The People’s Game: Salman Rushdie’s Notes

jurgen klinsmann tottenham hotspur

1. WE ARE THE WORLD

In 1994, when the soccer World Cup was about to be played across the length and breadth of a largely indifferent America, perhaps the main concern of those few U.S. citizens who knew it was happening was that the alien phenomenon of soccer hooliganism might be about to arrive in the States. Fortunately the England team failed to make the finals, and so the feared English hooligans stayed home. Fortunately for the hooligans, I suspect, for, as I heard an American comedian explaining on British television, the World Cup matches were to be played in some of the toughest neighborhoods of some of the toughest cities in the world. “I tell you what,” he suggested. “Why don’t you bring your hooligans, and we’ll bring ours.”

Baca Selengkapnya

The Satanic Verses: Perjanjian Salman Rushdie dengan Setan

satanic verse salman rushdie

Pada hari Valentine 1989, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Khomeini, mendeklarasikan hukuman mati pada novelis India Inggris Salman Rushdie untuk bukunya The Satanic Verses, bersama dengan siapa pun yang membantu perilisannya: “Saya meminta semua Muslim untuk mengeksekusi mereka di mana pun jika menemukan mereka.”

Ayatollah menuduh Rushdie menghujat, menodai Islam dan nabi Muhammad, meskipun banyak yang melihatnya sebagai seruan putus asa akan dukungan rakyat setelah satu dekade perang yang memalukan dengan Irak. Kemudian terjadi berbagai kerusuhan, demonstrasi, dan pembakaran buku di seluruh Eropa dan Timur Tengah. Ancaman kematian mengalir deras. Viking Penguin, penerbit Rushdie di Inggris, diancam akan dibom.

Baca Selengkapnya

Kebenaran, Kebohongan dan Sastra

“Apa, kamu gila? Kamu gila?” Falstaff menuntut Pangeran Hal, dalam karya Shakespeare “Henry IV, Bagian 1.” “Bukankah kebenaran itu kebenaran?” Lelucon itu, tentu saja, adalah bahwa dia telah menundukkan kepalanya, dan sang pangeran sedang dalam proses menelanjanginya sebagai seorang pembohong. Di masa seperti saat ini, ketika realitas itu sendiri di mana-mana tampak diserang, pandangan Falstaff … Baca Selengkapnya

Game Dev Girls: Sebuah Usaha Merancang Video Game

game dev girl

Aku pikir video game lebih dekat dengan fiksi ketimbang apa pun hari ini, sebut Haruki Murakami. Video game? tanya pewawancara dari The Paris Review. Iya, jawab Murakami. Aku sendiri enggak suka main video game, tapi aku menemukan kesamaan. Kadang-kadang ketika aku menulis aku merasa aku perancang video game, dan pada saat yang sama, sang pemainnya. Aku membuat program, dan sekarang aku di tengah-tengah itu; tangan kiri tidak tahu apa yang dilakukan tangan kanan. Ini jadi semacam proses memperasingkan diri.

Baca Selengkapnya

Julian Barnes dan Leicester City

julian barnes leicester

Jika Salman Rushdie pendukung Tottenham Hotspur, maka Julian Barnes, penulis Inggris peraih Man Booker Prize itu, adalah fans Leicester City. Saat Chelsea menahan imbang Spurs, sehingga memantapkan Leicester jadi jawara Liga Inggris musim 2015-16, Rushdie dan saya sudah pasti senewen, sementara Barnes berbinar-binar. Ketika Persib juara, saya sampai berani buka kaus, bertelanjang dada dan lari ke jalan, lalu menari kayak orang gila, entah bagaimana reaksi seorang Barnes, saya enggak tahu.

Baca Selengkapnya

Esai Salman Rushdie: Musik Rock

bob

Saya baru saja menanyakan Vaclav Havel soal kekagumannya pada ikon rock Amerika Lou Reed. Dia menjawab bahwa sangat mustahil untuk melebih-lebihkan pentingnya musik rock dalam perlawanan rakyat Ceko pada masa-masa gelap antara Prague Spring sampai tumbangnya Komunisme. Saya hanya menikmati gambaran kejiwaan gerakan bawah tanah rakyat Ceko yang mendengar Velvet Underground memainkan “Waiting for the Man,” “I’ll Be Your Mirror,” atau “All Tomorrow’s Parties” lalu Havel menambahkan, dengan wajah sungguh-sungguh, “Apa kau sempat berpikir kenapa kami menamakan ini Revolusi Velvet?”

Baca Selengkapnya