Kategori
Catutan Pinggir

César Aira yang Luar Biasa

Jika ada satu penulis kontemporer yang menentang klasifikasi, dia adalah César Aira, seorang Argentina dari sebuah kota di provinsi Buenos Aires yang disebut Coronel Pringles, yang harusnya, saya kira, merupakan tempat yang betul-betul nyata, meskipun bisa juga itu sesuatu yang diada-ada oleh si anak emas itu, yang telah memberi kita secara superlatif potret jelas seorang Bunda (misteri lisan) dan Bapa (sebuah kepastian geometris), dan yang posisinya dalam sastra Hispanik kontemporer setara kompleksitasnya dengan Macedonio Fernandez pada awal abad kedua puluh.

Baiklah, saya mulai dengan mengatakan bahwa Aira telah menulis salah satu dari lima cerita terbaik yang bisa saya ingat. Cerita pendeknya itu, yang ada dalam antologi Buenos Aires-nya Juan Forns, berjudul “Cecil Taylor.” Dia juga penulis dari empat novel yang mengesankan: How I Became a Nun, yang menceritakan masa kecilnya; Ema, The Captive, yang menceritakan kemakmuran Indian pampas; The Literary Conference, yang menceritakan upaya untuk mengkloning Carlos Fuentes; dan The Crying, yang menceritakan semacam pencerahan atau serangan insomnia.

Tentu bukan itu saja novel yang ditulisnya. Saya diberitahu bahwa Aira menulis dua buku setahun, sedikitnya begitu, beberapa di antaranya diterbitkan oleh sebuah penerbitan kecil di Argentina bernama Beatriz Viterbo, diambil dari tokoh dalam cerita Borges “The Aleph.” Buku-bukunya yang telah saya temukan diterbitkan oleh Mondadori dan Tusquets Argentina. Ini bikin frustrasi, karena setelah kalian mulai membaca Aira, kalian tidak ingin berhenti. Novelnya tampaknya menempatkan teori Gombrowicz dalam praktek, kecuali, dan perbedaannya begitu fundamental, bahwa Gombrowicz adalah kepala biara sebuah katedral imajiner yang megah, sementara Aira adalah seorang biarawan atau calon biarawan dalam Ordo Karmelit. Kadang-kadang ia mengingatkan kita pada Roussel (Roussel yang berlutut bermandikan merah darah), tapi satu-satunya penulis yang masih hidup yang dapat dibandingkan dengannya adalah si Enrique Vila-Matas dari Barcelona.

Aira seorang eksentrik, tapi ia juga merupakan salah satu dari tiga atau empat penulis terbaik berbahasa Spanyol saat ini.

*

Diterjemahkan dari kata pengantar Roberto Bolaño di An Episode in the Life of a Landscape Painter-nya César Aira. Cerpen Cecil Taylor bisa dibaca di BOMB Magazine, sedangkan buku-bukunya bisa diunduh, secara ilegal, di sini.

Kategori
Cacatnya Harianku

Saya Mau Hidup Seribu Tahun Lagi, dan Menyia-nyiakannya dengan Membaca Sepuasnya

Usianya 22, ketika timbul keyakinan bahwa seni-sastra adalah pilihan hidupnya. Seperti para rasul yang menyepi untuk menanti wahyu, ia mulai memenjarakan diri di antara tumpukan buku dan melahap beragam bacaan tadi, dan harus melewati delapan tahun penuh kesepian dan keputusasaan sampai novel perdananya rilis. Menjadi penulis di negara yang, seperti kata ibunya, enggak akan membeli dan membacanya, tentu suatu keberanian, juga ketololan.

Kategori
Catutan Pinggir

Troubadour, Roberto Bolaño

history-of-ideas-love-youtube-mkv_snapshot_02-19_2016-12-15_07-30-00

Apa yang troubadour katakan pada kita hari ini? Apa sumber daya tarik mereka, keunggulan mereka? Saya sendiri tidak tahu. Saya ingat bahwa saya terinspirasi untuk membaca mereka gara-gara Pound, dan terutama berkat studi njelimet Martín de Riquer. Sejak saat itu, sedikit demi sedikit saya mulai mengumpulkan buku dan antologi yang ada nama-nama Arnaut Daniel, Marcabrú, Bertran de Born, Peire Vidal, Giraut de Bornelh. Dengan dasar perdagangan, sebagian besar mereka adalah musafir dan pengeliling dunia. Beberapa hanya bepergian ke satu atau dua provinsi, tapi ada yang melintasi Eropa, berperang sebagai tentara, mengarungi Mediterania, mengunjungi negeri-negeri Muslim.

Carlos Alvar membuat perbedaan antara troubadour, trouvères, dan minnesingers. Perbedaan paling kentara adalah soal geografis. Troubadour kebanyakan dari selatan Perancis, Provençal, meski beberapa ada dari Catalan. Trouvères berasal dari utara Perancis. Minnesingers dari Jerman. Waktu, yang belum menghapus nama mereka dan beberapa karya-karya mereka, akhirnya akan menghapus perbedaan-perbedaan kebangsaan tadi.

Ketika saya masih muda, di Mexico City, kami memainkan permainan di mana kami membagi diri menjadi jagoan dari trobar leu dan trobar clus. Trobar leu, tentu saja, lagu ringan, sederhana dan dimengerti semua orang. Trobar clus, sebaliknya, gelap dan buram, bisa dibilang kompleks. Meskipun kekayaan konseptual, bagaimanapun, trobar clus seringnya lebih kejam dan brutal ketimbang trobar leu (yang umumnya halus), seperti Góngora tulis saat menjadi pesakitan, atau lebih tepatnya, seperti foreshadowing dalam bintang hitamnya Villon.

Karena kami masih muda dan masa bodoh, kami tidak tahu bahwa trobar clus pada gilirannya dapat dibagi menjadi dua kategori, trobar clus yang biasa, dan trobar ric, yang seperti namanya menunjukkan ayat mewah, penuh hiasan, dan umumnya kosong. Dengan kata lain: trobar clus terjebak di lorong-lorong akademisi atau pengadilan, trobar clus melucuti vertigo kata-kata dan kehidupan. Kita tahu bahwa tanpa troubadour tidak akan pernah ada dolce stil novo Italia, dan tanpa dolce stil novo tidak akan ada Dante, tapi apa yang kita paling sukai adalah hidup yang dibuang-buang dari beberapa troubadour. Sebagai contoh: Jaufre Rudel, yang jatuh cinta secara harfiah hanya karena desas-desus tentang istri bangsawan yang tinggal di Tripoli, menyeberangi Mediterania yang sedang dilanda perang salib, jatuh sakit, dan berakhir di sebuah penginapan Tripoli, di mana si istri bangsawan, menyadari bahwa di sini adalah orang yang merayakan dirinya lewat banyak lagu dan puisi, datang dan membolehkan Rudel — yang kini hanya menunggu kematian — untuk menyandarkan kepalanya di pangkuannya.

Saya tidak tahu apa yang mereka katakan kepada kita hari ini, para troubadour itu. Jauh di abad kedua belas, mereka tampaknya naif. Tapi saya tidak akan terlalu yakin tentang hal itu. Saya tahu mereka telah menciptakan konsep cinta, dan mereka juga menemukan atau menciptakan kembali kebanggaan menjadi penulis, tentang memandang tanpa rasa takut ke kedalaman.

*

Diterjemahkan dari Troubadours dalam Between Parentheses.

Roberto Bolaño menghabiskan usia mudanya hidup sebagai gelandangan, berpindah-pindah dari Cile, Meksiko, El Salvador, Perancis, dan Spanyol. Bolano pindah ke Eropa pada tahun 1977, dan akhirnya sampai ke Spanyol, yang kemudian ia menikah dan menetap di pantai Mediterania dekat Barcelona, bekerja sebagai pencuci piring, penjaga tempat perkemahan, pesuruh dan pengumpul sampah—yang bekerja pada siang hari dan menulis di malam hari.

Kategori
Catutan Pinggir

Curi Buku Ini

galeria-de-libros-providencia-tna-05

Buku-buku yang paling kuingat adalah yang aku curi di Mexico City saat berusia enam belas sampai sembilan belas, dan yang aku beli di Cile ketika aku berusia dua puluhan, selama beberapa bulan pertama kudeta. Di Meksiko ada sebuah toko buku yang menakjubkan. Dinamakan Toko Buku Kaca dan berada di Alameda. Dindingnya, juga langit-langitnya, terbuat dari kaca. Kaca dan balok-balok besi. Dari luar, tampaknya tempat yang mustahil untuk bisa mengutil. Sekalipun demikian sikap kehati-hatian itu dikalahkan atas godaan untuk mencoba dan setelah beberapa saat aku membuat langkah. Buku pertama yang jatuh ke tanganku adalah volume kecil dari Pierre Louÿs, dengan halaman setipis kertas Alkitab, aku tidak ingat sekarang apakah itu Aphrodite atau Songs of Bilitis. Aku tahu aku masih enam belas dan bahwa untuk sementara waktu Louÿs menjadi semacam panduan bagiku. Lalu aku mencuri buku-buku karya dari Max Beerbohm (The Happy Hypocrite), Champfleury, Samuel Pepys, Goncourt bersaudara, Alphonse Daudet, dan Rulfo dan Arreola, penulis Meksiko yang pada saat itu masih berlatih, dan yang aku temui di suatu pagi di Avenida Niño Perdido, jalanan sesak yang sekarang hilang dari petaku tentang Mexico City hari ini, seakan Niño Perdido hanya ada dalam imajinasiku, atau seolah-olah jalan, dengan toko-toko bawah tanah dan penampil jalanan benar-benar telah lenyap, sama sepertiku yang tersesat pada usia enam belas.

Dari kabut di masa itu, dari beragam serangan tak kasat mata, aku ingat banyak buku puisi. Buku-buku dari Amado Nervo, Alfonso Reyes, Renato Leduc, Gilberto Owen, Heruta dan Tablada, dan para penyair Amerika, seperti General William Booth Enters Into Heaven, oleh Vachel Lindsay yang agung. Tapi ada sebuah novel yang menyelamatkanku dari neraka dan langsung menjerembabkanku kembali ke dasar. Novel itu The Fall, oleh Camus, dan segala sesuatu yang ada hubungannya dengan itu aku ingat seakan membeku dalam suatu cahaya remang-remang, cahaya sunyi di waktu malam, meskipun aku membacanya, melahapnya, dalam cahaya pagi Mexico City yang luar biasa yang berkilau—atau berkilauan—dengan cahaya merah dan hijau diselubungi bercak noda, di sebuah bangku di Alameda, tanpa uang dan sepanjang hari di hadapanku, pada kenyataannya seluruh hidupku di hadapanku. Berkat Camus, segalanya berubah. Aku ingat edisinya: itu buku dengan huruf cetak sangat besar, seperti pada bacaan anak SD, ramping, dengan sampul terbuat dari kain, dengan gambar menghebohkan pada jilidnya, satu jenis buku yang sulit untuk dicuri dan salah satu yang aku tidak tahu apakah harus menyembunyikan di bawah lenganku atau di ikat pinggangku, karena itu bakal tampak di bawah blazer pelajarku, dan pada akhirnya aku membawanya keluar di depan mata semua pegawai di Toko Buku Kaca, yang merupakan salah satu cara terbaik untuk mencuri dan yang aku pelajari dari cerita Edgar Allan Poe.

Setelahnya, setelah aku mencuri buku itu dan membacanya, aku berubah dari seorang pembaca bijaksana menjadi seorang pembaca yang rakus dan dari seorang pencuri buku menjadi pembajak buku. Aku ingin membaca semuanya, yang dalam kepolosanku seperti ingin menemukan atau coba menemukan cara kerja tersembunyi soal kebetulan yang menyebabkan tokoh Camus untuk menerima nasib yang mengerikan itu. Seperti yang telah diprediksi, perjalananku sebagai pembajak buku itu panjang dan berbuah manis, tapi suatu hari aku tertangkap. Untungnya, itu tidak di Toko Buku Kaca tetapi di Toko Buku Gudang, yang sekarang—atau dulu—berada di seberang Alameda, ada di Avenida Juárez, dan seperti namanya, merupakan sebuah gudang besar di mana buku-buku terbaru dari Buenos Aires dan Barcelona menumpuk di gundukan berkilauan. Penangkapanku begitu memalukan. Seolah-olah para samurai toko buku itu telah memberi harga untuk kepalaku. Mereka mengancam akan mengusirku keluar dari negara itu, untuk memukuliku di gudang bawah tanah di Toko Buku Gudang, yang bagiku terdengar seperti diskusi antara neo-filsuf tentang kehancuran atas kehancuran, dan pada akhirnya, setelah musyawarah yang panjang, mereka membiarkanku pergi, meskipun setelah menyita semua buku yang aku punya, di antaranya The Fall, yang tidak satu pun yang aku curi dari sana. Tak berapa lama setelah kejadian itu aku pindah ke Chili. Jika di Meksiko aku bertemu dengan Rulfo dan Arreola, di Chile yang sama juga terjadi pada Nicanor Parra dan Enrique Lihn, tapi aku pikir satu-satunya penulis yang aku lihat adalah Rodrigo Lira, berjalan cepat pada malam yang berbau gas air mata. Kemudian datang kudeta dan setelah itu aku menghabiskan waktuku mengunjungi toko buku di Santiago sebagai cara murah bertahan dari kebosanan dan kegilaan. Tidak seperti toko-toko buku Meksiko, toko buku di Santiago tidak memiliki pegawai dan hanya dijalankan oleh satu orang, biasanya oleh sang pemilik. Di sana aku membeli Obra gruesa [Edisi Lengkap] dan Artefactos-nya Nicanor Parra, dan buku dari Enrique Lihn dan Jorge Teillier yang akan segera hilang dan yang merupakan bacaan penting bagiku; meskipun penting bukanlah kata yang tepat: buku-buku membantuku bernapas. Tapi bernapas juga bukan kata yang tepat.

Apa yang paling aku ingat tentang kunjunganku ke beberapa toko buku itu adalah mata penjual bukunya, yang kadang-kadang tampak seperti mata seorang yang gantung diri dan kadang-kadang tampak seperti seseorang yang menonton film yang bikin ngantuk, yang sekarang aku tahu bahwa ada sesuatu yang lain. Aku tidak ingat pernah melihat toko buku yang lebih sepi dari ini. Aku tidak mencuri satu buku pun di Santiago. Buku-bukunya murah dan aku membelinya. Di toko buku terakhir yang aku kunjungi, saat aku melalui deretan novel-novel lawas Perancis, si penjual buku, seorang pria tinggi kurus berusia sekitar empat puluh, tiba-tiba bertanya apakah aku pikir suatu tindakan tepat bagi seorang penulis untuk merekomendasikan karyanya sendiri kepada seorang yang dijatuhi hukuman mati. Penjual buku itu berdiri di sudut, mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung sampai siku dan dia punya jakun yang bergetar saat ia berbicara. Aku mengatakan itu kelihatannya tidak tepat. Orang terhukum seperti apa yang kita bicarakan? aku bertanya. Penjual buku itu menatapku dan berkata bahwa ia tahu lebih dari seorang novelis yang merekomendasikan bukunya sendiri kepada seorang pria yang sedang di ambang kematiannya. Kemudian dia mengatakan bahwa kita sedang berbicara tentang para pembaca putus asa. Aku hampir tidak memenuhi syarat untuk menilai, katanya, tetapi jika bukan aku, tidak akan ada yang mau.

Buku apa yang akan kamu berikan kepada orang terhukum? dia bertanya. Aku tidak tahu, kataku. Aku juga tidak tahu, kata penjual buku, dan aku pikir itu mengerikan. Buku apa yang orang-orang putus asa baca? Buku apa yang mereka sukai? Bagaimana kamu membayangkan ruang baca seorang pria terhukum? dia bertanya. Aku tidak tahu, kataku. Kamu masih muda, aku tahu, katanya. Dan kemudian: itu seperti Antartika. Bukan seperti Kutub Utara, tapi seperti Antartika. Aku teringat hari-hari terakhir [tokoh pada Edgar Allan Poe] Arthur Gordon Pym, tapi aku memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa. Mari kita lihat, kata penjual buku, apakah ada pemberani yang bakal menyerahkan novel ini di pangkuan seorang pria yang mendapat hukum mati? Dia mengambil sebuah buku yang masih baik dan kemudian dia melemparkannya ke tumpukan. Aku membayar dan pergi. Ketika aku berbalik untuk pergi, penjual buku itu mungkin tertawa atau menangis. Saat aku melangkah keluar aku mendengar dia berkata: Bajingan arogan seperti apa yang berani melakukan hal macam begitu? Dan kemudian dia berkata sesuatu yang lain, tapi aku tidak bisa mendengar soal apa.

*

Diterjemahkan dari Who Would Dare? dalam Between Parentheses: Essays, Articles and Speeches (1998-2003).

Roberto Bolaño menghabiskan usia mudanya hidup sebagai gelandangan, berpindah-pindah dari Cile, Meksiko, El Salvador, Perancis, dan Spanyol. Bolano pindah ke Eropa pada tahun 1977, dan akhirnya sampai ke Spanyol, yang kemudian ia menikah dan menetap di pantai Mediterania dekat Barcelona, bekerja sebagai pencuci piring, penjaga tempat perkemahan, pesuruh dan pengumpul sampah—yang bekerja pada siang hari dan menulis di malam hari.

Foto: Feria Permanente del Libro Usado de Providencia

Kategori
Fiksi

Pantai, Roberto Bolaño

bolano_beach_final-2

Aku berhenti menggunakan heroin dan pindah ke sebuah kota kecil dan memulai terapi metadon yang diberikan dari klinik rawat jalan dan aku tidak punya banyak kegiatan lain yang harus dilakukan kecuali bangun setiap pagi dan menonton TV dan mencoba untuk tidur di malam hari, tapi aku tidak bisa, sesuatu membuatku tidak dapat menutup mata dan istirahat, dan itu rutinitasku, sampai suatu hari aku tidak tahan lagi dan aku membeli sendiri sepasang celana renang hitam di sebuah toko di pusat kota dan aku pergi ke pantai, memakai celana pendek itu dan dengan membawa handuk dan majalah, dan aku menggelar handukku tidak terlalu jauh dari air dan kemudian aku berbaring dan menghabiskan beberapa waktu untuk memutuskan apakah akan menceburkan diri ke dalam air atau tidak, aku bisa memikirkan banyak alasan untuk mencebur juga beberapa alasan untuk tidak (ada anak-anak bermain di tepi air, misalnya), sampai akhirnya terlalu larut dan aku pulang, dan keesokan harinya aku membeli tabir surya dan aku pergi ke pantai lagi, dan sekitar pukul dua belas aku menuju ke klinik dan mendapat dosis metadonku dan menyapa wajah-wajah yang familiar, bukan teman, hanya wajah yang kukenal di bagian urusan metadon yang terkejut melihatku dengan celana renang, tapi aku bertindak seolah-olah tidak ada yang aneh tentang hal itu, dan kemudian aku berjalan kembali ke pantai dan kali ini aku memutuskan untuk masuk ke dalam air dan mencoba untuk berenang, meskipun aku tidak bisa, dan ini sudah cukup bagiku, dan hari berikutnya aku kembali ke pantai dan mengenakan tabir surya di seluruh badan dan kemudian aku tertidur di atas pasir, dan ketika aku bangun aku merasa mendapat istirahat yang cukup, dan aku tidak menjemur punggungku atau yang lainnya, dan ini berlanjut selama seminggu atau mungkin dua minggu, aku tidak ingat, satu-satunya hal yang aku yakin adalah bahwa setiap hari aku menjadi lebih sawo matang dan meskipun aku tidak mengobrol dengan siapa pun setiap hari aku merasa lebih baik, atau berbeda, yang dalam kasusku tampaknya seperti itu, dan satu hari ada pasangan tua yang muncul di pantai, aku ingat dengan jelas, tampak seperti mereka telah bersama untuk waktu yang lama, yang wanita gemuk, atau berisi, dan berusia sekitar tujuh puluh, dan yang lelaki kurus, atau lebih dari kurus, kerangka berjalan, aku pikir itu sebabnya aku memperhatikan dia, karena biasanya aku tidak terlalu memperhatikan orang-orang di pantai, tapi aku melihat mereka, dan karena lelaki itu begitu kurus, aku melihatnya dan ketakutan, sialan, kematian sedang mendatangiku, pikirku, tapi tidak ada yang datang padaku, mereka hanya dua orang tua, si lelaki mungkin tujuh puluh lima dan si wanita sekitar tujuh puluh, atau sebaliknya, dan si wanita tampaknya berada dalam kesehatan yang baik, tapi yang lelaki tampak seolah-olah ia akan menghembuskan napas terakhirnya sebentar lagi atau seolah-olah ini musim panas terakhir untuknya, dan pada mulanya, setelah aku terlepas dari ketakutan awalku, sulit bagiku untuk tidak melihat wajah lelaki tua itu, tengkoraknya hanya tertutup oleh lapisan tipis kulit, tapi kemudian aku terbiasa untuk menyaksikan mereka berdua secara diam-diam , berbaring di atas pasir, menunduk, dengan wajahku tersembunyi dalam lenganku, atau dari jalan raya, duduk di bangku yang menghadap pantai, seperti aku pura-pura sedang membersihkan pasir dari diriku, dan aku ingat bahwa wanita tua selalu datang ke pantai dengan payung, di mana ia cepat-cepat merunduk, dan dia tidak memakai baju renang, meskipun kadang-kadang aku melihatnya dalam pakaian renang, tapi biasanya dia dalam balutan pakaian musim panas yang sangat longgar yang membuatnya tampak lebih gemuk daripada sebenarnya, dan di bawah payung wanita tua itu duduk sambil membaca, dia punya buku yang sangat tebal, sementara kerangka itu yang merupakan suaminya berbaring di pasir dengan hanya mengenakan baju renang minim, hampir berupa thong, dan minum di bawah sinar matahari dengan kerakusan yang membawaku pada kenangan jauh saat-saat terbeku candu dalam imobilitas membahagiakan, saat pecandu fokus pada apa yang mereka lakukan, pada satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan, dan kemudian kepalaku sakit dan aku meninggalkan pantai, aku ingin makan di Paseo Marítimo, satu hidangan ikan asin porsi kecil, dan bir, dan kemudian aku mengisap rokok dan menerawang pantai melalui jendela bar, dan kemudian aku kembali dan si lelaki tua dan wanita tua itu masih ada, si wanita di bawah payung, yang lelaki terkena sinar matahari, dan kemudian, tiba-tiba, tanpa alasan, aku merasa seperti berurai air mata dan aku masuk ke dalam air dan berenang dan ketika aku jauh dari bibir pantai aku melihat matahari dan matahari tampak aneh bagiku bahwa ada yang seperti itu, bahwa ada hal yang besar yang tidak seperti kita, dan kemudian aku mulai berenang ke arah pantai (dua kali aku hampir tenggelam) dan ketika aku kembali aku menjatuhkan diri di sebelah handukku dan duduk di sana terengah-engah selama beberapa waktu, tapi dengan tetap memperhatikan pasangan tua itu, dan kemudian aku mungkin telah jatuh tertidur di atas pasir, dan ketika aku terbangun pantai mulai kosong, tetapi lelaki tua dan wanita tua itu masih ada, yang wanita dengan novelnya di bawah payung dan yang lelaki dengan punggungnya di bawah sinar matahari dengan mata tertutup dan ekspresi aneh di wajah serupa tengkoraknya, seolah-olah ia bisa merasakan pancaran sepintas dan ia menikmatinya, meskipun sinar matahari sudah redup, meskipun matahari sudah menukik di belakang bangunan di sepanjang pantai, di belakang bukit-bukit, tapi tampaknya itu tidak mengganggunya, dan kemudian aku melihat si lelaki dan aku memperhatikan matahari, dan kadang-kadang punggungku tersengat sedikit, seakan sore itu aku membakar diriku sendiri, dan aku melihat mereka dan kemudian aku bangun, aku menyampirkan handuk di pundak seperti jubah dan pergi untuk duduk di salah satu bangku di Paseo Marítimo, di mana aku berpura-pura untuk menyikat pasir di kakiku, dan dari sana aku memiliki pandangan yang berbeda terhadap pasangan itu, aku berkata kepada diri sendiri bahwa mungkin si lelaki tidak akan mati, aku berkata pada diriku sendiri bahwa mungkin waktu berjalan tidak seperti yang kupikirkan, aku membayangkan kalau waktu seperti matahari yang memperpanjang jarak bayangan bangunan, dan kemudian aku pulang ke rumah dan mandi dan memeriksa punggungku yang merah, punggung yang tampaknya bukan punggung milikku tapi punya orang lain, seseorang yang sudah bertahun-tahun sebelum aku mengenalnya, dan kemudian aku menyalakan TV dan menonton acara yang tidak kumengerti sama sekali, sampai aku tertidur di kursiku, dan hari berikutnya kembali ke hal yang sama, pantai, klinik, pantai lagi, rutinitas yang kadang-kadang terputus berkat orang-orang baru di pantai, seorang perempuan, misalnya, yang selalu berdiri, yang tidak pernah berbaring di pasir, yang mengenakan bawahan bikini dan kaus biru, dan yang ketika dia masuk ke dalam air hanya basah sampai lutut, dan yang membaca buku, seperti si wanita tua, tapi perempuan ini membacanya sambil berdiri, dan kadang-kadang ia berlutut, meskipun dengan cara yang sangat aneh, dan mengambil satu botol besar Pepsi dan meminumnya, sambil berdiri, tentu saja, dan kemudian menempatkan botol kembali di handuknya, yang aku tidak tahu mengapa dia bawa karena dia tidak pernah berbaring di atasnya atau pergi berenang, dan kadang-kadang perempuan ini membuatku takut, dia tampak terlalu aneh, tapi sebagian besar waktu aku hanya merasa kasihan padanya, dan aku melihat hal-hal aneh lain juga, segala macam hal yang terjadi di pantai, mungkin karena itu satu-satunya tempat di mana kita semua setengah telanjang, meskipun tidak ada sesuatu yang benar-benar penting terjadi, sekali ketika aku berjalan di sepanjang pantai aku pikir aku melihat seorang mantan pecandu sepertiku, duduk di gundukan pasir dengan bayi di pangkuannya, dan lain waktu aku melihat beberapa gadis-gadis Rusia, tiga gadis Rusia, yang mungkin sundal dan yang menelepon pada satu ponsel dan tertawa, mereka bertiga, tapi yang benar-benar paling menarik perhatianku adalah pasangan tua, sebagian karena aku punya perasaan bahwa si lelaki tua akan mati setiap saat, dan ketika aku memikirkan ini, atau ketika aku sadar aku berpikir ini, ide-ide gila akan datang ke kepalaku, seperti pemikiran bahwa setelah kematian orang tua itu akan datang tsunami dan kota akan dihancurkan oleh gelombang raksasa, atau bahwa bumi akan mulai bergoyang dan gempa besar akan menelan seluruh kota dalam gelombang debu, dan ketika aku berpikir tentang apa yang baru saja dijelaskan aku menyembunyikan kepala di tanganku dan mulai menangis, dan ketika aku sedang menangis aku bermimpi (atau membayangkan) bahwa itu terjadi malam hari, sebut saja pukul tiga pagi, dan aku meninggalkan rumahku dan pergi ke pantai, dan di pantai aku menemukan si lelaki tua berbaring di atas pasir, dan di langit, di dekat bintang-bintang, tapi lebih dekat ke bumi daripada bintang lainnya, bersinar matahari hitam, sebuah matahari yang sangat besar, senyap dan hitam, dan aku pergi ke pantai dan berbaring di atas pasir juga, hanya dua orang di pantai yaitu si lelaki tua dan diriku, dan ketika aku membuka mata lagi aku menyadari bahwa sundal Rusia dan perempuan yang selalu berdiri dan mantan pecandu dengan bayi sedang menontoniku dengan penuh curiga, mungkin bertanya-tanya siapa orang aneh itu, pria dengan bahu dan punggung terbakar matahari, dan bahkan wanita tua itu menatapku dari bawah payung, menghentikan pembacaan buku tak berkesudahannya selama beberapa detik, mungkin bertanya-tanya siapa pemuda itu, lelaki dengan air mata sengap mengalir di wajahnya, seorang pria berusia tiga puluh lima yang tidak punya apa-apa sama sekali kecuali memulihkan hasratnya dan keberaniannya dan yang tahu bahwa ia akan hidup sedikit lebih lama.

*

Diterjemahkan dari Beach dalam Between Parentheses.

Roberto Bolaño menghabiskan usia mudanya hidup sebagai gelandangan, berpindah-pindah dari Cile, Meksiko, El Salvador, Perancis, dan Spanyol. Bolano pindah ke Eropa pada tahun 1977, dan akhirnya sampai ke Spanyol, yang kemudian ia menikah dan menetap di pantai Mediterania dekat Barcelona, bekerja sebagai pencuci piring, penjaga tempat perkemahan, pesuruh dan pengumpul sampah—yang bekerja pada siang hari dan menulis di malam hari.

Kategori
Fiksi

Penulis Fiksi-Ilmiah Sayap Kanan Amerika

bolano NaziLiterature_In_the_Americas

J.M.S. Hills

Topeka, 1905 – New York, 1936

Satu pasukan penyerbu Quantrill melintasi negara bagian Kansas dalam 500 kavaleri; dengan bendera bertuliskan semacam tanda swastika sederhana; pemberontak yang tidak pernah menyerah; rencana untuk mencapai Great Bear Lake melalui Kansas, Nebraska, South Dakota, North Dakota, Saskatchewan, Alberta, dan Northwest Territories; seorang filsuf dari Konfederasi yang punya mimpi aneh untuk mendirikan sebuah Republik Ideal di sekitar lingkaran Arktik; sebuah ekspedisi yang semakin terungkap sepanjang perjalannya, ketika dilanda hambatan baik dari manusia dan alam; dua penunggang kuda yang sudah kepayahan akhirnya mencapai Great Bear Lake, turun dari. . . . Seperti, dalam ringkasan, adalah plot novel pertama J.M.S. Hill, diterbitkan pada tahun 1924 dalam seri Fantastic Stories.

Antara setelahnya sampai kematian mendadaknya dua belas tahun kemudian, Hill telah menerbitkan lebih dari tiga puluh novel dan lebih dari lima puluh cerita.

Karakter-karakternya biasanya berdasarkan pada tokoh asli dari Perang Saudara dan bahkan tak jarang memakai nama asli mereka (Jendral Ewell, Early, penjelajah yang hilang dalam The Early Saga, Jeb Stuart muda dalam The World of Snakes, jurnalis Lee); kisahnya berlatar masa kini yang terdistorsi, atau di masa depan yang jauh dengan banyak dipenuhi kota-kota hancur yang ditinggalkan, dan lanskap menakutkan, dalam banyak hal mirip dengan Midwest. Plotnya berlimpah antara jagoan yang ditakdirkan dan ilmuwan gila; klan dan suku-suku tersembunyi yang pada waktu yang ditahbiskan harus muncul dan melakukan pertempuran dengan suku-suku tersembunyi lainnya; organisasi rahasia para pria berpakaian hitam yang berkumpul di peternakan terpencil di padang rumput; detektif swasta yang harus mencari orang hilang di planet lain; anak yang dicuri dan dibesarkan oleh ras rendahan sehingga, sampai usia dewasa, mereka dapat mengambil kendali atas suku tadi dan meluluhlantahkannya; hewan gaib dengan nafsu yang tak pernah terpuaskan; tanaman mutan; planet tak terlihat yang tiba-tiba menjadi nampak; gadis remaja yang dijadikan pengorbanan manusia; kota es dengan hanya seorang penduduk; koboi yang dikunjungi oleh malaikat; migrasi massal yang menghancurkan segala sesuatu di jalan mereka; labirin bawah tanah penuh dengan prajurit-biarawan; plot untuk membunuh presiden Amerika Serikat; pesawat angkasa yang meluncurkan bola api sebesar bumi untuk menjajah Jupiter; sekumpulan pembunuh dengan kemampuan telepati; anak-anak tumbuh sendirian di lapangan gelap yang dingin.

Gaya penulisan Hill tidak pretensius. Tokoh-tokohnya berbicara layaknya orang berbicara di Topeka pada tahun 1918. Antusiasme yang meledak-ledak kadang membuat kecerobohan gaya sesekali.

J.M.S. Hill adalah anak bungsu dari empat anak yang lahir dari seorang pendeta Gereja Episkopal dan istrinya. Ibunya seorang yang penuh kasih, sering melamun, dan sebelum pernikahannya sempat bekerja dalam sebuah film box office di kota tempat tinggalnya. Setelah meninggalkan rumah, Hill tinggal sendirian. Dia diketahui memiliki hanya satu hubungan asmara, yang tak membahagiakan. Dia jarang membahas kehidupan pribadinya di depan umum, menegaskan bahwa ia adalah, di atas segalanya, seorang penulis profesional. Secara pribadi ia membual terlibat dalam merancang seragam dan perlengkapan Nazi, yang mana hal ini sangat tidak mungkin bahwa penemuannya dikenal begitu jauh.

Novelnya penuh dengan para jagoan dan raksasa. Dengan latar terpencil, luas dan dingin. Dia menulis novel koboy dan buku detektif, tapi dia melakukan pekerjaan terbaiknya dalam fiksi ilmiah. Sejumlah buku-bukunya menggabungkan ketiga genre tadi. Pada usia dua puluh lima, ia pindah ke sebuah apartemen kecil di New York City, di mana ia meninggal enam tahun kemudian. Di antara barang-barangnya adalah sebuah novel yang belum selesai pada subjek pseudo-historis, The Fall of Troy, yang tidak akan dipublikasikan sampai tahun 1954.

*

Zach Soldestren

Los Angeles, 1962 – Los Angeles, 2021

Seorang penulis fiksi ilmiah yang sangat sukses, Zach Sodenstern adalah pencipta saga Gunther O’Connell, dalam saga Reich Keempat, dan dari saga Gunther O’Connell dan Reich Keempat, di mana dua saga sebelumnya melebur menjadi satu (Gunther O’Connell, gangster West Coast yang berbalik jadi politisi, setelah berhasil menyusup ke dalam Reich Keempat di Midwest).

Saga pertama dan kedua terdiri lebih dari sepuluh novel, sementara saga ketiga dibagi menjadi tiga novel, salah satu diantaranya belum rampung. Beberapa cerita sangat patut dicatat. A Little House in Napa (awal saga Gunther O’Connell) berlatar dalam dunia yang penuh kekerasan ekstrem yang dilakukan oleh anak-anak dan remaja, dijelaskan secara apik, tanpa kesan memunculkan pelajaran moral atau menyarankan solusi apapun untuk masalah. Novel ini tampaknya menjadi rangkaian belaka situasi tak menyenangkan dan tindakan agresi, langsung terputus pada kata TAMAT. Jika dibaca sekilas tampaknya ini bukan sebuah karya fiksi ilmiah. Hanya mimpi atau penglihatan Gunther O’Connell yang masih remaja yang memberinya semacam nuansa fantastis akan wahyu kenabian. Tidak ada petualangan ruang angkasa, robot-robot atau figur kemajuan ilmiah dalam tiap halaman-halamannya. Sebaliknya, masyarakat digambarkan telah mundur ke peradaban tingkat rendah.

Candace (1990) adalah bagian kedua dari saga Gunther O’Connell. Sang protagonis remaja telah menjadi pemuda dua puluh lima tahun yang bertekad untuk mengubah hidupnya dan hidup orang lain. Novel ini menceritakan seluk beluk pekerjaannya sebagai buruh bangunan, dan cintanya kepada seorang wanita yang sedikit lebih tua bernama Candace, yang menikah dengan seorang polisi korup. Halaman pembuka memperkenalkan pembaca pada anjing O’Connell, seekor mutan, anjing liar jenis Gembala Jerman dengan kekuatan telepati dan kecenderungan Nazi; dalam lima puluh halaman terakhir menjadi jelas bahwa gempa bumi besar telah terjadi di California dan bahwa pemerintah Amerika Serikat telah digulingkan oleh kudeta.

Revolution dan The Crystal Cathedral adalah bagian ketiga dan keempat dari saga. Revolution pada dasarnya terdiri dari dialog antara O’Connell dan anjingnya Flip ditambah berbagai episode sekunder kekerasan ekstrim dengan latar Los Angeles yang porak-poranda. The Crystal Cathedral adalah cerita tentang Tuhan, pengkhotbah fundamentalis dan makna akhir dari kehidupan. Sodenstern menggambarkan O’Connell sebagai pria syahdu yang suka menyendiri, yang membawa tengkorak kekasihnya Candace (yang dibunuh oleh suaminya dalam novel kedua) dalam tas kecil yang melekat secara permanen pada ikat pinggangnya, nostalgia mengingat berbagai serial TV lawas (dengan rincian yang sangat akurat), dan tak punya teman kecuali anjingnya, yang kemudian jadi peran yang makin penting: petualangan dan penggambara Flip menjadi sub-novel dalam novel.

The Cephalopoda dan Warriors of the South dari saga O’Connell. The Cephalopoda mencatat perjalanan O’Connell ke San Francisco bersama Flip dan petualangan mereka di kota itu (di mana kaum gay dan lesbian yang jadi penguasa). Warriors of the South mengisahkan bentrokan antara korban gempa bumi di California dan jutaan orang Meksiko kelaparan yang mengungsi ke utara secara massal, menggasak segala sesuatu di jalan mereka. Situasi ini mengingatkan konflik antara orang-orang Romawi dan bangsa barbar di pinggiran Kekaisaran.

Checking the Maps membuka saga Reich Keempat. Penuh dengan lampiran, peta, indeks tak dapat dimengerti yang menyebut beberapa nama, dan interaksi yang pasti membuat pembaca tak akan tahan. Peristiwa mengambil tempat terutama di Denver dan kota Midwestern. Tidak ada karakter utama. Kumpulan cerita acak yang kemudian digabungkan. Our Friend B dan The Ruins of Pueblo meneruskan dalam nada yang sama. Karakter yang dinamai dengan huruf atau angka, dan teks-teks yang seperti permainan teka-teki. Meskipun dipersembahkan dan dijual sebagai sebuah novel, The Fourth Reich in Denver sebenarnya panduan membaca ketiga bagian sebelumnya. The Simba—bagian terakhir sebelum pertemuan saga Reich Keempat dan O’Connell—sebuah manifesto berbelit-belit yang ditujukan menyerang ras Afrika Amerika, Yahudi dan Hispanik, memunculkan interpretasi beragam dan bertentangan.

Sodenstern adalah seorang penulis cult, dan beberapa novelnya telah diadaptasi ke sinema saat ia akan menerbitkan tiga bagian terakhir, yang menceritakan perjalanan Gunther O’Connell ke wilayah tengah benua Amerika dan pertemuan berikutnya dengan pemimpin misterius Reich Keempat. Dalam The Bat-Gangsters, O’Connell dan Flip menyeberangi Pegunungan Rockies. Dalam Anita, O’Connell yang sudah tua menemukan kembali cintanya dalam replika remaja pacar lamanya Candace (plotnya transposisi sederhana dari situasi Sodenstern pada saat itu: ia tergila-gila, seperti remaja, dengan seorang mahasiswa UCLA belia). Dan di A, O’Connell akhirnya menembus ke jantung Reich Keempat, yang membuat dia terpilih jadi pemimpin.

Menurut rencana Sodenstern, saga O’Connell dan Reich Keempat hanya terdiri dari lima novel. Dua novel terakhirnya hanya garis besar rencana kasar yang terselamatkan. Bagian keempat, yang diberi judul The Arrival, akan menceritakan secara panjang: O’Connell, Flip, Anita dan anggota Reich Keempat yang menunggu kelahiran Mesias baru. Untuk penghabisan, novel yang belum dijuduli mungkin akan menjelajahi konsekuensi dari kedatangan sang Mesias. Dalam sebuah file di komputer, Sodenstern mencatat bahwa Mesias bisa jadi anak dari Flip, tapi tidak ada yang menunjukkan bahwa ini tak lebih dari racauan belaka.

*

Gustavo Borda

Guatemala, 1954 – Los Angeles, 2016

Penulis fiksi ilmiah Guatemala paling berbakat dan paling tak beruntung ini menghabiskan masa kecil dan remaja di pedesaan. Ayahnya adalah pengawas perkebunan yang disebut Los Laureles, yang pemiliknya memiliki perpustakaan, dan sejak itu Gustavo belajar membaca dan pertama kalinya merasakan penghinaan. Membaca dan menerima hinaan yang menjadi kekhasan konstan hidupnya.

Borda doyan pada perempuan berambut pirang, dan libido yang tak terpuaskannya begitu melegenda, memprovokasi beragam lelucon dan cemoohan yang tak terhitung jumlahnya. Gampang jatuh cinta dan kemudian patah hati, hidupnya adalah sebuah rangkaian panjang penghinaan, yang ia jalani dengan ketabahan layaknya seekor binatang terluka. Anekdot tentang hidupnya di California begitu berlimpah (namun ada beberapa tentang hidupnya di Guatemala, di mana ia dianggap, meskipun sebentar, sebagai penulis besar di negaranya): dikatakan bahwa ia adalah target favorit para sadis di Hollywood; bahwa ia jatuh cinta dengan setidaknya lima aktris, empat sekretaris, dan tujuh pelayan, setiap satu dari mereka menolaknya, sangat melukai harga dirinya; bahwa sudah lebih dari satu kesempatan ia secara brutal dipukuli oleh saudara, teman, atau kekasih dari wanita yang bersangkutan; bahwa teman-temannya sendiri mengambil kesenangan saat mendapatinya mabuk terkejang-kejang lalu meninggalkan dia terbaring dalam tumpukan, di mana pun itu; bahwa ia ditipu oleh agennya, tuan tanah, dan tetangganya (Penulis skenario dan fiksi ilmiah Meksiko, Alfredo de María); bahwa kehadirannya di pertemuan dan konferensi penulis fiksi ilmiah Amerika Utara adalah sumber hiburan penuh cemooh yang sarkastis (Borda, yang bertentangan dengan mayoritas rekan-rekannya, bahkan tidak punya pengetahuan dasar sains; ketidaktahuannya di bidang astronomi , teknologi astrofisika, teori kuantum dan teknologi informasi sudah jadi rahasia umum); bahwa keberadaannya, singkatnya, adalah sebuah cendala, bagi naluri paling dalam yang tersembunyi pada orang-orang yang ia temui, untuk beberapa alasan, sepanjang perjalanan hidupnya.

Bagaimanapun, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa itu semua menghilangkan semangatnya. Dalam Diaries ia tetap menyalahkan orang-orang Yahudi dan lintah darat atas segalanya.

Gustavo Borda itu tingginya lebih dari lima kaki; ia berkulit gelap, rambut hitam tebal, dan gigi besar yang sangat putih. Tokoh-tokohnya, sebaliknya, bertubuh tinggi, berambut pirang dan bermata biru. Pesawat angkasa yang muncul dalam novel-novelnya memiliki nama-nama Jerman. Awaknya orang-orang Jerman juga. Koloni-koloni di ruang angkasa disebut New Berlin, New Hamburg, New Frankfurt, dan New Koenigsberg. Polisi kosmik berseragam dan berperilaku seperti perwira SS yang entah bagaimana berhasil bertahan ke abad dua puluh dua.

Dalam hal lain, plot Borda sepenuhnya konvensional: pemuda berangkat dalam perjalanan peresmian; anak hilang dalam luasnya semesta yang kemudian bertemu navigator tua yang bijak; cerita perjanjian a la Faust dengan setan; planet yang memiliki obat awet muda; peradaban yang hilang masih hidup secara rahasia. . . .

Dia tinggal di Guatemala City dan di Meksiko, di mana ia bekerja di segala macam pekerjaan. Buku pertamanya tak terlalu dikenal.

Setelah terjemahan novel keempatnya, Unsolved Crimes in Force-City, ke dalam bahasa Inggris, ia menjadi seorang penulis profesional, dan pindah ke Los Angeles, di mana dia menghabiskan sisa hidupnya.

Dalam menjawab pertanyaan tentang banyaknya unsur-unsur Jerman yang membingungkan pada karya seorang penulis Amerika Tengah, ia pernah berkata: “Aku telah tersiksa, diludahi, dan ditipu begitu sering—satu-satunya cara aku bisa terus hidup dan menulis itu untuk mencari perlindungan spiritual di tempat yang ideal. . . Di satu sisi, aku seperti seorang wanita yang terperangkap dalam tubuh pria. . . . “

*

Diterjemahkan dari Nazi Literature in the Americas, bagian Speculative and Science Fiction.

Borges pernah menulis ensiklopedia mengenai makhluk-makhluk imajiner, lalu Italo Calvino dengan kota-kota imajinernya, kemudian berangkat dari gagasan ini, Roberto Bolano membuat daftar penulis-penulis dan kesusastraan sayap-kanan imajiner di dataran Amerika. Tentu saja, ini bukan murni imajinasi, seperti karya lain Bolano, dia sering menggunakan tokoh dengan kisah nyatanya namun dengan nama samaran.