Kategori
Non Fakta

Sekamar Bersama Penyair dan Novelis

writer-bedroom-poet-novelist

Si penyair masuk diam-diam ke kamar si novelis, sementara si novelis sudah tertidur, tidur yang nampak menjemukan seperti sebuah bau yang melewati hidungnya. Si penyair berdiri di ambang pintu, memperhatikan, menyandarkan diri di kusen pintu.

Dia menyukai teman sekamarnya. Tapi bukan suka yang begitu. Pukul empat pagi dan mengapa si penyair masih terjaga? Tidur adalah beban bagi orang seperti dia. Namun di sini justru ada seorang pria yang tidur sepanjang malam.

“Dia pasti lagi punya masalah,” pikir si penyair, sebelum berbalik dan pergi tidur. Sambil melangkah dengan berjinjit melalui lorong ia bertanya pada dirinya sendiri diam-diam, “Apa yang kulakukan di kota ini? Bahkan melihat awan aku merasa aku telah kehilangan imajinasiku.”

*

Pada hari pertama kerja si wanita di kantor si penyair membantunya mengangkati kotak-kotak dus, tapi saat ia membantunya ia berpaling.

“Apa kau tahu ini adalah hari sakit ketujuh puluhku sejak aku mulai kerja di sini?” si penyair bertanya.

“Tapi kau masih di sini,” kata si wanita.

“Ya, aku tahu.” Dan si penyair pergi ke toilet dan kencing darah.

Ketika ia kembali si wanita duduk tegak, mengetik di komputernya seperti anak gadis penurut. Si wanita tampak seorang yang bisa diajak asyik dan inilah yang menyebabkan si penyair, dengan mata terkulai dan lelah, bersandar di bilik sekat dan berkata lurus ke wajah si wanita, “Ikutlah denganku setelah beres kerja. Aku akan menunjukkan tempat keren untuk minum di sekitar sini.”

“Aku akan ikut, pasti,” kata si wanita, menengadah, dan tidak ada maksud berbohong, hanya senyum lebar dan mata penuh kebencian yang hanya perempuan pahami.

Ketika jam kerja berakhir si penyair menggenggam lengan si wanita dan membawanya ke The Poodle, yang kumuh dan jelek dan tidak ada kamar kecil buat seorang perempuan. Si penyair melihat ke sekeliling. Si wanita memakai bra begitu ketat di balik bajunya.

“Duduk di sini di stan ini,” kata si penyair, mendorong tubuh si wanita dengan kedua tangannya, “dan aku akan ambilkan soda.”

“Aku ingin tambahan gin dalam sodaku,” kata si wanita penuh harap, dan si penyair berjalan pergi dengan rasa tidak suka. Dasar wanita-wanita modern. Mereka tidak tahu adat sopan santun.

Ketika si penyair kembali dengan membawa minuman ia menyelinap masuk ke dalam stan dan mulai bergerak-gerak tak jelas karena kebosanan saat ia mendengarkan cerita si wanita.

“Aku punya suami dan tiga anak,” si wanita memulai.

“Tapi kau nampak kayak delapan belas tahun,” kata si penyair kecewa, dan menggoyang minumannya sampai berdesis. Seorang suami dan tiga anak. “Kau harusnya enggak pakai kayak gitu,” pungkasnya.

Si wanita mengerutkan keningnya dan menyedot minumannya dengan amarah menggebu. “Terima kasih untuk minumannya,” katanya, membanting gelasnya dan menjatuhkan sedotan dari bibirnya saat dia berjalan.

Ketika si penyair kembali malam itu ia menemukan teman sekamarnya sedang menggarap novelnya. Mendongak dari komputer teman sekamarnya itu memberi semacam isyarat.

“Aku pikir ada serangga di balik kaca monitor,” kata si novelis, menunjuk ke layar, kemudian menelusurinya, mengikutinya.

“Aku enggak lihat,” si penyair menjawab, matanya juling karena masih mabuk.

“Sana tidur,” kata si novelis, dan si penyair menurut.

*

Ketika si penyair terbangun ia ingat si wanita, yang sudah punya suami dan tiga anak-anak tercintanya. Mungkin sekarang dia sedang sibuk mengganti popok mereka, atau memasukkan sandwich ke dalam kotak makan mereka, tidak memikirkan apa-apa, terus ke sana kemari dengan telepon di dagunya, berbicara dengan adiknya yang ada di Ottawa.

“Sudah begitu dalam politik, telah begitu dalam agama, dan begitu di yang lain-lain dalam beragam pemikiran manusia,” pikir si penyair, dan bangkit dan buka baju dan pergi ke kamar mandi dan menggosok tubuhnya keras-keras, dan balik ke kamarnya di mana ia mengenakan baju coklat dan berjalan hujan-hujanan ke tempat kerja.

Ketika ia tiba si wanita di bilik kerja sudah ada di sana. Tulang belakangnya angkuh dan tegang dan si wanita berpaling. Tapi saat si penyair duduk dan mengatur folder ia tahu bahwa si wanita sedang memikirkan dirinya. “Dia enggak lebih baik dariku,” si penyair begitu yakin. Ya, dia akan menghancurkan si wanita. Wanita bersuami dengan tiga anak-anak manis: dia pasti ingin coba selingkuh, sebuah asmara betulan yang bakal bikin keringatan, si penyair bisa mencium bau-baunya dari kulit si wanita.

Bagaimanapun, di meja kopi pada pukul sebelas si wanita berkata, “Aku ingin pulang denganmu malam ini. Aku ingin tahu di mana kamu tinggal.”

“Ini bukan pemandangan yang layak untuk seorang wanita,” kata si penyair, memasang info ini langsung di depan. “Tempatnya kecil. Kamar seorang pria. Aku seorang penyair, kaulihat, dan aku tinggal di sana dengan teman sekamarku selama tujuh tahun yang kejam. Wanita jatuh cinta dengan dia tapi dia enggak bisa balik mencintai mereka. Dia seorang novelis. Dia sangat berantakan.”

“Aku ingin pulang denganmu,” kata si wanita, menajamkan matanya pada si penyair dan membuat kopinya tumpah.

*

Malam itu mereka duduk mengitari meja: si penyair, si novelis, dan si wanita. Si wanita, matanya dilebarkan, tampak larak-lirik dari satu ke yang lain. Yang satu begitu kasar dan pendiam dan butek, layaknya pria sejati! dan yang satunya tak tertarik dan merasa terganggu dan grogi, seperti pria sejati! Si wanita jatuh cinta dengan mereka berdua.

Si novelis, merasa dilanggar karena semacam alasan yang tidak bisa ia mengerti, bangkit dan meninggalkan meja dan pergi ke komputer dan menatap, dan kembali lagi melihat serangga di belakang layar. “Sial!” teriaknya, meninju mejanya. Si penyair tampak suram dan tidak menanggapi.

Si wanita berkata, “Tolong ceritakan tentang hidupmu. Pasti menarik. Aku enggak pernah kenal seorang penyair sebelumnya, kecuali satu pas di SMA. Dan aku bahkan enggak tahu apakah dia masih seorang penyair.”

Si penyair mengatakan dengan muram, “Jangan berkata begitu.” Kemudian, “Mari ikut aku ke kamar tidur. Kamar tidurku dan aku ingin perlihatkan padamu.”

Si wanita meletakkan garpunya dan mengikuti dari belakang. Si wanita sangat senang. Dia merasa begitu bohemian. Dia ingin melepas semua pakaiannya.

“Baik,” kata si penyair, menyalakan lampu. “Kau dapat melihat sekarang di dindingku dua surat dari Al Purdy, mengatakan padaku bahwa aku sudah bagus tapi enggak cukup bagus.”

Si penyair duduk di ranjang rendah di lantai dan melebarkan kakinya dan menatap saat si wanita berjalan mengitari ruang sempit itu, meraba segalanya.

“Itu foto yang diambil ketika aku lagi di Polandia. Aku adalah seorang profesor.”

“Kau tampak sangat Polandia di sini.”

“Aku tahu.”

Si penyair berbaring telentang di tempat tidurnya dan menatap langit-langit, tangan dijadikan bantal di belakang kepala. “Kau merokok?” Dia bertanya.

“Tidak.”

“Tolong ke kamar sebelah dan minta rokok dari teman sekamar novelisku. Dia pasti punya sekotak di mejanya. Katakan padanya aku yang minta; ia akan mengerti. Jika ia menolak untuk memberi atau marah, tinggalkan ruangan segera. Kadang-kadang itu yang membuatnya terganggu saat dia sedang nulis.”

Si wanita meninggalkan kamar dan berjalan menyusuri lorong dan melihat si novelis membungkuk depan komputer, duduk di kursinya, menekan jari-jarinya ke layar. “Ayo masuk,” kata si novelis, ketika ia mendengar si wanita mendekat, dan bergerak ke arah mejanya dan meletakkan tangannya di atas meja dan bersandar ke depan. Si novelis meletakkan satu tangan di pantat si wanita, terasa menggeser di balik pakaian si wanita.

“Apa kau lihat ada serangga?”

Si wanita menahan napas, tidak bergerak. Lalu dia tampak mengelak dan berkata, “Aku datang ke sini untuk minta rokok buat si penyair. Dia bilang kau akan mengerti.”

“Tentu saja aku mengerti.” Dia menarik dua batang rokok dari dalam pak dan si wanita membawanya. Si wanita meninggalkan kamar itu dan berjalan dengan kaku melalui lorong menuju kamar si penyair, dan pada saat berjalan ia ingat sebuah mimpi. “Aku bermimpi suatu kali kalau aku lagi ada di sebuah kamar dengan orang lain.”

Ketika si penyair melihat si wanita ia duduk tegak di ranjang. “Tutup pintunya,” katanya. “Si novelis itu cemburuan.”

Si wanita menutup pintu dan duduk di samping si penyair. Si wanita meletakkan rokok di tangan si penyair. Si penyair terbengong menatap rokoknya. Si wanita ingin si penyair menyeret kakinya, mendorongnya ke tempat tidur, menampar dan memperkosanya dengan bengis.

“Dua, ya,” kata si penyair. “Dia pasti menyukaimu.”

“Ya. Dia meraba pantatku.”

“Coba kulihat.”

Si wanita berbaring di perut si penyair dan si penyair memeriksa dalaman pakaian si wanita.

***

Terjemahan The Poet and The Novelist as Roommates dari Sheila Heti, penulis Kanada keturunan imigran Yahudi Hungaria, yang terdapat di The Middle Stories. Menulis adalah cara yang paling jelas dan jalan yang sangat ajaib untuk menyendiri, kelakarnya. Membaca Heti, seperti membaca Etgar Keret; minimalis, surealis, dan komikal, juga cerdas, apa gara-gara orang Yahudi, ya?

 

 

Kategori
Non Fakta

Gadis yang Menanam Bunga-Bunga

Pink Azalea flowers

Ketika ia terbangun di pagi hari di sampingnya ada lelaki yang dia tolak malam sebelumnya karena terlalu jelek dan penjilat, dan di sisi lain, bahkan lebih mengejutkan, ada lelaki yang ia tolak karena intelektual yang terlalu tinggi hati. Dan ada dia sendiri di tengah, dan dia pikir dia sedang ada di rumah tempat ia berpesta malam sebelumnya, tapi ia tidak yakin, dia belum yakin betul.

Dia merangkak hati-hati melewati salah seorang tadi dan menuju jendela dan melihat keluar ke halaman belakang di mana ia melihat tumpukan besar pasir, pegunungan mungil dengan puncaknya. Dan karena dia tidak tahu mengapa atau di mana semua itu berasal, ia dengan cepat memutuskan, aku pasti jatuh pingsan. Kemudian dia pergi ke kamar mandi dan saat kembali dua lelaki tadi bangun.

“Halo semua,” katanya malas, tanpa semangat atau antusiasme. Dan si lelaki, yang pertama, kemudian yang satunya, menyapa dan saling memandang, tetapi karena mereka tidak tersenyum atau tampaknya berusaha membalas, gadis itu mengambil tempat duduknya di kaki tempat tidur. “Aku lapar,” katanya. “Apa kalian berdua lapar?”

Salah satu lelaki mengangguk sambil membersihkan kantuk dari matanya, dan lelaki lain melihat-lihat sekitar berusaha untuk mencari tahu di mana ia berada.

“Kalau begitu, mari kita cari makan,” katanya. Dan karena mereka semua sudah berpakaian tidak ada apa-apa yang harus mereka lakukan kecuali langsung pergi. Salah satu lelaki ternyata lebih tinggi, dan ketiganya bergerak perlahan di sisi jalan. Begitu dingin. Sudah bulan November dan seharusnya lebih dingin, meski tetap, begitu dingin, dan gadis itu tidak memikirkan apa-apa. Ketika trotoar menyempit si intelektual berjalan di belakang, dan si lelaki jelek dan gadis itu berjalan di depan.

Setelah lima menit mereka sampai di suatu tempat yang nyaman untuk makan. Ada telur, tampaknya, dan daging dan kentang dan kopi yang tak akan kehabisan dan tak ada tanda peringatan melarang merokok, sehingga mereka menempati sebuah bilik di belakang, dan bilik itu berwarna cokelat, dan pencahayaan redup, dan matahari tidak bersinar, dan mereka semua menyedihkan dan sedang berada di berbagai tingkat kehinaan dan kebanalan.

Mereka semua memesan menu yang sama, kecuali untuk lelaki jelek yang seorang vegan, dan ia tidak memesan apa-apa kecuali kopi hitam dan jus jeruk, dan gadis itu berpikir tidak-tidak di kepalanya, “Ya Tuhan, aku tidur dengan seorang vegetarian.” Dan si lelaki cerdas yang tinggi terus mengarahkan matanya ke atas meja dan tidak berkata apa-apa, dan tidak satupun dari mereka mengatakan apa-apa kecuali si gadis, yang membuat komentar seperti, “Apa kalian yakin kalian nggak tahu apa yang terjadi semalam?” dan “Namamu Martin, aku rasa aku ingat.”

Akhirnya ia jadi kesal dengan sikap diam dan masa bodoh mereka, perilaku kekanak-kanakan mereka, dan dia berpikir bahwa karena mereka tidak mengakui apa-apa, mungkin sesuatu seperti ini tidak pernah terjadi pada mereka sebelumnya, tapi pikiran itu begitu mengerikan sampai-sampai dia membuang dari pikirannya.

“Baiklah,” katanya ketika makanan tiba, dan dalam hati mengutuk lelaki-lelaki yang tanpa humor ini, dan suasana hati suram mereka berhasil menjangkitinya, dan ia pikir, bahwa akan jauh lebih baik jika mereka sombong dan bersemangat dan ceria.

Mereka makan makanan mereka dalam keheningan, dan si intelek, si gadis tahu, sangat ingin pergi. Sebelum si intelek selesai, ia meminta struk tagihan, dan pelayan muda membawanya dan pergi, dan di si intelek pergi sementara si gadis masih makan. Kemudian si jelek menelan sisa jus dan membayar dan pergi, dan tidak mengatakan apapun seperti “oke” atau “selamat tinggal.”

Si gadis sendirian. Dia meletakkan uangnya dan menyadari untuk kedua kalinya bahwa dia kehabisan rokok, dan merasa merana dan bingung dan seperti seorang sundal.

Gadis itu berjalan-jalan di kota hari itu, dan begitu dingin dan gelap, dan langit begitu jelek ketimbang sebelum-sebelumnya, tapi tidak sejelek si lelaki yang telah tidur dengannya, dan dia menyadari bahwa dirinya berusia dua puluh satu, dan dia pikir hidupnya, “Sebuah kesia-siaan.” Dan tidak ada yang menyemangatinya.

*

Terjemahan The Girl Who Planted Flowers dari Sheila Heti, penulis Kanada keturunan imigran Yahudi Hungaria, yang terdapat di The Middle Stories. Menulis adalah cara yang paling jelas dan jalan yang sangat ajaib untuk menyendiri, kelakarnya. Membaca Heti, seperti membaca Etgar Keret; minimalis, surealis, dan komikal, juga cerdas, apa gara-gara orang Yahudi, ya?

Kategori
Non Fakta

Hidupku Sebuah Lelucon, Sheila Heti

Ketika aku mati, tak ada seorang pun di sekitar yang melihatnya. Aku mati sendirian. Tak mengapa. Beberapa orang berpikir bahwa ini adalah tragedi besar untuk mati sendirian, dengan tidak ada orang di sekitar yang menyaksikan. Pacarku saat SMA ingin menikah denganku, karena dia berpikir yang terpenting dalam hidup adalah sebuah penyaksian. Menikahi pacar semasa SMA-mu, dan hidup dengannya sepanjang hayat—inilah sebuah penyaksian. Segala yang penting bakal disaksikan seorang wanita. Aku tak suka dengan gagasannya soal fungsi seorang istri—yang hanya untuk bergantung dan mengawasi hidupmu agar bisa terungkap. Tapi sekarang aku mengerti. Bukanlah hal sepele ketika harus punya seseorang yang mencintaimu agar bisa menyaksikan kehidupanmu, dan membicarakan soal hidup ini denganmu setiap malamnya.

Alih-alih menikahinya, aku memutuskan melajang. Kami putus. Aku tinggal sendirian. Aku tidak punya anak. Aku adalah satu-satunya saksi hidupku sendiri, sementara ia menemukan seorang wanita untuk dinikahi, kemudian memiliki seorang anak kandung. Keluarga asal istrinya tergolong besar dan tinggal di dekat mereka—sama halnya dengan keluarga pacarku. Aku mengunjungi mereka satu waktu, dan saat makan malam ulang tahunnya hadir tiga puluh kerabat dan teman dekat, sudah termasuk anak semata wayangnya itu. Kami berada di rumah orang tua istrinya, di kota pesisir kecil tempat mereka membangun kehidupan mereka. Dia punya segala yang ia inginkan. Dia memiliki tiga puluh saksi terpercaya. Bahkan jika setengah dari mereka mati atau pindah atau beralih membencinya, dia masih memiliki sisa lima belas. Ketika ia meninggal, ia akan dikelilingi oleh keluarga yang penuh kasih, yang akan mengingat ketika ia masih memiliki rambut. Yang akan ingat setiap malam ketika ia pulang ke rumah dengan mabuk sambil berteriak-berteriak. Yang akan mengingat setiap kegagalan yang dialaminya, namun mencintainya terlepas dari itu semua. Ketika semua saksinya mati, hidupnya baru akan berakhir. Ketika anaknya sudah mati, dan istri anaknya sudah mati, dan anak-anak dari anaknya juga mati, kehidupan pacar pertamaku baru akan selesai.

Ketika aku menghembuskan napas terakhirku, tidak ada yang melihatku. Mobil yang menabrakku melaju cepat pergi, kemudian seorang sopir berhenti untuk memindahkanku dari tengah jalan. Aku sudah mati ketika ia memindahkanku, jadi aku bisa mengatakan bahwa aku meninggal sendirian.

Sekarang, kalian mungkin bisa mengatakan bahwa aku berbohong. Jika aku benar-benar tak memasalahkan fakta bahwa tidak ada orang yang kucintai menyaksikan kematianku, mengapa aku harus susah-susah datang kembali ke sini dari kematian? Mengapa aku memakai kembali daging tubuhku dan pakaian yang kukenakan saat hari terakhirku di dunia? Mengapa aku memakai kembali suaraku saat berbicara seperti ketika aku masih hidup, dan kembali ke berat badanku semula pada saat kematianku? Aku bahkan membersihkan beragam kotoran dari mata dan rambutku, memperbaiki letak gigi di mulutku seperti sebelum kecelakaan itu. Mengapa aku harus repot-repot melakukan hal itu? Ini pekerjaan yang melelahkan. Aku bisa saja berbaring di tanah untuk selamanya. Aku bisa terus diam di sana, tetap hancur, jika aku merasa bahwa urusan hidupku sudah selesai. Jika tidak ada kekhawatiran dalam diriku yang masih perlu dikatakan, aku pasti masih akan meringkuk di tanah.

*

Begini: Aku adalah lelucon, dan hidupku adalah sebuah lelucon. Orang terakhir yang kucintai—bukan pacar SMA-ku—bilang ini saat pertengkaran terakhir kami. Aku tiga puluh empat saat itu. Selama pertengkaran, saat aku mencoba menjelaskan pembelaanku, ia berteriak, “Kamu adalah lelucon, dan hidupmu adalah sebuah lelucon!”

Malam sebelumnya, kami masih saling mencintai. Kami pergi ke tempat tidur pada waktu yang sama, dan karena ia sedang asyik membaca sebuah novel pop kriminal dalam teleponnya, aku tertidur di bantal, lembut menyentuh lengannya. Beberapa hari kemudian, aku mati. Aku memikirkan ini sejak saat itu—sudah empat tahun—untuk memahami makna penuh dari yang dia katakan: bahwa aku adalah lelucon dan hidupku adalah lelucon. Pada saat dia mengatakan itu, aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku begitu terpukul, aku hanya mulai menangis. Ini hanya membuktikan kepadanya bahwa dia benar. Aku menatapnya dengan mulut terbuka. Tentu saja, aku tahan terhadap kekejamannya saat itu, tapi tetap terasa sakit.

Ketika aku menerima undangan kalian untuk datang berbicara di sini malam ini—tidakkah kalian tahu bahwa aku sudah mati? Kalian memang tidak tahu—ketika aku menerima undangan kalian, pada awalnya aku pikir, TIDAK, aku tidak bisa datang. Sebenarnya aku tidak punya alasan apapun. Tapi kemudian beberapa bulan kemudian aku menulis catatan kepada kalian: Aku akan datang jika kalian akan membayar biaya untuk menggali kuburanku. Jika kalian akan bersedia membayar untuk menerbangkan mayatku melintas Amerika Utara, dari tempatku dikuburkan, dan memangkuku menuju tempat mike berdiri, maka ya, aku akan datang. Saat aku di atas pesawat, aku bekerja sangat keras agar otak matiku ini bisa mengingat apa yang ingin aku ungkapkan—itulah alasanku akan mengatakan ya. Aku punya sesuatu yang penting untuk diungkapkan. Apa itu? Apakah aku sudah mengatakannya? Ah pikiran mudah tergelincir begitu cepat dari otak yang sudah mati. Aku tidak ingat apakah aku sudah memberitahukannya.

Terbaring di sana, garam dan tanah dan keringat dan cacing dan tanaman yang baru tumbuh dan anak pohon dan tulang-tulang burung kering terkumpul di mulutku, dan darahku berlapis kering, dan jari-jari kakiku mengkerut, dan otakku penuh dengan rambut dan bulu burung, dan bola putih kecil yang menyebar di tanah—serpihan styrofoam—dan kotoran anjing, dan kencing sigung, dan tanaman yang baru tumbuh dan anak pohon dan biji dan kismis; itu sesuatu yang menakjubkan karena aku masih bisa berpikir saat itu, meski di kegelapan total yang basah itu. Kalian tidak pernah tahu, berbaring di tanah, apa yang bakal muncul dalam pikiran picik kalian. Kalian hanya bisa memilih satu pikiran untuk dibawa menuju liang lahat, dan selalu itu adalah sebuah pikiran yang mengganggumu, sesuatu yang harus dipikirkan bagaimanapun caranya sebelum kalian bisa menemukan kedamaian. Pikiran yang kuambil adalah perkataan seorang pria yang kucintai itu, “Kamu adalah lelucon, dan hidupmu adalah sebuah lelucon.” Ini terpatri ke kepalaku dan ototku dan tulangku, sampai-sampai aku bukan lagi apa-apa selain kata-kata itu. Ketika kehidupanku runtuh—inilah kematian, kehidupan runtuh ke dalamnya—kata-kata pacarku tak ikut runtuh; itu menjadi hal yang terpisah dariku. Dan, karena itu terpisah dariku, aku bisa menyimpannya—ini satu-satunya hal yang aku punya.

Bisakah aku minta segelas air, tolong? Dimana airku? Aku kekeringan dan aku telah mati. Besok aku akan terbang pulang ke rumah, dengan semua barang-barang perbekalan, kedamaian dalam tulang-tulangku, setelah mengungkapkan apa yang ingin aku ungkapkan—sesuatu yang aku sadari ketika aku masih di bawah tanah. Lalu aku akan mati selama sisa keabadian, tidak lagi harus menghapus keberadaanku sendirian.

Orang yang mengatakan bahwa aku adalah lelucon dan hidupku adalah sebuah lelucon—ia memang tidak ada di saat-saat terakhirku, menyaksikan hembusan napas terakhirku, tapi apa yang aku sadari adalah: ia meramalkan kematianku. Ia meramalkan dengah hanya melihatku dalam-dalam—karena telah jadi saksi jiwaku. Ketika ia mengucapkan kata-kata yang mengerikan itu, ia menyaksikanku menembus ke masa depan, masa depan yang dia tahu akan aku alami. Selama pertengkaran kami, aku mencoba untuk meyakinkannya bahwa dia salah. “Aku bukan sebuah lelucon!” Teriakku. “Kaulah leluconnya! Kau adalah lelucon!”

*

Ketika seseorang tergelincir karena kulit pisang kemudian mati, maka hidupnya adalah lelucon. Tergelincir pada kulit pisang bukan cara matiku. Ketika seseorang berjalan memasuki bar bersama dengan rabbi, pendeta, dan seorang biarawati, kemudian ia mati, maka hidupnya itu yang lelucon. Ini pun bukan cara matiku. Ketika seseorang adalah seekor ayam yang melintasi jalan untuk menuju ke sisi lain, dan kemudian ia mati, maka hidupnya adalah lelucon. Nah, ini adalah cara aku mati—seperti ayam yang menyeberang jalan untuk sampai ke sisi lain.

Ketika aku melintasi jalan hari itu, tentu saja ke sisi lain yang aku tuju—aku masih dalam kegamangan waktu itu, perkelahian kami masih menganggu pikiranku. Mengapa ayam menyeberang jalan? Untuk menuju ke sisi lain pasti. Sebuah tindakan bunuh diri. ‘Sisi lain’ itu adalah kematian. Semua orang tahu itu, kan?

Aku tergesa-gesa di depan mobil tua berkarat itu, dan tertabrak oleh besi itu, gigiku terdorong ke dalam tenggorokanku oleh spatbor, dadaku benar-benar tercerai berai.

Aku tidak datang ke sini untuk menakut-nakuti kalian. Aku datang ke sini untuk memberitahu kalian sebuah lelucon. Atau, lebih tepatnya, menunjukkan leluconnya. Aku! Dan untuk membual bahwa akulah yang menyaksikannya. Bahwa pacar pertamaku—ia tinggal tidak jauh dari sini. Mungkin dia ada di antara penonton, sedang mendengarkan kah? Sedang minum bir kah? Aku berharap dia ada di sini! Hidupku dan kematianku disaksikan, aku memberitahumu! Disaksikan dan dinubuatkan! Kamu tidak lebih baik dariku. Tampaknya kami berdua menang, pada akhirnya.

Ayam macam apa aku ini. Aku tidak tahan setiap aspek kehidupan. Terutama nasihat tua itu: bahwa kalian harus hidup dengan lebih baik daripada orang lain.

Seperti apa ‘sisi lain’ itu, kalian mungkin bertanya-tanya. Karena aku sudah berada di sini, aku juga bakal memberitahu kalian: itu adalah tempat konyol di mana setiap orang selalu tertawa. Ini seperti sesuatu yang pernah aku alami sekali, saat penerbangan lintas benua. Wanita yang duduk di sampingku menertawakan lelucon bodoh dalam setiap acara apa pun yang sedang ia tonton, setiap lelucon yang dibuat di acara. Lalu ia menonton acara lain, lalu acara lain lagi. Tawanya membahana mengisi barisan kursi kami. Dia tidak berhenti tertawa dari saat lepas landas sampai pendaratan pesawat. Oh betapa tawa seseorang dapat membuat kalian membencinya! Tahukah orang yang tertawa di dunia ini tahu soal itu? Apakah mereka pikir hal itu membuat mereka dicintai? Siapa yang suka mendengar seseorang tertawa sendirian, dia yang memakai headphone, sambil menatap layar? Mungkin hanya orang sama yang suka menguping orang asing yang bercinta di balik dinding kamar sebelahnya.

Di sana di ‘sisi lain’ itu, seperti itulah sepanjang waktu—anjing-anjing tertawa, pohon-pohon tertawa, semua orang tertawa—baik ada sesuatu yang lucu atau tidak. Aku berlatih pidato ini di ‘sisi lain’ itu, waktu itu penontonnya berjumlah enam belas orang, dan latihan itu menghabiskan waktu empat jam, dari awal sampai akhir, karena aku harus menunggu sampai tawa mereda di setiap kalimat yang beres kukatakan. Di bumi itu berbeda, tentu saja. Kesunyian dalam hidup adalah salah satu anugerah yang besar. Apakah kematian sama untuk setiap orang, atau dunia tertawa ini adalah kematian yang hanya dibuat untukku? Bagaimana aku bisa tahu pasti?

Apakah yang aku katakan masuk akal? Aku sadar diri tentang pembicaraanku. Apakah suaraku terdengar baik-baik saja? Ketika kalian mati, sulit untuk membawa pikiran. Kepalaku terasa diisi dengan kapas; mataku terasa dijejali dengan bola kapas; telingaku terasa disumbat dengan kapas. Sulit untuk berpikir, untuk mengurai makna demi makna. Aku tidak datang ke sini untuk memberitahu kalian bahwa aku mencintai kalian. Itukah yang kalian pikir bakal aku katakan? Aku hanya mencintai dua orang lelaki. Salah satu dari mereka adalah yang ingin menikahiku, dan yang lainnya adalah ia yang berpikir bahwa hidupku adalah lelucon. Pacar pertamaku bisa menemukan dirinya yang bisa jadi saksi, dan aku datang untuk menyatakan bahwa aku pun menemukan juga. Aku menang, kau lihat? Aku menang! Aku memenangkan hal terbaik yang seorang manusia bisa raih—untuk diperlihatkan! Aku menyatakan di sini hari ini. Ini satu-satunya alasanku merangkak kembali ke dalam dagingku untuk berdiri di hadapan kalian—mempertontonkan lelucon di atas panggung ini. Kata-katanya tidak lagi menyakitiku. Mereka membuatku merasa sangat bangga.

Mengapa ayam menyeberang jalan? Itulah aku. Akulah si ayam. Dan aku pergi ke sisi lain. Pacarku itu tahu ini akan terjadi ketika ia mengatakan itu. Ah sesuatu yang indah untuk disaksikan.

***

Terjemahan My Life Is a Joke dari Sheila Heti, penulis Kanada keturunan imigran Yahudi Hungaria, yang terbit di The New Yorker edisi 11 Mei 2015. Membaca Heti, seperti membaca Etgar Keret; minimalis, surealis, dan komikal, juga cerdas, apa gara-gara orang Yahudi, ya? Menulis adalah cara yang paling jelas dan jalan yang sangat ajaib untuk menyendiri, kelakarnya.