Kategori
Korea Fever

BoA dan Cara Mudah Menggoyang Playlist Youtube

boa_kiss_my_lips_concept_5

Dua minggu lalu, Joy Division dan ceramah Slavoj Zizek masih bertengger di beranda Youtube saya. Semesta goyah ketika SM Entertainment melempar Red Velvet dan BoA ke panggung, di minggu yang sama. Fans K-Pop pasti paham ritual pemutaran Youtube begini: menyetel berulang kali MV terbarunya, menonton penampilannya di acara musik (SBS Inkigayo, KBS Music Bank, MBC Music Core, Mnet M Countdown, MBC Show Champion, Arirang Simply K-Pop), kadang lewat video fancam, sesekali menonton MV Reaction yang diunggah dari pereaksi beken sampai yang fans bau kencur, dan akhirnya, memutar ulang lagu-lagu terdahulu dari idol kita itu. Berkat Bad Boy dan Nega Dola, rusak sudah playlist Youtube saya. Jadi Korea kabeh.

Comeback juga jadi tanda bahwa idol kita itu bakal jadi bintang tamu di berbagai variety show. Sehingga ada alasan untuk menonton Weekly Idol episode 340 dan Knowing Bros episode 111. Menonton keduanya, yang membicarakan BoA, adalah kuliah singkat tentang fragmen sejarah gelombang hallyu paling penting. Tanpa BoA, mungkin SM bakal bangkrut dan enggak punya duit buat bikin grup idol selanjutnya.

BoA bisa dibilang idol Korea pertama yang saya sukai, jauh saat saya belum doyan skena K-Pop, bahkan saat K-Pop sendiri belum jadi kesadaran umum. Lagu yang berkumandang di ending Inuyasha yang menampilkan Kagome di atas sepeda sambil membonceng si manusia setengah siluman itu begitu saya sukai waktu bocah dulu, dan masih membekas sampai sekarang. Meguru meguru toki no naka de / Bokutachi wa ai o sagashiteiru / Tsuyoku tsuyoku naritai kara / Kyou mo takaisora miageteiru. Jujur, kalau terputar lagu ini saya bakal langsung melankolis, bahkan mata jadi agak berair.

Kok bisa orang Korea nyanyi Jepang? ketus saya saat dikasih tahu siapa penyanyi aslinya.

Begini sejarahnya. Pada usia sebelas tahun, seorang gadis menemani kakaknya ke audisi pencarian bakat SM Entertainment, namun dia pun malah ikut terpilih. Gadis bernama Kwon Bo-ah itu menjalani dua tahun pelatihan (pelajaran vokal, tarian, bahasa Inggris, dan bahasa Jepang), dan pada usia tiga belas tahun merilis album debutnya; Peace B di Korea Selatan pada 25 Agustus 2000. Sementara itu, label rekaman SM membuat perjanjian dengan label Avex Trax dari Jepang untuk meluncurkan karir musiknya di negeri sakura itu. Menaklukan Jepang, yang merupakan pasar musik terbesar kedua di dunia, bukan cuma alasan bisnis, juga sangat ideologis. Dipaksa untuk berhenti sekolah untuk mempersiapkannya dan pada awal tahun 2001, BoA merilis mini album pertamanya, Don’t Start Now. Setelah dirilis, dia mengambil hiatus dari industri musik Korea untuk fokus pada pasar Jepang dengan tetap berusaha untuk memperkuat ketrampilannya dalam bahasa Jepang. Album debutnya di Jepang, Listen to My Heart, dirilis pada tanggal 13 Maret 2002. Album ini merupakan terobosan dalam karir BoA: memulai debutnya di puncak Oricon, menjadikannya artis Korea yang pertama melakukannya. Single, “Every Heart: Minna no Kimochi”, dirilis pada hari yang sama dengan album tersebut. BoA, yang membuka jalan gelombang Hallyu, melakukannya di era tanpa media sosial, dengan bakat dan kerja keras.

BoA menyebut hip hop sebagai pengaruh musik utamanya, meskipun ia juga menikmati R&B. Musisi favoritnya adalah Whitney Houston, Michael Jackson, Justin Timberlake, dan Ne-Yo; Akibatnya, sebagian besar musik BoA adalah dance-pop atau R&B. Karena dia juga menyanyikan balada, dia sering dibandingkan dengan penyanyi Jepang Ayumi Hamasaki dan Hikaru Utada. Soal tarian, jangan ditanya lagi. Koreografi No. 1 malah jadi tarian wajib yang harus dikuasai seorang trainee idol.

Karena komposisi dan penulisan lagu-lagu BoA banyak ditangani oleh stafnya, BoA sering dikritik sebagai “bintang pop buatan”. Sebagai tanggapan atas kritik tersebut, BoA mengatakan bahwa “jika seseorang memaksa keinginan mereka sendiri akan sesuatu, maka hal-hal yang seharusnya bisa berjalan dengan benar bisa dengan mudah jadi salah” dan bahwa dia tidak terlalu kecewa dengan sebutan bintang pop buatan itu. Karena memang, itu memang benar. Karena SM menciptakan lingkungan dan semua kondisi di sekitarnya, dia bisa sukses dengan jalan seperti itu. Begitu juga formula K-Pop secara keseluruhan, bahwa idol bukan dilahirkan melainkan diciptakan dan dipasarkan.

Sejak 2014, BoA telah menjadi bagian dari direktur tim kreatif di SM Entertainment. Di Knowing Bros episode 111, ketika BoA masuk, Heechul langsung menyambutnya dengan lebay, seperti seorang bawahan menghadap bosnya. Padahal secara usia, Heechul jelas lebih tua, meski debut lebih belakangan. Kang Hodong mengingatkan Heechul agar tetap memakai banmal, bahasa kasar untuk teman sebaya. Meski Hodong pun rada waswas ketika harus pakai banmal, karena agensinya sendiri SM, dan BoA sekarang sudah duduk di dewan direksi. Salah satu obat penghibur paling manjur bagi saya belakangan ini adalah menonton potongan klip Knowing Bros, meski sudah menonton episode penuhnya.

Selain mengisi ending Inuyasha, lagu BoA lainnya juga dijadikan lagu opening Fairy Tail. Saya sendiri cuma mengikuti manganya, tapi saat mencoba mendengar lagu-lagu opening-nya, saya langsung tahu kalau yang nyanyi BoA, dan memutuskan ini jadi lagu Fairy Tail terbaik. Seperti lagu-lagu anime lainnya, mereka selalu bikin vitalitas hidup makin meningkat dan efek samping berupa keinginan untuk menonjok monster dan mengubah dunia ke arah yang lebih baik. Harapannya sih bisa mengisi soundtrack One Piece, seperti TVXQ yang pernah juga.

Oh ya, penulisan nama BoA merupakan wejangan langsung Lee Soo-man, dengan akronim dari “Beat of Angel” dan “Best of Asia”. BoA memang diplot dengan misi menaklukkan negara mantan penjajahnya. SM menyadari betapa kecilnya pasar musik Korea, dengan penjualan hanya $ 300 juta pada tahun 2000 dibandingkan dengan penjualan di Jepang senilai $ 6,4 miliar. Meningkatnya persaingan saham di pasar musik Korea yang relatif kecil dikombinasikan dengan prospek menembus pasar luar negeri yang lebih besar membuat SM mengubah visinya untuk mengekspor idol Korea. Kesuksesan BoA di Jepang ikut memuluskan langkah boyband TVXQ. Dan keuntungan yang didapat dari mereka, diinvestasikan untuk membangun grup idol berikutnya: Super Junior dan SNSD, dan terus berlanjut ke idol-idol terbaru.

Nostalgia terhadap sebuah jenis musik favorit saat remaja yang awet hingga dewasa atau usia lanjut adalah fenomena yang lazim dialami setiap orang. Kenyamanan atas karya dari musisi favorit saat melewati masa puber akan terus ada di bawah alam sadar. Jika kamu kebetulan memakai laptop saya dan memutar Youtube dengan autoplay, maaf-maaf saja karena bakal terputar lagu-lagu BoA.

Kategori
Korea Fever

Red Velvet Jadi Cewek Bandel

 

SM Entertainment memang misoginis bangsat. Meski menjadi bagian dari SM, satu korporasi hiburan Korea yang superkaya, berarti dikasih kepastian bahwa sebuah idol akan mendapatkan banyak publisitas, namun grup cewek harus berjuang lebih ekstra untuk beberapa waktu sebelum menjadi populer. Padahal sejak menganut politeisme kontemporer, dewi-dewi bikinan SM selalu jadi pilihan saya.

Sebelum 2014, nama grup ini hanya dikenal sebagai jenis kue. Girls Generation atau SNSD debut pada 2007, f(x) debut 2009, kemudian lahir Red Velvet yang bisa dibilang mengawinkan irisan dari dua grup tadi. Mereka memang memulai dengan sebuah konsep dwitunggal yang jarang ditemukan dalam grup cewek, mengadu antara musik pop yang catchy dalam Red, yang dibenturkan dengan suara berbasis RnB yang lambat dalam Velvet.

Sejak terbentuk pada 2014, Red Velvet telah melesat ke superstardom. Mereka terus merilis lagu hit – lagu-lagu Red Velvet selalu menemani saat saya bermotor. Meski memang, sedikit kalah populer dengan saingan Twice dan Blackpink yang debut lebih dini, namun malah menyusul.

Red Velvet telah menjadi pertengahan antara gaya eksperimental f(x) dan musik yang lebih mainstream dari SNSD, dan itulah yang mereka berikan. SNSD dan f(x), sebagai produk, apalagi setelah lama hiatus dan membernya enggak lengkap, sudah enggak terlalu laku. SM pastinya ngelirik buat mengeksploitasi Red Velvet, yang tahun 2017 kemarin saja sampai tiga kali comeback album baru. Dan di awal tahun ini ujug-ujug bikin repack dari album terakhir Perfect Velvet, jadi The Perfect Red Velvet.

Kwintet memainkan kecenderungan retro mereka yang lebih halus pada album yang diperbarui, dengan All Right yang nu-disco dan Time to Love dengan RnB 90-an dan single utama Bad Boy. Lagu yang terakhir dirilis melalui sebuah video musik yang menampilkan Red Velvet dalam nuansa paling gelap, menunjukkan penampilan grup yang terus berkembang sejak awal mula mereka dengan Happiness yang riang gembira di tahun 2014.

Kontras dengan warna pelangi di Peek-A-Boo, Bad Boy mempertontonkan seragam seksi dan pakaian atletik dan baju kasual dengan dandanan gothic, yang menggambarkan Red Velvet sebagai femme fatale. Para member terlihat mencitrakan diri sebagai cewek-cewek nakal, dengan jins robek, stoking jala, dan rambut berantakan. Meskipun enggak terlalu berorientasi pada plot, nuansa berbahaya dari Irene, Seulgi, Wendy dan Joy kontras dengan citra Yeri yang masih muda, yang tampaknya dilindungi yang lain, Seulgi bahkan menutupi telinga Yeri dalam satu adegan.

Koreografi Bad Boy, seperti yang ditampilkan dalam video musik, adalah yang paling seksi yang pernah Red Velvet tunjukkan sejauh ini, diisi dengan goyangan pinggul yang sugestif dan gerakan tangan yang agresif dan tiba-tiba, memberi isyarat dengan saksama ke arah penonton dan menatap tajam ke arah kamera. Kalau dilihat-lihat, koreografinya rada mirip Bad Girl-nya SNSD, dengan lebih sensual.

Sisi Red sangat dipengaruhi oleh euro-pop sementara sisi Velvet lebih ke RnB Amerika 2000an dan pop British 80an. Sisi Velvet adalah kegemaran saya. Bad Boy adalah konsep Velvet yang paling nyangkut selain Be Natural dan Automatic dan One Of These Night.

Kategori
Celotehanku

SM Entertainment, PT Persib Bandung Bermartabat dan Kapitalisme 4.0

arip taeyeon

Persib punya bobotoh, SNSD punya fans bernama sone. Kedua massa pendukung itu, dalam segi fanatisme, sama bengisnya. Kedua identitas ini juga yang bisa ditempelkan pada saya. Antara Persib dan SNSD, merupakan produk budaya sekaligus produk jualan. Identitas sekaligus brand. Keduanya punya satu kesamaan mendasar yang seringkali enggak kita sadari: ada korporasi di belakangnya.

Dengan maksud merendahkan, saya menyebut PT. Persib Bandung Bermartabat sama kayak SM Entertainment, hanya sebagai perusahaan di bisnis hiburan. Jika SM punya TVXQ, Super Junior, SNSD, Shinee, f(x), EXO, Red Velvet, dan NCT, maka PT PBB cukup punya satu grup idol bernama Persib. Tanpa perlu mengeluarkan dana ekstra buat promosi, PT PBB otomatis sudah punya konsumen tetap khususnya di daerah Priangan.

Penjelasan ringkas soal komersialisasi produk budaya telah disinggung Eka Kurniawan dalam pos di blognya berjudul Identitas. Eka memperbandingkan soal musik pop Korea dan liga sepakbola Spanyol. Menurutnya, keduanya telah menjelma menjadi sejenis “bahasa” yang dimengerti banyak orang. Mereka sadar, “identitas” yang mereka ciptakan ini bisa mereka jual, bisa menjadi semacam “brand”.

Kita kembali pada SM Entertainment dan PT PBB. Untuk dua korporasi ini pernah saya pernah bahas di Legenda di Balik Penciptaan K-Pop dan Membebaskan Persib dari Jerat Kapitalisme, Mungkinkah?

Haha. Sebenarnya saya juga bingung ini tulisan mau mengarah ke mana. Jadi biarkan saya berbual. Saat iseng mencari kajian kapitalisme dalam model bisnis SM Entertainment, saya nemu istilah Kapitalisme 4.0. Tesis ini diambil dari judul bukunya Anatole Kaletsky, seorang editor-at-large di The Times, berjudul Capitalism 4.0: The Birth of a New Economy.

Bukunya adalah ulasan provokatif dari banyak kontroversi politik dan ekonomi saat ini, dan mencakup bagian substansial mengenai kegagalan teori ekonomi. Itu menurut blurb. Saya sendiri belum baca.

Menurut Kaletsky, kapitalisme 1 mendominasi perekonomian dan kebijakan ekonomi dari masa dirilisnya The Wealth of Nations-nya Adam Smith sampai Great Depression. Kapitalisme 2, hasil dari depresi tadi, memunculkan pengakuan bahwa diperlukan saling ketergantungan politik dan ekonomi, dan memberi pemerintah peran dalam pengelolaan ekonomi makro dan arahan industri. Ini juga kemudian berantakan dalam inflasi tahun 1970an.

Kedatangan Ronald Reagan dan Margaret Thatcher meresmikan Kapitalisme 3, sebuah rezim fundamentalisme pasar di mana ketidaksetaraan melebar dan sektor keuangan berkembang. Selanjutnya krisis kredit pada 2007-2008 merupakan pemicu revisi yang sama substansial. Hari ini kita menghadapi suatu era, bukan dari matinya kapitalisme, tapi sebuah bentuk baru: Kapitalisme 4.

Kapitalisme atau Kapital adalah sistem ekonomi di mana perdagangan, industri dan alat-alat produksi dikendalikan oleh pemilik swasta dengan tujuan membuat keuntungan dalam ekonomi pasar. Pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya.

SM Entertainment dan PT Persib Bandung Bermartabat sama-sama korporasi. Yang dikendalikan para kapitalis. Tapi hey, mereka berdua cuma bergerak di bisnis hiburan. Tak ada yang dibuat mati atau terluka atau sengketa agraria. Ya suka-suka mereka mau jualan. Kalau kita kecewa pada produk mereka ya tinggal beralih pada yang lain. Sialnya, susah untuk melepas identitas yang telah melekat.

Saya menyoroti kapitalisme 4.0 dari segi teknologi informasinya. Seperti kehadiran mesin cetak Gutenberg, adanya internet pun saya yakin membuka semacam era baru. Dulu berkat kapitalisme-cetak banyak mendorong modernitas lewat persebaran ide. Beragam gagasan dan ideologi bisa tersebar. Munculnya nasionalisme pada abad 18, misalnya. Suatu identitas yang belum ada sebelumnya. Apalagi di zaman sekarang yang makin terkoneksi. Ketersebaran identitas-identitas makin hingar bingar.

Saya tahu saya cuma konsumen. Berhenti jadi fans Persib dan SNSD tentu sangat mungkin. Tapi setelah itu apa? Salahkah jadi konsumen? Kenapa identitas superfisial ini begitu melekat secara emosional? Benarkah itu hanya sebatas superfisial, sesuatu rekaan? Ada banyak pilihan hiburan, tapi kenapa kita lebih menyukai yang satu ketimbang yang lain? Hiburan macam apa yang bisa bikin kita bahagia? Emang apa itu bahagia? Ah hidup sudah memusingkan, ditambah lagi pertanyaan sok eksistensial beginian. Saya lebih memilih jadi konformis, dan berakhir menghamba pada grup idola bernama Persib dan SNSD tadi.

Selain kebutuhan untuk idolisasi, sangat asyik buat menganjing-anjingkan korporasi di belakang mereka kalau memang pianjingeun. Yang paling penting sih, tetap mengawasi SM Entertainment dan PT Persib Bandung Bermartabat agar enggak bertransformasi jadi Skynet.

Kategori
Korea Fever

Knowing Bros dan Barudak Sekolahan yang Hobi Tubir

Kalau saja Game of Thrones masukin Red Velvet jadi pemainnya, mungkin saja saya bakal rela maraton nonton dari musim pertama. Harus ada alasan, meski konyol, kenapa saya harus nonton itu.

Sebab internet menawarkan beragam kesenangan sekaligus kesia-siaan; buku-buku dan status-status sosmed yang selalu terbarukan dan artikel-artikel panjang untuk dibaca, film-film dan video-video Youtube dan serial televisi dan Instagram Stories dan variety show Korea untuk ditonton. Sehingga, sekali lagi saya tegaskan, harus ada alasan, meski konyol, kenapa saya harus memilih yang satu ketimbang yang lain.

Gara-gara episode SNSD, saya jadi fans Running Man. Sementara untuk Knowing Bros ini ya karena ada episode dari adiknya ini, Red Velvet. Semuanya berawal dari episode 21, sampai saya jadi kenal barudak gacor yang terdiri dari Kang Hodong, Kim Heechul, Seo Janghoon, Lee Soogeun, Min Kyunghoon, Lee Sangmin, dan Kim Youngchul.

Berhubung lagi promosi lagu baru, episode 84 kemarin menghadirkan kembali Red Velvet. Kali ini dengan formasi lengkap. Saat kemunculannya, barudak Knowing Bros langsung antusias dan memuji karena berkat grup cewek binaan SM Entertainment jadi bintang tamu di episode setahun kebelakang, variety show ini makin meroket. Tentu, saya mengiyakan.

Format Knowing Bros saat ini yang mengeksplorasi konsep sekolah menengah baru ditetapkan dari episode 17. Para member berperan sebagai siswa di kelas sementara bintang tamu akan datang sebagai siswa pindahan. Format ini telah mendapat pujian dari pemirsa yang menyebabkan peningkatan peringkat dan popularitas program yang signifikan setelah beberapa episode ditayangkan. Menghadirkan grup idol, utamanya cewek, tentu pilihan cemerlang. Red Velvet salah satu yang masuk di episode-episode awal itu.

Dibagi dua segmen. Yang utama adalah bagian perkenalan dan tebak-tebakan di ruang kelas. Bintang tamu berdiri di belakang meja guru dengan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan dirinya yang sudah disiapkan. Beberapa pertanyaannya samar atau sangat pribadi yang oleh bintang tamu mungkin enggak pernah diungkap kepada publik sebelumnya. Tugas barudak Knowing Bros yang menjawabnya. Seringnya dengan main-main. Bintang tamu diberi palu mainan dan punya hak buat menggetok bagi mereka yang jawabannya ngaco.

02_1

Si gempal Hodong dicitrakan sebagai bosnya, yang sangar sekaligus tengil, sementara si jangkung Janghoon jadi ketua murid yang intelek. Si bantet Soogeun digambarkan jadi tangan kanan Hodong, yang koplak. Si ganteng Heechul jadi yang paling gelo sekaligus maniak televisi dengan Kyunghoon yang pendiam namun cabul merupakan bromance goblok. Sangmin yang duduk di kursi paling belakang digambarkan sebagai murid pemalu sekaligus sengsara. Terakhir, yang sering dilupakan, adalah Youngchul yang berkat kegaringannya justru mengundang tawa.

Salah satu atribut memikat dari format ini adalah cara berbicara informal atau “banmal” yang digunakan oleh semua orang tanpa memandang usia atau senioritas mereka. Mengabaikan undak unduk basa Korea yang ketat. Pembicaraan informal juga mendorong para tamu saling berinteraksi satu sama lain seperti yang sering dilakukan siswa, sehingga membuat mereka merasa cukup nyaman untuk saling menggoda.

Namun pada bulan Desember 2016, variety show yang ditayangkan siaran kabel JTBC ini mendapat tindakan disipliner dari Komite Penyiaran Penyiaran Korea Selatan karena menggunakan ucapan enggak senonoh, biasanya kalau bintang tamunya cewek. Ditambah jam penayangannya yang dimundurkan jadi enggak terlalu malam, Knowing Bros jadi rada lembek. Padahal komentar-komentar cabul dan sinis tadi yang paling saya tunggu.

Ada semacam pemahaman umum bahwa musim pertama dari setiap variety show cenderung lebih bagus. Dalam banyak kasus, seringnya begitu. Saat rating makin menanjak namun kemudian turun, seseorang enggak bisa enggak untuk mulai bertanya, mengapa? Mengapa acara ini tidak berjalan sebagus musim lalu? Apakah orang bosan dengan konsepnya? Apa ada variety show saingan lainnya? Knowing Bros, yang diawal enggak diniatkan jadi acara utamanya JTBC namun sekarang populer, bisa saja bakal begini.

Kategori
Hiburan & Musik Korea Fever

10 Rilisan SM Station Paling Asyik

Musik populer, atau musik pop, bagi saya ibarat Pop Mie, memang kandungan gizinya sedikit, yang jika dikonsumsi kebanyakan dan terus-terusan bakal merusak kesehatan, tapi ini teman setia ketika lapar mendesak. Musik pop, layaknya Pop Mie, diproduksi oleh pabrik besar, disebarluaskan secara masif, dibesar-besarkan dengan iklan, untuk kemudian dimakan dan menjadi berak. Musik hari ini hanya tai, keluh banyak orang, fenomena yang sudah ada bahkan dari sejak Hegel, mereka yang selalu sinis terhadap apa-apa yang didengarkan para bocah. Saya pun mengakuinya, meski dengan wawasan musik cemen, bahwa musik pop itu kacangan, enggak menawarkan kebaruan, penuh kedangkalan, dan tentunya: pasaran. Maka, seperti Pop Mie, saya enggak bisa enggak untuk menikmati musik pop sebagai barang konsumsi. K-Pop adalah rasa yang saya sukai.

Lee Sooman sang pendiri SM Entertainment, yang namanya melambung sebagai penyanyi folk, dan pernah membentuk band hard rock, adalah master arsitek K-pop. SM Entertainment adalah perusahaan yang membentuk K-pop, puji majalah bisnis Forbes. SM Station sendiri adalah proyek musik digital yang dicanangkan langsung Lee Sooman, untuk melepaskan satu single tiap hari Jumat selama satu tahun, mulai dari 3 Februari 2016. Dari beragam musik video yang dirilis, saya mencoba memilih 10 yang menurut saya paling asyik, tentu banyak biasnya.

Rain

Kim Taeyeon membuka SM Station dengan lagu bertema hujan; yang menceritakan soal kenangan yang ikut turun beserta kesedihan yang kemudian menyusul.

| Baca: Hujan, Taeyeon dan Sylvia Plath

+

Spring Love

Videonya sendiri memamerkan dua sejoli, Wendy dan Eric Nam, yang tertawa dan bersenang-senang di sebuah taman bermain di suatu kencan yang manis di musim semi, sebuah duet ceria dan romantis tentang persahabatan yang berubah menjadi hubungan cinta.

+

Deoksugung Stonewall Walkway

Im Yoona adalah member pertama yang dapat saya ingat dan bedakan di Girls Generation, saat saya masih belum denger Kpop, dan hanya suka drama Korea saja. Soal akting memang Yoona jagonya, tapi kalau nyanyi, hmm. Suaranya imut, kok. Vokal Yoona yang gemesin dikolaborasi dengan band duo 10cm yang sering mengisi lagu latar ceria di berbagai drakor. Menonton videonya, kita serasa sedang kencan dengan Yoona mengitari tembok Deoksugung, sambil jepret-jepret yang Instagram.

+

Wave

Berkat ini, saya jadi suka EDM. Luna dan Amber berkolaborasi dengan R3hab, nama panggung dari Fadil El Ghoul, yang merupakan seorang DJ dari Belanda berkebangsaan Maroko.

+

No Matter What

Bisa dibilang awal mula kesukaan saya pada lagu ballad Korea adalah berkat Kwon Boa yang menyanyikan lagu latar Inuyasha. Meski di SM Station kali ini Boa sang ratu Kpop menawarkan house upbeat yang riang. Musik electronica mix yang diselingi rap dari Beenzino. Videonya sendiri berupa animasi, bagus sih, tapi saya lebih mengharapkan kalau Boa ngedance di sini.

+

All Mine

Lagi-lagi EDM. Lagu ini adalah EDM upbeat, yang cocok di musim panas, dengan video menampilkan member f(x) yang melakukan self-cam sambil memberi senyum cerah dan tampak benar-benar bahagia ketika persiapan konser di Jepang.

+

Sailing (0805)

Saya pikir jika dibikin lirik Jepang, lagu ini akan sangat cocok jadi soundtrack ending buat anime One Piece. Karena enggak ada yang dikeluarkan SNSD tahun ini, tentu ini sebuah hadiah membahagiakan di ulang tahun mereka yang ke sembilan. Tapi sayang, cuma animasi doang.

+

Dancing King

Jangan pernah berhenti bermimpi! Yoo Jaesuk, yang berusia hampir setengah abad, bisa menjadi member EXO, dan langsung menjadi main vocal, lead dancer, bahkan maknae – kalau dilihat dari jauh. Melihat variety show Infinite Challenge episode 498 makin membuat saya terharu, tentang proyek kolaborasi Jaesuk yang harus mempersiapkan diri tampil di konser EXO di Bangkok. Seperti judulnya, lagunya enak buat dipakai joget, dan ngedab.

+

Always In My Heart

Video menampilkan kedua penyanyi sebagai pasangan yang baru putus, yang masih teringat kenangan saat mereka masih bersama, dan kemampuan akting mereka mengesankan! Dalam hal vokal, suara Joy dan Seulong berbaur lembut dalam lagu bertempo menengah ini.

+

Sweet Dream

Dengan nuansa J-Pop, cerita di videonya memparodikan Crow’s Zero, dengan mendatangkan orang Jepang asli, Momo Twice. Siapa sangka, bromance di variety show Knowing Brother bisa bikin duet beneran. Kim Heechul sendiri yang menulis lagunya. Sebelumnya, di SM Stasion pun Heechul pernah berduet sama Wheein Mamamoo, dan dia yang nulis liriknya. Untuk proses di balik layarnya bisa nonton Knowing Brother episode 51, asli ngakak.

Kategori
Korea Fever

Perempuan yang Membaca Dostoyevsky

Kim Taeyeon, yang paras mukanya terpacak dalam grafiti dekat pertigaan gerbang tol Kopo dan juga di Jalan Stasiun Timur, sedang baca ‘Crime and Punishment’-nya Fyodor Dostoevsky di video musik terbarunya. “Seperti dia pake kaos Guns N’ Roses di klip ‘Why’, kayaknya Taeyeon memang kirim kode buat sayah,” balas Eka Kurniawan setelah saya kasih info tadi. Sebelumnya, di ‘Rain’, Taeyeon terlihat baca ‘Harry Potter and the Order of the Phoenix’, novel seri kelima dari J.K. Rowling. Taeyeon sang sobat literasi, meski cuma pura-pura, tentu saja. Eh, tapi member SNSD emang beneran pada doyan baca, loh. Ini agak snob, tapi saya punya semacam fetish pada perempuan yang membaca, apalagi ketika dia punya selera buku yang sama, membaca sastra klasik Rusia, misalnya. Saya jadi teringat pernah bikin cerpen soal pertemuan dengan perempuan yang membaca dan mengidolakan Dostoyevsky. Cuma cerpen kacangan tentang jatuh cinta pada pandangan pertama. Yang menarik, saya menggambarkan kalau si perempuan dalam cerpen itu secantik Taeyeon. Siapa lelaki yang enggak bakal jatuh cinta, coba?

‘Rain’ yang moody sekaligus jazzy di musim semi, ‘Why’ dan ‘Starlight’ yang rada RnB saat musim panas, dan kali ini ’11:11′ yang begitu sendu dirilis saat musim gugur. “Ini pukul 11:11,” Taeyeon bernyanyi dengan terlebih dulu diawali petikan gitar yang aduhai, “Ketika tidak ada banyak waktu tersisa untuk hari ini. Ketika kita biasa untuk membuat permintaan dan tertawa. Segalanya mengingatkanku padamu.” Lagu bertempo lambat yang sederhana dengan iringan akustik dan melodi piano minimalis ini merupakan lagu soal mantan, soal hubungan manis yang kemudian kandas. “Semua akan menemukan tempatnya dan pergi,” Taeyeon melantunkan dengan bijaknya. Sebuah pesan yang tulus untuk mengobati rasa sakit dan penderitaan karena patah hati. Seperti sebuah kutipan dari ‘Crime and Punishment’; “Rasa sakit dan penderitaan selalu tidak terelakkan”, yang oleh Haruki Murakami, fanboy dari Dostoyevsky, dipelintir lagi jadi, “Rasa sakit tak bisa dihindari. Tapi penderitaan adalah pilihan.”