Kategori
Buku

7 Novel Ryū Murakami Guna Membangkitkan Sisi Psikotikmu

Ryu Murakami
Foto: Tokyo Weekender

“Jika kamu hanya membaca buku-buku yang dibaca orang lain,” sebut si seleb sastra Haruki Murakami, “kamu hanya bisa memikirkan apa yang dipikirkan orang lain.”

Jika mengamalkan saran dari Murakami ini, yang buku-bukunya begitu populer dan dibaca banyak orang, maka segera pindah untuk baca Murakami lainnya: Ryū Murakami. Meski memang, kedua Murakami ini sebenarnya dua penulis mapan. Setidaknya, Ryū lebih klandestin dan obscure ketimbang Haruki.

Penulis bernama lengkap Ryūnosuke Murakami ini didaulat sebagai seorang renaisans di masa posmodernis. Novel pertamanya terbit 1976 dan langsung diganjar Penghargaan Akutagawa yang bergengsi, debutnya ini digembar-gemborkan sebagai jenis sastra baru.

Foto: Tokyo Weekender

Penulis yang juga sutradara film ini mengejutkan dan membuat kagum pembaca dengan cerita-ceritanya yang filmis, yang seringnya mengerikan, yang merangkul tema-tema vulgar ala Jepang nan gelap dari seks, kekerasan, dan obat-obatan.

Sudah ada lebih dari 50 karya yang ditelurkannya, baik novel dan kumpulan cerpen. Daftar berikut ini tujuh di antaranya, yang telah saya khatamkan dan saya pikir ini karya-karya esensialnya. Meski karyanya bisa bebas dibaca dari judul mana saja, saya susun daftar ini berdasarkan waktu rilis, sehingga kita bisa membaca juga perjalanan kepengarangannya,

1. Almost Transparent Blue

Foto: Goodreads

Tahukah kamu kalau Almost Transparent Blue ini jadi novel favoritnya Kim Namjoon atau RM BTS?

Seperti nonton JAV. Tanpa plot cerita, semuanya soal gejolak masa muda blangsak: mabuk, ikeh-ikeh yang bengis, dan rock n roll. Sebuah kisah brutal tentang muda-mudi di sebuah kota pelabuhan Jepang yang dekat dengan pangkalan militer Amerika.

Setelah membaca beberapa karyanya, yang selalu saya suka dari Ryū Murakami adalah bagaimana ia mengakhiri tiap novelnya. Selain itu, saya selalu cinta pada tiap novel perdana dari seorang penulis.

2. Coin Locker Babies

Foto: Goodreads

Ditinggalkan saat lahir di loker stasiun kereta yang berdekatan, dua anak laki-laki menghabiskan masa muda mereka di panti asuhan dan dengan orang tua asuh di pulau terpencil. Mereka akhirnya berangkat ke kota untuk menemukan dan menghancurkan wanita yang pertama kali menolak mereka: ibu kandungnya.

Bersama-sama dan terpisah, perjalanan mereka dari kotak logam panas ke klimaks buas yang memukau adalah perjalanan brutal melalui lanskap menakutkan Jepang akhir abad ke-20. Sebuah kisah coming-of-age surealis yang menjadikan Ryū Murakami sebagai salah satu penulis paling kreatif di dunia saat ini.

3. 69

Foto: Goodreads

Ini musim panas tahun 1969. Kensuke Yazaki berusia tujuh belas tahun dan tertarik pada segalanya: Rolling Stones, Rimbaud, Velvet Underground, French New Wave, Jimi Hendrix, protes politik dan Janis Joplin, yang semuanya ada di negara lain yang sangat jauh.

Kensuke dan teman-temannya membawa semua itu ke kota kecil mereka, memulai gerakan pembangkangan, membarikade sekolah mereka, membuat film, mengadakan festival. Bukan demi seni atau politik, melainkan untuk alasan yang jauh lebih penting, untuk satu-satunya alasan nyata: menggaet para gadis.

Karya Murakami yang manis dan semi-otobiografi yang luar biasa, tentang masa yang menyenangkan di usia yang menyenangkan. Novel 69 begitu komikal dan penuh gairah.

4. Popular Hits of the Showa Era

Foto: Goodreads

Sebuah novel tentang perang, secara harfiah, antara para janda kesepian dengan gerombolan pemuda tanggung yang doyan mabuk, ngintip dan karaokean. Sureal dan komikal. Berawal dari pisau lipat, lalu pedang, lalu rudal, sampai bom atom rakitan.

Siapa sangka kalau “perang geng” yang mematikan bisa dibaca sangat menyenangkan? Ryū Murakami membangun konflik menjadi sindiran lucu atas budaya modern dan ketegangan antar jenis kelamin serta generasi.

Sebagai tambahan, Midori-nya Ryū Murakami yang ada di Popular Hits of the Showa Era lebih bangsat ketimbang Midori yang di Norwegian Wood itu.

5. Piercing

Foto: Goodreads

Setiap malam, ketika istrinya sudah tidur, Kawashima Masayuki diam-diam meninggalkan ranjangnya dan mengawasi tempat tidur bayi perempuannya. Ini bukan adegan rumah tangga biasa. Ada pemecah es di tangan Kawashima, dan keinginan tak terkendali untuk menggunakannya. Memutuskan untuk menghadapi roh-roh jahat dalam dirinya, Kawashima menggerakkan serangkaian peristiwa yang tampaknya mengarah pada pembunuhan.

Piercing cocok untuk meluapkan jiwa-jiwa sadomasokis dalam diri kita. Namun, Ryū Murakami tak sekadar mengeksploitasi kekerasan. Ia berangkat dari satu permasalahan yang hingga kini masih dianggap masalah akut: kekerasan anak. Memang, dengan cara yang aneh.

6. Audition

Foto: Goodreads

Saat awal membaca saya pikir novelnya mengarah ke semacam audisi pemain bokep, tapi ternyata ini novel Ryū Murakami paling kalem yang saya baca sejauh ini.

Tentang seorang duda berusia 40-an, yang tak bisa move on setelah ditinggal mati istrinya. Ia kemudian coba bikin audisi-audisian, untuk mencari pasangan ideal buat dirinya, sebuah saran dari kawannya. Meski berjudul Audition, proses audisinya justru tak terlalu ditonjolkan, langsung fokus pada satu peserta audisi tersebut, seorang cewek pertengahan 20-an yang menarik hati si duda tadi.

Galau dan derita orang yang jatuh cinta yang dipotret novel itu betul-betul saya suka. Seperti biasa, Murakami yang ini selalu menawarkan klimaks nyeleneh di akhir-akhir.

Tak lupa, film adaptasi dari novel ini yang digarap oleh Takashii Mike jadi salah satu karya penting dalam sinema Jepang.

Audition (1999)

7. In the Miso Soup

Foto: Goodreads

Panduan lengkap Saritem-nya Tokyo yang diceritakan dengan gaya novel stensilan tapi sastrawi, semacam ‘fusion’ antara Fyodor Dostoyevsky dan Abdullah Harahap. Dalam beberapa kesempatan, saya membaca novel vulgar ini sambil selonjoran di Masjid Al Ukhuwah seberang Pemkot Bandung.

Tepat sebelum Tahun Baru, seorang turis gembrot asal Amerika bernama Frank menyewa Kenji untuk memandunya dalam tur keliling kehidupan malam Tokyo selama tiga malam berturut-turut. Perilaku Frank sangat aneh, bikin Kenji mulai curiga kalau klien barunya ini sebenarnya pembunuh berantai yang tengah meneror kota ini. Sampai kemudian Kenji menyadari ada bahaya begitu besar yang justru harus ia takutkan, dan bahwa pertemuannya dengan Frank akan mengubah hidupnya.

Bagi yang ingin menjelajahi semesta Ryū Murakami, saya rekomendasikan In the Miso Soup ini untuk dibaca pertama kali. Jika klop, saya jamin setelahnya ada keinginan untuk menganjingkan Haruki Murakami.

Kategori
Non Fakta

Dunia Telah Berubah dan Meninggalkan Saya di Sini

cartil irfan noormansyah

Apa yang kau rasakan saat menonton kota tempat tinggalmu dibom hidrogen?

Pukul tujuh malam lewat lima belas, saat bom itu dijatuhkan, saya sedang makan mie kuah di warung pinggir jalan di Caringin Tilu. Berdua bersama pacar saya. Gerimis masih turun. Susah harus milih lihat Kota Bandung atau kamu, gombal saya, sama-sama cantik, sih. Dia tersenyum. Senyum meledek. Untuk kemudian menggetok kepala saya dengan botol air mineral yang berisi setengah. Eh, si anjing teh, umpat saya. Dia terkekeh. Saya makan lebih cepat darinya. Sambil menunggunya, saya membual soal novel yang akan saya rampungkan. Entah kapan. Bakal ada namamu di lembar depan, janji saya. Sebuah novel dengan latar tempat Bandung, ceritanya sendiri entah bagaimana, tapi satu yang pasti, bakal diakhiri dengan kehancuran kota ini. Sebuah ledakan besar, ungkap saya. Semacam Bandung Lautan Api? tanyanya. Hmm, inspirasinya emang itu, timpal saya. Dia melirik ke arah Kota Bandung di bawah sana. Membetulkan posisi kacamatanya. Dengan tangan kiri, dia menyibak helain rambut sebahunya ke belakang telinga kiri. Seakan-akan itu dilakukan dalam tempo lambat, dan saya merasa kagum atas tiap gerakan yang dia buat. Saat cuping telinganya tersingkap, saya merasa kecantikannya makin bertambah-tambah. Dari bagian tubuh yang lain, saya baru sadar telinganya adalah yang paling indah dan memikat. Dia kembali mengarahkan pandangan pada saya. Pura-pura tak melihatnya, saya menyulut rokok yang sudah ada di mulut. Kayak ending di novel Ryu Murakami gitu, sebut saya sambil menghembuskan asap rokok. Duarrr!

Apa yang kau rasakan saat menonton kota tempat tinggalmu dibom hidrogen?

Terasa begitu cepat. Diawali dengan bulatan terang di tengah kota sana. Kilatan cahaya yang begitu silau menyapu daratan. Malam jadi terang. Terlalu terang. Terang yang membutakan. Tanah bergetar hebat. Angin menghembus kuat. Saya cepat-cepat menariknya dan mendekapnya ke lantai. Tak terpikirkan sebelumnya saya bisa beraksi seheroik ini. Dia balik memeluk. Begitu erat.

*

Foto: Irfan Noormansyah

Kategori
Celotehanku

Bildungsroman

Aku suka baca banyak buku sebelum debutku, ungkap Rap Monster. Apa ada buku yang sudah kamu baca lalu ingin kamu rekomendasikan buat kami? tanya Jeon Hyunmoo, dalam sebuah acara bincang-bincang Problematic Men. Ada banyak pendapat yang berbeda tentang buku ini, jelas Rap Monster, yakni karya Ryu Murakami, “Almost Transparent Blue”. Rap Monster, nama panggung dari Kim Namjoon, adalah member BTS yang memang dikenal sebagai kutu buku. Transparent blue? ulang Hyunmoo memastikan. Ya, jawab si rapper, ini karya debutnya. Apakah novelnya cabul? tanya Hyunmoo. Ya, sangat cabul dan sia-sia dan campur aduk tapi setelah membaca buku itu…. bagaimana aku harus mengatakannya, jelas Rap Monster ragu. Apakah kamu menyukainya? tanya Hyunmoo. Aku mendapat kepuasan tersendiri, jawab Rap Monster dengan lugas. Almost Transparent Blue sendiri, adalah novel tanpa plot, namun membacanya seperti naik roller coaster, juga seperti nonton JAV, hanya soal gejolak masa muda blangsak: mabuk-mabukan, persetubuhan yang bengis, dan rock n roll. Saya terkejut, sekaligus kagum, ada idol yang buku favoritnya novel beginian. Selain itu, berkat Rap Monster, saya, juga jutaan fans BTS lainnya, jadi tertarik membaca novel dari Hermann Hesse gara-gara dijadikan inspirasi buat lagu terbaru mereka. Ada pesan masuk di WhatsApp: Ip, ada buku Herman Hesse? Demian dan Sinclair? Rek pinjam. Ebook sih, jawab saya. Gara-gara BTS nyak? terka saya.

Awalnya saya hanya melihat resensi Demian: The Story of Emil Sinclair’s Youth, dan menemukan istilah Bildungsroman. Definisinya, genre sastra ini berfokus pada pertumbuhan psikologis dan moral protagonis menuju kedewasaan, menekankan pada perubahan karakter. Nama lainnya coming-of-age, tapi ada yang menggolongkan sebagai sub-genre yang lebih spesifik lagi dari coming of age. Mengesampingkan soal teorisasi dan teknis soal genre tersebut, sejauh ini, novel macam beginilah yang paling saya sukai. Untuk saat ini. Saya mengkhatamkan novel dari Hesse ini, dan memang menikmatinya, saya merasakan ada kesamaan dengan A Portrait of the Artist as a Young Man, dari James Joyce. Genre ini sering menampilkan konflik batin antara si karakter utama dengan masyarakat. Beberapa contoh novel yang masuk golongan Bildungsroman antara lain; Candide (Voltaire), Great Expectations (Charles Dickens), The Adventures of Huckleberry Finn (Mark Twain), The Magic Mountain (Thomas Mann), The Catcher in the Rye (J. D. Salinger), To Kill a Mockingbird (Harper Lee), Norwegian Wood (Haruki Murakami), Sophie’s World (Jostein Gaarder), The Kite Runner (Khaled Hosseini), Never Let Me Go (Kazuo Ishiguro), dan banyak lagi. Membaca beragam novel tadi, meski dengan latar yang jauh dan lampu, justru terasa begitu dekat. Saya sering berpikir kalau si pengarang menuliskannya langsung buat saya. Enggak pernah bosan untuk melahap beragam buku bergenre ini. Namun seperti yang dirasakan Emil Sinclair, buku-buku hanya jadi lembar kertas, musik hanya jadi bising.

Kedengaran melodramatik, lebih tepatnya cengeng, karena boleh dibilang saya menganggap diri sebagai protagonis dalam sebuah novel bildungsroman. Seorang anak muda, naif, pretensius, penuh idealisme, yang kebanyakan cuma omong besar dan omong kosong, yang kudu menghadapi dunia nyata yang berbeda dengan bayangannya. Juga tentang pertanyaan akan berbagai konsepsi umum, tujuan hidup, nilai benar salah, moralitas, kemanusiaan, dan lain-lain, dan banyak lainnya. Kemudian timbul keenggakpahaman dan penolakan. Idealisasi itu terbentur sesuatu yang dinamakan “dunia nyata”, dan makin menyiksa karena sekarang saya hidup di masa modern, di era kapitalisme lanjut. Seperti yang digambarkan Ryu Murakami dalam 69; “Semua ini adalah sebuah pabrik, rumah penyortiran. Kita tidak berbeda dari anjing dan babi dan sapi: kita semua diizinkan untuk bermain ketika kita masih bocah, tapi kemudian, tepat sebelum mencapai kematangan, kita disortir dan diklasifikasikan.” Ingin memberontak, mendobrak beragam hal, dan, untuk kasus saya, hanya berakhir untuk mengasihani diri. Ini seperti Alice yang nyasar di Wonderland, lalu bertanya, Ke mana saya harus pergi? Si kucing menimpali, Itu tergantung di mana kamu ingin berakhir. Bingung terus menjadi, semakin bertambah. Demian terus merecoki. Muncul isi kepala Emil Sinclair: Di luar sana adalah “kenyataan”; Di luar sana adalah “kenyataan”; di luar sana jalanan dan gedung-gedung, orang-orang dan institusi-institusi, perpustakaan-perpustakaan dan ruang-ruang kuliah – tapi di dalam sini ada cahaya, dan jiwa; tempat mimpi-mimpi dan dongeng terus hidup.