Kategori
Non Fakta

Dusta, Raymond Carver

raymond carver the lie dusta seulgi

“Itu bohong,” ucap istriku. “Bagaimana kau bisa percaya yang seperti itu? Wanita itu hanya cemburu.” Dia menegakkan kepalanya dan tetap menatap padaku. Dia masih belum melepas topi dan mantelnya. Wajahnya memerah karena didamprat tuduhan begitu. “Kau percaya padaku, kan? Sudah jelas kau tak percaya yang seperti itu?”

Aku mengangkat bahu. Lalu aku bertanya, “Kenapa dia harus bohong? Apa yang bakal dia dapat dengan berbohong?” Aku merasa tak nyaman. Aku berdiri di sana dengan sandal sembari membuka tutup tanganku, merasa sedikit menggelikan saat membeberkan persoalan tadi. Aku tak bermaksud hendak jadi jaksa penuntut. Aku harap sekarang kabar itu tak pernah sampai di telingaku, bahwa segalanya akan sama seperti sebelumnya. “Dia sudah jadi seorang teman,” ucapku. “Teman kita berdua.”

Kategori
Non Fakta

Setelan Jas, Kim Young-ha

kim young ha the suit cerpen short story

Telepon dari temanku F datang di pertengahan Desember, ketika salju tanpa henti terus turun dan Manhattan begitu lumpuh. Dia mengatakan kalau dia harus ke New York secepatnya tetapi tidak bisa mendapatkan kamar hotel karena sedang momen Natal, dan dia bertanya apakah dia bisa tinggal bersama kami selama beberapa hari. Aku dan istriku tinggal di sebuah apartemen satu kamar tidur sehingga yang bisa kami tawarkan hanya kursi empuk di ruang tamu, tapi kami mengatakan bahwa dia bisa datang jika dia tak masalah dengan hal ini.

Aku tidak bisa bilang kalau F dan diriku kenalan akrab. Dia menulis puisi dan bekerja sebagai redaktur di sebuah penerbit. Dia dikenal di dunia sastra sebagai penyair dan lebih terkenal lagi sebagai redaktur berbakat di dunia penerbitan, tapi dia dan aku tak terlalu dekat. Kebanyakan orang yang bekerja di penerbitan cuma mengurus sastra dalam negerinya saja, tapi ia berbeda dari kebanyakan sebab ia mengkhususkan diri dalam terjemahan fiksi populer dari Amerika. Jika aku harus menemukan sebuah hubungan yang mana aku terikat dengannya, itu adalah fakta bahwa ia bekerja di rumah penerbitan yang sama dengan istriku sebelum kami menikah. Tapi istriku bilang dia tidak ingat pernah benar-benar berbicara dengan F. Istriku mengatakan F hanya datang untuk bekerja, membangun dinding buku di mejanya untuk mengasingkan diri dari dunia luar, berkutat dengan naskah-naskah sepanjang hari, dan kemudian pulang. Untuk seseorang seperti F yang sampai berani menanyakan apakah dia bisa tinggal bersama kami, alasan dia untuk datang pasti cukup penting.

Dia keluar dari taksi di tempat kami di Brooklyn. Dia mengatakan dia pernah berkunjung ke New York beberapa kali dalam rangka pekerjaan, untuk mengurus hak cipta novel, tapi ini adalah pertama kalinya dia berada di wilayah kami. Tasnya cukup kecil sehingga ia mampu membawanya sendiri. Dia terus membungkuk dan meminta maaf karena telah membuat kami repot. Hanya dalam waktu singkat yang ia butuhkan untuk keluar dari taksi lalu memasuki gedung, salju sudah banyak menumpuk di pundaknya. Dengan hati-hati dia menyibaknya, menggosok sepatunya sampai bersih di keset, dan mencoba untuk mengeluarkan salju yang telah meleleh ke dalam mantelnya. Kami makan malam bersama. Ketika kami bertanya apa yang membawanya ke New York dengan tergesa, ia ragu-ragu, berhenti dan mencoba memulai beberapa kali, sebelum akhirnya menceritakan keseluruhan cerita.

“Ayahku meninggal. Atau setidaknya, itulah yang diberitahukan kepadaku.”

“Ayahmu tinggal di New York?” Aku bertanya.

Beberapa hari sebelumnya, ia menjelaskan, ia telah dihubungi oleh seorang detektif swasta di New York. Karena ia sering menyunting novel misteri dan fiksi kriminal untuk hidup, tidak sulit baginya untuk memahami bahasa Inggris dalam surel sang detektif. Pada awalnya ia pikir seseorang sedang bermain lelucon keji pada dirinya.

“Bukankah ini seperti yang sering muncul dalam novelnya Paul Auster*?”

“Dan di New York, sebagai tambahan.”

“Bukan main.”

Menurut surat elektronik itu, ayahnya telah meninggal baru-baru ini di Queens, dan keinginannya saat sekarat adalah agar abunya disebar di Korea dan untuk anaknya, karena ia mungkin memiliki anak di suatu tempat, agar mengabulkan keinginan itu. Penyidik swasta itu mengatakan bahwa ia disewa oleh seorang wanita yang tinggal bersama ayahnya. Dalam surat elektronik itu disebutkan nama ibunya (dan bahkan dengan ejaan Korea), juga tanggal kelahirannya yang hampir akurat. Ayahnya mengingat F lahir pada 7 Februari tahun 1980.

“Aku selalu berpikir ulang tahunku 10 Maret. Itulah yang dikatakan dalam surat keterangan keluarga kami. Tapi dia mungkin ingat lebih tepat. Atau bisa juga itu penanggalan dalam kalender bulan.”

Ibunya meninggal ketika F berusia lima belas tahun. Dia pulang-pergi dari rumah bibinya sampai ia mulai kuliah; setelah itu, ia hidup mandiri. Ketika ibunya sedang sekarat, ia memanggil F ke sisinya dan menceritakan semua tentang ayahnya. Ayah dua tahun lebih muda dari ibunya dan pernah belajar seni, seperti dirinya. Mereka telah jadian sejak di perguruan tinggi dan hidup bersama untuk sementara waktu, tetapi setelah F lahir, ayahnya meninggalkannya.

“Itu tahun 1980, kau mengerti,” katanya, dan tersenyum pahit. “Jadi aku bertanya apakah dia hilang saat Seoul Spring**, dalam beragam demonstrasi tersebut, atau saat Pembantaian Gwangju***.”

Tapi ibunya bahkan tidak ingat bahwa ada gejolak politik seperti itu pada tahun 1980.

“Orang itu tidak peduli tentang semua itu,” ibunya mengatakan kepada F. “Dia rada aneh, hidup di dunianya sendiri. Dia berhati lembut, sehingga ia selalu didekati wanita. Aku kemudian tahu kalau ia main serong dengan beberapa wanita lain ketika ia sudah bersamaku. Aku adalah satu-satunya orang yang tidak tahu.”

Ibunya membesarkannya sendiri sementara mengajar pelajaran seni untuk anak-anak tetangga di ruang tamu apartemen murah kecil. Ada lelaki-lelaki yang ia sebut “paman” yang selalu datang dan menginap semalam, tapi dia tidak punya ikatan keluarga dengan mereka. Ketika F mulai berbicara tentang lelaki-lelaki tadi dalam kehidupan ibunya itu, istriku tiba-tiba bangkit dan membuat berbagai keributan dengan mengupas buah dan mengeluarkan kue-kue, seolah-olah istriku merasa tidak nyaman mendengarnya, tapi F acuh tak acuh, seperti dia sedang berbicara tentang seseorang yang lain. Beberapa orang memang seperti itu: pendiam dan introvert pada awalnya, tetapi menumpahkan semua rahasia kotor mereka, dan blak-blakan, dengan cara yang dingin, saat mereka membuka mulut mereka. Aku pernah mendengar bahwa seorang whistleblower**** cenderung seperti itu. Bahwa mereka bukan pembicara alami dan biasanya menutup diri mereka.

Rumor bahwa ayahnya terlihat di AS sampai kepadanya dan ibunya melalui berbagai sumber. Tapi di era 80-an, sesuatu yang sulit untuk mendapatkan paspor, apalagi meninggalkan negara itu. Pada tahun 90-an, ibunya mulai berjuang melawan penyakit kanker, dan lima tahun setelah ia didiagnosis, dia meninggal.

“Aku sering membaca kata-kata ‘detektif swasta’ satu juta kali saat mengedit novel kriminal, tapi siapa sangka aku akan dihubungi oleh merekai?”

“Apa yang dia katakan tentang ayahmu di AS?”

“Rumor mengatakan dia adalah seorang seniman, pelukis. Tapi wawasannya hanya soal mencuri hati orang.”

Setiap kali ia berbicara tentang ayahnya, wajahnya berkerut. Aku tahu dia merasa tak nyaman.

“Apakah kau pikir kau akan menjadi orang yang berbeda hari ini jika ayahmu tidak meninggalkanmu?”

Istriku menyikuku dari samping.

“Aku tidak akan menulis puisi,” katanya.

“Tidak?”

“Aku mungkin akan menjadi pelukis. Sejak ibuku selalu mengajar anak-anak lain cara menggambar dan melukis, aku juga secara alami mulai menggambar dari usia muda. Tapi tiap kali aku mencoba, dia akan memukul punggung tanganku dengan penggaris kayu dan membentakku, ‘Sana belajar! Sana baca buku!’ Dia mengatakan kepadaku bahwa lelaki yang menyentuh seni bakal berubah jadi bajingan. Jadi meskipun aku lebih menyukai seni, aku mencoba puisi. Seperti orang kidal memaksa dirinya untuk menulis dengan tangan kanannya. Itu sebabnya puisiku begitu mengerikan.”

Bukan tabiatku untuk berbohong lalu mengatakan kepadanya kalau puisinya bagus. Faktanya, aku sangat tidak suka puisi F. Seorang penulis biasanya bakal diam soal karya penulis lain ketimbang berbohong. Sebagai gantinya, istriku yang berusaha menghibur F.

“Jangan ngomong gitu! Banyak orang yang suka puisimu kok.”

F tak terlalu terpengaruh oleh apa yang istriku katakan. Aku suka hal ini darinya. Aku berpikir bahwa aku sebaiknya melihat lagi karyanya. Mungkin ada sesuatu di dalamnya yang belum aku temukan.

Keesokan paginya, F bangun awal dan membuat keributan saat bersiap-siap. Sebenarnya, sejauh yang kutahu, dia kemungkinan besar tidak tidur sama sekali. Istriku mengatur meja dengan bagel dan kopi, tapi ia hampir tidak makan. Dia mengenakan setelan hitam-hitam.

“Aku pikir aku harus mengenakan sesuatu seperti ini,” F menjelaskan.

Upacara pemakaman sudah terjadi, dan kemungkinan besar yang harus ia lakukan cuma mengurus beberapa dokumen, tapi tak ada salahnya mengenakan pakaian hitam. Itu  adalah pakaian murahan, yang kau beli ketika digelar diskon di mall dan hanya kau keluarkan untuk acara berkabung atau pemakaman. Jas seperti itu memang terlihat tak masalah ketika kau pertama kali membelinya, tetapi jas seperti itu bakal kehilangan bentuknya setelah beberapa kali dicuci. Itu karena bagian-bagian yang harusnya diselesaikan dengan jahitan malah dilem sebagai gantinya. Dari belakang, terlihat ngelomprot dan tak berbentuk, lebih seperti mantel tua Korea daripada jas ala Barat. Bahkan sepatu hitamnya itu ada lecet putih di ujungnya. Bisa dikatakan, beginilah tampilan yang pas untuk seorang penyair dan redaktur. Entah kenapa aku tidak terlalu percaya pada editor yang berpakaian rapi. Adapun penyair, tak perlu dikatakan lagi.

“Apakah kau ingin aku menemanimu?”

“Terima kasih, tapi itu tak masalah. Apa yang akan dia pikirkan jika dua orang Asia dalam setelan hitam-hitam datang menggedor pintunya?”

Dia tertawa untuk pertama kalinya sejak tiba. Apakah Vonnegut***** yang telah mengatakan kalau tertawa adalah cara untuk mengatasi rasa takut akan kematian?

“Aku akan baik-baik saja sendirian. Aku tak bakal membawa peti mati kembali denganku.”

Dia ingin menghadapinya sendiri. Mencari tahu sendiri tentang ayah yang suka main perempuan itu lakukan dengan hidupnya setelah meninggalkan F. Melihat siapa wanita yang tinggal bersamanya, dan bagaimana tempat tinggalnya.

“Baiklah. Sampai ketemu lagi nanti. Kalau kau butuh bantuan, telepon saja.”

“Ayahku lah yang membutuhkan bantuan. Bukan aku.”

Kami pikir dia akan kembali sekitaran sore, tapi sepanjang hari berlalu tanpa pesan apapun. Istriku telah menyiapkan makanan Korea, dan kami menunggunya di meja makan. Aku awalnya marah ketika dia tidak muncul-muncul, tapi kemudian aku mulai merasa khawatir.

“Apa kau pikir email detektif swasta itu kedengaran agak mencurigakan?” Tanya istriku.

“Bagaimana jika itu adalah bentuk baru pemerasan?”

“Siapa yang mau repot-repot berurusan dan menculik seorang penyair miskin? Apa yang akan mereka peroleh darinya?”

“Kau punya nomor teleponnya?”

“Dia enggak ngasih apa pun. Aku hanya tahu alamat email-nya.”

Dia tidak kembali sampai keesokan harinya. Dia muncul di pintu kami tiba-tiba, tanpa sepatah kata pun maaf, botol berwarna lavender di tangannya. Itu jelas sebuah guci untuk abu ayahnya. Istriku mendekatinya dan mengambil guci. Dia runtuh di sofa kelelahan.

“Adakah yang bisa kami bantu?”

“Punya minuman keras?”

Dia minum double scotch. Ada sesuatu yang berbeda tentang dia. Dia bukan orang sama yang telah meninggalkan tempat kami pagi hari sebelumnya. Aku tidak bisa mengatakan apa itu, tapi ada sesuatu yang berubah. Aku pikir mungkin dia mendapat semacam kejutan, tapi pasti sesuatu yang lebih dari itu. Dia berlaku seperti seorang prajurit yang akan maju menuju penyergapan dan harus berjuang hidup mati sampai bala bantuan tiba dan dia akhirnya bisa bernapas lega. Tidak ada jejak dari orang yang sehari sebelumnya telah berusaha untuk menaklukkan rasa takut akan kematian melalui lelucon buruk. Dia menenggak dua gelas double scotch berturut-turut dan kemudian tiba-tiba mulai berbicara dengan panik.

Ini adalah pertama kalinya dia berada Flushing. Yang dia tahu tentang tempat itu adalah bahwa banyak imigran dari Asia Timur tinggal di sana. Dia tinggal di Manhattan pada setiap perjalanan bisnisnya. Tidak pernah bermimpi bahwa ayahnya begitu dekat. F telah berpindah-pindah jalur kereta bawah tanah sampai ia mencapai Flushing. Ketika ia keluar dari stasiun, dia sejenak bingung. Apakah ini Cina? Trotoar habis dimakan papan penanda dan tiang, orang-orang Cina berduyun-duyun dan berbicara keras, calo menyodorkan brosur kepada para pejalan kaki, aroma sayuran digoreng dalam minyak cabai. Sebuah truk merah pemadam kebakaran lewat dengan ratapan sirene mengatakan bahwa dia masih berada di New York.

Dia menuju Boulevard Utara. Di depan sebuah toko perhiasan milik orang Cina, ia berhenti. Sebuah plang dalam bahasa Korea, “Kami membeli emas,” telah menarik perhatiannya. Toko itu juga memiliki plang lain yang sama ditulis dalam bahasa Inggris, Cina, dan Spanyol untuk mengiklankan bahwa mereka menerima jual-beli emas. Apa yang mereka lakukan? Merangkai kalimatnya lewat Google Translate? Di kereta bawah tanah, juga, ia melihat plang-plang yang ditulis dalam bahasa Korea aneh yang diposting oleh New York City Transit Authority. “Tetap aman, bahkan jika sibuk.” Ada yang lebih buruk. “Kereta yang meluncur akan membuat Anda benar-benar sakit kemudian mati.” Dia merasakan dorongan untuk mengambil pena merah dan mengeditnya. Dia ingin melupakan sejenak masalah rumit soal abu ayahnya yang baru meninggal dan duduk di mejanya untuk memperbaiki kalimat yang buruk tadi sebagai gantinya.

Tapi sebelum ia tahu, ia telah tiba di alamat yang dikirim kepadanya oleh detektif swasta. Karena ia mengikuti aplikasi Google Maps di iPhone-nya, ia tidak salah arah. Rasanya aneh untuk dipikirkan bahwa satelit buatan manusia di luar angkasa telah menuntunnya kepada ayahnya yang telah meninggal. Bukankah Yuri Gagarin pernah mengatakan, “Aku tidak melihat Tuhan di sini,” setelah pergi ke ruang angkasa? Tidak ada Tuhan, tapi di sana sungguh ada, Bapa. Dia mengawasiku melalui teropong satelit.

F membunyikan bel. Seorang wanita membuka pintu. Dia adalah seorang wanita kulit hitam berkulit gelap dengan warnanya seperti kayu hitam, dan jauh lebih muda dari yang F bayangkan. Dia tinggi dan langsing. Tentu, F berasumsi dia berada di alamat yang salah. Tapi kemudian wanita itu bicara.

“Kau pasti anaknya Peter dari Korea. Bener kan? Ayo masuk.”

Di dalam gelap. F duduk di sofa di ruang tamu. Matanya perlahan menyesuaikan. Ada bau samar di udara, seperti wangi lilin murah yang telah habis terbakar. Itu adalah rumah sederhana. Dekorasi Natal jelek tergantung di dinding, dan pohon Natal semeter tingginya berdiri di sudut ruang. Wanita itu menawari F anggur. Namanya Alex White. Dia bilang bahwa dia berimigrasi ke Amerika Serikat dari Jamaika ketika ia masih sangat muda.

“Apakah Anda tak keberatan jika aku mengajukan pertanyaan pribadi?” Katanya. “Apa hubungan Anda dengan ayahku?”

“Dia adalah pasanganku.”

Kata pasangan tidak berarti banyak bagi F. Ketika Alex melihat bahwa F tidak tahu bagaimana menanggapi itu, dia mengeluarkan sebuah kotak sepatu. Itu penuh dengan foto-foto diri Alex dan ayah F. Bahkan ada salah satu foto mereka berdua yang berbaring bersama di atas tempat tidur, dan foto Polaroid mereka yang sedang menyesap koktail di samping kolam renang di sebuah resor. Lelaki bernama Peter dalam foto tampak begitu sehat. Dadanya tampak lebih berotot ketimbang F, dan bahwa kepercayaan dirinya yang bahkan bisa kau rasakan pada orang-orang yang telah dicintai oleh wanita sepanjang hidupnya berbinar-binar menghadap langsung ke kamera. Kepalanya yang bulat bersih dicukur tampak berkilauan. Dia mengingatkan F pada singa malas yang menjilati kakinya di dataran Serengeti. Rekreasi, agresi tersembunyi, pemberani yang licik.

“Peter itu pria yang luar biasa,” kata Alex sambil melamun.

“Berapa lama Anda bersama-sama?”

Alex berpikir tentang hal itu sejenak.

“Sekitar dua tahun.”

“Hanya dua tahun?”

“Apa? Dua tahun adalah waktu yang lama.”

“Kenapa dia meninggal?”

“Dia menderita kanker.”

“Apa jenis kankernya?”

Itu penting bagi F untuk mengetahuinya. Baru-baru ini, dokter mulai bertanya tentang riwayat kesehatan keluarganya. Ibunya menderita kanker payudara. Jadi ini memang bukan pertanda baik bahwa ayahnya juga menderita kanker. Jika ayahnya berusia dua puluh empat tahun ketika ibunya mengandung F, seperti yang ibunya katakan padanya, maka ayahnya meninggal sebelum ulang tahun keenam puluhnya.

“Pankreas. Dia hanya hidup dua bulan setelah diagnosis.”

Alex membawa abunya.

“Tidak ada lagi yang kau bisa ambil. Peter memang orang yang hebat, tapi ia tidak kaya. Dari apa yang kudengar, dia hidup dari perempuan seluruh hidupnya. Dia memiliki banyak pengagum perempuan.”

“Dapatkah aku menanyakan satu hal lagi?”

Alex mengangguk.

“Anda masih muda dan cantik. Mengapa Anda mau tinggal dengan seseorang yang setua ayahku? Yang kumaksud adalah, apa sebenarnya yang Anda temukan menarik tentang dia? Anda sendiri yang mengatakan ia tidak punya uang.”

“Terima kasih atas pujiannya. Tapi aku harus mengoreksi beberapa hal yang kau sebutkan. Pertama, aku tidak lagi muda tidak juga cantik. Jadi, untuk sekarang, jangan salah paham. Saat mantan suamiku dan aku masih menikah, aku memang menarik. Rumah ini awalnya punya mantan suamiku. Ketika aku pertama kali menginjakkan kaki di negeri ini, aku hanya seorang gadis hitam kecil tanpa apa-apa kecuali pakaian di tasku. Tapi aku tidak muda lagi. Dan kedua, Peter tidak terlihat terlalu tua. Tentu saja, aku sulit mengatakan berapa usia orang Asia. Tetapi Peter adalah orang yang kuat. Aku tidak pernah membayangkan bahwa ia akan memiliki anak sepertimu.”

“Aku mengerti. Aku mengerti apa yang Anda katakan. Tapi apa yang kumaksud adalah, apa yang ada padanya yang membuat Anda tertarik padanya?”

“Hmm. Peter itu. . ., ” sejenak Alex berpikir keras. “Menakjubkan.”

“Menakjubkan?”

“Mungkin itu gara-gara garis keturunan, tapi ia memang tampak berkharisma. Dia mengatakan kepadaku kalau keluargamu keturunan ningrat?”

Ayahnya memang seorang Yi, tapi F tidak pernah mendengar kalau dirinya berasal dari salah satu keluarga kerajaan. F mengambil nama belakang ibunya, Kim. Alex mengatakan bahwa ketika mereka pertama kali bertemu, ayah F memberitahu bahwa ia adalah keturunan terakhir dari keluarga kerajaan Korea dari Dinasti Joseon dan karena sebab itu ia tidak punya pilihan selain hidup dalam pengasingan. Alex mengatakan bahwa dia berimigrasi ke Amerika Serikat untuk melarikan diri dari penindasan pemerintah militer diktator yang membenci kerajaan.

“Dia sering mengatakan kalau bangsa Korea tak bisa hidup tanpa seorang raja. Bahwa sebuah negara yang telah diperintah oleh raja-raja selama lebih dari dua ribu tahun akhirnya akan kembali menjadi monarki.”

“Pekerjaan macam apa yang ayahku lakukan? Aku mendengar dia adalah seorang seniman.”

“Seorang seniman ya? Sesuatu semacam itu lah.”

Alex tersenyum licik.

“Semacam itu?”

“Dia mendandani orang mati. Apakah ada yang seperti itu di Korea?”

“Kami, memang ada, tapi sedikit berbeda. Kau membiarkan peti mati terbuka di sini agar bisa dilihat pelayat, tapi kami tidak melakukan itu di Korea.”

“Dia sangat baik. Bayarannya tidak buruk, memang. Tentu saja, ia menghabiskan secepat ia mendapatkannya.”

“Apakah dia mabuk-mabukan, atau berjudi?”

“Tidak, dia investasikan secara cantik.”

Cantik.

“Dia tidak melukis?”

“Belum pernah kulihat.”

Alex mengulurkan guci tadi. Saat ia melakukannya, ia meminta F untuk membayar biaya pemakaman dan biaya penyidik swasta. Nadanya menjelaskan bahwa dia hanya akan memberi F gucinya jika ia memberikan uang terlebih dahulu.

“Ayahku tak meninggalkan apa-apa?”

“Tidak.”

Alex jadi blak-blakan. Suaranya berubah total dari saat ia berbagi kenangan dengan beberapa saat kemudian.

“Jangan repot-repot mencari-cari yang seperti itu. Aku bilang tempat ini milikku. Peter tinggal dengan beberapa wanita lain di Bronx dan tidak membawa banyak barang saat dia pindah.”

Dia akhirnya menyadari mengapa Alex menyewa seorang penyelidik dan mengundangnya ke AS. Alex telah membayar biaya pemakaman ayahnya dan ingin diberi kompensasi atasnya. F mengambil dompetnya. Dia tidak memiliki cukup uang. Alex mengatakan kepadanya ada ATM di sebuah pompa bensin tak jauh dari rumahnya ini. F keluar untuk menarik uang. Ketika F menyerahkan sebundel uang tunai, wajah Alex berubah cerah.

“Oh, tunggu sebentar. Pakaian-pakaiannya. Kau harus mengangkutnya bersamamu.”

Alex menuntut F ke lantai atas. Dia membuka lemari untuk mengungkapkan deretan jas.

“Aku tidak membutuhkan ini,” kata F.

“Jadi tak masalah jika aku menyumbangkan semua ini untuk Salvation Army?”

“Tunggu.”

F mengulurkan tangannya ke pakaian yang tergantung di sana. Pakaian-pakaian itu terasa nyaman disentuh ujung jarinya. Semuanya lembut dan halus dan kuat. Fakta bahwa kain itu telah menyentuh kulit ayahnya menarik baginya.

“Aku tidak bisa mengangkut semuanya. Hanya beberapa. Sebagai kenang-kenangan, bagaimanapun.”

“OK. Ini semua sama dengan yang kupikir. Oh, dan celana dalamnya ada di bagian bawah laci.”

Sementara mereka berbicara, bel pintu berbunyi dari lantai bawah. Alex turun ke bawah untuk membuka pintu dan segera berlari balik.

“Sebaiknya kau ikut turun.”

Seorang pria muda Asia sedang duduk di tempat yang sama di sofa di mana F duduk beberapa saat yang lalu. Dia mengenakan setelan hitam dan bahkan memiliki perawakan serupa, yang membuat F merasa seperti dirinya melayang keluar dari tubuhnya dan sedang menatap dirinya sendiri. Pria itu jelas punya perasaan aneh juga ketika melihat F menuruni tangga. Dia melompat bangkit dari sofa saat ia melihat F. Alex berdiri di antara mereka dengan meregangkan tangannya seperti seorang wasit sepak bola yang mencoba menghentikan perkelahian.

“Dia mengatakan detektif menghubunginya juga,” kata Alex. “Aku tidak tahu apa yang terjadi.”

Alex menelepon detektif swasta dan berbicara kepadanya. Ketika ia menutup telepon, Alex tampak bingung.

“Sepertinya detektif mengoperkan kasus ini kepada rekannya di Korea. Mereka melakukan pencarian di Korea dan mengirim email resmi dari kantor utama mereka. Detektif Korea mengirim mereka beberapa bukti, tetapi mereka tidak menyangka bakal ada lebih dari satu orang yang muncul.”

“Tidak ada detektif swasta di Korea,” kata F memberangus.

Pria lain itu, yang berdiri di sana dengan canggung, berkata, “Itu mungkin salah satu ‘orang suruhan’. Bukankah mereka itu yang sering membuntuti seseorang dan melakukan penyelidikan? Ilegal, tentu saja.”

F berjabat tangan dengan dia. Dia mengatakan namanya J. J telah menerima surel yang sama persis. Kedua ibu mereka bernama Kim Hee-gyung. Itu memang nama yang umum. Mereka berdua lahir di Seoul pada tahun 1980 dari wanita bernama Kim Hee-gyung yang pernah belajar seni. Lebih aneh lagi, ibu keduanya telah meninggal. Entah pria bernama Peter kencan dengan dua mahasiswa seni bernama Kim Hee-gyung pada waktu yang sama dan memiliki anak yang lahir di tahun yang sama, atau mungkin salah satu dari mereka tidak terkait.

“Detektif mengatakan mereka tidak punya tanggung jawab akan hal ini. Bukti-bukti telah dilampirkan di email yang mereka kirim. Dia juga mengatakan email itu tidak menjamin bahwa kalian secara genetik terkait dengan Peter, dan bahwa untuk konfirmasi akhir sepenuhnya tanggung jawab kalian.”

J tampaknya memiliki kesulitan memahami Alex. Jadi F menerjemahkan. J mengucapkan terima kasih. F memberinya kartu namanya.

“Aku bekerja di penerbitan.”

J mengeluarkan kartu namanya. Dia adalah seorang penjual untuk sebuah perusahaan yang mengimpor peralatan medis. J bertanya bagaimana kalau melakukan tes DNA segera.

“Aku pernah mendengar paling cepat seminggu untuk mendapatkan hasilnya di AS ini,” kata Alex.

Mereka berdua harus kembali pulang untuk bekerja segera. Tidak ada liburan Natal di Korea. Juga tidak akan mudah untuk kembali lagi untuk mengambil hasil DNA. Percakapan lebih lanjut diteruskan di atas meja makan. Alex membuka merlot California. Mereka makan steak Bohemian untuk hidangan utama mereka. Kentang panggang ini lezat, puji J.

“Duduk di meja dengan dua orang yang mirip satu sama lain membuatku merasa kita ini seperti semacam keluarga saja,” kata Alex.

“Orang Amerika punya kesulitan membedakan orang Asia,” kata J, melirik F. “Mereka pikir kita semua terlihat sama.”

“Apa yang akan Anda lakukan dengan abu ayah Anda yang tidak pernah tinggal?” Tanya F kepada J.

“Pertanyaan yang bagus. Kelihatan aku cuma datang untuk mengambilnya.”

“Dalam hal ini, haruskah aku yang membawanya pulang denganku untuk saat ini?”

“Sama sekali tidak.”

J bereaksi keras.

“Mengapa tidak?”

“Aku harus mengambil cuti kerja dan duduk di pesawat selama berjam-jam untuk datang jauh-jauh ke sini. Aku tidak bisa pulang dengan tangan kosong. . . ”

Setelah mereka berdebat berputar-putar, Alex menawarkan saran.

“Hal ini mungkin terdengar seperti ide bodoh tapi. . . bagaimana jika kalian berdua mencoba salah satu setelan jas Peter? Jas-jas itu berusia setidaknya sepuluh tahun yang lalu, mungkin lebih tua. Ada kemungkinan ia membuatnya saat ia berusia sepantaran kalian, sehingga kalian berdua bisa mencoba salah satunya dan siapa pun yang lebih pas dapat mengambil abunya. Kemudian, setelah kalian kembali ke Korea, kalian bisa melakukan tes DNA.”

Karena tidak ada solusi lain, mereka mengambil saran Alex. Dia pergi ke lantai atas untuk mengambil satu setelan jas. Berdasarkan lapisan, itu adalah jas kualitas atas buatan Italia. Memang sudah ketinggalan zaman, tapi bahkan pada pandangan pertama, kau bisa mengatakan bahwa itu bagus.

“Sepertinya itu yang harus diambil, dan bukan abunya,” F berkata pahit saat ia kembali menyesap scotch.

J pergi ke ruangan lain dan yang pertama mencoba. Alex mengamatinya dengan tatapan tajam dan bertanya kepada F, Apa yang kau pikirkan? Sedikit kekecilan di lengannya?

“Itu terlihat kekecilan,” kata F.

“Tapi ini cukup pas,” protes J. F yang berikutnya mencoba jas.

“Saat aku mecoba jas itu, aku sudah tahu. Bahkan ukuran lingkar pinggangnya sangat pas. Ketika aku melangkah keluar dari ruangan, itu sebuah game over. Mereka berdua tak berkata-kata. Mereka tahu tidak perlu lagi ada kontes. Dan terutama, sorot mata Alex. . . Dia tampak seperti sedang melihat kekasihnya yang sudah mati hidup kembali. Untuk berpikir bahwa ayahku menerima hal semacam itu terlihat dari tiap wanita di sepanjang hidupnya, bahwa Peter. . . Aku sangat cemburu.”

F bangkit dari sofa seakan ingin mengulangi kembali momen tadi. Kemudian dia berputar sedikit, seperti seorang model, di depanku dan istriku. Kita tidak menyadari sampai ia berdiri bahwa pakaiannya telah berubah. Kami pikir cuma ada sesuatu yang sedikit berbeda darinya. Kami mengamati lebih dekat pakaiannya. Warnanya mirip dengan pakaiannya saat dia keluar pagi kemarin, tapi sekarang jadi biru gelap. Jas itu lebih ketat di tubuh bagian atas F seperti layaknya baju besi. Desain itu tampak seperti yang ada dalam Goodfellas-nya Scorsese. Jas itu memeluk tubuhnya dengan sempurna dan tanpa menimbulkan suatu ketidaknyamanan. Dia kelihatan seperti dia bisa mengajak berkelahi orang yang berdiri di sampingnya dan tak akan merobek sehelai pun jahitannya.

“Kami sama-sama memotong beberapa helai rambut. Kami memberikan satu untuk Alex dan satu sama lain. Kami juga membagi abunya. J bangkit dan meninggalkan begitu dia memiliki segalanya.” Lanjut F. “Dia berencana untuk melakukan tes DNA secepat dia kembali ke Seoul. Aku kira dia akan melakukan apa yang ia lakukan. Aku juga mengambil sikat gigi Peter, untuk jaga-jaga. Dari apa yang kulihat di TV Amerika, kau bisa mendapatkan tes DNA bahkan dari sikat gigi.”

“Apa yang akan kau lakukan jika dia bukan ayahmu?”

“Aku akan mengirimkan semuanya kembali padanya. Mengapa aku harus menyimpan ayah orang lain ini?”

“Kalau jasnya?”

F bungkam dan tidak mau menjawab pertanyaanku. Kita semua jatuh cinta dengan pakaian tertentu. Dan kadang-kadang cinta itu bisa sangat kuat. Istriku juga bertanya sesuatu kepadanya yang telah ia tahan-tahan.

“Ngomong-ngomong, di mana kau tidur semalam?”

Kali ini juga, F tidak menjawab. Pikiran menakutkan memukulku bahwa penyair yang menghabiskan hari-harinya mengedit novel kriminal di belakang meja terpencil di sebuah rumah penerbitan ini mungkin bukan seseorang yang kami pikir bahwa itu dia, maka aku pun terdiam. Setelah ia berkemas dan berangkat ke JFK, istriku membersihkan tiap jengkal apartemen yang belum pernah dia lakukan sebelumnya. Seolah-olah untuk menghapus setiap jejak terakhir dari F.

***

  • Paul Benjamin Auster (lahir 3 Februari 1947) adalah seorang penulis dan sutradara Amerika yang tulisannya memadukan absurdisme, eksistensialisme, fiksi kriminal, dan pencarian identitas dan makna pribadi.
  • Seoul Spring, periode demokratisasi di Korea Selatan dari tanggal 26 Oktober 1979-17 Mei 1980. Ungkapan ini berasal dari Praha Spring di Cekoslowakia pada tahun 1968.
  • Pembantaian Gwangju, terjadi pada 18 Mei 1980, sekitar 600 orang tewas dalam insiden ini.
  • Whistlebowler: pihak yang mengetahui dan melaporkan tindak pidana tertentu dan bukan merupakan bagian dari pelaku kejahatan yang dilaporkannya
  • Kurt Vonnegut (November 11, 1922 – 11 April, 2007) adalah seorang penulis Amerika. Dalam rentang karir lebih dari 50 tahun, Vonnegut telah menerbitkan 14 novel, 3 koleksi cerita pendek, 5 naskah drama, dan 5 karya non-fiksi. Karya paling terkenalnya karena gelap satir, adalah novel laris Slaughterhouse-Five.

Selain Kim Taeyeon dan teman K-Pop lainnya, Korea Selatan tentu punya yang namanya sastra, yang salah satu penulis kontemporernya adalah Kim Young-ha ini. Saya pertama kali kenal dari video ceramah TEDx-nya, Be an Artist, Right Now!

Diterjemahkan dari cerpen berjudul The Suit di Words Without Borders, transliterasi Korea-Inggris oleh Sora Kim-Russell.

Kategori
Non Fakta

Burung Nejimaki dan Wanita-wanita Hari Selasa, Haruki Murakami [2/2]

wind up bird and tuesday women

Sebelum pukul dua tepat, aku memanjat dari halaman belakangku melewati dinding batako masuk ke gang. Sebenarnya, ini bukan seperti gang yang kau bayangkan seperti gang pada umumnya; itu hanya penamaan dari kami karena tak punya nama lain yang lebih bagus. Sesungguhnya, itu bukan gang. Sebuah gang punya jalan masuk dan keluar, menghubungkan dari satu tempat ke tempat lain.

Tapi gang ini tak punya jalan masuk atau keluar, mengarah ke tembok batako di satu sisi dan pagar kawat di sisi lainnya. Ini bahkan bukan lorong. Setidaknya, sebuah lorong harus memiliki sebuah jalan masuk. Penduduk sekitar menamainya “gang” hanya demi kemudahan.

Gang berkelok-kelok dihimpit halaman belakang rumah warga kira-kira sepanjang enam ratus kaki. Tiga-kaki-sekian lebarnya, tapi karena sampah yang menumpuk dan tanaman liar yang tumbuh di sisinya, hanya tersisa sedikit ruang sehingga kau harus berdesak-desakan melalui jalur ini.

Kategori
Non Fakta

Hidup Mati di Bangsal Ekonomi, Charles Bukowski

charity ward

Ambulans sudah penuh sesak tapi mereka masih bisa menyisakanku tempat di bagian atas dan kami berangkat juga. Aku telah memuntahkan darah dari mulut dengan banyaknya dan aku sangat khawatir bahwa aku mungkin bakal muntah ke orang di bawahku. Kami terus melaju dengan bunyi sirine. Suaranya terdengar jauh, terdengar seperti bunyinya bukan berasal dari ambulans kami. Kami sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit propinsi, kami semua. Kaum miskin. Kelas ekonomi. Ada yang sangat salah di antara kami semua dan banyak dari kami nampaknya tak akan kembali. Satu yang pasti adalah bahwa kami semua miskin dan tidak punya banyak kesempatan. Kami semua dipaketkan di sini. Aku tak pernah menyangka sebelumnya kalau satu ambulan bisa memuat begitu banyak orang.

“Ya Tuhan, oh Tuhan,” aku mendengar suara dari wanita hitam di bawahku, “Aku tak pernah berpikir ini bakal terjadi pada DIRIKU! Aku tak pernah berpikir hal seperti ini menimpaku Tuhan…”

Kategori
Non Fakta

Syahrazad, Haruki Murakami [1/2]

141013_r25575-877
SETIAP kali mereka bersetubuh, dia mendongengi Habara kisah yang aneh dan mencekam sesudahnya. Seperti Ratu Syahrazad dalam “Seribu Satu Malam.” Meskipun, tentu saja, Habara tidak seperti sang raja, dia tidak berniat untuk memenggal kepala sang ratu keesokan harinya. (Yang pasti wanita itu tidak pernah tinggal dengan Habara sampai pagi.) Dia mendongengi Habara karena keinginan Syahrazad sendiri, sebab menurut dugaan Habara, wanita itu menikmati meringkuk di tempat tidur dan ngobrol dengan seorang pria saat mereka berada pada kelesuan, saat-saat intim setelah bercinta. Dan ada kemungkinan juga, karena dia ingin menghibur Habara, yang hanya bisa menghabiskan setiap harinya terkurung dalam ruangan.

Oleh karenanya, Habara menjuluki wanita itu Syahrazad. Dia tidak pernah memanggilnya langsung dengan nama itu, tapi hanya Habara pakai untuk menyebut wanita itu dalam buku harian kecilnya. “Syahrazad datang hari ini,” dia mencatatnya dengan bolpoin. Kemudian Habara akan merekam inti cerita hari itu dengan sederhana, dan dengan samar untuk membingungkan siapa saja yang mungkin bakal membaca buku hariannya.

Habara tidak tahu apakah ceritanya benar, rekaan, atau sebagian benar dan sebagian rekaan. Dia tidak punya cara untuk mengetahui. Realitas dan anggapan, observasi dan imajinasi murni tampak campur aduk bersama-sama dalam tiap narasinya. Oleh karena itu Habara menikmati kisah-kisahnya layaknya seorang bocah, tanpa harus terlalu mempertanyakan kebenarannya. Pada akhirnya tak ada beda, mau itu bohong atau benar-benar terjadi, atau tambal sulam yang rumit dari keduanya, terus kenapa?

Bagaimana pun, Syahrazad sudah memberi hadiah lewat ceritanya yang menyentuh hati. Tidak peduli apa jenis ceritanya, dia selalu membuatnya jadi istimewa. Suaranya, pengaturan temponya, alurnya, semua sempurna. Dia menarik perhatian pendengarnya, menggodanya, mendorongnya untuk merenungkan dan berspekulasi, dan kemudian, pada akhirnya, memberi pendengarnya tepat apa yang dia inginkan. Karena terpesona, Habara mampu melupakan realitas yang mengelilinginya, meski hanya untuk sesaat. Seperti papan tulis yang dilap dengan kain basah, ia terhapus dari kekhawatiran, dari beragam kenangan tak menyenangkan. Harus minta apa lagi? Pada titik dalam hidupnya ini, melupakan adalah sesuatu yang Habara inginkan lebih dari apa pun.

Syahrazad berusia tiga puluh lima, empat tahun lebih tua dari Habara, dan merupakan seorang ibu rumah tangga dengan dua anak di sekolah dasar (meskipun dia juga seorang perawat terdaftar dan sesekali dipanggil untuk suatu pekerjaan). Suaminya adalah tipikal seorang pekerja kantoran. Rumah mereka berjarak dua puluh menit berkendara dari rumah Habara. Semua informasi pribadi tadi (atau hampir semua) Syahrazad sendiri yang memberitahukannya. Habara tidak punya cara untuk memverifikasi semua itu, tapi juga ia tak punya alasan untuk meragukannya. Syahrazad tidak pernah mengungkapkan namanya. “Kau tak butuh-butuh amat buat mengetahuinya, kan?” tanya Syahrazad. Sebaliknya Syahrazad pun tak pernah memanggil Habara dengan namanya langsung, meskipun tentu saja dia sudah tahu. Syahrazad sangat merahasiakan namanya, seolah-olah itu sesuatu yang mendatangkan kesialan atau hal tak pantas kalau sampai nama aslinya bocor keluar melewati bibirnya.

Di permukaan, setidaknya, Syahrazad yang ini tak memiliki kesamaan dengan si ratu cantik dalam “Seribu Satu Malam.” Wanita ini dalam perjalanan menuju usia menengah dan sudah muncul timbunan lemak di rahang dan timbul garis keriput di sudut matanya. Gaya rambutnya, makeup-nya, dan gaya berpakaiannya memang tidak serampangan, namun tidak juga cukup bagus untuk menerima suatu pujian. Penampilannya memang cukup menarik, tapi wajahnya tidak terlalu cantik, sehingga kesan yang ditinggalkannya serasa kabur. Akibatnya, orang-orang yang berjalan di sampingnya, atau yang berbagi lift dengannya, mungkin cuma memperhatikan dirinya sekilas. Sepuluh tahun sebelumnya, ia mungkin seorang wanita muda yang ceria dan menarik, bahkan mungkin sebaliknya. Di beberapa titik, bagaimana pun, tirai telah jatuh di bagian hidupnya dan tampaknya tidak mungkin ditarik ulur kembali.

Syahrazad mengunjungi Habara dua kali seminggu. Harinya tidak tetap, tapi dia tidak pernah datang pada akhir pekan. Tidak diragukan lagi dia memakai hari itu untuk menghabiskan waktu dengan keluarganya. Dia selalu menelepon satu jam sebelum tiba. Dia membeli bahan makanan di supermarket terdekat dan mengangkutnya dalam mobil sedannya, Mazda biru kecil. Model lama, ada penyok di bumper belakang dan roda-rodanya hitam dengan lumur yang melekat. Parkir di tempat yang disediakan depan rumah, Syahrazad akan membawa barang belanjaan tadi menuju pintu depan lalu membunyikan bel. Setelah memeriksa lubang intip, Habara akan membuka kunci, melepas kaitan rantai, dan menyilahkan dia masuk. Di dapur, wanita itu akan menyortir bahan makanan dan memasukannya ke dalam lemari es. Lalu dia membuat daftar bahan-bahan untuk dibeli pada kunjungan berikutnya. Dia melakukan tugas ini dengan terampil, dengan tanpa gerakan sia-sia, dan tanpa banyak cakap.

Setelah selesai, mereka berdua akan bergerak tanpa kata ke kamar tidur, seakan mereka tergerus oleh arus yang tak terlihat. Syahrazad dengan cepat melucuti pakaiannya sendiri dan, masih membisu, bergabung dengan Habara di tempat tidur. Wanita itu nyaris tak berbicara saat mereka bercinta, melakukan setiap tindakan itu seolah-olah ia sedang menjalankan sebuah tugas. Saat sedang menstruasi, dia menggunakan tangannya untuk mencapai tujuan yang sama. Cara kerjanya yang cekatan dan agak lugas ini mengingatkan Habara bahwa wanita itu memang seorang perawat profesional berlisensi.

Setelah bersenggama, mereka berbaring di tempat tidur dan berbincang-bincang. Lebih tepatnya, Syahrazad yang berbicara sementara Habara hanya mendengarkan, menambahkan beberapa kata, dan sesekali mengajukan pertanyaan. Ketika jam menunjukan empat tiga puluh, ia akan memutus kisahnya (untuk beberapa alasan, kisahnya selalu berakhir saat akan mencapai klimaks), melompat dari tempat tidur, mengenakan kembali pakaiannya, dan bersiap-siap untuk pergi. Dia harus pulang, katanya, untuk menyiapkan makan malam.

Habara akan mengantarnya sampai pintu, mengunci, dan mengamati melalui tirai sampai mobil biru kecil yang kumal itu melaju pergi. Pukul enam tepat, Habara akan membuat makan malam sederhana dan memakannya sendiri. Dia pernah bekerja sebagai juru masak, sehingga menyiapkan makan malam bukanlah kesulitan besar. Dia minum Perrier untuk makan malamnya (dia tidak pernah menyentuh alkohol) dan dilanjut dengan secangkir kopi, yang ia teguk sambil menonton DVD atau membaca. Dia menyukai buku lama, terutama yang harus ia baca beberapa kali untuk memahaminya. Tidak ada hal lain yang harus dilakukan. Dia tidak punya seorang pun untuk diajak bicara. Tidak ada seorang pun untuk ditelepon. Tanpa adanya komputer, ia tidak punya cara untuk mengakses internet. Tidak berlanggan koran, dan ia tidak pernah menonton televisi. (Ada alasan yang baik untuk itu.) Tak ada penjelasan mengapa dia tidak boleh pergi ke luar. Kalau Syahrazad berhenti menengoknya karena ada suatu alasan misalnya, ia akan ditinggal sendirian.

Habara tidak terlalu khawatir tentang hal itu. Jika itu terjadi, ia berpikir, akan sulit, tapi pasti akan ada jalan lain. Aku tidak terdampar di pulau terpencil. Tidak, ia berpikir, akulah pulau terpencilnya. Dia selalu nyaman berada dalam kesendirian. Bagaimanapun, yang mengganggunya justru pikiran bahwa dia tidak bisa berbicara di tempat tidur dengan Syahrazad. Atau, lebih tepatnya, kehilangan lanjutan dari kisahnya.

*

AKU dulunya seekor belut lamprei dalam kehidupan sebelumnya,” kelakar Syahrazad sekali waktu, saat mereka tengah berbaring di tempat tidur bersama-sama. Sebuah celetukan yang begitu sederhana, seolah-olah dia memberitahukan bahwa letak Kutub Utara berada di sebelah utara. Habara tidak tahu seperti apa makhluk bernama lamprei itu, tidak punya gambaran sedikit pun. Jadi dia tidak bisa menanggapi.

“Apakah kau tahu bagaimana cara lamprei makan ikan?” Tanya wanita itu.

Habara tidak tahu. Bahkan, itu pertama kalinya ia mendengar bahwa lamprei makan ikan.

“Lamprei tidak memiliki rahang. Itulah yang membedakan mereka dari belut lain.”

“Hah? Belut punya rahang ya?”

“Apakah kau tidak pernah memerhatikan?” Katanya, terkejut.

“Aku sering makan belut, tapi aku tidak pernah punya kesempatan untuk melihat apakah mereka punya rahang.”

“Nah, kau harus mengeceknya sekali waktu. Datangi akuarium atau tempat seperti itu. Belut biasanya punya rahang dan gigi. Tapi lamprei hanya punya pengisap, yang mereka gunakan untuk melampirkan diri pada bebatuan di dasar sungai atau danau. Kemudian mereka hanya akan mengapung di sana, bergerak bolak-balik, seperti rumput liar.”

Habara membayangkan sekelompok lamprei bergoyang mengambang seperti rumput liar di dasar danau. Adegan tampak jauh bercerai dari kenyataan, meskipun kenyataannya, dia tahu, kadang-kadang bisa sangat nyata.

“Lamprey hidup seperti itu, bersembunyi di antara rumput liar. Berbaring menunggu. Kemudian, ketika ikan kecil melewat di atas kepalanya, mereka akan melesat ke atas dan menyedotnya dengan pengisap mereka. Di dalam pengisap mereka terdapat alat serupa lidah dengan gigi, yang memuntir perut ikan sampai terbuka lubang sehingga mereka bisa mulai makan daging ikan itu, sedikit demi sedikit.”

“Aku tidak mau jadi ikan itu,” kata Habara.

“Kalau menengok zaman Romawi kuno, belut lamprei dibiakan dalam kolam. Budak yang membangkang bakal dilempar ke sana dan belut lamprey akan memakan mereka hidup-hidup.”

Habara berpikir bahwa ia tidak akan menikmati menjadi budak Romawi.

“Pertama kali aku melihat seekor lamprei adalah saat di sekolah dasar, pada perjalanan kelas ke sebuah akuarium,” kata Syahrazad. “Saat aku membaca deskripsi tentang cara mereka hidup, aku tahu bahwa aku adalah salah satu dari mereka dalam kehidupan terdahulu. Maksudku, aku bisa benar-benar ingat—mengikat ke batu, bergoyang tak terlihat di antara rumput liar, mengawasi ikan yang berenang di atasku.”

“Apakah kau ingat saat memakan ikan-ikan itu?”

“Tidak, aku tak ingat kalau yang itu.”

“Itu melegakan,” kata Habara. “Tapi apakah hanya itu tadi yang kau ingat dari kehidupanmu saat jadi lamprei—bergoyang ke sana kemari di dasar sungai?”

“Kehidupan terdahulu tidak bisa diingat begitu saja,” katanya. “Jika kau beruntung, kau akan mendapatkan seberkas kilatan kenangan. Ini seperti mengintip sekilas melalui lubang kecil di dinding. Dapatkah kau ingat setiap kehidupan terdahulumu?”

“Tidak, tidak ingat,” kata Habara. Sejujurnya, dia tidak pernah mendapat dorongan untuk meninjau kembali kehidupan terdahulu. Dia hanya fokus pada kehidupan yang sekarang.

“Namun, rasanya cukup nyaman di dasar danau. Terbalik dengan mulutku menempel pada batu, mengamati ikan yang lewat di atas kepala. Aku juga mendapati gertakan kura-kura yang sangat besar sekali, ada juga makhluk hitam besar yang melesat cepat, seperti pesawat ruang angkasa jahat di film ‘Star Wars’. Dan burung putih besar dengan paruh panjang yang tajam; dilihat dari bawah, mereka tampak seperti awan putih yang mengambang di langit.”

“Dan kau bisa melihat semua hal-hal ini sekarang?”

“Sangat jelas,” kata Syahrazad. “Cahayanya, tarikan arusnya, semuanya. Kadang-kadang aku bahkan bisa kembali ke sana dalam pikiranku.”

“Kau bisa berpikir saat jadi lamprey?”

“Ya.”

“Apa yang lamprey pikirkan?”

“Lamprei berpikir sangat lamprei. Tentang topik lamprey dalam konteks yang sangat lamprey. Tidak ada kata-kata untuk menjelaskan pikiran-pikiran itu. Semua soal dunia air. Ini seperti ketika kita berada di dalam rahim. Kita berpikir berbagai hal di sana, tapi kita tidak bisa mengungkapkan pikiran-pikiran di sana dalam bahasa yang kita gunakan di sini. Benar, kan?”

“Tunggu sebentar! Kau ingat bagaimana rasanya saat berada di dalam rahim?”

“Tentu,” kata Syahrazad, mengangkat kepalanya untuk melihat dada Habara. “Kau tak bisa?”

Tidak, kata Habara. Dia tidak bisa.

“Kalau begitu aku akan memberitahumu kapan-kapan. Tentang kehidupan di dalam rahim.”

“Syahrazad, Lamprey, Kehidupan Terdahulu” adalah yang Habara catat dalam buku hariannya hari itu. Dia meragukan bahwa siapa pun yang membaca bisa menebak apa arti dari kata-kata itu.

*

HABARA bertemu Syahrazad untuk pertama kalinya empat bulan sebelumnya. Habara dipindahkan ke rumah ini, di kota provinsi sebelah utara Tokyo, dan Syahrazad ditugaskan sebagai “fasilitator” untuknya. Karena Habara tidak bisa pergi ke luar, tugas Syahrazad adalah untuk membeli makanan dan barang-barang lain yang dibutuhkan dan membawanya ke rumah. Dia juga menyediakan beragam buku dan majalah yang Habara inginkan untuk dibaca, dan juga CD yang ingin didengarkan. Selain itu, Syahrazad memilih bermacam-macam DVD—meskipun Habara sulit menerima film pilihannya.

Seminggu setelah Habara tiba, seolah-olah sudah terlihat jelas langkah berikutnya, Syahrazad mengantarnya ke tempat tidur. Ada kondom di meja samping tempat tidur ketika Habara tiba. Habara menduga bahwa seks adalah salah satu kegiatan yang ditugaskan kepadanya—atau mungkin “aktivitas penunjang” adalah istilah yang mereka gunakan. Apapun istilahnya, dan apa pun motivasinya, Habara tetap menjalani alur tadi dan menerima ajakannya tanpa ragu-ragu.

Seks mereka bukan semacam formalitas, tapi tidak bisa dikatakan juga bahwa mereka melakukannya sepenuh hati. Syahrazad tampak penuh waspada, tetap hati-hati agar jangan sampai mereka menjadi terlalu antusias—sama seperti instruktur mengemudi yang tidak ingin murid-muridnya terlalu antusias mengemudi saat pelatihan berlangsung. Bagaimana pun, cara bercinta mereka tidak bisa dibilang bergairah, tidak juga sepenuhnya praktis. Mungkin memang ini awalnya salah satu tugas Syahrazad (atau, setidaknya, sebagai sesuatu keharusan), tetapi pada titik tertentu ia tampak—dalam beberapa hal—telah menemukan semacam kesenangan di dalamnya. Habara bisa mengatakan ini dengan jelas lewat respon tubuh Syahrazad, suatu respon yang menyenangkan dirinya juga. Pada akhirnya, Habara bukan binatang liar dikurung dalam kandang tapi manusia yang dilengkapi dengan berbagai emosi, dan seks sebagai kebutuhan dasar tubuh haruslah terpenuhi. Belum jelas sejauh mana Syahrazad melihat hubungan seksual mereka sebagai salah satu tugasnya, dan berapa banyak pengaruh terhadap kehidupan pribadinya? Habara tidak tahu.

Ada beberapa hal lain juga. Habara sering mendapat kesulitan dalam membaca perasaan dan maksud Syahrazad. Sebagai contoh, Syahrazad sering mengenakan celana katun polos. Jenis celana yang Habara bayangkan sering dipakai oleh ibu rumah tangga di usia tiga puluhan—ini sepenuhnya dugaan, karena ia tidak memiliki pengalaman dengan ibu rumah tangga di usia itu. Dalam beberapa hari, Syahrazad muncul dengan celana sutra berenda warna-warni sebagai gantinya. Mengapa Syahrazad beralih antara dua celana itu Habara tidak mengerti.

Hal lain yang membuatnya bingung adalah fakta bahwa persetubuhan mereka dan kisah Syahrazad yang begitu memikat, sehingga sulit untuk mengatakan di mana satu berakhir dan yang lainnya mulai. Habara belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya: meskipun ia tidak mencintainya, dan seksnya begitu-begitu saja, ia terhubung erat padanya secara fisik. Itu semua agak membingungkan.

*

AKU di usia belasan ketika aku mulai membobol rumah kosong,” kata Syahrazad suatu hari saat mereka berbaring di tempat tidur.

Habara—seperti sering terjadi ketika Syahrazad bercerita—menemukan dirinya kehilangan kata-kata.

“Apakah kau pernah menyelinap masuk ke rumah seseorang?” Tanyanya.

“Aku pikir tidak pernah,” jawab Habara dengan suara kering.

“Lakukan sekali dan kau bakal kecanduan.”

“Tapi itu ilegal.”

“Coba saja. Memang berbahaya, tapi kau pasti bakal ketagihan.”

Habara menunggunya dengan tenang untuk melanjutkan.

“Hal yang paling keren tentang berada di rumah orang lain ketika tidak ada orang di sana,” Syahrazad berkata, “adalah bahwa betapa sepi tempat itu. Tak ada suara. Itu seperti tempat yang paling sepi di dunia. Itulah yang aku rasakan. Ketika aku duduk di lantai dan terus berdiam di sana, hidupku sebagai seekor lamprey datang kembali kepadaku. Aku pernah bilang bahwa aku adalah seekor lamprey di kehidupan terdahulu, kan?”

“Ya, kau pernah cerita.”

“Seperti itulah. Pengisapku terpaut pada sebuah batu di dasar air dan tubuhku mengambang bolak-balik di atas kepala, seperti rumput liar di sekitarku. Semuanya begitu tenang. Mungkin karena aku tidak punya telinga waktu itu. Pada hari-hari cerah, cahaya menghunjam jatuh dari permukaan seperti anak panah. Ikan dari beragam warna dan bentuk melayang di atas. Dan pikiranku kosong dari pelbagai pikiran. Selain pikiran lamprey, tentu saja. Memang berkabut tapi begitu murni. Itu adalah tempat yang indah.”

*

PERTAMA kali Syahrazad membobol masuk ke rumah seseorang, jelasnya, yaitu saat dia masih SMP dan naksir pada anak laki-laki di kelasnya. Meskipun anak laki-laki itu tidak bisa dikatakan tampan, dia tinggi dan rapi, seorang murid teladan yang bermain di tim sepak bola, dan Syahrazad sangat tertarik padanya. Tapi ia tampaknya menyukai gadis lain di kelasnya dan tidak memperhatikan Syahrazad. Bahkan, sangat mungkin si laki-laki tidak menyadari kalau Syahrazad itu ada. Meski begitu, Syahrazad tidak bisa menyingkirkan laki-laki itu keluar dari pikirannya. Hanya melihat laki-laki itu membuat napas Syahrazad megap-megap; kadang-kadang dia merasa seolah-olah dia akan muntah. Jika dia tidak melakukan sesuatu tentang hal itu, pikir Syahrazad, dia mungkin bakal gila. Tapi menyatakan cintanya bukan perkara mudah.

Suatu hari, Syahrazad bolos sekolah dan pergi ke rumah anak laki-laki itu. Hanya lima belas menit berjalan kaki dari tempat tinggalnya. Dia telah meneliti situasi keluarga laki-laki itu terlebih dahulu. Ibunya mengajar bahasa Jepang di sebuah sekolah di kota sebelah. Ayahnya, yang pernah bekerja di sebuah perusahaan semen, telah tewas dalam kecelakaan mobil beberapa tahun sebelumnya. Adiknya adalah seorang siswa SMP. Ini berarti rumah pasti kosong pada siang hari.

Tidak mengherankan, pintu depan terkunci. Syahrazad memeriksa di bawah keset berharap menemukan kunci. Benar saja, kuncinya ada di sana. Masyarakat perumahan yang tenang di kota-kota provinsi seperti mereka memiliki sedikit tindak kejahatan, dan kunci cadangan sering ditinggalkan di bawah keset atau pot tanaman.

Untuk amannya, Syahrazad membunyikan bel, menunggu untuk memastikan bahwa tidak ada jawaban, mengawasi jalanan kalau-kalau dia sedang diamati, membuka pintu, kemudian masuk. Dia mengunci pintu kembali dari dalam. Melepas sepatu, dia memasukannya dalam kantong plastik dan menempatkannya dalam ransel di punggungnya. Kemudian dia berjingkat menaiki tangga ke lantai dua.

Kamar tidur anak laki-laki itu ada di sana, seperti yang Syahrazad bayangkan. Tempat tidurnya itu rapi. Di rak buku ada stereo kecil, dengan koleksi beberapa CD. Di dinding, ada kalender dengan foto tim sepak bola Barcelona dan, di samping itu, ada semacam banner tim, dan tidak ada yang lain. Tidak ada poster, tidak ada foto-foto. Hanya dinding berwarna krem. Sebuah tirai putih menggantung di atas jendela. Ruangan itu rapi, segala sesuatu berada di tempatnya. Tidak ada buku berserakan, tidak ada pakaian di lantai. Ruangan memang mencerminkan kepribadian penghuninya yang teliti. Atau cerminan dari sang ibu yang terus menjaga agar rumahnya tetap sempurna. Atau keduanya. Hal ini membuat Syahrazad gugup. Sedikit saja ceroboh, pasti akan ketahuan kalau kamar si laki-laki itu jadi berantakan. Namun, pada saat yang sama, dari kebersihan dan kesederhanaan ruang, dan betapa rapihnya, membuat Syahrazad merasa bahagia. Karena mengingatkan pada cerminan si laki-laki.

Syahrazad merebahkan dirinya ke kursi meja dan duduk di sana untuk sementara waktu. Ini adalah tempat lelaki itu belajar setiap malam, pikir Syahrazad, hatinya berdebar-debar. Satu demi satu, dia mengambil alat di meja, menggulungnya antara jari-jarinya, membaui mereka, dan mendekatkan ke bibirnya. Pensilnya, guntingnya, penggarisnya, stapler-nya – benda paling biasa menjadi entah bagaimana bercahaya karena milik lelaki itu.

Dia membuka laci mejanya dan dengan hati-hati memeriksa isinya. Laci teratas dibagi menjadi beberapa kompartemen, yang masing-masing berisi sekat kecil dengan beragam barang dan souvenir yang berserakan. Laci kedua sebagian besar diisi oleh buku-buku pelajaran untuk setiap kelas yang sedang ia ambil, sedangkan yang di bagian bawah (laci paling bawah) dipenuhi dengan tumpukan kertas lama, buku-buku pelajaran terdahulu, dan soal ujian. Hampir semuanya berhubungan dengan sekolah atau soal sepakbola. Syahrazad berharap bisa menemukan sesuatu yang pribadi—mungkin buku harian, atau surat-surat—tapi di meja tidak ditemukan apapun semacam itu. Bahkan tidak ada foto. Ini membuat Syahrazad merasa aneh. Apakah laki-laki itu tidak punya kehidupan selain sekolah dan sepak bola? Atau dia sangat hati-hati sehingga menyembunyikan segala sesuatu yang bersifat pribadi, agar tidak ada seorang pun yang tahu?

Namun, hanya duduk di meja dan mengedarkan matanya ke tulisan tangan laki-laki itu membuat Syahrazad terhanyut pada kata-katanya. Untuk menenangkan diri, ia bangkit dari kursi dan duduk di lantai. Dia menatap langit-langit. Kesunyian di sekelilingnya adalah mutlak. Dengan cara ini, ia kembali ke dunia lamprey.

*

JADI itu semua yang kau lakukan,” tanya Habara, “menyusup masuk kamarnya, memeriksa barang-barangnya, dan hanya duduk di lantai?”

“Tidak,” kata Syahrazad. “Ada lagi. Aku ingin sesuatu darinya untuk dibawa pulang. Sesuatu yang paling sering ia pakai setiap hari atau yang paling dekat dengan tubuhnya. Tapi itu harus barang yang tidak terlalu penting agar ia tak terlalu peduli kalau-kalau ia akan kehilangan barang itu. Jadi aku mencuri salah satu pensilnya.”

“Hanya sebatang pensil?”

“Iya. Satu yang telah ia pakai. Tapi mencuri belum cukup. Ini bukan hanya soal pencurian. Fakta bahwa aku telah melakukan itu akan hilang. Pada akhirnya, aku adalah Sang Pencuri Cinta.”

Sang Pencuri Cinta? Kedengaran seperti judul sebuah film bisu bagi Habara.

“Jadi aku memutuskan untuk meninggalkan sesuatu di kamarnya, suatu tanda. Sebagai bukti bahwa aku sudah pernah ke sana. Sebuah deklarasi bahwa ini adalah pertukaran, bukan hanya sekadar pencurian. Tapi barang apa yang harus kutinggalkan? Tidak ada yang muncul di kepalaku. Aku mencari-cari dalam ransel dan sakuku, tapi aku tidak bisa menemukan sesuatu yang pas. Aku menyesal karena tidak berpikir untuk membawa sesuatu yang cocok. Akhirnya, aku memutuskan untuk meninggalkan pembalut di sana. Salah satu yang belum dipakai, tentu saja, dan masih dalam bungkus plastik. Menstruasiku semakin dekat, jadi aku membawa beberapa hanya untuk jaga-jaga. Aku menyembunyikannya di sudut paling belakang laci terbawah, tempat yang bakal sulit untuk ditemukan. Itu benar-benar mengubahku. Fakta bahwa pembalutku itu tersimpan di laci mejanya. Mungkin karena aku begitu dihidupkan bahwa masa menstruasiku bakal datang segera setelah itu.”

Sebuah pembalut ditukar dengan pensil, pikir Habara. Mungkin ini adalah yang harus Habara tulis dalam buku hariannya hari itu: “Pencuri Cinta, Pensil, Pembalut.” Dia sangat ingin melihat reaksi mereka saat membaca ini!

“Aku ada di dalam rumahnya hanya lima belas menit atau lebih. Aku tidak bisa tinggal lebih lama dari itu: ini adalah pengalaman pertamaku menyelinap ke sebuah rumah, dan aku takut kalau seseorang tiba-tiba muncul ketika aku masih berada di sana. Aku memeriksa jalan untuk memastikan, menyelinap keluar pintu, menguncinya, dan menyimpan kunci di bawah keset. Lalu aku pergi ke sekolah. Membawa pensil miliknya yang berharga itu.”

Syahrazad terdiam. Dari tampilannya, dia berusaha kembali ke waktu silam itu dan mereka ulang beragam hal yang terjadi berikutnya, satu per satu.

“Minggu itu adalah minggu paling bahagia dalam hidupku,” katanya setelah jeda panjang. “Aku menulis hal-hal acak di buku catatanku dengan pensil itu. Aku membauinya, menciumnya, mengusapkan ke pipiku, memutar-mutar di antara jari-jariku. Kadang-kadang aku bahkan menempatkannya dalam mulutku dan mengisapnya. Tentu saja, itu membuatku gelisah karena semakin aku sering memakainya untuk menulis, semakin pendek pensil itu jadinya, tapi aku tidak bisa menahan diri. Jika itu sudah terlalu pendek, aku pikir, aku bisa datang kembali dan mengambil yang lain. Ada sepaket besar pensil yang tidak digunakan dalam kotak pensil di atas mejanya itu. Ide yang membuatku gila—ini memberiku sensasi geli yang aneh. Tidak lagi jadi soal buatku bahwa di dunia nyata dia tidak pernah melihatku atau menunjukkan sikap bahwa ia menyadari keberadaanku. Karena aku diam-diam memiliki sesuatu darinya—bagian dari dirinya, seolah-olah begitu.”
+

Diterjemahkan dari “Scheherazade” yang dirilis di The New Yorker 13 Oktober 2014. Cerpen Haruki Murakami yang dialihbahasakan dari Jepang ke Inggris oleh Ted Goossen.

Kategori
Non Fakta

Swastika, Charles Bukowski

swastika charles bukowski

Presiden Amerika Serikat memasuki mobilnya, dengan dikawal para agennya. Dia duduk di kursi belakang. Pagi yang gelap dan tidak mengesankan. Tak seorang pun bicara. Mereka melaju dan suara ban terdengar menggilas jalanan yang masih basah oleh hujan malam sebelumnya. Tercipta keheningan aneh yang tidak seperti biasanya.

Mereka baru melaju sebentar, kemudian Presiden berkata: “Rasanya ini bukan jalan menuju bandara.”

Agennya tidak menjawab. Sebuah liburan telah dijadwalkan. Dua minggu di rumah pribadinya. Pesawatnya sedang menunggu di bandara.

Gerimis turun. Tampak seolah-olah akan hujan lagi. Orang-orang, termasuk Presiden, memakai setelan mantel berat; juga topi; membuat mobil tampak penuh sesak. Di luar, angin dingin bertiup ajek.

“Pak supir,” ucap Presiden, “Aku yakin anda mengambil jalan yang salah.”

Sopir tak menjawab. Agen lain hanya menatap lurus ke depan.

“Dengar,” kata Presiden, “adakah yang ingin menunjukan orang itu jalan yang benar ke bandara?”

“Kita tidak akan ke bandara,” kata agen di sebelah kiri Presiden.

“Kita tidak akan ke bandara?” ulang Presiden.

Para agen diam kembali. Gerimis menjadi hujan. Sopir menyalakan penyeka kaca depan mobil.

“Dengar, apa-apaan ini?” tanya Presiden. “Apa yang terjadi di sini?”

“Sudah hujan selama berminggu-minggu,” kata agen di samping si pengemudi. “Ini bikin depresi. Aku akan senang jika bisa melihat sedikit saja sinar matahari.”

“Ya, sama aku juga,” timpal pengemudi.

“Ada yang salah di sini,” kata Presiden, “Aku berhak untuk tahu-”

“Anda tidak sedang dalam posisi untuk berhak memerintah,” kata agen di kanan Presiden.

“Kalian sedang bercanda ya?-”

“Kami sungguh-sungguh,” kata agen yang sama.

“Apakah ini semacam percobaan pembunuhan?” tanya Presiden.

“Ah tentu bukan. Itu sungguh klise.”

“Lalu apa-”

“Maaf. Kami mendapat perintah untuk tidak membicarakan apa-apa.”

***

Mereka terus melaju selama beberapa jam. Hujan masih berlanjut. Tak seorang pun bicara.

“Sekarang,” kata agen di kiri Presiden, “putar balik, lalu belok. Kita tak diikuti. Hujan rupanya sangat membantu.”

Mobil memutari area itu, kemudian masuk ke jalanan tanah yang kecil. Jalan berlumpur yang membuat untuk beberapa kalinya ban berputar tak bertenaga, selip, namun kemudian bisa pakem lagi dan mobil bisa terus melanjutkan. Seorang pria dalam jas hujan kuning membawa senter dan mengarahkan mereka ke sebuah garasi terbuka. Ini di sebuah daerah terpencil dengan banyak pohon. Sebuah rumah kecil berdiri di sebelah kiri garasi. Para agen membuka pintu mobil.

“Keluar,” perintah mereka pada Presiden. Presiden menurutinya. Para agen terus mengapit Presiden dengan hati-hati, meskipun tidak didapati seorang manusia lain dalam jarak bermil-mil jauhnya kecuali seseorang dengan senter dan jas hujan kuning itu.

“Saya pikir kita bisa melakukan semuanya di sini,” kata pria di jas hujan kuning. “Justru jauh lebih berisiko kalau dilakukan di sana.”

“Perintah,” kata salah satu agen. “Kau tahu lah. Dia selalu percaya pada intuisinya. Dia sudah memperhitungkannya, lebih dari sebelumnya.”

“Di sini sangat dingin. Apakah kalian punya waktu untuk minum kopi? Sudah kusiapkan.”

“Hebat. Tadi itu perjalanan panjang. Saya kira mobil lain itu sudah siap untuk pergi?”

“Tentu saja. Sudah diperiksa berkali-kali. Sebenarnya, kita sepuluh menit lebih cepat dari jadwal. Itulah alasan saya menawarkan kopi. Kau tahu lah betapa dia sangat tegas soal ketepatan waktu.”

“Oke, jadi, mari kita masuk.”

Terus mengapit Presiden dengan hati-hati, mereka memasuki rumah pertanian.

“Anda duduk di sana,” salah satu agen mempersilahkan Presiden.

“Ini dijamin kopi yang enak,” kata pria di jas hujan kuning, “racikan sendiri.”

Dia berjalan dengan membawa cangkir. Dia menuangkan satu untuknya, kemudian duduk, masih dalam jas hujan kuning, hanya helmnya yang dilemparkan ke dekat kompor.

“Ah, ini sungguh nikmat,” kata seorang agen.

“Tambah krim dan gula?” salah satunya bertanya pada Presiden.

“Boleh,” pintanya-

***

Tidak ada banyak ruang dalam mobil tua itu tapi mereka semua berhasil masuk, dengan Presiden lagi-lagi ditempatkan di kursi belakang—Mobil tua inipun selip karena lumpur dan kubangan air tetapi sukses juga sampai jalan raya. Sekali lagi, ini adalah perjalanan yang sunyi. Kemudian salah satu agen menyalakan rokok.

“Sialan, aku tak bisa berhenti merokok!”

“Yah, sulit untuk berhenti memang. Jadi jangan khawatir tentang hal itu.”

“Aku tidak khawatir tentang hal ini. Hanya saja merasa jijik dengan diriku sendiri.”

“Ya sudah, lupakan saja semua itu. Yang pasti sekarang adalah hari besar dalam sejarah.”

“Aku setuju!” seru si perokok. Lalu ia menarik nafas-

***

Mereka parkir di sebelah rumah penginapan tua. Hujan masih belum reda. Mereka masih duduk dalam mobil untuk beberapa saat.

“Sekarang,” kata agen yang di samping sopir, “keluarkan dia. Tak ada siapapun di jalan.”

Pintu dibuka dan orang-orang dengan cepat mendorong masuk Presiden. Pintu kemudian dikunci dan digembok. Ada tiga orang yang menunggu di dalam. Dua orang berusia sekitar 50an tahun. Yang seorang lagi duduk dengan pakaian yang terdiri dari setelan kemeja buruh tua, itu baju bekas yang terlalu besar dan sepatu seharga sepuluh dolar, yang lecet dan kasar. Dia duduk di kursi goyang di tengah ruangan. Dia lelaki berusia 80an, namun senyumnya itu mengingatkan pada seseorang—dengan mata yang sama dengan matanya; hidung, dagu, dahi yang tak banyak berbeda.

“Selamat datang, Pak Presiden. Aku sudah menunggu lama Sejarah dan Sains dan anda, dan semua telah tiba, sesuai jadwal, hari ini-”

Presiden memandang lelaki tua di kursi goyang. “Ya Tuhan! Kau- Kau itu-”

“Anda mengenalku! Warga anda yang lain pun sering membuat lelucon gara-gara kesamaan ini! Betapa bodohnya untuk menyadari bahwa aku-”

“Tapi sudah terbukti kalau-”

“Baiklah, berita itu memang benar. Bunker: 30 April 1945. Kami sebenarnya yang merencanakan itu. Aku sudah sangat bersabar. Sains bersama kami tapi kadang-kadang aku harus fokus mempercepat Sejarah. Kami menginginkan orang yang tepat. Itulah Anda. Yang lain terlalu mustahil—terlalu asing bagi pandangan politikku—Andalah yang sejauh ini paling ideal. Melalui Anda semuanya akan lebih mudah. Tapi seperti yang aku katakan, aku harus mempercepat gerak roda Sejarah sedikit lebih gesit—berhubung usiaku—aku harus-”

“Maksudmu-?”

“Ya. Aku yang telah membunuh Presiden Kennedy. Dan kemudian, membunuh adiknya.”

“Tapi mengapa harus ada dua kali pembunuhan?”

“Kami mendapat informasi bahwa pemuda itu pun akan memenangkan pemilihan presiden.”

“Lantas apa yang akan kau lakukan denganku? Aku telah diberitahu bahwa aku tidak akan dihabisi-”

***

“Bolehkah aku perkenalkan padamu Dr. Graf dan Dr. Voelker?”

Kedua pria itu mengangguk pada Presiden dan tersenyum.

“Tapi apa yang akan terjadi?” tanya Presiden.

“Maaf. Tunggu sebentar. Aku harus bertanya pada orangku. Karl, bagaimana kabar tentang The Double?”

“Beres. Kami meneleponnya saat di peternakan. The Double tiba di bandara sesuai jadwal. The Double memberitahu, berhubung kondisi cuaca, ia membatalkan penerbangan sampai besok. Kemudian memberi kabar bahwa ia akan memilih mengemudi saja-sesuatu yang membuatnya senang apalagi kalau harus berkendara saat hujan-”

“Oke intinya?” tanya orang tua itu.

“The Double mati.”

“Baik. Mari kita langsung saja. Sejarah dan Sains telah tiba tepat waktu.”

Para agen menuntun Presiden menuju salah satu dari dua meja operasi. Mereka memintanya untuk menanggalkan pakaian. Lelaki tua itu berjalan ke meja lain. Dr. Graf dan Dr. Voelker mengenakan baju medis mereka dan telah siap untuk melakukan sebuah pekerjaan-

***

Yang tampak lebih muda dari 2 laki-laki bangkit dari salah satu meja operasi. Dia mengenakan pakaian Presiden, lalu berjalan ke cermin tinggi di dinding sebelah utara. Dia berdiri selama 5 menit. Kemudian ia berbalik.

“Ini ajaib! Tidak ada bekas luka sedikit pun—tak perlu ada fase lama penyembuhan sehabis operasi. Selamat, Tuan-tuan! Bagaimana kalian melakukannya?”

“Nah, Adolph,” jawab salah satu dokter, “kami telah bekerja jauh-jauh hari sejak-”

“TUNGGU! Aku tak boleh dipanggil dengan ‘Adolph’ lagi—sampai waktu yang ditentukan, kecuali aku memerintahkan begitu!—sampai saat itu, tidak akan ada penggunaan bahasa Jerman—aku sekarang Presiden Amerika Serikat!”

“Siap, Pak Presiden!”

Kemudian dia meraih dan meraba bibir atasnya: “Tapi aku rindu kumis tua itu!”

Mereka tersenyum.

Lalu ia bertanya: “Bagaiman orang tua itu?”

“Kami telah menempatkannya di tempat tidur. Dia tidak akan bangun untuk 24 jam ke depan. Pada saat ini—semuanya—semua mesin operasi telah dimatikan, dihancurkan. Yang perlu kita lakukan hanya meninggalkan tempat ini,” kata Dr .Graf. “Tapi- Pak Presiden, menurut perkiraan saya mungkin saja orang itu akan-”

“Tidak, aku sangat yakin, dia tak berdaya! Biarkan dia menderita sebagaimana aku pun pernah menderita!”

Dia berjalan ke tempat tidur dan menatap pria itu. Terbaring seorang pria tua dengan rambut putih berumur 80an.

“Besok aku akan berada di rumah pribadinya. Aku bertanya-tanya bagaimana istrinya akan menikmati betapa asyiknya bercinta denganku?” ia tertawa kecil.

“Saya yakin, mein Fuhrer – oh maaf! Maafkan! Saya yakin, Pak Presiden, bahwa dia akan sangat menikmati bercinta dengan anda.”

“Mari kita bergegas tinggalkan tempat ini. Para dokter yang pertama, silahkan jalan duluan, lalu sisanya menyusul kemudian—satu atau dua orang bergantian keluar—lalu masuk ke mobil, kemudian kita akan tidur nyenyak di Gedung Putih.”

***

Lelaki tua dengan rambut putih terbangun. Dia sendirian di dalam ruangan. Dia bisa melarikan diri saat itu juga. Ia keluar dari tempat tidur untuk mencari pakaian, sambil berjalan melintasi ruangan ia mendapati bayangan seorang lelaki tua dalam cermin.

Tidak, ia membatin, oh Tuhan, tak mungkin!

Dia mengangkat lengan. Orang tua di cermin pun mengangkat lengan. Dia bergerak maju. Lelaki tua di cermin pun mendekat. Dia menelisik tangannya—berkeriput, dan bukan tangannya! Dan dia menatap kakinya! Itu pun bukan kakinya! Juga bukan tubuhnya!

“Tuhanku!” teriaknya keras, “YA TUHAN!”

Kemudian dia mendengarkan suaranya. Bukan suara miliknya. Mereka bahkan telah menukar kotak suaranya. Dia meraba tenggorokannya, kemudian kepalanya dengan jari-jarinya. Tak ada bekas luka! Tidak ada bekas luka sedikit pun. Dia mengenakan pakaian lelaki tua tadi dan berlari menuruni tangga. Di pintu pertama dia mengetuk pintu yang bertanda “induk semang.”

Pintu terbuka. Seorang wanita tua muncul.

“Ada apa, Pak Tilson?” dia bertanya.

“‘Pak Tilson?- Nyonya, aku adalah Presiden Amerika Serikat! Ini gawat!”

“Oh, Pak Tilson, kau sangat lucu!”

“Dengar, di mana telepon?”

“Selalu di tempatnya berada tentu saja, Pak Tilson. Di sebelah kiri pintu masuk.”

Dia mengecek sakunya. Mereka meninggalkan sesuatu. Dia mendapati dompet. Ada 18 dollar. Dia memasukkan uang receh di telepon.

“Nyonya, apa alamat penginapan ini?”

“Oh Pak Tilson, anda sudah sangat tahu alamatnya. Anda sudah tinggal di sini selama bertahun-tahun! Anda bertingkah sangat aneh hari ini, Pak Tilson. Dan saya ingin memberitahu anda sesuatu!”

“Ya, ya – apa itu?”

“Saya ingin mengingatkan anda bahwa hari ini tenggat sewa anda!”

“Tolonglah nyonya, katakan padaku alamat penginapan ini!”

“Kau pura-pura lupa saja! Ini Shoreham Drive 2435.”

“Ya,” katanya di telepon, “taksi? Saya pesan taksi ke Shoreham Drive 2435. Saya akan tunggu di lantai pertama. Nama saya? Nama saya? Baik, nama saya Tilson-”

Tidak ada gunanya pergi ke Gedung Putih, ia berpikir, mereka pasti menjaga ketat di sana—aku harus pergi ke kantor surat kabar terbesar. Aku akan memberitahu mereka. Aku akan menceritakan semuanya pada editor, segala sesuatu yang telah terjadi

***

Pasien lain menertawakannya. “Lihat orang itu? Orang yang kelihatan kayak si diktator- siapa namanya tuh, yang pasti dia sangat mirip, cuma lebih tua. Ketika ia datang ke sini sebulan yang lalu ia mengatakan kalau dirinya Presiden Amerika Serikat. Tepat sebulan yang lalu. Dia jarang menceracau soal itu belakangan ini. Tapi dia sangat suka baca koran. Aku tak pernah lihat seorang pria yang begitu bersemangat saat baca koran. Dia memang tahu banyak soal politik. Aku rasa itulah yang bikin dia jadi sinting. Terlalu banyak politik.”

Bel penanda makan malam berbunyi. Semua pasien merespon. Kecuali satu.

Seorang perawat laki-laki berjalan ke arahnya.

“Pak Tilson?”

Tidak ada jawaban.

“PAK TILSON?”

“Ah ya?”

“Sudah waktunya makan, Pak Tilson!”

Lelaki tua berambut putih itu bangkit dan berjalan pelan menuju ruang makan pasien.

***

Cerpen HENRY CHARLES BUKOWSKI dari kumcer The Most Beautiful Woman in Town dan Erections, Ejaculations, Exhibitions and General Tales of Ordinary Madness.