Buku Selalu Berbahaya

reading book
header_Don-quixote-PAR290525
Andalucia, Spain, 1971. Foto oleh Guy Le Querrec/Magnum.

Di universitas-universitas di seluruh dunia, para siswa mengklaim bahwa membaca buku dapat meresahkan mereka hingga menjadi depresi, trauma, atau bahkan bunuh diri. Beberapa berpendapat bahwa novel Virginia Woolf Mrs Dalloway (1925), yang di dalamnya ada bunuh diri, dapat memicu pemikiran bunuh diri di antara mereka yang cenderung melukai diri sendiri. Yang lain bersikeras bahwa The Great Gatsby (1925) karya Scott Fitzgerald, dengan arus terpendam soal kekerasan pasangan, mungkin memicu ingatan menyakitkan tentang pelecehan dalam rumah tangga. Bahkan teks-teks klasik kuno, para siswa berpendapat, bisa berbahaya: di Universitas Columbia di New York, para aktivis mahasiswa menuntut agar peringatan dilampirkan pada Metamorphoses milik Ovid dengan alasan bahwa ‘penggambaran gamblang tentang perkosaan’ mungkin memicu perasaan tidak aman dan kerentanan di kalangan beberapa siswa tingkat akhir.

Baca Selengkapnya

Si Lalat Pengganggu

school of athens raphael
@ Raphael – School of Athens

oleh Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir 3 OktoberĀ 1981

“Aku pusing,” begitulah kata seorang Yunani kuno bernama Theaetetus, pada suatu hari. “Itu permulaan filsafat,” komentar seorang Yunani kuno lain yang bernama Socrates.

Filsafat, seperti masuk angin, dimulai dengan pusing. Tapi berbeda dengan masuk angin, ia tak bisa stop. Setidaknya jika kita mengikuti Socrates – seorang tua bermuka buruk yang menghabiskan waktunya di tepi jalan untuk berdiskusi, di abad ke-4 sebelum Masehi. 2300 tahun yang lalu itu ia selalu nampak di pelataran orang ramai di Athena. Jubahnya itu-itu juga, dan ia bertelanjang kaki. Tapi sudah tentu ia bukan gelandangan.

Ia seorang bekas pejuang dalam perang melawan Sparta. Di waktu muda ia seorang pelajar filsafat. Ayahnya seorang pematung. Daripadanya Socrates mewarisi sebuah rumah. Ia bahkan juga punya uang yang diputarkan dalam bisnis oleh seorang sahabatnya.

Baca Selengkapnya

Socrates dan Street Photography

matt stuart

Suatu hari Socrates berjalan-jalan bersama seorang muridnya, Phaedrus, sampai mereka tiba di batas luar kota Athena. Tiba-tiba Socrates menyatakan kekagumannya terhadap keindahan pemandangan alam yang membentang di hadapannya – kelihatan seperti orang yang kurang piknik. Terheran-heran Phaedrus bertanya, “Apakah sepanjang umurmu tinggal di Athena ini belum pernah menyaksikan pemandangan di pinggir kota ini?”

“Benar, sahabatku…, tetapi ketimbang pepohonan yang tumbuh di padang membentang ini, aku lebih tertarik pada orang-orang yang bisa kuajak bercakap-cakap,” ungkap Socrates, “sebab dari merekalah bisa kugali pengetahuan dan kearifan, tidak pepohonan itu.”

Baca Selengkapnya

Ngaleut Sebagai Piknik Sokratik

Caspar_David_Friedrich_-_Wanderer_above_the_sea_of_fog
Wanderer Above the Sea of Fog – David Caspar Friedrich

Di tengah siang yang terik dan kuno, terlihat Socrates dengan pakaian gembelnya sedang keluyuran, gudag-gidig di seputaran pasar Athena. Edan, sang filsuf ini ujug-ujug berdiskusi soal Tuhan dengan seorang penjual ikan: menjelaskan kalau dewa-dewi nggak ada. Ini bukan satu dua kali, tapi gurunya Plato ini sudah kelewat sering. Karena dianggap subversif, maka hukum minum racun menghadapinya. Ya, hukuman memang selalu menimpa kepada mereka yang serba ingin tahu dan banyak tahu.

Berabad-abad kemudian, tindakan sokratik ini, khususnya di kegiataan jalan-jalan nggak jelas di pusat perkotaan, diamalkan oleh para kaum borjuis Prancis. Dari cendekia, filsuf, penulis, pelukis, atau seniman yang ingin mencari inspirasi ya keluyuran sendirian di jalanan Paris.

Baca Selengkapnya