Kategori
Celotehanku

Kasmaran

34517056890_7bcbb6b9f9_b

Alih-alih sedikit-sedikit mengecek ponsel, saya bisa kembali masyuk membaca buku, setelah selama sekitar dua bulan otak saya dibanjiri dopamin dan testosteron – hormon-hormon yang punya peran mendatangkan “kebodohan yang diprogram secara biologis” pada otak yang sedang kasmaran. Berbarengan dengan semakin menurunnya mereka, How the World Works-nya Noam Chomsky makin menyadarkan saya, dunia ini sedang enggak baik-baik saja: hancurnya beragam gerakan kerakyatan, letusan kudeta-kudeta yang polanya seragam, kacaunya berbagai negara, genosida ini itu, naiknya para diktaktor, dan busuknya media dalam memberitakan, serta bahwa semua itu berakar pada kebijakan Amerika Serikat dan korporasi multinasional. Dapat mengolah bacotan Chomsky ini membuktikan bahwa fungsi otak saya, setidaknya, sudah kembali normal.

Meskipun orang-orang mendapat pengalaman jatuh cinta yang berbeda, pergolakan kimiawi di balik ketertarikan awal menunjukkan bahwa ada penjelasan biologis, misalnya merasa pusing selama minggu-minggu awal yang bahagia itu. Hal pertama yang terjadi ketika kita jatuh cinta dengan seseorang adalah kita mengambil makna khusus – semua tentang dirinya jadi istimewa. Selama sekitar dua tahun, dia hanya teman perempuan cantik biasa dan sekarang, senyumannya bahkan mengingatkan saya pada Kim Min Hee. Kita jadi sangat posesif secara seksual dan sosial. Anda hanya menginginkan orang ini. Kita mendambakan dirinya. Kita mendapat kegembiraan ketika segala sesuatunya berjalan dengan baik dan jatuh dalam keputusasaan ketika dia enggak membalas chat. Dan kita sangat termotivasi untuk memenangkan orang itu. Apa yang akan dilakukan orang ketika mereka jatuh cinta benar-benar di luar dugaan. Ini sebuah dorongan, seperti kehausan atau kelaparan.

Dopamin, yang menyebabkan orang terobsesi tentang minat cinta barunya, yang melahirkan kegamangan berbunga-bunga, ketika udara terasa lebih menyegarkan, langit tampak lebih biru, senja tampak lebih sendu, yang bikin orang dapat menghabiskan hingga 85% dari waktu bangunnya untuk memikirkan si dia, yang mengukir senyum ketika menatap fotonya, efeknya telah menurun dalam kepala saya. Sementara itu, testosteron, yang selain meningkatkan hasrat seksual, juga meningkatkan perilaku agresif, yang dapat mendorong seseorang untuk berani mengejar si dia, nampaknya sudah menyurut.

Korteks ventral medial prefrontal, wilayah otak yang berfokus pada negatif, menjadi kurang aktif ketika seseorang jatuh cinta. Padahal korteks ventral medial prefrontal adalah teman terbaik saya. Karena darinya saya bisa mengamalkan ajaran kaum Stoik dan kebijaksanaan “untuk melihat gelas separuh kosong”: Hampir segala harapanmu akan hancur, beragam mimpimu harus masuk kubur, belahan jiwa idamanmu hanya eksis dalam khayalanmu, hari ini berjalan buruk, kemungkinan besar besok bakal lebih buruk, hingga yang paling buruk akhirnya terjadi. Dia mempersiapkanmu untuk yang terburuk, mengurangi ketegangan akibat ekpektasi, menjagamu dari kekecewaan, bahkan membuatmu sedikit tertawa karena memikirkan hal-hal buruk ini. Tampaknya, konteks prefrontal medral ventral saya sudah kembali aktif, saya mulai teringat pada Tom Hansen dalam (500) Days of Summer dan para protagonis murung yang dibikin merana karena mengejar kekasih dambaannya dalam novel Haruki Murakami.

Saya ingin berpikir bahwa jatuh cinta cuma reaksi kimia yang memaksa hewan untuk berkembang biak. Tentu, sebuah kesalahan untuk mereduksi cinta hanya pada bahan kimia, karena begitu banyak faktor lain yang bekerja di otak dan pikiran. Dan bukan hanya tentang seks, meski Freud bakal protes. Ini tentang peduli pada seseorang secara paripurna, timbulnya beragam distraksi, ketidaksabaran, kegelisahan takut ditinggalkan, dan campur aduk lainnya, yang makin diperumit setelah munculnya Romantisisme dan manusia-manusia yang selalu meromantisir. Romantisisme adalah tempat kita belajar tentang cinta, tentang naksir seseorang, tentang momen sekejap mata seseorang bertemu orang lain di seberang ruangan dan bagaimana itu mengarah ke bahagia selamanya. Masih percaya kamu akan mengejar belahan jiwamu dengan menjelajah melintasi Eropa? Kamu dapat berterima kasih kepada Richard Linklater untuk Before Sunrise, tetapi romantisme macam begini yang perlu kita salahkan atas obsesi kita dengan ketertarikan instan yang mengarah pada cinta dan kenyamanan seumur hidup.

Karena orang yang jatuh cinta enggak memproses dunia di sekitar mereka dengan rasional, dan menurunnya fungsi kognitif, ketika para hormon tadi mulai menormal, muncul beragam kegelisahan. Beberapa mungkin takut kemungkinan penolakan, yang menurunkan kenikmatan jatuh cinta. Yang lain mungkin takut untuk mengikatkan komitmen, atau takut karena bakal terlalu membutuhkan, dan sebagai akibatnya, mengenyahkan gebetan mereka. Beberapa mungkin terus menyelam, aman dengan harapan mereka bahwa ini mungkin hubungan yang akan bertahan. Saya sendiri masih enggak habis pikir atas apa yang saya rasakan dan alami kemarin-kemarin.

 

Kategori
Celotehanku

Menguliti Ideologi dan Sebagainya dan Sebagainya

theylive2

Sudah sering saya mendengarkan ceramah yang disampaikan para ustadz tentang bahaya laten neoliberalisme dan kapitalisme, yang sering juga membawa-bawa komunisme. Tentu saja, saya setuju, ada sesuatunya dalam ideologi-ideologi itu. Sayang, yang mereka bahas terbatas masalah spiritual dan moral, serta sangat permukaan.

Ideologi bukanlah doktrin politik yang dikodifikasi menjadi “isme-isme,” melainkan fantasi-fantasi dan kepercayaan-kepercayaan yang mendasari berfungsinya suatu masyarakat. Ideologi sangat keseharian. Dalam The Pervert’s Guide to Ideology (2012), Slavoj Žižek ingin menunjukkan bahwa apa yang kita anggap sebagai kenyataan selalu dibentuk oleh ideologi: ideologi adalah apa yang membuat pengalaman kolektif yang tak berbentuk terbaca.

The Pervert’s Guide to Ideology adalah tur melalui berbagai film, dengan Žižek hadir bukan hanya sebagai narator, tapi juga sebagai pemeran aktif dalam adegan. Perawakannya kayak para pemikir radikal berjanggut abad ke-19. Zizek membatasi pakaiannya dengan kemeja ala proletar dan jins biru, dengan sesekali berganti ke korduroi. Tanpa jas atau dasi. Žižek berbicara bahasa Inggris dengan kecepatan tinggi dengan aksen unik, dan gestur tubuh yang kadang bikin gemes. Žižek mengulas berbagai topik, dari Kekristenan, Coca-Cola, Starbucks, pemberontakan, komunisme, Kinder’s Joy, konsumerisme, dan sebagainya, dan sebagainya. Alih-alih memegang popcorn, mungkin kita harus mencatatnya.

https://www.youtube.com/watch?v=5Ch5ZCGi0PQ

“Saya makan dari tempat sampah setiap saat,” tegas Žižek membuka film ini. “Nama tempat sampah ini adalah ideologi. Kekuatan material ideologi yang membuat saya tidak melihat apa yang sebenarnya saya makan.”

Dia memulai dengan film karya John Carpenter yang sangat sesuai dengan tema besarnya. They Live (1988) adalah pelajaran paling baik dalam kritik ideologi. Diceritakan seorang pria menemukan sekantong kacamata hitam ajaib di sebuah gereja yang ditelantarkan. Ketika dia berjalan-jalan di Los Angeles dan melihat sekeliling lewat kacamata tadi, sebuah papan reklame iklan komputer yang tampak enggak berbahaya berubah jadi cuma tulisan “OBEY”, iklan lain yang menunjukkan pasangan yang berlibur di pantai jadi “MARRY AND REPRODUCE”. Iklan, majalah mode, dan berbagai visual menjadi “STAY ASLEEP”, “WATCH TV”, “NO THOUGHT”, “CONSUME”. Uang jadi “THIS IS YOUR GOD”.

Film Carpenter dengan demikian menggambarkan sesuatu yang diyakini Žižek: bahwa di balik makna permukaan yang begitu jelas terselip tekanan-tekanan dan keharusan-keharusan tersembunyi. Orang-orang selalu salah mengetahui realitas sosial mereka. Žižek kembali ke formulasi Karl Marx dalam Kapital: mereka tidak mengetahuinya, tapi mereka melakukannya.

Untuk membuatnya lebih konkret, ide Marx adalah bahwa masyarakat terus berfungsi seperti apa adanya, orang-orang terus melakukan apa yang mereka lakukan (tanpa pemberontakan atau protes), karena mereka enggak tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik layar; mereka memiliki “kesadaran palsu” atau “pemahaman salah” tentang apa yang sedang mereka lakukan.

Gara-gara Stalin, Pol Pot, dan kamerad-kameradnya, Marx sebagai pemikir visioner sering dideskritkan. Kenapa pula Yesus dan Muhamad, yang pengikutnya, atau oknumnya, jadi pembantai, enggak diperlakukan sama kayak Marx? Kutipannya tentang agama adalah candu itu yang pasti bikin geram kaum agamawan – yang kalau saja dipandang dari sudut lain, justru ini otokritik. Pemikiran tersebut sesungguhnya sangat relevan hingga hari ini, agama tersebut bernama kapitalisme lanjut. Kita semua seagama di bawahnya.

Kritik dari garis Marx dan pemikir-pemikir turunannya tentu sangat tepat. Khususnya teori fetisisme komoditas Marx yang menjadi landasan dan terus menjadi materi yang ditambahkan dan disesuaikan oleh pemikir-pemikir setelahnya. Teori fetisisme seksual Sigmund Freud yang terkenal namun tidak terkait menimbulkan interpretasi baru tentang fetisisme komoditas, sebagai jenis hubungan seksual antara seseorang dan objek buatan. Žižek berada dalam tradisi Freudo-Marxisme ini.

Žižek sangat terpengaruh Jacques Lacan, seorang psikoanalis Perancis yang perspektif mutakhirnya mendominasi dalam psikiatri dan psikologi Prancis. Pengaruh Lacan telah menciptakan pemupukan silang baru antara gagasan Freudian dan Marxis. Kembali ke The Pervert’s Guide to Ideology, salah satu kekuatan besar dari film ini adalah karena memberi kesempatan kepada penonton untuk mendiskusikan pertanyaan teoritis yang kompleks dengan menggunakan bahasa film yang populer. Enggak semua orang akan merasa nyaman membicarakan Lacan yang njelimet, tapi lewat film Jaws (1975)?

Žižek berpendapat bahwa film propaganda Nazi sama seperti Jaws-nya Steven Spielberg, atau film apa pun, karena penonton diundang untuk memusatkan semua ketakutan dan kecemasan mereka pada satu penjahat, atau semua harapan mereka pada satu jagoan. Jaws adalah konglomerasi sederhana dari ketakutan dan kecemasan kolektif kita semua.

Kemampuannya untuk mendekonstruksi sinema, mengikat karya-karya individu dengan jiwa kolektif kita serta konstruksi politik dan budaya yang lebih luas, tentu sesuatu yang menarik. Sebagian besar dari apa yang Žižek sampaikan dalam film ini dapat ditemukan di berbagai bukunya, khususnya Violence, First as Tragedy Then as Farce, dan Living in the End Times, serta dalam beberapa kuliah umumnya yang banyak tersebar di Youtube. Menjadi menarik karena Žižek divisualkan dengan film referensinya, misalnya soal kebohongan publik yang menjadi basis dari fungsi sosial, selain menampilkan klip-klip dari The Dark Knight (2008), dia menjelaskannya dengan duduk di ruang interogasi Joker.

Film ini sendiri adalah sekuel dari The Pervert’s Guide to Cinema (2006). Kalau ingin jadi movie snob, tonton film pertama yang membahas film dari Chaplin, Tarkovsky sampai David Lynch ini. Sinema, katanya, adalah media “cabul” karena tidak memberi tahu apa yang harus dihasratkan, tapi bagaimana untuk menghasratkan; itu fetish yang tanpa henti mengatur ulang dan membikin realitas buatan untuk menginduksi daya tarik. Kopi Starbucks, Kinder’s Joy dan sebuah film kalau sudah di tangan Žižek bukan lagi kopi Starbucks, Kinder’s Joy dan film yang kita kenal.

“Pelajaran yang menyedihkan dari dekade terakhir ini adalah bahwa kapitalisme telah menjadi kekuatan revolusioner sejati,” sebutnya di akhir-akhir film, dengan menampilkan revolusi-revolusi abad 20 yang berakhir petaka, dan sinisme bahwa lebih mudah membayangkan post-apocalyptic atau bumi yang ditabrak asteroid. Meski sering menganggap dirinya seorang pesimis, tapi Žižek adalah komunis sejati, dia percaya gerbong sejarah terus melaju ke depan. Žižek memungkas film ini dengan argumen mesianistiknya Walter Benjamin bahwa setiap revolusi, jika itu adalah revolusi yang otentik, tidak hanya diarahkan ke masa depan tapi juga menebus revolusi yang gagal di masa silam. Hantu-hantu dari revolusi masa lalu masih bergentanyangan, tak pernah puas, akhirnya akan menemukan rumah mereka dalam kebebasan baru. Sangat mungkin untuk membayangkan masa depan yang lebih baik.

Sebagai bocah dunia ketiga, tentu filsafat kontinental yang dibikin orang-orang kulit putih ini, layaknya terhadap keilmuan lain, harus selalu dibaca dan diinsafi dengan skeptisisme sehat. Seperti orang Arab Islam di Abad Pertengahan yang membacai filsafat Yunani, bahkan jadi pewaris pentingnya, tampaknya enggak haram memakai Freudo-Marxis untuk menangkal bahaya laten neoliberalisme dan kapitalisme dalam kacamata lebih obyektif.

Kategori
Catutan Pinggir

Age of Empires II dan Simulasi Mode Produksi

7a04fdcf6f0e51992c2dfd7cfd3e99aa

Saya akan selalu menjadi seorang bocah aneh. Anggota tubuh saya terlalu berjarak dan bersendi pada interval yang tak menyenangkan, dan seringnya mereka tak sudi di bawah kendali saya. Saya punya suara nyaring, pandangan politik tak biasa, rahang yang lemah, dan keengganan naluriah untuk memakai warna-warna cerah.

Sebuah keajaiban bahwa saya tidak pernah secara khusus menyukai permainan-permainan komputer.

Saya harus berterimakasih pada orang tua liberal-intervensionis saya karena menurut mereka: video gim itu mengerikan dan penuh kekerasan, sehingga saya akan tumbuh jadi orang bengis. Tapi Age of Empires II adalah sebuah pengecualian. Mengingat ada latar belakang sejarahnya, saya bisa bikin alasan kalau permainan ini punya unsur “edukasi” dan karenanya bermanfaat; Akibatnya, saya memainkannya secara religius sejak usia sembilan sampai usia remaja tanggung. Bahkan sekarang, saya memiliki kenangan indah akan permainan itu.

Jelas, saya tidak sendiri. Pada bulan November 2015, Microsoft merilis Age of Empires II: The Forgotten, sebuah ekspansi baru yang hadir setelah lebih dari satu dekade game asli dirilis — mencetak sebuah rekor dalam industri video gim. Meskipun grafis 2D yang kikuk dan musik hingar bingar yang bikin iritasi, banyak orang masih punya banyak waktu untuk memainkannya — termasuk saya. Saya memutuskan untuk duduk dan menyelidiki kembali permainan yang telah saya habiskan sepanjang masa muda saya, dan menemukan sesuatu yang tak terduga.

Age of Empires II sebenarnya bukan permainan sama sekali. Ini sesuatu yang jauh lebih menarik. Pada tahun 1999, di masa awal kecerdasan buatan, kita berhasil memprogram sebuah komputer dengan Todestrieb, kehendak segala makhluk hidup menuju kematian yang Freud terpaksa geluti dalam teorinya pasca Perang Dunia I. Tidak hanya itu: cara kerja dorongan kematian artifisial ini hampir bisa menggambarkan akhir dari masyarakat kita sendiri.

Age of Empires II menjadi semacam simulator peperangan abad pertengahan. Bermain sebagai salah satu dari banyak kerajaan yang bisa dipilih, Anda memulai permainan dengan sebuah “town center” (sebuah gudang pusat kota yang tampaknya secara ontologis mendahului kota itu sendiri), seorang pandu, dan beberapa penduduk desa golongan tani yang terbengong-bengong. Orang-orang ini dapat dikirim untuk menebang pohon dan membangun benteng; Sementara itu, di pusat kota, Anda bisa mengorbankan sedikit bahan pangan dan memunculkan mereka lebih banyak. (Secara sambil lalu, ini adalah salah satu aspek permainan yang paling menyebalkan — apakah kita membayangkan bahwa manusia muncul secara spontan dari tumpukan gandum? Apakah alien dengan teknologi canggih secara diam-diam menjalankan dunia ini dengan menanam kloning-kloning di sekitar peta? Atau apakah masing-masing bangunan ini menyembunyikan harem pencetak bayi rahasia?)

Hal yang sama berlaku untuk prajurit: Anda menghendaki mereka untuk menjadi ada lewat barak mereka, dan dengan dengus patuh, mereka muncul. Seiring berjalannya permainan, Anda dapat bergerak maju dalam sejarah, kota Anda berkembang dari sekelompok gubuk menyedihkan yang menggigil di reruntuhan Kekaisaran Romawi menjadi kota metropolis yang sesak dan termiliterisasi. Pada saat bersamaan, Anda berbagi tanah Anda dengan sejumlah kelompok masyarakat yang dikendalikan komputer yang juga melakukan hal yang sama. Tugas Anda, tentu saja, adalah untuk menghabisinya sama sekali: membantai warga mereka, membakar rumah mereka, menanami ladang mereka, dan menghapus nama mereka dari catatan sejarah. Tapi yang aneh adalah kenyataan bahwa sementara mereka menghadapi pertarungan ala kadarnya, mereka tampaknya tak sepenuhnya menentang akan gagasan tadi.

Semua pekerjaan kotor prajurit dan angkatan laut ini hanyalah sebuah tontonan sampingan. Musuh-musuh Anda akan dengan sia-sia mengirim beberapa pilar prajuritnya ke kota Anda, tapi bahkan dalam serangan yang paling sulit, cukup mudah untuk menumpasnya. Apa yang sebenarnya sedang terjadi tidak ada hubungannya dengan pertempuran, dan sangat berkaitan dengan sumber daya.

Untuk membangun pasukan, Anda membutuhkan bahan pangan, kayu, emas dan batu. Makanan bisa berasal dari peternakan, dan emas dari gerobak perdagangan, tapi kayu berasal dari pohon — dan begitu Anda menebangnya, mereka tidak tumbuh kembali. Biarkan permainan berjalan cukup lama dan Anda akan melihat serombongan besar tukang dari penduduk desa lawan Anda melintasi peta untuk mencari hutan yang belum gundul untuk mendanai usaha perang mereka.

Migrasi hebat inilah yang benar-benar mendorong konflik permainan. Pemain yang dikendalikan komputer akan sering hidup berdampingan dengan cukup damai, bahkan jika mereka seharusnya menjadi musuh, sampai seseorang mengirim sekelompok penebang yang putus asa ke wilayah lain: pasti mereka diusir dengan pedang dan anak panah, bala bantuan dibawa masuk, dan tak begitu lama, kebakaran dan pembantaian berkobar di sekitar setiap petak hutan yang masih berdiri.

Begitu seterusnya, sampai pohon terakhir di peta ditebang. Ketika itu terjadi, tidak ada lagi kayu untuk mengusahkan pertanian, yang berarti tidak ada lagi makanan untuk melatih para prajurit. Dengan patuh, para petani kembali ke kampung halamannya dan berdiri dengan melongo, menunggu untuk mati.

Ada kemungkinan untuk membaca ini sebagai semacam alegori ekologis: eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam akan selalu menghasilkan keruntuhan sosial, dunia memiliki batasan yang seharusnya tidak kita paksakan — namun interpretasi ini tidak ada artinya. Alih-alih pesta pertumpahan darah yang Anda harapkan setelah malapetaka ini, perjuangan habis-habisan karena terwarisi pemandangan jahanam sehabis dilanda perang dan kondisi terkekang yang telah kita ciptakan, hanya ada keheningan yang sempurna dan mematikan. Tak ada serangan-serangan mendadak yang lebih agresif; unit militer yang tersisa juga pulang ke kota nekropolis mereka yang sunyi; mereka hampir tidak melawan balik saat pasukan Anda tiba.

Ini bukan malapetaka; Sulit untuk melepaskan diri dari perasaan bahwa ini adalah sesuatu yang dikehendakan. Perlu dicatat bahwa sebuah sistem pasar ada di mana pemain dapat saling bertukar sumber daya satu sama lain, namun komputer sepertinya tidak pernah benar-benar melakukan ini. Kecerdasan buatan telah dengan sengaja membunuh dirinya sendiri dengan satu-satunya cara: dengan bertermpur habis-habisan untuk bertahan hidup.

Ini sama sekali tidak kontradiksif: bagi Freud, dorongan kematian tidak terkait dengan melankolia bunuh diri, kasus saat naluri narsisisme ego untuk bertahan hidup dikuasai oleh celaan superego seperti yang terwujud dalam membenci diri. Sebaliknya, dorongan kematian muncul dalam agresi dan kecerobohan. Ini adalah satu hal yang sama dengan pertarungan konstan dan antagonis individu untuk melindungi dirinya sendiri. Freud menulis bahwa Todestrieb sebagai bagian “sebuah naluri penghancuran yang diarahkan terhadap dunia luar.” Metamorfosisnya yang menjadi keinginan untuk penghancuran diri hanyalah sebuah perubahan arah.

Tetap saja, tidak sepenuhnya jelas mengapa dorongan terhadap kematian harus muncul seperti ini: bukan dalam usaha lanjutan untuk meniru psikologi manusia, namun tampaknya secara tidak sengaja dalam permainan strategi abad pertengahan. Apa sebenarnya yang ingin mematikan dirinya di sini? Saat Anda bermain Age of Empires II, sedang menjadi apa diri Anda?

Pada awalnya, posisi pemain tampaknya sedikit mirip dengan monarki abad pertengahan: Anda memberikan perintah kepada pasukan dan beragam subjek Anda dan Anda adalah penguasa dari semua survei Anda, tapi hanya survei yang Anda lakukan. Ini agak rumit karena pada beberapa mode gameplay, raja-raja itu sendiri tampil sebagai unit di layar, tapi mereka bisa Anda arahkan sama seperti pekerja tani lainnya. Beberapa materi iklan menggambarkan posisi pemain sebagai “jiwa bangsa”, sesuatu seperti Volksgeist-nya Hegelian —  hanya saja peradaban yang berbeda cuma dicirikan oleh perubahan gaya arsitektur, bukan semangat organik yang bangkit dari masyarakat, dan gerakan mereka tidak menuju realisasi diri melainkan kepunahan.

Mungkin lebih produktif untuk mempertimbangkan permainan dalam hal cakrawalanya daripada peluangnya. Tidak ada yang baru yang dimungkinkan di sini. Sejarah berjalan di sepanjang satu jalur. Anda bisa mengatur kota Anda dalam formasi apapun yang Anda suka, tapi Anda harus menggunakan tipe bangunan yang disediakan; Anda bisa mengirim detasemen para kesatria berkuda ke segala arah, tapi Anda tidak bisa membuat mereka turun atau meminta pemanah Anda untuk menggunakan panah mereka sebagai tombak; Anda bisa maju dari masa kegelapan sampai fajar imperialisme, tapi Anda tidak bisa menghasilkan bentuk sosial yang pada dasarnya tidak feodalistik.

Hal yang sangat perlu dicatat dari Age of Empires II adalah tidak adanya perjuangan kelas. Semua kontradiksi mode produksi feodal tetap diam di tempat: penduduk desa Anda membajak ladang dan memotong kayu terus menerus, tidak mendapat buah dari hasil kerja mereka sendiri. Ada istana yang mungkin menampung berbagai bangsawan, mandor, ksatria lapis baja, dan kaum agamawan berkalung emas. Terlepas dari semua ini (dan tidak berbeda dengan banyak permainan strategi lainnya), tidak ada sekecil pun perlawanan dari massa yang bekerja keras; Semua orang bergerak menuju kepunahan mereka sendiri dengan sikap stoik yang tenang.

Hal ini sangat aneh mengingat hiruk-pikuk Abad Pertengahan yang sebenarnya, sebuah periode dalam sejarah yang melihat peperangan dan kemarahan religius yang tak terhitung jumlahnya berkobar lagi dan lagi di seluruh wilayah Eropa. Dalam permainan, sementara itu, kontrak sosial abad pertengahan dari tiga tingkat kehidupan — di mana para petani bekerja untuk kesejahteraan semua orang, pendeta berdoa untuk keselamatan semua orang, dan para bangsawan memperjuangkan perlindungan untuk semua orang  — disajikan bukan sebagai keterikatan yang ideal dari sebuah masyarakat kelas yang bertingkat, namun masyarakat kelas yang karena fungsi masing-masing.

Dengan kata lain, Age of Empires II melakukan hal yang sama untuk feodalisme seperti yang Marx lakukan untuk industrialisme lewat Capital. Jika dalam The Condition of the Working Class In England, Engels mengungkap perbedaan antara bagaimana klaim kapitalisme berfungsi dan bagaimana hal itu benar-benar beroperasi, Marx dalam Capital mencatat para ekonom borjuis sesuai kata-kata mereka, dengan lengkap menunjukkan bagaimana, bahkan jika kapitalisme bekerja persis seperti yang dikatakan oleh para pendukungnya, tetap saja, penggulingannya tetap tak terelakkan.

Dengan sistem tertutup dalam Age of Empires, feodalisme bekerja dengan sempurna —  dan, seperti setiap sistem yang bekerja dengan sempurna dan telah kehabisan kapasitas untuk mengarahkan penghancurannya ke luar, ia tidak memiliki tempat lain selain menuju kematiannya sendiri.

Pemain dalam Age of Empires II tidak mengambil peran sebagai raja atau jiwa nasional; Anda menjadi mode produksi feodal itu sendiri. Inilah sebabnya mengapa permainan ini, secara tidak langsung, tidak bisa disebut permainan — Anda tidak bersaing dengan pemain lain, namun merupakan bagian dari sebuah sistem tunggal yang mengarah pada sebuah penghancuran kolaboratif.

Sebenarnya, tidak sepenuhnya benar bahwa akhir permainannya adalah keheningan total. Bahkan saat prajurit dan pekerja tidak bergerak, gerobak perdagangan dan kapal dagang terus mengangkut emas dari satu pasar ke pasar lainnya. (Khususnya, ini berbeda dengan penolakan komputer untuk menggunakan pasar untuk mendapatkan lebih banyak kayu: pertukaran antara pemain baik-baik saja, namun gagasan bahwa semua komoditas secara universal tak tergantikan dan dapat dimasukkan dalam bentuk uang universal sangat ditolak oleh partikularisme abad pertengahan.) Ini bukan revolusi borjuis, tapi ini mendramatisasi bangkitnya kelas pedagang dari sebuah masyarakat yang telah menyempurnakan dirinya sendiri dalam hal yang terlupakan, dan hal itu terjadi pada satu-satunya cara yang dapat dilakukannya.

Marx terkenal menghindari membuat resep konkret tentang apa sebenarnya komunisme: dari dalam lingkungan tertutup dari satu mode produksi, yang hadir untuk berhasil, hanya terlihat sebagai garis besar yang paling samar, sebuah percikan gerakan dalam keadaan dunia yang telah mati.

Tentu saja, runtuhnya feodalisme sekarang telah lama berlalu, dan krisis kontemporer dalam mode produksi saat ini tidak tampak sebagai keheningan tapi juga perpindahan modal yang hiruk pikuk. Meski begitu, situasinya hampir sebanding. Age of Empires II mungkin menggambarkan bentuk sosial yang telah lama mati, tapi produk itu sendiri terdapat pula dalam produk di dunia kontemporer hari ini.

Pada akhirnya, apa yang ditunjukkannya bukan jatuhnya feodalisme — presentasinya secara historis kurang tepat — namun akhir yang tak terelakkan dari segala mode produksi mengalienasi yang menjadi sempurna dan tak tertandingi. Kita hidup dalam masa di mana kapitalisasi akhir yang memfinansialisasi berfungsi sepenuhnya secara simultan sekaligus dalam sebuah keadaan kelumpuhan akut. Sama seperti feodalisme dalam Age of Empires, ini seperti suatu keseluruhan dunia.

Pada saat bersamaan, saat terjadi masalah — dan masalahnya sedang terjadi sekarang — satu-satunya cara untuk melanjutkan adalah dengan intensifikasi. Krisis keuangan yang sedang berlangsung telah digunakan oleh kelas penguasa untuk melakukan perampasan kekayaan besar-besaran dan membahayakan diri sendiri karena inilah satu-satunya cara mereka dapat beroperasi di bawah sebuah sistem yang ditandai dengan perampasan yang tanpa perlawan.

Dengan kata lain, yang menyajikan dirinya sebagai akumulasi kapital dan sumber daya dan komoditas, pada kenyataannya, adalah kehendak menuju kepunahan. Pelajaran dari Age of Empires II adalah ini: di saat kapitalisme dan perkembangannya yang mengembang dan mengalami krisis namun perkembangan konstan tampak tidak terhalang sama sekali adalah saat kerentanan terbesarnya. Hal ini yang akan mengarah ke dalam kehampaan. Yang perlu kita lakukan hanyalah mempertenggangkannya.

*

Diterjemahkan dari artikel Jacobin berjudul Empire Down. Sam Kriss adalah seorang penulis yang tinggal di Inggris, blog pribadinya: Idiot Joy Showland.

Kategori
Celotehanku

Panduan Cabul Berbuka Bersama

Sehari sebelum Ramadan dimulai, saya diajak nonton bareng film semi Korea. Besok mah enggak bisa ginian siang-siang, bujuknya. Usulan cemerlang penuh perhitungan sayang untuk ditolak. Kami menonton lewat hape saya. Kami memilah mana yang bakal ciamik buat ditonton, dan secara acak saya pilih Purpose of Reunion (2015). Premis ceritanya sederhana: berawal dari reunian, berakhir adegan ranjang. Tapi enggak sesederhana itu, karena setelah menontonnya justru banyak permenungan yang didapat dari film erotis tadi.

Jika mengacu pada esai How to Recognize a Porn Movie dari pemikir Umberto Eco, ada satu kriteria untuk membedakan apakah sebuah film itu porno atau enggak, dan ini berdasar lama durasi sia-sianya. Eco menyebutkan kalau dalam film porno itu sebelum kamu bisa melihat sebuah persetubuhan yang sehat kamu harus nonton adegan normatif yang sebenarnya cuma omong kosong.

Tapi film yang dibintangi Jo In-woo sama Kim Yoo-yen tadi, meski labelnya porno, ceritanya asyik buat diikuti. Setiap adegannya layak diikuti. Korea Selatan emang jawaranya bikin menye-menye. Awalnya niat nonton buat pelepasan nafsu, eh malah jadi melankolis dan reflektif. Berakhir mempertanyakan beragam hal, bukan hanya tentang cara PDKT atau teknik senggama yang asyik, tapi juga menyoal kesetiakawanan, kesendirian, pernikahan, perselingkuhan, dan apa serta kenapa harus diadakan reuni.

Saya jadi teringat film dokumenter cum ceramahnya filsuf Slavoj Zizek, The Pervert’s Guide to Cinema (2006). Yang mendiskusikan bahasa tersembunyi dalam film dan menjelaskan bahwa film adalah representasi manusia akan diri mereka sendiri. Untuk memahami dunia hari ini, sebut Zizek, kita membutuhkan film, secara harfiah. Hanya lewat film kita mendapat dimensi krusial yang belum siap kita hadapi dalam realitas kita. Jika kita mencari apa yang sebenarnya lebih nyata dari kenyataan itu sendiri, lihatlah fiksi dalam sinema. Dengan catatan, bahwa dalam film ada yang namanya romantisasi dan bias.

Zizek selalu menyinggung psikoanalisis dan tentu bapaknya psikoanalisis, Sigmund Freud. Saya sendiri enggak terlalu paham-paham amat sama Freud. Tapi yang saya tangkap darinya adalah bahwa semuanya berawal dari kontol. Juga memek, tentu. Dorongan untuk ewean adalah yang harus dipersalahkan atas segala tindak-tanduk manusia. Kalau begitu, film porno sangat Freudian. Karena langsug menyasar seksualitas. Pendek kata, nonton film erotis adalah sarana belajar psikoanalisis paling benar.

Kembali lagi ke film Purpose of Reunion. Ceritanya sendiri soal sekumpulan pria dewasa, beberapa ada yang sudah menikah, mengusulkan untuk mengadakan acara reuni. Dengan tujuan akhir agar bisa menemukan kawan perempuan yang bisa diajak selingkuh dan senggama. “Kita memilih enggak secara acak satu sama lain,” sebut Freud soal pemilihan pasangan. “Kita hanya memilih mereka yang sudah eksis di alam bawah sadar kita.” Kayak di Indonesia saja, adegan acara reunian ya diisi sama kumpul-kumpul, makan-makan, minum-minum, nyombongin kesuksesan, dan main mata. Wah ieu mah situasi bukber, komentar teman saya.

Ramadan adalah bulan seribu bulan dan seribu ajakan buka bersama. Yang namanya reuni adalah silaturahmi, tentu amalan baik. Niat awalnya sih begitu. Tapi siapa yang bisa menyalahkan jika terjadi main mata sama gebetan di masa silam yang sekarang udah punya pacar atau bahkan udah bersuami, misalnya. Cinta lama bisa bersemi di bukber. Atau, ketika seorang lelaki, saya salah satunya, memandang dengan pikiran cabul, baik disadari atau enggak, teman-teman cewek yang sekarang jadi makin cantik atau makin semok. Dalam hal ini, bukber di kita sama saja seperti dalam film Purpose of Reunion tadi. Meski enggak secabul itu. Atau lebih tepatnya, kondisi sosial yang merepresi id kita.

Baiklah, sudahkah kamu menonton Purpose of Reunion? Niatkan saja sebagai ibadah, juga sebagai upaya membaca ritus buka bersama ini dalam perspektif lain. Wallahu alam.