Kategori
Inspirasi

Kearifan Pesimisme

Sebenarnya apa bedanya antara pesimis, berpikir realistis, dan bersyukur? Ya, secara makna, ketiga istilah ini masing-masing punya arti berbeda. Tapi kalau dipikir-pikir, nggak terlalu berbeda, ketiganya punya persamaan, sama-sama pasrah dengan keadaan yang ada dan sama-sama agar kita nggak terlalu kelewatan berekpektasi. Meski memang, pesimisme dianggap sebagai kata yang negatif, jelek untuk dipakai.

Apapun itu, sikap pesimisme juga bisa memandu kita untuk mencapai yang namanya kebahagiaan. Ada sebuah rumus, bahwa kebahagiaan itu merupakan hasil dari realita yang dibagi dengan ekpektasi. Jadi, cara untuk berbahagia adalah dengan mengubah realita agar sesuai ekpektasi, lebih bagus lagi melebihinya, atau yang paling mudah adalah dengan menurunkan ekpektasi kita.

Ini dinamakan pesimisme atau apa, yang pasti masih ada kearifan yang bisa dipetik lewat sudut pandang melihat bahwa sebuah gelas itu setengah kosong, ketimbang setengah terisi. Pesimisme adalah bentuk pertahanan diri kita dari penyesalan, agar tidak terlalu kecewa ketika mendapat kegagalan.

Hari ini sungguh menyebalkan, besok dan seterusnya mungkin akan lebih buruk lagi, maka inilah hidup, alhamdulillah-nya saya masih bisa hidup. Lantas apa yang salah dengan pikiran semacam ini?

Kategori
Fotografi

Friedrich dan Inspirasi Fotografi Lanskap

Caspar_David_Friedrich_-_Wanderer_above_the_sea_of_fog
Wanderer Above the Sea of Fog, 1817-18

Pasti sering melihat foto orang yang berpose membelakangi, sedang menerawang sampai jauh ke gugusan awan di langit dan lanskap di bawahnya. Kalau di Bandung, biasanya ketika main ke Tebing Keraton, ya gaya fotonya bakal gini buat dipamerin di Instagram, plus dengan embel-embel caption #explorebandung dan #livefolk. Tapi tahukah kalau sebenarnya pose pasaran ini adalah imitasi dari lukisan di awal abad ke-19.

Ya, sesungguhnya fotografi adalah perpanjangan dari seni lukis, bahkan boleh dibilang idenya fotografi ya hasil curian dari seni lukis.

Kategori
Argumentum in Absurdum Celotehanku

Kuliah Sekuler di The School of Life

Kopi diciptakan oleh sejarah, nikmatnya oleh filsafat. Ah ketika sebagian besar penduduk bumi didera kemiskinan, dan mungkin di belahan dunia sana sedang terjadi konflik berdarah, kenapa saya bisa-bisanya duduk santai sambil menyesap secangkir kafein? Kenapa belajar soal humaniora; sastra, psikologi, sosiologi, seni budaya, filsafat, padahal banyak tersebar manusia yang sedang terdzolimi?

Dan pertanyaan-pertanyaan ini sedikit terpecahkan dan tercerahkan lewat satu saluran Youtube dari The School of Life, yang dengan baik hatinya mengajak kita piknik.