Kategori
Celotehanku

New Directions: Tetap Kecil dan Berani Menerbitkan

13640744_10153869835053235_166664517288692315_o

80 8th Avenue, New York. Di dalam, ada ruang kerja kecil, sepi, lawas, untuk per orangnya. Ada, dan hanya akan ada, sembilan karyawan. Sebuah pohon ceri tumbuh dalam pot di balkon mungil di luar. Karpet kumal, lorong sempit, sistem pengarsipan yang ketinggalan jaman. Di dinding, tergantung beragam artefak: emblem asli perusahaan itu, bikinan Rockwell Kent; sampul “Nightwood” yang dikerjakan Alvin Lustig; Catatan tulis tangan dari William Carlos Williams; Lukisan dari Henry Miller; Sebuah foto sang pendiri penerbitan ini, yang meninggal pada 1997, dalam pose siluet.

Ada pintu menuju sebuah ruangan kecil, yang kalau dibuka berisi satu salinan dari tiap buku yang pernah diterbitkan di sini sejauh ini, lebih dari seribu tiga ratus buku. Knut Hansum, Jorge Luis Borges, Herman Hesse, Pablo Neruda, Yukio Mishima, Vladimir Nabokov, Osamu Dazai, Jean Paul Sartre, Octavio Paz, Roberto Bolaño, Anne Carson, W. G. Sebald, László Krasznahorkai, Enrique Vila-Matas, daftar para penulis beken ini, pertama kali diterbitkan ke khalayak Amerika Serikat dan pembaca bahasa Inggris oleh penerbit ini.

Berbeda dengan Alfred A. Knopf, New Directions enggak dirancang untuk menjadi firma yang besar dan berpengaruh yang akan jadi properti utama layaknya perusahaan media raksasa. Tetap kecil dan tetap menerbitkan. Jika boleh diibaratkan, New Directions adalah Pustaka Jaya, dengan James Laughlin sebagai Ajip Rosidi sekaligus Ciputra.

“James Laughlin merasa untuk tetap kecil itu penting,” sebut redaktur Declan Spring dalam wawancaranya di Literary Hub. “Kami menjaga staf kami tetap kecil. Kami menahan biaya kami sebanyak mungkin. Pada dasarnya, apa yang ingin kami lakukan adalah menjaga agar perusahaan tetap berjalan. Tujuannya adalah untuk membayar gaji, membayar uang sewa, membayar biaya produksi, membayar penulis, dan memiliki uang di bank sehingga kita dapat terus menerbitkan buku.”

*

Menurut Marcel Proust, satu bukti bahwa kita sedang membaca seorang penulis baru yang hebat adalah bahwa tulisannya langsung mengejutkan kita karena terasa jelek. Hanya penulis ecek-ecek yang menulis dengan indah, karena mereka hanya mencerminkan ulang gagasan praduga kita akan keindahan; kita enggak memiliki masalah untuk memahami apa yang mereka tawarkan, karena kita telah melihatnya berkali-kali sebelumnya.

Bila seorang penulis benar-benar orisinil, kegagalannya untuk tampak indah secara konvensional membuat kita melihatnya, awalnya, sebagai sesuatu yang tak berbentuk, nyeleneh, atau rumit. Setelah kita belajar bagaimana membacanya, kita menyadari bahwa keburukrupaaan tadi benar-benar merupakan keindahan baru yang benar-benar tak terduga dan bahwa apa yang tampak salah dalam tulisannya itulah yang membuatnya hebat.

Sebagai pembaca, saya sering merasakan pengalaman itu ketika membaca buku-buku rilisan New Directions. Karena filosofi New Directions sendiri, yang mengacu pada Laughlin, dalam menerbitkan karya adalah memilih yang berbeda dan baru. Karya avant-garde. Bukan hanya karya yang bakal cepat laris. Lebih menerbitkan karya yang baru akan dibaca dan dihargai duapuluh tahun setelah pertama kali diterbitkannya. Mencari para penulis yang belum ditemukan, enggak dihargai, enggak dikenali.

“Ketika kami pertama kali mempublikasikan [Ezra] Pound, [Tennessee] Williams, Dylan Thomas, Marianne Moore, tidak ada yang tahu siapa mereka,” sebut Spring. “Mereka terlalu aneh dan sulit dimengerti. Sekarang mereka adalah bagian dari kanon sastra.”

*

Pada 1934, setelah tiga semester yang menjemukan di Harvard, James Laughlin mengambil cuti panjang dan melakukan perjalanan di Eropa. Laughlin pergi ke Prancis, bertemu dengan Gertrude Stein dan menemaninya dalam tur otomotif di Prancis selatan dan menulis siaran pers untuk kunjungan Stein yang akan datang ke Amerika Serikat. Stein sendiri merupakan tokoh modernisme terkemuka dalam sastra dan seni, yang menggawangi Lost Generation.

Laughlin lalu melanjutkan ke Italia untuk bertemu dan belajar dengan Ezra Pound. Mondok di “Ezuversity”. Penyair penting dari Lost Generation ini memberi wejangan pada Laughlin, “Kamu tidak akan pernah menjadi seorang penyair yang baik.” Pound menyarankan penerbitan. Lakukan sesuatu yang berguna dengan uangmu, Pound menasihatinya, sehingga meskipun kamu tidak dapat menulis baik, kamu dapat memastikan bahwa karya baik bisa ada di luar sana.

Laughlin sendiri adalah anak konglomerat, pewaris dari perusahaan baja. Namun dia tahu sejak usia dini bahwa dirinya tak berkeinginan masuk ke bisnis keluarga. “Seperti Inferno. . . mengerikan,” komentarnya saat melihat pabrik baja.

nd14_p58_01
Foto: Laughlin muda di penerbitan awal New Directions di Connecticut

Ketika Laughlin kembali ke Harvard, dia menggunakan uang dari ayahnya untuk mendirikan penerbitan yang dia jalankan pertama kali di kamar asramanya. Mengambil nama New Directions, dari perumusan Pound, “Nude Erections”. Kantor kemudian pindah ke sebuah gudang di tanah milik bibinya Leila Laughlin Carlisle di Norfolk, Connecticut. Sampai akhirnya, membuka kantor di New York, pertama di 333 Sixth Avenue untuk kemudian menempati 80 Eighth Avenue, tempatnya sampai sekarang.

Publikasi pertamanya, pada tahun 1936, adalah New Directions in Prose & Poetry, sebuah antologi puisi dan tulisan dari William Carlos Williams, Ezra Pound, Elizabeth Bishop, Henry Miller, Marianne Moore, Wallace Stevens, dan EE. Cummings, serta Laughlin sendiri dengan nama samaran. Sebuah daftar yang menggembar-gemborkan bahwa visi New Directions yang baru berojol ini sebagai penerbit sastra modernis yang terkemuka.

Laughlin punya karisma yang membuat orang mempercayainya. Tentu saja, dia punya uang dan selera hidup yang membuat orang ingin bergaul dengannya. Bisa ditebak, dia juga seorang perayu, menikah tiga kali dan punya banyak kekasih, bahkan operasi prostat tak menghentikannya. Dia memancarkan kepercayaan diri dan antusiasme sejati untuk mencicipi pengalaman baru. Sesuatu yang membuat New Directions mengarah di jalan yang sesuai.

Keputusan Laughlin selalu tepat di setiap perkembangan sastra di Amerika Serikat antara tahun 1940 sampai 1980an. Dia menolak untuk mengambil bagian dalam korporatisasi dan konglomeratisasi penerbitan Amerika, bahkan saat dia melihat temannya Alfred Knopf dan saingannya Roger Straus menyerah. Laughlin selalu menjadi pemilik langsung New Directions dan sahamnya dialihkan ke orang kepercayaannya setelah kematiannya pada 1997.

*

“Tim kami luar biasa,” puji Spring. “Ada Barbara dan Laurie Callahan, yang mengedit Cesar Aira, juga merawat kebun balkon kami, dan menangani begitu banyak masalah keuangan penting kami. Dan kami punya Direktur Perizinan baru yang juga merupakan editor kami yang bernama Chris Wait, dan dua direktur publisitas kami Georgia Phillips-Amos dan Mieke Chew, yang bertemu dengan para pengulas, menyiapkan acara, yang melakukan kerja di toko buku.

“Jeff Clapper melakukan akuntansi kami. Jeffrey Yang adalah seorang editor. Art Director dan Production Manager kami, Erik Rieselbach, sangat hebat dalam berhubungan dengan printer namun juga berfungsi sebagai editor dan perancang buku digital. Dia selalu membikin buku terlihat lebih bagus. Kami juga punya Tynan Kogane. Dia bergabung dengan kami beberapa tahun yang lalu dan sekarang kami sangat bergantung padanya untuk mengedit lebih dari sepertiga buku kami. Dia juga membantu kami mengumpulkan katalog dan memastikan bahwa hak cipta terdaftar. Dengan kata lain, semua orang berkontribusi. Semua orang di sini selalu bersedia membantu yang lain. Kami semua adalah teman.”

New Directions beroperasi sesuai dengan keinginan Laughlin, seperti hanya ada sembilan karyawan dan pembatasan jumlah buku yang diterbitkan tiap tahunnya. Meski ini bukan aturan ketat. “Intinya adalah memastikan bahwa jika New Directions berlanjut, maka akan terus berlanjut sebagai New Directions,” tegas Spring. “Anak-anak James Laughlin memperhatikan dengan seksama apa yang kami lakukan. Kami memiliki banyak aturan bebas dan untungnya semua orang berkomitmen dan mengabdikan diri untuk hal-hal baru dan membuatnya berhasil.”

*

“Itu pembukaan yang hebat. Jika Anda tidak dapat melihatnya dan Anda seorang editor sastra, sebaiknya Anda menembak diri sendiri. Atau maksudku, lakukan yang lain,” bela Barbara Epler ketika ditanya mengapa berani menerbitkan Cantik Itu Luka-nya Eka Kurniawan yang tebal, padahal sang presiden New Directions itu baru baca secuil. Keputusan, yang secara hitung-hitungan bisnis, kurang meyakinkan.

Meskipun sambutannya hangat di Indonesia, menawarkan novel ini pada pembaca Amerika adalah usaha yang sulit. Penulisnya enggak punya gelar M.F.A., enggak punya agen New York, enggak punya karya dalam jurnal atau majalah sastra terkemuka. Intinya, engak punya nilai tawar, seperti yang sering dikatakan di kalangan bisnis.

Hubungan antara seni dan profit sering kali menjengkelkan. Dibanding penulis komersil semacam J. K. Rowling atau George R. R. Martin, yang enggak mungkin diorbitkan New Directions, penulis sastra adalah komoditas esoterik, yang dihargai kecil. ” Tapi apa yang akan bertahan?” tegas Epler seperti dilansir dalam artikel The New Yorker, How Staying Small Helps New Directions Publish Great Book. “Pada akhirnya hanya buku-buku seperti karya Eka, atau László, atau Sebald. Itulah yang akan diingat orang; Itulah yang akan ditulis sejarah.”

Mengutip Roberto Bolano dalam Between Parentheses, yang juga dipacak di laman situs New Directions: Pengecut tak menerbitkan pemberani.

Kategori
Non Fakta

Di Mana Kamu?, Joyce Carol Oates

oates-where-are-you-now

Suami itu punya kebiasaan memanggil istrinya dari suatu tempat di rumah — kalau si istri ada di lantai atas, si suami ada di lantai bawah; jika si istri ada di lantai bawah, si suami ada di lantai atas — dan ketika si istri menjawab, “Ya? Apa?,” si suami akan terus memanggilnya, seolah-olah si suami tidak mendengar dan dengan nada kesabaran yang tegang: “Halo? Halo? Di mana kamu?” Maka si istri tidak punya pilihan selain buru-buru mendekat kepadanya, di mana pun si suami berada, di tempat lain di rumah, di lantai bawah, di lantai atas, di ruang bawah tanah atau di teras luar, di halaman belakang atau di jalan masuk. “Ya?” panggil si istri, berusaha tetap tenang. “Ada apa?” Dan si suami akan memberitahu si istri — keluhan, komentar, pengamatan, pengingat, pertanyaan — dan kemudian, tak begitu lama, si istri akan mendengar si suami memanggil lagi dengan urgensi lainnya, “Halo? Halo? Di mana kamu?,” dan si istri akan memanggil balik, “Ya? Ada apa?,” mencoba untuk menentukan di mana si suami berada. Si suami akan terus memanggil, tidak mendengar si istri, karena si suami tidak suka memakai alat bantu dengar di sekitar rumah, di mana hanya ada si istri yang didengar. Si suami mengeluh bahwa perangkat plastik mungil berbentuk siput itu menyakiti telinganya, telinga bagian dalam yang lembut memerah dan bahkan berdarah, dan si suami akan memanggil, dengan kekanak-kanakan, “Halo? Di mana kamu?”—karena wanita itu selalu pergi ke suatu tempat di luar jangkauan pendengaran si suami, dan ia tidak pernah tahu di mana si istri berada atau apa yang dilakukannya; kadang-kadang, si istri sangat jengkel pada si suami — sampai akhirnya si istri menyerah dan kehabisan nafas untuk mencarinya, dan ketika si suami melihat si istri, dia berkata dengan mencela, “Di mana kamu? Aku khawatir padamu ketika kamu tak menjawab.” Dan si istri berkata, tertawa, mencoba tertawa, meskipun tidak ada yang lucu, “Tapi aku selalu di sini!” Dan si suami menimpali, “Tidak, kau tidak ada. Kau tidak ada. Aku ada di sini, dan kau tidak ada di sini.” Dan kemudian pada hari itu, setelah makan siang dan sebelum tidur siangnya, kecuali sebelum makan siang dan setelah tidur siang, si istri mendengar suaminya memanggilnya, “Halo? Halo? Di mana kamu?,” dan pikiran itu datang kepadanya, Tidak. Aku akan bersembunyi darinya. Tapi si istri tidak akan melakukan hal yang kekanak-kanakan seperti itu. Sebaliknya dia berdiri di tangga dan menangkupkan tangan ke mulutnya dan memanggilnya, “Aku di sini. Aku selalu di sini. Di mana lagi aku akan berada?” Tetapi suaminya tidak dapat mendengarnya dan terus memanggil, “Halo? Halo? Di mana kamu?,” sampai akhirnya si istri berteriak, “Apa yang kamu inginkan? Aku sudah beritahu kamu, aku ada di sini.” Tetapi suaminya tidak dapat mendengar dan terus memanggil, “Halo? Di mana kamu? Halo!,” dan akhirnya si istri tidak punya pilihan selain menyerah, karena sang suami terdengar kesal dan marah dan cemas. Turun tangga, si istri tersandung dan jatuh, jatuh keras, dan lehernya patah dalam sekejap, dan dia meninggal di kaki tangga, sementara di salah satu kamar di lantai bawah, atau mungkin di ruang bawah tanah, atau di teras di bagian belakang rumah, si suami terus memanggil, dengan suatu desakan, “Halo? Halo? Di mana kamu?”

*

Diterjemahkan dari cerpen Where Are You? karangan Joyce Carol Oates yang terbit di The New Yorker. Joyce Carol Oates adalah seorang penulis Amerika. Oates menerbitkan buku pertamanya pada tahun 1962 dan sejak itu menerbitkan lebih dari 40 novel, serta sejumlah drama dan novel, dan banyak volume cerita pendek, puisi, dan nonfiksi.

Kategori
Catutan Pinggir

Han Kang dan Keruwetan Penerjemahan

dtpao7mv4aeqpuc

Harus seberapa literalkah sebuah terjemahan sastra? Nabokov, yang fasih dalam tiga bahasa dan menulis dalam dua bahasa diantaranya, percaya bahwa “terjemahan literal paling kasar seribu kali lebih bermanfaat daripada parafrase tercantik.” Borges, di sisi lain, berpendapat bahwa seorang penerjemah harus berusaha untuk tidak menyalin sebuah teks melainkan untuk mengubah dan memperkayanya. “Terjemahan adalah sebuah tahap peradaban yang lebih maju,” Borges menuntut — atau, tergantung pada terjemahan yang Anda temukan, “sebuah tahap penulisan yang lebih maju.” (Dia menulis kalimat ini dalam bahasa Prancis, satu dari beberapa bahasa yang dia kuasai.)

Pada tahun 2016, “The Vegetarian” menjadi novel dari bahasa Korea pertama yang memenangkan Man Booker International Prize, yang diberikan kepada baik penulisnya, Han Kang, dan penerjemahnya, Deborah Smith. Dalam skena berbahasa Inggris, Smith, siswa Ph.D berusia dua puluh delapan yang mulai belajar bahasa Korea enam tahun sebelumnya, dipuji secara luas karena hasil kerjannya. Namun, di media Korea, meski dengan rasa kebanggaan nasional yang menyertai kemenangan Han — belum termasuk lonjakan dua puluh kali lipat cetakan salinan buku, yang merupakan suatu keberhasilan cemerlang ketimbang publikasi awalnya, pada tahun 2007 — segera dibayangi oleh tuduhan terjemahan yang salah. Meskipun Han telah membaca dan menyetujui terjemahan tersebut, Huffington Post Korea menegaskan bahwa hal tersebut benar-benar “tidak tepat sasaran.” Smith membela diri di Seoul International Book Fair, dengan mengatakan, “Saya hanya akan membenarkan diri saya sebuah ketidaksetiaan demi mencapai kesetiaan yang lebih besar.”

Kontroversi tersebut sampai ke banyak pembaca Amerika pada bulan September tahun lalu, ketika Los Angeles Times merilis sebuah tulisan oleh Charse Yun, seorang Korea-Amerika yang mengajar mata kuliah terjemahan di Seoul. (Artikel tersebut merupakan argumen tambahan yang Yun pertama kali tulis, pada bulan Juli, di majalah online Korea Exposé.) “Smith mengeraskan gaya kalem Han yang sederhana dan menyerakkan dengan kata keterangan, kata-kata superlatif dan pilihan kata-kata lain yang tidak ada di tempat aslinya,” tulis Yun. “Ini tidak hanya terjadi satu atau dua kali, tapi di hampir setiap halaman lainnya.” Sepertinya Raymond Carver dibuat terdengar seperti Charles Dickens, dia menambahkan. Hal ini, menurut Yun, bukan hanya masalah akurasi tapi juga keterbacaan budaya. Korea memiliki tradisi sastra yang kaya dan beragam — dan sebuah sejarah baru-baru ini yang terkait erat dengan Barat, terutama Amerika Serikat. Tapi hanya beberapa karya sastra Korea yang berhasil dalam skena berbahasa Inggris, dan negara ini, meskipun sering muncul di headline-headline Amerika, tidak terdaftar dalam imajinasi populer seperti yang dilakukan oleh tetangganya China dan Jepang yang  sudah lebih kuat. Han Kang sepertinya mengisi kekosongan itu — atau setidaknya, yang memulainya. Tapi jika kesuksesannya bergantung pada kesalahan terjemahan, benar-benar berhasilkah itu?

*

hankangveg-1

“The Vegetarian” strukturnya seperti dongeng. Berpusat pada penghancuran diri yang jelas dari satu tubuh manusia. Badan itu milik seorang ibu rumah tangga bernama Yeong-hye, yang digambarkan oleh suaminya, Pak Cheong, “sama sekali tidak biasa dalam segala hal.” Bagi Pak Cheong, yang “selalu condong ke jalan tengah dalam hidup,” ini adalah bagian dari daya tariknya. “Kepribadian pasif wanita ini yang tidak bisa aku rasakan kesegaran dan pesonanya, atau apapun yang bisa disebut sempurna, membuat aku kesal,” katanya. Tapi ada satu hal yang diketahui Pak Cheong tentang dirinya: Yeong-hye benci memakai bra — dia bilang bra meremas payudaranya. Dia menolak untuk memakainya, bahkan di depan umum, bahkan di depan teman suaminya, meskipun, katanya, dia tidak memiliki semacam “payudara indah yang mungkin sesuai dengan ‘penampilan tanpa bra’.” Pak Cheong menganggap ini memalukan.

Suatu pagi, Pak Cheong mendapati istrinya membuang daging yang ada di kulkas mereka. Yeong-hye telah menjadi vegetarian, dia mengatakan kepadanya, karena dia “bermimpi.” Sebelumnya, dia bisa memikirkan istrinya “sebagai orang asing. . . seseorang yang menaruh makanan di atas meja dan menjaga rumah agar tetap baik.” Sekarang Pak Cheong merasa malu dan dikhianati. Akhirnya, Pak Cheong terangsang oleh kebodohannya, dan dia mulai memaksakan dirinya pada Yeong-hye. Kalah kuat, Yeong-hye menyerah. Reaksi Yeong-hye yang sunyi redam membangkitkan, bagi Pak Cheong, gambaran dari masa lalu Korea sebagai negara yang terjajah: “seolah-olah dia adalah ‘wanita penghibur’ yang diseret bukan karena kehendaknya, dan aku adalah tentara Jepang yang menuntut jasanya.”

Keputusan Yeong-hye untuk tidak makan daging diterima sebagai celaan yang mengerikan oleh seluruh keluarganya, terutama ayahnya, veteran Perang Vietnam yang tendensi kekerasannya menunjukkan trauma di medan perang. (Lebih dari tiga ratus ribu orang Korea bertugas bersama tentara Amerika dalam konflik itu.) Saat acara makan keluarga, diatur sebagai semacam intervensi, dia mencoba untuk mendorong sepotong daging babi asam-manis ke bawah tenggorokan putrinya. Sebagai tanggapan, Yeong-hye mengiris pergelangan tangannya saat seluruh keluarga menyaksikan dengan ngeri. Akhirnya, Yeong-hye dirumahsakitkan.

Menjelang akhir buku, adik Yeong-hye yang tampak lebih konvensional, In-hye, mengunjunginya di rumah sakit. Tiga tahun telah berlalu sejak makan acara malam keluarga, dan In-hye mulai menyadari bahwa perannya sebagai “anak sulung yang bekerja keras, mengorbankan diri sendiri telah menjadi sebuah tanda, bukan kedewasaan melainkan kepengecutan. Itu adalah taktik bertahan hidup.” Di rumah sakit, Yeong-hye telah lisut sampai enam puluh enam pound. Menolak untuk berbicara atau menerima makanan dalam bentuk apapun, dia telah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mencoba meniru sebuah pohon: berdiri dengan satu tangan dan berjemur di bawah sinar matahari. Han Kang mengatakan kalau karakter Yeong-hye terinspirasi oleh sebuah baris puisi dari Yi Sang, seorang penyair modernis pada awal abad ke-20 yang sangat disensor di bawah pemerintahan Jepang, dan yang karyanya mendedah kekerasan dan agitasi imperialisme. Yi menggambarkan penarikan diri katatonik sebagai gejala penindasan. “Aku percaya bahwa manusia harusnya tanaman,” tulisnya.

Jika Yi labas dengan trauma kolektif kolonialisme, Han memusatkan perhatian pada penderitaan yang lebih intim dan bersifat pribadi. Tapi tulisannya juga berakar pada sejarah Korea. Hal ini, menurut Charse Yun, adalah risiko tersesat dalam terjemahan. Salah satu alasan mengapa “banyak pembaca Barat menemukan begitu banyak fiksi kontemporer Korea yang tidak menyenangkan,” tulisnya, adalah karena kepasifan naratornya. Smith, bagaimanapun, menekankan “konflik dan ketegangan,” membuat karya Han lebih menarik perhatian pembaca Barat ketimbang penafsiran yang setia. Ketika Yeong-hye mengabaikan sebuah pertanyaan dari suaminya, misalnya, dia mengatakan bahwa “as if she hadn’t heard me (seolah-olah dia tidak mendengarku),” dalam terjemahan Yun secara harfiah dari bagian tersebut. Dalam versi Smith, suaminya menegaskan bahwa dia “perfectly oblivious to my repeated interrogation (sangat tidak menyadari interogasi berulangku).”

Namun apa yang membuat Yeong-hye jadi karakter yang berpengaruh bukanlah masalah agresi yang ditingkat-tingkatkan atau perjuangan yang dilebih-lebihkan. “The Vegetarian” berbunyi sebagai perumpamaan tentang perlawanan yang tenang dan konsekuensinya; Ini juga merupakan permenungan tentang budaya Korea, pertanyaan tentang tindakan dan kesesuaian memiliki resonansi tertentu. Inilah pertanyaan di jantung karya Han.

*

Han Kang lahir pada tahun 1970 di Gwangju, sebuah kota provinsi di dekat ujung Semenanjung Korea dengan populasi, pada saat itu, sekitar enam ratus ribu. Ayahnya, Han Seung-won, adalah seorang novelis yang terkenal dan penerima banyak penghargaan sastra. (Dalam dekade terakhir, Han telah memenangkan banyak hadiah yang sama.) Kedua saudara laki-laki Han juga penulis. Ayahnya adalah seorang guru sekaligus penulis, dan keluarganya sering pindah untuk pekerjaannya. Saat masih kecil, Han masuk lima sekolah dasar yang berbeda, dan dia mencari keteguhan dalam buku.

Keluarga tersebut meninggalkan Gwangju, ke Seoul, pada tahun 1980, ketika Han berusia sepuluh tahun, tak lama setelah Chun Doo-hwan, seorang jenderal yang dijuluki Penjagal, merebut kekuasaan dalam sebuah kudeta dan mengumumkan darurat militer. Demonstrasi mahasiswa yang damai di Gwangju dipenuhi dengan kekerasan: tentara menembak, mengintai, dan memukul pemrotes dan orang biasa. Sebuah milisi sipil, terdiri dari mahasiswa dan pekerja, mengambil senjata dari kantor polisi setempat dan memaksa tentara tersebut untuk sementara menyerah di pinggiran kota. Peristiwa ini, yang sering dibandingkan dengan pembantaian Lapangan Tiananmen di China, berlangsung sembilan hari; Setidaknya dua ratus, jika tidak dua ribu orang meninggal (perkiraan pemerintah kira-kira sepuluh kali lipat lebih sedikit daripada angka tak resmi). Meskipun keluarga Han tidak mengalami kerugian pribadi dalam pembantaian tersebut, nama kota kelahirannya baginya menjadi sebuah metonim untuk “semua yang telah dimutilasi tidak dapat diperbaiki lagi.”

“Human Acts,” novel terbaru Han, yang juga diterjemahkan oleh Smith, menceritakan tentang pembantaian tersebut. Ini dimulai dengan seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun, Dong-ho, menunggu badai hujan dan kedatangan kembali militer, yang telah memenuhi kotanya dengan mayat dan memisahkannya dari sahabatnya. Dong-ho pergi mencari temannya tapi direkrut oleh demonstran untuk menulis katalog mayat yang ditempatkan di gedung pemerintah daerah. (Kamar mayat rumah sakit sudah penuh.) Di sana anak laki-laki itu menemukan serangan metodologis kematian terhadap daging — luka yang terbuka adalah yang pertama membusuk dan bagaimana jari kaki “membengkak seperti umbi jahe tebal” ke dalam warna hitam yang paling mengerikan.

human-acts

Alunan lagu kebangsaan Korea Selatan secara berkala mengiang ke dalam bangunan; Hal itu dinyanyikan saat upacara pemakaman digelar di luar. Ketika Dong-ho bertanya mengapa para pelayat menyanyikan lagu kebangsaan — “Seakan bukan negara itu sendiri yang telah membunuh mereka” — yang lain bereaksi dengan terkejut. “Tapi para jenderal adalah pemberontak, mereka menangkap kekuasaan secara tidak sah,” seseorang menanggapi. “Tentara rendahan mengikuti perintah atasan mereka. Bagaimana kau bisa menyebut mereka sebagai sebuah negara?” Dong-ho menyadari bahwa pertanyaan yang benar-benar ingin dia tanyakan jauh lebih besar, dan lebih abstrak, atau mungkin ini adalah seikat pertanyaan, tentang persistensi kekejaman dan makna kebebasan. Penulis menggemakan kesadaran In-hye, dalam “The Vegetarian,” bahwa kelangsungan hidupnya bukanlah sebuah kemenangan melainkan kebalikannya, karena telah mengorbankan martabatnya.

Di bab keempat, setelah militer merebut kembali Gwangju, Dong-ho, yang mengangkat tangan sebagai tanda menyerah, ditembak dan dibunuh oleh tentara. Masing-masing bab novel berfokus pada seseorang yang terpengaruh oleh kehidupan singkat Dong-ho: siswa sekolah menengah atas yang tumbuh menjadi editor yang bertugas menyensor fakta pembantaian; sarjana yang menjadi tahanan politik yang pada akhirnya melakukan bunuh diri; gadis pabrik yang menjadi aktivis buruh; Ibu Dong-ho, yang terus dihantui setiap hari, dengan kematian anaknya. Percobaan buku secara banglas dengan narasi sudut pandang orang kedua, dan Han bermain dengan “kamu” di dalamnya, menulis pembaca dan melibatkan kita di dalam reruntuhan.

Bab yang paling mencolok dari buku ini adalah “The Boy’s Friend, 1980,” yang berpusat pada Jeong-dae, teman sekelas Dong-ho yang ditembak mati saat kedua anak laki-laki itu keluar untuk menonton kerumunan. Dong-ho berjongkok di bawah bayang-bayang bangunan, mengamati kaki temannya berkedut saat upaya penyelamatan menyebabkan pembunuhan orang lain, dan akhirnya, saat tentara menyeret jasadnya. Kisah Jeong-dae diceritakan oleh rohnya, yang tertambat ke jasadnya yang masih mengalirkan darah di dasar mayat-mayat yang terus menggunung, seperti balon layu yang tertangkap di dahan pohon. Sementara Dong-ho mengajarkan kita bahasa mayat, Jeong-dae menjelaskan perjuangan jiwa karena memahami kematian tubuhnya. Jiwa yang saling menyentuh tapi tidak bisa terhubung digambarkan sebagai “nyala api menyedihkan yang menjilati dinding kaca yang licin tanpa banyak kata, terlepas dari penghalang apa pun yang ada di sana.”

Tidak seperti Dong-ho, yang mencoba menahan ingatannya, menguburnya karena malu, Jeong-dae mencari perlindungan di masa lalunya sebagai cara untuk menghindari penglihatan mayatnya yang hancur. Dalam buku Han, mereka yang menjauhkan diri dari sejarah mereka ditakdirkan untuk menjalani kehidupan yang nilainya hampir tidak lebih dari sekedar kematian. Karakter yang memeluk kengerian mereka sendiri setidaknya memiliki harapan kebebasan. Membongkar cerita kenangan seperti itu sangat menyakitkan, tapi ada juga bantuan dalam diagnosis luka tersebut.

Dalam sebuah esai tentang menerjemahkan “Human Acts,” yang diterbitkan di majalah online Asymptote, Deborah Smith menjelaskan saat membaca karya Han “ditangkap oleh gambaran tajam yang muncul dari teks meski tanpa dijelaskan secara langsung di sana.” Dia mengutip beberapa “penambahan kadang-kadang”-nya, termasuk ungkapan yang mencolok “sad flames licking up against a smooth wall of glass (nyala api yang menyedihkan menjilat dinding kaca yang halus).” Charse Yun, dalam esainya tentang “The Vegetarian,” menyatakan kekagumannya pada karya Smith namun berpendapat bahwa ini adalah “ciptaan baru.” Smith berkeras bahwa ungkapan yang dia tambahkan adalah gambar “yang sangat kuat ditimbulkan oleh orang Korea sehingga terkadang saya menemukan diri saya mencari teks asli dengan sia-sia, yakin bahwa mereka ada di sana, seperti yang gamblang bagaikan itu sudah ada di kepala saya.”

Ini bukan apa yang biasanya dimaksud dengan terjemahan. Orang bisa membandingkannya dengan karya kolaboratif seorang penulis dan editor; Han telah mengatakan bahwa prosesnya, untuknya dan Smith, saling melibatkan secara timbal balik, “seperti mengobrol tanpa henti.” Ruang gerak dari “imitasi” puitiknya Robert Lowell muncul ke permukaan. (Yun mengutip “Cathay”-nya Ezra Pound.) Namun apa yang Smith jelaskan adalah efek yang diharapkan oleh setiap penulis untuk merayu pembacanya: perasaan begitu mendalam sehingga seolah-olah dia telah menyerap teks itu ke dalam pengalamannya sendiri. Hal ini juga nampak sangat selaras dengan tujuan Han sebagai penulis. Pada tahun 2015, Han menulis tentang sebuah lokakarya terjemahan yang dia hadiri di Inggris, di mana Smith dan yang lainnya berusaha mengubah salah satu ceritanya dari bahasa Korea menjadi bahasa Inggris. Dalam sebuah esai tentang pengalaman itu, Han menggambarkan sebuah mimpi yang dia miliki saat dia berada di sana. “Seseorang terbaring di tempat tidur putih, dan saya diam-diam mengawasinya,” tulisnya. (Esai itu juga diterjemahkan oleh Smith.) Meskipun wajah itu tertutup oleh selimut putih, dia bisa mendengar apa yang orang itu katakan. “Saya harus bangun sekarang. . . Tidak, itu terlalu datar.” Lalu “Saya benar-benar harus bangun sekarang. . . Tidak, itu terlalu hambar.” Dan: “Saya harus meninggalkan tempat tidur ini. . . Tidak, itu aneh.” Terjemahan yang bagus, alam bawah sadar Han tampaknya menyarankan, adalah sesuatu yang hidup dan bernapas, yang harus dipahami dengan persyaratannya sendiri, ditemukan dari balik lembaran putih itu. Han ingat, “Di sesi pagi itu, semua orang senang mendengar mimpi saya. (Saya menyadari bahwa ada kemungkinan mimpi buruk seseorang membuat banyak orang bahagia.)”

*

“Human Acts” diakhiri dengan sebuah bab berjudul “The Writer, 2013,” yaitu tentang Han. (Buku ini terbit di Korea Selatan pada tahun berikutnya). Di dalamnya, kita belajar bahwa Dong-ho adalah orang yang nyata, yang hidupnya tumpang tindih dengan Han dengan cara yang tak terhapuskan. Dalam sebuah wawancara di tahun 2016, Han mengatakan bahwa menulis tentang Jeong-dae dan Dong-ho sangat menyiksa sehingga dia seringnya hanya menghasilkan sedikitnya tiga atau empat baris dalam sehari. Untuk menulis tentang pembantaian Gwangju, dia menjelaskan dalam buku ini, dia telah merencanakan untuk memilah-milah dokumen sejarah, tapi dia mendapati dirinya tidak dapat melanjutkan, “karena mimpi-mimpi itu.” Salah satunya, dia mendapat berita tentang eksekusi massal itu yang dia sendiri tak memiliki kuasa untuk menghentikannya. Di mimpi lain, dia diberi mesin waktu, dan segera mencoba mengangkut dirinya ke 18 Mei 1980. Mungkin ini adalah harapan dari setiap penulis untuk memiliki alam bawah sadar yang terikat erat dengan pekerjaannya, tapi mimpi Han — di mana karakter muncul, seperti jika “through the heart of a guttering flame (melalui pusat sebuah nyala api yang goyah),” seperti yang dia katakan dalam wawancara, yang juga diterjemahkan oleh Smith — adalah pekerjaan yang menguras keringat, interogasi yang diarahkan sendiri di mana dia menjadi korban dan penjahat sekaligus. Kengerian itu mungkin berbeda untuk Han dan Yeong-hye, tapi mereka berasal dari tempat gelap yang sama, di mana kenangan akan kebrutalan bertahan, dan menjalani kehidupan fantasmagorik mereka sendiri.

Pada bulan Oktober, Han menulis sebuah Op-Ed untuk Times tentang menonton berita, dari Seoul, saat Korea Utara dan Amerika Serikat terlibat dalam bencana diplomatik yang berpotensi menghancurkan. “Sesekali, orang asing melaporkan bahwa warga Korea Selatan memiliki sikap misterius terhadap Korea Utara,” tulisnya. “Meskipun seluruh dunia menyaksikan Utara dalam ketakutan, orang Korea Selatan tampak sangat tenang.” Tapi itu hanya permukaannya, Han menegaskan: “Ketegangan dan teror yang telah terakumulasi selama beberapa dekade telah menggali jauh di dalam diri kita dan menunjukkan dirinya sendiri dalam kilatan singkat.” Bagi Han, proyek penulisannya adalah, seperti terjemahan, semacam penggalian: dia harus menggali kembali perasaan terkubur ini, dan mengembalikan rasa tindakan kepada karakter fiktifnya dan kepada orang-orang yang hidupnya menginspirasi mereka.

Dalam “The White Book”, sebuah karya baru yang diterjemahkan oleh Smith dan diterbitkan di Inggris pada bulan November, Han merefleksikan rasa sakit ibunya saat kehilangan seorang bayi perempuan dan merenungkan ritual berkabung. Warna putih berfungsi sebagai simbol kematian, kesedihan, kelahiran, dan penciptaan artistik; Han meninggalkan beberapa halaman di buku itu kosong. (Orang mengira-ngira soal mimpi buruknya tentang terjemahan, di mana selembar kain putih melontarkan ungkapan-ungkapan yang sedang dia coba untuk mendapatkan yang benar.) Dia ingin agar dia menulis untuk “mengubah, menjadi semacam salep putih yang dioleskan pada pembengkakan, seperti kain kasa yang diletakkan di atas luka,” dia menjelaskan yang terpenting, dia perlu menulis tentang rasa sakit karena kematian kakaknya, karena “bersembunyi tidak dimungkinkan.”

Pada bulan Maret, Presiden Korea Selatan, Park Geun-hye — yang ayahnya, orang kuat militer Park Chung-hee, adalah Presiden selama Perang Vietnam, dan dibunuh beberapa bulan sebelum kudeta tahun 1980 — digulingkan karena kolusi. Skandal tersebut membuat Amerika terserang. Dalam Op-Ed Han di Times, dia mengingat serangkaian demonstrasi yang dia ambil bagian di musim dingin yang lalu, sebelum Park muda meninggalkan kantornya. Itu adalah salah satu demonstrasi warga negara terbesar dalam sejarah Korea. Para pemrotes meniup lilin untuk melambangkan kegelapan yang meliputi. “Kami hanya ingin mengubah masyarakat melalui alat lilin yang tenang dan damai,” tulis Han. Ini adalah isyarat yang bisa dipinjam dari imajinasi Han, atau dari mimpinya. Api adalah hal yang fana dan rapuh yang sekaligus bisa mengingatkan orang mati dan menerangi jalan bagi orang hidup.

***

Diterjemahkan dari artikel The New Yorker berjudul Han Kang and the Complexity of Translation.

Kategori
Celotehanku

Bocah Dunia Ketiga yang Menyuntuki Penulis Kulit Putih

Kurt Vonnegut on Man-Eating Lampreys - Blank on Blank - YouTube.MP4_snapshot_03.23_[2017.08.31_14.35.44]

Perempuan itu mendapat surat dari kepala redaksi Alfred Knopf, berisi pujian atas cerpennya dan berharap bakal menerbitkan novelnya suatu saat, tulisnya dalam jurnal hariaannya, yang dimampatkan dalam buku berjudul The Unabridged Journals of Sylvia Plath. Saya menutup aplikasi pembaca ebook, membuka Twitter. Linimasa ramai, mengalir tanpa jeda. Menggulirkan sampai bawah, saya menandai sebuah tautan artikel dari Jacobin, media kiri Amerika, soal krisis Katalunya dan satu dari Literary Hub tentang surat kebencian William S. Burroughs buat Truman Capote. Entah kapan saya bakal buka dan bacanya. Saya buka kembali ebook, mengkhatamkan On the Heights of Despair yang menyisakan beberapa fragmen. Sebuah karya pertama seorang pemikir asal Romania, Emil Cioran, yang dikenal karena filosofinya yang begitu ultra-pesimis dan gelap. Semuanya nonsens, tulisnya menghabisi. Saya membuka Instagram, menonton beberapa Stories. Saya kembali baca, kali ini dua puisi Allen Ginsberg dalam Reality Sandwiches. Sampai sekarang, saya belum ngeh cara baca puisi. Tapi beberapa kali saya bisa menikmati, salah satunya dari Ginsberg sang pupuhu Beat Generation ini. Saya beralih ke Homage to Catalonia. George Orwell yang sebelumnya tertembak fasis saat patroli di garis depan, masih menjalani perawatan di Barcelona. Orwell bergabung di pasukan milisi untuk melawan Franco.

Cuma ada sendok dalam gelas, seluruh Indocafe telah meluncur masuk abdomen. Desing motor yang hilir mudik di jalanan depan rumah dan ceramah dari TVOne yang disetel mamah di ruang tengah samar-samar saling beradu. Ada hal-hal penting dan enggak penting terjadi, mengapa saya membaca? Saya teringat artikel dalam The New Yorker yang berjudul “Can Reading Make You Happier?“. Pada era sekuler, membaca, terutama fiksi, adalah salah satu dari sedikit jalan yang tersisa menuju transendensi, keadaan sulit dipahami di mana jarak antara diri dan alam semesta menyusut. Membaca membuat kita kehilangan semua rasa sadar diri, tapi pada saat bersamaan membuat kita merasa semacam keunikan tersendiri. Membaca telah terbukti membuat otak kita menjadi keadaan trance yang menyenangkan, serupa dengan meditasi, dan membawa manfaat kesehatan yang sama seperti relaksasi dan ketenangan batin. Seperti yang ditulis Virginia Woolf, seorang pembaca yang paling tangguh, bahwa sebuah buku “memisahkan kita menjadi dua bagian saat kita sedang membaca,” karena “keadaan membaca terdiri dari penghapusan ego secara total,” sambil menjanjikan “persatuan abadi” dengan pikiran lain.

Sebagian mungkin benar. Namun, saya enggak terlalu percaya optimisme kacangan bahwa membaca bakal mendatangkan semacam benefit yang wah. Ya, membaca memang ada manfaatnya, sekaligus enggak ada. Tidak ada argumen, tegas Cioran. Bisakah orang yang telah mencapai batas terganggu argumen, sebab, akibat, pertimbangan moral, dan sebagainya? Tentu saja tidak. Bagi orang seperti itu hanya ada motif hidup yang tanpa motivasi. Di puncak keputusasaan, hasrat untuk tidak masuk akal adalah satu-satunya hal yang masih bisa menimbulkan cahaya atas kekacauan. Bila semua alasan saat ini – moral, estetika, religius, sosial, dan sebagainya – tidak lagi membimbing hidup seseorang, bagaimana seseorang dapat mempertahankan hidup tanpa menyerah pada ketiadaan? Hanya dengan hubungan yang tidak masuk akal, dengan cinta tanpa harapan, mencintai sesuatu yang tidak memiliki substansi tapi hanya mensimulasikan ilusi kehidupan. Alasan saya terus membaca, seperti alasan saya untuk terus hidup, yakni menjalaninya dengan tanpa alasan. Sebenarnya, karena sedang menggeluti praktek menulis, ini jadi alasan oportunis kenapa saya terus membaca – saat selesai membereskan satu buku kemudian memperbarui Goodreads, ada perasaan keahlian menulis saya, seperti dalam permainan video, ikut meningkat, dan saya tahu ini cuma ilusi. Yang pasti, sebuah buku, sebut Cioran, adalah bunuh diri yang ditunda.

Tentu saja, pemahaman saya akan terus berubah, baik karena beragam bacaan lainnya, atau karena menua dan enggak bakal ambil pusing. Yang jadi persoalan adalah bahwa bacaan-bacaan saya berasal dari para kulit putih, yang berasal dari dunia pertama. Penyebab praktisnya, karena mereka mudah didapatkan, andai saja koleksi lengkap semacam Pram atau Utuy T. Sontani bisa ditemukan dalam torrent. Tapi bukan cuma itu, mereka, para penulis kulit putih itu, yang tinggal di pusat-pusat peradaban dunia, secara aneh selalu berhasil menyuarakan apa yang saya pikirkan. Itu mungkin sebabnya mereka disebut penulis kanon. Lagipula, sebenarnya apa masalahnya seorang dari dunia ketiga membaca mereka? Soal nasionalisme, saya enggak terlalu memusingkan konsep usang ini. Teracuni Barat, tentu saja ini sangat berhubungan dengan relasi kuasa, Barat dipandang sebagai kemajuan. Sebentuk inferiority complex, lantas kenapa? Mungkin saja, saya malah sedang mengamini Seniman Gelanggang Merdeka di awal 50an yang memproklamasikan diri bahwa, “Kami ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia, dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri.” Namun, buat apa juga manifesto beginiaan. Saya terus membaca karena saya enggak tahu kenapa terus membaca. Membaca siapapun. Kebetulan, mereka yang saya baca penulis-penulis kulit putih. Oh, kenapa pula saya memusingkannya. Tampaknya saya berlaga kayak penulis kulit putih saja: merumitkan yang remeh. Snobisme, tanpa jadi polisi selera dan tetap bersikap arif, saya kira sangat boleh. Sekali lagi, sebuah buku, sebut Cioran, adalah bunuh diri yang ditunda. Dan ada banyak buku lainnya yang masih belum terbaca.

Kategori
Movie Enthusiast

12 Film tentang Penulis dan Kegamangannya

Kemanapun kamu menengok sejarah kebudayaan, sebut Umberto Eco, kamu akan menemukan daftar-daftar. Pemikir Italia ini emang sering bilang kalau daftar-daftar selalu menjadi bagian penting dari sejarah dan budaya. Tapi alasan saya bikin daftar enggak semulia itu, iseng aja sih karena enggak ada kerjaan. Ditambah, saya bukan snob apalagi kritikus film yang kredibel.

Sebelumnya saya pernah bikin 7 Film Tentang Penulis dan Keresahannya, dan sekarang saya bikin daftar yang lebih panjang. Karena yang panjang lebih panjang aja sih.

Following (1998)

Sebelum Memento, film yang menggebrakkannya, Christopher Nolan membuat debut yang mengesankan dengan film noir sederhana, pendek, tapi menawan ini. Lewat film berbiaya rendah ini, kita bisa mengetahui kalau Nolan sudah memusatkan perhatian pada tema sinematik favoritnya: obsesi. Following sendiri mengisahkan Bill yang seorang penulis muda belum jadi mencari inspirasi dengan menguntit orang-orang enggak dikenalnya di seputar London, untuk mengamati mereka. Sampai dia bertemu maling eksentrik dan malah jadi tangan kanannya. Pemuda penuh kebingungan dan penyendiri ini masuk jebakan.

The Hours (2002)

Nyonya Dalloway bilang kalau dia bakal beli sendiri bunganya. Cerita tentang bagaimana novel Mrs. Dalloway mempengaruhi tiga wanita berbeda generasi, yang kesemuanya punya keterikatan karena harus berhadapan dengan kasus bunuh diri dalam kehidupan mereka. Adaptasi dari novel karya Michael Cunningham. Virginia Woolf yang diperankan Nicole Kidman sedang dalam proses merampungkan Mrs. Dalloway. Pada 1951, Julianne Moore yang berperan sebagai seorang ibu rumah tangga yang sedang hamil, merencanakan pesta untuk suaminya, dengan enggak bisa berhenti baca novel karya Woolf tadi. Di era sekarang, Meryl Streep berperan seorang wanita modern, versi Nyonya Dalloway masa kini, yang akan mengadakan pesta perayaan untuk temannya yang seorang penulis terkenal yang sekarat karena AIDS.

Sylvia (2003)

Cerita tentang hubungan sejoli penyair Ted Hughes dan Sylvia Plath. Plot dari kisah nyata sudah sesuai, suasananya sudah lumayan, dan pemandangannya indah, tapi Sylvia Plath butuh biopic yang lebih cemerlang. Penggambaran karakternya agak melenceng. Dengan hanya sedikit menyinggung puisinya, versi Gwyneth Paltrow ini kayak gadis paling menyebalkan di kelas, orang yang selalu membaca keseluruhan puisi misterius hanya untuk membuktikan betapa cerdasnya dia. Sekali lagi, Sylvia Plath butuh biopic yang lebih baik, lebih gamang dan lebih hampa.

2046 (2003)

Dia adalah seorang penulis. Dia pikir dia menulis tentang masa depan, tapi itu justru kenangan masa lalu. Dalam novel futuristiknya, sebuah kereta misterius sesekali menuju tempat bernama 2046. Setiap orang yang pergi ke sana memiliki niat yang sama – untuk menangkap kembali kenangan yang hilang. Konon di 2046, enggak ada yang berubah. Tapi enggak ada yang tahu pasti apakah itu benar, karena enggak ada orang yang pernah pergi ke sana dan kembali – kecuali seorang. Dia seorang. Dia memilih untuk pergi. Dia ingin berubah. Film ini sendiri adalah kelanjutan dari In the Mood for Love. Bagi saya, selain fatalisme romantiknya, yang paling saya nantikan dari film-film Wong Kar Wai adalah saat Tony Leung mengesap rokoknya. Begitu sinematik dan eksistensial.

Factotum (2005)

Apa saran Anda buat penulis muda? tanya seseorang pada Charles Bukowski. Mabok, ewean dan udud sebanyak-banyaknya, jawab penulis Amerika itu enteng. Film ini sendir berpusat pada tokoh Hank Chinaski, alter-ego dari Bukowski, yang menggelandang di Los Angeles, mencoba untuk menjalani berbagai pekerjaan, dengan prinsip enggak boleh mengganggu kepentingan utamanya, yaitu menulis. Sepanjang perjalanan, dia mengatasi beragam distraksi yang ditawarkan dari kelemahan-kelemahannya: wanita, minum-minum dan berjudi.

Capote (2005)

Mengambil tugas untuk menulis sebuah artikel untuk ‘The New Yorker’, Truman Capote ditemani Harper Lee pergi ke kota kecil di Kansas. Capote mempelajari kasus pembunuhan sekeluarga di sana dan tertarik untuk menuliskannya menjadi sebuah buku. Saat proses pembuatan novel nonfiksi berjudul In Cold Blood-nya itu, Capote membentuk hubungan akrab dengan salah satu pembunuhnya yang dijatuhi hukuman mati. Kinerja sentral Philip Seymour Hoffman yang berperan sebagai Truman Capote begitu memukau dan memandu sebuah reka cerita yang terbangun dengan baik dari periode paling sensasional dan signifikan dalam kehidupan penulis ini.

Roman de Gare (2007)

Novelis sukses diinterogasi di kantor polisi tentang hilangnya sang ghost writer-nya. Seorang pembunuh berantai melarikan diri dari sebuah penjara di Paris. Di jalan tol, seorang penata rambut dicampakkan di sebuah pompa bensin oleh tunangannya saat hendak bertemu dengan keluarganya. Seorang pria misterius menawarkan tumpangan padanya dan dia mengajak si pria misterius itu untuk akting jadi tunangannya selama 24 jam agar enggak mengecewakan ibunya. Siapa pria misterius itu dan apa yang nyata dan apa yang fiksi?

Eungyo (2012)

Ada yang pengen lihat sang pengantin Goblin bugil dan beradegan ranjang di atas tumpukan buku? Film ini sendiri memang debut dari seorang Kim Goeun. Menyontek premis cerita Lolita-nya Vladimir Nabokov. Penyair terhormat berusia 70 tahun punya murid berusia 30 tahun yang telah jadi penulis terkenal. Dunia kedua penulis tadi goyah karena datangnya seorang siswi sekolah menengah yang masih berusia 17 tahun, yang membangunkan pikiran dan hasrat seksual mereka. Eungyo.

Pod mocnym aniolem (2014)

Bukowski dan Nabokov terkenal sebagai penulis yang juga alkoholik. Film Polandia ini juga menyorot penulis serupa. Sebagai pengunjung yang sering mengunjungi pusat rehab, dia bertemu dengan sesama pecandu dari semua lapisan masyarakat dan latar belakang sosial.

Fantastic Beasts and Where to Find Them (2016)

Harry Potter sudah kayak bubuk teh hijau, mau dibikin yang baru masih menjual. Ini sebuah spin-off yang melompat ke belakang untuk menjelajahi skena sihir tahun 1926 di New York. Seorang penyihir cum penulis muda British yang diperankan Eddie Redmayne tiba di kota ini sebagai bagian dari risetnya tentang binatang-binatang fantastis. Namun ia terjebak dalam konflik ketika beberapa makhluk magis dalam kopernya lepas secara tak sengaja. Film ini mengingatkan saya pada The Book of Imaginary Beings-nya Jorge Luis Borges.

Genius (2016)

Berdasarkan biografi “Max Perkins: Editor Genius”. Sebuah film cukup asyik tentang persahabatan yang kompleks dan hubungan profesional transformatif antara editor buku terkenal Maxwell Perkins dan raksasa sastra Thomas Wolfe yang berumur pendek. Perkins sendiri adalah editor yang membidani Ernest Hemingway dan F. Scott Fitzgerald.

Neruda (2016)

Seperti novel terakhir Tetralogi Buru-nya Pram, Jejak Langkah. Gael Garcia Bernal jadi seorang inspektur, seperti Pagemanann, yang bertugas memburu Pablo Neruda. Sang inspektur dan Neruda harus main kucing-kucingan. Tapi entah siapa yang jadi kucingnya. Neruda sendiri adalah seorang komunis romantis, penyair Chile berpengaruh yang memenangkan Hadiah Nobel, teman dari Pablo Picasso yang harus jadi buronan di negara sendiri karena pandangan politiknya. Film ini campuran menyenangkan dari dua genre berbeda: biopic dan noir.

Kategori
Korea Fever

7 Single Sistar Untuk Keberlangsungan Musim Panas

Enggak akan ada musim panas lagi. Pembubaran Sistar adalah salah satu kesalahan besar umat manusia yang berdampak pada perubahan iklim.

Sejak debutnya pada 2010 silam, grup cewek beranggotakan Hyorin, Soyou, Bora sama Dasom ini selalu istiqomah memeriahkan musim panas. Mereka jadi ikon ‘summer queen’. Bahkan udah kayak tonggeret yang menandai datangnya musim panas.

Namun Sistar harus layu juga, ikut-ikutan grup K-pop generasi dua yang sudah bubar jalan sebelumnya. Berbeda dengan grup lainnya, Sistar enggak pernah punya skandal atau masalah internal sehingga dikenal begitu dekat satu sama lain bahkan di luar bisnis hiburan. Ini mungkin menjelaskan mengapa mereka masih utuh sampai pembubarannya.

Ada dua mazhab biner dalam grup cewek K-Pop: unyu-unyu dan seksi. Sistar memilih yang kedua. Berkat inilah mereka sering disebut menjual keseksian, bahkan makian binal.

“Salahkan masyarakat, bukan gadis-gadis ini, karena mereka diseksualisasi,” tulis seseorang dalam kolom komentar Youtube di salah satu video klip Sistar. “Itu karena seks menjual dan masih banyak yang membelinya. Jika enggak ada yang membeli, maka enggak akan terjadi. Jadi jangan salahkan Sistar karena menjadi artis penampil. Jika kamu menginginkan gadis yang lebih berkelas, ada teater dan opera, dan kamu tinggal mendukung seni tersebut.”

Kalau soal seksi-seksian, memang iya. Tapi Sistar sebenarnya lebih dari itu. Untuk kualitas vokalnya oke. Dibanding vokalis utama grup-grup bau kencur malah tiap member lebih bisa nyanyi. Sehingga sering jadi penyanyi buat soundtrack drama Korea.

sistar-1

Sistar dan grup K-Pop lainnya memang hanya produk buatan industri. Kasarnya mereka adalah, mencatut judul artikel kolumnis The New Yorker John Seabrook, gadis-gadis pabrikan. K-Pop, layaknya Pop Mie atau Indomie, diproduksi oleh pabrik besar, disebarluaskan secara masif, diromantisasi dengan promosi, untuk kemudian dimakan dan menjadi berak. Sebagai produk, Sistar sudah berhasil. Kegoblogan hanya milik Starship Entertainment.

Sistar telah menyihir kehampaan jadi musim panas. Nah, berikut 7 single Sistar favorit saya. Saya urutkan menurut kesukaan saya.

#7 Loving U

#6 Touch My Body

#5 Give It to Me

#4 Lonely

#3 I Like That

#2 I Swear

#1 Alone