Kategori
Buku

New Directions: Tetap Kecil dan Berani Menerbitkan

80 8th Avenue, New York. Di dalam, ada ruang kerja kecil, sepi, lawas, untuk per orangnya. Ada, dan hanya akan ada, sembilan karyawan. Sebuah pohon ceri tumbuh dalam pot di balkon mungil di luar. Karpet kumal, lorong sempit, sistem pengarsipan yang ketinggalan jaman. Di dinding, tergantung beragam artefak: emblem asli perusahaan itu, bikinan Rockwell Kent; sampul “Nightwood” yang dikerjakan Alvin Lustig; Catatan tulis tangan dari William Carlos Williams; Lukisan dari Henry Miller; Sebuah foto sang pendiri penerbitan ini, yang meninggal pada 1997, dalam pose siluet.

Kategori
Fiksi

Cerpen Terjemahan: “Fantasi” Karya Alejandro Zambra

1

Ceritanya di tahun 1996, empat atau lima bulan setelah kematian ayahku. Mungkin lebih baik memulai dengan kematian itu, dengan bagian akhir itu. Aku tidak tahu. Saat itu ayahku adalah musuhku. Umurku dua puluh tahun dan aku membencinya. Sekarang aku berpikir bahwa membencinya sungguh tak adil. Ayahku tidak pantas mendapat kebencian itu. Aku tidak tahu apakah dia pantas mendapat kasih sayang, tapi aku yakin dia tidak pantas mendapat kebencian itu.

Kategori
Celotehanku

Realisme Komersil

Kami manusia yang bernalar (miskin, tapi bernaral), bukan roh dari manual realisme magis, bukan kartu pos buat konsumsi asing dan bukan manipulasi hinaan atas kemelaratan nasional.

Roberto Bolano, Semua Menulis, Bukan Hanya di Cile

Kenapa para pekerja kreatif, terutama yang katanya penulis, doyan bawa gawean ke kedai kopi? Jika Anda bertanya-tanya mengapa orang bekerja di kafe, jujur saja, sebut penulis Tony Tulathimutte, ini sebagian besar untuk mencegah masturbasi. Jawaban sangat Freudian dan saya sepakat. Perlu kebijaksanaan ala Diogenes dan kesintingan ekstra agar berani coli di depan publik, kalaupun nekat dengan sembunyi-sembunyi di bawah meja, ada kemungkinan kopi pesanan tumpah karena gempa mungil yang tercipta.

Kategori
Catutan Pinggir

Semua Menulis, Bukan Hanya di Cile

bolac3b1o-755x490

Inilah yang kesusasteraan Cile ajarkan pada saya. Jangan minta apa-apa, karena Anda tidak akan diberi apa-apa. Jangan sakit karena tidak ada yang akan membantu Anda. Jangan meminta untuk disertakan dalam antologi apapun karena nama Anda akan selalu dihilangkan. Jangan berkelahi karena Anda akan selalu dikalahkan. Jangan berpaling dari kekuasaan karena kekuasaan adalah segalanya. Jangan memaksakan pujian untuk para idiot, para dogmatis, para medioker, jika Anda tidak ingin hidup semusim di neraka. Hidup di sini berjalan tanpa ada perubahan.

Kami adalah anak-anak Pencerahan, sebut Rodrigo Lira saat dia berjalan melewati Santiago yang lebih mirip sebuah kuburan di planet lain. Dengan kata lain, kami manusia yang bernalar (miskin, tapi bernaral), bukan roh dari manual realisme magis, bukan kartu pos buat konsumsi asing dan hinaan manipulasi kemelaratan nasional. Dengan kata lain: kami adalah makhluk yang memiliki kesempatan sejarah untuk memilih kebebasan, dan juga — secara paradoks — kehidupan. Seperti begitu banyak penyair Amerika Latin yang mati tanpa mempublikasikan sesuatu, Rodrigo Lira tahu itu. Pada tahun 1984, sebuah penerbit kecil mengeluarkan koleksi puisinya yang berjudul Proyecto de Obras completas [Proyek untuk Sebuah Karya Lengkap]. Sekarang, pada tahun 1998, tidak mungkin untuk menemukannya. Namun belum ada yang menyusahkan diri untuk menerbitkannya kembali. Di Cile cukup banyak buku – kebanyakannya jelek – diterbitkan. Keanggunan Rodrigo Lira, penghinaannya, membuatnya terlarang bagi penerbit manapun. Pengecut tidak mempublikasikan pemberani.

Di Cile semua orang menulis. Saya menyadari hal ini pada suatu malam ketika saya sedang menunggu untuk melakukan wawancara langsung dengan televisi. Seorang gadis yang pernah menjadi Mojang Cile, atau sesuatu seperti itu, ada di hadapan saya. Mungkin dia hanya Mojang Santiago atau Mojang Apaanlah. Bagaimanapun, dia adalah seorang gadis tinggi dan cantik, yang berbicara dengan ketenangan serupa Mojang lainnya. Dia diperkenalkan pada saya. Ketika mengetahui bahwa saya merupakan juri untuk kontes Paula dia mengatakan bahwa dia hampir mengirim sebuah cerita pendek namun pada akhirnya dia tak sempat melakukannya, dan dia bilang akan mengirimkan tahun depan. Keyakinannya sangat mengesankan. Saya harap dia punya waktu untuk mengetikkan ceritanya untuk kontes tahun 1999. Saya berharap yang terbaik untuk keberuntungannya. Terkadang fakta bahwa setiap orang di dunia menulis bisa menjadi luar biasa, karena Anda menemukan rekan penulis di mana-mana, dan terkadang hal itu bisa menjadi hambatan karena orang-orang buta huruf mengangkang dengan segala kecacatannya dan tidak adanya kebajikan dari seorang penulis sejati. Seperti yang dinasihatkan Nicanor Parra: mungkin ada baiknya membaca yang diperbanyak.

*

Diterjemahkan dari tiga esai dalam Between Parentheses

Kategori
Catutan Pinggir

Jalanan Barcelona, Roberto Bolaño

1

La pesadilla empieza por allí, en ese punto.
Más allá, arriba y abajo, todo es parte de la
pesadilla. No metas tu mano en ese jarrón. No
metas tu mano en ese florero del infierno. Allí
empieza la pesadilla y todo cuanto desde allí
hagas crecerá sobre tu espalda como una joroba.
No te acerques, no rondes ese punto equívoco.
Aunque veas florecer los labios de tu verdadero
amor, aunque veas florecer unos párpados que
quisieras olvidar o recobrar. No te acerques.
No des vueltas alrededor de ese equívoco. No
muevas los dedos. Créeme. Allí sólo crece
la pesadilla.

+

Mimpi buruk dimulai dari sana, di sana.
Lebih jauh, atas dan bawah, segalanya bagian dari
mimpi buruk. Jangan sentuh jambangan itu. Jangan
tempelkan tanganmu dalam vas jahanam itu. Di sana
mimpi buruk dimulai dan segala sesuatu yang kau lakukan di sana
akan bikin tumbuh punuk di punggungmu.
Jauhi, jangan berkeliaran di sudut muram itu.
Bahkan jika kau melihat bibir merekah dari
kekasihmu, bahkan jika kau melihat kelopak mata mekar
yang ingin kau lupakan atau ingat kembali. Jauhi
Jangan melingkari kesalahan itu. Jangan
angkat jari. Percayalah padaku. Satu-satunya yang tumbuh di sana
hanya mimpi buruk

+

Los floreros disimulan
La puerta del Infierno
Con cierta clase de luz
Y a determinada hora
De repente te das cuenta
Ese objeto es el terror

+

Vasnya berdimis
Gerbang neraka
Dengan semacam cahaya
Dan pada waktu tertentu
tiba-tiba kau tersadar:
Benda itu adalah teror

+

Duerme abismo mío, los reflejos dirán
que el descompromiso es total
pero tú hasta en sueños dices que todos
estamos comprometidos que todos
merecemos salvarnos

+

Tidurlah jurang mautku, refleks-refleks bilang padaku
pendirian telah teguh
Tapi bahkan dalam mimpi kau bilang kita semua
bersama-sama, kita semua
layak diselamatkan

+

Una voz de mujer dice que ama
la sombra que tal vez es la tuya
Estás disfrazado de policía y contemplas
caer la nieve    ¿Pero cuándo?
No lo recuerdas    Estabas en la calle
y nevaba sobre tu uniforme de poli
Aun así la pudiste observar:
una hermosa muchacha a horcajadas
sobre una motocicleta negra
al final de la avenida

+

Suara seorang wanita mengatakan bahwa dia mencintai
bayangan yang mungkin punyamu
Menyamar sebagai polisi, kau mengawasi
salju yang turun     Tapi kapan?
Kau tidak ingat     Kau sedang berada di jalan
dan salju menuruni seragam polisimu
Tapi tetap saja kau bisa melihatnya:
seorang gadis cantik mengangkangi
sebuah sepeda motor hitam
di ujung jalan

*

Puisi Roberto Bolano berjudul “Calles de Barcelona” ini dialihbahasakan dari Spanyol dan Inggris dengan bantuan Google Translate.

Bolaño menghabiskan usia mudanya hidup sebagai gelandangan, berpindah-pindah dari Cile, Meksiko, El Salvador, Perancis, dan Spanyol. Pindah ke Eropa pada tahun 1977, dan akhirnya sampai ke Spanyol, yang kemudian ia menikah dan menetap di pantai Mediterania dekat Barcelona, bekerja sebagai pencuci piring, penjaga tempat perkemahan, pesuruh dan pengumpul sampah—yang bekerja pada siang hari dan menulis di malam hari.

Kategori
Buku

Buku yang Terus Hidup

Ini seperti semacam olahraga otak, tapi bukan. Buku pertama yang saya dapat dari perempuan yang saya cintai dan yang tinggal bersamanya adalah sebuah buku yang ditulis Mircea Eliade. Saya masih tidak mengerti apa yang dia coba sampaikan. Siapapun itu, siapapun yang tidak lebih dungu, bakal cepat sadar kalau hubungan ini tak akan bertahan lama dan tak akan sampai pada jalan yang lebih mendingan untuk menjauhkan dirinya dari kemalangan. Saya tak bisa mengingat apa buku pertama yang ibu saya kasih. Yang bisa saya ingat adalah sebuah buku ilustrasi sejarah tebal, lebih sebuah komik, yang lebih mendekati Pangeran Valiant ketimbang Superman, tentang Perang Pasifik, perang antara Cile dengan aliansi Peru-Bolivia. Jika ingatan saya benar, jagoan di buku itu — semacam War and Peace yang masih dalam tahap pengembangan — adalah seorang sukarelawan yang mendaftar di Séptimo de la Línea, satu resimen infanteri terkenal. Saya akan selalu bersyukur karena ibu memberi buku itu ketimbang buku bocah klasik Papelucho. Sedangkan ayah, saya tidak ingat ia pernah memberi saya sebuah buku, walaupun kadang-kadang kami melintasi toko buku dan atas permintaan saya, dia akan membelikan sebuah majalah berisi satu artikel panjang tentang penyair-penyair elektrik Prancis. Semua buku-buku tadi, termasuk majalah, bersama dengan banyak buku lainnya, hilang selama petualangan dan pindahan saya, atau meminjamkannya pada orang dan tidak pernah melihatnya lagi, atau menjualnya atau menghadiahkannya.

Tapi ada satu buku yang tidak akan pernah saya lupakan. Bukan sebatas saya ingat kapan dan di mana saya saat membelinya, tapi juga sepanjang hari itu, orang yang menunggu saya di luar toko buku, apa yang saya lakukan malam harinya, dan kebahagiaan (sama sekali tidak rasional) yang saya rasakan ketika saya menggenggamnya di tangan. Itu adalah buku pertama yang saya beli di Eropa dan masih saya punya sampai sekarang. Itu Obra poetica-nya Borges, diterbitkan Alianza/Emecé pada 1972 dan sudah lama tak dirilis lagi. Saya membelinya saat di Madrid pada 1977 dan, meski puisi Borges tidak terlalu akrab bagi saya, saya mulai membacanya malam itu juga dan tak berhenti sampai pukul delapan pagi esok harinya, seolah-olah tidak ada sesuatu di dunia ini yang layak dibaca kecuali puisi-puisi itu, tidak ada hal lain yang bisa mengubah jalannya kehidupan liar yang telah saya jalani sampai saat itu, tidak ada hal lain yang dapat membuat saya merenung (karena puisi Borges punya kecerdasan alami dan juga keberanian dan keputusasaan — dengan kata lain, satu-satunya hal yang mengilhami permenungan dan yang mempertahankan puisi tetap hidup).

Bloom berpendapat bahwa adalah Pablo Neruda, lebih dari penyair lainnya, yang menjadi pewaris Whitman. Menurut Bloom, bagaimanapun, Neruda berusaha untuk menjaga agar pohon Whitmanian tetap tumbuh dan berakhir dengan kegagalan. Saya pikir Bloom salah, seperti yang sering terjadi, bahkan pada banyak topik lainnya, meski memang dia adalah kritikus sastra terbaik di benua kita ini. Memang benar bahwa semua penyair Amerika harus — untuk lebih baik atau lebih buruk, cepat atau lambat — dihadapkan dengan Whitman. Tanpa diketahui, Neruda melakukannya sebagai anak yang taat. Vallejo melakukannya sebagai anak pembangkang atau pemboros. Borges — dan ini adalah sumber keautentikannya dan kepalanya yang dingin — melakukannya sebagai keponakan, dan bukan hanya sangat dekat, seorang keponakan yang rasa ingin tahunya terombang-ambing antara minat entomologis dan semangat seorang pecinta yang gigih. Tidak ada yang lebih asing baginya daripada usaha untuk mengejutkan atau menyetir kekaguman. Tidak ada yang lebih acuh tak acuh terhadap massa Amerika yang luas, meskipun di suatu tempat dia menulis bahwa apa yang terjadi pada satu orang terjadi pada semua manusia.

Namun puisi Borges adalah yang paling Whitmanian dari yang lain-lain: Tema-tema Whitman selalu ada dalam sajaknya, seperti juga kontradiksi dan sanggahannya, kebalikan dan kepatuhannya pada sejarah, kepala dan ekor dari campuran bernama Amerika dan yang sukses atau gagalnya belum bisa diputuskan. Tapi dia tak sebatas itu, dan bukan prestasi kecil.

Saya mulai dengan cinta pertama saya dan Mircea Eliade. Dia masih hidup dalam ingatan saya; Orang Rumania telah lama diusir ke api penyucian dalam kejahatan yang belum terpecahkan. Saya berakhir dengan Borges dan dengan rasa syukur dan kagum saya, meski hati-hati untuk tidak melupakan baris dalam “Dekat Penghakiman Akhir,” sebuah puisi yang dibenci Borges: “Aku mengatakan keheranan saat orang lain mengatakan hanya hal biasa.”

*

Diterjemahkan dari The Book that Survives dalam Between Parentheses: Essays, Articles and Speeches, kumpulan tulisan dari Roberto Bolano.