Kategori
Catutan Pinggir

Sylvia Plath Si Scorpio

plath1

Sylvia Plath adalah bukti pasti bahwa astrologi itu nyata. Bagi siapa saja yang menggumuli astrologi, sangat jelas apa zodiak Plath: Scorpio. Tentunya, dan sayangnya, Plath sangat terkait dengan kematian. Dia terkenal karena tulisannya yang gelap dan mendalam juga berkat bunuh dirinya di usia 30 tahun. Kematian telah lama merasuki Plath, yang tanpa henti mendatanginya dalam karya-karyanya. “Kami berbicara tentang kematian dengan intensitas membara, kami berdua tertarik pada hal itu seperti ngengat pada bola lampu listrik, terus mengisapnya,” kenang teman dan sesama penyair (dan sesama Scorpio) Anne Sexton. “Dia menceritakan kisah tentang bunuh diri pertamanya dengan detail yang manis dan penuh cinta, dan deskripsinya dalam The Bell Jar adalah kisah yang sama.”

Jadi sangat pas kalau Plath lahir di bawah Scorpio, zodiak yang terkait dengan kematian (dan punya kartu tarot yang sesuai). Baik dalam astrologi maupun tarot, kematian tidak inheren dengan sesuatu yang negatif; ia menawarkan kesempatan untuk regenerasi atau kelahiran kembali. Scorpio diperintah oleh Pluto, planet transformasi, alam bawah sadar, dan yang tak diketahui. Plath selalu kembali ke tema-tema ini dalam karyanya, keduanya memeriksa keberadaan harian dan mencoba menariknya kembali melalui puisinya.

Kualitas pribadi dari suatu tanda ditemukan dalam kualitas dan elemennya. Scorpio adalah tanda tetap, menyebabkan mereka yang lahir di bawahnya menjadi degil, penuh tekad, dan keras kepala. Ini tercermin dalam karier menulis Plath; dia capai dari usia muda (puisi pertamanya diterbitkan pada usia delapan tahun) dan mematok standar sangat tinggi untuk dirinya sendiri. Ketika dia menulis dalam semi-otobiografi The Bell Jar, “Hal terakhir yang aku inginkan adalah keamanan yang tak terbatas dan menjadi tempat sebuah panah ditembakkan. Aku ingin perubahan dan kegembiraan dan untuk menembak ke segala arah, seperti panah-panah berwarna dari roket pada hari kemerdekaan.”

Dari empat tanda tetap, Scorpio mewakili unsur air, yang dikaitkan dengan emosi, intuisi, dan imajinasi. Plath dikaitkan dengan penyair “confessional”, yang menyelami kehidupan batin mereka untuk menerangi tema yang lebih besar. Dia mulai mengeksplorasi gaya penulisan ini setelah menghadiri kelas dengan Robert Lowell pada tahun 1958; Lowell, bersama dengan rekan mahasiswanya Anne Sexton, mendorongnya untuk menyelidiki pengalaman emosionalnya. Pada saat inilah Plath, yang sudah menjadi profesor, mulai menganggap dirinya sebagai seorang penyair yang serius; Setahun kemudian, ia menerbitkan koleksi pertamanya, The Colossus.

Baik tanda terbit Plath yang Aquarius, dan tanda bulan Libra, adalah tanda-tanda udara – elemen yang terkait dengan kecerdasan dan komunikasi. Karena diperintah oleh Uranus, Aquarius dikaitkan dengan kejutan-kejutan dan yang tak terduga; Libra, di sisi lain, diperintah oleh Venus, planet cinta dan keindahan. Secara astrologis, posisi-posisi inilah yang memungkinkan Plath begitu fasih, inovatif, dan cerdas menghubungkan gejolak emosionalnya.

Astrologi bukanlah ilmu yang sempurna atau, seperti yang dibilang oleh beberapa orang, sama sekali bukan merupakan ilmu. Tetapi kondisi kelahiran Sylvia Plath menjanjikan individu yang intens yang sangat berhubungan dengan alam di luar pemahaman kita, yang secara pasti mendorong menuju kesuksesan dan mampu mengubah secara indah apa-apa yang dia alami.

*

Diterjemahkan dari Literary Horoscope: Sylvia Plath.

Kategori
Non Fakta

Hadiah Ulang Tahun, Sylvia Plath

sylvia plath art

Apa ini, di balik tabir ini, jelekkah, cantikkah?
Begitu berkilauan, ada buah dada, ada rusuknya?

Aku yakin dia unik, aku yakin dia yang kuingin.
Ketika aku terdiam saat kumemasak aku merasakannya menatap, aku merasakannya berpikir

‘Inikah dia yang dengannya aku sama merupa,
Inikah satu-satunya yang terpilih, yang punya biji mata hitam dan sebuah bekas luka?

Menakar tepung, mengurang kelebihan,
Melekap pada aturan, pada aturan, pada aturan.

Inikah yang menjadi ucapan selamat akan inkarnasi?
Ya Tuhan, tertawa macam apa!’

Tapi dirinya berkilauan, tak berhenti, dan kupikir dia menginginkanku.
Aku tidak keberatan jika dia tulang, atau kancing mutiara.

Aku tak mau banyak hadiah, bagaimanapun juga, tahun ini.
Lagipula aku hidup hanya karena kecelakaan.

Aku akan bunuh diri dengan senang hati waktu itu dengan cara yang memungkinkan.
Sekarang ada tabir ini, berkilauan seperti tirai,

Dari satin tembus cahaya pada kaca-kaca Januari
Putih seperti selimut bayi dan berkilau dengan napas mati. Wahai kemurnian!

Pasti ada siung di sana, sepasukan roh.
Tak bisakah kau lihat aku tak keberatan akan apapun.

Tak bisakah kau memberikannya padaku?
Jangan malu – aku tak keberatan jika tak seberapa.

Jangan lekas marah, aku siap untuk kekejaman.
Mari kita duduk di sana, saling berhadapan, mengagumi kilau itu,

Kesayuan itu, bermacam-macam ragamnya.
Mari kita makan perjamuan terakhir kita di sana, seperti piring rumah sakit.

Aku tahu mengapa kau tidak akan memberikannya padaku,
Kau takut

Dunia akan bangkit dalam sebuah jeritan, dan kepalamu mengikuti,
Bosan, tebal muka, perisai antik,

Sebuah keajaiban bagi cicitmu.
Jangan takut, tak akan begitu.

Aku hanya akan mengambilnya dan pergi dalam diam.
Kau bahkan tak akan mendengarku membukanya, tak ada kertas berderak,

Tak ada pita yang jatuh, tak ada jeritan di akhir.
Aku tak berpikir kau menghargaiku dengan kebijaksanaan ini.

Jika saja kau tahu bahwa tabir-tabir ini membunuh hari-hariku.
Bagimu itu hanya selaput transparan, udara jernih.

Tapi ya tuhan, awan itu seperti kapas.
Sepasukan mereka. Mereka adalah karbon monoksida.

Manis, manisnya aku bernafas,
Mengisi pembuluh darahku dengan yang tak terlihat, berjuta-juta

Mungkin noda-noda kecil yang mencentang tahun-tahun hidupku.
Kau cocok untuk acara ini. Oh mesin tambahan—–

Tak mungkinkah kau membiarkan sesuatu berlalu dan memilikinya secara keseluruhan?
Haruskah kau cap setiap bagian dengan merah bungur,

Haruskah kau habisi apa yang kau bisa?
Ada satu hal yang kuinginkan hari ini, dan hanya kau yang bisa memberikannya padaku.

Dia berdiri di jendelaku, setinggi langit.
Dia bernafas dari helai-helaiku, pusat mati yang dingin

Kala perpecahan hidup membeku dan menegang dalam sejarah.
Jangan sampai terima lewat surat, jari demi jari.

Biarkan tidak datang dari mulut ke mulut, aku harus berusia enam puluh
Saat seluruhnya tersampaikan, dan mati rasa untuk menghabiskannya.

Biarkan saja tabir itu, tabir itu, tabir itu.
Jika itu kematian

Aku mengagumi gravitasi mendalam, matanya yang abadi.
Aku tahu kau serius.

Akan ada suatu budi luhur saat itu, akan ada hari ulang tahun.
Dan pisau itu tak mengiris, tapi menghujam

Murni dan bersih seperti tangis bayi,
Dan semesta runtuh dari sisiku.

*

Diterjemahkan dari A Birthday Present.

Kategori
Celotehanku

Bocah Dunia Ketiga yang Menyuntuki Penulis Kulit Putih

Kurt Vonnegut on Man-Eating Lampreys - Blank on Blank - YouTube.MP4_snapshot_03.23_[2017.08.31_14.35.44]

Perempuan itu mendapat surat dari kepala redaksi Alfred Knopf, berisi pujian atas cerpennya dan berharap bakal menerbitkan novelnya suatu saat, tulisnya dalam jurnal hariaannya, yang dimampatkan dalam buku berjudul The Unabridged Journals of Sylvia Plath. Saya menutup aplikasi pembaca ebook, membuka Twitter. Linimasa ramai, mengalir tanpa jeda. Menggulirkan sampai bawah, saya menandai sebuah tautan artikel dari Jacobin, media kiri Amerika, soal krisis Katalunya dan satu dari Literary Hub tentang surat kebencian William S. Burroughs buat Truman Capote. Entah kapan saya bakal buka dan bacanya. Saya buka kembali ebook, mengkhatamkan On the Heights of Despair yang menyisakan beberapa fragmen. Sebuah karya pertama seorang pemikir asal Romania, Emil Cioran, yang dikenal karena filosofinya yang begitu ultra-pesimis dan gelap. Semuanya nonsens, tulisnya menghabisi. Saya membuka Instagram, menonton beberapa Stories. Saya kembali baca, kali ini dua puisi Allen Ginsberg dalam Reality Sandwiches. Sampai sekarang, saya belum ngeh cara baca puisi. Tapi beberapa kali saya bisa menikmati, salah satunya dari Ginsberg sang pupuhu Beat Generation ini. Saya beralih ke Homage to Catalonia. George Orwell yang sebelumnya tertembak fasis saat patroli di garis depan, masih menjalani perawatan di Barcelona. Orwell bergabung di pasukan milisi untuk melawan Franco.

Cuma ada sendok dalam gelas, seluruh Indocafe telah meluncur masuk abdomen. Desing motor yang hilir mudik di jalanan depan rumah dan ceramah dari TVOne yang disetel mamah di ruang tengah samar-samar saling beradu. Ada hal-hal penting dan enggak penting terjadi, mengapa saya membaca? Saya teringat artikel dalam The New Yorker yang berjudul “Can Reading Make You Happier?“. Pada era sekuler, membaca, terutama fiksi, adalah salah satu dari sedikit jalan yang tersisa menuju transendensi, keadaan sulit dipahami di mana jarak antara diri dan alam semesta menyusut. Membaca membuat kita kehilangan semua rasa sadar diri, tapi pada saat bersamaan membuat kita merasa semacam keunikan tersendiri. Membaca telah terbukti membuat otak kita menjadi keadaan trance yang menyenangkan, serupa dengan meditasi, dan membawa manfaat kesehatan yang sama seperti relaksasi dan ketenangan batin. Seperti yang ditulis Virginia Woolf, seorang pembaca yang paling tangguh, bahwa sebuah buku “memisahkan kita menjadi dua bagian saat kita sedang membaca,” karena “keadaan membaca terdiri dari penghapusan ego secara total,” sambil menjanjikan “persatuan abadi” dengan pikiran lain.

Sebagian mungkin benar. Namun, saya enggak terlalu percaya optimisme kacangan bahwa membaca bakal mendatangkan semacam benefit yang wah. Ya, membaca memang ada manfaatnya, sekaligus enggak ada. Tidak ada argumen, tegas Cioran. Bisakah orang yang telah mencapai batas terganggu argumen, sebab, akibat, pertimbangan moral, dan sebagainya? Tentu saja tidak. Bagi orang seperti itu hanya ada motif hidup yang tanpa motivasi. Di puncak keputusasaan, hasrat untuk tidak masuk akal adalah satu-satunya hal yang masih bisa menimbulkan cahaya atas kekacauan. Bila semua alasan saat ini – moral, estetika, religius, sosial, dan sebagainya – tidak lagi membimbing hidup seseorang, bagaimana seseorang dapat mempertahankan hidup tanpa menyerah pada ketiadaan? Hanya dengan hubungan yang tidak masuk akal, dengan cinta tanpa harapan, mencintai sesuatu yang tidak memiliki substansi tapi hanya mensimulasikan ilusi kehidupan. Alasan saya terus membaca, seperti alasan saya untuk terus hidup, yakni menjalaninya dengan tanpa alasan. Sebenarnya, karena sedang menggeluti praktek menulis, ini jadi alasan oportunis kenapa saya terus membaca – saat selesai membereskan satu buku kemudian memperbarui Goodreads, ada perasaan keahlian menulis saya, seperti dalam permainan video, ikut meningkat, dan saya tahu ini cuma ilusi. Yang pasti, sebuah buku, sebut Cioran, adalah bunuh diri yang ditunda.

Tentu saja, pemahaman saya akan terus berubah, baik karena beragam bacaan lainnya, atau karena menua dan enggak bakal ambil pusing. Yang jadi persoalan adalah bahwa bacaan-bacaan saya berasal dari para kulit putih, yang berasal dari dunia pertama. Penyebab praktisnya, karena mereka mudah didapatkan, andai saja koleksi lengkap semacam Pram atau Utuy T. Sontani bisa ditemukan dalam torrent. Tapi bukan cuma itu, mereka, para penulis kulit putih itu, yang tinggal di pusat-pusat peradaban dunia, secara aneh selalu berhasil menyuarakan apa yang saya pikirkan. Itu mungkin sebabnya mereka disebut penulis kanon. Lagipula, sebenarnya apa masalahnya seorang dari dunia ketiga membaca mereka? Soal nasionalisme, saya enggak terlalu memusingkan konsep usang ini. Teracuni Barat, tentu saja ini sangat berhubungan dengan relasi kuasa, Barat dipandang sebagai kemajuan. Sebentuk inferiority complex, lantas kenapa? Mungkin saja, saya malah sedang mengamini Seniman Gelanggang Merdeka di awal 50an yang memproklamasikan diri bahwa, “Kami ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia, dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri.” Namun, buat apa juga manifesto beginiaan. Saya terus membaca karena saya enggak tahu kenapa terus membaca. Membaca siapapun. Kebetulan, mereka yang saya baca penulis-penulis kulit putih. Oh, kenapa pula saya memusingkannya. Tampaknya saya berlaga kayak penulis kulit putih saja: merumitkan yang remeh. Snobisme, tanpa jadi polisi selera dan tetap bersikap arif, saya kira sangat boleh. Sekali lagi, sebuah buku, sebut Cioran, adalah bunuh diri yang ditunda. Dan ada banyak buku lainnya yang masih belum terbaca.

Kategori
Movie Enthusiast

12 Film tentang Penulis dan Kegamangannya

Kemanapun kamu menengok sejarah kebudayaan, sebut Umberto Eco, kamu akan menemukan daftar-daftar. Pemikir Italia ini emang sering bilang kalau daftar-daftar selalu menjadi bagian penting dari sejarah dan budaya. Tapi alasan saya bikin daftar enggak semulia itu, iseng aja sih karena enggak ada kerjaan. Ditambah, saya bukan snob apalagi kritikus film yang kredibel.

Sebelumnya saya pernah bikin 7 Film Tentang Penulis dan Keresahannya, dan sekarang saya bikin daftar yang lebih panjang. Karena yang panjang lebih panjang aja sih.

Following (1998)

Sebelum Memento, film yang menggebrakkannya, Christopher Nolan membuat debut yang mengesankan dengan film noir sederhana, pendek, tapi menawan ini. Lewat film berbiaya rendah ini, kita bisa mengetahui kalau Nolan sudah memusatkan perhatian pada tema sinematik favoritnya: obsesi. Following sendiri mengisahkan Bill yang seorang penulis muda belum jadi mencari inspirasi dengan menguntit orang-orang enggak dikenalnya di seputar London, untuk mengamati mereka. Sampai dia bertemu maling eksentrik dan malah jadi tangan kanannya. Pemuda penuh kebingungan dan penyendiri ini masuk jebakan.

The Hours (2002)

Nyonya Dalloway bilang kalau dia bakal beli sendiri bunganya. Cerita tentang bagaimana novel Mrs. Dalloway mempengaruhi tiga wanita berbeda generasi, yang kesemuanya punya keterikatan karena harus berhadapan dengan kasus bunuh diri dalam kehidupan mereka. Adaptasi dari novel karya Michael Cunningham. Virginia Woolf yang diperankan Nicole Kidman sedang dalam proses merampungkan Mrs. Dalloway. Pada 1951, Julianne Moore yang berperan sebagai seorang ibu rumah tangga yang sedang hamil, merencanakan pesta untuk suaminya, dengan enggak bisa berhenti baca novel karya Woolf tadi. Di era sekarang, Meryl Streep berperan seorang wanita modern, versi Nyonya Dalloway masa kini, yang akan mengadakan pesta perayaan untuk temannya yang seorang penulis terkenal yang sekarat karena AIDS.

Sylvia (2003)

Cerita tentang hubungan sejoli penyair Ted Hughes dan Sylvia Plath. Plot dari kisah nyata sudah sesuai, suasananya sudah lumayan, dan pemandangannya indah, tapi Sylvia Plath butuh biopic yang lebih cemerlang. Penggambaran karakternya agak melenceng. Dengan hanya sedikit menyinggung puisinya, versi Gwyneth Paltrow ini kayak gadis paling menyebalkan di kelas, orang yang selalu membaca keseluruhan puisi misterius hanya untuk membuktikan betapa cerdasnya dia. Sekali lagi, Sylvia Plath butuh biopic yang lebih baik, lebih gamang dan lebih hampa.

2046 (2003)

Dia adalah seorang penulis. Dia pikir dia menulis tentang masa depan, tapi itu justru kenangan masa lalu. Dalam novel futuristiknya, sebuah kereta misterius sesekali menuju tempat bernama 2046. Setiap orang yang pergi ke sana memiliki niat yang sama – untuk menangkap kembali kenangan yang hilang. Konon di 2046, enggak ada yang berubah. Tapi enggak ada yang tahu pasti apakah itu benar, karena enggak ada orang yang pernah pergi ke sana dan kembali – kecuali seorang. Dia seorang. Dia memilih untuk pergi. Dia ingin berubah. Film ini sendiri adalah kelanjutan dari In the Mood for Love. Bagi saya, selain fatalisme romantiknya, yang paling saya nantikan dari film-film Wong Kar Wai adalah saat Tony Leung mengesap rokoknya. Begitu sinematik dan eksistensial.

Factotum (2005)

Apa saran Anda buat penulis muda? tanya seseorang pada Charles Bukowski. Mabok, ewean dan udud sebanyak-banyaknya, jawab penulis Amerika itu enteng. Film ini sendir berpusat pada tokoh Hank Chinaski, alter-ego dari Bukowski, yang menggelandang di Los Angeles, mencoba untuk menjalani berbagai pekerjaan, dengan prinsip enggak boleh mengganggu kepentingan utamanya, yaitu menulis. Sepanjang perjalanan, dia mengatasi beragam distraksi yang ditawarkan dari kelemahan-kelemahannya: wanita, minum-minum dan berjudi.

Capote (2005)

Mengambil tugas untuk menulis sebuah artikel untuk ‘The New Yorker’, Truman Capote ditemani Harper Lee pergi ke kota kecil di Kansas. Capote mempelajari kasus pembunuhan sekeluarga di sana dan tertarik untuk menuliskannya menjadi sebuah buku. Saat proses pembuatan novel nonfiksi berjudul In Cold Blood-nya itu, Capote membentuk hubungan akrab dengan salah satu pembunuhnya yang dijatuhi hukuman mati. Kinerja sentral Philip Seymour Hoffman yang berperan sebagai Truman Capote begitu memukau dan memandu sebuah reka cerita yang terbangun dengan baik dari periode paling sensasional dan signifikan dalam kehidupan penulis ini.

Roman de Gare (2007)

Novelis sukses diinterogasi di kantor polisi tentang hilangnya sang ghost writer-nya. Seorang pembunuh berantai melarikan diri dari sebuah penjara di Paris. Di jalan tol, seorang penata rambut dicampakkan di sebuah pompa bensin oleh tunangannya saat hendak bertemu dengan keluarganya. Seorang pria misterius menawarkan tumpangan padanya dan dia mengajak si pria misterius itu untuk akting jadi tunangannya selama 24 jam agar enggak mengecewakan ibunya. Siapa pria misterius itu dan apa yang nyata dan apa yang fiksi?

Eungyo (2012)

Ada yang pengen lihat sang pengantin Goblin bugil dan beradegan ranjang di atas tumpukan buku? Film ini sendiri memang debut dari seorang Kim Goeun. Menyontek premis cerita Lolita-nya Vladimir Nabokov. Penyair terhormat berusia 70 tahun punya murid berusia 30 tahun yang telah jadi penulis terkenal. Dunia kedua penulis tadi goyah karena datangnya seorang siswi sekolah menengah yang masih berusia 17 tahun, yang membangunkan pikiran dan hasrat seksual mereka. Eungyo.

Pod mocnym aniolem (2014)

Bukowski dan Nabokov terkenal sebagai penulis yang juga alkoholik. Film Polandia ini juga menyorot penulis serupa. Sebagai pengunjung yang sering mengunjungi pusat rehab, dia bertemu dengan sesama pecandu dari semua lapisan masyarakat dan latar belakang sosial.

Fantastic Beasts and Where to Find Them (2016)

Harry Potter sudah kayak bubuk teh hijau, mau dibikin yang baru masih menjual. Ini sebuah spin-off yang melompat ke belakang untuk menjelajahi skena sihir tahun 1926 di New York. Seorang penyihir cum penulis muda British yang diperankan Eddie Redmayne tiba di kota ini sebagai bagian dari risetnya tentang binatang-binatang fantastis. Namun ia terjebak dalam konflik ketika beberapa makhluk magis dalam kopernya lepas secara tak sengaja. Film ini mengingatkan saya pada The Book of Imaginary Beings-nya Jorge Luis Borges.

Genius (2016)

Berdasarkan biografi “Max Perkins: Editor Genius”. Sebuah film cukup asyik tentang persahabatan yang kompleks dan hubungan profesional transformatif antara editor buku terkenal Maxwell Perkins dan raksasa sastra Thomas Wolfe yang berumur pendek. Perkins sendiri adalah editor yang membidani Ernest Hemingway dan F. Scott Fitzgerald.

Neruda (2016)

Seperti novel terakhir Tetralogi Buru-nya Pram, Jejak Langkah. Gael Garcia Bernal jadi seorang inspektur, seperti Pagemanann, yang bertugas memburu Pablo Neruda. Sang inspektur dan Neruda harus main kucing-kucingan. Tapi entah siapa yang jadi kucingnya. Neruda sendiri adalah seorang komunis romantis, penyair Chile berpengaruh yang memenangkan Hadiah Nobel, teman dari Pablo Picasso yang harus jadi buronan di negara sendiri karena pandangan politiknya. Film ini campuran menyenangkan dari dua genre berbeda: biopic dan noir.

Kategori
Celotehanku

Depresi Bareng Sylvia Plath, Yuk!

oldboy-2003-mkv_snapshot_01-18-42_2017-01-29_22-44-39

11 Februari 1963. Di tengah musim dingin paling dingin sepanjang seratus tahun di London, Sylvia Plath mati. Mematikan diri, tepatnya. The Bell Jar, novelnya yang rilis bulan sebelumnya, enggak terlalu dapat sambutan bagus. Di lain pihak, suaminya Ted Hughes yang seorang penyair makin terkenal di kancah dunia sastra dan berencana mengajak wanita simpanannya untuk liburan di Spanyol, sementara Sylvia harus merawat anak-anak mereka dalam flat yang begitu dingin. Sylvia ditemukan tewas setelah memasukan kepalanya ke dalam oven, dengan gas dihidupkan.

Para profesional di bidang kejiwaan masih berdebat soal diagnosis spesifik. Bipolar atau manik-depresif adalah dugaan paling banyak. Ada yang menyebut tindak bunuh dirinya lebih karena PMS yang parah. Terlepas dari label apapun, sang penyair ini sudah beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri sebelum akhirnya berhasil di usia tiga puluh tadi. Sepanjang hidupnya, ia punya perilaku sembrono dan enggak rasional dan perlu antidepresan untuk membuatnya bisa melalui hari-harinya. Sylvia berjuang keras untuk hidup. Ini mungkin pembelaan, tapi saya pikir, dia tidak mati karena dia lemah atau memiliki kegagalan moral. Dia meninggal karena sistem yang gagal ketika dia paling membutuhkannya. Dia meninggal karena dia sangat sakit dan enggak memiliki perawatan yang tepat. Bunuh diri seperti Seneca, Jack London, Ernest Hemingway, Virginia Woolf, Yukio Mishima, Yasunari Kawabata, David Foster Wallace, dan kawan penulis lain, yang sudah dan yang akan.

Sylvia Plath adalah jawaban ketika ditanya siapa penulis favorit saya. Novel satu-satunya, cerita pendeknya, puisi-puisinya, meski saya enggak paham soal puisi, apalagi jurnal hariannya begitu saya sukai. Nah, berikut beberapa kutipan yang saya terjemahkan dari The Unabridged Journals of Sylvia Plath.

1

Aku tak akan pernah bisa membaca semua buku yang kuinginkan; Aku tidak akan pernah bisa jadi orang yang kuinginkan dan menjalani kehidupan yang kuinginkan. Aku tidak akan pernah bisa melatih diri dalam semua keterampilan yang kuinginkan. Dan mengapa aku ingin? Aku ingin hidup dan merasakan semua nuansa, nada dan variasi pengalaman mental dan fisik yang mungkin dalam hidupku. Dan aku begitu terbatas.

2

Aku memiliki pilihan untuk aktif dan senang tanpa henti atau pasif dan sedih bermawas diri. Atau aku bisa jadi gila karena memantul di antara keduanya.

3

Aku terlalu menyukai orang atau tidak sama sekali. Aku harus turun lebih dalam, menjatuhkan diri ke orang tersebut, untuk benar-benar mengenal mereka.

4

Aku menginginkan hal-hal yang akan menghancurkanku pada akhirnya.

5

Kehidupan adalah beberapa kombinasi kebetulan dalam dongeng dan joie de vivre dan kejutan yang cantik secara bersamaan dengan selingan sikap mempertanyakan diri sendiri yang menyakitkan.

6

Aku tidak percaya kalau Tuhan sebagai seorang ayah yang baik di langit sana. Aku tidak percaya bahwa kelemahlembutan akan mewarisi bumi: kelemahlembutan diabaikan dan diinjak-injak. Mereka terurai di tanah berdarah karena perang, bisnis, seni, dan mereka membusuk dalam tanah hangat di bawah hujan musim semi.

7

Jika aku tidak berpikir, aku akan jauh lebih bahagia; jika aku tidak memiliki organ seks, aku tidak akan goyah di ambang kegugupan dan berurai air mata sepanjang waktu.

8

Mengapa aku terobsesi dengan ide bahwa aku dapat membenarkan diri lewat menerbitkan naskah? Apakah ini sebuah sikap melarikan diri – alasan atas kegagalan sosial – sehingga aku bisa bilang, “Tidak, saya tidak keluar ke banyak kegiatan ekstrakurikuler, tapi saya menghabiskan banyak waktu menulis.”

9

Jadi aku diarahkan pada satu atau dua pilihan. Dapatkah aku menulis? Bisakah aku menulis jika aku cukup berlatih? Berapa banyak yang harus aku korbankan untuk bisa menulis, sebelum aku mengetahui kalau aku memang bisa?

10

Hari ini akan menjadi studi mengasyikan jika aku cakap soal arus kesadaran. Pikiranku mencoba setiap trik untuk menghindari tugas membosankan.

12

Dan ada kekeliruan soal eksistensi: gagasan bahwa seseorang akan selalu bahagia selamanya dan mengiyakan sebuah situasi atau serangkaian prestasi yang didapat. Mengapa Virginia Woolf bunuh diri? Atau Sara Teasdale – atau perempuan brilian lainnya – punya penyakit neurotik? Apa tulisan mereka adalah sublimasi (oh dunia yang mengerikan) dari keinginan dasar dan mendalam?

13

Suatu hari, Tuhan tahu kapan, aku akan menghentikan kesia-siaan absurd, perilaku mengasihani diri sendiri, kemalasan, keputusasaan ini.

14

Aku ingin menulis karena aku punya dorongan untuk unggul dalam salah satu media penerjemahan dan ekspresi kehidupan. Aku tidak bisa puas dengan pekerjaan kolosal hanya untuk hidup.

15

Tak ada harapan untuk “jadi hidup” jika kau tidak menulis catatan.

16

Begitu banyak kerjaan, bacaan, pikiran, yang harus dilakukan! Seumur hidup tidak cukup panjang.

17

Yang paling ngeri adalah gagasan jadi seseorang yang tidak berguna: terdidik, menjanjikan, dan memudar saat usia pertengahan yang acuh tak acuh.

18

Aku tahu cukup banyak apa yang aku suka dan tidak suka; tapi tolong, jangan tanyai aku soal siapa aku.

19

Aku iri pada orang-orang yang berpikir lebih dalam, yang menulis lebih baik, yang lebih menarik, yang bermain ski lebih baik, yang terlihat lebih baik, yang hidup lebih baik, yang mencintai lebih baik daripada aku.

20

Aku tersenyum, kali ini, berpikir: kita semua suka berpikir kita cukup penting untuk perlu psikiater.

21

Sesuatu yang mengerikan untuk ingin hilang dan tidak ingin pergi ke mana-mana.

22

Aku mungkin tidak akan pernah bahagia, tapi malam ini aku puas.

23

Apakah siapa saja di mana saja bahagia?

 

Kategori
Non Fakta

Karang Hijau, Sylvia Plath

sylvia-plath-the-green-rock

Bus kuning itu berderak dan terpental-pental di jalanan berbatu, dan koper jatuh menghantam kaki David.

‘Kau yakin kau tau tempatnya?’ ia bertanya kepada Susan dengan gelisah.

‘Tentu,’ jawab Susan, lalu, mengabaikan sikap dingin superior pada adik kecilnya, dia berteriak girang, ‘Aku bisa mencium bau laut. Lihat, di antara rumah-rumah itu!’ Dia menunjuk melewati jendela kotor yang terpercik lumpur, dan mata David mengikutinya.

Tentu saja! Terlihat semburat biru di antara rumah petak kota yang berhimpitan. Bangunan-bangunan kumal dengan tampak depan yang serupa seperti dekor di panggung pentas, tapi di belakang itu ada samudera berbinar dalam cahaya matahari Juni yang hangat, dan sekilas sangat menjanjikan. Bagi David dan Susan seakan menjelajah kembali ke masa kanak-kanak mereka. Ini bakal menjadi kunjungan pertama mereka ke kampung halaman sejak mereka pindah lima tahun yang lalu.

David mengeruntukan hidungnya yang terbakar matahari dengan begitu semangat. Bersama harum asin laut yang segar, beragam memori datang menyesak kembali.

David tertawa. ‘Masih ingat saat-saat kita menggali lubang menuju Cina?’

Mata Susan berkabut. Ingat? Tentu saja ia ingat.

*

Ada halaman belakang berumput yang penuh dengan hamparan bunga yang mereka biasa gunakan bermain bersama. Dan saat itu pagi yang panjang yang mereka habiskan, menggali di sudut taman dengan sekop dan sodokan mungil. Susan mengingat-ingat rasa lembap tanah di tangannya, mengering lalu jadi lengket.

Beberapa orang dewasa melintas dan bertanya, ‘Mau gali sampai ke mana? Cina?’ kemudian tertawa lalu pergi.

‘Kita bisa saja jika kita menggalinya dengan sungguh-sungguh, kau tahu,’ David mengamati dengan bijak.

‘Tidak, tidak kecuali kita menggali terus dan terus untuk selamanya,’ timpal Susan.

‘Mari kita lihat sampai sejauh mana kita dapat sampai sebelum makan siang,’

‘Bakal sampai ke balik dunia,’ Susan merenung keras. Kemungkinan untuk menggali sampai daratan lain membangkitkan rasa penasarannya.

‘Bakal ada sesuatu kalau kita terus menggali,’ ucap David dengan percaya diri. Ia melemparkan sesekop tanah. ‘Lihat, tanahnya berubah jadi kuning.’

Setelah Susan menyekop banyak sekali pasir, ia berseru, ‘Tunggu sebentar. Aku mengenai sesuatu!’ Ia menggaruk tanah dengan jari-jarinya dan mendapati sebuah ubin enam sisi berwana putih.

‘Coba kulihat,’ pinta David. ‘Kenapa, ini seperti yang ada di lantai kamar mandi kita. Ini bagian dari sebuah rumah tua.’

‘Jika kita menggali lebih dalam kita bisa saja menemukan gudang bawah tanah.’

Tapi sebentar kemudian sekop mulai bergerak lebih pelan. Susan berjongkok dengan tumitnya, dan matanya menjadi termenung. David mendengarkan tiap katanya seakan Susan adalah seorang cenayang.

‘Mungkin…’ Susan memulai perlahan, ‘mungkin jika kita bisa menemukan sebuah lubang kelinci putih kita tidak perlu menggali lagi, dan kita bisa jatuh… dan jatuh… dan jatuh.’

David mengerti. Ini seperti Alice di Negeri Dongeng, hanya Susan yang jadi Alice dan dirinya… ya, dia tetap jadi seorang David.

Susan menghela nafas tiba-tiba. ‘Kita enggak bisa terus-terusan menggali,’ ucapnya, berdiri dan menyeka tangannya yang penuh tanah ke baju kuningnya.

‘Aku pikir juga begitu,’ David pasrah menyetujui, mimpinya remuk. Dia bangkit. ‘Ayo pergi ke depan,’ ucapnya.

Dua bocah itu berkejaran melalui sisi halaman menuju halaman depan. Jalanan begitu kuyu dengan kesunyian siang musim panas yang memabukkan, dan hawa panas menguap dari jalan aspal.

‘Aku bertaruh aku bisa berjalan hanya di garis-garis,’ Susan menantang adiknya. Dia mulai melangkah hati-hati, hanya menginjak rekatan di trotoar.

‘Aku juga bisa.’ David mencoba meniru kakaknya, tapi kakinya tak cukup panjang untuk menjangkau kotak semen datar yang besar, jadi dia menyerah dan memusatkan perhatian ke hal lain. Serangga kecil terbang menuju sebuah batu.

‘Aku menginjak seekor semut,’ David berteriak penuh kebanggaan, menggerakan kakinya untuk menunjukkan serangga mungil yang tergencet itu.

Susan enggan memujinya. ‘Itu jahat,’ dia menegur. ‘Gimana kalau kau yang diinjak? Semut kecil yang malang,’ dia bergumam di tempat jalannya.

David tak berkata apapun.

‘Semut kecil yang malang,’ Susan merintih sedih.

Bibir bawah David mulai gemetaran. ‘Maaf,’ dia berseru menyesal. ‘Aku enggak akan melakukan ini lagi.’

Hati Susan melembut. ‘Ga apa-apa,’ dia berucap murah hati. Lalu wajah Susan berubah enteng. ‘Aku tahu! Ayo pergi ke pantai!’

Ada sebuah teluk kecil yang lengang di ujung jalan, terlalu kecil untuk tempat berenang. Ada di sana untuk anak-anak bermain saat musim panas. Susan berlari bersama David berdekatan di belakang. Kaki telanjang mereka berdebuk di jalan, dan kaki mereka yang panjang dan kurus itu bergerak tangkas. Jalanan menukik langsung ke pantai, dan pasir menimbun permukaan beraspal.

Begitu menyenangkan untuk membenamkan jari kakimu ke dalam pasir hangat menuju lapisan dingin di bawahnya, pikir Susan. Sesuatu dalam dirinya melambung saat memandang langit tak berawan dan ombak yang menyapu tepi pantai dengan buih-buih menjumbai. Daratan di belakangnya seperti paparan langkan menyempit sehingga dia bisa melemparkan dirinya ke dalam angkasa biru yang luas.

Anak-anak membisu saat turun ke pantai, mencari kerang di garis ombak tinggi. Bunyi air yang mendorong lalu menarik kembali menjejali telinga mereka.

‘Aww!’ David menjerit tiba-tiba.

‘Ada masalah?’ tanya Susan.

‘Sesuatu menggigitku,’ Dia mengangkat satu kaki dengan dua tangan untuk memeriksa jarinya. Rumput laut kering masih menggantung di kulitnya.

‘Gara-gara begituan!  Hanya rumput laut!’ Susan membersihkannya dengan rasa hina.

‘Ini pasti oleh kepiting,’ David membantah, berharap kalau memang begitu.

Mengangkat segelas air, Susan mengerlingkan matanya menembusnya menuju matahari. ‘Lihat,’ dia memegangnya ke arah David. ‘Semuanya tampak lebih bagus kalau biru.’

‘Aku harap aku bisa tinggal dalam sebuah botol gelas seperti wanita tua dalam dongeng,’ ucap David. ‘Kita bisa punya tangga di sisinya.’

Susan terkekeh-kekeh.

Matahari menyinari dua sosok yang berkeliaran di sisi air laut itu. Susan dengan berpikir keras mengunyah ujung kuncir; dia menatap jauh melintas pantai berbatu ke arah gelombang bermula, terlihat aliran lengket tanah berlumpur. Dekat bibir pantai, ombak yang menghantam menghasilkan buih-buih di bebatuan datar yang besar. Saat dia memandangi air surut yang berisik itu, ide mengasyikan mendatanginya.

‘Ayo pergi ke karang hijau,’ usulnya.

David mengikutinya, pergelangan kaki melalui gelombang tumpah yang dingin. Lumpur lembut dan sejuk antara jari-jari kakinya, tapi dia berjalan dengan hati-hati, berharap tidak ada cangkang kerang bergerigi di bawah permukaan. Susan naik ke atas batu licin dan berdiri penuh kemenangan, bajunya terkepak ke kaki telanjangnya, rambutnya tertiup angin yang mendesir ke arah Teluk.

‘Ayo!’ teriak Susan di atas deru air pasang. David meraihnya dengan kuat, mengulurkan tangannya dan berdiri di sampingnya. Mereka berdiri di sana, bergerak, seperti dua boneka kaku, sampai batu mengering dibawa arus surut.

Itu sebuah batu besar, tertanam ke dalam pasir sehingga hanya bagian atas yang tampak. Di atas batu hitam yang licin, terdapat permukaan hijau yang halus, seperti cangkang pada jenis kura-kura raksasa. Ada tempat datar di atas di mana orang bisa duduk, dan bidang di satu sisi membentuk deretan undakan dangkal. Memang, batu itu seperti binatang jinak, terlelap dalam tidur.

Anak-anak suka memanjat ke permukaan tidak teratur tapi cukup aman itu dan bermain segala macam permainan magis. Kadang-kadang batu akan menjadi perahu layar di laut berbadai, dan kadang-kadang menjadi sebuah gunung yang tinggi. Tapi hari itu sebuah kastil.

‘Kau gali parit supaya enggak ada yang bisa menyeberang,’ perintah Susan, ‘dan aku akan menyapu kamar.’ Dia mulai menyikat semua pasir sementara David menggali parit kecil di sekitar batu itu sendiri.

Ada potongan-potongan kaca berwarna untuk mengatur jendela, dan semua bunga-bunga periwinkle yang menempel ke sisi lembab batu harus beralih dari habitat nyamannya ke kerikil tajam.

David dan Susan adalah raksasa di dunia penuh keajaiban. Mereka meletakkan kerang rusak sebagai piring dan membayangkan diri mereka sebagai bagian dari miniatur alam semesta. Adukan kepiting atau cacing laut berwarna lupur tidak bisa melarikan diri dari mata cepat mereka. Tapi mereka berdua melihat lebih dari ini, mereka melihat menara emas kastil di atas kepala mereka.

Matahari tenggelam ketika mereka berhenti bermain. Susan telah beristirahat di batu sementara David sedang mencari kaca-kaca yang lebih berwarna. Kaki Susan dingin dan sakit, tapi ia meringkuknya di bawah rok pakaiannya, yang merebah seperti belaian lembut pada kulitnya. Saat ia menatap laut, dia bertanya-tanya apakah dia bisa menjelaskan kepada siapa pun bagaimana perasaannya tentang laut. Itu adalah bagian dari dirinya, dan dia ingin menjangkau, keluar, sampai ia mencakup cakrawala dalam lingkaran lengannya.

Ketika David kembali, Susan bangkit untuk menemuinya. Dia merasakan lumpur, basah dan lembap di bawah kakinya, dan kesadaran tidak menyenangkan karena terlambat pulang. Menyikat rambutnya yang lengket berlapis garam dengan satu tangan, dia berkata, ‘Ayo, Davy. Waktunya makan malam.’

‘Ah, tunggu sebentar lagi,’ adiknya memohon. Namun David tahu itu tidak ada gunanya, sehingga ia mengikuti kakaknya kembali ke pantai, sedikit menjingjit karena kakinya yang lembut harus melewati batu-batu tajam.

*

Dalam benaknya Susan melihat dua sosok kecil bergerak keluar dari pandangan sampai di pantai. David menyikut, dan gambaran memudar. Perlahan-lahan ia kembali ke masa kini.

‘Kita hampir sampai,’ kata Susan, kegembiraan meningkat seperti kesemutan yang tercipta berkat gelembung minuman jahe yang melalui pembuluh darahnya. David duduk di sampingnya, tegak dan bangga, sangat bangga dengan sepatu cokelat barunya yang habis dipoles. Matanya berbinar.

‘Mari kita pergi ke pantai ketika kita sampai di sana,’ ia menyarankan. ‘Mungkin kita bisa melihat rumah lama kita.’

Susan merasakan sengatan kesedihan. Ini akan sulit untuk melewati lapangan berumput namun tidak bisa berhenti untuk bermain seperti sebelumnya. Hal itu akan sulit untuk mengingat tempat-tempat di mana mereka memiliki waktu yang menyenangkan … dan cuma melewatinya. Tapi ada pantai. Tidak ada yang bisa mengubah itu. Di sana mereka bisa berpura-pura mereka masih kecil lagi, dan tidak ada yang akan melihat.

Susan tersenyum pada bayangannya yang terpantul di jendela dan menyesuaikan topi jerami bertepi lebarnya. Sejak ia memotong rambutnya pendek, ia tampak lebih dewasa. Dia bahkan sudah melewati empat belas tahun … sebentar lagi, hampir.

David menunjuk. ‘Ada atap sekolah tua kita! Lihat, antara pohon-pohon.’ Susan melihat. Rumah-rumah menjadi lebih akrab, dan dia merasakan kehangatan di hatinya. Jalanan terlewati lebih cepat sekarang, dan anak-anak itu bisa mengingat kejadian-kejadian lampau.

‘Itu tempat karnaval.’

‘Kita sering menuju pantai lewat jalan itu.’

‘Ingat pohon oak yang kita sering panjat!’

Seolah-olah mereka terbawa gelombang besar dari kenangan, bergegas cepat mundur ke arah masa lalu, ke arah masa bocah mereka. Mereka tidak akan terkejut menemukan diri mereka menyusut kembali ke David dan Susan yang dulu.

‘Cepat!’ desis Susan. ‘Tekan belnya!’

David mematuhi, dan kemudian bus berhenti. Koper di tangan, Susan bersemangat menuruni tangga, melupakan pendiriannya untuk menjadi gadis sopan dan anggun. David mengikutinya keluar menuju trotoar. Mereka berdiri sejenak, menghirup udara asin. Keakraban jalan menarik secara menyakitkan hati mereka. Mereka mulai berjalan. Laut berbinar kebiruan jauh di depan mereka.

‘Itu rumahnya Johnsons dan Anderson,’ Susan memberitahukan.

‘Aku melihat Bibi Jane,’ David berseru.

Saat mereka menaiki tangga kayu berderit ke teras teduh, Susan mengingat sore hujan tak terhitung jumlahnya yang ia dan David telah bermain di teras depan yang sama ini sementara ibu mengunjungi bibi mereka.

Pintu terbuka tiba-tiba, dan wajah berseri-seri dari Bibi Jane menyambut mereka. Setelah salam awal berakhir dan koper mereka telah terselip di ruang tamu lawas, yang berbau lavender, Bibi Jane memberi usul, ‘Mengapa kalian tidak berjalan-jalan sebentar sebelum makan malam. Kalian mungkin ingin mengunjungi rumah lama kalian. Tampak begitu bagus dengan cat baru.’

Menyambut sarannya, Susan dan David berlari penuh semangat ke ujung jalan, berbelok, dan di sana, berkilauan dengan lapisan cat, berdiri sebuah rumah. Susan berhenti tiba-tiba, dan David memperketat cengkeramannya pada tangan Susan. Sebuah dendam sakit hati memenuhi mereka berdua. Tirai baru di jendela, cat baru, mobil mengkilap yang aneh di depan–semua ini adalah sebuah penghinaan.

‘Aku lebih menyukainya tanpa cat baru,’ kata Susan pahit.

‘Aku juga,’ David mengiyakan.

Dengan muram mereka berjalan ke arah pantai. Ada, setidaknya, hal yang akan tetap sama-laut, pasir, dan karang hijau.

‘Ayo!’ seru Susan.

Dia berlari bersama David ke pantai. Rambutnya tertiup kembali oleh angin, dan garam terasa di bibirnya. Gelombang muncul, dan bau rumput laut itu kuat di bawah sinar matahari. Kedua anak berhenti sejenak, bingung.

Pantai tampak lebih kecil daripada yang mereka ingat, dan ada sesuatu yang aneh dan asing tersembunyi di bawah pasir halus dan permukaan air yang tenang. Ada kekosongan yang naik menghinggapi mereka dan keheningan aneh di atas lipatan gelombang. Seperti memasuki ruang akrab setelah lama absen dan menemukannya kosong, sepi.

Susan melakukan upaya terakhir. ‘Mari kita pergi ke karang hijau,’ katanya kepada David. Ini harus berhasil, pikirnya. Sihir harusnya masih tetap ada pada karang hijau.

Bebatuan itu, juga, tampaknya telah berkurang dalam ukuran. Tergeletak di antara kerikil berat, lembam; hanya karang hijau … tidak lebih. Di mana istana, perahu layar, gunung-gunung yang pernah ada? Hanya sebuah batu, kaku dan kosong.

Kedua anak berdiri di sana untuk sementara, membisu, tak mengerti. Akhirnya Susan lalu mengatakan dengan lesu, ‘Ayo, David, mari kita kembali.’ Mereka berbalik dengan sedih dan berjalan susah payah perlahan sampai di pantai, keluar dari pandangan.

Air pasang datang secara bertahap, merayap di atas batu hitam berlendir; angin mereda dan berbisik iseng melalui pasir. Ke dalam, ke dalam gulungan ombak sampai mereka tertutup dan berakhir di atas puncak karang hijau. Hanya garis tipis busa tetap di atas tempat di mana batu berbaring, diam, gelap, terlelap di bawah gelombang yang mendekat.

 

Diterjemahkan dari The Green Rock dalam Johny Panic and the Bible of Dreams: and Other Prose Writings karya Sylvia Plath. Lebih dikenal karena puisinya, termasuk dalam gerakan sastra Confessionalism yang mendefinisikan ulang puisi Amerika pada 1950-an dan 1960-an, Sylvia Plath juga seorang penulis prosa yang cukup cemerlang.