Kategori
Celotehanku

Munjung: Sebuah Ensiklopedia Mungil Pesugihan

moh ambri munjung

Bayangkan adegan What We Talk About When We Talk About Love-nya Raymond Carver, tapi dilakukan di saung ronda, dan yang mereka bacotkan adalah cara-cara klenik mengakumulasi kapital. Memang, mendapat tugas jaga malam dan menanti Godot sama-sama kondisi ideal untuk produksi bualan. Diawali curhatan soal kesusahan hidup, Munjung kemudian menjadi semacam panduan wikiHow yang disusun antara Borges dan Abdullah Harahap.

Munjung adalah novel Sunda yang diterbitkan pertama pada 1932, ditulis oleh Mohamad Ambri (8 September 1892 – 5 April 1938). Penulis yang menjalani Kweekschool atau Sakola Guru di Bandung, untuk kemudian jadi guru dan kepala sekolah, dan pada 1930 pindah ke Jakarta untuk bekerja sebagai Redaktur Bahasa Sunda di Balai Pustaka. Selama bekerja di sana, ada setidaknya 20 judul bukunya yang terbit, baik karya asli, terjemahan atau saduran.

Meski mengangkat tema mistik, Munjung hadir dalam gaya realis. Dalam artian, berbeda dengan sastrawan sezamannya yang masih bergaya romantis dan tokohnya masih berpusat di kalangan menak. Utuy Tatang Sontani yang pertama kali menyebutnya pengarang realis Sunda di dalam pengantarnya untuk Urang Desa (1949) – kumpulan dua roman Moh Ambri yaitu Burak Siluman dan Munjung. Popo Iskandar malah menggelari Moh Ambri sebagai Bapak Realisme Sunda. Hal tersebut tampak dalam tulisannya Moh Ambri Bapa Realisme dina Sastra Sunda yang dimuat dalam majalah Sunda No. 58, tahun II. Moh. Ambri adalah pengarang Sunda yang lebih banyak melukiskan keadaan sosial masyarakat Sunda di setiap zaman. Umumnya mengenai zaman-zaman yang secara pribadi ia alami, khususnya mengenai realitas masyarakat Sunda, yang sampai sekarang pun masih percaya klenik.

Moh Ambri menggunakan teknik penceritaan bertingkat, dengan menampilkan seorang tokoh sebagai juru kisah layaknya Syahrazad dalam Kisah Seribu Satu Malam. Penulis kelahiran Sumedang ini memang pernah menerjemahkan beberapa seri dalam Kisah Seribu Satu Malam. Salah satunya Palika Jeung Jin, terjemahan dari kisah tentang sang nelayan dan jin, yang sangat beririsan dengan novel Munjung: bahwa setiap pemufakatan dengan makhluk gaib akan mendatangkan derita.

Ragam Pesugihan dalam Munjung

Marhapi, “Lamun enya kitu, milik saurang-saurang geus dipasti, naha bet siga nu pilih kasih, sawareh sina senang, sina beunghar, sina pinter, naha ari urang sina susah, sina malarat, sina bodo. Siga duum tinggi ngatur teh.”

Mang Uham, “Teu nyaho, da teu ngaji.”

Salhiam, “Duka teuing atuh, da kitu cek Kitab cenah.”

Berawal dari Salhiam dan Marhapi yang saling adu kemeralatan, muncul pertanyaan dari mereka soal takdir dan asal usul kekayaan: Apa sebenarnya takdir itu? Kenapa takdir tiap manusia berbeda-beda? Kenapa harus ada yang kaya, dan yang lain miskin? Bagaimana caranya agar bisa kaya? Tentu, tak terjadi obrolan ngalor-ngidul sok intelektual layaknya di kedai kopi kiwari. Alih-alih timbul diskusi dialektis, Mang Uham malah mendongengi mereka soal beragam jalan klenik untuk meraih kekayaan.

Secara bahasa, munjung berarti mendatangi seseorang yang dianggap punya derajat lebih tinggi. Namun, maknanya berubah, karena istilah munjung sering diasosiasikan sebagai kegiatan mendatangi makhluk gaib. Robert Wessing dalam jurnal Spirits of the Earth and Spirits of the Water: Chtonic Forces in the Mountains of West Java meneliti soal kaitan antara kosmologi lokal suatu masyarakat dan bagaimana mereka mempersepsikan lingkungan sekitarnya, dengan lingkup penelitian di Gunung Lalakon. Wessing mengumpulkan beragam kisah yang terdapat di sana, mungkin yang dijadikan narasumbernya adalah orang semodel Mang Uham. Menurut tesis Wessing, biasanya orang menziarahi makam leluhur untuk meminta nasihat dan perlindungan, sementara ke tempat yang dihuni siluman untuk meminta kekayaan. Membuat kesepakatan dengan siluman memerlukan beragam syarat nyeleneh, bahkan taruhan nyawa.

Dalam novel mungil ini, disebutkan beragam tempat nyata, yang dijadikan lokasi pesugihan. Ternyata Moh Ambri seorang mistikus, menganut ilmu kebatinan yang disebut Ajian Kasumedangan. Ajip Rosidi mengungkapkannya dari sisi lain kehidupan Moh Ambri yang ditulisnya di dalam Surat-surat Moh Ambri yang dimuat dalam Pancakaki: Kumpulan Esey.

Ada lima praktek pesugihan yang ditawarkan novel ini: ngipri, ngopet, nyupang atawa ngetek, muhit bagong, dan ngingu kecit. Mang Uham tidak selamanya jadi Syahrazad, meski dialah sang tukang cerita utama, tokoh lain kadang muncul untuk menceritakan kisah atau pengalaman langsungnya. Karena sedang jaga ronda, yang berada di saung harus bergiliran patroli, Salhiam dan Marhapi digantikan Arta dan Wirja. Dari kawin dengan siluman ular, menggadaikan nyawa agar cepat kaya, bertransaksi dengan siluman kera, jadi babi ngepet, sampai memelihara tuyul, beragam cerita yang disampaikan bikin geleng-geleng kepala, bagi pendengar di pos ronda, dan bagi kita yang membacanya.

Kategori
Buku

Mari Menganjingkan Paman Yusi

yusi avianto pareanom anjing

Karena terserang selesma, setelah sebelumnya menguliti seorang selir jelita yang sering membikinnya senewen, Syahrazad meminta Yusi Avianto Pareanom untuk menyamar dan menjadi teman tidur paduka yang lalim semalam saja. Suatu kehormatan bagi seorang Yusi, tentu, juga kesialan, sebab dipercaya sebagai pendongeng mumpuni, yang bila gagal menghasilkan cerita memikat bakal dipenggal kepalanya keesokan hari oleh Raja Shahryar. Dengan mengesampingkan soal apakah lisan Yusi setajam tulisannya—dan semoga birahi sang raja sedang melempem, sudah bisa dipastikan kreasi Babad Tanah Jawa yang bakal disampaikannya akan menyelamatkan kepalanya.

Ah maaf, saya hendak menggambarkan adegan ranjang Raja Shahryar dan Paman Yusi, tapi memikirkannya saja sudah membuat kadar asam lambung ini meningkat. Intinya, saya ingin menyanjung penulis ‘Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi’ tersebut. Namun sial bagi penulis, karena saya punya kegemaran untuk mencari cacat dari karya penulis-penulis yang saya anggap hebat. Bukankah tugas anak muda untuk mengkritik kaum tua—meski alasanmu enggak cemerlang-cemerlang amat, atau bahkan enggak beralasan sama sekali?

Setelah melabeli novel O-nya Eka Kurniawan sebagai ‘Indomie yang kelewat masak’, kali ini giliran Paman Yusi. Saya bisa mengungkapkan keluhan konsumen padanya langsung saat acara Bincang Buku di Kineruku tempo hari (15/05/16). Saya mengkritisi bagian akhir Dongeng Raden Mandasia dengan sebutan ‘kayak ending drama Korea’.

[tweet https://twitter.com/post_santa/status/732184099696205826 align=’center’]

Itu hanya pemikiran sepenanakan nasi, boleh dibilang asal jeplak, dan masih enggak habis pikir kenapa saya bisa memberi pujian aduhai macam begitu. Masalahnya, masih ada yang mengganjal karena belum bisa menjelaskan dengan tuntas bagaimana ‘kayak ending drama Korea’ itu. Saya hanya mengungkapkan kalau dongeng bikinan Paman Yusi tersebut terlalu happy ending, padahal itu bukan masalah besar sih. Jujur, saya pun menyukai drama Korea, dan saya menganggap serial tv paling ciamik kedua hari ini di dunia memang buatan negeri gingseng tersebut—yang pertama sinetron-sinetron produksi Inggris.

Baiklah, mungkin saya harus mengakui, ‘kayak ending drama Korea’ bukan bahasa yang tepat. Tapi saya masih berpikiran kalau pengakhiran dongeng Raden Mandasia memang masih suatu yang kurang. Saya menyoroti soal kematian Raja Watugunung (maaf, saya membocorkan cerita, tapi saya pikir jikapun kau tahu akhirnya, enggak akan mengurangi kenikmatan membaca) di tangan Pangeran Awatara. Katakanlah Awatara ini deus ex machina, tokoh yang tiba-tiba muncul dan jadi vital yang tugasnya mengakhiri cerita, kalau kata anak gaul sekarang: “baru kenal tapi udah sok asyik”. Ya, saya menganggap bagian akhir Raden Mandasia terlalu dipaksakan.

Tentu, kau boleh enggak setuju dengan saya, dan saya pun setuju kalau ini hanya cacat yang enggak terlalu kentara. Dongeng memang seperti itu, akhir cerita enggak terlalu masalah, karena yang penting adalah keseluruhan ceritanya. Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi sebenar-benarnya dongeng keparat yang dibikin juru kisah celaka bernama Paman Yusi, dan sukses mengubah umpatan anjing jadi sebuah pujian agung. Lihatlah Goodreads dan beragam resensi soal buku ini di internet, kata anjing berseliweran di sana. Anjing, anjing, anjing! mereka memuji Paman Yusi bagai sedang wirid. Nah, maksud saya mencoba mengurai kekurangan itu hanya untuk membuktikan kalau Paman Yusi adalah seorang manusia, agar kalian semua enggak terjebak dalam dosa syirik. Namun saya turut khilaf sehingga memberi 5 bintang di Goodreads, dan ikut menganjingkan buku sialan ini. Naudzubillah.

Belum pernah baca Babad Tanah Jawa atau Mahabarata atau Odysses-nya Homer atau Don Quixote-nya Cervantes atau War and Peace-nya Tolstoy? Tenang saja. Paman Yusi, yang tentunya sudah melahap banyak bacaan ini, layaknya seorang koki handal yang sudah mencicipi beragam masakan, meracik Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi agar dapat dinikmati khalayak ramai dengan suatu kepuasan yang membebaskan dahagamu akan bacaan-bacaan asyik. Bagi anak muda yang punya cita-cita pengen jadi pengarang, jadi beballah kalian, karena novel ini membuatmu jatuh mental, dan muncul keinginan untuk minum kencing sendiri atau langsung menyesap Baygon. Paman Yusi memang seorang Syahrazad yang anjing sekali!

+

Post-scriptum:

Judul aslinya ‘Babad Tanah Jawa ala Paman Yusi’, namun diubah karena tak hendak menyaingi moderator di acara bincang buku tersebut yang dipuji anaknya sendiri kebanyakan ngomong, dan tentunya bakal minder kalau catatan pendek ini harus bersaing dengan ulasan analitis super panjangnya.

Ilustrasi dicomot dan diedit asal-asalan dari foto asli di whiteboardjournal.com

Kategori
Korea Fever

Ketika Raja Syahrial Lebih Memilih Nonton ‘One of These Night’

Kalian bertanya, apa sih manfaat membaca karya fiksi? Adalah seorang putri bernama Syahrazad yang menyerahkan dirinya untuk diperistri Raja Syahrial yang lalim. Sang putri melakukan itu untuk menghindari kurban lebih banyak, sebab sang raja selalu membunuh pengantinnya selepas melewati malam pertama. Dengan memberikan cerita asyik memikat, namun menggantung tiap malamnya, membuat sang raja tak berniat untuk membunuh Syahrazad agar tetap bisa menikmati kelanjutannya cerita. Keesokan malamnya, Syahrazad bercerita lagi, dan besoknya, dan besoknya, terus-menerus sampai kita tahu beragam dongengnya itu dalam Kisah Seribu Satu Malam.

Dari dongeng tentang mendongeng tersebut, dapat dipetik sebuah pelajaran: Kisah dapat menundukan sang penguasa lalim. Oleh karena itu, dengan membaca karya fiksi, siapa tahu bakal melembutkan kebebalan kita sebagai manusia.

Kategori
Non Fakta

Duniazát, Salman Rushdie

150601_r26577-880

Pada tahun 1195, sang filsuf besar Ibnu Rushdi, menjabat sebagai qadi, atau hakim, di Sevilla dan belakangan diangkat jadi dokter pribadi khalifah Abu Yusuf Yaqub di istananya di kota Córdoba, secara resmi didiskreditkan dan dicela karena ide-ide liberalnya, yang tidak dapat diterima oleh kaum fanatik Berber yang semakin kuat menyebar seperti wabah penyakit di lingkungan Arab Spanyol, yang kemudian dikirim untuk tinggal di pengasingan domestik di desa kecil Lucena, sebuah desa tempat bermukim orang-orang Yahudi yang tidak bisa lagi mengatakan diri mereka adalah orang Yahudi karena mereka telah dipaksa masuk Islam. Ibnu Rushdi, seorang filsuf yang tidak lagi diizinkan untuk menjelaskan filsafatnya, yang semua tulisannya dilarang dan dibakar, merasakan berada di rumah sendiri justru saat bersama orang-orang Yahudi yang tidak bisa mengatakan diri mereka adalah orang Yahudi itu. Dia sebelumnya merupakan favorit dari Khalifah dalam dinasti yang berkuasa saat ini, Dinasti Almohad, tapi yang namanya favorit bakal ketinggalan jaman juga, maka Abu Yusuf Yaqub tak bisa mengelak untuk mengizinkan para fanatik untuk mendesak sang juru tafsir terbesar Aristoteles ini ke luar kota.

Kategori
Non Fakta

Syahrazad, Haruki Murakami [2/2]

141013_r25575-877

SEPULUH hari kemudian, Syahrazad bolos sekolah lagi dan berkunjung untuk kedua kalinya ke rumah si lelaki. Saat itu pukul sebelas pagi. Seperti sebelumnya, dia memungut kunci dari bawah keset kemudian membuka pintu. Sekali lagi, kamar lelaki itu masih tampak sempurna. Pertama, Syahrazad memilih pensil yang sudah digunakan dan dengan hati-hati memindahkan ke dalam kotak pensilnya. Kemudian dengan hati-hati dia berbaring di tempat tidur si lelaki, melipat tangannya di dada, dan menatap langit-langit. Ini adalah kasur tempat si lelaki tidur setiap malamnya. Pikiran ini membuat jantungnya berdebar lebih cepat, dan dia merasa sulit untuk bernapas normal. Paru-parunya tidak terisi oleh udara dan tenggorokannya kering seperti tulang, membuat setiap tarikan napas terasa menyakitkan.

Syahrazad turun dari tempat tidur, merapihkan selimut, dan duduk di lantai, seperti saat kunjungan pertamanya. Dia menatap kembali langit-langit. Aku belum siap untuk kasur si lelaki, Syahrazad membatin. Itu sesuatu yang masih sulit untuk dia tangani.

Kategori
Non Fakta

Syahrazad, Haruki Murakami [1/2]

141013_r25575-877
SETIAP kali mereka bersetubuh, dia mendongengi Habara kisah yang aneh dan mencekam sesudahnya. Seperti Ratu Syahrazad dalam “Seribu Satu Malam.” Meskipun, tentu saja, Habara tidak seperti sang raja, dia tidak berniat untuk memenggal kepala sang ratu keesokan harinya. (Yang pasti wanita itu tidak pernah tinggal dengan Habara sampai pagi.) Dia mendongengi Habara karena keinginan Syahrazad sendiri, sebab menurut dugaan Habara, wanita itu menikmati meringkuk di tempat tidur dan ngobrol dengan seorang pria saat mereka berada pada kelesuan, saat-saat intim setelah bercinta. Dan ada kemungkinan juga, karena dia ingin menghibur Habara, yang hanya bisa menghabiskan setiap harinya terkurung dalam ruangan.

Oleh karenanya, Habara menjuluki wanita itu Syahrazad. Dia tidak pernah memanggilnya langsung dengan nama itu, tapi hanya Habara pakai untuk menyebut wanita itu dalam buku harian kecilnya. “Syahrazad datang hari ini,” dia mencatatnya dengan bolpoin. Kemudian Habara akan merekam inti cerita hari itu dengan sederhana, dan dengan samar untuk membingungkan siapa saja yang mungkin bakal membaca buku hariannya.

Habara tidak tahu apakah ceritanya benar, rekaan, atau sebagian benar dan sebagian rekaan. Dia tidak punya cara untuk mengetahui. Realitas dan anggapan, observasi dan imajinasi murni tampak campur aduk bersama-sama dalam tiap narasinya. Oleh karena itu Habara menikmati kisah-kisahnya layaknya seorang bocah, tanpa harus terlalu mempertanyakan kebenarannya. Pada akhirnya tak ada beda, mau itu bohong atau benar-benar terjadi, atau tambal sulam yang rumit dari keduanya, terus kenapa?

Bagaimana pun, Syahrazad sudah memberi hadiah lewat ceritanya yang menyentuh hati. Tidak peduli apa jenis ceritanya, dia selalu membuatnya jadi istimewa. Suaranya, pengaturan temponya, alurnya, semua sempurna. Dia menarik perhatian pendengarnya, menggodanya, mendorongnya untuk merenungkan dan berspekulasi, dan kemudian, pada akhirnya, memberi pendengarnya tepat apa yang dia inginkan. Karena terpesona, Habara mampu melupakan realitas yang mengelilinginya, meski hanya untuk sesaat. Seperti papan tulis yang dilap dengan kain basah, ia terhapus dari kekhawatiran, dari beragam kenangan tak menyenangkan. Harus minta apa lagi? Pada titik dalam hidupnya ini, melupakan adalah sesuatu yang Habara inginkan lebih dari apa pun.

Syahrazad berusia tiga puluh lima, empat tahun lebih tua dari Habara, dan merupakan seorang ibu rumah tangga dengan dua anak di sekolah dasar (meskipun dia juga seorang perawat terdaftar dan sesekali dipanggil untuk suatu pekerjaan). Suaminya adalah tipikal seorang pekerja kantoran. Rumah mereka berjarak dua puluh menit berkendara dari rumah Habara. Semua informasi pribadi tadi (atau hampir semua) Syahrazad sendiri yang memberitahukannya. Habara tidak punya cara untuk memverifikasi semua itu, tapi juga ia tak punya alasan untuk meragukannya. Syahrazad tidak pernah mengungkapkan namanya. “Kau tak butuh-butuh amat buat mengetahuinya, kan?” tanya Syahrazad. Sebaliknya Syahrazad pun tak pernah memanggil Habara dengan namanya langsung, meskipun tentu saja dia sudah tahu. Syahrazad sangat merahasiakan namanya, seolah-olah itu sesuatu yang mendatangkan kesialan atau hal tak pantas kalau sampai nama aslinya bocor keluar melewati bibirnya.

Di permukaan, setidaknya, Syahrazad yang ini tak memiliki kesamaan dengan si ratu cantik dalam “Seribu Satu Malam.” Wanita ini dalam perjalanan menuju usia menengah dan sudah muncul timbunan lemak di rahang dan timbul garis keriput di sudut matanya. Gaya rambutnya, makeup-nya, dan gaya berpakaiannya memang tidak serampangan, namun tidak juga cukup bagus untuk menerima suatu pujian. Penampilannya memang cukup menarik, tapi wajahnya tidak terlalu cantik, sehingga kesan yang ditinggalkannya serasa kabur. Akibatnya, orang-orang yang berjalan di sampingnya, atau yang berbagi lift dengannya, mungkin cuma memperhatikan dirinya sekilas. Sepuluh tahun sebelumnya, ia mungkin seorang wanita muda yang ceria dan menarik, bahkan mungkin sebaliknya. Di beberapa titik, bagaimana pun, tirai telah jatuh di bagian hidupnya dan tampaknya tidak mungkin ditarik ulur kembali.

Syahrazad mengunjungi Habara dua kali seminggu. Harinya tidak tetap, tapi dia tidak pernah datang pada akhir pekan. Tidak diragukan lagi dia memakai hari itu untuk menghabiskan waktu dengan keluarganya. Dia selalu menelepon satu jam sebelum tiba. Dia membeli bahan makanan di supermarket terdekat dan mengangkutnya dalam mobil sedannya, Mazda biru kecil. Model lama, ada penyok di bumper belakang dan roda-rodanya hitam dengan lumur yang melekat. Parkir di tempat yang disediakan depan rumah, Syahrazad akan membawa barang belanjaan tadi menuju pintu depan lalu membunyikan bel. Setelah memeriksa lubang intip, Habara akan membuka kunci, melepas kaitan rantai, dan menyilahkan dia masuk. Di dapur, wanita itu akan menyortir bahan makanan dan memasukannya ke dalam lemari es. Lalu dia membuat daftar bahan-bahan untuk dibeli pada kunjungan berikutnya. Dia melakukan tugas ini dengan terampil, dengan tanpa gerakan sia-sia, dan tanpa banyak cakap.

Setelah selesai, mereka berdua akan bergerak tanpa kata ke kamar tidur, seakan mereka tergerus oleh arus yang tak terlihat. Syahrazad dengan cepat melucuti pakaiannya sendiri dan, masih membisu, bergabung dengan Habara di tempat tidur. Wanita itu nyaris tak berbicara saat mereka bercinta, melakukan setiap tindakan itu seolah-olah ia sedang menjalankan sebuah tugas. Saat sedang menstruasi, dia menggunakan tangannya untuk mencapai tujuan yang sama. Cara kerjanya yang cekatan dan agak lugas ini mengingatkan Habara bahwa wanita itu memang seorang perawat profesional berlisensi.

Setelah bersenggama, mereka berbaring di tempat tidur dan berbincang-bincang. Lebih tepatnya, Syahrazad yang berbicara sementara Habara hanya mendengarkan, menambahkan beberapa kata, dan sesekali mengajukan pertanyaan. Ketika jam menunjukan empat tiga puluh, ia akan memutus kisahnya (untuk beberapa alasan, kisahnya selalu berakhir saat akan mencapai klimaks), melompat dari tempat tidur, mengenakan kembali pakaiannya, dan bersiap-siap untuk pergi. Dia harus pulang, katanya, untuk menyiapkan makan malam.

Habara akan mengantarnya sampai pintu, mengunci, dan mengamati melalui tirai sampai mobil biru kecil yang kumal itu melaju pergi. Pukul enam tepat, Habara akan membuat makan malam sederhana dan memakannya sendiri. Dia pernah bekerja sebagai juru masak, sehingga menyiapkan makan malam bukanlah kesulitan besar. Dia minum Perrier untuk makan malamnya (dia tidak pernah menyentuh alkohol) dan dilanjut dengan secangkir kopi, yang ia teguk sambil menonton DVD atau membaca. Dia menyukai buku lama, terutama yang harus ia baca beberapa kali untuk memahaminya. Tidak ada hal lain yang harus dilakukan. Dia tidak punya seorang pun untuk diajak bicara. Tidak ada seorang pun untuk ditelepon. Tanpa adanya komputer, ia tidak punya cara untuk mengakses internet. Tidak berlanggan koran, dan ia tidak pernah menonton televisi. (Ada alasan yang baik untuk itu.) Tak ada penjelasan mengapa dia tidak boleh pergi ke luar. Kalau Syahrazad berhenti menengoknya karena ada suatu alasan misalnya, ia akan ditinggal sendirian.

Habara tidak terlalu khawatir tentang hal itu. Jika itu terjadi, ia berpikir, akan sulit, tapi pasti akan ada jalan lain. Aku tidak terdampar di pulau terpencil. Tidak, ia berpikir, akulah pulau terpencilnya. Dia selalu nyaman berada dalam kesendirian. Bagaimanapun, yang mengganggunya justru pikiran bahwa dia tidak bisa berbicara di tempat tidur dengan Syahrazad. Atau, lebih tepatnya, kehilangan lanjutan dari kisahnya.

*

AKU dulunya seekor belut lamprei dalam kehidupan sebelumnya,” kelakar Syahrazad sekali waktu, saat mereka tengah berbaring di tempat tidur bersama-sama. Sebuah celetukan yang begitu sederhana, seolah-olah dia memberitahukan bahwa letak Kutub Utara berada di sebelah utara. Habara tidak tahu seperti apa makhluk bernama lamprei itu, tidak punya gambaran sedikit pun. Jadi dia tidak bisa menanggapi.

“Apakah kau tahu bagaimana cara lamprei makan ikan?” Tanya wanita itu.

Habara tidak tahu. Bahkan, itu pertama kalinya ia mendengar bahwa lamprei makan ikan.

“Lamprei tidak memiliki rahang. Itulah yang membedakan mereka dari belut lain.”

“Hah? Belut punya rahang ya?”

“Apakah kau tidak pernah memerhatikan?” Katanya, terkejut.

“Aku sering makan belut, tapi aku tidak pernah punya kesempatan untuk melihat apakah mereka punya rahang.”

“Nah, kau harus mengeceknya sekali waktu. Datangi akuarium atau tempat seperti itu. Belut biasanya punya rahang dan gigi. Tapi lamprei hanya punya pengisap, yang mereka gunakan untuk melampirkan diri pada bebatuan di dasar sungai atau danau. Kemudian mereka hanya akan mengapung di sana, bergerak bolak-balik, seperti rumput liar.”

Habara membayangkan sekelompok lamprei bergoyang mengambang seperti rumput liar di dasar danau. Adegan tampak jauh bercerai dari kenyataan, meskipun kenyataannya, dia tahu, kadang-kadang bisa sangat nyata.

“Lamprey hidup seperti itu, bersembunyi di antara rumput liar. Berbaring menunggu. Kemudian, ketika ikan kecil melewat di atas kepalanya, mereka akan melesat ke atas dan menyedotnya dengan pengisap mereka. Di dalam pengisap mereka terdapat alat serupa lidah dengan gigi, yang memuntir perut ikan sampai terbuka lubang sehingga mereka bisa mulai makan daging ikan itu, sedikit demi sedikit.”

“Aku tidak mau jadi ikan itu,” kata Habara.

“Kalau menengok zaman Romawi kuno, belut lamprei dibiakan dalam kolam. Budak yang membangkang bakal dilempar ke sana dan belut lamprey akan memakan mereka hidup-hidup.”

Habara berpikir bahwa ia tidak akan menikmati menjadi budak Romawi.

“Pertama kali aku melihat seekor lamprei adalah saat di sekolah dasar, pada perjalanan kelas ke sebuah akuarium,” kata Syahrazad. “Saat aku membaca deskripsi tentang cara mereka hidup, aku tahu bahwa aku adalah salah satu dari mereka dalam kehidupan terdahulu. Maksudku, aku bisa benar-benar ingat—mengikat ke batu, bergoyang tak terlihat di antara rumput liar, mengawasi ikan yang berenang di atasku.”

“Apakah kau ingat saat memakan ikan-ikan itu?”

“Tidak, aku tak ingat kalau yang itu.”

“Itu melegakan,” kata Habara. “Tapi apakah hanya itu tadi yang kau ingat dari kehidupanmu saat jadi lamprei—bergoyang ke sana kemari di dasar sungai?”

“Kehidupan terdahulu tidak bisa diingat begitu saja,” katanya. “Jika kau beruntung, kau akan mendapatkan seberkas kilatan kenangan. Ini seperti mengintip sekilas melalui lubang kecil di dinding. Dapatkah kau ingat setiap kehidupan terdahulumu?”

“Tidak, tidak ingat,” kata Habara. Sejujurnya, dia tidak pernah mendapat dorongan untuk meninjau kembali kehidupan terdahulu. Dia hanya fokus pada kehidupan yang sekarang.

“Namun, rasanya cukup nyaman di dasar danau. Terbalik dengan mulutku menempel pada batu, mengamati ikan yang lewat di atas kepala. Aku juga mendapati gertakan kura-kura yang sangat besar sekali, ada juga makhluk hitam besar yang melesat cepat, seperti pesawat ruang angkasa jahat di film ‘Star Wars’. Dan burung putih besar dengan paruh panjang yang tajam; dilihat dari bawah, mereka tampak seperti awan putih yang mengambang di langit.”

“Dan kau bisa melihat semua hal-hal ini sekarang?”

“Sangat jelas,” kata Syahrazad. “Cahayanya, tarikan arusnya, semuanya. Kadang-kadang aku bahkan bisa kembali ke sana dalam pikiranku.”

“Kau bisa berpikir saat jadi lamprey?”

“Ya.”

“Apa yang lamprey pikirkan?”

“Lamprei berpikir sangat lamprei. Tentang topik lamprey dalam konteks yang sangat lamprey. Tidak ada kata-kata untuk menjelaskan pikiran-pikiran itu. Semua soal dunia air. Ini seperti ketika kita berada di dalam rahim. Kita berpikir berbagai hal di sana, tapi kita tidak bisa mengungkapkan pikiran-pikiran di sana dalam bahasa yang kita gunakan di sini. Benar, kan?”

“Tunggu sebentar! Kau ingat bagaimana rasanya saat berada di dalam rahim?”

“Tentu,” kata Syahrazad, mengangkat kepalanya untuk melihat dada Habara. “Kau tak bisa?”

Tidak, kata Habara. Dia tidak bisa.

“Kalau begitu aku akan memberitahumu kapan-kapan. Tentang kehidupan di dalam rahim.”

“Syahrazad, Lamprey, Kehidupan Terdahulu” adalah yang Habara catat dalam buku hariannya hari itu. Dia meragukan bahwa siapa pun yang membaca bisa menebak apa arti dari kata-kata itu.

*

HABARA bertemu Syahrazad untuk pertama kalinya empat bulan sebelumnya. Habara dipindahkan ke rumah ini, di kota provinsi sebelah utara Tokyo, dan Syahrazad ditugaskan sebagai “fasilitator” untuknya. Karena Habara tidak bisa pergi ke luar, tugas Syahrazad adalah untuk membeli makanan dan barang-barang lain yang dibutuhkan dan membawanya ke rumah. Dia juga menyediakan beragam buku dan majalah yang Habara inginkan untuk dibaca, dan juga CD yang ingin didengarkan. Selain itu, Syahrazad memilih bermacam-macam DVD—meskipun Habara sulit menerima film pilihannya.

Seminggu setelah Habara tiba, seolah-olah sudah terlihat jelas langkah berikutnya, Syahrazad mengantarnya ke tempat tidur. Ada kondom di meja samping tempat tidur ketika Habara tiba. Habara menduga bahwa seks adalah salah satu kegiatan yang ditugaskan kepadanya—atau mungkin “aktivitas penunjang” adalah istilah yang mereka gunakan. Apapun istilahnya, dan apa pun motivasinya, Habara tetap menjalani alur tadi dan menerima ajakannya tanpa ragu-ragu.

Seks mereka bukan semacam formalitas, tapi tidak bisa dikatakan juga bahwa mereka melakukannya sepenuh hati. Syahrazad tampak penuh waspada, tetap hati-hati agar jangan sampai mereka menjadi terlalu antusias—sama seperti instruktur mengemudi yang tidak ingin murid-muridnya terlalu antusias mengemudi saat pelatihan berlangsung. Bagaimana pun, cara bercinta mereka tidak bisa dibilang bergairah, tidak juga sepenuhnya praktis. Mungkin memang ini awalnya salah satu tugas Syahrazad (atau, setidaknya, sebagai sesuatu keharusan), tetapi pada titik tertentu ia tampak—dalam beberapa hal—telah menemukan semacam kesenangan di dalamnya. Habara bisa mengatakan ini dengan jelas lewat respon tubuh Syahrazad, suatu respon yang menyenangkan dirinya juga. Pada akhirnya, Habara bukan binatang liar dikurung dalam kandang tapi manusia yang dilengkapi dengan berbagai emosi, dan seks sebagai kebutuhan dasar tubuh haruslah terpenuhi. Belum jelas sejauh mana Syahrazad melihat hubungan seksual mereka sebagai salah satu tugasnya, dan berapa banyak pengaruh terhadap kehidupan pribadinya? Habara tidak tahu.

Ada beberapa hal lain juga. Habara sering mendapat kesulitan dalam membaca perasaan dan maksud Syahrazad. Sebagai contoh, Syahrazad sering mengenakan celana katun polos. Jenis celana yang Habara bayangkan sering dipakai oleh ibu rumah tangga di usia tiga puluhan—ini sepenuhnya dugaan, karena ia tidak memiliki pengalaman dengan ibu rumah tangga di usia itu. Dalam beberapa hari, Syahrazad muncul dengan celana sutra berenda warna-warni sebagai gantinya. Mengapa Syahrazad beralih antara dua celana itu Habara tidak mengerti.

Hal lain yang membuatnya bingung adalah fakta bahwa persetubuhan mereka dan kisah Syahrazad yang begitu memikat, sehingga sulit untuk mengatakan di mana satu berakhir dan yang lainnya mulai. Habara belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya: meskipun ia tidak mencintainya, dan seksnya begitu-begitu saja, ia terhubung erat padanya secara fisik. Itu semua agak membingungkan.

*

AKU di usia belasan ketika aku mulai membobol rumah kosong,” kata Syahrazad suatu hari saat mereka berbaring di tempat tidur.

Habara—seperti sering terjadi ketika Syahrazad bercerita—menemukan dirinya kehilangan kata-kata.

“Apakah kau pernah menyelinap masuk ke rumah seseorang?” Tanyanya.

“Aku pikir tidak pernah,” jawab Habara dengan suara kering.

“Lakukan sekali dan kau bakal kecanduan.”

“Tapi itu ilegal.”

“Coba saja. Memang berbahaya, tapi kau pasti bakal ketagihan.”

Habara menunggunya dengan tenang untuk melanjutkan.

“Hal yang paling keren tentang berada di rumah orang lain ketika tidak ada orang di sana,” Syahrazad berkata, “adalah bahwa betapa sepi tempat itu. Tak ada suara. Itu seperti tempat yang paling sepi di dunia. Itulah yang aku rasakan. Ketika aku duduk di lantai dan terus berdiam di sana, hidupku sebagai seekor lamprey datang kembali kepadaku. Aku pernah bilang bahwa aku adalah seekor lamprey di kehidupan terdahulu, kan?”

“Ya, kau pernah cerita.”

“Seperti itulah. Pengisapku terpaut pada sebuah batu di dasar air dan tubuhku mengambang bolak-balik di atas kepala, seperti rumput liar di sekitarku. Semuanya begitu tenang. Mungkin karena aku tidak punya telinga waktu itu. Pada hari-hari cerah, cahaya menghunjam jatuh dari permukaan seperti anak panah. Ikan dari beragam warna dan bentuk melayang di atas. Dan pikiranku kosong dari pelbagai pikiran. Selain pikiran lamprey, tentu saja. Memang berkabut tapi begitu murni. Itu adalah tempat yang indah.”

*

PERTAMA kali Syahrazad membobol masuk ke rumah seseorang, jelasnya, yaitu saat dia masih SMP dan naksir pada anak laki-laki di kelasnya. Meskipun anak laki-laki itu tidak bisa dikatakan tampan, dia tinggi dan rapi, seorang murid teladan yang bermain di tim sepak bola, dan Syahrazad sangat tertarik padanya. Tapi ia tampaknya menyukai gadis lain di kelasnya dan tidak memperhatikan Syahrazad. Bahkan, sangat mungkin si laki-laki tidak menyadari kalau Syahrazad itu ada. Meski begitu, Syahrazad tidak bisa menyingkirkan laki-laki itu keluar dari pikirannya. Hanya melihat laki-laki itu membuat napas Syahrazad megap-megap; kadang-kadang dia merasa seolah-olah dia akan muntah. Jika dia tidak melakukan sesuatu tentang hal itu, pikir Syahrazad, dia mungkin bakal gila. Tapi menyatakan cintanya bukan perkara mudah.

Suatu hari, Syahrazad bolos sekolah dan pergi ke rumah anak laki-laki itu. Hanya lima belas menit berjalan kaki dari tempat tinggalnya. Dia telah meneliti situasi keluarga laki-laki itu terlebih dahulu. Ibunya mengajar bahasa Jepang di sebuah sekolah di kota sebelah. Ayahnya, yang pernah bekerja di sebuah perusahaan semen, telah tewas dalam kecelakaan mobil beberapa tahun sebelumnya. Adiknya adalah seorang siswa SMP. Ini berarti rumah pasti kosong pada siang hari.

Tidak mengherankan, pintu depan terkunci. Syahrazad memeriksa di bawah keset berharap menemukan kunci. Benar saja, kuncinya ada di sana. Masyarakat perumahan yang tenang di kota-kota provinsi seperti mereka memiliki sedikit tindak kejahatan, dan kunci cadangan sering ditinggalkan di bawah keset atau pot tanaman.

Untuk amannya, Syahrazad membunyikan bel, menunggu untuk memastikan bahwa tidak ada jawaban, mengawasi jalanan kalau-kalau dia sedang diamati, membuka pintu, kemudian masuk. Dia mengunci pintu kembali dari dalam. Melepas sepatu, dia memasukannya dalam kantong plastik dan menempatkannya dalam ransel di punggungnya. Kemudian dia berjingkat menaiki tangga ke lantai dua.

Kamar tidur anak laki-laki itu ada di sana, seperti yang Syahrazad bayangkan. Tempat tidurnya itu rapi. Di rak buku ada stereo kecil, dengan koleksi beberapa CD. Di dinding, ada kalender dengan foto tim sepak bola Barcelona dan, di samping itu, ada semacam banner tim, dan tidak ada yang lain. Tidak ada poster, tidak ada foto-foto. Hanya dinding berwarna krem. Sebuah tirai putih menggantung di atas jendela. Ruangan itu rapi, segala sesuatu berada di tempatnya. Tidak ada buku berserakan, tidak ada pakaian di lantai. Ruangan memang mencerminkan kepribadian penghuninya yang teliti. Atau cerminan dari sang ibu yang terus menjaga agar rumahnya tetap sempurna. Atau keduanya. Hal ini membuat Syahrazad gugup. Sedikit saja ceroboh, pasti akan ketahuan kalau kamar si laki-laki itu jadi berantakan. Namun, pada saat yang sama, dari kebersihan dan kesederhanaan ruang, dan betapa rapihnya, membuat Syahrazad merasa bahagia. Karena mengingatkan pada cerminan si laki-laki.

Syahrazad merebahkan dirinya ke kursi meja dan duduk di sana untuk sementara waktu. Ini adalah tempat lelaki itu belajar setiap malam, pikir Syahrazad, hatinya berdebar-debar. Satu demi satu, dia mengambil alat di meja, menggulungnya antara jari-jarinya, membaui mereka, dan mendekatkan ke bibirnya. Pensilnya, guntingnya, penggarisnya, stapler-nya – benda paling biasa menjadi entah bagaimana bercahaya karena milik lelaki itu.

Dia membuka laci mejanya dan dengan hati-hati memeriksa isinya. Laci teratas dibagi menjadi beberapa kompartemen, yang masing-masing berisi sekat kecil dengan beragam barang dan souvenir yang berserakan. Laci kedua sebagian besar diisi oleh buku-buku pelajaran untuk setiap kelas yang sedang ia ambil, sedangkan yang di bagian bawah (laci paling bawah) dipenuhi dengan tumpukan kertas lama, buku-buku pelajaran terdahulu, dan soal ujian. Hampir semuanya berhubungan dengan sekolah atau soal sepakbola. Syahrazad berharap bisa menemukan sesuatu yang pribadi—mungkin buku harian, atau surat-surat—tapi di meja tidak ditemukan apapun semacam itu. Bahkan tidak ada foto. Ini membuat Syahrazad merasa aneh. Apakah laki-laki itu tidak punya kehidupan selain sekolah dan sepak bola? Atau dia sangat hati-hati sehingga menyembunyikan segala sesuatu yang bersifat pribadi, agar tidak ada seorang pun yang tahu?

Namun, hanya duduk di meja dan mengedarkan matanya ke tulisan tangan laki-laki itu membuat Syahrazad terhanyut pada kata-katanya. Untuk menenangkan diri, ia bangkit dari kursi dan duduk di lantai. Dia menatap langit-langit. Kesunyian di sekelilingnya adalah mutlak. Dengan cara ini, ia kembali ke dunia lamprey.

*

JADI itu semua yang kau lakukan,” tanya Habara, “menyusup masuk kamarnya, memeriksa barang-barangnya, dan hanya duduk di lantai?”

“Tidak,” kata Syahrazad. “Ada lagi. Aku ingin sesuatu darinya untuk dibawa pulang. Sesuatu yang paling sering ia pakai setiap hari atau yang paling dekat dengan tubuhnya. Tapi itu harus barang yang tidak terlalu penting agar ia tak terlalu peduli kalau-kalau ia akan kehilangan barang itu. Jadi aku mencuri salah satu pensilnya.”

“Hanya sebatang pensil?”

“Iya. Satu yang telah ia pakai. Tapi mencuri belum cukup. Ini bukan hanya soal pencurian. Fakta bahwa aku telah melakukan itu akan hilang. Pada akhirnya, aku adalah Sang Pencuri Cinta.”

Sang Pencuri Cinta? Kedengaran seperti judul sebuah film bisu bagi Habara.

“Jadi aku memutuskan untuk meninggalkan sesuatu di kamarnya, suatu tanda. Sebagai bukti bahwa aku sudah pernah ke sana. Sebuah deklarasi bahwa ini adalah pertukaran, bukan hanya sekadar pencurian. Tapi barang apa yang harus kutinggalkan? Tidak ada yang muncul di kepalaku. Aku mencari-cari dalam ransel dan sakuku, tapi aku tidak bisa menemukan sesuatu yang pas. Aku menyesal karena tidak berpikir untuk membawa sesuatu yang cocok. Akhirnya, aku memutuskan untuk meninggalkan pembalut di sana. Salah satu yang belum dipakai, tentu saja, dan masih dalam bungkus plastik. Menstruasiku semakin dekat, jadi aku membawa beberapa hanya untuk jaga-jaga. Aku menyembunyikannya di sudut paling belakang laci terbawah, tempat yang bakal sulit untuk ditemukan. Itu benar-benar mengubahku. Fakta bahwa pembalutku itu tersimpan di laci mejanya. Mungkin karena aku begitu dihidupkan bahwa masa menstruasiku bakal datang segera setelah itu.”

Sebuah pembalut ditukar dengan pensil, pikir Habara. Mungkin ini adalah yang harus Habara tulis dalam buku hariannya hari itu: “Pencuri Cinta, Pensil, Pembalut.” Dia sangat ingin melihat reaksi mereka saat membaca ini!

“Aku ada di dalam rumahnya hanya lima belas menit atau lebih. Aku tidak bisa tinggal lebih lama dari itu: ini adalah pengalaman pertamaku menyelinap ke sebuah rumah, dan aku takut kalau seseorang tiba-tiba muncul ketika aku masih berada di sana. Aku memeriksa jalan untuk memastikan, menyelinap keluar pintu, menguncinya, dan menyimpan kunci di bawah keset. Lalu aku pergi ke sekolah. Membawa pensil miliknya yang berharga itu.”

Syahrazad terdiam. Dari tampilannya, dia berusaha kembali ke waktu silam itu dan mereka ulang beragam hal yang terjadi berikutnya, satu per satu.

“Minggu itu adalah minggu paling bahagia dalam hidupku,” katanya setelah jeda panjang. “Aku menulis hal-hal acak di buku catatanku dengan pensil itu. Aku membauinya, menciumnya, mengusapkan ke pipiku, memutar-mutar di antara jari-jariku. Kadang-kadang aku bahkan menempatkannya dalam mulutku dan mengisapnya. Tentu saja, itu membuatku gelisah karena semakin aku sering memakainya untuk menulis, semakin pendek pensil itu jadinya, tapi aku tidak bisa menahan diri. Jika itu sudah terlalu pendek, aku pikir, aku bisa datang kembali dan mengambil yang lain. Ada sepaket besar pensil yang tidak digunakan dalam kotak pensil di atas mejanya itu. Ide yang membuatku gila—ini memberiku sensasi geli yang aneh. Tidak lagi jadi soal buatku bahwa di dunia nyata dia tidak pernah melihatku atau menunjukkan sikap bahwa ia menyadari keberadaanku. Karena aku diam-diam memiliki sesuatu darinya—bagian dari dirinya, seolah-olah begitu.”
+

Diterjemahkan dari “Scheherazade” yang dirilis di The New Yorker 13 Oktober 2014. Cerpen Haruki Murakami yang dialihbahasakan dari Jepang ke Inggris oleh Ted Goossen.