Kategori
Catutan Pinggir

Pembacaan Straussian “Black Panther”

https3a2f2fblogs-images-forbes-com2fscottmendelson2ffiles2f20182f022fau_rich_hero_blackpanther_1_3c317c85-1200x526

Kita menunggu film seperti Black Panther, tetapi Black Panther bukan film yang kita tunggu-tunggu. Pertanda pertama dari ambiguitasnya adalah fakta bahwa film itu diterima dengan antusias di sepanjang spektrum politik: dari partisan emansipasi kulit hitam yang melihat adanya pernyataan kekuatan kulit hitam dalam film hits Hollywood, kemudian kaum liberal yang bersimpati dengan solusi film yang masuk akal — pendidikan dan bantuan, bukan perjuangan — hingga beberapa perwakilan dari alt-right, yang mendapati “Wakanda forever” dalam film adalah versi lain dari “America first”-nya Trump (kebetulan, inilah mengapa Mugabe, sebelum dia kehilangan kekuasaan, juga mengatakan beberapa kata-kata pujian tentang Trump). Ketika semua pihak mengenali diri mereka dalam produk yang sama, kita dapat yakin bahwa produk yang dimaksud adalah ideologi yang paling murni — semacam kapal kosong yang mengandung unsur-unsur antagonistik.

Plot dimulai berabad-abad yang lalu, dengan lima suku Afrika berebut meteorit yang mengandung vibranium, logam yang dapat menyimpan energi yang tampak tak terbatas. Salah satu prajurit mendapatkan kemampuan super setelah makan “herba berbentuk hati” yang mengandung logam tadi. Ia menjadi “Black Panther” pertama, menyatukan semua kecuali satu suku untuk membentuk negara Wakanda. Selama berabad-abad setelahnya, bangsa Wakanda mengisolasi diri dari dunia, yang percaya bahwa mereka adalah negara Afrika yang terbelakang; pada kenyataannya, mereka sangat maju, menggunakan vibranium untuk mengembangkan teknologi canggih. Titik awal ini tampaknya bermasalah: sejarah baru-baru ini mengajarkan kita bahwa diberkati oleh sumber daya alam berharga adalah sebuah kutukan yang menyamar — pikirkan Kongo hari ini, yang merupakan “negara para bangsat” yang tak ajeg, justru berkat kekayaan sumber daya alamnya yang luar biasa (dan bagaimana mereka dieksploitasi dengan kejam karenanya).

Adegan kemudian bergeser ke Oakland, yang merupakan salah satu benteng dari Black Panthers sesungguhnya, sebuah gerakan pembebasan kulit hitam radikal dari tahun 1960-an, yang dihabisi dengan kejam oleh FBI. Mengikuti jejak komik Black Panther, film ini — tanpa pernah secara langsung menyebut Panthers yang sebenarnya — dalam goresan manipulasi ideologi yang sederhana namun tidak kalah efisien mencatut nama tersebut, sehingga asosiasi pertamanya sekarang bukan lagi organisasi militan radikal lawas itu tapi seorang raja jagoan super dari kerajaan Afrika yang kuat. Lebih tepatnya, ada dua Black Panther dalam film, raja T’Challa dan sepupunya, Erik Killmonger. Masing-masing mewakili visi politik yang berbeda. Erik menghabiskan masa mudanya di Oakland dan kemudian sebagai pasukan khusus AS; domainnya adalah kemiskinan, kekerasan geng, dan kebrutalan militer, sementara T’Challa dibesarkan dalam kemewahan istana kerajaan Wakanda yang terpencil. Erik mendukung solidaritas global yang militan: Wakanda harus menempatkan kekayaan, pengetahuan, dan kekuatannya untuk dibagikan pada yang tertindas di seluruh dunia sehingga mereka dapat menggulingkan tatanan dunia yang ada. Sementara T’Challa perlahan-lahan bergerak menjauh dari isolasionisme tradisional “Wakanda first!” ke globalisme bertahap dan damai yang bakal beriringan dalam koordinat dari tatanan dunia yang ada dan lembaga-lembaganya, dengan menyebarkan bantuan pendidikan dan teknologi — dan sekaligus mempertahankan keunikan budaya dan cara hidup bangsa Wakanda. Sikap politik T’Challa membuatnya menjadi seorang jagoan ragu-ragu yang membedakannya dengan jagoan super hiperaktif yang lumrah, sementara lawannya Killmonger selalu siap bertindak dan tahu apa yang harus dilakukannya.

Bukan, Black Panther bukan film yang kita tunggu. Salah satu tanda bahwa ada yang salah dengan film ini adalah peran aneh dari dua karakter kulit putih, Klaue orang Afrika Selatan “yang jahat” dan agen CIA Ross “yang baik”. Klaue “yang jahat” tidak cocok dengan peran penjahat yang ditakdirkan padanya — dia terlalu lemah dan komikal. Ross adalah sosok yang jauh lebih misterius, dalam beberapa hal merupakan gejala film: dia adalah agen CIA, setia kepada pemerintah AS, yang berpartisipasi dalam perang sipil Wakanda dengan berjarak yang ironis, anehnya tak terlibat langsung, seolah-olah dia cuma berpartisipasi dalam pertunjukan. Kenapa dia dipilih untuk menembak jatuh pesawat Killmonger? Bukankah dia memegang tempat dalam sistem global yang ada dalam semesta film? Dan, pada saat yang sama, ia memegang tempat mayoritas pemirsa film itu, seolah-olah mengatakan kepada kita: “Tidak apa-apa untuk menikmati fantasi supremasi kulit hitam ini, tidak satupun dari kita benar-benar terancam oleh semesta alternatif ini!” Dengan T’Challa dan Ross di pucuk pimpinan, para penguasa dunia saat ini dapat terus tidur dengan tenang.

malcolm x black panther

Bahwa T’Challa terbuka untuk globalisasi “yang baik” tetapi juga didukung oleh perwujudan represifnya, CIA, menunjukkan bahwa tidak ada ketegangan nyata antara keduanya: Estetika Afrika dibuat secara sempurna sesuai dengan kapitalisme global; tradisi dan ultra-modernitas menyatu bersama. Tontonan indah dari gedung pemerintahan Wakanda yang dihilangkan adalah wawasan yang diikuti oleh Malcolm X ketika dia mengadopsi X sebagai nama keluarganya. Dia memberi isyarat bahwa para pedagang budak yang membawa budak-budak Afrika dari kampung halamannya secara brutal mencabut mereka dari keluarga dan akar etnis mereka, dari kehidupan budaya mereka. Sebuah inspirasi untuk Partai Black Panther, misi Malcolm X bukan untuk memobilisasi Afrika Amerika untuk berjuang agar bisa kembali ke akar primordial Afrika, tetapi justru untuk merebut babak baru yang disediakan oleh X — identitas yang tak diketahui, identitas baru (berkat kekurangan) yang ditimbulkan oleh proses perbudakan. X ini, yang merampas orang kulit hitam Amerika dari tradisi etnis mereka, menawarkan kesempatan unik untuk mendefinisikan ulang (menciptakan kembali) diri mereka sendiri, untuk secara bebas membentuk identitas baru yang jauh lebih universal daripada universalitas orang kulit putih yang diakui. (Seperti diketahui, Malcolm X menemukan identitas baru ini dalam universalisme Islam.) Pelajaran berharga Malcolm X ini terlupakan oleh Black Panther: untuk mencapai universalitas sejati, seorang jagoan harus melalui pengalaman kehilangan akar kulturalnya.

Semua hal tampak jelas, menegaskan desakan Fredric Jameson tentang betapa sulitnya membayangkan dunia yang benar-benar baru, dunia yang tidak hanya mencerminkan, membalikkan, atau menambah yang ada. Namun, film ini menawarkan tanda-tanda yang mengganggu pembacaan sederhana dan jelas ini — tanda-tanda yang meninggalkan visi politik Killmonger terbuka secara radikal. Membaca film dengan cara Leo Strauss membaca karya Plato dan Spinoza, serta Paradise Lost-nya Milton, kita dapat memulihkan potensi yang tampaknya tertutup ini.

Pembacaan Strauss yang cermat menarik perhatian pada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa hierarki posisi teoritis yang jelas harus dibalik. Misalnya, meskipun Milton mengikuti baris pesta resmi gereja dan mengutuk pemberontakan Setan, simpatinya jelas dengan Setan dalam Paradise Lost. (Kita harus menambahkan bahwa tak masalah jika preferensi untuk “sisi buruk” ini sesuatu yang disadari atau tidak disadari bagi penulis teks; hasilnya tetap sama.) Apakah hal yang sama tidak berlaku untuk The Dark Knight Rises-nya Christopher Nolan, bagian akhir dari trilogi Batman-nya? Meskipun Bane adalah penjahat resmi, ada indikasi bahwa ia, lebih dari Batman sendiri, adalah pahlawan otentik film tersebut yang terdistorsi sebagai penjahatnya: ia siap mengorbankan hidupnya demi cintanya, siap mempertaruhkan segalanya untuk apa yang ia anggap sebagai ketidakadilan, dan fakta dasar ini disembunyikan oleh tanda-tanda kejahatan destruktif yang dangkal dan agak konyol.

Jadi, kembali ke Black Panther: yang mana tanda-tanda yang memungkinkan kita untuk mengenali bahwa Killmonger adalah pahlawan sejati film ini? Ada banyak; yang pertama di antara mereka adalah adegan kematiannya, di mana ia lebih memilih untuk mati dengan bebas ketimbang disembuhkan dan hidup dalam kelimpahan palsu Wakanda. Dampak etis yang kuat dari kata-kata terakhir Killmonger segera merusak gagasan bahwa ia adalah penjahat semenjana. Apa yang kemudian terjadi adalah adegan yang luar biasa hangat: Killmonger yang sedang sekarat duduk di tepi tebing gunung mengamati matahari terbenam Wakanda yang indah, dan T’Challa, yang baru saja mengalahkannya, diam-diam duduk di sisinya. Tidak ada kebencian di sini, hanya dua pria yang pada dasarnya baik dengan pandangan politik berbeda yang berbagi saat-saat terakhir mereka setelah pertempuran berakhir. Ini adalah adegan yang tak terbayangkan dalam film laga standar yang memuncak dalam kehancuran musuhnya. Saat-saat terakhir ini saja menimbulkan keraguan pada pembacaan film yang jelas dan mengajak kita untuk refleksi lebih mendalam.

*

Diterjemahkan dari artikel Los Angeles Review of Books berjudul Quasi Duo Fantasias: A Straussian Reading of “Black Panther”.

Slavoj Žižek adalah filsuf seleb dan kritikus Marxis dari Slovenia. Salah satu pemikir paling ngepop hari ini, mendapat pengakuan internasional sebagai teoretikus sosial setelah penerbitan buku pertamanya, “The Sublime Object of Ideology”. Kontributor reguler surat kabar seperti The Guardian, Die Zeit dan The New York Times. Dijuluki sebagai Elvis-nya teori budaya.

Kategori
Argumentum in Absurdum

Jadi Superman

Sumber gambar: fansided

TOK TOK!

“Eh Kang Superman ya?”

“Yeah, I am Clark Kent. I am the man of steel. Congratulation, I’ll lend you Kryptonian ability for a day. Have a nice day. Bye!”

Oh. Diriku jadi bertenaga. Berkarisma. Alhamdulillah dikasih amanah kekuatan Superman buat satu hari ini secara cuma-cuma.

Asyik punya kekuatan Superman. Bisa terbang. Ke Jatinangor ga sampai sejam udah nyampe. Ga perlu mencicipi kemacetan lalu lintas. Tinggal blas terbang. Terbang dengan kecepatan hipertinggi. Ga perlu takut kena tilang.

Ah. Masa cuma ke Jatinangor. Think global dong.

Eh iya yah, cita-cita pergi ke London bisa terealisasi nih. Langsung capcus ah kalau gitu mah. Tapi belum bikin paspor euy. Tapi kalem aja ah, ga apa-apa kali ya.

Blas terbang.

Eh lupa. Untung cuma baru nyampe Batam. Duh HP sama kamera ketinggalan. Ga bisa update Foursquare sama Path kan. Ga bisa foto dengan latar Big Ben entar. Sayang kan udah jauh-jauh ke London, masa ga ada yg tahu. Suatu kebahagiaan kan harus disebarluaskan.

Blas terbang. Lagi.

Wow. Patung Singa Laut. Menara Kembar Petronas. Angkor Wat. Tembok Besar. Gunung Fuji. Gurun Gobi. Gerah sumpah.

Subhanallah. Masjidil Haram. Kabah. Shalat dulu ah. Tahiyatul Masjid lah. Shalat di sini kan faedahnya seratus ribu kali shalat di tempat lain. Sambil numpang minum air zam-zam. Haus.

Sambil berdoa juga. Supaya dilancarkan perjalanannya. Supaya diberi keselamatan. Biar ga nyasar ke Kutub Utara. Ga bawa jaket tadi. Mati kedinginan nanti.

“Ya Allah, tunjukanlah hamba-Mu ini jalan menuju London. Soalnya saya ga tau harus ngambil arah ke mana.”

Kategori
Movie Enthusiast

“The Amazing Spiderman” vs “Spiderman versi Raimi”

Awalnya berasa ragu sama Spiderman versi reboot ini, soalnya Toby Maguire udah lengket banget sama sosok Peter Parker, kalau diganti jadi asa gimana gitu. Tapi pandangan miring tersebut sirna setelah nonton The Amazing Spiderman di Jatos malam minggu kemarin. So sweet banget lah, nonton bioskop sendirian pas satnite. 😯

the amazing spiderman
Sumber: geektyrant.com
Kenapa mesti diulang?

Mungkin ini jadi pertanyaan terbesar kita sekalian yang udah nonton franchise Spiderman besutan Sam Raimi. Kenapa mesti diulang? Okeh, jawaban utamanya adalah untuk meluruskan sejarah. Ya, Spiderman yang dibintangi Toby Maguire dan Kirsten Dunst sangat melenceng dari kisah Spiderman versi komik.

Kalau mengacu pada versi komik, Mary Jane Watson, bukanlah pacar pertama Peter Parker. Namun cewek blondie bernama Gwen Stacy-lah yg pertama kali merebut hati Peter. Nah, di The Amazing Spiderman ini, Gwen yg dibintangi oleh Emma Stone ini emang jadi love interest-nya. 

Kategori
Hanya Info Review TV Geek!

The 99, Persatuan Superhero Muslim

The 99

Kabar gembira bagi sobat Muslim!!

Suatu film animasi yang mengangkat kisah para jagoan berlatar belakang budaya dan memiliki nama-nama Muslim akan tayang di stasiun televisi Inggris *Indonesia ntar nyusul*. Kelompok superhero tersebut dinamakan “The 99”, dan tampilan serta kekuatan tokoh-tokohnya pun tak jauh beda dengan para jagoan dari Marvel dan DC, seperti Jabbar yang mempunyai kemampuan fisik luar biasa seperti Hulk.

Film animasi “The 99” ini diangkat dari komik sukses karya Dr. Naif al-Mutawa. Para superhero ini diharapkan dapat menanamkan nilai-nilai Islam kepada anak-anak Muslim di Inggris khususnya dan seluruh dunia.

Bagi umat islam penamaan “The 99” tersebut tentu saja mudah ditebak