Kategori
Non Fakta

Buka Ritsleting, Etgar Keret

5275_15_43

Ini dimulai dengan ciuman. Hampir selalu dimulai dengan ciuman. Ella dan Tsiki berada di tempat tidur, telanjang, dengan hanya lidah mereka yang saling beradu—kemudian Ella merasakan sesuatu yang menusuknya. “Apakah aku menyakitimu?” Tanya Tsiki, dan ketika Ella menggeleng, ia segera menambahkan, “Kau berdarah.” Dan memang berdarah, dari mulut. “Maafkan aku,” kata Tsiki, dan ia mulai panik mencari-cari di dapur, menarik cetakan es batu dari freezer dan memukul-mukulnya ke meja. “Ini, ambil ini,” kata Tsiki, sambil menyerahkan beberapa es pada Ella dengan tangan menggigil, “letakkan di bibirmu. Ini akan menghentikan pendarahan.” Tsiki selalu cekatan dalam hal-hal begini. Saat di tentara dia seorang paramedis. Dia seorang pemandu wisata terlatih juga. “Maafkan aku,” ia melanjutkan, berubah pucat, “aku pasti menggigitmu. Kau ngerti lah, pas lagi panas-panasnya.””Ga——pa” Ella tersenyum pada Tsiki, es batu menempel di bibir bawahnya. “ja——an kha——tir.” Yang merupakan kebohongan, tentu saja. Karena ses——tu telah te——di. Hal ini tidak lazim bahwa seseorang yang telah lama tinggal bersamamu membuatmu berdarah, dan kemudian membohongimu dan mengatakan ia menggigitmu, ketika kamu dengan jelasnya merasakan sesuatu menusukmu.

Mereka tidak berciuman selama beberapa hari setelah kejadian itu, karena lukanya. Bibir adalah bagian yang sangat sensitif dari tubuh. Dan kemudian, ketika mereka bisa, mereka harus sangat berhati-hati. Ella tahu Tsiki menyembunyikan sesuatu. Dan benar saja, satu malam, mengambil keuntungan dari fakta bahwa Tsiki tidur dengan mulut terbuka, Ella dengan lembut menyelipkan jarinya di bawah lidah Tsiki—dan menemukannya. Itu ritsleting. Sebuah ritsleting amat kecil. Tapi ketika dia menariknya, seluruh tubuh Tsiki terbuka seperti tiram, dan di dalamnya ada Jurgen. Tidak seperti Tsiki, Jurgen punya jenggot, cambang yang tercukur rapi, dan penis yang tidak disunat. Ella mengawasinya dalam tidurnya. Dengan sangat, sangat pelan dia melipat pembungkus Tsiki dan menyembunyikannya di lemari dapur di belakang tempat sampah, tempat mereka biasa menyimpan kantong sampah.

Hidup dengan Jurgen tidak mudah. Untuk seks memang fantastis, tapi dia kebanyakan minum-minum, dan ketika dia melakukannya, dia akan bikin ribut dan terlibat ke segala jenis situasi memalukan. Di atas semua itu, dia suka membuat Ella merasa bersalah karena dia yang menjadi alasan kenapa Jurgen meninggalkan Eropa dan pindah untuk tinggal di sini. Setiap kali sesuatu yang buruk terjadi di negeri ini, apakah itu dalam kehidupan nyata atau di TV, ia akan mengatakan padanya, “Lihat apa yang negaramu lakukan.” Bahasa Ibrani Jurgen payah, dan bahwa kata “kamu” selalu terdengar sangat menuduh. Orangtua Ella tidak menyukainya. Ibunya, yang begitu menyukai Tsiki, menyebut Jurgen seorang goy. Ayah Ella akan selalu bertanya tentang pekerjaan, dan Jurgen akan terkikik dan berkata, “Pekerjaan seperti kumis, Tuan Shviro. Itu sudah ketinggalan zaman.” Tak seorang pun yang merasa itu lucu, apalagi bagi ayah Ella, yang masih menumbuhkan kumisnya.

Akhirnya, Jurgen pergi. Dia kembali ke Düsseldorf untuk membuat musik dan hidup lebih bermanfaat. Dia tidak pernah bisa mewujudkan impiannya jadi penyanyi di negeri ini, sebut Jurgen, karena mereka akan terus mencibir aksennya. Orang di sini begitu berprasangka. Mereka tidak suka orang Jerman. Ella berpikir bahwa bahkan di Jerman musik aneh dan lirik klisenya tidak akan benar-benar membuatnya sukses. Jurgen telah menulis sebuah lagu tentang Ella. Lagu berjudul “Dewi” dan semuanya adalah tentang hubungan seks di sisi pantai dan tentang bagaimana ketika Ella datang, itu “bagai gelombang yang memecah batu” —dan ini diambil dari sebuah kutipan.

Enam bulan setelah Jurgen pergi, Ella mencari kantong sampah dan menemukan pembungkus Tsiki. Mungkin suatu kesalahan telah membuka ritsleting tadi, pikirnya. Bisa jadi. Dengan hal-hal seperti itu sulit untuk mengatakan dengan pasti. Malam itu juga, sementara dia menggosok gigi, ia memikirkan kembali ciuman itu, lebih dari rasa sakit karena ditusuk. Dia berkumur dengan banyak air dan melihat ke cermin. Dia masih memiliki bekas luka, dan ketika ia mengamatinya dari dekat, ia melihat ritsleting kecil di bawah lidahnya. Ella merabanya ragu-ragu, dan mencoba membayangkan bakal seperti apa dia yang ada di dalam. Ini membuatnya sangat berharap, tetapi juga sedikit bikin khawatir—terutama jika mendapat tangan yang berbintik-bintik dan kulit kering. Mungkin dia memiliki tato, pikirnya, bergambar mawar. Dia selalu ingin punya tato, tetapi tidak pernah memiliki keberanian. Dia pikir itu akan sangat menyakitkan.

*

Diterjemahkan dari cerita “Unzipping” dalam “Suddenly, a Knock On the Door” karya Etgar Keret.

Kategori
Non Fakta

Tiba-tiba, Ada yang Mengetuk Pintu

suddenly a knock on the door

“Beri aku sebuah cerita,” perintah seorang lelaki berjanggut yang duduk di sofa ruang tamuku. Situasinya, bisa kubilang, campur aduk tapi tak menyenangkan. Aku adalah seorang yang menulis kisah-kisah, bukan seseorang yang mendongengkannya. Dan bahkan hal itu bukan sesuatu yang kulakukan karena desakan. Terakhir kali ada yang memintaku untuk menceritakan sebuah cerita, adalah anakku. Itu setahun yang lalu. Aku menceritakannya sesuatu tentang peri dan musang—aku bahkan tidak ingat tentang apa—dan dalam waktu dua menit ia tertidur pulas. Tapi situasinya sangat jauh berbeda. Karena anakku tidak punya janggut, juga pistol. Karena anakku meminta cerita dengan baik-baik, sementara orang ini seperti sedang mencoba untuk merampokku.

Aku mencoba menjelaskan kepada pria berjanggut itu bahwa jika ia meletakkan pistolnya dulu maka akan jadi sebuah kebaikan untuknya, kebaikan untuk kami. Sulit untuk memikirkan sebuah cerita dengan laras pistol yang terisi mengarah kepalamu. Tapi pria itu bersikeras. “Di negeri ini,” ia menjelaskan, “jika kau ingin sesuatu, kau harus pakai paksaan.” Dia baru saja tiba dari Swedia, dan di Swedia benar-benar berbeda. Di sana, jika kamu ingin sesuatu, kamu meminta dengan sopan, dan besar kemungkinan kau bakal mendapatkannya. Tapi tidak di Timur Tengah yang lembab dan menyesakkan ini. Butuh satu minggu di tempat ini untuk mencari tahu bagaimana segala sesuatu berjalan—atau lebih tepatnya, bagaimana semua itu tidak berjalan. Orang-orang Palestina meminta sebuah negara, secara baik-baik. Apakah mereka mendapatkannya? Sia-sia yang mereka lakukan. Jadi mereka beralih dengan meledakkan anak-anak dalam bus, dan orang-orang mulai mendengarkan.  Para pemukim menginginkan sebuah dialog. Apakah ada yang menanggapi? Tak mungkin. Jadi mereka mulai bertindak, menuangkan minyak panas kepada petugas patroli perbatasan, dan tiba-tiba mereka memiliki penonton. Di negeri ini, keperkasaan selalu benar, dan tidak peduli apakah itu tentang politik, atau ekonomi atau tempat parkir. Jalan kekerasan adalah satu-satunya bahasa yang kami mengerti.

Swedia, tempat asal pria berjanggut itu benar-benar negara maju. Swedia bukan hanya ABBA atau IKEA atau Hadiah Nobel. Swedia adalah dunia tersendiri, dan apa pun yang mereka punya, mereka dapatkan dengan cara damai. Di Swedia, jika dia mendatangi solois Ace of Base, mengetuk pintu, dan memintanya untuk bernyanyi untuknya, dia akan mengundangnya dan membuatkannya secangkir teh. Lalu dia bakal mengeluarkan gitar akustik dari bawah tempat tidur dan bermain untuknya. Semuanya dengan sebuah senyuman! Tapi di sini? Maksudku, jika ia tidak mengangkat pistol aku pasti telah mendepaknya segera. Perhatikan, aku mencoba untuk beralasan. “Camkan ini,” pria berjanggut mengomel, dan mengokang pistolnya. “Sebuah cerita atau peluru yang bersarang di antara mata.” Aku melihat pilihanku terbatas. Orang ini mengajukan penawaran. “Dua orang sedang duduk di sebuah ruangan,” aku memulai. “Tiba-tiba, ada yang mengetuk pintu.” Orang berjanggut menegang, dan untuk sesaat aku pikir mungkin dia terbawa oleh cerita ini, tetapi tidak. Dia mendengarkan sesuatu yang lain. Ada yang mengetuk pintu. “Buka,” katanya padaku, “dan jangan coba macam-macam. Singkirkan siapa pun itu, dan lakukan dengan cepat, atau ini akan berakhir buruk.”

Pemuda di pintu sedang melakukan survei. Dia punya beberapa pertanyaan. Pendek-pendek. Tentang kelembaban tinggi di sini saat musim panas, dan bagaimana hal itu mempengaruhi kepribadianku. Aku katakan padanya aku tidak tertarik tapi dia terus memaksa masuk.

“Siapa itu?” Dia bertanya padaku, menunjuk pada si pria berjanggut. “Itu keponakanku dari Swedia,” aku berbohong. “Ayahnya meninggal karena tanah longsor dan dia ada di sini untuk pemakaman. Kami sedang mengurus surat wasiat. Bisa tolong hormati privasi kami dan segera pergi?” “Ayolah, bung,” kata si penjajak suara, dan menepuk pundakku. “Ini hanya beberapa pertanyaan. Berikan seorang pria kesempatan untuk mendapatkan beberapa dolar. Mereka membayarku per responden.” Dia melompat ke sofa, memegangi mapnya. Orang Swedia itu mengambil tempat duduk di sampingnya. Aku masih berdiri, berusaha terdengar seperti apa yang kumaksud tadi. “Aku memintamu untuk segera pergi,” kataku. “Waktumu tidak tepat.” “Tidak tepat, hah?” Dia membuka map plastik dan mengeluarkan sebuah revolver besar. “Kenapa waktuku tidak tepat? Karena aku berkulit lebih gelap? Karena aku tidak cukup baik? Ketika berhadapan dengan orang Swedia, kau punya semua waktu di dunia. Tapi untuk seorang Maroko, untuk seorang veteran perang yang meninggalkan sebelah ginjalnya di Lebanon, kau tidak bisa meluangkan bahkan untuk semenit sialanmu.” Aku mencoba untuk beralasan dengan dia, mengatakan kepadanya bahwa ini bukan seperti yang dipikirkannya sama sekali, bahwa ia kebetulan mengganggu saat percakapanku dengan si Swedia itu. Tapi sang penjajak pendapat mengangkat revolver setinggi bibirnya dan memberi isyarat kepadaku untuk tutup mulut. “Vamos,” katanya. “Berhentilah membuat alasan. Duduk di sana, dan lanjutkan yang tadi.” “Lanjutkan apa?” Aku bertanya. Yang benar adalah, sekarang aku cukup tegang. Si Swedia memiliki pistol juga. Mungkin bakal mengeluarkan juga. Timur adalah timur dan barat adalah barat, dan hanya itu. Mentalitas yang berbeda. Atau mungkin si orang Swedia bisa kehilangan momen itu, hanya karena dia ingin semua cerita untuk dirinya sendiri. Sendirian. “Jangan membuatku menunggu,” si penjajak suara memperingatkan. “Aku gampang meledak. Lanjutkan ceritanya—dan lakukan dengan cepat.” “Ya,” si orang Swedia itu menimpali, dan menarik keluar punyanya juga. Aku berdeham, dan mulai dari awal lagi. “Tiga orang sedang duduk di sebuah ruangan.” “Dan jangan ada ‘Tiba-tiba, ada yang mengetuk pintu,'” si orang Swedia menegur. Sang penjajak suara tidak cukup memahami, tapi berusaha mengikutinya. “Lanjutkan,” katanya. “Dan tidak ada yang mengetuk pintu. Beri kami sesuatu yang lain. Yang mengejutkan kami.”

Aku berhenti sejenak, dan mengambil napas dalam-dalam. Keduanya menatapku. Bagaimana aku selalu menghadapi situasi semacam ini? Aku yakin hal-hal seperti ini tidak pernah terjadi pada Amos Oz atau David Grossman. Tiba-tiba ada ketukan di pintu. Tatapan mereka berubah mengancam. Aku mengangkat bahu. Ini bukan salahku. Tidak ada dalam ceritaku untuk menghubungkannya ke ketukan itu. “Singkirkan dia,” perintah sang penjajak suara padaku. “Singkirkan dia, siapa pun dia.” Aku membuka pintu hanya sedikit. Itu pria pengantar pizza. “Apakah Anda Keret?” Ia bertanya. “Ya,” kataku, “tapi aku tidak memesan pizza.” “Di sini Fourteen Zamenhoff Street,” tukasnya sambil menunjuk cetakan slip pengiriman dan mendorong masuk ke dalam. “Terus kenapa,” kataku, “Aku tidak memesan pizza.”  “Ukuran paket keluarga,” ia menegaskan. “Setengah nanas, setengah ikan teri. Sudah dibayar. Kartu kredit. Cukup beri aku tip dan aku akan pergi dari sini.” “Apakah kau ke sini untuk cerita juga?” si orang Swedia menginterogasi. “Cerita apa?” pengantar pizza bertanya, tapi jelas dia berbohong. Dia jelas sangat tidak cakap dalam hal itu. “Keluarkan saja,” sang penjajak suara mendesak. “Sudahlah, keluarkan saja pistolnya.” “Aku tidak punya pistol,” pengantar pizza mengakui dengan canggung, dan menarik keluar pisau dari bawah nampan kardus. “Tapi aku akan memotong dia sampai jadi batang korek api kecuali dia membuat ceritaya yang bagus, dua kali lipat.”

Mereka bertiga berada di atas sofa—si orang Swedia di sebelah kanan, lalu pengantar pizza, kemudian sang penjajak suara tadi. “Aku tidak bisa melakukannya seperti ini,” aku memberitahu mereka. “Aku tidak bisa membikin cerita dengan kalian bertiga di sini dan senjata dan semua itu. Pergi berjalan-jalan dulu di sekitar blok, dan saat kalian kembali, aku akan memiliki sesuatu untuk kalian.” “Bajingan ini akan memanggil polisi,” sang penjajak suara berkata pada si orang Swedia. “Apa yang dia pikirkan, bahwa kita baru dilahirkan kemarin?” “Ayolah, beri kami satu dan kami akan pergi,” pengantar pizza memohon. “Sebuah cerita pendek. Jangan terlalu anal. Segalanya memang keras, kau tahu. Pengangguran, bom bunuh diri, orang-orang Iran. Orang lapar akan sesuatu yang lain. Apa yang kau pikirkan bahwa orang taat hukum seperti kami bisa sampai sejauh ini? Kami sedang putus asa, bung, putus asa.”

Aku berdeham dan memulai lagi. “Empat orang sedang duduk di sebuah ruangan. Hari sedang terik. Mereka bosan. Pendingin ruang terus berkedip. Salah satu dari mereka meminta sebuah cerita. Yang kedua bergabung, lalu yang ketiga …” “Itu bukan cerita,” protes sang penjajak suara. “Itu laporan saksi mata. Ini persis apa yang terjadi di sini sekarang. Apa yang kita sedang coba untuk keluar darinya. Kau tidak bisa pergi seenaknya dan membuang realitas pada kami seperti truk sampah. Gunakan imajinasimu, bung, bikin, ciptakan, ambil semua jalan.”

Aku mengangguk dan memulai lagi. “Seorang pria sedang duduk di sebuah ruangan, hanya dirinya seorang. Dia kesepian. Dia seorang penulis. Dia ingin menulis sebuah cerita. Sudah lama sejak ia menulis cerita terakhirnya, dan dia merindukan itu. Dia merindukan perasaan menciptakan sesuatu dari sesuatu. Itu benar—sesuatu dari sesuatu. Karena sesuatu dari ketiadaan adalah ketika kamu membuat sesuatu dari udara tipis, dalam hal ini tidak memiliki nilai. Siapa saja bisa melakukan itu. Tapi sesuatu dari sesuatu berarti itu benar-benar ada sepanjang waktu, di dalam dirimu, dan kamu menemukan itu sebagai bagian dari sesuatu yang baru, yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Pria itu memutuskan untuk menulis sebuah cerita tentang situasi. Bukan situasi politik dan bukan pula situasi sosial. Dia memutuskan untuk menulis sebuah cerita tentang situasi manusia, soal kondisi manusia. Kondisi manusia yang dia alami sekarang. Tapi ia hanya bisa termangu. Tidak ada cerita yang keluar. Karena kondisi manusia yang dia alami sekarang tampaknya tidak layak dibuat cerita, dan dia akan menyerah ketika tiba-tiba … ” “Aku telah memperingatkanmu sebelumnya,” si orang Swedia menyelaku. “Tidak ada ketukan di pintu.” “Aku harus,” aku bersikeras. “Tanpa ada yang mengetuk pintu tidak akan ada cerita.” “Biarkan dia,” kata pengantar pizza dengan lembut. “Beri dia beberapa kelonggaran. Kau ingin ketukan di pintu? Oke, silahkan pakai ketukan di pintu. Asalkan kami bisa mendapatkan sebuah cerita.”

*

Diterjemahkan dari cerita “Suddenly, a Knock On the Door” dalam buku berjudul sama karya Etgar Keret.