eka kurniawan

Eka Kurniawan: Umberto Eco 2.0

Seperti Mr. Golyadkin dalam The Double-nya Dostoyevsky, saya selalu merasa berdosa dan tersiksa ketika berbicara, karena enggak punya bakat melisankan apa yang ada dalam otak. Yang dipikirkan apa, keluarnya apa. Oleh karena khawatir lidah saya dapat mencelakai orang lain, saya selalu memilih bungkam saja. Saya orang yang sarkas, bahkan mungkin rasis, dan cawokah (baca: percakapan berbau porno), sehingga hanya berani membuka mulut sama mereka yang saya anggap dekat saja.

Read more

young-ha-kim-i-have-the-right-to-destroy-myself-sastra-korea

Mencicipi Sastra Korea Kontemporer

Padahal hanya beda dua hari kemerdekaannya sebelum Indonesia, tapi Korea Selatan hari ini bisa dibilang negara maju, mengekspor beragam produk industri juga budaya; gawai (Samsung, LG), otomotif (Hyundai/KIA), musik (K-Pop: SNSD, 2NE1, Apink, dkk.), makanan (kimchi, jajangmyun, Miwon), film (My Sassy Girl, King and the Clown, Miracle in Cell no. 7), sampai sinetron (Winter Sonata, Full House, Reply 1988). Tapi nampaknya, untuk sastra belum terlalu melejit. Siapa coba penulis Korea Selatan yang terkenal? Yang paling terkenal paling Park Dong Seon, pembuat komik golongan darah itu.

Maka saya iseng menelusuri internet, dan menemukan dua penulis Korea Selatan, Jo Kyung-ran dan Kim Young-ha, yang kemudian saya coba terjemahkan cerpennya. Ah, nampaknya saya berhak dapat ganjaran dari Dinas Kebudayaan Korsel, dikasih paket wisata ke Pulau Jeju, misalnya. Lebih karena tertarik pada ceramahnya Kim Young-ha di TEDx, maka saya merasa harus untuk membaca karyanya, dan beruntung dapat ebook novelnya (gratis dan ilegal, pastinya), sehingga akhirnya bisa mencicipi sastra Korea Selatan.

Read more

Fiksimini dari Klip Video SNSD

Masih dipusingkan dengan bagaimana caranya mendapat ide menulis? Setelah menonton satu video Girl’s Generation menyanyikan lagu Bruno Mars, Eka Kurniawan jadi memikirkan ide tentang pernikahan, yang kemudian dia tulis di pos berjudul “Marry You”. Dan, dari sekian banyak tulisan yang Eka pos di blognya, ini jadi salah satu favorit saya, bukan semata karena ada embel-embel SNSD aja.

Jadi, masih bingung cara dapat ide menulis? Sungguh, selain menawarkan jutaan foto serta video wanita telanjang, kau bisa mengunduh beragam inspirasi dari internet. Sangat mudah, bung. Baiklah, inspirasi memang melimpah, sayangnya kita generasi pemalas ini terlalu malas saja untuk mengolahnya, dan lagi kita mudah terdistraksi polusi notifikasi – oh ya ini saya sendiri. Maka saya mencoba menyontek proses kreatif seorang Eka di atas, menekuri Taeyeon, Seohyun, Tiffany, Yoona, Yuri, Hyoyeon, Sooyoung, Sunny, dan Jessica (yang masih ada) dalam laman YouTube. 

Read more

Kim Taeyeon, “I” dan Eksistensialisme

Apakah Selandia Baru membayar Taeyeon untuk bikin video klip ini? Entahlah, yang pasti kalau iya, ini bener-bener promosi wisata yang tepat. Sinematografinya asyik, sukses ngambil beragam pemandangan ciamik. Jangan-jangan pihak National Geographic pun ikutan andil pas bikin mv ini. Musik video ini juga rada banyak mengingatkan saya pada ‘Stars’-nya The Cranberries, dengan lebih ngepop, dan … Read more

Eka Kurniawan Juga Fans SNSD!

“Saya sebenarnya tak tahu apakah layak disebut seorang Sone atau tidak. Saya tak memasang poster mereka, tak punya t-shirt bergambar mereka.” ungkap penulis yang dianggap sebagai suksesornya Pramoedya Ananta Toer ini di Catatan dari “SMTown World Tour 3 in Jakarta”. “Saya hanya mendengar lagu-lagu mereka, dan menonton video-video mereka di Youtube.”

Siapa sangka sastrawan Indonesia kontemporer lulusan Fakultas Filsafat UGM ini, yang karyanya diterjemahkan ke beragam bahasa dan dinobatkan sebagai 33 Must Read Books for Fall 2015 ini fasih mengabsen member SNSD alias Girls’ Generation – keahlian yang mungkin konyol namun pastinya sulit untuk dipelajari bagi sebagian besar umat manusia (lebih sulit daripada menghafal nama tokoh-tokoh di novel War and Peace-nya Tolstoy atau One Hundred Year of Solitude-nya Gabriel Garcia Marquez). 

Read more

kinal jkt48

Kinal dan Bahaya Laten Idolisme

Dilematis sih. Saya banyak setuju sama asas pemikiran Karl Marx, sehingga rada benci terhadap sistem kapitalisme.  Tapi ya gimana, industri hiburan sungguh setan yang menjerat kaum kekinian. Saya masih teracuni dunia k-pop, masih jadi Sone (fans Girls’ Generation), dan sekarang mulai jatuh cinta sama JKT48, beberapa personilnya aja sih, belum jadi wota atau apalah namanya.

Read more