratan nasional. – Roberto Bolano, Semua Menulis, Bukan Hanya di Cile

What is Literature For.MKV_snapshot_00.45_[2017.11.24_01.19.16]

Kenapa para pekerja kreatif, terutama yang katanya penulis, doyan bawa gawean ke kedai kopi? Jika Anda bertanya-tanya mengapa orang bekerja di kafe, jujur saja, sebut penulis Tony Tulathimutte, ini sebagian besar untuk mencegah masturbasi. Jawaban sangat Freudian dan saya sepakat. Perlu kebijaksanaan ala Diogenes dan kesintingan ekstra agar berani coli di depan publik, kalaupun nekat dengan sembunyi-sembunyi di bawah meja, ada kemungkinan kopi pesanan tumpah karena gempa mungil yang tercipta.

Di sanalah saya, Yellow Truck Coffee Jalan Sunda, beberapa meja diisi mereka yang menekuri laptopnya, hujan terus mengguyur di luar, saya memesan Americano panas, dan enggak ada kerja kebudayaan yang harus dibereskan sekaligus enggak ada kapalan yang perlu direpresi. Klub Baca Bandung mengundang dua penulis muda, Rio Johan dengan Ibu Susu-nya, novel oleh-oleh resedensi di Berlin, dan sohibnya Dewi Kharisma Michellia yang residensinya di Paris. Hujan dari sejak siang bikin yang datang sedikit, enggak kayak terakhir ikutan pas bahas Murakami setahun yang lalu. Dari yang hadir, saya bisa ketemu langsung sama seorang kolumnis ngepop dan seorang antropolog yang cuma berkait di media sosial. Sebagai yang enggak terikat sama klub atau lingkaran susastera apapun, gosip-gosip sastra teranyar yang saya kejar. Apalagi setelah baca How Fiction Works-nya James Wood dan How to Talk Book You Haven’t Read-nya Pierre Bayard, jadi pengen berbual-bual soal sastra.

Apa yang salah dengan seorang penulis Indonesia yang justru menulis novel berlatar Mesir Kuno? Rio sendiri mengaku banyak dikritik karena menulis dunia yang jauh, memilih enggak mengangkat kearifan lokal. Saya memuji Rio dengan argumen bahwa novel bukan sekedar kartu pos, yang hanya mengangkat eksotisme kampung halaman sang penulis. Apa itu membumi? Bahkan jika latarnya tentang kehidupan Mars, kalau ditulis dengan apik, lebih baik ketimbang cerita yang mengangkat kearifan lokal yang cuma berfungsi sebagai gimmick dan sangat permukaan. Saya mengomentari juga soal gaya Ibu Susu yang mirip Pyramid-nya Ismael Kadare, dan Rio memang menulis novel Kadare sebagai salah satu inspirasi di halaman epilog. Kadare memakai Mesir Kuno justru untuk mengkritisi Stalinisme yang pernah mencaplok negaranya Albania. Untuk pembacaan soal Ibu Susu, saya justru merasakan dunia sekuler dan seorang protagonisnya yang saya labeli kapitalis-filantropis yang oportunis.

Mimi, panggilan Dewi Kharisma, berpikir lebih visioner: Siapa sih penerbit luar yang tertarik menerjemahkan novel tentang Mesir Kuno yang ditulis seorang Indonesia? Rio justru rugi karena enggak menulis kearifan lokalnya, sebut Mimi. Dengan tetap mengkritisi bahwa novel yang menghadirkan mooi indie masih berupa tempelan, serta komentarnya terhadap novel-novel yang mengeksploitasi isu tragedi 65 supaya laku namun ditulis dengan buruk.

Dalam How Fiction Works, James Wood menyodorkan genre realisme komersil, sebagai salah satu brand paling kuat saat ini dalam fiksi. Brand yang secara ekonomi akan direproduksi, terus dan terus. Realisme sendiri hanyalah salah satu genre dalam fiksi, tak bisa dianggap lebih dekat dengan kenyataan dibandingkan genre lain. Realisme enggak lebih dari satu tata bahasa dan seperangkat aturan. Karena direproduksi terus-menerus, ia menjadi konvensi, lalu menjadi kebiasaan. Memberontak atas konvensi ini? Ia akan menciptakan konvensi baru, tentu saja. “Konvensi ini, seperti metafor, tidak mati tapi selalu sekarat. Seniman senantiasa mencoba mengakalinya.”

Wood juga mengutip Alain Robbe-Grillet dalam Pur un nouveau roman, yang menulis, “Semua penulis percaya bahwa mereka realis. Tak ada yang memanggil dirinya sendiri abstrak, ilusionistik, tak masuk akal, fantastik.” Robbe-Grillet melanjutkan bahwa jika semua penulis itu berhimpun di bendera yang sama, itu bukan karena mereka sepakat soal realisme; justru karena mereka ingin menggunakan ide berbeda mereka soal realisme untuk mengobrak-abrik yang lain.

Faktanya, apapun benderanya, dari realisme sosialis sampai realisme magis, akan masuk ke jurang yang sama bernama realisme komersil. Di sinilah kita berada, di satu kondisi menyebalkan ketika berkarya harus dikatrol selera pasar. Roberto Bolano adalah sosok nakal dan kontroversial, seorang penulis yang lantang menentang efek boom sastra Amerika Latin. Gabriel Garcia Marquez, Octavio Paz dan seluruh kanon karya realis magis menanggung beban amarahnya, Bolano terkenal karena menegaskan bahwa realisme magis itu berbau busuk. Ya, Bolano menciptakan realisme jeroannya, dan akhir ceritanya sudah dapat diprediksi, gaya tersebut jadi realisme komersil. Jauh setelah kematiannya, karya-karyanya terus dikomersialisasi, bahkan kalau ada tulisan Bolano ditemukan sudah pasti bakal diterbitkan.

Seseorang nampaknya harus lebih memikirkan cara merancap yang mutakhir ketimbang memikirkan realisme model baru, yang kemungkinan besar bakal dipecahkan algoritma.

Kategori
Catutan Pinggir

Semua Menulis, Bukan Hanya di Cile

bolac3b1o-755x490

Inilah yang kesusasteraan Cile ajarkan pada saya. Jangan minta apa-apa, karena Anda tidak akan diberi apa-apa. Jangan sakit karena tidak ada yang akan membantu Anda. Jangan meminta untuk disertakan dalam antologi apapun karena nama Anda akan selalu dihilangkan. Jangan berkelahi karena Anda akan selalu dikalahkan. Jangan berpaling dari kekuasaan karena kekuasaan adalah segalanya. Jangan memaksakan pujian untuk para idiot, para dogmatis, para medioker, jika Anda tidak ingin hidup semusim di neraka. Hidup di sini berjalan tanpa ada perubahan.

Kami adalah anak-anak Pencerahan, sebut Rodrigo Lira saat dia berjalan melewati Santiago yang lebih mirip sebuah kuburan di planet lain. Dengan kata lain, kami manusia yang bernalar (miskin, tapi bernaral), bukan roh dari manual realisme magis, bukan kartu pos buat konsumsi asing dan hinaan manipulasi kemelaratan nasional. Dengan kata lain: kami adalah makhluk yang memiliki kesempatan sejarah untuk memilih kebebasan, dan juga — secara paradoks — kehidupan. Seperti begitu banyak penyair Amerika Latin yang mati tanpa mempublikasikan sesuatu, Rodrigo Lira tahu itu. Pada tahun 1984, sebuah penerbit kecil mengeluarkan koleksi puisinya yang berjudul Proyecto de Obras completas [Proyek untuk Sebuah Karya Lengkap]. Sekarang, pada tahun 1998, tidak mungkin untuk menemukannya. Namun belum ada yang menyusahkan diri untuk menerbitkannya kembali. Di Cile cukup banyak buku – kebanyakannya jelek – diterbitkan. Keanggunan Rodrigo Lira, penghinaannya, membuatnya terlarang bagi penerbit manapun. Pengecut tidak mempublikasikan pemberani.

Di Cile semua orang menulis. Saya menyadari hal ini pada suatu malam ketika saya sedang menunggu untuk melakukan wawancara langsung dengan televisi. Seorang gadis yang pernah menjadi Mojang Cile, atau sesuatu seperti itu, ada di hadapan saya. Mungkin dia hanya Mojang Santiago atau Mojang Apaanlah. Bagaimanapun, dia adalah seorang gadis tinggi dan cantik, yang berbicara dengan ketenangan serupa Mojang lainnya. Dia diperkenalkan pada saya. Ketika mengetahui bahwa saya merupakan juri untuk kontes Paula dia mengatakan bahwa dia hampir mengirim sebuah cerita pendek namun pada akhirnya dia tak sempat melakukannya, dan dia bilang akan mengirimkan tahun depan. Keyakinannya sangat mengesankan. Saya harap dia punya waktu untuk mengetikkan ceritanya untuk kontes tahun 1999. Saya berharap yang terbaik untuk keberuntungannya. Terkadang fakta bahwa setiap orang di dunia menulis bisa menjadi luar biasa, karena Anda menemukan rekan penulis di mana-mana, dan terkadang hal itu bisa menjadi hambatan karena orang-orang buta huruf mengangkang dengan segala kecacatannya dan tidak adanya kebajikan dari seorang penulis sejati. Seperti yang dinasihatkan Nicanor Parra: mungkin ada baiknya membaca yang diperbanyak.

*

Diterjemahkan dari tiga esai dalam Between Parentheses

Kategori
Catutan Pinggir

Jalanan Barcelona, Roberto Bolaño

1

La pesadilla empieza por allí, en ese punto.
Más allá, arriba y abajo, todo es parte de la
pesadilla. No metas tu mano en ese jarrón. No
metas tu mano en ese florero del infierno. Allí
empieza la pesadilla y todo cuanto desde allí
hagas crecerá sobre tu espalda como una joroba.
No te acerques, no rondes ese punto equívoco.
Aunque veas florecer los labios de tu verdadero
amor, aunque veas florecer unos párpados que
quisieras olvidar o recobrar. No te acerques.
No des vueltas alrededor de ese equívoco. No
muevas los dedos. Créeme. Allí sólo crece
la pesadilla.

+

Mimpi buruk dimulai dari sana, di sana.
Lebih jauh, atas dan bawah, segalanya bagian dari
mimpi buruk. Jangan sentuh jambangan itu. Jangan
tempelkan tanganmu dalam vas jahanam itu. Di sana
mimpi buruk dimulai dan segala sesuatu yang kau lakukan di sana
akan bikin tumbuh punuk di punggungmu.
Jauhi, jangan berkeliaran di sudut muram itu.
Bahkan jika kau melihat bibir merekah dari
kekasihmu, bahkan jika kau melihat kelopak mata mekar
yang ingin kau lupakan atau ingat kembali. Jauhi
Jangan melingkari kesalahan itu. Jangan
angkat jari. Percayalah padaku. Satu-satunya yang tumbuh di sana
hanya mimpi buruk

+

Los floreros disimulan
La puerta del Infierno
Con cierta clase de luz
Y a determinada hora
De repente te das cuenta
Ese objeto es el terror

+

Vasnya berdimis
Gerbang neraka
Dengan semacam cahaya
Dan pada waktu tertentu
tiba-tiba kau tersadar:
Benda itu adalah teror

+

Duerme abismo mío, los reflejos dirán
que el descompromiso es total
pero tú hasta en sueños dices que todos
estamos comprometidos que todos
merecemos salvarnos

+

Tidurlah jurang mautku, refleks-refleks bilang padaku
pendirian telah teguh
Tapi bahkan dalam mimpi kau bilang kita semua
bersama-sama, kita semua
layak diselamatkan

+

Una voz de mujer dice que ama
la sombra que tal vez es la tuya
Estás disfrazado de policía y contemplas
caer la nieve    ¿Pero cuándo?
No lo recuerdas    Estabas en la calle
y nevaba sobre tu uniforme de poli
Aun así la pudiste observar:
una hermosa muchacha a horcajadas
sobre una motocicleta negra
al final de la avenida

+

Suara seorang wanita mengatakan bahwa dia mencintai
bayangan yang mungkin punyamu
Menyamar sebagai polisi, kau mengawasi
salju yang turun     Tapi kapan?
Kau tidak ingat     Kau sedang berada di jalan
dan salju menuruni seragam polisimu
Tapi tetap saja kau bisa melihatnya:
seorang gadis cantik mengangkangi
sebuah sepeda motor hitam
di ujung jalan

*

Puisi Roberto Bolano berjudul “Calles de Barcelona” ini dialihbahasakan dari Spanyol dan Inggris dengan bantuan Google Translate.

Bolaño menghabiskan usia mudanya hidup sebagai gelandangan, berpindah-pindah dari Cile, Meksiko, El Salvador, Perancis, dan Spanyol. Pindah ke Eropa pada tahun 1977, dan akhirnya sampai ke Spanyol, yang kemudian ia menikah dan menetap di pantai Mediterania dekat Barcelona, bekerja sebagai pencuci piring, penjaga tempat perkemahan, pesuruh dan pengumpul sampah—yang bekerja pada siang hari dan menulis di malam hari.

Kategori
Celotehanku

Buku yang Terus Hidup

borges obra poetica

Ini seperti semacam olahraga otak, tapi bukan. Buku pertama yang saya dapat dari perempuan yang saya cintai dan yang tinggal bersamanya adalah sebuah buku yang ditulis Mircea Eliade. Saya masih tidak mengerti apa yang dia coba sampaikan. Siapapun itu, siapapun yang tidak lebih dungu, bakal cepat sadar kalau hubungan ini tak akan bertahan lama dan tak akan sampai pada jalan yang lebih mendingan untuk menjauhkan dirinya dari kemalangan. Saya tak bisa mengingat apa buku pertama yang ibu saya kasih. Yang bisa saya ingat adalah sebuah buku ilustrasi sejarah tebal, lebih sebuah komik, yang lebih mendekati Pangeran Valiant ketimbang Superman, tentang Perang Pasifik, perang antara Cile dengan aliansi Peru-Bolivia. Jika ingatan saya benar, jagoan di buku itu — semacam War and Peace yang masih dalam tahap pengembangan — adalah seorang sukarelawan yang mendaftar di Séptimo de la Línea, satu resimen infanteri terkenal. Saya akan selalu bersyukur karena ibu memberi buku itu ketimbang buku bocah klasik Papelucho. Sedangkan ayah, saya tidak ingat ia pernah memberi saya sebuah buku, walaupun kadang-kadang kami melintasi toko buku dan atas permintaan saya, dia akan membelikan sebuah majalah berisi satu artikel panjang tentang penyair-penyair elektrik Prancis. Semua buku-buku tadi, termasuk majalah, bersama dengan banyak buku lainnya, hilang selama petualangan dan pindahan saya, atau meminjamkannya pada orang dan tidak pernah melihatnya lagi, atau menjualnya atau menghadiahkannya.

Tapi ada satu buku yang tidak akan pernah saya lupakan. Bukan sebatas saya ingat kapan dan di mana saya saat membelinya, tapi juga sepanjang hari itu, orang yang menunggu saya di luar toko buku, apa yang saya lakukan malam harinya, dan kebahagiaan (sama sekali tidak rasional) yang saya rasakan ketika saya menggenggamnya di tangan. Itu adalah buku pertama yang saya beli di Eropa dan masih saya punya sampai sekarang. Itu Obra poetica-nya Borges, diterbitkan Alianza/Emecé pada 1972 dan sudah lama tak dirilis lagi. Saya membelinya saat di Madrid pada 1977 dan, meski puisi Borges tidak terlalu akrab bagi saya, saya mulai membacanya malam itu juga dan tak berhenti sampai pukul delapan pagi esok harinya, seolah-olah tidak ada sesuatu di dunia ini yang layak dibaca kecuali puisi-puisi itu, tidak ada hal lain yang bisa mengubah jalannya kehidupan liar yang telah saya jalani sampai saat itu, tidak ada hal lain yang dapat membuat saya merenung (karena puisi Borges punya kecerdasan alami dan juga keberanian dan keputusasaan — dengan kata lain, satu-satunya hal yang mengilhami permenungan dan yang mempertahankan puisi tetap hidup).

Bloom berpendapat bahwa adalah Pablo Neruda, lebih dari penyair lainnya, yang menjadi pewaris Whitman. Menurut Bloom, bagaimanapun, Neruda berusaha untuk menjaga agar pohon Whitmanian tetap tumbuh dan berakhir dengan kegagalan. Saya pikir Bloom salah, seperti yang sering terjadi, bahkan pada banyak topik lainnya, meski memang dia adalah kritikus sastra terbaik di benua kita ini. Memang benar bahwa semua penyair Amerika harus — untuk lebih baik atau lebih buruk, cepat atau lambat — dihadapkan dengan Whitman. Tanpa diketahui, Neruda melakukannya sebagai anak yang taat. Vallejo melakukannya sebagai anak pembangkang atau pemboros. Borges — dan ini adalah sumber keautentikannya dan kepalanya yang dingin — melakukannya sebagai keponakan, dan bukan hanya sangat dekat, seorang keponakan yang rasa ingin tahunya terombang-ambing antara minat entomologis dan semangat seorang pecinta yang gigih. Tidak ada yang lebih asing baginya daripada usaha untuk mengejutkan atau menyetir kekaguman. Tidak ada yang lebih acuh tak acuh terhadap massa Amerika yang luas, meskipun di suatu tempat dia menulis bahwa apa yang terjadi pada satu orang terjadi pada semua manusia.

Namun puisi Borges adalah yang paling Whitmanian dari yang lain-lain: Tema-tema Whitman selalu ada dalam sajaknya, seperti juga kontradiksi dan sanggahannya, kebalikan dan kepatuhannya pada sejarah, kepala dan ekor dari campuran bernama Amerika dan yang sukses atau gagalnya belum bisa diputuskan. Tapi dia tak sebatas itu, dan bukan prestasi kecil.

Saya mulai dengan cinta pertama saya dan Mircea Eliade. Dia masih hidup dalam ingatan saya; Orang Rumania telah lama diusir ke api penyucian dalam kejahatan yang belum terpecahkan. Saya berakhir dengan Borges dan dengan rasa syukur dan kagum saya, meski hati-hati untuk tidak melupakan baris dalam “Dekat Penghakiman Akhir,” sebuah puisi yang dibenci Borges: “Aku mengatakan keheranan saat orang lain mengatakan hanya hal biasa.”

*

Diterjemahkan dari The Book that Survives dalam Between Parentheses: Essays, Articles and Speeches, kumpulan tulisan dari Roberto Bolano.