Bagaimana Rasanya Jadi Ernest Hemingway?

ernest hemingway cat

Debu hasil pertengkaran dahsyat itu telah lama lenyap, dan orang bertanya-tanya apa yang diributkan itu. Dia menerbangkan dirinya ke Paris pada 1920-an, yang merupakan tempat yang tepat saat itu. Dia dengan cerdik mengaitkan diri pada banyak sastrawan berpengaruh dan kemudian belajar bagaimana menjadi seorang selebriti dengan bergaul bersama para bintang di layar sinema dan corrida, adu banteng. Dia menulis beraneka cerita-cerita pendek bagus dan beragam novel yang melintang dari yang segar dan orisinal sampai biasa-biasa saja hingga sangat buruk — meski The Garden of Eden yang diterbitkan secara anumerta itu sangat bagus, dengan cara yang aneh. Dia memitoskan dirinya sebagai Novelis Besar Amerika, terlepas dari fakta bahwa tak ada satupun novelnya yang berlatar di Amerika (kecuali To Have and Have Not, sebuah karya minor) dan dia bisa dibilang terbaik dalam medium cerpennya. Di kemudian hari, dia terjerembab pada depresi, alkoholisme, paranoia, dan delusi maniak, dan akhirnya bunuh diri. Paling-paling, sebagian besar hidupnya adalah soal melewati kemasyuran ketenaran—atau begitulah yang orang pikirkan—namun legenda ini terus hidup, sama tahan banting seperti sebelumnya. Bagaimana mengatasinya?

Baca Selengkapnya

Buku Selalu Berbahaya

reading book
header_Don-quixote-PAR290525
Andalucia, Spain, 1971. Foto oleh Guy Le Querrec/Magnum.

Di universitas-universitas di seluruh dunia, para siswa mengklaim bahwa membaca buku dapat meresahkan mereka hingga menjadi depresi, trauma, atau bahkan bunuh diri. Beberapa berpendapat bahwa novel Virginia Woolf Mrs Dalloway (1925), yang di dalamnya ada bunuh diri, dapat memicu pemikiran bunuh diri di antara mereka yang cenderung melukai diri sendiri. Yang lain bersikeras bahwa The Great Gatsby (1925) karya Scott Fitzgerald, dengan arus terpendam soal kekerasan pasangan, mungkin memicu ingatan menyakitkan tentang pelecehan dalam rumah tangga. Bahkan teks-teks klasik kuno, para siswa berpendapat, bisa berbahaya: di Universitas Columbia di New York, para aktivis mahasiswa menuntut agar peringatan dilampirkan pada Metamorphoses milik Ovid dengan alasan bahwa ‘penggambaran gamblang tentang perkosaan’ mungkin memicu perasaan tidak aman dan kerentanan di kalangan beberapa siswa tingkat akhir.

Baca Selengkapnya