Kategori
Celotehanku

Beragam Kepala dalam Talking Heads

77311-591

Tina Weymouth baru-baru ini memiliki dua mimpi buruk tentang Talking Heads. Pertama dia bermimpi bahwa dia ketinggalan semua latihan untuk sebuah tur karena David Byrne mengiklankannya lewat koran. Ketika dia akhirnya tiba, ruangan itu penuh dengan musisi, setengah dari mereka adalah pemula di tiap instrumen. Byrne bertanya ke mana saja dia. “David,” katanya, “kamu kan tahu aku enggak baca koran.”

Kemudian dia bermimpi band naik panggung dan tak memainkan satu nada pun. Hanya berdiri. Setelah tiga lagu seperti ini, seluruh penonton bangkit dan pergi. Tina berkata, “Ya Tuhan, ini mengerikan! Pertunjukan yang sangat buruk! Kami bahkan enggak main satu nada pun!” Tetapi keesokan harinya semua surat kabar mengaguminya; para kritikus mengatakan pertunjukan itu brilian, sebuah penampilan jenius, secara konsep begitu sempurna.

“Bahkan dalam mimpiku,” jelas bassis yang bermuka bidadari namun masam itu, “David enggak bisa berbuat salah.”

*

“Aku belum pernah naik limusin ke CBGB sebelumnya,” kata suami dan kekasih Tina sejak kuliah, Chris Frantz. Sang drummer melihat ke sebuah jendela gelap di sebuah bangunan kumuh di Bowery New York. “Hei, ada apartemen lama Debbie Harry.”

Tapi Talking Heads hanya diam dalam sebagian besar perjalanan berhimpitan ini untuk pemotretan di bar yang telah membantu meluncurkan mereka sebelas tahun yang lalu. Ini Desember, dan mereka belum bekerja bersama sejak Maret, ketika mereka membuat beberapa video untuk album True Stories. Berarti, tidak sejak dirilisnya film sang vokalis David Byrne True Stories dan blitz media yang terjadi kemudian, yang ditutup oleh sebuah liputan Time yang menyebut Byrne sebagai “Rock’s Renaissance Man.”

Artikel itu mengutip komposer Philip Glass yang mengatakan, “Talking Heads akan berlanjut … [tetapi] bagi sebagian besar kita, adalah perkembangan David yang akan menjadi yang paling menarik.” Ada tanda-tanda yang diiyakan Byrne: grup ini belum rekaman bersama dalam satu setengah tahun juga belum bermain live dalam tiga tahun. Meskipun yang lain gatal ingin tur, Byrne tak berkomentar. Dan kelompok itu tampak tegang.

Sebelumnya, bersantai di sekitar studio fotografer, Frantz sedang membuka-buka koran. Dia berhenti di ulasan konser: “Hei, David, kau dipanggil seorang master di sini. Dengar. ‘Peter Gabriel dapat dibandingkan dengan hanya beberapa master lainnya – David Bowie dan David Byrne.'” Byrne tersenyum malu-malu dan melihat ke lantai. Weymouth berkata, dengan bercanda, “David Bowie, David Byrne, David Berkowitz.”

*

Ketegangan bukanlah hal baru bagi Talking Heads. Salahkan pada temperamen seniman – pemain keyboard-gitar Jerry Harrison dari jurusan seni di Harvard, yang lain dari Rhode Island School of Design (RISD) – tetapi sejak awal telah terjadi pertengkaran yang konstan di band ini: tentang input musik, tentang kredit, tentang perhatian pers, tentang sampul album, tentang kekuatan. Dan terakhir kali mereka memainkan konser, Byrne sangat jengkel oleh ketidaksempurnaan penampilan sehingga dia berjalan meninggalkan panggung tiga kali di tengah-tengah lagu.

Bahkan pose untuk pemotretan kali ini menjadi masalah. David ingin berbaju gemerlap; Jerry menyarankan David memainkan peran ayah, sementara tiga lainnya memakai popok. Tina, penggemar Bon Jovi, ingin berdandan sebagai band heavy-metal. Chris, seperti biasa, hanya ingin agar “menyenangkan – kami tidak ingin terlihat seperti Talking Heads yang lama.”

Jadi mereka akhirnya kembali ke Lower East Side di CBGB (ide Jerry), mengenakan sepatu bot kulit dan jaket yang mereka kenakan di sekolah seni (ide Tina), rambut Tina terlihat seperti di masa lalu. “Kami mulai dari awal lagi,” kata Tina, setengah ngajak gelut, setengah melankolis. Tidak ada yang menjawab; kata-katanya tampak terlalu akut. Di saat ini tidak ada jalan kembali; masa depan band sama tidak pastinya dengan setiap saat dalam sejarahnya. Selama hiatus, film Byrne dan proyek-proyek luar dengan jenis-jenis dunia seni seperti Karl Wilson, Twyla Tharp, dan Philip Glass membuatnya menjadi media kesayangan, jenis bintang rock yang dapat diterima The New York Times dan Esquire.

Bukan hanya publik yang mulai menganggap band sebagai “David Byrne dan Talking Heads.” “Kami terus memohon belas kasihan,” kata Tina, “tetapi David sendiri enggak bisa menyetop. Kenapa ini terjadi? Karena David menerima pujian atas semua yang pernah terjadi di Talking Heads. Dan kami membiarkan itu terjadi.”

Photo of Talking Heads
Talking Heads di Hollywood, 1977

Pada awalnya, ketegangan dimanfaatkan dengan baik. Di bar yang kumuh dan penuh coretan inilah mereka keluar dengan kemeja dan celana tenis dan memainkan musik berirama mereka yang unik bagi kerumunan punk, vokal Byrne yang mengepal-ngepal dan suara band yang terpreteli bekerja melawan struktur lagu-lagu pop. Mereka bermain tiga hari di akhir pekan sebulan sekali, menukar set dengan serangkaian bakat New Wave yang akan segera beken seperti Patti Smith, Ramones, Blondie dan Television. Tetapi tidak seperti band-band itu, Talking Heads tidak memudar, tak tersangkut narkoba, terjebak dalam status kultus, mati gaya atau meledak dalam bentrokan ego. Mereka tetap bersatu ketika popularitas mereka perlahan-lahan tumbuh dan ketika suara mereka semakin dalam dari psiko-postfolk ke poliritme Afrika ke melodi sederhana baru-baru ini.

*

Mereka selamat dari ancaman Brian Eno, yang datang untuk memproduksi More Songs About Buildings and Food (1978). Pada saat Remain in Light (1980), ia dan Byrne telah merebut kepemimpinan band; yang lain, hanya jadi rekaman riff untuk loop tape, merasa terancam dan tidak berguna. Jadi setelah itu Frantz dan dua saudara perempuan Tina, menyebut diri mereka Tom Tom Club, membuat rekaman rap kulit putih konyol – yang segera terjual lebih banyak dari semua album Talking Heads sebelumnya. Harrison membuat album solo yang kurang dapat diakses, The Red and the Black.

Ketika kelompok itu berkumpul kembali, itu dengan sebuah keyakinan dan kemandirian baru. Pada tahun 1983, Talking Heads melakukan tur sebagai band yang terdiri dari sembilan anggota, yang terintegrasi secara seksual dan rasial; mereka menemukan cara untuk memadukan funk yang selalu mereka kagumi dengan keterasingan memabukkan yang telah menjadi citra mereka. Tetapi lebih dari sebelumnya, Byrne, dengan tarian-tariannya yang aneh dan primitif – segala kegugupan dan getar-getar, gerak-gerik dan aksi mematuk-matuk menuju katarsis – menjadi titik fokus kelompok itu. Dan selama minggu-minggu sebelum pembuatan film dokumenter konser mereka Stop Making Sense, Byrne menjadi begitu terobsesi dengan kesempurnaan sehingga ia akan mendorong anggota band ke posisi panggung yang tepat dan, alih-alih menyanyikan lirik, dia malah bersenandung, “Seseorang lupa mematikan lampu … ”

Proyek band berikutnya adalah film Byrne, True Stories, sebuah fabel berlatar di Texas, berdasarkan kliping tabloid kacangan. Tetapi ketika naskah Byrne perlahan mulai terbentuk, ketiga Talking Heads lainnya menyadari bahwa tidak seperti membuat musik, tanggung jawab tidak dapat dibagi secara merata.

“Sangat jelas bahwa akan ada banyak sakit kepala dan banyak darah, keringat dan air mata,” kata Chris. “Pada akhirnya, film itu akan jadi film David. Kami tidak ingin menjalaninya. Maksudku, siapakah kami, pelahap hukuman? Keset depan pintu?” Dia tertawa.

Selama pembuatan film, tampak logis bahwa mereka bercabang lagi. Pasangan Frantz pindah ke Connecticut dan mengerjakan album Tom Tom Club ketiga; Harrison pulang ke Milwaukee, memproduksi album untuk Violent Femmes dan memulai album solo kedua. Tetapi tidak seperti Byrne, yang lain harus berpikir dua kali tentang di mana mereka mengikuti muse mereka. Seperti yang dikatakan Harrison, “Ketika David bikin rekaman di luar band, jadi semacam keharusan buat ia menjadikannya nonkomersial. Itu hanya akan menambah kemistikannya. Dia sudah diberi bagian terbesar dari kredit untuk Talking Heads menjadi komersial. Sedangkan Chris, Tina atau aku, kami punya agenda yang berbeda. Agar kami terus bikin rekaman, mereka harus punya kehidupan komersial.”

*

1080full-talking-heads

Mereka terputus pada musim semi 1985, ketika Byrne meminta mereka untuk masuk dan merekam lagu-lagu baru yang tidak biasa dan melodis yang ditulisnya, yang setengahnya akan menjadi trek instrumental untuk lagu-lagu yang akan dinyanyikan oleh aktor di filmnya, sisanya akan dirilis sebagai album studio bernama Little Creatures.

“Idenya tidak turun dengan baik,” aku Byrne, “tetapi kemudian cukup banyak orang menyukai lagu-lagunya.” Yang lain merasa Talking Heads harus menjadi prioritas pertama. “Lagu-lagu itu enggak benar-benar album Talking Heads,” kata Tina. “Lagu-lagunya menyenangkan untuk dimainkan, diselesaikan dengan sangat tulus, tapi itu cuma “Mari kita mainkan apa saja agar kita bisa jadi band lagi.'”

Sementara mereka berlatih, Byrne mengatakan kepada mereka bahwa The New York Times sedang meliput band. “Itu sebuah masalah yang sangat besar,” kenang Chris. “Kami menghabiskan waktu berjam-jam dengan orang ini dan pergi ke sesi foto ini, tak tahu kalau sehari sebelumnya, David punya sesi terpisah dengan fotografer yang sama. Kami diberi tahu kapan artikel itu keluar, jadi kami pergi ke kios untuk membelinya, dan inilah artikel tentang David dan betapa jeniusnya dia [“Thinking Man’s Rock Star,” 5 Mei 1985]. Maksudku, ada foto kami dan beberapa kutipan, tapi tetap saja itu culas! Aku praktis memukulnya, aku sangat marah!”

Byrne mengingatnya secara berbeda – dia mengatakan anggota band yang lain tahu bahwa liputan itu akan fokus padanya. Tetap saja, kata Chris, “perasaan kami terluka, dan ketika mulai bekerja dengan orang-orang, dan Anda melukai perasaan mereka, Anda dalam masalah.”

Kembali ke masa-masa sebelumnya, di hari-hari yang lebih tenang, band memandang Lou Reed sebagai semacam santo pelindung. Dia memberikan saran seperti “Cari berbagai dinamika dalam lagu-lagu kalian” atau “David harus pakai lengan panjang – tangannya terlalu berbulu.” Dan peringatan yang lebih mendalam, yang masih diingat band sampai saat ini. Chris: “Lou Reed pernah memberi tahu kami, ‘Ya ampun, aku harus pergi tur lagi. Orang-orang ingin melihat sosok.'” Tina: “Dia memberi tahu kami, ‘Sebuah band seperti sebuah kepalan dengan banyak jari. Sedangkan perusahaan rekaman suka memijat ego satu jari dan memutusnya.’”

*

“Waaah!” Marshall Egan Frantz yang berusia tiga bulan mulai meratap. Ibunya, dengan mata biru si pembunuh, mengangkat dan memeluk lima belas pound miliknya itu. “Bayi yang malang!” katanya. “Ini adalah waktu rewel-rewelnya,” akhirnya dia mengasuhnya sepanjang wawancara; dia mengenakan atasan gemerlap dan rok kulit yang dibuatnya pada tahun 1974. Marshall Egan memiliki saudara lelaki, Robin, 4 tahun. Tina, 36, berencana memiliki lebih banyak dan membawa mereka semua ke jalan: “Bepergian adalah pendidikan terbaik yang ada,” dia berkata. Dia sudah tahu. Sebagai seorang anak tentara, dia sering berpindah-pindah – Eropa, Amerika Serikat bagian timur dan barat. Kami berbicara di loteng Jerry Harrison sementara Chris menjelajahi SoHo.

Martina Weymouth adalah Talking Heads yang paling blak-blakan: ketika saya memperkenalkan diri, dia tersenyum dengan malu-malu dan bertanya, “Mana beliungmu?” Untuk bergabung dengan band, ia mempelajari instrumennya dari awal. Ketika band itu masih trio, dia menimbulkan ketegangan karena menerima liputan pers sebanyak Byrne, karena menjadi seorang wanita di sebuah band rock & roll yang tak bernyanyi atau berputar-putar.

Beberapa bulan setelah album pertama band keluar, pada musim panas 1977, Chris dan Tina menikah. Mereka mempersingkat bulan madu mereka – berkeliling di sekitar motel seharga lima belas dolar di pantai Georgia – untuk pertunjukan besar pertama Talking Heads, dibuka oleh Bryan Ferry di Bottom Line, di New York. Sebelum itu, band telah main di berbagai tempat yang memberi bayaran, termasuk Beefsteak Charlie’s, dan David, Chris dan Tina berbagi apartemen di Chrystie Street, di ujung jalan dari CBGB.

Saat ini Tina dan Chris tinggal di sebuah pertanian dengan sebuah kolam yang oleh bocah-bocah setempat disebut Danau Talking Heads. Mereka juga memiliki apartemen kecil di Bahama: mereka pergi ke sana untuk berlayar. Tapi yang mereka inginkan hanyalah tur.

“Aku telah bikin tujuh album dan dua bayi dalam lima tahun terakhir,” kata Tina, “tetapi itu enggak sama dengan tur. Ada sesuatu yang sangat positif tentang hal itu …. Bukan karena kamu bakal disanjung, tetapi kamu merasa bersemangat dan sepenuhnya utuh.”

*

Tina mungkin mulai menulis untuk Talking Heads. Dua album terakhir ini, katanya, “Aku menjadi sangat tegang tentang ide-ideku. Aku enggak mau menawarkan apa pun yang akan menjadi kredit orang lain. Dan Chris dan aku juga sedang menyelesaikan berbagai persoalan, yang muncul karena keteledoran, hanya dengan bersenang-senang.”

Dengan menjadi “orang-orang yang ramah”?

“Ya,” katanya lembut, dengan sedikit tepi. “Dengan menjadi orang yang ramah. Dengan menjadi yang adil. Dengan menjadi yang setia. Dengan menjadi orang yang tak ingin menghancurkan hati siapa pun. Dan karena kami berdua, kami tak ingin membanjiri satu orang pun. Kami tidak berpikir itu adil. Tapi itu sudah berakhir sekarang. Ini salahku, sama seperti orang lain, karena aku membiarkan semua ini terjadi. Sudah diatasi, tetapi kerusakan telah terjadi. Seperti halnya cinta pertama, ketika terjadi perkelahian pertama, ada rasa pengkhianatan. Satu-satunya tempat untuk pergi dari sana adalah menjadi jauh lebih dewasa. Tapi kepolosan telah hilang.

“Aku tidak membenci siapa pun di band kami. Saat aku di panggung, aku jatuh cinta dengan semua orang di panggung itu. Apa pun yang terjadi di luarnya terasa kecil jika dibandingkan.”

Namun, itu berarti Tina belum jatuh cinta dengan semua orang dalam tiga tahun ini.

*

“Hei, Jerry!” Seseorang berteriak di jalan Soho. Jerry Harrison melihat dari balik pundaknya untuk kemudian dijepret. Sang fotografer meneriakkan sesuatu; Jerry, 37, tersenyum palsu dan mengangguk, lalu berbalik. “Apa itu?” dia bertanya-tanya. “Kupikir faktor pengakuan hanya masalah bagi David dan Tina.”

Apartemen baru Harrison, seperti hidupnya, semuanya hancur berantakan. Kedua orang tuanya meninggal baru-baru ini, dan dia pulang ke Milwaukee untuk sementara waktu dan terus mengerjakan album solo keduanya, Man with a Gun. Dia mulai berkencan dengan asisten studio Carol Baxter, yang kembali bersamanya ke New York; mereka mengharapkan bayi di bulan Maret. Dia mengenakan celana jins dan kaos, dan rambutnya, seperti biasa, adalah kekacauan yang tak disisir.

Tesis sarjana Harrison di Harvard terdiri dari lukisan dan patung, serta esai setebal enam puluh halaman, tentang pembuka kaleng. Dia merasa beruntung bisa meloloskan diri dengan dorongan kreatif apa pun. Setelah beberapa tahun bermain dengan Jonathan Richman di Modern Lovers, Harrison mengajar seni di Harvard dan kemudian mendaftar di sekolah arsitektur. Tetapi “aku tidak benar-benar ingin menjadi seorang arsitek. Aku enggak suka politiknya. Kau bikin bangunan dengan uang orang lain, dan siapa yang punya uang? Orang kaya dan pemerintah. Dengan rekaman, enggak ada yang asli. Enggak ada satu lukisan pun yang bisa dibeli seseorang dengan uang lebih banyak; semuanya dicetak. Siapa pun dapat membelinya. Mereka bahkan dapat mendengarnya gratis – di radio. ”

Tetapi mereka tidak dapat mendengarnya jika band terlalu sibuk berjuang untuk merekam. “Orang-orang menganggap band sebagai milik David,” kata Harrison. “Itu enggak benar, tapi dia melakukan banyak hal, dan hal terburuk yang dapat kamu lakukan adalah duduk dan menggerutu tentang hal itu. Di semua band vokalis mendapat perhatian besar. Lihatlah Stones. Itu menjadi Mick Jagger dan Stones, tak peduli seberapa banyak yang tahu bahwa ada juga Keith Richards. . . .

“Tetap saja, ada sesuatu yang tak dilarang untuk publisitas film ini. Jika ada sesuatu yang selalu dibicarakan oleh Talking Heads, itu adalah pengekangan. Kami selalu berdiri untuk menjadi diri kami sendiri. Manusia. Banyak band yang berurusan dengan fantasi. Enggak ada yang salah dengan itu, tapi itu bukan niat kami. Kau bisa mulai memercayai fantasi tentang dirimu, dan sebagai seorang seniman, ia bisa cepat aus.

“David punya begitu banyak tekanan sekarang sehingga dia mulai mengambil gambar yang lebih besar dari kehidupan. Jika orang-orang memiliki pandangan yang melambung tentang dirimu, mereka mendengarkan kreasimu berikutnya dan bertanya, “Apakah ini hebat?” Itu kadang-kadang terjadi.”

*

Chris membelikan Wah-Wah untuk Tina di Manny’s, sebuah toko musik di Manhattan, yang dindingnya dipenuhi dengan foto-foto pelanggan terkenal. “Ketika kami mulai ngeband,” kata Chris, “aku dulu datang ke sini dan menatap foto-foto – ‘Wow, bung, Byrds!'”

Dia menemukan satu set drum mini dan memesan satu sebagai hadiah natal buat Robin. Robin ingin yang warna merah berkilau tetapi harus puas dengan merah marun. Robin suka bermain, tetapi dia tak bisa menjangkau drum Papa.

Bagaimana dengan bass?

“Enggak,” kata Chris, menjelaskan, “dia mengatakan kalau itu buat anak perempuan.”

Chris, 35 tahun, berbagi tugas orang tua dengan Tina, tetapi dia mengatakan ketika dia membawa Robin ke taman bermain, “semua wanita menatapku aneh – ‘Apakah pria ini tak punya pekerjaan?'” Ketika Tina hamil, Chris makin gemuk daripada Tina, dan Chris sampai puasa beberapa hari. Chris ada di studio mengerjakan album Tom Tom Club berikutnya, lengkap dengan gitar flamenco dan riff heavy-metal. Dia bahkan berencana menyanyikan beberapa lagu.

“Aku pikir akan sangat lucu jika aku bernyanyi di album Talking Heads. Tapi tahukah kamu? Mungkin akan terjadi suatu hari jika kita terus melakukannya. Ringo belakangan bernyanyi, lebih dari yang diingat orang. Aku baru saja mendengar ‘With a Little Help from My Friends.’ Itu lagu yang bagus.”

Seperti Tina, Chris adalah anak dari tentara yang sering pindah-pindah – Kentucky, Virginia, sekolah menengah di Pittsburgh. Seperti Tina, lukisan Chris di RISD adalah abstrak besar. “Aku sudah bilang pada Tina bahwa kita harus mulai melukis lagi. Terutama karena kita berada di zaman ketika kita masih dianggap sebagai pelukis muda!” Chris suka menunjukkan betapa berpengaruh musik Talking Heads, tetapi mengatakan, “Mari kita hadapi itu, mereka tak menyebutnya sebagai ‘bermain’ musik ketika tidak ada apa-apa.” Dia tertawa dengan gelisah. “Aku agak hidup,” akunya, “untuk kejutan-kejutan menyenangkan.” Seperti keberhasilan Tom Tom Club. Itu memberi Chris dan Tina “pengaruh lebih sedikit, tak hanya dengan Talking Heads tetapi dalam citra publik kita atau harga diri kita sendiri.”

Chris, yang menyaingi Byrne dalam Talking Heads Paling Gelisah, sangat ingin melakukan tur. “Aku suka bermain. Aku benar-benar ingin berada di luar sana dan boogie untuk sementara waktu. Seseorang mengatakan tur terakhir itu seperti melewati batu ginjal setiap malam; David akan mengamuk dan mulai melempar orang. Itu sebabnya aku mendorongnya untuk melakukan sesuatu yang sederhana. Ini akan sama menyenangkannya bagi semua orang, dan lebih menyenangkan bagi kami.

“Jalanan adalah tempat reputasi David dibangun, dan. . . Begini: banyak penonton David Byrne enggak berhubungan dengan filmnya seperti yang mereka lakukan ketika dia melakukan ‘da-da-da-da’ [Chris memukul dahinya empat kali]. Aku pernah melihat orang-orang keluar. Ketika kamu berada di sampul Time, dan ada banyak promosi, kamu perlahan tapi pasti mulai kehilangan pengikut akar rumputmu. Jika seorang politisi ada di sampul Time, kau berhenti percaya padanya. Dan album ini terjual kurang dari Little Creatures. Aku benci untuk menebak-nebak, tapi …

“David sangat ambisius. Dan itu keren. Aku enggak ingin terlalu emosional tentang hal itu. Aku dibuat merasa seperti orang yang kurang berprestasi, padahal enggak.

“Satu hal yang sangat disayangkan tentang David melakukan untuk dirinya sendiri – yang adalah gayanya sekarang – adalah bahwa satu-satunya alasan kami melakukan tur adalah karena dia perlu, demi citranya, kau tahu?”

*

“Lihatlah pria dengan sapu itu!” kata David Byrne, tertawa terbahak-bahak. Dia berada di gedung yang gelap di Alice Tully Hall di Lincoln Center, mengawasi gladi resik perdana The Knee Plays di New York, kolaborasi teatrikalnya dengan Robert Wilson. Di atas panggung, di belakang sepuluh penari mempraktekkan pentas mereka, seorang penjaga menyapu dengan keapikan tak sadar seperti mendekati seni pertunjukan. Byrne, 34 tahun, mengamati ini dan tergelitik tetapi tidak merendahkan. Ini mirip dengan sudut pandang True Stories, sebuah film yang sangat ringkas sehingga mencerminkan apa pun yang diangga penonton.

Hal yang sama dapat dikatakan untuk Byrne sendiri. Bukannya dia seekor bunglon, tapi campuran ego dan rasa malu, semacam roman datar Warholian, memungkinkan orang untuk membengkokkannya agar sesuai dengan prasangka mereka. Lahir di Skotlandia, dibesarkan di Baltimore, Byrne tampaknya bersedia menjawab pertanyaan tetapi tidak mau menggali lebih dalam. Banyak yang menyebut ini tidak emosional; entah kenapa lebih seperti. . .ditekan.

Tina terkejut ketika pertama kali melihatnya mengamuk. Dia pulang ke apartemen Chrystie Street dan menemukan sebuah radio jam hancur berkeping-keping. Tina bertanya kepadanya, “Kamu yang melakukan ini?” Byrne bergumam, “Yup.” Tina bertanya, “Marah akan sesuatu?” Dan dia berkata, “Yup. Lagipula itu sudah rusak.” David marah, memutuskan untuk memecahkan sesuatu tetapi memutuskan untuk memecahkan sesuatu yang sudah rusak. “Aku berharap semua orang bisa mengamuk seperti itu,” kata Tina.

Di RISD, yang ia hentikan di tahun pertamanya, ia menampilkan pertunjukan satu orang, terkadang memainkan ukulele. Dia akan menyanyikan lagu-lagu berdasarkan jawaban terhadap kuesioner yang dia bagikan kepada audiensnya atau membaca transkrip permainan-pertunjukan sebagai teater.

“Dia benar-benar persona, tetapi dia adalah persona yang sangat menarik,” kata Chris. “Butuh waktu lama bagi David untuk keluar dari cangkangnya.”

Hari ini, di gladi resik, Byrne mengenakan suspender emas-dan-hitam, kerah putih dan kardigan abu-abu. Dia menonton band kekuning-kuningan dengan susunan musik jenaka sementara instrumen di atas panggung berkisar dari yang memukau hingga yang pretensius: boneka, tarian Kabuki, alegori tentang imperialisme dan keranjang anyaman untuk menari.

Setelah memberikan catatan kepada para pemain dan kru, Byrne dan pacarnya selama lima tahun, perancang busana Adelle Lutz (ia melengkapi peragaan busana surealis di True Stories,) berlari melintasi jalan menuju kedai kopi. Saat dia berbicara, mata Byrne terus melesat di sekitar ruangan.

Byrne telah membaca beberapa artikel tentang dirinya. “Ini jadi sedikit membosankan membaca bahwa kau dari luar angkasa atau bagaimana kau sering kejang dan harus disingkirkan. Tapi aku tak bisa mengeluh. Maksudku, setidaknya mereka masih menulis.”

Ulasan Time lebih mempengaruhi yang lain ketimbang mempengaruhi Byrne. “Perlahan, aku telah melihat efeknya. Orang lain berpikir kau bisa menjadi pelopor, berjalan ke restoran dan menjadi bos bagi orang-orang di sekitar. Mereka terus melihatmu untuk melihat apakah kamu sudah berubah. Tak ada yang bisa dilihat.

“Itu selalu menggangguku bahwa diriku harus melekat padanya – kau tahu, menempatkan wajah band di sampul rekaman. Itu yang umumnya dilakukan, tetapi itu membingungkan musik dengan fitur wajah seseorang.”

Namun, Byrne menganggap publisitas bermanfaat. “Kau ingin menjangkau orang yang belum kau jangkau sebelumnya. Ini adalah dorongan yang sama yang membuat kami bermain di depan audiensi. Seaneh apapun kami, tak pernah diarahkan untuk menjauhkan orang. Aku benar-benar nyaman dengan cara berpikir seperti itu sejak awal. Beberapa orang yang mendekati musik pop sebagai seni menemukan ini sebagai ide yang aneh.” Bukannya dia berpikir itu bukan seni. “Ya, tapi aku pikir orang-orang harus menyukai seni – menikmati karena terkejut, bingung. Kau tak ingin mereka pergi begitu saja.”

Byrne tidak terlempar oleh saran Philip Glass bahwa karyanya di luar band lebih menarik. “Aku tahu apa maksudnya, tapi. . . bagiku, lagu-lagu pop adalah musik rakyat dari negara-negara teknologi tinggi. Sejauh ini, aku merasa jika aku ingin merekam lagu, Talking Heads adalah saranaku untuk itu.”

Bagaimana dengan persepsi bahwa itu adalah David Byrne dan Talking Heads, yang bertentangan dengan, katakanlah, The Beatles? “The Beatles adalah mitos yang bagus yang ingin dipercayai semua orang di tahun 60-an, bahwa ada lembaga egaliter yang indah, demokratis, dan egaliter. Itu tak benar waktu itu, dan itu tak benar sekarang…. Karena ini adalah kolaborasi, tak peduli bagaimana kau mengatasinya, semua orang merasa tersangkut dalam beberapa cara. Kau hanya berharap ketidaksetaraan bisa disingkirkan.”

Byrne berhenti ketika ditanya apakah band itu hampir bubar. “Tak juga. Terkadang kami memiliki ketidaksetujuan atau pertengkaran, biasanya tentang hal-hal yang benar-benar tak penting. Ketika kami berkumpul dan membuat musik, kami rukun, itulah yang kami bicarakan.”

Jerry dan Tina ingin band untuk melakukan tur terlebih dahulu. Chris ingin merekam album sebagai pendukungnya. Tetapi David berpikir untuk membuat film lain; dia rupanya menderita demam Sang Manusia Renaissance, yang mungkin sulit untuk diguncang di era ketika Emilio Estevez dianggap sebagai auteur. Dia tidak akan tur kecuali berbeda dan lebih baik dari Stop Making Sense. Ini membuat Harrison frustrasi, yang merasa bahwa “musik kami berdiri sendiri. Orang-orang menikmati rekaman kami dan ingin melihat kami bermain.”

“Kami akan kehilangan seluruh audiens kami jika kami tidak melakukan tur,” kata Tina. Jika tidak ada yang lain, Tom Tom Club akan melakukan tur dengan Harrison, tetapi itu sepertinya pilihan terakhir. Ketika ketiganya bertanya pada Byrne tentang tur, ia menyarankan agar aktor datang di atas panggung di antara lagu-lagu. “Bahkan aktor yang aku ajak bicara tidak mau melakukan itu,” kata Tina. “Itu akan . . . menarik, tapi ini mendekati mimpi burukku.”

Byrne harus mengatasi rasa takut tertentu di atas panggung. “Ini menakutkan,” kata Tina, “karena dia masih bocah. Aku punya anak berusia empat tahun di rumah. Tak banyak perbedaan. Kau enggak dapat memintanya untuk melakukannya karena kewajiban atau tugas atau cinta atau uang, tetapi karena itu adalah keinginannya sendiri. Seiring waktu, itu berhenti menjadi keinginannya sendiri untuk David.

“Jerry berpikir karena David bosan, tapi aku pikir itu karena dia ingin menjadi begitu sempurna. Terkadang orang bosan – bagaimana aku harus mengatakannya? Mencari yang tinggi-tinggi dan kemudian tak menemukannya. Apakah itu dalam obat, atau apakah itu dalam kesempurnaan karya atau seni . . . Kedengarannya bodoh untuk mengatakan itu tumbuh dewasa, tapi memang begitu. Sebuah band tumbuh.”

Band berdesakan di ruang yang dulunya dapur di CBGB; yang tersisa hanyalah kap gas buang dan lampu pijar. Setiap inci ditutupi dengan grafiti. Mereka merebahkan diri di sofa vinil; Byrne berdiri di atas mereka dan mulai menguraikan grafiti dari langit-langit: “The Senile Delinquents! Ha-ha-ha.” Yang lain mulai cair, dan mereka tertawa bersama.

Byrne tampaknya paling nyaman berpose; dia telah melakukan lebih banyak dan tahu bagaimana menggunakan penampilannya yang aneh dan culun. Pada satu titik, dia berbalik ke samping dan menatap kamera. Chris menatapnya dan berkata, “Hei, persis seperti potret Washington yang melintasi Delaware.” Semua orang tertawa.

Beberapa hari setelah syuting, Tina menelepon untuk mengatakan dia dan Chris telah mengantri sesi rekaman: Tom Tom Club akan memainkan “Femme Fatale” dari Velvet Underground dan Lou sebagai penyanyi pendukung dan bermain gitar, dan Jerry dan David juga akan bermain. “Suasana hati kami begitu hangat,” jelasnya, “saling bertemu lagi setelah tercerai berai.” Talking Heads satu unit lagi. Dan meskipun Byrne tampak seperti jendral yang menjulang tinggi di atas pasukannya, menyeberangi Delaware dengan perahu dayung yang goyang, tampaknya dia tidak lupa siapa yang membawanya ke sungai dan mengarahkannya melalui perairan yang bergelombang dan berombak.

*

Diterjemahkan dari artikel Rolling Stone berjudul Are Four (Talking) Heads Better Than One? pada 15 Januari 1987 oleh David Handelman. Tentang ketegangan yang terjadi dalam Talking Heads, karena ego seniman tiap kepala dan yang paling jadi biang keladi adalah sang vokalis David Byrne. Band ini akhirnya resmi bubar pada 1991.

Kategori
Catutan Pinggir

Esai Salman Rushdie: Musik Rock

bob

Saya baru saja menanyakan Vaclav Havel soal kekagumannya pada ikon rock Amerika Lou Reed. Dia menjawab bahwa sangat mustahil untuk melebih-lebihkan pentingnya musik rock dalam perlawanan rakyat Ceko pada masa-masa gelap antara Prague Spring sampai tumbangnya Komunisme. Saya hanya menikmati gambaran kejiwaan gerakan bawah tanah rakyat Ceko yang mendengar Velvet Underground memainkan “Waiting for the Man,” “I’ll Be Your Mirror,” atau “All Tomorrow’s Parties” lalu Havel menambahkan, dengan wajah sungguh-sungguh, “Apa kau sempat berpikir kenapa kami menamakan ini Revolusi Velvet?”

Kategori
Non Fakta

Yesterday, Haruki Murakami [2/2]

haruki murakami yesterday

Sabtu itu, Erika dan aku bertemu di Shibuya dan nonton film Woody Allen yang berlatar di New York. Entah bagaimana aku punya perasaan kalau dia sangat menyukai film Woody Allen ini. Dan aku cukup yakin kalau Kitaru belum pernah mengajaknya nonton film seperti ini. Untungnya, ini adalah film yang bagus, dan kami berdua merasa senang ketika kami meninggalkan bioskop.

Kami jalan-jalan sebentar saat senja itu, sebelum akhirnya pergi ke restoran Italia kecil di Sakuragaoka untuk memesan pizza dan Chianti. Ini hanya restoran sederhana dengan harganya yang bersahabat. Pencahayaan yang redup, lilin di meja. (Sebagian besar restoran Italia pada waktu itu pasti terdapat lilin di atas meja dengan taplaknya yang kotak-kotak.) Kami mengobrol banyak hal, seperti halnya percakapan antara dua mahasiswa perguruan tinggi saat kencan pertama (dengan asumsi kalau ini benar-benar sebuah kencan). Membicarakan film yang kami lihat barusan, kehidupan perkuliahan kami, hobi kami. Kami menikmati obrolan tersebut lebih dari yang aku harapkan, dan dia bahkan tertawa keras beberapa kali. Aku tidak ingin terdengar seperti aku jago membual, tapi tampaknya aku memiliki suatu bakat untuk bisa membuat seorang perempuan tertawa.

“Aku mendengar dari Aki-kun kalau kau putus dengan pacar semasa SMA-mu belum lama ini ya?” Erika bertanya.

“Ya,” jawabku. “Kami sudah berpacaran selama hampir tiga tahun, tetapi tidak berhasil. Sayangnya.”

“Kata Aki-kun hal ini karena soal hubungan seks. Bahwa dia tidak… bagaimana aku harus mengatakannya ya? Memuaskanmu?”

“Itu cuma salah satu alasannya. Tapi tidak semua. Jika aku benar-benar mencintainya, aku pikir aku bisa bersabar. Jika aku yakin bahwa aku mencintainya, maksudku. Tapi aku tidak.”

Erika mengangguk.

“Bahkan jika kami terus melanjutkan hubungan tadi, semuanya akan berakhir sama,” kataku. “Aku pikir itu sudah semestinya begitu.”

“Apakah ini sulit bagimu?” Tanyanya.

“Sulit apanya?”

“Ketika harus sendirian lagi setelah lama berpacaran.”

“Kadang-kadang,” kataku jujur.

“Tapi mungkin dengan melalui keadaan sulit, mengalami kesepian diperlukan ketika kau masih muda? Bagian dari proses pendewasaan mungkin ya?”

“Kau pikir begitu?”

“Dengan adanya musim dingin yang keras membuat sebuah pohon tumbuh lebih kuat, cincin tahunan pohon di dalamnya dipaksa mengeras.”

Aku mencoba membayangkan cincin tahunan pohon dalam diriku. Tapi satu-satunya hal yang aku bisa bayangkan adalah sepotong kue Baumkuchen, jenis kue yang isinya seperti cincin tahunan pohon di dalamnya.

“Aku setuju bahwa manusia perlu menghadapi periode itu dalam hidupnya,” kataku. “Lebih baik lagi jika kita tahu kalau periode seperti ini bakal ada akhirnya.”

Dia tersenyum. “Jangan khawatir. Aku yakin kau akan bertemu penggantinya segera.”

“Aku harap begitu,” kataku.

Erika memikirkan sesuatu sementara aku menyantap pizza tadi.

“Tanimura-kun, aku ingin meminta saran darimu tentang sesuatu. Apakah boleh?”

“Tentu,” kataku. Ini adalah masalah lainku ketika berurusan dengan orang lain: orang yang baru saja aku temui ingin meminta saranku tentang sesuatu yang sangat penting. Dan aku cukup yakin bahwa apa yang akan Erika sampaikan padaku merupakan sesuatu yang sangat tidak menyenangkan.

“Aku bingung,” ia memulai.

Matanya melirik bolak-balik, seperti kucing yang mencari sesuatu.

“Aku yakin kau sudah tahu tentang ini, ya ini soal Aki-kun yang sudah dua tahun masih saja kursus persiapan untuk ujian masuk, ia tidak belajar serius. Dia juga sering bolos ikut ujian percobaan. Jadi aku yakin dia akan gagal lagi tahun depan. Jika ia memilih universitas yang lebih rendah, ia bisa saja mendapatkannya di suatu tempat, tapi dia memantapkan hatinya cuma ke Waseda. Dia tidak mendengarkanku, atau orang tuanya. Ini menjadi seperti obsesi baginya. . . . Tetapi jika ia sungguh-sungguh ingin masuk ke sana harusnya kan ia belajar keras agar ia bisa lulus ujian Waseda, namun dia tidak.”

“Mengapa dia tidak belajar sungguh-sungguh?”

“Dia benar-benar percaya bahwa dia akan lulus ujian masuk jika keberuntungan datang ke sisinya,” kata Erika. “Belajar adalah buang-buang waktu.” Dia menghela napas dan melanjutkan, “Di sekolah dasar dia selalu juara kelas. Tapi begitu dia masuk SMP nilai-nilainya mulai meluncur. Dia anak yang sedikit aneh-kepribadiannya tidak cocok untuk cara belajar yang normal. Dia lebih suka bolos kemudian melakukan hal-hal gila sendiri. Aku sebaliknya. Aku memang tidak terlalu pandai, tapi aku selalu bekerja keras dan selalu menuntaskan setiap pekerjaan.”

Aku tidak pernah belajar sungguh-sungguh namun bisa masuk ke perguruan tinggi pada percobaan pertama. Mungkin keberuntungan telah di sisiku.

“Aku sangat menyukai Aki-kun,” lanjutnya. “Dia punya banyak kelebihan. Tapi kadang-kadang sulit bagiku untuk memahami cara berpikirnya yang ekstrim. Misalnya tentang dialek Kansai itu. Mengapa seseorang yang dilahirkan dan dibesarkan di Tokyo harus susah-susah belajar dialek Kansai kemudian menggunakannya sepanjang waktu? Aku tidak mengerti, aku benar-benar tidak habis pikir. Pada awalnya aku pikir itu cuma lelucon, tapi tidak. Dia benar-benar serius.”

“Aku pikir dia ingin memiliki suatu kepribadian yang berbeda, menjadi seseorang yang berbeda dari dirinya yang sekarang,” kataku.

“Itu sebabnya ia berbicara dengan dialek Kansai?”

“Aku setuju denganmu bahwa ini memang cara yang aneh.”

Erika mengambil sepotong pizza dan menggigit secuil seukuran perangko besar. Dia mengunyahnya sambil berpikir sebelum kemudian dia berbicara.

“Tanimura-kun, aku bertanya ini karena aku tidak memiliki orang lain untuk bertanya. Kamu tidak keberatan kan?”

“Tentu saja tidak,” kataku. Apa lagi yang bisa kukatakan?

“Secara umum,” katanya, “ketika seorang pria dan seorang wanita berpacaran untuk waktu yang lama dan telah mengenal satu sama lain dengan sangat baik, pria pasti punya ketertarikan fisik dengan gadis itu, kan?”

“Umumnya memang begitu, aku setuju.”

“Jika mereka berciuman, dia pasti ingin sesuatu yang lebih jauh kan?”

“Biasanya memang begitu.”

“Kamu merasa seperti itu juga kan?”

“Tentu saja,” kataku.

“Tapi Aki-kun tidak. Ketika kita berduaan, dia tidak ingin sesuatu yang lebih jauh.”

Butuh beberapa saat bagiku untuk memilih kata yang tepat. “Itu hal pribadi,” kataku akhirnya. “Orang-orang memiliki cara yang berbeda untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Kitaru sangat menyukaimu-ini suatu anugerah-tapi hubungan kalian begitu dekat dan nyaman sehingga dia mungkin tidak berani untuk melanjutkan ke tingkat berikutnya, berbeda dengan kebanyakan orang memang.”

“Kamu pikir begitu?”

Aku menggeleng. “Sejujurnya, aku tidak benar-benar memahaminya. Aku sendiri tidak pernah mengalaminya. Aku hanya mengatakan bahwa itu bisa menjadi salah satu kemungkinan.”

“Kadang-kadang rasanya seperti ia tidak memiliki hasrat seksual padaku.”

“Aku yakin dia punya. Tapi mungkin sesuatu yang memalukan baginya untuk mengakuinya.”

“Tapi kami sudah berusia dua puluh, sudah sama-sama dewasa. Cukup dewasa untuk tidak merasa malu.”

“Beberapa orang mungkin sedikit lebih cepat dewasa ketimbang yang lain,” kataku.

Erika memikirkan hal ini. Dia tampaknya tipe orang yang selalu menangani beragam hal di kepala.

“Aku pikir Kitaru sedang mencari sesuatu,” aku melanjutkan. “Dengan caranya sendiri, dengan kecepatannya sendiri. Hanya saja aku berpikir dia tidak memahami betul apa yang ingin dicapainya itu. Itu sebabnya dia tidak dapat membuat kemajuan apapun. Jika kamu tidak tahu apa yang kamu cari, tentunya tidak mudah untuk mencarinya.”

Erika mendongakan kepalanya dan menatapku tepat di mata. Nyala lilin tercermin dalam matanya yang gelap, kecil, setitik cahaya yang berkilau. Itu begitu indah membuatku susah untuk berpaling darinya.

“Tentu saja, kamu mengenalnya jauh lebih baik daripada aku,” aku menegaskan.

Dia mendesah lagi.

“Sebenarnya, aku sedang suka pria lain selain Aki-kun,” katanya. “Seorang pria di klub tenisku yang setahun di atasku.”

Sekarang giliranku yang terdiam.

“Aku benar-benar mencintai Aki-kun, dan aku tidak berpikir aku bisa merasakan hal yang sama kalau dengan orang lain. Setiap kali aku jauh darinya aku merasakan sakit yang mengerikan di dadaku, selalu di tempat yang sama. Ini benar. Ada tempat di hatiku yang dicadangkan hanya untuk dia. Tapi pada saat yang sama aku punya dorongan kuat dalam diriku untuk mencoba sesuatu yang lain, untuk merasakan berhubungan dengan semua jenis orang. Sebut saja rasa ingin tahu, rasa haus untuk tahu lebih banyak. Ini adalah emosi alami dan aku tidak bisa menekannya, tidak peduli sekeras apapun aku mencoba.”

Aku membayangkan tanaman yang tumbuh melampaui pot tempatnya ditanam.

“Ketika aku mengatakan aku bingung, inilah yang kumaksud,” kata Erika.

“Berarti kamu harus memberitahu Kitaru tentang perasaanmu ini,” kataku. “Jika kau menyembunyikannya dari dia kalau kau sedang suka dengan orang lain, kemudian ia mengetahui ini, itu justru akan menyakitinya. Kamu tentunya tidak menginginkan hal ini.”

“Tapi bisakah dia menerima itu? Fakta bahwa aku kencan dengan orang lain?”

“Aku pikir dia akan mengerti bagaimana perasaanmu,” kataku.

“Kau pikir begitu?”

“Ya,” kataku.

Aku pikir Kitaru akan mengerti kebingungan pacarnya ini, karena ia pun merasa hal yang sama. Dalam hal ini, mereka benar-benar berada di gelombang yang sama. Namun, aku tidak sepenuhnya yakin bahwa Kitaru dengan tenang akan menerima apa yang benar-benar Erika lakukan (atau pikirkan). Kitaru tidak tampak seperti seseorang yang kuat bagiku. Tetapi akan lebih sulit baginya jika Erika terus merahasiakan ini darinya atau mungkin berbohong kepadanya.

Erika menatap nyala lilin yang berkedip-kedip oleh hembusan AC. “Aku sering mendapat mimpi yang sama,” katanya. “Aki-kun dan aku berada di sebuah kapal. Sedang melakukan perjalanan panjang di sebuah kapal besar. Kita berduaan di sebuah kabin kecil, itu larut malam, dan melalui jendela kapal kita bisa melihat bulan purnama. Tapi bulan ini terbuat dari es murni yang transparan. Dan bagian bawahnya tenggelam di laut. ‘Itu terlihat seperti bulan,’ Aki-kun memberitahuku, ‘tapi itu benar-benar terbuat dari es dan tebalnya hanya sekitar delapan inci. Jadi ketika matahari terbit di pagi hari itu semua bakal mencair. Kau harus melihatnya baik-baik sekarang, saat kau masih memiliki kesempatan.’ Aku sering bermimpi begini beberapa kali. Ini adalah mimpi yang indah. Selalu bulan yang sama. Selalu tebalnya delapan inci. Aku bersandar pada Aki-kun, hanya kami berdua, gelombang laut memukul-mukul lembut di luar sana. Tapi setiap kali aku bangun aku merasa sedih.”

Erika Kuritani terdiam beberapa lama. Lalu ia berbicara lagi. “Aku pikir betapa indahnya jika Aki-kun dan aku bisa melanjutkan pelayaran itu selamanya. Setiap malam kami akan meringkuk berdekatan dan menatap keluar jendela kapal untuk melihat bulan yang terbuat dari es itu. Pagi datang dan bulan akan mencair, kemudian pada malam akan muncul kembali. Tapi mungkin itu tidak terjadi. Mungkin satu malam bulan tidak akan muncul. Ini membuatku takut untuk membayangkannya. Aku mendapat ketakutan ini seperti aku benar-benar bisa merasakan tubuhku menyusut.”

***

Ketika aku bertemu Kitaru di kedai kopi pada hari berikutnya, ia menanyakan soal kencan kemarin.

“Kau menciumnya?”

“Tidak mungkin lah,” kataku.

“Jangan khawatir-aku tidak akan marah jika kau melakukannya kok,” katanya.

“Aku tidak akan melakukan hal seperti itu.”

“Kalau memegang tangannya?”

“Tidak, aku tidak memegang tangannya.”

“Jadi, apa yang kau lakukan?”

“Kami pergi nonton film, jalan-jalan, makan malam bersama, dan ngobrol,” kataku.

“Hanya itu?”

“Biasanya kau tidak mencoba untuk bergerak terlalu cepat pada kencan pertama.”

“Benarkah?” Kata Kitaru. “Aku tidak pernah berkencan seperti kebanyakan orang, jadi aku tidak tahu.”

“Tapi aku menikmati saat-saat bersamanya. Jika saja dia pacarku, aku tidak akan pernah melepaskannya.”

Kitaru memikirkan ini. Dia hendak mengatakan sesuatu tapi berpikir lebih baik tidak. “Jadi, apa yang kau makan?” Tanyanya akhirnya.

Aku mengatakan pizza dan Chianti.

“Pizza dan Chianti?” Dia terdengar terkejut. “Aku tidak pernah tahu kalau dia menyukai pizza. Kami hanya pernah makan di semacam toko mie dan warung murah. Wine? Aku bahkan tidak tahu kalau dia minum.”

Kitaru sendiri tidak pernah menyentuh minuman keras.

“Mungkin ada beberapa hal yang kau tidak tahu tentang dia,” kataku.

Aku menjawab semua pertanyaan mengenai kencan kemarin itu. Tentang film Woody Allen (karena desakannya, aku memberi ulasan seluruh cerita filmnya), makanan (berapa bayarnya, apakah kita bayar sendiri-sendiri atau tidak), apa yang dia kenakan (gaun katun putih, rambut disematkan), celana dalam apa yang dikenakannya (mana aku tahu soal ini?), apa yang kita bicarakan. Aku tidak mengatakan apapun kalau dia pacaran dengan pria lain. Aku juga tidak menyebutkan mimpinya tentang bulan yang terbuat dari es itu.

“Kalian sudah memutuskan kapan akan melakukan kencan kedua?”

“Tidak, kami tidak membicarakannya,” kataku.

“Kenapa tidak? Kau menyukainya, kan?”

“Dia hebat. Tapi kita tidak bisa terus seperti ini. Maksudku, dia pacarmu, kan? Kau mengatakan boleh-boleh saja menciumnya, tapi tidak mungkin aku bisa melakukan itu.”

Kitaru semakin termenung. “Kau tahu?” Katanya akhirnya. “Aku telah memeriksakan diri ke terapis sejak akhir SMP. Orang tua dan guruku, mereka semua mengatakan kalau harus memeriksakan diri. Karena aku melakukan hal-hal aneh di sekolah dari waktu ke waktu. Kau tahu-sesuatu yang tidak normal. Tapi terapis sesungguhnya tidak membantu, sejauh yang aku lihat. Kedengarannya memang baik secara teori, tapi terapis hanya memberikan omong kosong. Mereka melihatmu seakan-akan mereka tahu apa yang terjadi, kemudian membuatmu berbicara terus menerus dan mereka hanya mendengarkan. Hey, aku juga bisa melakukan itu.”

“Kau masih memeriksakan diri ke terapis?”

“Ya. Dua kali sebulan. Hanya buang-buang uang saja, jika kau bertanya padaku. Apakah Erika tidak memberitahumu tentang hal ini?”

Aku menggeleng.

“Terus terang, aku tidak tahu apa yang begitu aneh tentang cara berpikirku. Bagiku, sepertinya aku hanya melakukan hal-hal biasa dengan cara yang biasa. Tapi orang mengatakan kepadaku bahwa hampir semua yang kulakukan adalah aneh.”

“Nah, memang ada beberapa hal tentangmu yang tidak normal,” kataku.

“Seperti apa?”

“Seperti dialek Kansai-mu itu.”

“Kau mungkin benar,” Kitaru mengakui. “Itu sesuatu yang sedikit tidak biasa.”

“Orang normal tidak akan melakukan hal sejauh itu.”

“Ya, kau mungkin benar.”

“Tapi, sejauh yang aku tahu, bahkan jika apa yang kau lakukan adalah tidak normal, asalkan itu tidak mengganggu siapa pun tentunya tidak masalah.”

“Untuk kali ini belum.”

“Jadi apa yang salah dengan itu?” Kataku. Aku mungkin sedikit kesal (pada apa atau siapa aku tidak bisa mengatakan). Aku bisa merasakan nadaku mulai meninggi. “Jika kau tidak mengganggu siapa pun, jadi kenapa? Kau ingin berbicara dengan dialek Kansai, maka silahkan saja. Teruskan. Kau tidak ingin belajar untuk ujian masuk? Maka jangan belajar. Merasa tidak ingin menempelkan tanganmu di celana dalamnya Erika Kuritani? Siapa yang mengatakan kau harus? Ini hidupmu. Kamu bebas melakukan apa yang kau inginkan dan mengacuhkan apa yang dipikirkan orang lain.”

Kitaru, dengan mulutnya yang sedikit terbuka, menatapku dengan tercengang. “Kau tahu Tanimura? Kau seorang pria yang baik. Meskipun kadang-kadang agak terlalu normal, kau tahu kan?”

“Apa yang akan kau katakan?” Kataku. “Kau tidak bisa mengubah kepribadianmu.”

“Tepat. Kau tidak dapat mengubah kepribadianmu. Ini memang yang ingin aku katakan.”

“Tapi Erika adalah gadis yang hebat,” kataku. “Dia benar-benar peduli tentangmu. Apa pun yang kau lakukan, jangan biarkan dia pergi. Kau tidak akan menemukan seorang gadis yang hebat sepertinya lagi.”

“Aku sudah tahu itu. Kau tidak perlu memberitahuku,” kata Kitaru. “Tapi hanya mengetahui tidak akan membantu.”

***

Sekitar dua minggu kemudian, Kitaru berhenti bekerja di kedai kopi. Aku katakan cuti, tapi dia tiba-tiba tak kelihatan lagi. Dia memutuskan hubungan, tidak menyebutkan apapun tentang mengambil cuti. Dan ini ketika musim tersibuk kami, sehingga pemilik cukup marah. Kitaru punya satu minggu gaji, tapi dia tidak datang untuk mengambilnya. Dia menghilang begitu saja. Aku harus mengatakan itu menyakitiku. Aku pikir kami adalah teman baik yang sulit untuk dipisahkan. Aku tidak punya teman lain di Tokyo.

Dua hari terakhir sebelum ia menghilang, Kitaru tak seperti biasanya jadi pendiam. Dia tidak banyak berkata ketika aku berbicara dengannya. Dan kemudian ia pergi dan menghilang. Aku bisa saja menelepon Erika Kuritani untuk memeriksa keberadaannya, tapi entah kenapa aku tidak bisa melakukannya. Aku pikir bahwa apa yang terjadi di antara mereka berdua adalah urusan mereka, dan bukan hal yang baik bagiku untuk terlibat lebih jauh. Entah bagaimana aku harus menerima dunia kecil yang kumiliki.

Setelah semua ini terjadi, untuk beberapa alasan aku terus berpikir tentang mantan pacarku. Mungkin aku merasakan sesuatu, ketika melihat Kitaru dan Erika bersama-sama. Aku menulis sebuah surat yang panjang untuk meminta maaf akan perbuatanku dahulu. Aku bisa saja jauh lebih ramah padanya. Tapi aku tidak pernah mendapat balasan surat darinya.

***

Aku bisa mengenali Erika Kuritani dengan cepat. Aku memang hanya bertemu dengannya dua kali, dan enam belas tahun telah berlalu sejak saat itu. Tapi tidak salah lagi kalau aku mengenalinya. Dia masih menawan, dengan ekspresi sama yang hidup dan bersemangat. Dia mengenakan gaun hitam berenda, dengan sepatu hak tinggi hitam dan dua untaian mutiara di leher rampingnya. Dia juga mengingatku segera. Kami sedang berada di sebuah pesta mencicipi anggur di sebuah hotel di Akasaka. Ini adalah pesta dengan dresscode hitam-hitam, dan aku mengenakan jas dan dasi hitam untuk acara ini. Dia adalah seorang perwakilan dari perusahaan periklanan yang mensponsori acara tersebut, dan jelas telah bekerja keras untuk menangani acara ini. Ini memakan waktu yang lama untuk masuk ke alasan bahwa aku ada di sana.

“Tanimura-kun, kenapa kamu tidak pernah berhubungan denganku setelah kencan malam itu?” Tanyanya. “Aku berharap kita bisa bicara lagi.”

“Kau terlalu cantik untukku,” kataku.

Dia tersenyum. “Ah terdengar indah, bahkan jika kamu hanya menyanjungku.”

Tapi apa yang kukatakan bukanlah kebohongan atau sanjungan. Dia memang terlalu cantik bagiku untuk membuatku tertarik padanya. Saat itu, dan bahkan sekarang.

“Aku menelepon kedai kopi tempatmu bekerja, tetapi mereka mengatakan kamu tidak bekerja di sana lagi,” katanya.

Setelah Kitaru keluar, pekerjaan menjadi sangat membosankan, dan aku pun berhenti dua minggu kemudian.

Erika dan aku mengingat-ingat secara singkat kehidupan kami selama enam belas tahun terakhir. Setelah kuliah, aku dipekerjakan oleh sebuah penerbit kecil, tapi berhenti setelah tiga tahun dan telah jadi penulis sejak saat itu. Aku menikah saat usia dua puluh tujuh tahun tapi belum dianugerahi anak. Erika sendiri masih lajang. “Mereka membuatku bekerja begitu keras,” dia bercanda, “sampai-sampai aku tidak memiliki waktu untuk menikah.” Dia adalah orang pertama yang memunculkan topik tentang Kitaru.

“Aki-kun bekerja sebagai koki sushi di Denver sekarang,” katanya.

“Denver?”

“Denver, Colorado. Setidaknya, menurut kartu pos yang ia kirimkan padaku beberapa bulan yang lalu.”

“Kenapa Denver?”

“Aku tidak tahu,” kata Erika. “Kartu pos sebelumnya dari Seattle. Dia seorang koki sushi di sana. Itu sekitar setahun yang lalu. Dia mengirimiku kartu pos seenaknya. Sebagian malah kartu konyol dengan isi yang hanya beberapa garis putus-putus. Kadang-kadang ia bahkan tidak menulis alamat asalnya.”

“Koki sushi,” pikirku. “Jadi dia tidak masuk perguruan tinggi ya?”

Dia menggeleng. “Pada akhir musim panas itu, aku pikir dia masuk, tapi tiba-tiba ia mengumumkan bahwa ia akan mengakhiri belajar untuk ujian masuk dan dia memilih sebuah sekolah memasak di Osaka. Mengatakan kalau dia benar-benar ingin belajar masakan Kansai dan pergi ke pertandingan di Stadion Koshien, stadionnya Hanshin Tigers. Tentu saja, aku bertanya kepadanya, ‘Bagaimana kau bisa memutuskan sesuatu yang sangat penting tanpa meminta pendapatku dulu? Bagaimana denganku?'”

“Dan apa yang dia katakan itu?”

Dia tidak menanggapi. Dia hanya memegang bibirnya ketat, seolah-olah dia akan menitikkan air mata jika dia mencoba untuk berbicara. Aku segera mengganti topik.

“Ketika kita pergi ke restoran Italia di Shibuya, aku ingat kita memesan Chianti yang murah. Sekarang lihatlah kita, mencicipi anggur Napa premium. Sebuah takdir, yang aneh.”

“Aku ingat,” katanya, menarik diri bersama-sama. “Kita juga menonton film Woody Allen. Yang mana itu ya?”

Aku memberitahunya.

“Itu film yang hebat.”

Aku setuju. Itu memang salah satu karya terbesar dari Woody Allen.

“Apakah hubunganmu dengan pria di klub tenis yang kamu sukai itu berjalan baik?” Aku bertanya.

Dia menggeleng. “Tidak. Hubungan kami tidak berjalan baik seperti yang aku pikir. Kami berpacaran selama enam bulan dan kemudian putus.”

“Bolehkah aku mengajukan pertanyaan?” Kataku. “Ini sesuatu yang sangat pribadi.”

“Silahkan.”

“Aku tidak ingin kamu menjadi tersinggung.”

“Aku akan mencoba sebisaku agar tidak tersinggung.”

“Kau tidur dengan pria itu, kan?”

Erika menatapku dengan heran, pipinya memerah.

“Kenapa kau menanyakan ini sekarang?”

“Pertanyaan yang bagus,” kataku. “Ini ada dalam pikiranku untuk waktu yang lama. Tapi ini memang pertanyaan yang aneh. Maafkan aku.”

Erika menggelengkan kepalanya sedikit. “Tidak apa-apa. Aku tidak tersinggung. Aku hanya tidak mengharapkan menerima pertanyaan seperti itu. Itu semua masa lalu.”

Aku melihat ke sekeliling ruangan. Orang-orang dengan pakaian formal tercerai-berai. Gabus penutup dibuka satu demi satu dari tiap botol anggur mahal. Seorang pianis perempuan sedang memainkan “Like Someone in Love.”

“Jawabannya adalah ya,” kata Erika. “Aku tidur dengannya beberapa kali.”

“Keingintahuan, rasa haus untuk tahu lebih banyak,” kataku.

Dia memberikan sedikit senyum. “Betul. Keingintahuan, rasa haus untuk tahu lebih banyak.”

“Itulah cara kita mengembangkan cincin tahunan pohon kita.”

“Jika kau mengatakan begitu,” katanya.

“Dan aku menduga bahwa pertama kali kamu tidur dengannya itu setelah kencan kita di Shibuya kan?”

Dia membalik-balik halaman dalam buku rekor mentalnya. “Aku juga berpikir demikian. Sekitar seminggu setelah itu. Aku mengingat sepanjang waktu itu cukup baik. Ini adalah pertama kalinya bagiku.”

“Dan Kitaru cukup cepat mengerti,” kataku, menatap matanya.

Dia menunduk dan meraba mutiara di kalung satu-satu, seakan memastikan bahwa semua masih ada di tempatnya. Dia sedikit mendesah, mungkin mengingat-ingat sesuatu. “Ya, kau benar tentang itu. Aki-kun punya intuisi yang kuat.”

“Tapi selalu tidak berhasil dengan laki-laki lain.”

Dia mengangguk. “Sayangnya, aku tidak sepintar itu. Aku selalu mengambil jalan panjang. Aku selalu mengambil jalan yang berputar-putar.”

Itulah yang kita semua lakukan: tanpa henti mengambil jalan panjang. Aku ingin menceritakan ini, tapi diam. Melontarkan kata-kata mutiara seperti itu salah satu dari masalahku.

“Apakah Kitaru sudah menikah?”

“Sejauh yang kutahu, dia masih lajang,” kata Erika. “Setidaknya, dia belum mengatakan kepadaku bahwa dia menikah. Mungkin kami berdua adalah tipe orang yang tidak akan pernah melakukan pernikahan.”

“Atau mungkin kalian hanya sedang mengambil jalan panjang memutar untuk sampai ke sana.”

“Mungkin.”

“Apakah kamu masih bermimpi tentang bulan yang terbuat dari es itu?” Aku bertanya.

Kepalanya tersentak dan dia menatapku. Sangat tenang, perlahan, senyum tersebar di wajahnya. Senyum terbuka yang benar-benar alami.

“Kamu masih ingat mimpiku?” Tanyanya.

“Untuk beberapa alasan, aku mengingatnya.”

“Meskipun itu mimpi orang lain?”

“Mimpi adalah sesuatu yang bisa kau pinjam dan pinjamkan,” kataku.

“Itu ide yang bagus,” katanya.

Seseorang memanggil namanya dari belakangku. Sudah waktunya baginya untuk kembali bekerja.

“Aku tidak punya mimpi itu lagi,” katanya di perpisahan. “Tapi aku masih ingat setiap detailnya. Apa yang aku lihat, apa yang kurasakan. Aku tidak bisa melupakannya. Aku mungkin tidak akan pernah melupakannya.”

***

Ketika aku mengemudi dan lagu “Yesterday”-nya The Beatles diputar di radio, aku tidak bisa tidak mendengar kembali lirik gila Kitaru ketika bernyanyi di kamar mandi. Dan aku menyesal tidak menuliskannya saat itu. Liriknya begitu aneh namun aku mengingatnya untuk sementara, tapi secara bertahap ingatanku mulai memudar sampai akhirnya aku hampir lupa seluruhnya. Yang aku ingat sekarang hanya sebagian kecilnya, dan aku bahkan tidak yakin apakah ini benar-benar yang Kitaru nyanyikan. Dengan berjalannya waktu, memori, mau tidak mau, menyusun kembali ingatannya sendiri.

Ketika aku masih dua puluh atau lebih, aku mencoba beberapa kali untuk menulis buku harian, tapi aku tidak bisa melakukannya. Begitu banyak hal yang terjadi di sekitarku saat itu sehingga aku hampir tidak bisa bertahan dengan semua itu, apalagi untuk berdiri diam dan menuliskan semuanya dalam sebuah buku catatan. Dan sebagian besar hal-hal tadi tidak membuatku berpikir, Oh, aku harus menuliskan semua ini. Ini semualah yang hanya bisa kulakukan untuk tetap membuka mata di angin sakal yang kuat, menarik napas, dan terus melangkah maju.

Tapi anehnya, aku sangat ingat Kitaru dengan baik. Kami berteman selama beberapa bulan, namun setiap kali aku mendengar “Yesterday”, setiap adegan dan percakapan dengannya tersimpan dengan baik dalam pikiranku. Percakapan kami berdua saat ia berendam dalam bak mandi di rumahnya di Denenchofu. Pembicaraan tentang formasi menyerang Hanshin Tigers, hal-hal soal seks, betapa membosankannya belajar untuk ujian masuk, dan begitu kaya dan emosionalnya dialek Kansai. Dan aku mengingat betul kencan aneh dengan Erika Kuritani. Dan apa yang Erika ungkapkan-di bawah cahaya lilin di atas meja di restoran Italia itu. Rasanya seolah-olah hal itu terjadi baru kemarin saja. Musik memang memiliki kekuatan untuk menghidupkan kembali kenangan lama, kadang-kadang begitu seringnya menghadirkan luka.

Tapi ketika aku bercermin tentang diriku sendiri pada usia dua puluhan, apa yang paling aku ingat adalah kesendirian dan kesepian. Aku tidak punya pacar untuk menghangatkan tubuhku atau jiwaku, tidak ada teman yang bisa kuajak curhat. Tidak tahu apa yang harus aku lakukan setiap hari, tidak punya visi untuk masa depan. Untuk sebagian besar, aku tetap tenggelam dalam diriku sendiri. Kadang-kadang aku dalam seminggu tidak berbicara dengan siapa pun. Kehidupan seperti ini terus kulakukan selama setahun. Tahun yang panjang, sangat panjang. Apakah periode ini adalah sebuah musim dingin yang menempa cincin tahunan pohon dalam diriku, aku tidak bisa mengatakan. Saat itu aku juga merasa seolah-olah setiap malam aku sedang memandang keluar jendela kapal, melihat bulan yang terbuat dari es. Yang transparan, delapan inci tebalnya, bulan yang membeku. Tapi aku melihat bulan itu sendirian saja, tidak dapat berbagi keindahan yang dingin itu dengan siapa pun.

Kemarin

Adalah dua hari sebelum besok,

Dan sehari setelah kemarin lusa.

**********

haruki murakami

Haruki Murakami (村上 春樹, lahir di Kyoto, 12 Januari 1949) adalah penulis Jepang kontemporer yang menggenggam banyak penghargaan di dunia kepenulisan. Ia menulis belasan novel, puluhan cerpen, beberapa buku nonfiksi, dan rajin menerjemahkan karya asing ke Bahasa Jepang. Karya fiksi Murakami seringnya bertema surealistik dan nihilistik, yang ditandai dengan cara pembawaan Franz Kafka lewat tema kesendirian dan pengasingan. Karya-karya pentingnya seperti A Wild Sheep Chase (1982),Norwegian Wood (1987), The Wind-Up Bird Chronicle (1994-1995), Kafka on the Shore (2002), dan 1Q84 (2009–2010).

Berkat kiprahnya yang luar biasa di bidang kepenulisan, Murakami dianggap sebagai tokoh penting dalam sastra posmodern. The Guardian memujinya sebagai salah satu novelis terbesar di dunia yang masih hidup saat hidup.

Kategori
Non Fakta

Yesterday, Haruki Murakami [1/2]

Sejauh yang kutahu, satu-satunya orang yang pernah menggunakan lirik Jepang untuk menyanyikan lagu Yesterday-nya The Beatles (dan mendendangkannya dalam dialek Kansai yang khas itu) adalah seorang pria bernama Kitaru. Ia gunakan lirik versi miliknya ini saat berkaraoke ria di kamar mandi.

Kemarin

Adalah dua hari sebelum besok,

Dan sehari setelah kemarin lusa.

Yang kuingat seperti inilah lagunya dimulai, tapi karena aku sudah tak mendengar lagi untuk waktu yang lama, jadi aku tidak begitu yakin. Dari awal sampai akhir, lirik Kitaru ini hampir tidak berarti, asal-asalan, omong kosong yang tak ada hubungannya dengan versi aslinya. Lagu sahdu dengan melodi melankolis yang begitu familiar itu dikawinkannya dengan dialek Kansai yang semilir -jauh dari nuansa sedih- membuat lagu itu menjadi sebuah kombinasi aneh, semacam dobrakan berani. Setidaknya, itulah yang terdengar olehku. Pada saat itu, aku hanya mendengarkan dan menggeleng. Aku tertawa dibuatnya, namun aku juga bisa menangkap semacam pesan tersembunyi di dalamnya.

Aku pertama kali bertemu Kitaru di sebuah kedai kopi dekat gerbang utama Universitas Waseda, tempat kami bekerja paruh waktu, aku bekerja di dapur sementara Kitaru menjadi pelayan. Kami berbicara banyak selama waktu senggang di toko itu. Kami berdua sama-sama berusia dua puluh tahun, dan ulang tahun kami hanya berjarak seminggu.

“Kitaru adalah nama yang tidak biasa,” kataku suatu hari.

“Ya, memang,” jawab Kitaru dengan aksen Kansai yang berat.

“Tim bisbol Lotte punya pitcher dengan nama yang sama.”

“Tak ada hubungan antara kami berdua. Memang nama kami tidak umum, jadi siapa tahu? Mungkin ada hubungannya juga sih.”

Aku adalah seorang mahasiswa Waseda, di fakultas sastra. Kitaru sendiri gagal ujian masuk dan sedang mengikuti kursus persiapan agar bisa tembus. Sebenarnya dia telah gagal ujian dua kali, tapi nampaknya dia tidak terlalu peduli. Dia kelihatan tidak serius belajar. Ketika punya banyak waktu, dia memang banyak membaca, tapi tidak ada yang terkait dengan ujian – biografi Jimi Hendrix, buku tentang shogi, “Where Did the Universe Come From?” dan sejenisnya. Dia mengatakan kepadaku bahwa ia pulang-pergi ke tempat kursus dari rumah orangtuanya di Ota Ward, Tokyo.

“Ota Ward?” Aku bertanya heran. “Tapi kupikir kau dari Kansai.”

“Oh bukan. Aku lahir dan dibesarkan di distrik Denenchofu.”

Ini benar-benar membuatku bingung.

“Lalu kenapa kamu berbicara dengan dialek Kansai?” Tanyaku.

“Aku mendapatkannya. Hanya dengan mempelajarinya.”

“Mendapatkannya?”

“Ya, kamu bisa lihat hasil kerja kerasku ini kan? Kata kerja, kata benda, aksen-seluruhnya kupelajari. Sama lah seperti belajar bahasa Inggris atau Perancis. Bahkan aku pergi ke Kansai untuk latihan.”

Ternyata ada ya orang yang belajar dialek Kansai seperti halnya belajar bahasa asing? Ini hal baru bagiku. Ini membuatku menyadari betapa Tokyo ini luas, dan banyak hal yang aku belum tahu. Mengingatkanku pada novel “Sanshiro”, cerita tentang orang kampung yang pergi ke kota besar.

“Saat masih kecil, aku adalah penggemar berat Hanshin Tigers,” Kitaru menjelaskan. “Pergi ke setiap pertandingan mereka kalau bermain di Tokyo. Tetapi jika aku duduk di tempat duduk pendukung Hanshin dan berbicara dengan dialek Tokyo, tak seorang pun ingin menyapaku. Tidak bisa menjadi bagian dari masyarakat, kau tahu kan rasanya? Jadi kupikir, aku harus belajar dialek Kansai, dan aku bekerja keras seperti seperti anjing saja.”

“Jadi itu yang memotivasimu?” Aku hampir tak percaya.

“Benar. Tigers sangat berarti bagiku,” kata Kitaru. “Sekarang dialek Kansai yang aku pakai saat berbicara di sekolah, di rumah, bahkan ketika aku tidur pun. Dialekku ini hampir sempurna kan?”

“Tentu saja. Aku berpikir kamu dari Kansai,” pujiku.

“Jika aku serius belajar untuk ujian masuk seperti yang kulakukan saat mempelajari dialek Kansai, tentunya aku tidak akan menjadi pecundang yang dua kali gagal seperti sekarang.”

Dia menyadarinya juga. Bahkan pembawaan dirinya itu sudah seperti orang Kansai.

“Jadi kalau kamu dari mana?” Tanyanya.

“Kansai. Dekat Kobe,” kataku.

“Dekat Kobe? Sebelah mana?”

“Ashiya,” jawabku.

“Wow, bagus. Kenapa kau tidak mengatakan ini dari awal?”

Aku menjelaskan. Kalau orang bertanya tentang asalku dan aku mengatakan berasal dari Ashiya, maka mereka selalu beranggapan bahwa aku dari keluarga kaya. Padahal semua jenis keluarga pun ada di Ashiya. Keluargaku, salah satu yang tidak terlalu kaya. Ayahku bekerja di sebuah perusahaan farmasi dan ibuku adalah pustakawan. Rumah kami kecil dan mobil kami Corolla berwarna krim. Jadi, ketika orang bertanya padaku di mana aku berasal, maka aku akan mengatakan asalku di “dekat Kobe”, sehingga mereka tidak berpraduga dulu tentangku.

“Hey, sepertinya kau dan aku senasib,” kata Kitaru. “Alamatku di Denenchofu-area kelas atas- namun rumahku berada di bagian kumuhnya. Rumahnya kumuh juga. Kamu harus datang kapan-kapan. Kamu akan terkejut, seperti, Apa? Ini di Denenchofu? Tidak mungkin! Tapi mengkhawatirkan sesuatu seperti itu tidak masuk akal, kan? Ini alamatnya. Tapi aku melakukan kebalikan-aku mengatakan langsung dengan bangga bahwa aku dari Den-en-cho-fu. Terus kenapa, ada masalah dengan ini, hah?”

Aku pun terkesan. Dan karena inilah awal pertemanan kami.

***

Sampai lulus SMA, aku berbicara dengan dialek Kansai. Tapi cuma butuh satu bulan di Tokyo bagiku untuk menjadi benar-benar fasih dalam standar Tokyo. Aku agak terkejut bahwa aku bisa beradaptasi begitu cepat. Mungkin aku memiliki kemampuan beradaptasi seperti bunglon. Atau mungkin aku memiliki keterampilan berbahasa yang lebih tinggi dari kebanyakan orang. Yang pasti, sekarang tidak ada yang percaya bahwa aku seorang yang berasal dari Kansai.

Alasan lain aku berhenti menggunakan dialek Kansai adalah bahwa aku ingin menjadi orang yang sama sekali berbeda.

Saat aku pindah dari Kansai ke Tokyo untuk memulai kuliah, aku menghabiskan seluruh waktu di kereta cepat dengan meninjau delapan belas tahun usiaku dan menyadari bahwa hampir segala sesuatu yang telah terjadi padaku cukup memalukan. Aku tidak melebih-lebihkan. Aku tidak ingin mengingat semua itu karena sangat menyedihkan. Semakin aku berpikir tentang hidupku sampai saat itu, semakin aku membenci diriku sendiri. Itu bukan berarti aku tidak memiliki beberapa kenangan yang baik. Ada sejumlah pengalaman bahagia. Tapi, jika mengakumulasikannya, kenangan yang memalukan dan menyakitkan jauh lebih banyak. Ketika aku berpikir tentang bagaimana aku telah mengisi hidupku, bagaimana aku harus menjalani kehidupan selanjutnya, ini semua begitu terlambat, sehingga yang kudapat hanya kesia-siaan. Seorang kelas menengah yang tak kreatif seperti sampah, dan aku ingin mengumpulkan semuanya kemudian menyimpannya dalam laci. Atau membakarnya dan memelototinya sampai menjadi asap (aku tidak tahu jenis asap apa yang akan tercipta). Pokoknya, aku ingin menyingkirkan semua itu dan memulai hidup baru di Tokyo sebagai orang baru. Dengan menanggalkan dialek Kansai, ini menjadi sebuah metode praktis (serta simbolik). Karena, menurut sebuah penelitian, bahasa yang kita pakai mencerminkan siapa kita. Setidaknya inilah ideku saat masih di usia delapan belas itu.

“Memalukan? Apanya yang memalukan?” Kitaru bertanya.

“Kamu pasti tahu.”

“Punya hubungan buruk dengan keluargamu?”

“Hubungan kami baik kok,” kataku. “Hanya saja itu memalukan. Hanya berada bersama mereka membuatku merasa malu.”

“Kau aneh, kau tahu itu kan?” Kata Kitaru. “Kenapa kau malu dengan keluargamu? Aku nyaman-nyaman saja dengan keluargaku.”

Aku tidak bisa benar-benar menjelaskannya. Apa yang begitu buruk tentang memiliki Corolla berwarna krem? Aku tidak bisa mengatakan. Orang tuaku hanya tidak tertarik untuk menghabiskan uang demi penampilan, itu saja.

“Orang tuaku juga kesusahan karena aku tidak belajar sungguh-sungguh. Aku benci itu, tapi gimana ya? Itu urusan mereka. Jadi kau tetap harus melihat masa lalumu itu, kau tahu?”

“Oh kau sungguh orang yang santai, kan?” Kataku.

“Kau punya pacar?” Tanya Kitaru.

“Tidak untuk saat ini.”

“Tapi kamu punya sebelumnya kan?”

“Sampai beberapa waktu yang lalu.”

“Kalian putus?”

“Memang,” kataku.

“Kenapa kau putus?”

“Ceritanya panjang. Aku tidak ingin mengungkitnya.”

“Sudah sejauh mana hubunganmu dengannya?”

Aku menggeleng. “Tidak begitu jauh sih.”

“Jadi karena inilah kamu putus?”

Aku memikirkannya. “Ya karena ini juga.”

“Tapi kau sudah bercinta dengannya kan?”

“Hampir.”

“Tepatnya sampai sejauh mana?”

“Aku tidak ingin berbicara tentang hal itu,” kataku.

“Apakah itu sesuatu yang memalukan untuk kamu bicarakan?”

“Ya,” kataku.

“Oh, hidupmu sungguh rumit,” kata Kitaru.

***

https://www.youtube.com/watch?v=rRen3jDqViI

Pertama kali aku mendengar Kitaru menyanyikan “Yesterday” dengan lirik gilanya itu ketika dia sedang di kamar mandi rumahnya di Denenchofu (berbeda dari uraiannya, sebenarnya bukan rumah kumuh di lingkungan kumuh tapi hanya sebuah rumah biasa di lingkungan biasa, sebuah rumah tua, tetapi lebih besar dari rumahku di Ashiya, rumah yang tidak terlalu mencolok, dan terdapat mobil Golf biru tua di jalan masuk, mobil model terbaru). Setiap kali Kitaru pulang, ia langsung menjatuhkan barang-barangnya kemudian memasuki kamar mandi. Dan, ketika sudah berada di bak mandi, ia bakal tinggal lama di dalamnya. Jadi aku sering membawa bangku bulat kecil ke ruang ganti yang berdekatan dan duduk di sana, berbicara kepadanya melalui pintu geser yang terbuka sekitar satu inci. Itu adalah satu-satunya cara untuk menghindari ibunya yang selalu menceracau ke sana-kemari (kebanyakan keluhan tentang anak anehnya dan bagaimana ia perlu belajar lebih sungguh-sungguh).

“Lirikmu itu tidak masuk akal,” kataku. “Kedengarannya kamu sedang mengolok-olok lagu ‘Yesterday.'”

“Jangan sok pintar. Aku tidak mengolok-olok kok. Kalau pun iya, kamu harus ingat bahwa John sendiri juga suka terhadap omong kosong dan permainan kata. Benar kan?”

“Tapi Paul yang menulis ‘Yesterday’.”

“Kamu yakin?”

“Tentu saja,” aku menyatakan. “Paul yang menulis lagu dan merekamnya sendiri di studio dengan gitar. Sebuah string quartet ditambahkan kemudian, bahkan anggota The Beatles yang lain tidak terlibat sama sekali. Mereka pikir itu terlalu lemah untuk dijadikan lagu The Beatles.”

“Benarkah? Aku tidak tahu ada informasi rahasia seperti itu.”

“Ini bukan informasi rahasia. Ini cuma fakta yang sudah terkenal kok,” kataku.

“Ah siapa peduli? Itu hanya detail,” suara Kitaru terdengar sayup-sayup dari dalam. “Aku bernyanyi di kamar mandi rumahku sendiri. Bukan untuk rekaman atau apalah namanya. Aku tidak melanggar hak cipta, dan tak mengganggu siapapun. Jadi kamu tak punya hak untuk mengeluh.”

Dan dia sampai pada refrain, suaranya keras dan jelas. Dia bisa sampai nada tinggi dengan cukup baik. Aku bisa mendengar percikan air mandinya yang mengiringi nyanyiannya. Aku mungkin harus ikut bernyanyi bersamanya untuk sekedar membesarkan hatinya. Hanya duduk saja, berbicara melalui pintu kaca untuk menemaninya saat ia berendam dalam bak mandi selama satu jam sesungguhnya jauh dari menyenangkan.

“Kenapa sih kamu dapat berendam begitu lama di kamar mandi?” Aku bertanya. “Apakah tubuhmu itu tak jadi bengkak?”

“Ketika aku berendam di bak mandi untuk waktu yang lama, beragam inspirasi mendatangiku,” kata Kitaru.

“Seperti lirik ‘Yesterday’ itu?”

“Yah, itu salah satunya,” kata Kitaru.

“Daripada menghabiskan begitu banyak waktu memikirkan ide-ide di kamar mandi, bukankah lebih baik kamu belajar untuk ujian masuk?” Aku bertanya.

“Astaga, kau kerasukan rupanya. Ibuku juga mengatakan hal yang sama loh. Bukankah kamu terlalu muda untuk mengatakan nasihat bijak seperti itu?”

“Tapi kau kursus persiapan selama dua tahun. Apakah kamu tidak bosan?”

“Tentu saja aku ingin berada di perguruan tinggi secepat aku bisa.”

“Lalu kenapa tidak belajar lebih keras?”

“Ya-,” katanya, memikirkan kalimatnya. “Jika aku bisa, pasti aku sudah melakukannya.”

“Kuliah itu memang menjemukan,” kataku. “Aku benar-benar kecewa sekali saat aku memasukinya. Tapi tidak masuk kuliah justru lebih menjemukan.”

“Setuju,” kata Kitaru. “Aku tidak punya pembelaan untuk itu.”

“Jadi kenapa kamu tidak belajar?”

“Kurang motivasi,” katanya.

“Motivasi?” Tanyaku. “Pacarmu itu apakah tak bisa kau jadikan sebagai motivasi?”

Ada seorang gadis yang Kitaru kenal sejak mereka masih di sekolah dasar. Bisa dibilang telah jadian sejak kecil. Mereka pernah di kelas yang sama di sekolah, tapi tidak sepertinya, dia langsung masuk ke Universitas Sophia setelah lulus SMA. Sekarang dia di jurusan sastra Perancis dan bergabung dengan klub tenis. Dia menunjukkan kepadaku foto pacarnya itu, dia sungguh menarik. Seorang yang cantik dan ekspresinya ceria. Tapi mereka berdua jarang bertemu satu sama lain belakangan ini. Mereka sudah membicarakan dan memutuskan bahwa lebih baik tidak pacaran sampai Kitaru bisa lulus ujian masuk, agar ia bisa fokus pada studinya. Kitaru sendiri yang menyarankan ini. “OK,” pacarnya berkata, “jika itu yang kau inginkan.” Mereka berbicara banyak di telepon namun bertemu paling seminggu sekali, dan pertemuan mereka itu lebih seperti wawancara ketimbang pacaran. Mereka memesan teh dan membicarakan apa-apa yang sedang mereka lakukan. Mereka berpegangan tangan dan berciuman singkat, tapi hanya sejauh itu.

Kitaru memang bisa dibilang tidak terlalu tampan, tapi dia cukup sedap dipandang. Dia kurus, dan gaya rambut serta pakaiannya sederhana namun bergaya. Karena dia tidak banyak bicara, kita akan berasumsi kalau dia anak kota yang sensitif. Hanya ada sedikit kekurangan yang terletak di wajahnya yang terlalu ramping dan lembut, yang memberi kesan bahwa ia pribadi yang lemah atau plin-plan. Dan saat ia membuka mulutnya-semua kelebihannya tadi seakan runtuh seperti istana pasir yang hancur diinjak-injak seekor anjing Labrador. Orang-orang dibuat kaget dengan dialek Kansai yang ia sampaikan, belum cukup sampai itu, karena suaranya pun cempreng. Ketidakcocokan dengan penampilan luarnya itu sungguh mengejutkan; bahkan bagiku saat pertama kali bertemu.

“Hei, Tanimura, apakah kamu kesepian tanpa pacar?” Kitaru bertanya padaku keesokan harinya.

“Aku tidak menyangkal hal itu,” kataku.

“Bagaimana kalau kamu kencan saja dengan pacarku?”

Aku tidak mengerti maksudnya. “Apa maksudmu – kencan dengannya?”

“Dia gadis yang hebat. Cantik, jujur, pintar, pokoknya idaman. Kamu kencan dengan dia dan kamu tidak akan menyesal. Aku jamin itu.”

“Aku mau saja,” kataku. “Tapi mengapa aku harus kencan dengan pacarmu? Ini tidak masuk akal.”

“Karena kau orang baik,” kata Kitaru. “Kalau tidak, aku tidak mungkin menyarankan ini. Erika dan aku telah menghabiskan hampir seluruh kehidupan kita bersama-sama. Kami telah jadi pasangan, dan semua orang di sekitar kami sudah pada tahu. Teman-teman kami, orang tua kami, guru kami. Kami selalu bersama-sama.”

Kitaru menggenggam tangannya untuk mengilustrasikan ucapannya tadi.

“Jika kami berdua sama-sama masuk perguruan tinggi, hubungan kami pasti hangat dan kabur, tapi aku gagal ujian masuk, dan di sini kami. Aku tidak yakin mengapa, tetapi segalanya kian memburuk. Aku tidak menyalahkan siapa pun untuk ini. Ini semua salahku.”

Aku mendengarkannya dalam diam.

“Jadi aku seperti terbelah menjadi dua,” kata Kitaru. Dia menarik tangannya terpisah.

“Maksudmu?” Tanyaku.

Dia menatap telapak tangannya sejenak dan kemudian berbicara. “Yang aku maksud adalah ada satu bagian dari diriku yang khawatir, kau tahu? Maksudku, aku sedang menjalani kursus persiapan, belajar untuk ujian masuk perguruan tinggi, sementara Erika sedang bermain bola di tempat kuliahnya. Bermain tenis, melakukan apa pun. Dia punya teman baru, mungkin juga berkencan dengan pria baru, aku tak tahu. Ketika aku berpikir tentang semua itu, aku merasa ditinggalkan. Seperti pikiranku ada di kabut. Kamu mengerti apa maksudku?”

“Aku mengerti,” kataku.

“Tapi ada bagian lain dariku yang – merasa lega mungkin? Karena jika hubungan kami hanya berjalan begini-begini saja, tanpa ada masalah atau apa pun, pasangan yang lancar mengarungi kehidupannya, ini seperti. . . kami lulus dari perguruan tinggi, menikah, kami jadi pasangan suami istri yang semua orang senang, kami memiliki dua anak, menempatkan mereka di sebuah sekolah dasar yang baik di Denenchofu, pergi ke tepi Sungai Tama di hari Minggu, Ob-la -di, Ob-la-da. . . Aku tidak mengatakan ini sesuatu yang buruk. Tapi aku hanya membayangkan, jika hidup semudah itu, senyaman itu. Mungkin lebih baik untuk berpisah untuk sementara waktu, kemudian menyadari bahwa kami berdua tak bisa hidup berpisah, sehingga kami balikan lagi.”

“Jadi kau mengatakan bahwa hidup yang lurus dan nyaman adalah sebuah masalah. Itu saja?”

“Ya, itu hanya soal.”

“Tapi kenapa aku harus kencan dengan pacarmu?” Aku bertanya.

“Aku pikir, jika dia harus pacaran dengan pria lain, lebih baik itu adalah kau. Karena aku mengenalmu. Dan kau kan bisa beri aku kabar dan sebagainya.”

Itu tetap tidak masuk akal bagiku, meski memang aku tertarik pada gagasan untuk bertemu Erika. Aku ingin mengetahui mengapa seorang gadis secantik dia ingin berpacaran dengan orang aneh seperti Kitaru. Aku memang pemalu kalau bertemu orang-orang baru, tapi aku adalah orang yang selalu penasaran.

“Seberapa jauh hubunganmu dengan dia?” Aku bertanya.

“Maksudmu bercinta?” Kata Kitaru.

“Ya. Apakah kau telah melakukannya?”

Kitaru menggeleng. “Aku tidak mampu, kau mengerti? Aku sudah mengenalnya sejak dia masih kecil, dan ini agak memalukan, kau mengerti, untuk memulainya, kemudian melepas bajunya, mencumbunya, meraba-rabanya, apa pun. Jika dengan gadis lain, aku pikir tidak akan ada masalah, tapi meletakkan tanganku di celana dalamnya, bahkan hanya berpikir tentang melakukan hal itu dengan dia, aku tak tahu, sepertinya sesuatu yang salah. Kamu mengerti kan?”

Aku masih tidak mengerti.

“Aku tidak bisa menjelaskan dengan baik,” kata Kitaru. “Seperti, ketika kau masturbasi, Kau pasti membayangkan seorang sosok wanita yang asli ada kan, ya?”

“Aku kira,” kataku.

“Tapi aku tidak bisa membayangkan Erika. Sepertinya melakukan hal itu sesuatu yang salah, kau mengerti? Jadi ketika aku masturbasi pun yang aku pikirkan ya gadis lain. Seseorang yang sebenarnya tidak terlalu kusuka. Bagaimana menurutmu?”

Aku terus memikirkan itu tapi tidak bisa mencapai kesimpulan apapun. Kebiasaan masturbasi orang lain berada di luar pengetahuanku. Ada hal-hal tentang diriku sendiri yang aku tidak bisa membayangkannya.

“Pokoknya, mari kita bertemu bersama-sama sekali, kita bertiga,” kata Kitaru. “Kemudian kau dapat memikirkannya.”

***

Kami bertiga-aku, Kitaru, dan pacarnya, yang bernama lengkap Erika Kuritani itu-bertemu pada hari Minggu sore di kedai kopi dekat Stasiun Denenchofu. Dia setinggi Kitaru, kulitnya kecokelatan, dan mengenakan blus putih lengan pendek yang rapi disetrika dan rok mini biru tua. Seperti seorang model yang tanpa cacat, yang berasal dari sebuah perguruan tinggi wanita elit. Dia semenarik dalam foto, tapi apa yang benar-benar membuatku tertarik secara pribadi bukanlah dari tampilan luarnya, tapi lebih kepada vitalitas hidup yang memancar dari dalam dirinya. Dia kebalikan dari Kitaru, yang sangat berbanding terbalik.

“Aku sangat senang bahwa Aki-kun memiliki teman,” kata Erika kepadaku. Nama pertama Kitaru adalah Akiyoshi. Dan dia adalah satu-satunya orang yang memanggilnya Aki-kun.

“Jangan membesar-besarkan. Aku punya banyak teman kok,” kata Kitaru.

“Tidak, tidak,” kata Erika. “Orang sepertimu tidak mungkin punya banyak teman. Kamu lahir di Tokyo, namun kamu berbicara dengan dialek Kansai, dan setiap kali kamu membuka mulutmu itu salah satu hal yang mengganggu, kamu bicara tentang Hanshin Tigers atau pergerakan shogi. Tidak ada orang aneh sepertimu bisa berteman dengan orang normal.”

“Nah, jika kau berpikir begitu, maka orang ini juga cukup aneh.” Kitaru menunjukku. “Dia dari Ashiya tetapi bicara dengan dialek Tokyo.”

“Itu jauh lebih umum,” kata Erika. “Setidaknya lebih umum daripada sebaliknya.”

“Hey, ini sudah masuk diskriminasi budaya,” kata Kitaru. “Semua suku sama, kau tahu. Dialek Tokyo tidak lebih baik dari Kansai.”

“Mungkin mereka sama,” kata Erika, “tapi karena Restorasi Meiji cara orang berbicara di Tokyo telah menjadi standar untuk diucapkan di Jepang. Maksudku, apakah ada yang pernah menerjemahkan ‘Franny dan Zooey’ ke dialek Kansai?”

“Jika ada, maka aku akan membelinya, pasti,” kata Kitaru.

Aku mungkin akan membelinya juga, aku pikir, tapi tetap diam.

Dengan bijak, bukannya menyeret lebih dalam di obrolan seperti itu, Erika Kuritani mengubah topik pembicaraan.

“Ada seorang gadis di klub tenisku yang dari Ashiya juga,” katanya, beralih kepadaku. “Eiko Sakurai. Apakah kamu kenal dia?”

“Aku kenal,” kataku. Eiko Sakurai adalah gadis tinggi kurus, yang orang tuanya merupakan pemilik lapangan golf besar. Terjebak-up, berdada rata, dengan hidung tampak lucu dan tidak ada kepribadian yang sangat ajaib. Tenis adalah salah satu hal yang paling ia kuasai. Jika aku tidak pernah melihatnya lagi, itu akan terlalu cepat bagiku.

“Dia pria yang baik, dan dia tidak punya pacar sekarang,” kata Kitaru kepada Erika. “Penampilannya oke, dia baik, dan dia tahu segala macam hal. Dia rapi dan bersih, seperti yang kamu lihat, dan tidak memiliki penyakit yang mengerikan. Seorang pemuda yang menjanjikan, kalau boleh kusebut.”

“Baiklah,” kata Erika. “Ada beberapa anggota baru yang manis di klub kami, aku akan senang untuk memperkenalkannya.”

“Nah, bukan itu yang kumaksud,” kata Kitaru. “Bisakah kamu pacaran saja dengannya? Aku belum kuliah dan aku tidak bisa kencan denganmu. Jadi tanpaku, kau bisa kencan saja dengannya. Dan aku pun tidak perlu khawatir.”

“Apa maksudmu dengan kau tidak perlu khawatir?” Tanya Erika.

“Maksudku, aku kenal kalian berdua, dan aku akan merasa lebih baik jika kamu kencan dengan dia ketimbang dengan lelaki yang tidak kukenal.”

Erika menatap Kitaru seolah-olah dia tidak percaya yang dibicarakannya. Akhirnya, dia berkata. “Jadi kau mengatakan bahwa aku boleh pacaran dengan lelaki lain asalkan itu Tanimura-kun ini? Kamu serius menyarankan kami berpacaran, berkencan?”

“Hei, ini bukan ide yang buruk, kan? Atau apakah kamu sudah pacaran dengan pria lain?”

“Tidak, tidak ada orang lain,” kata Erika dengan suara tenang.

“Lalu kenapa tak pacaran saja dengannya? Ini bisa dibilang sebuah pertukaran budaya.”

“Pertukaran budaya,” ulang Erika. Dia menatapku.

Aku pikir apapun yang aku katakan tak akan membantu, jadi aku diam saja. Aku memegang sendok kopi di tanganku, mengamati desainnya, seperti seorang kurator museum yang sedang meneliti artefak dari makam Mesir.

“Pertukaran budaya? Apa artinya itu?” Tanyanya kepada Kitaru.

“Seperti, mencari sudut pandang baru tentunya bukan sesuatu yang buruk bagi kita. . . ”

“Itu maksudmu tentang pertukaran budaya?”

“Ya, yang kumaksud adalah. . . ”

“Baiklah,” kata Erika Kuritani tegas. Jika ada pensil di dekatku, aku mungkin akan mengambilnya dan membelahnya menjadi dua. “Jika kau pikir kita harus melakukannya, Aki-kun, maka baiklah. Mari kita melakukan pertukaran budaya.”

Dia meneguk teh, mengembalikan cangkir ke tatakannya lagi, menoleh padaku, dan tersenyum. “Karena Aki-kun sendiri yang bilang kita boleh melakukan ini, Tanimura-kun, mari kita pergi kencan. Kedengarannya menyenangkan. Kapan kamu punya waktu lenggang?”

Aku tidak bisa bicara. Tidak mampu menemukan kata yang tepat pada saat yang penting adalah salah satu dari banyak masalah yang kupunya.

Erika mengambil catatan dengan sampul merah dari tasnya, membukanya, dan memeriksa jadwalnya. “Bagaimana kalau Sabtu ini?” Tanyanya.

“Aku belum punya agenda,” kataku.

“Sabtu ini kalau begitu. Kemana kita akan pergi?”

“Dia suka film,” ucap Kitaru padanya. “Cita-citanya ingin menulis skenario suatu hari nanti.”

“Kalau begitu kita pergi nonton film. Apa film yang harus kita lihat? Aku akan membiarkanmu yang memutuskan, Tanimura-kun. Aku tidak suka film horor, jadi apapun selain itu, aku bakal setuju.”

“Dia benar-benar penakut,” kata Kitaru kepadaku. “Saat kami masih kecil dan pergi ke rumah hantu di Korakuen, dia memegang tanganku dan-”

“Setelah nonton mari kita makan bersama-sama,” kata Erika, memotong ucapannya. Dia kemudian menulis nomor teleponnya di selembar buku catatannya dan memberikannya padaku. “Jika kamu sudah memutuskan waktu dan tempatnya, bisakah kau meneleponku?”

Aku tidak memiliki telepon saat itu (ini sebelum ponsel banyak seperti sekarang), jadi aku memberinya nomor kedai kopi tempat Kitaru dan aku bekerja. Aku melirik jam tanganku.

“Aku minta maaf karena aku harus pergi,” kataku, mencoba beramah-tamah sebisaku. “Aku punya tugas yang harus dikumpulkan besok.”

“Apakah tidak bisa menunggu?” tanya Kitaru. “Kita baru saja sampai di sini. Mengapa kau tidak tinggal sehingga kita bisa bicara lagi? Ada toko mie yang enak di sana.”

Erika tidak menyatakan pendapat. Aku menaruh uang untuk kopi di atas meja dan berdiri. “Ini tugas penting,” jelasku, “jadi aku benar-benar tidak bisa menundanya.” Sebenarnya, tugasnya tidak terlalu penting.

“Aku akan meneleponmu besok atau lusa,” kataku pada Erika.

“Aku akan menunggunya,” katanya, senyum yang indah terlihat di bibirnya. Senyum itu bagiku tampak agak terlalu bagus untuk menjadi kenyataan.

Aku meninggalkan kedai kopi dan saat berjalan ke stasiun, aku bertanya-tanya apa sih yang kulakukan. Tenggelam dalam pikiran atas beragam hal yang terus berubah, seperti terlalu memikirkan yang terjadi barusan, adalah salah satu masalah yang selalu menyiksaku.

+

つづく / Bersambung

**********

haruki murakami

Haruki Murakami (村上 春樹, lahir di Kyoto, 12 Januari 1949) adalah penulis Jepang kontemporer yang menggenggam banyak penghargaan di dunia kepenulisan. Ia menulis belasan novel, puluhan cerpen, beberapa buku nonfiksi, dan rajin menerjemahkan karya asing ke Bahasa Jepang. Karya fiksi Murakami seringnya bertema surealistik dan nihilistik, yang ditandai dengan cara pembawaan Franz Kafka lewat tema kesendirian dan pengasingan. Karya-karya pentingnya seperti A Wild Sheep Chase (1982),Norwegian Wood (1987), The Wind-Up Bird Chronicle (1994-1995), Kafka on the Shore (2002), dan 1Q84 (2009–2010).

Berkat kiprahnya yang luar biasa di bidang kepenulisan, Murakami dianggap sebagai tokoh penting dalam sastra posmodern. The Guardian memujinya sebagai salah satu novelis terbesar di dunia yang masih hidup saat hidup.