Kategori
Buku

New Directions: Tetap Kecil dan Berani Menerbitkan

80 8th Avenue, New York. Di dalam, ada ruang kerja kecil, sepi, lawas, untuk per orangnya. Ada, dan hanya akan ada, sembilan karyawan. Sebuah pohon ceri tumbuh dalam pot di balkon mungil di luar. Karpet kumal, lorong sempit, sistem pengarsipan yang ketinggalan jaman. Di dinding, tergantung beragam artefak: emblem asli perusahaan itu, bikinan Rockwell Kent; sampul “Nightwood” yang dikerjakan Alvin Lustig; Catatan tulis tangan dari William Carlos Williams; Lukisan dari Henry Miller; Sebuah foto sang pendiri penerbitan ini, yang meninggal pada 1997, dalam pose siluet.

Kategori
Fiksi

Di Mana Kamu?, Joyce Carol Oates

oates-where-are-you-now

Suami itu punya kebiasaan memanggil istrinya dari suatu tempat di rumah — kalau si istri ada di lantai atas, si suami ada di lantai bawah; jika si istri ada di lantai bawah, si suami ada di lantai atas — dan ketika si istri menjawab, “Ya? Apa?,” si suami akan terus memanggilnya, seolah-olah si suami tidak mendengar dan dengan nada kesabaran yang tegang: “Halo? Halo? Di mana kamu?” Maka si istri tidak punya pilihan selain buru-buru mendekat kepadanya, di mana pun si suami berada, di tempat lain di rumah, di lantai bawah, di lantai atas, di ruang bawah tanah atau di teras luar, di halaman belakang atau di jalan masuk. “Ya?” panggil si istri, berusaha tetap tenang. “Ada apa?” Dan si suami akan memberitahu si istri — keluhan, komentar, pengamatan, pengingat, pertanyaan — dan kemudian, tak begitu lama, si istri akan mendengar si suami memanggil lagi dengan urgensi lainnya, “Halo? Halo? Di mana kamu?,” dan si istri akan memanggil balik, “Ya? Ada apa?,” mencoba untuk menentukan di mana si suami berada. Si suami akan terus memanggil, tidak mendengar si istri, karena si suami tidak suka memakai alat bantu dengar di sekitar rumah, di mana hanya ada si istri yang didengar. Si suami mengeluh bahwa perangkat plastik mungil berbentuk siput itu menyakiti telinganya, telinga bagian dalam yang lembut memerah dan bahkan berdarah, dan si suami akan memanggil, dengan kekanak-kanakan, “Halo? Di mana kamu?”—karena wanita itu selalu pergi ke suatu tempat di luar jangkauan pendengaran si suami, dan ia tidak pernah tahu di mana si istri berada atau apa yang dilakukannya; kadang-kadang, si istri sangat jengkel pada si suami — sampai akhirnya si istri menyerah dan kehabisan nafas untuk mencarinya, dan ketika si suami melihat si istri, dia berkata dengan mencela, “Di mana kamu? Aku khawatir padamu ketika kamu tak menjawab.” Dan si istri berkata, tertawa, mencoba tertawa, meskipun tidak ada yang lucu, “Tapi aku selalu di sini!” Dan si suami menimpali, “Tidak, kau tidak ada. Kau tidak ada. Aku ada di sini, dan kau tidak ada di sini.” Dan kemudian pada hari itu, setelah makan siang dan sebelum tidur siangnya, kecuali sebelum makan siang dan setelah tidur siang, si istri mendengar suaminya memanggilnya, “Halo? Halo? Di mana kamu?,” dan pikiran itu datang kepadanya, Tidak. Aku akan bersembunyi darinya. Tapi si istri tidak akan melakukan hal yang kekanak-kanakan seperti itu. Sebaliknya dia berdiri di tangga dan menangkupkan tangan ke mulutnya dan memanggilnya, “Aku di sini. Aku selalu di sini. Di mana lagi aku akan berada?” Tetapi suaminya tidak dapat mendengarnya dan terus memanggil, “Halo? Halo? Di mana kamu?,” sampai akhirnya si istri berteriak, “Apa yang kamu inginkan? Aku sudah beritahu kamu, aku ada di sini.” Tetapi suaminya tidak dapat mendengar dan terus memanggil, “Halo? Di mana kamu? Halo!,” dan akhirnya si istri tidak punya pilihan selain menyerah, karena sang suami terdengar kesal dan marah dan cemas. Turun tangga, si istri tersandung dan jatuh, jatuh keras, dan lehernya patah dalam sekejap, dan dia meninggal di kaki tangga, sementara di salah satu kamar di lantai bawah, atau mungkin di ruang bawah tanah, atau di teras di bagian belakang rumah, si suami terus memanggil, dengan suatu desakan, “Halo? Halo? Di mana kamu?”

*

Diterjemahkan dari cerpen Where Are You? karangan Joyce Carol Oates yang terbit di The New Yorker. Joyce Carol Oates adalah seorang penulis Amerika. Oates menerbitkan buku pertamanya pada tahun 1962 dan sejak itu menerbitkan lebih dari 40 novel, serta sejumlah drama dan novel, dan banyak volume cerita pendek, puisi, dan nonfiksi.

Kategori
Catutan Pinggir

Han Kang dan Keruwetan Penerjemahan

dtpao7mv4aeqpuc

Harus seberapa literalkah sebuah terjemahan sastra? Nabokov, yang fasih dalam tiga bahasa dan menulis dalam dua bahasa diantaranya, percaya bahwa “terjemahan literal paling kasar seribu kali lebih bermanfaat daripada parafrase tercantik.” Borges, di sisi lain, berpendapat bahwa seorang penerjemah harus berusaha untuk tidak menyalin sebuah teks melainkan untuk mengubah dan memperkayanya. “Terjemahan adalah sebuah tahap peradaban yang lebih maju,” Borges menuntut — atau, tergantung pada terjemahan yang Anda temukan, “sebuah tahap penulisan yang lebih maju.” (Dia menulis kalimat ini dalam bahasa Prancis, satu dari beberapa bahasa yang dia kuasai.)

Kategori
Celotehanku

Bocah Dunia Ketiga yang Menyuntuki Penulis Kulit Putih

Kurt Vonnegut on Man-Eating Lampreys - Blank on Blank - YouTube.MP4_snapshot_03.23_[2017.08.31_14.35.44]

Perempuan itu mendapat surat dari kepala redaksi Alfred Knopf, berisi pujian atas cerpennya dan berharap bakal menerbitkan novelnya suatu saat, tulisnya dalam jurnal hariaannya, yang dimampatkan dalam buku berjudul The Unabridged Journals of Sylvia Plath. Saya menutup aplikasi pembaca ebook, membuka Twitter. Linimasa ramai, mengalir tanpa jeda. Menggulirkan sampai bawah, saya menandai sebuah tautan artikel dari Jacobin, media kiri Amerika, soal krisis Katalunya dan satu dari Literary Hub tentang surat kebencian William S. Burroughs buat Truman Capote. Entah kapan saya bakal buka dan bacanya. Saya buka kembali ebook, mengkhatamkan On the Heights of Despair yang menyisakan beberapa fragmen. Sebuah karya pertama seorang pemikir asal Romania, Emil Cioran, yang dikenal karena filosofinya yang begitu ultra-pesimis dan gelap. Semuanya nonsens, tulisnya menghabisi. Saya membuka Instagram, menonton beberapa Stories. Saya kembali baca, kali ini dua puisi Allen Ginsberg dalam Reality Sandwiches. Sampai sekarang, saya belum ngeh cara baca puisi. Tapi beberapa kali saya bisa menikmati, salah satunya dari Ginsberg sang pupuhu Beat Generation ini. Saya beralih ke Homage to Catalonia. George Orwell yang sebelumnya tertembak fasis saat patroli di garis depan, masih menjalani perawatan di Barcelona. Orwell bergabung di pasukan milisi untuk melawan Franco.

Cuma ada sendok dalam gelas, seluruh Indocafe telah meluncur masuk abdomen. Desing motor yang hilir mudik di jalanan depan rumah dan ceramah dari TVOne yang disetel mamah di ruang tengah samar-samar saling beradu. Ada hal-hal penting dan enggak penting terjadi, mengapa saya membaca? Saya teringat artikel dalam The New Yorker yang berjudul “Can Reading Make You Happier?“. Pada era sekuler, membaca, terutama fiksi, adalah salah satu dari sedikit jalan yang tersisa menuju transendensi, keadaan sulit dipahami di mana jarak antara diri dan alam semesta menyusut. Membaca membuat kita kehilangan semua rasa sadar diri, tapi pada saat bersamaan membuat kita merasa semacam keunikan tersendiri. Membaca telah terbukti membuat otak kita menjadi keadaan trance yang menyenangkan, serupa dengan meditasi, dan membawa manfaat kesehatan yang sama seperti relaksasi dan ketenangan batin. Seperti yang ditulis Virginia Woolf, seorang pembaca yang paling tangguh, bahwa sebuah buku “memisahkan kita menjadi dua bagian saat kita sedang membaca,” karena “keadaan membaca terdiri dari penghapusan ego secara total,” sambil menjanjikan “persatuan abadi” dengan pikiran lain.

Sebagian mungkin benar. Namun, saya enggak terlalu percaya optimisme kacangan bahwa membaca bakal mendatangkan semacam benefit yang wah. Ya, membaca memang ada manfaatnya, sekaligus enggak ada. Tidak ada argumen, tegas Cioran. Bisakah orang yang telah mencapai batas terganggu argumen, sebab, akibat, pertimbangan moral, dan sebagainya? Tentu saja tidak. Bagi orang seperti itu hanya ada motif hidup yang tanpa motivasi. Di puncak keputusasaan, hasrat untuk tidak masuk akal adalah satu-satunya hal yang masih bisa menimbulkan cahaya atas kekacauan. Bila semua alasan saat ini – moral, estetika, religius, sosial, dan sebagainya – tidak lagi membimbing hidup seseorang, bagaimana seseorang dapat mempertahankan hidup tanpa menyerah pada ketiadaan? Hanya dengan hubungan yang tidak masuk akal, dengan cinta tanpa harapan, mencintai sesuatu yang tidak memiliki substansi tapi hanya mensimulasikan ilusi kehidupan. Alasan saya terus membaca, seperti alasan saya untuk terus hidup, yakni menjalaninya dengan tanpa alasan. Sebenarnya, karena sedang menggeluti praktek menulis, ini jadi alasan oportunis kenapa saya terus membaca – saat selesai membereskan satu buku kemudian memperbarui Goodreads, ada perasaan keahlian menulis saya, seperti dalam permainan video, ikut meningkat, dan saya tahu ini cuma ilusi. Yang pasti, sebuah buku, sebut Cioran, adalah bunuh diri yang ditunda.

Tentu saja, pemahaman saya akan terus berubah, baik karena beragam bacaan lainnya, atau karena menua dan enggak bakal ambil pusing. Yang jadi persoalan adalah bahwa bacaan-bacaan saya berasal dari para kulit putih, yang berasal dari dunia pertama. Penyebab praktisnya, karena mereka mudah didapatkan, andai saja koleksi lengkap semacam Pram atau Utuy T. Sontani bisa ditemukan dalam torrent. Tapi bukan cuma itu, mereka, para penulis kulit putih itu, yang tinggal di pusat-pusat peradaban dunia, secara aneh selalu berhasil menyuarakan apa yang saya pikirkan. Itu mungkin sebabnya mereka disebut penulis kanon. Lagipula, sebenarnya apa masalahnya seorang dari dunia ketiga membaca mereka? Soal nasionalisme, saya enggak terlalu memusingkan konsep usang ini. Teracuni Barat, tentu saja ini sangat berhubungan dengan relasi kuasa, Barat dipandang sebagai kemajuan. Sebentuk inferiority complex, lantas kenapa? Mungkin saja, saya malah sedang mengamini Seniman Gelanggang Merdeka di awal 50an yang memproklamasikan diri bahwa, “Kami ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia, dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri.” Namun, buat apa juga manifesto beginiaan. Saya terus membaca karena saya enggak tahu kenapa terus membaca. Membaca siapapun. Kebetulan, mereka yang saya baca penulis-penulis kulit putih. Oh, kenapa pula saya memusingkannya. Tampaknya saya berlaga kayak penulis kulit putih saja: merumitkan yang remeh. Snobisme, tanpa jadi polisi selera dan tetap bersikap arif, saya kira sangat boleh. Sekali lagi, sebuah buku, sebut Cioran, adalah bunuh diri yang ditunda. Dan ada banyak buku lainnya yang masih belum terbaca.

Kategori
Movie Enthusiast

12 Film Soal Penulis dan Kegamangannya

Kemanapun kamu menengok sejarah kebudayaan, sebut Umberto Eco, kamu akan menemukan daftar-daftar. Pemikir Italia ini emang sering bilang kalau daftar-daftar selalu menjadi bagian penting dari sejarah dan budaya. Tapi alasan saya bikin daftar enggak semulia itu, iseng aja sih karena enggak ada kerjaan. Ditambah, saya bukan snob apalagi kritikus film yang kredibel.

Kategori
Korea Fever

7 Single Sistar Untuk Keberlangsungan Musim Panas

Enggak akan ada musim panas lagi. Pembubaran Sistar adalah salah satu kesalahan besar umat manusia yang berdampak pada perubahan iklim.

Sejak debutnya pada 2010 silam, grup cewek beranggotakan Hyorin, Soyou, Bora sama Dasom ini selalu istiqomah memeriahkan musim panas. Mereka jadi ikon ‘summer queen’. Bahkan udah kayak tonggeret yang menandai datangnya musim panas.