Kategori
Buku

7 Novel Ryū Murakami Guna Membangkitkan Sisi Psikotikmu

Ryu Murakami
Foto: Tokyo Weekender

“Jika kamu hanya membaca buku-buku yang dibaca orang lain,” sebut si seleb sastra Haruki Murakami, “kamu hanya bisa memikirkan apa yang dipikirkan orang lain.”

Jika mengamalkan saran dari Murakami ini, yang buku-bukunya begitu populer dan dibaca banyak orang, maka segera pindah untuk baca Murakami lainnya: Ryū Murakami. Meski memang, kedua Murakami ini sebenarnya dua penulis mapan. Setidaknya, Ryū lebih klandestin dan obscure ketimbang Haruki.

Penulis bernama lengkap Ryūnosuke Murakami ini didaulat sebagai seorang renaisans di masa posmodernis. Novel pertamanya terbit 1976 dan langsung diganjar Penghargaan Akutagawa yang bergengsi, debutnya ini digembar-gemborkan sebagai jenis sastra baru.

Foto: Tokyo Weekender

Penulis yang juga sutradara film ini mengejutkan dan membuat kagum pembaca dengan cerita-ceritanya yang filmis, yang seringnya mengerikan, yang merangkul tema-tema vulgar ala Jepang nan gelap dari seks, kekerasan, dan obat-obatan.

Sudah ada lebih dari 50 karya yang ditelurkannya, baik novel dan kumpulan cerpen. Daftar berikut ini tujuh di antaranya, yang telah saya khatamkan dan saya pikir ini karya-karya esensialnya. Meski karyanya bisa bebas dibaca dari judul mana saja, saya susun daftar ini berdasarkan waktu rilis, sehingga kita bisa membaca juga perjalanan kepengarangannya,

1. Almost Transparent Blue

Foto: Goodreads

Tahukah kamu kalau Almost Transparent Blue ini jadi novel favoritnya Kim Namjoon atau RM BTS?

Seperti nonton JAV. Tanpa plot cerita, semuanya soal gejolak masa muda blangsak: mabuk, ikeh-ikeh yang bengis, dan rock n roll. Sebuah kisah brutal tentang muda-mudi di sebuah kota pelabuhan Jepang yang dekat dengan pangkalan militer Amerika.

Setelah membaca beberapa karyanya, yang selalu saya suka dari Ryū Murakami adalah bagaimana ia mengakhiri tiap novelnya. Selain itu, saya selalu cinta pada tiap novel perdana dari seorang penulis.

2. Coin Locker Babies

Foto: Goodreads

Ditinggalkan saat lahir di loker stasiun kereta yang berdekatan, dua anak laki-laki menghabiskan masa muda mereka di panti asuhan dan dengan orang tua asuh di pulau terpencil. Mereka akhirnya berangkat ke kota untuk menemukan dan menghancurkan wanita yang pertama kali menolak mereka: ibu kandungnya.

Bersama-sama dan terpisah, perjalanan mereka dari kotak logam panas ke klimaks buas yang memukau adalah perjalanan brutal melalui lanskap menakutkan Jepang akhir abad ke-20. Sebuah kisah coming-of-age surealis yang menjadikan Ryū Murakami sebagai salah satu penulis paling kreatif di dunia saat ini.

3. 69

Foto: Goodreads

Ini musim panas tahun 1969. Kensuke Yazaki berusia tujuh belas tahun dan tertarik pada segalanya: Rolling Stones, Rimbaud, Velvet Underground, French New Wave, Jimi Hendrix, protes politik dan Janis Joplin, yang semuanya ada di negara lain yang sangat jauh.

Kensuke dan teman-temannya membawa semua itu ke kota kecil mereka, memulai gerakan pembangkangan, membarikade sekolah mereka, membuat film, mengadakan festival. Bukan demi seni atau politik, melainkan untuk alasan yang jauh lebih penting, untuk satu-satunya alasan nyata: menggaet para gadis.

Karya Murakami yang manis dan semi-otobiografi yang luar biasa, tentang masa yang menyenangkan di usia yang menyenangkan. Novel 69 begitu komikal dan penuh gairah.

4. Popular Hits of the Showa Era

Foto: Goodreads

Sebuah novel tentang perang, secara harfiah, antara para janda kesepian dengan gerombolan pemuda tanggung yang doyan mabuk, ngintip dan karaokean. Sureal dan komikal. Berawal dari pisau lipat, lalu pedang, lalu rudal, sampai bom atom rakitan.

Siapa sangka kalau “perang geng” yang mematikan bisa dibaca sangat menyenangkan? Ryū Murakami membangun konflik menjadi sindiran lucu atas budaya modern dan ketegangan antar jenis kelamin serta generasi.

Sebagai tambahan, Midori-nya Ryū Murakami yang ada di Popular Hits of the Showa Era lebih bangsat ketimbang Midori yang di Norwegian Wood itu.

5. Piercing

Foto: Goodreads

Setiap malam, ketika istrinya sudah tidur, Kawashima Masayuki diam-diam meninggalkan ranjangnya dan mengawasi tempat tidur bayi perempuannya. Ini bukan adegan rumah tangga biasa. Ada pemecah es di tangan Kawashima, dan keinginan tak terkendali untuk menggunakannya. Memutuskan untuk menghadapi roh-roh jahat dalam dirinya, Kawashima menggerakkan serangkaian peristiwa yang tampaknya mengarah pada pembunuhan.

Piercing cocok untuk meluapkan jiwa-jiwa sadomasokis dalam diri kita. Namun, Ryū Murakami tak sekadar mengeksploitasi kekerasan. Ia berangkat dari satu permasalahan yang hingga kini masih dianggap masalah akut: kekerasan anak. Memang, dengan cara yang aneh.

6. Audition

Foto: Goodreads

Saat awal membaca saya pikir novelnya mengarah ke semacam audisi pemain bokep, tapi ternyata ini novel Ryū Murakami paling kalem yang saya baca sejauh ini.

Tentang seorang duda berusia 40-an, yang tak bisa move on setelah ditinggal mati istrinya. Ia kemudian coba bikin audisi-audisian, untuk mencari pasangan ideal buat dirinya, sebuah saran dari kawannya. Meski berjudul Audition, proses audisinya justru tak terlalu ditonjolkan, langsung fokus pada satu peserta audisi tersebut, seorang cewek pertengahan 20-an yang menarik hati si duda tadi.

Galau dan derita orang yang jatuh cinta yang dipotret novel itu betul-betul saya suka. Seperti biasa, Murakami yang ini selalu menawarkan klimaks nyeleneh di akhir-akhir.

Tak lupa, film adaptasi dari novel ini yang digarap oleh Takashii Mike jadi salah satu karya penting dalam sinema Jepang.

Audition (1999)

7. In the Miso Soup

Foto: Goodreads

Panduan lengkap Saritem-nya Tokyo yang diceritakan dengan gaya novel stensilan tapi sastrawi, semacam ‘fusion’ antara Fyodor Dostoyevsky dan Abdullah Harahap. Dalam beberapa kesempatan, saya membaca novel vulgar ini sambil selonjoran di Masjid Al Ukhuwah seberang Pemkot Bandung.

Tepat sebelum Tahun Baru, seorang turis gembrot asal Amerika bernama Frank menyewa Kenji untuk memandunya dalam tur keliling kehidupan malam Tokyo selama tiga malam berturut-turut. Perilaku Frank sangat aneh, bikin Kenji mulai curiga kalau klien barunya ini sebenarnya pembunuh berantai yang tengah meneror kota ini. Sampai kemudian Kenji menyadari ada bahaya begitu besar yang justru harus ia takutkan, dan bahwa pertemuannya dengan Frank akan mengubah hidupnya.

Bagi yang ingin menjelajahi semesta Ryū Murakami, saya rekomendasikan In the Miso Soup ini untuk dibaca pertama kali. Jika klop, saya jamin setelahnya ada keinginan untuk menganjingkan Haruki Murakami.

Kategori
Buku

7 Novel Berlatar Tokyo Karya Penulis Perempuan

Ini adalah kota yang riuh. Ini adalah kota lama Edo yang terdiri dari kuil-kuil Budha tradisional dan kuil-kuil Shinto. Ini juga merupakan kota pra-perang dengan yokocho, gang-gang sempit yang di dalamnya terdapat izakaya dan warung ramen. Ini adalah kota metropolis modern dengan kafe kawaii, kawasan perbelanjaan, musik bawah tanah, dan Restoran Robot. Setiap buku yang berlatar di Tokyo menangkap esensi dari bagian kehidupan Tokyo yang berbeda.

Namun, mari menyingkirkan dulu The Wind Up Bird Chronicle (Haruki Murakami) dan In the Miso Soup (Ryu Murakami), yang begitu maskulin. Kita jelajahi Tokyo dengan perspektif lain, lewat novel-novel yang dikerjakan para penulis perempuan.

Ini adalah novel-novel yang merayakan Tokyo, menggali sisi gelap kota, menjelajahi perkawinan antara yang tradisional dan yang modern. Menawarkan kepada pembaca pandangan yang akrab dan dinamis tentang Tokyo. Beberapa gelap, beberapa lucu, beberapa romantis, semuanya indah dengan caranya sendiri. Membaca novel-novel yang berlatar di Tokyo ini akan memikat kita ke ibu kota Jepang yang luar biasa ini.

1. The Last Children of Tokyo – Yoko Tawada

the last children of tokyo yoko tawada
Foto: Goodreads.com

Yoshiro, seorang penulis yang sudah pensiun, telah melewati hari ulang tahunnya yang keseratus dan masih menghabiskan setiap pagi dengan jogging dengan anjing sewaannya – hanya ada beberapa hewan yang tersisa di Jepang. Cicitnya, Mumei, lahir, seperti segenerasinya, dengan rambut beruban dan kesehatan yang buruk. Harapan hidupnya buruk, dan tulangnya kemungkinan akan rapuh sebelum dia keluar dari masa remajanya.

Yoshiro dan Mumei ada dalam buku sebagai contoh menarik dari masyarakat mereka: Jepang versi distopia ketika kota-kota sebagian besar telah ditinggalkan, ikatan dengan dunia luar telah terputus, semua bahasa lain tidak lagi diajarkan atau diucapkan.

Novel ini melukiskan pandangan yang sangat distopian tentang Tokyo, tetapi yang terasa tidak terlalu jauh. Membandingkan bagaimana orang-orang di sana hidup dengan dunia masa depan yang menakutkan di Tokyo mendorong beberapa pertimbangan gelap dari dunia yang kita jalani lebih dekat setiap hari.

2. Moshi Moshi – Banana Yoshimoto

moshi moshi banana yoshimoto
Foto: Goodreads.com

Banana Yoshimoto adalah salah satu novelis modern terbaik Jepang. Dia adalah penulis yang sangat filosofis, dipertimbangkan, liberal, dan eksploratif yang menunjukkan hubungan intim dengan cinta, kehidupan, dan kematian. Moshi Moshi, sebuah istilah Jepang yang diucapkan saat mengangkat telepon, adalah salah satu novel yang paling dicintai.

Dalam Moshi Moshi, kawasan Shimokitazawa dijadikan latar. Distrik ini menggabungkan kehidupan hipster modern dengan suasana retro dan tradisional, dan sangat cocok dengan tokoh protagonis dari novel Yoshimoto.

Setelah Yoshie kehilangan ayahnya karena pakta bunuh diri yang aneh, dia dan ibunya pindah ke Shimokitazawa untuk memulai hidup baru, tetapi tak lama kemudian Yoshie terganggu oleh mimpi buruk dirinya yang mencoba memanggil ayahnya ketika dia mencari telepon yang dia tinggalkan pada hari dia bunuh diri. Seperti semua buku Yoshimoto, ini adalah novel Jepang tentang hubungan antara cinta dan kematian, dan salah satu buku Jepang modern terbaik yang ada.

3. Strange Weather in Tokyo – Hiromi Kawakami

strange weather in tokyo hiromi kawakami
Foto: Goodreads.com

Dari semua buku yang ada di Tokyo, ini adalah buku yang paling memahami dan mengeksplorasi hubungan yang hampir mustahil antara dunia Edo lama di Jepang dan kehidupan metropolitan modern di Tokyo saat ini. Hubungan itu diwujudkan oleh dua protagonis kita: sepasang kekasih yang tidak biasa yang harus belajar untuk memahami perbedaan mereka agar cinta mereka berhasil.

Strange Weather in Tokyo adalah bentrokan budaya dan kebiasaan Jepang modern dan klasik, dan metode kencan modern dan cuaca. Tulisannya bersih, lugas, dan secara mengejutkan cepat. Kisah cinta yang aneh dan mengasyikkan terletak di bar-bar kecil, jalan-jalan kecil, dan kafe-kafe di Tokyo.

Tsukiko, seorang pekerja kantoran modern, dan sensei-nya, seorang lelaki yang hampir kehabisan waktu, membuat dua pasangan kekasih termanis yang pernah ditulis dalam sebuah novel Jepang.

4. The Nakano Thrift Shop – Hiromi Kawakami

nakano thrift shop hiromi kawakami
Foto: Goodreads.com

Dua buku Kawakami berturut-turut? Ini kurang lebih tanda betapa bersemangatnya dia melukis kehidupan modern Tokyo. Jika Strange Weather di Tokyo adalah metafora yang jelas dari Tokyo lama-baru, maka The Nakano Thrift Shop adalah drama irisan kehidupan tentang sekelompok muda-mudi Tokyo, yang semuanya bekerja dan menghabiskan waktu di toko barang bekas yang unik.

Tokoh-tokoh yang mengisi buku ini adalah sekelompok anak muda yang manis dan beraneka ragam, mewakili gambaran milenial khas Jepang abad ke-21. Dari semua buku yang berlatar di Tokyo, The Nakano Thrift Shop memberikan perspektif tingkat jalanan yang sangat spesifik tentang kaum muda kota ini dan cinta yang tenang namun unik yang mereka jalani.

5. Out – Natsuo Kirino

out natsuo kirino
Foto: Goodreads.com

Out mengikuti kisah seorang wanita yang bekerja di sebuah pabrik di Tokyo, kelelahan karena harus menjadi seorang ibu dan mendukung suaminya yang tidak berguna dan tidak setia.

Ketika protagonis membentak dan membunuh suaminya, ia meminta bantuan kepada rekan kerjanya di pabrik untuk menutupi jejaknya. Tak lama kemudian mereka harus menangkis tidak hanya polisi tetapi juga keluarga kriminal yakuza setempat. Out adalah novel kriminal Jepang yang marah dan menggembirakan serta karya sastra feminis Jepang.

Ini adalah karya sastra feminis Jepang yang kuat, tetapi juga mengangkat selubung antara jalan-jalan Tokyo yang cerah dan bersih yang kita semua pahami, dan dunia kelas pekerja Tokyo yang gelap dan sulit yang jarang kita pikirkan.

6. Convenience Store Woman – Sayaka Murata

convenience store woman sayaka murata
Foto: Goodreads.com

Salah satu buku favorit saya sepanjang masa. Convenience Store Woman menawarkan kepada kita pandangan langka dan tak biasa ke dunia yang dilihat oleh semua orang di Tokyo tetapi tidak selalu tampak atau bahkan dipertimbangkan. Sesuatu yang wajar bagi seorang siswa bekerja paruh waktu di sebuah toko serba ada, tetapi protagonis Murata sedikit berbeda.

Keiko Furukura berusia tiga puluh enam dan telah bekerja paruh waktu di toko yang sama selama delapan belas tahun. Dia telah melihat delapan manajer, yang dia sebut hanya dengan nomor mereka, dan lebih banyak rekan kerja daripada yang bisa dia hitung. Dia sepenuhnya puas dengan hidupnya, dan tidak pernah meminta apa pun lagi; bukan pekerjaan yang lebih baik, lebih banyak uang, atau bahkan pasangan untuk berbagi hidupnya.

Keiko ditekan oleh orang-orang di sekitarnya untuk membuat sesuatu dari dirinya sendiri, dan orang yang mengerti yang terbaik adalah orang bodoh yang biadab dan kasar yang bertindak sebagai lawan maskulin yang biasanya sangat agresif terhadapnya.

Convenience Store Woman menunjukkan kepada kita semesta toko serba ada. Toko-toko kecil ini, yang dikenal sebagai konbini di Jepang, ada di setiap jalan di Tokyo. Mereka adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan Jepang modern. Convenience Store Woman merayakan pekerjanya sambil menunjukkan kepada kita cara berbeda untuk hidup di dunia modern ini.

7. Tokyo Ueno Station – Yu Miri

tokyo ueno station yu miri
Foto: Goodreads.com

Novel pendek, yang marah, dan bermuatan politis oleh salah satu penulis modern paling berbakat dan tajam di Jepang saat ini. Tokyo Ueno Station melukiskan gambaran yang jujur ​​dan kejam tentang realitas perbedaan kelas dan ketidakadilan yang ditimbulkan kapitalisme modern. Ini adalah bukti bahwa meritokrasi adalah lelucon, dan bahwa ketidakadilan adalah kebenaran kehidupan modern, bahkan di kota yang damai seperti Tokyo.

Bertempat di Taman Ueno, protagonis novelnya adalah hantu lelaki tunawisma yang meninggal di taman yang sama itu tetapi memberikan hidupnya untuk membangun kota metropolitan modern yang kita kenal dan cintai hari ini.

Kazu lahir pada tahun yang sama dengan kaisar Jepang, dan kedua putra lelaki itu lahir pada hari yang sama. Sementara kaisar terlahir di puncak keistimewaan, Kazu lahir di pedesaan Fukushima, tempat yang nantinya akan dirusak oleh kehancuran pada 2011. Sementara putra kaisar akan terus menjalani hidup yang sehat, berbanding terbalik dengan kehidupan putra Kazu, dan Kazu sendiri akan menjalani hari-hari terakhirnya sebagai salah satu dari banyak tunawisma di Taman Ueno.

Tokyo Ueno Station berfungsi sebagai pengingat bahwa setiap manusia hanyalah manusia. Ini adalah observasi yang jujur ​​dan deklarasi kesedihan dari kehidupan kapitalis modern.

Baca juga: 10 Manga Shonen Karya Perempuan

Kategori
Catutan Pinggir

Kebenaran, Kebohongan dan Sastra

rushdie-truth-lies-and-literature

“Apa, kamu gila? Kamu gila?” Falstaff menuntut Pangeran Hal, dalam karya Shakespeare “Henry IV, Bagian 1.” “Bukankah kebenaran itu kebenaran?” Lelucon itu, tentu saja, adalah bahwa dia telah menundukkan kepalanya, dan sang pangeran sedang dalam proses menelanjanginya sebagai seorang pembohong.

Di masa seperti saat ini, ketika realitas itu sendiri di mana-mana tampak diserang, pandangan Falstaff tentang kebenaran tampaknya disebarkan oleh banyak pemimpin berkuasa. Di tiga negara yang telah saya habiskan hidup saya – India, Inggris, dan Amerika Serikat – kebohongan yang melayani dirinya sendiri secara teratur disajikan sebagai fakta, sementara informasi yang lebih dapat dipercaya direndahkan sebagai “berita palsu.” Namun, para pembela yang nyata, mencoba untuk membendung aliran informasi yang membanjiri kita semua, sering membuat kesalahan dengan merindukan masa keemasan ketika kebenaran tidak terbantahkan dan diterima secara universal, dan dengan berdebat bahwa apa yang kita butuhkan adalah kembali ke konsensus yang mulia itu.

Kebenarannya adalah bahwa kebenaran itu selalu menjadi ide yang diperebutkan. Sebagai seorang mahasiswa sejarah, di Cambridge, saya belajar bahwa beberapa hal adalah “fakta dasar” – yaitu, peristiwa yang tidak dapat dibantah, seperti bahwa Pertempuran Hastings terjadi pada tahun 1066, atau bahwa Deklarasi Kemerdekaan Amerika disetujui pada 4 Juli 1776. Tetapi penciptaan fakta sejarah adalah hasil dari makna tertentu yang dianggap berasal dari suatu peristiwa. Penyeberangan Julius Caesar di Rubicon adalah fakta sejarah. Tetapi banyak orang lain telah menyeberangi sungai itu, dan tindakan mereka tidak menjadi daya tarik bagi sejarah. Penyeberangan-penyebarangan itu, dalam pengertian ini, bukan fakta. Juga berlalunya waktu sering mengubah arti fakta. Semasa Kerajaan Inggris, pemberontakan militer tahun 1857 dikenal sebagai Pembangkangan India, dan karena sebuah pembangkangan adalah sebuah pemberontakan melawan pihak berwenang, istilah itu, dan karenanya arti dari fakta itu, menempatkan orang-orang India yang “membangkang” sebagai pihak yang salah. Sejarawan India hari ini menyebut peristiwa ini sebagai Pemberontakan India, yang membuatnya menjadi semacam fakta yang sangat berbeda, yang berarti hal yang berbeda. Masa lalu terus direvisi sesuai dengan sikap masa kini.

Namun, ada beberapa kebenaran dalam gagasan bahwa di Barat pada abad kesembilan belas ada konsensus yang cukup luas tentang karakter realitas. Para novelis besar pada masa itu — Gustave Flaubert, George Eliot, Edith Wharton, dan sebagainya — dapat berasumsi bahwa mereka dan pembacanya, secara umum, setuju tentang sifat asli, dan zaman agung novel realis dibangun di atas fondasi itu. Tetapi konsensus itu dibangun atas sejumlah pengecualian. Mereka kelas menengah dan kulit putih. Sudut pandang, misalnya pada bangsa-bangsa terjajah, atau minoritas rasial — sudut pandang dari mana dunia tampak sangat berbeda dengan realitas borjuis yang digambarkan dalam, katakanlah, “The Age of Innocence,” atau “Middlemarch,” atau “Madame Bovary ”— sebagian besar dihapus dari narasi. Pentingnya hal-hal publik yang besar juga sering terpinggirkan. Di seluruh karya Jane Austen, Perang Napoleon hampir tidak disebutkan; dalam karya besar Charles Dickens, keberadaan Kerajaan Inggris hanya diakui secara sekilas.

Pada abad ke-20, di bawah tekanan perubahan sosial yang sangat besar, konsensus abad kesembilan belas terungkap sebagai sesuatu yang rapuh; Pandangannya tentang realitas mulai terlihat, bisa dikatakan, palsu. Pada mulanya, beberapa seniman sastra terbesar berusaha mengaitkan realitas yang berubah dengan menggunakan metode-metode novel realis — seperti yang dilakukan Thomas Mann dalam “Buddenbrooks,” atau Junichiro Tanizaki dalam “The Makioka Sisters” —tetapi secara bertahap novel realis tampak lebih dan lebih bermasalah, dan para penulis dari Franz Kafka sampai Ralph Ellison dan Gabriel García Márquez menciptakan teks-teks yang lebih aneh, lebih surreal, mengatakan kebenaran lewat jalur ketidakbenaran yang kentara, menciptakan jenis realitas baru, seolah-olah dengan sihir.

Saya berpendapat, untuk sebagian besar hidup saya sebagai penulis, bahwa kegagalan dalam perjanjian lama tentang realitas sekarang adalah realitas yang paling signifikan, dan bahwa dunia mungkin dapat dijelaskan dengan baik dalam hal narasi yang bertentangan dan sering tidak kompatibel. Di Kashmir dan di Timur Tengah, dan dalam pertempuran antara Amerika progresif dan Trumpistan, kita melihat contoh-contoh ketidaksesuaian tersebut. Saya juga berpendapat bahwa konsekuensi dari sikap baru, argumentatif, bahkan polemik terhadap yang nyata ini memiliki implikasi yang mendalam terhadap sastra — bahwa kita tidak boleh, atau tidak seharusnya, berpura-pura tidak ada di sana. Saya percaya bahwa pengaruh pada wacana publik yang lebih banyak, dan lebih bervariasi, suara-suara telah menjadi hal yang baik, memperkaya literatur kita dan membuat pemahaman kita tentang dunia menjadi lebih kompleks.

Namun saya sekarang menghadapi, seperti yang kita semua lakukan, teka-teki yang asli. Bagaimana kita bisa berpendapat, di satu sisi, bahwa realitas modern telah menjadi multidimensional, retak dan terpecah-pecah, dan di sisi lain, bahwa realitas adalah hal yang sangat khusus, serangkaian hal yang tidak dapat dibantah yang begitu adanya, yang perlu dibela terhadap serangan hal-hal yang tidak begitu adanya, yang dimaklumkan oleh, katakanlah, Administrasi Modi di India, kru Brexit di Inggris, dan Presiden Amerika Serikat? Bagaimana cara memerangi aspek-aspek terburuk dari Internet, jagat raya paralel di mana informasi penting dan betul-betul sampah hidup bersama, berdampingan, dengan tingkat otoritas yang sama, membuat lebih sulit dari sebelumnya bagi orang-orang untuk membedakannya? Bagaimana cara menahan erosi dalam penerimaan publik terhadap “fakta dasar,” fakta ilmiah, fakta yang didukung bukti tentang, katakanlah, perubahan iklim atau penyuntikan pada anak-anak? Bagaimana cara melawan hasutan politik yang berusaha melakukan apa yang selalu diinginkan oleh para penguasa — untuk melemahkan kepercayaan publik pada bukti, dan mengatakan kepada para pemilih mereka, pada dasarnya, “Percayalah apa pun kecuali aku, karena aku adalah kebenaran”? Apa yang harus kita lakukan tentang itu? Dan apa, khususnya, mungkin peran seni, dan peran seni sastra?

Saya tidak berpura-pura memiliki jawaban penuh. Saya berpikir bahwa kita perlu mengakui bahwa gagasan tentang kebenaran apa pun dari masyarakat selalu merupakan hasil dari sebuah argumen, dan kita perlu menjadi lebih baik dalam memenangkan argumen itu. Demokrasi tidak sopan. Sering kali ini adalah pertandingan berteriak di lapangan umum. Kita perlu terlibat dalam argumen jika kita memiliki kesempatan untuk memenangkannya. Dan sejauh menyangkut penulis, kita perlu membangun kembali keyakinan pembaca kita dalam argumen dari bukti faktual, dan untuk melakukan apa yang fiksi selalu lakukan dengan baik — untuk membangun, antara penulis dan pembaca, pemahaman tentang apa yang nyata. Saya tidak bermaksud merekonstruksi konsensus eksklusif yang sempit dari abad kesembilan belas. Saya suka pandangan masyarakat yang lebih luas dan lebih berselisih dapat ditemukan dalam literatur modern. Tetapi ketika kita membaca buku yang kita sukai, atau bahkan cinta, kita menemukan diri kita sesuai dengan potret kehidupan manusia. Ya, kita mengatakan, ini adalah bagaimana kita, ini adalah apa yang kita lakukan satu sama lain, ini benar. Itu, mungkin, adalah saat sastra dapat membantu sebagian besar. Kita dapat membuat orang setuju, pada saat perselisihan radikal ini, pada kebenaran dari konstanta besar, yang merupakan sifat manusia. Mari mulai dari sana.

Di Jerman, setelah Perang Dunia Kedua, para penulis yang disebut Trümmerliteratur, atau “sastra puing-puing”, merasakan kebutuhan untuk membangun kembali bahasa mereka, diracuni oleh Nazisme, serta negara mereka, yang terletak di reruntuhan. Mereka memahami bahwa realitas, kebenaran, perlu direkonstruksi dari bawah ke atas, dengan bahasa baru, seperti halnya kota-kota yang dibom harus dibangun kembali. Saya pikir kita bisa belajar dari teladan mereka. Kita berdiri sekali lagi, meskipun untuk alasan yang berbeda, di tengah-tengah reruntuhan kebenaran. Dan itu untuk kita — penulis, pemikir, jurnalis, filsuf — untuk melakukan tugas membangun kembali keyakinan pembaca kita dalam kenyataan, keyakinan mereka terhadap kebenaran. Dan melakukannya dengan bahasa baru, dari bawah ke atas.

*

Diterjemahkan dari esai Salman Rushdie berjudul Truth, Lies, and Literature di The New Yorker. Rushdie adalah seorang novelis dan esais India-Inggris. Dalam novel-novelnya, ia menggabungkan realisme magis dengan fiksi sejarah; karyanya berkaitan dengan banyak koneksi dan migrasi antara Peradaban Timur dan Barat. Rushdie makin dikenal berkat novel kontroversialnya, The Satanic Verse, yang membuatnya diancam para fundamentalis Islam.

Kategori
Catutan Pinggir

César Aira yang Luar Biasa

Jika ada satu penulis kontemporer yang menentang klasifikasi, dia adalah César Aira, seorang Argentina dari sebuah kota di provinsi Buenos Aires yang disebut Coronel Pringles, yang harusnya, saya kira, merupakan tempat yang betul-betul nyata, meskipun bisa juga itu sesuatu yang diada-ada oleh si anak emas itu, yang telah memberi kita secara superlatif potret jelas seorang Bunda (misteri lisan) dan Bapa (sebuah kepastian geometris), dan yang posisinya dalam sastra Hispanik kontemporer setara kompleksitasnya dengan Macedonio Fernandez pada awal abad kedua puluh.

Baiklah, saya mulai dengan mengatakan bahwa Aira telah menulis salah satu dari lima cerita terbaik yang bisa saya ingat. Cerita pendeknya itu, yang ada dalam antologi Buenos Aires-nya Juan Forns, berjudul “Cecil Taylor.” Dia juga penulis dari empat novel yang mengesankan: How I Became a Nun, yang menceritakan masa kecilnya; Ema, The Captive, yang menceritakan kemakmuran Indian pampas; The Literary Conference, yang menceritakan upaya untuk mengkloning Carlos Fuentes; dan The Crying, yang menceritakan semacam pencerahan atau serangan insomnia.

Tentu bukan itu saja novel yang ditulisnya. Saya diberitahu bahwa Aira menulis dua buku setahun, sedikitnya begitu, beberapa di antaranya diterbitkan oleh sebuah penerbitan kecil di Argentina bernama Beatriz Viterbo, diambil dari tokoh dalam cerita Borges “The Aleph.” Buku-bukunya yang telah saya temukan diterbitkan oleh Mondadori dan Tusquets Argentina. Ini bikin frustrasi, karena setelah kalian mulai membaca Aira, kalian tidak ingin berhenti. Novelnya tampaknya menempatkan teori Gombrowicz dalam praktek, kecuali, dan perbedaannya begitu fundamental, bahwa Gombrowicz adalah kepala biara sebuah katedral imajiner yang megah, sementara Aira adalah seorang biarawan atau calon biarawan dalam Ordo Karmelit. Kadang-kadang ia mengingatkan kita pada Roussel (Roussel yang berlutut bermandikan merah darah), tapi satu-satunya penulis yang masih hidup yang dapat dibandingkan dengannya adalah si Enrique Vila-Matas dari Barcelona.

Aira seorang eksentrik, tapi ia juga merupakan salah satu dari tiga atau empat penulis terbaik berbahasa Spanyol saat ini.

*

Diterjemahkan dari kata pengantar Roberto Bolaño di An Episode in the Life of a Landscape Painter-nya César Aira. Cerpen Cecil Taylor bisa dibaca di BOMB Magazine, sedangkan buku-bukunya bisa diunduh, secara ilegal, di sini.

Kategori
Bandung Buku Uncategorized

Novel Rasia Bandoeng