Kategori
Catutan Pinggir

Melacak Akar Tribal Sepakbola

England v Poland - FIFA 2014 World Cup Qualifier

Bendera-bendera sudah berkibar, dari Belanda ke Argentina, dari Kamerun ke Jepang. Segera drum-drum bertalu, trompet-trompet ditiup. Warna-warna terbentang, dan nyanyian perang akan terdengar. Inilah saatnya: Piala Dunia.

Mendiang Rinus Michels, juga dikenal sebagai “Sang Jendral,” pelatih tim Belanda yang kalah tipis dengan Jerman pada final 1974, mengatakan: “Sepak bola adalah perang.” Ketika Belanda membalas dendam pada tahun 1988 dan mengalahkan Jerman untuk menjadi jawara dari Eropa, lebih banyak orang menari di jalanan di Belanda daripada pada hari ketika perang sesungguhnya berakhir pada bulan Mei 1945.

Pada suatu waktu, pada tahun 1969, pertandingan sepak bola antara Honduras dan El Salvador benar-benar menyebabkan konflik militer, yang dikenal sebagai Perang Sepakbola. Ketegangan antara kedua negara sudah tinggi. Tapi kemudian pendukung tim Honduras memancing, dan bahkan lebih buruk lagi, lagu kebangsaan Honduras dihina, dan bendera putih dan biru negara itu dilecehkan.

Tentu saja, perang sepak bola jarang (memang, saya tidak bisa memikirkan contoh lain), tetapi gagasan bahwa kompetisi olahraga internasional pasti mengilhami persaudaraan penuh kehangatan – ide yang dikemukakan oleh Pierre de Coubertin, pendiri Olimpiade modern – adalah sebuah fiksi romantis. Kekerasan hooligan sepak bola Inggris, misalnya, mencerminkan nostalgia yang aneh pada perang. Hidup di masa damai bisa sangat membosankan, dan kejayaan Inggris ada jauh di masa lampau. Sepak bola adalah kesempatan untuk mengalami getaran peperangan, dengan hanya mempertaruhkan tidak lebih dari beberapa patah tulang.

Bahkan ketika tidak mengarah ke pertumpahan darah yang sebenarnya, sepakbola mengilhami emosi yang kuat – primitif dan kesukuan – membangkitkan hari-hari ketika para prajurit mengenakan cat wajah dan melompat-lompat dalam tarian perang, berteriak seperti kera. Kodrat dari permainan memunculkan hal ini: agresi kolektif yang cepat.

Tenis tidak menciptakan kegilaan dalam skala nasional. Bahkan tinju tidak, kecuali pada kesempatan yang sangat langka, seperti ketika Joe Louis, “Brown Bombing”, mengalahkan Max Schmeling, favorit Nazi, pada tahun 1938. Bagaimanapun, bentuk-bentuk pertempuran ini adalah antara dua individu, bukan dua suku.

Arthur Koestler benar ketika dia mengatakan bahwa ada nasionalisme, dan ada nasionalisme sepak bola – dan yang terakhir lebih terasa. Koestler sendiri, lahir di Budapest tetapi warga negara Inggris, tetap menjadi seorang nasionalis sepakbola Hungaria sepanjang hidupnya.

Sepakbola membantu untuk memiliki musuh-musuh tradisional, luka-luka lama, dan penghinaan yang perlu diperbaiki – jika hanya secara simbolis. Akan sulit bagi orang Amerika, yang tidak pandai bermain sepak bola, atau dikutuk oleh kebencian sejarah yang besar, untuk berbagi kebahagiaan seperti orang-orang Belanda, katakanlah, ketika Jerman dikalahkan pada 1988, atau orang-orang Korea ketika mereka mengalahkan Jepang.

Mungkin contoh terbaik dari jenis nasionalisme olahraga ini bukanlah pertandingan sepak bola, tetapi final hoki es dunia pada tahun 1969, ketika Cekoslovakia mengalahkan Uni Soviet hanya satu tahun setelah tank Soviet meluncur ke Praha. Para pemain Ceko mengokang tongkat hoki mereka di Rusia seperti senapan, dan kemenangan mereka memicu kerusuhan anti-Soviet di Ceko.

Jelaslah, kalau begitu, apa pun yang diharapkan De Coubertin, kosmopolitanisme dan persaudaraan lintas budaya secara alamiah lebih sediki dalam diri manusia ketimbang emosi kasar kesukuan. Suku bisa menjadi klub, klan, atau bangsa. Sebelum perang dunia kedua, klub sepakbola sering memiliki komponen etnis atau agama: Tottenham Hotspur di London adalah orang Yahudi, sementara Arsenal adalah orang Irlandia. Sisa-sisa tanda-tanda ini masih ada: Ajax Amsterdam masih dicela oleh lawan-lawannya sebagai “klub Yahudi”. Dan klub Glasgow, Celtic dan Rangers, masih dibagi oleh afiliasi agama, Celtic jadi Katolik dan Rangers Protestan.

Tetapi ras atau agama yang sama tidak penting. Pahlawan sepakbola Prancis yang memenangkan Piala Dunia pada tahun 1998 termasuk orang-orang asal Afrika dan Arab, dan mereka bangga akan hal itu. Klub sepakbola modern paling sukses adalah campuran seperti iklan Benetton, dengan pelatih dan pemain dari seluruh dunia, tetapi ini tampaknya tidak melakukan apa pun untuk mengurangi antusiasme pendukung lokal. Di beberapa negara, sepak bola adalah satu-satunya hal yang merajut bersama orang-orang yang berbeda: Syiah dan Sunni di Irak, atau Muslim dan Kristen di Sudan.

Tentu saja, kebanyakan orang yang berpikiran lurus mirip dengan De Coubertin. Emosi suku memalukan, dan berbahaya ketika diberikan pemerintahan bebas. Setelah perang dunia kedua, karena alasan yang jelas, ekspresi emosi nasionalis sebenarnya tabu di Eropa (apalagi Jerman). Kami semua menjadi orang Eropa yang baik, dan nasionalisme adalah untuk para rasis. Namun, karena Koestler benar, emosi-emosi ini tidak bisa begitu saja dihancurkan. Mereka harus mencari jalan keluar, dan sepak bola menyediakannya.

Stadion sepakbola menjadi semacam reservasi di mana tabu-tabu dalam hiruk-pikuk suku dan bahkan antagonisme rasial bisa ditenangkan, tetapi hanya sampai titik tertentu: ketika mengejek pendukung Ajax sebagai Yahudi bangsat berubah menjadi kekerasan yang sebenarnya, kadang-kadang disertai dengan desisan kolektif, meniru desisan kamar gas, pemerintah kota memutuskan untuk masuk. Beberapa pertandingan harus dimainkan tanpa kehadiran pendukung lawan.

Tidak semua pertandingan sepak bola penuh dengan perasaan negatif dan kekerasan. Piala Dunia tahun ini mungkin menjadi festival persaudaraan dan perdamaian. Hanya sedikit orang yang peduli ketika Jerman menang.

Tetapi fakta bahwa olahraga dapat melepaskan emosi primitif bukanlah alasan untuk mengutuknya. Karena perasaan seperti itu tidak bisa dilepaskan begitu saja, lebih baik membiarkan ekspresi ritual mereka, sama seperti ketakutan akan kematian, kekerasan, dan kebobrokan menemukan ekspresi dalam agama atau adu banteng. Meskipun beberapa pertandingan sepak bola telah memprovokasi kekerasan, dan dalam satu kasus bahkan perang, mereka mungkin telah melayani tujuan positif yang berisi dorongan kita yang lebih liar dengan membelokkan mereka ke olahraga belaka.

*

Terjemahan dari kolom Piala Dunia 2010 The Guardian berjudul Tracing Football’s Tribal Roots. Ian Buruma, penulis Murder in Amsterdam: the Death of Theo van Gogh and the Limits of Tolerance, adalah profesor demokrasi dan hak asasi manusia di Bard College, New York. Dia adalah penulis novel The China Lover; serta buku Taming the Gods: Religion and Democracy on Three Continents.

Kategori
Celotehanku

Perempuan dalam Maskulinitas Sepakbola

“Bukan cuma sepakbola, Islam pun sangat patriarkis,” komentar admin Simamaung yang duduk di sebelah. Selain menyimak pemaparan panelis, kami berdua membuat diskusi mungil tersendiri: cara menjadi moderator yang baik, buruh perkerataapian tahun 1930an, sumbangan syair-syair jahiliyah dalam Al-Quran, beberapa yang lain, termasuk soal agama yang begitu maskulin (dia mencontohkan beberapa ayat Al-Quran yang secara bahasa tertuju cuma buat lelaki).

Apalagi si moderator gempal, tanpa babibu, di awal langsung menyudutkan seorang panelis untuk membahas represi pada perempuan, khususnya urusan (menikmati) sepakbola, yang terjadi di sebagian besar dunia Arab. Mungkin ini dikarenakan sang panelis, Pradewi Tri Chatami, yang sekarang menjadi salah seorang editor Marjin Kiri, pernah menerjemahkan buku Laila Khaled: Kisah Pejuang Perempuan Palestina, sehingga menganggap dirinya pakar soal isu Timur Tengah. TC mengelaborasi dengan isu yang terjadi di negera kita, yang menurutnya tak beda jauh dengan dunia Arab, dalam hal merepresi. Dia mencontohkan fasilitas stadion yang tak begitu ramah buat perempuan, serta kekerasan verbal yang masih menghantui.

“Kitu weh si Cau mah, lain pengantar basa-basi heula, kalah langsung contoh kasus,” kritik saya pada admin Simamaung. Dia mengiyakan, dan tertawa, dan tak bakal ada yang tersinggung. Memang, antara saya, admin Simamaung, dan si moderator gempal adalah kawan dekat. Obrolan Om Bandung, acara bincang-bincang soal persepakbolaan, yang sekarang menghadirkan tajuk perempuan, diselenggarakan di markas BCCF, di Jalan Taman Cibeunying Selatan No. 5.

Bahasan berlanjut ke panelis berikutnya, Ahmadiawati Sejati, penyuka Persib yang berafiliasi dengan organ Viking. Tumbuh di keluarga yang enggak terlalu doyan bola, Jati mengisahkan pengalaman jatuh cintanya pada Persib yang mulai tumbuh sejak tim ini memenangkan titel jawara pada musim 1993-1994. Diajak bergabung masuk Viking oleh seorang teman, sementara si teman tadi tak ikut-ikutan lagi, Jati terus lanjut. Menonton langsung di stadion punya candu tersendiri. Jika boleh membahasakan pandangan Jati, dia mengaku kondisi stadion memang maskulin banget, dan perempuanlah yang dituntut menjaga sikapnya.

Rina Fakhri, magister ilmu komunikasi, membahas soal media sosial. Tapi yang menarik buat saya adalah pengalamannya soal menjadi ibu rumah tangga. Dia menceritakan kalau dirinya tak bisa menonton langsung ke stadion karena dituntut mengurus anak. Di rumah pun dia tak bisa leluasa menonton Persib, karena si anak bakal merengek agar tayangan dipindahkan ke saluran lain. Ujungnya, dia cuma bisa jadi “bobotoh timeline”, istilah yang dialamatkan sendiri buatnya, yang artinya cuma melihat pertandingan lewat live tweet dari akun-akun bola, salahsatunya Simamaung. Saya melihat, justru inilah masalah yang sebenarnya harus didiskusikan. Artinya, ketika kebebasan untuk menonton Persib direbut, ketika menikmati sepakbola hanya jadi privelase kaum lelaki, ketika perempuan jadi seorang ibu dia kalah lewat pembebanan fungsi domestik.

Bahasan berlanjut ke soal konflik dalam sepakbola, Amalia U. Sandra sang panelis dalam tesisnya meneliti soal konflik antara pendukung Persib dan Persija. Konflik suporter ini sama seperti konflik berdarah di Maluku, ujarnya. Kemudian dia menjelentrehkan soal teori konflik, yang bagi saya terkesan seperti dosen dan penjelasannya agak normatif. “Konflik dengan pihak luar harus tetap dipupuk, agar tak terjadi konflik internal. Kalau sama The Jak enggak musuhan, nanti Bobotoh yang konfliknya sama diri sendiri. Harus selalu ada musuh,” komentar saya agak totalitarian pada admin Simamaung. “Konfliknya aja yang harus dikontrol, musuh ya harus tetap ada,” tegas saya. Saya kayak cowok yang lagi mansplaining.

Secara garis besar, itu yang terbahas, meski sebenarnya banyak selintingan atau fragmen-fragmen yang bakal menarik kalau dibahas lebih lanjut (dan saya terlewat mengingat dan mencatatnya). Sepakbola, sebut Terry Eagleton, menawarkan para pengikutnya keindahan, drama, konflik, liturgi, karnaval dan keadaan aneh tragedi. Tapi keasyikannya sebagian besar cuma buat lelaki. Di sinilah bagaimana caranya agar sepakbola sebagai tontonan itu bisa dinikmati lintas gender, terlebih bagaimana kesetaraan gender bisa hadir dalam stadion.

Obrolan Om Bandung telah membahas persepakbolaan soal budaya tribun, media daring, musik, dan sekarang perempuan. Untuk ke depannya, saya pikir di tiap bahasan apapun harusnya ditampilkan pula pemateri perempuan, untuk lebih membuka dialog dan perspektif. Dengan konsekuensi, judulnya jadi Obrolan Om dan Tante Bandung.

 

Kategori
Catutan Pinggir

Sepakbola, Sobat Karib Kapitalisme

world-cup-fever-takes-over-food-manufacturers

Jika pemerintah Cameron adalah warta buruk bagi mereka yang mencari perubahan radikal, Piala Dunia bahkan lebih buruk. Ini mengingatkan kita tentang apa yang masih memungkinkan perubahan tertahan begitu lama setelah koalisi mati. Jika setiap think tank sayap kanan muncul dengan skema untuk mengalihkan perhatian rakyat dari ketidakadilan politik dan memberi mereka kompensasi atas kehidupan kerja yang keras, solusi dalam setiap kasus akan sama: sepak bola. Tidak ada cara yang lebih baik untuk memecahkan masalah-masalah kapitalisme yang telah dicari-cari, rintangi sosialisme. Dan dalam pergumulan di antara mereka, sepakbola akan jadi cahaya untuk beberapa tahun ke depan.

Masyarakat modern mengingkari lelaki dan perempuan dalam pengalaman solidaritas, di titik inilah sepakbola menyediakan kegila-gilaan kolektif. Sebagian besar mekanik mobil dan asisten toko merasa dijauhkan oleh budaya tinggi; tetapi sekali seminggu mereka menjadi saksi atas penampilan karya seni yang sublim oleh para lelaki yang bagi mereka sebut jenius yang kadang-kadang tidak lebih dari luapan gairah belaka. Seperti band jazz atau rombongan teater, sepak bola memadukan bakat individu yang memukau dengan kerja tim tanpa pamrih, sehingga memecahkan sebuah masalah yang membuat para sosiolog kolot tersiksa. Kerja sama dan kompetisi seimbang secara licik. Kesetiaan dan persaingan internal yang buta memuaskan beberapa naluri evolusioner kita yang paling kuat.

Permainan ini juga memadukan kemewahan dengan kesederhanaan dalam proporsi yang halus: pemain adalah pahlawan yang dipuja, tapi salah satu alasan Anda memujanya adalah karena mereka adalah ego yang dapat dengan mudah menjadi diri Anda. Hanya Tuhan yang menggabungkan keintiman dan keberbedaan seperti ini, dan dia telah lama disusul para selebritis yang digadang-gadang hanya satu, kayak the special one José Mourinho.

Dalam tatanan sosial yang ditelanjangi seremoni dan simbolisme, sepak bola melangkah untuk memperkaya kehidupan estetika orang-orang layaknya yang dilakukan Rimbaud selaku seorang kuat yang sinematik. Olah raga adalah masalah tontonan, tapi juga mengundang partisipasi intens dari para penontonnya. Lelaki dan perempuan yang pekerjaannya tidak menuntut intelektual dapat menampilkan pengetahuan yang menakjubkan ketika mengingat sejarah permainan atau membedah keterampilan individu. Perselisihan yang berfaedah layaknya forum Yunani kuno yang mengisi tribun-tribun dan kedai-kedai minum. Seperti teater Bertolt Brecht, permainan mengubah orang-orang biasa menjadi ahli-ahli.

Arti tradisi yang jelas ini kontras dengan amnesia historis budaya pascamodern, di mana segala sesuatu yang terjadi hingga 10 menit yang lalu akan menjadi barang antik. Bahkan ada sebuah tempat yang meleburkan gender, karena pemain mengawinkan kekuatan seorang pegulat dengan keanggunan seorang penari balet. Sepakbola menawarkan para pengikutnya keindahan, drama, konflik, liturgi, karnaval dan keadaan aneh tragedi, belum lagi kesempatan untuk melakukan perjalanan ke Afrika dan kembali tanpa harus menggunakan kaki. Seperti halnya iman religius yang teguh, permainan menentukan apa yang Anda kenakan, dengan siapa Anda bergaul, lagu kebangsaan apa yang Anda nyanyikan dan apa arti dari kebenaran transenden yang Anda sembah. Bersama dengan televisi, ini adalah solusi terpenting atas dilema menahun para pemimpin politik kita: apa yang harus kita lakukan dengan mereka ketika mereka tidak bekerja?

Selama berabad-abad, karnaval populer di seluruh Eropa, sambil memberi orang-orang biasa semacam katup pengaman atas perasaan-perasaan subversif – mencemari imaji-imaji religius dan mengejek raja-raja dan tuan-tuan mereka – bisa jadi urusan anarkis yang sesungguhnya, sebuah cikal bakal masyarakat tanpa kelas.

Dengan sepak bola, sebaliknya, bisa timbul pecahnya kemarahan populisme, ketika para pendukung memberontak melawan konglomerat-konglomerat korporasi yang bercokol di klub mereka; tetapi untuk sebagian besar sepakbola hari ini adalah candu. Ikonnya adalah Tory tanpa cela, konformis membebek Beckham. Si Merah bukan lagi Bolshevik. Tak adanya perubahan politik yang serius dapat menghindari fakta bahwa permainan ini harus dihapus. Dan pakaian politik apa pun yang mencobanya akan memiliki banyak kesempatan berkuasa karena kepala eksekutif korporasi minyak BP saja telah mengambil alih Oprah Winfrey.

*

Diterjemahkan dari Football: a dear friend to capitalism dalam kolom khusus Piala Dunia 2010 di The Guardian. Terry Eagleton adalah kritikus sastra, penulis, dan dosen penulisan kreatif serta profesor di departemen bahasa Inggris di Lancaster University.

Kategori
Celotehanku

Persib dan Literasi Bal-balan

Saat rehat babak pertama laga tandang Persib yang melawat Persiba, saya menulisi akun @simamaung dengan pertanyaan retoris sok puitis: Kenapa sepi dan rindu diciptakan? Hanya tinggal mengklik tombol tweet, beruntungnya saya bukan makhluk yang kelewat iseng. Sebenarnya, enggak masalah sih sedikit jahil dengan salah satu media daring paling akrab di telinga bobotoh ini, hitung-hitung meredakan ketegangan skor kacamata di malam itu–malam Minggu yang niscaya akan jadi jahanam jika tanpa puisi dan Persib.

Sepakbola bukan cuma sebuah permainan, bukan hanya olahraga, ini adalah satu agama, sabda seorang Diego Maradona. Meski enggak tertulis di data KTP, tapi mayoritas warga Bandung sudah bisa dipastikan beragama Persib. Menonton Persib, baik berjamaah ke stadion atau di tempat nobar, atau sendiri-sendiri di rumah masing-masing, adalah ibadah fardlu bagi bobotoh. Maka dalam kegiatan rutin Kelas Literasi Komunitas Aleut! yang rutin diadakan hari Sabtu itu mengundang kawan-kawan pesohor dari @mengbal, @stdsiliwangi, @panditfootball, kang @riphanpradipta, dan kang @dumbq_ berbagi pengalaman, ide, dan informasi seputar sepakbola Bandung dan pengelolaan situs daring yang mereka jalankan.

“Saya lahir di Kediri, dan pernah tinggal di Malang, lalu sekarang tinggal di Bandung. Jadi saya sudah juara tiga kali,” ujar seorang penulis sepakbola yang hadir sore itu, yang kemudian disambut tawa oleh kawan-kawan lainnya. “Dari pengalaman saya itu, budaya sepakbola Bandung masih yang terdepan. Di sini sangat terbuka, kritik adalah hal yang bisa terjadi setiap hari. Di Bandung warga berderet di pinggir jalan menyambut bobotoh, sesuatu yang bahkan di Malang pun tidak terjadi.”

Dengan tajuk ‘Ngawangkong Sepakbola Bandung’, tentu ini hanya sebatas mengobrol ngalor-ngidul, dan memang begitu yang terjadi: Tentang keisengan dan kecintaan yang jadi sesuatu yang menguntungkan, tentang tulisan analisis tim Persib yang justru jadi polemik karena pelatih tim lawan memanfaatkan ini dalam strateginya, tentang perbandingan kultur pendukung antara di Eropa dengan Indonesia, hubungan politik praktis dengan sepakbola, tentang betapa ketatnya redaksi Pandit Football, tentang boroknya persepakbolaan Indonesia dari mulai level tarkam sampai kompetisi yang masih ketarkamtarkaman, bahkan gosip kehidupan percintaan pemain Persib. Beragam topik diobrolkan, dan sayangnya saya pencatat yang payah.

“Bagaimana caranya memulai menulis sepakbola?” tanya seorang kawan yang hadir. Hey, jika kau kesulitan memulai menulis, itu artinya kau masih kurang membaca. Bukan hanya pada teks tertulis, tapi lebih ke arah membaca konteks. Dan sepakbola memang salah satu bahasan yang enggak bakal tuntas untuk terus dibahas dan dibahasakan. Literasi sendiri adalah keberaksaraan, yaitu kemampuan menulis dan membaca, budaya literasi dimaksudkan untuk melakukan kebiasaan berfikir yang diikuti oleh sebuah proses membaca, menulis yang pada akhirnya apa yang dilakukan dalam sebuah proses kegiatan tersebut akan menciptakan karya. Tentu, ‘Ngawangkong Sepakbola Bandung’ ini bisa dijadikan semacam batu loncatan untuk kegiatan lebih lanjut tentang penulisan bola.

Membaca lebih intelek ketimbang menulis, ujar Jorge Luis Borges sang maestro realisme magis itu. Enggak cuma huruf-huruf dalam buku, pertandingan sepakbola pun termasuk sebuah teks, teks-teks yang bisa dibaca namun belum dialihtuliskan. Lebih-lebih soal Persib, ini adalah ladang realisme magis, yang enggak akan habis digali untuk inspirasi tulisan.

Bermiliar puisi tentang cinta telah dibikin, namun dari berjuta manusia yang mengaku cinta Persib, kenapa tak ada yang menuliskan puisi mengenai kecintaan macam ini? Ah, mungkin ide bagus buat disampaikan pada Simamaung untuk menambah rubrik puisi atau cerpen.

Kategori
Celotehanku

Julian Barnes dan Leicester City

julian barnes leicester

Jika Salman Rushdie pendukung Tottenham Hotspur, maka Julian Barnes adalah fans Leicester City. Saat Chelsea menahan imbang Spurs, sehingga memantapkan Leicester jadi jawara Liga Inggris musim 2015-16, Rushdie dan saya sudah pasti senewen, sementara Barnes berbinar-binar. Ketika Persib juara, saya sampai berani buka kaus, bertelanjang dada dan lari ke jalan, lalu menari kayak orang gila, entah bagaimana reaksi seorang Barnes, saya enggak tahu.

“Mereka tim yang bagus,” ia menulis tentang Leicester City, “sebuah tim yang sangat baik kadang-kadang, namun mereka sepertinya tidak pernah memenangkan sesuatu yang besar.” Di surga, seperti yang diceritakan dalam bab berjudul The Dream di novelnya yang meraih Man Brooker Prize 2011 itu, Leicester memenangkan laga dengan skor akhir 5-4 dalam perpanjangan waktu, menjadi jawara Piala FA.

Kategori
Celotehanku

The Frauen und Freundinnen

euro 2012

Perhelatan besar sepakbola Eropa, Euro 2012, udah masuk fase Grand Final aja. Partai final yang merupakan reuni Grup C antara Spanyol kontra Italia ini bakal digelar Senin dini hari besok (02/07/2012). Mumpung masih momennya, ga ada salahnya kan meramaikan perpostingan seputar Euro 2012.

Okey, kembali ke judul postingan. Bener banget kalau sahabat narablog kalau judulnya pake bahasa Jerman. Silahkan gunakan bantuan Google Translate, insya Allah nanti bakal tahu kalau saya akan bahas apaan. :mrgreen: