Kategori
Catutan Pinggir

Kenapa Tidak Ada Novel ‘Milenial’

1211-bks-criticstake-jumbo

Ketika para milenial semakin menua kita mulai menjerit dari usia 20-an, tampaknya kita mungkin telah melupakan sesuatu — di mana novel “suara dari sebuah generasi” kita? Aksesori gaya hidup yang paling penting yang seharusnya berbicara untuk, dan bagi, kepekaan dan keadaan dari seluruh kelompok Amerika? Bukan hanya garda terdepan saat ini, Lena Dunham, yang bahkan bukan seorang novelis, tetapi avatar fiktifnya dalam serial “Girls” menolak ide soal suara generasi seperti itu di episode pertama acara tersebut.

Di mana para penerus “This Side of Paradise,” “The Sun Also Rise,” “The Catcher in the Rye,” “On the Road,” “Fear and Loathing in Las Vegas,” “Bright Lights, Big City,” “Generation X” dan “Infinite Jest”? Lev Grossman dalam Time menyalahkan semakin banyaknya “identitas multikultural, lintas benua, yang saling terhubung dan kehidupan kita yang terglobalisasi, terlantar, terpinggirkan” menjadi sebab kenapa konsensus tentang satu suara sekarang tampaknya mustahil. Saya akan melangkah lebih jauh dan berpendapat bahwa novel “suara dari sebuah generasi” tidak pernah ada sejak awal. Sebagai permulaan, mengapa kita pernah berpura-pura bahwa novel oleh orang-orang kulit putih heteroseksual tentang orang-orang kulit putih heteroseksual berbicara untuk seluruh generasi?

Bahkan jika Anda berpikir itu adalah omong kosong yang pantas secara politis, dan bahwa karya-karya itu melampaui batas-batas identitas dan konteks sosial (yang merupakan hal aneh untuk diklaim tentang novel sosial), gagasan tentang mahakarya segala ada yang cocok untuk semua bakal bertentangan dengan format novel. Novel tentu saja dapat mencakup banyak hal, berisi ratusan karakter dalam berbagai latar belakang, tetapi semuanya tetap tentang kekhususan. Bagi seorang novelis, denominator umum paling rendah dari pengaruh, mode, dan pola konsumsi yang dihasilkan oleh label generasi adalah keunikan karakter yang jarang, kecuali dalam novel yang menyoal kedangkalan itu sendiri, seperti “American Psycho.”

Novel generasi, seperti Novel Besar Amerika, adalah mitos romantis yang menghibur, yang keliru mengasumsikan bahwa kesamaan lebih signifikan daripada individualitas. Anda mungkin mendapatkan gagasan yang tidak jelas tentang saya jika saya memberi tahu Anda bahwa saya adalah generasi pertama Thailand-Amerika, kelas menengah, ateis, lajang, tanpa anak, pascasarjana, freelance, New Englander, milenial heteroseksual. Tapi mungkin lebih banyak yang mengatakan bahwa saya pernah melakukan kencan pertama di rumah untuk menonton video yang bermunculan di YouTube, atau bahwa saya tidak sengaja mengganggu upacara kelulusan kuliah saya dengan mainan monyet menjerit yang saya lupa saya bawa sepanjang hari (“Maaf, monyet saya berbunyi,” saya menjelaskan). Pengalaman identitas —  apakah itu ras, agama, kebangsaan, gender atau keanggotaan generasi — tentu diperlukan untuk potret penuh seseorang, tetapi tidak pernah cukup. Ada juga ingatan, pikiran, perasaan, persepsi, neurokimia, suasana hati, dan segala hal lainnya.

Lalu, ada pertanyaan tentang jenis novel yang mendapatkan label “suara dari sebuah generasi” untuk memulai. Puaskan kebesaran dan biasanya apa yang akan Anda temukan hanyalah sebuah genre: novel sosial kontemporer, yang tersusun di satu atau lebih kota besar, dengan tokoh besar karakter yang tidak bahagia, kebanyakan masih muda, menengah atau kelas atas yang secara emosional berkembang di beberapa cara yang tidak terlalu traumatis. Ini, omong-omong, juga menggambarkan novel saya, “Private Citizens.” Jadi mengapa saya mendapatkan refluks asam setiap kali seseorang berkata, betapapun jujur ​​atau datar, bahwa saya telah menulis sebuah novel tentang generasi milenial? Sebagian karena saya tidak ingin dirujuk sebagai dungu yang menyatakan dirinya seorang bocah jagoan untuk apa pun, tetapi juga karena satu-satunya tujuan saya adalah menulis tentang pengalaman saya sendiri.

Siapa yang pertama bakal diuntungkan soal pelabelan generasi ini? Seperti halnya “Gen X” atau “soccer mom”, “milenial” adalah istilah demografis yang berasal dari media dan orang-orang pemasaran supersibuk yang tertarik untuk mengkonsolidasikan identitas yang kemudian dapat mereka targetkan. Semakin banyak orang bergantung pada kumpulan potongan identitas ini untuk menggantikan definisi diri, semakin mudah memengaruhi cara mereka mengeklik, berbelanja, dan memberi suara. Dengan cara yang sama bahwa foto ratusan wajah bercampur menjadi satu wajah rata-rata dapat menyerupai banyak orang, tetapi tidak mewakili siapa pun secara khusus, arketipe milenial itu sendiri tidak pernah lebih baik daripada pendekatan kabur. Kecuali jika sasaran Anda adalah menulis sebuah novel yang akan dijual kepada orang-orang yang telah dijual dalam beberapa ide cetakan tentang diri mereka sendiri, sebaiknya tulis jauh daripada memilih kategori ini.

Tetap saja, para kritikus mungkin tidak akan pernah menghentikan bahasan soal juru bicara generasi. Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk melihat diri Anda tercermin dalam sebuah buku, dan tidak ada apa pun tentang novel seperti milik saya yang mencegah orang melakukan hal itu. Tetapi keinginan untuk menguniversalkan perasaan itu, dan menyatakan bahwa buku apa pun berbicara untuk semua orang, berakhir dengan mengubah baik novel maupun generasi.

Saya pikir yang terbaik adalah mendekati novel dengan cara yang lebih kita suka dekati: dengan sedikit prakonsepsi mungkin, sebagai individu. Tetapi saya hanya berbicara untuk diri saya sendiri.

*

Diterjemahkan dari kolom Tony Tulathimutte di The New York Times berjudul Why There’s No ‘Millenial’ Novel.

Kategori
Catutan Pinggir

Bokep dan Coli, Tony Tulathimutte

tulathimutte

Vanya tahu soal pornografi. Memang harusnya. Benar ‘kan? Tentu dia tahu itu; kalau Will pernah mencoba, sesekali dan tanpa penyesalan. Beberapa bulan yang lalu Vanya bertanya (mungkin agak terlalu santai): Sayang, apa kamu pernah nonton porno? Will menjawab iya, dan hanya sampai sana. Syukurlah Vanya tidak bertanya dengan tepat berapa banyak yang Will tonton, karena jawaban yang jujur pasti bakal mencengangkan. Sejauh yang diketahui Will, bagi Vanya hal itu lumrah pada lelaki. Sebuah pembelaan… meski pembelaan biasanya efek dan bukan penyebab kepribadian seseorang, dan menurut standar itu, kegiatan nonton porno Will bukan soal pembelaan—ini sifat tulen.

Meskipun Will tidak lagi menontonnya sejak berkencan dengan Vanya setahun yang lalu, hal ini masih merupakan bagian besar dari siapa dirinya, tentang apa yang telah dikonsumsinya, dan sekarang masih ada, sementara Vanya sedang pergi jauh. Apa yang diharapkan Vanya? Will tidak akan pernah menghapusnya—ini terlalu penting, sudah langka dan indah. Tanpa melupakan berjam-jam yang dibutuhkan untuk mengunduhnya; membuat tag file dan menandai adegan berformat XML; mengatur nama file dan format; mengkoleksi lengkap set foto dan menemukan scan gambar hi-res kaset DVD, depan dan belakang; melengkapi katalog lawas artis-artis tertentu (karena dalam porno, juvenilia sering menjadi mahakarya); membangun rasio seed di forum undangan Torrent terbatas; menguraikan ribuan CAPTCHA untuk membuktikan bahwa dia adalah manusia; atau mencari solusi penyimpanan untuk menampung bergiga-giga, lalu bertera-tera, kemudian berpeta-peta—dia hanya menonton sekitar sepertiganya, jadi tetap ada banyak yang masih misteri baginya.

Selama bertahun-tahun Will telah melatih matanya terhadap komposisi, telinganya pada irama, dan keahlian-keahlian yang tak ada habisnya. Segalanya itukah yang ingin dipraktekan selama bertahun-tahun? Aline Batistel, yang juga beradegan sebagai Paula Becker dalam Hustler dari Brazil. Si pirang tanpa cela itu, yang hanya bisa dibikin Uni Soviet yang sudah runtuh itu? Alena Hemcova—atau Alissa Romei, Lenka Gaborova, Katerina Strougalova… tapi menggali lebih dalam ke hirarki file, melewati MF dan FFM dan MMF dan MMMMMF, lebih dari Zenra dan Private, Woodman dan Steele dan ZONE-sama, doujinshi dan lemon fic, masuk ke dalam sorotan eros, di mana tidak ada ceruk yang dia dapat tempatkan: eco-friendly BBWs bukkaked while cemented into sidewalks, flexi Juggalo stepdads cuckolded by butterflies, cum tributes to horses torn in half, spray-painted soup men donkey-punching intersexed RealDolls. Dia juga nonton pornografi gay dengan lakon abdi negara—kalian akan berpikir kalau hanya peralatan pria akan membatasi gaya bermain, tapi hey, tentu tidak.

Sejak ia berkencan dengan Vanya, berbulan-bulan berhubungan seks, bertahun-tahun mengumpulkannya, itu semua teronggok seperti peralatan dapur yang tak dipakai. Koleksinya bisa masuk Smithsonian, meski itu tidak akan pernah terjadi. Tapi kenapa? Jika karena porno itu rendahan, profan, penuh distorsi, atau eksploitatif, maka porno sama seperti TV dan lebih jujur. Dan sekarang ada adegan seks kanonik —rekaman seks sebagai fucklore heroik di era demokratisasi porno sesukamu. Porno jelas seni; hanya saja tidak ada kritikusnya. Orang-orang mengoceh tentang politik, budaya, perdagangan, moralitasnya. Tapi siapa yang mendefinisikannya? Hanya karena porno tidak perlu bagus bukan berarti porno harus selalu begitu. Will merasa terganggu dengan kebangkitan livestreaming, yang seperti mengganti sinema menjadi improvisasi; dan di sisi lain, penyesalan ketidaksadaran diri, soal ketidaksopanan: Bangbros, Cum Fiesta, Big Sosis Pizza. Kalian tidak bisa menemukan pemandu sorak yang meyakinkan lagi, hanya ada pemandu sorak porno, dengan kuncir dan lolipop, disemprot dengan lotion yang berasal dari kontol panjang dengan iringan thrash metal. Ini meyakinkan bahwa mereka tidak perlu menganggapnya terlalu serius. Dengan demikian ironi akhirnya menendang dinding kebun orgasme, tempat penghiburan terakhir yang tulus.

Pertanyaan sebenarnya adalah apakah masturbasi pada porno adalah sebuah bentuk seni: bukan sebagai “erotika” atau seni pertunjukan, tapi sebagai pencarian soliter yang agung. Seseorang pasti telah melakukannya dengan serius, halus, dengan kemampuan melek literasi dan bakat, sang masturbauteur—mungkin itu Will. Suatu ketika dia menemukan bahwa dia bisa memainkan klip yang sama dalam dua layar berdampingan dan menyilangkan matanya ke stereoskop sehingga gambar menjadi 3D, asalkan dia menenggak Dramamine terlebih dahulu. Di lain waktu ia secara erotis menghipnotis dirinya dengan rekaman suaranya sendiri, sedikit licik tapi setidaknya efektif.

Sekarang dia duduk setengah terbungkuk-bungkuk dengan kausnya yang tertahan di bawah dagunya dan dua belas video diputar di tiga monitor. Meninjau kembali koleksi pornonya setelah berbulan-bulan menyegarkan semua kekagumannya. Seperti hujan yang lama tak turun. Atau divot yang menipis di dahi Nadia Nyce, yang mirip Bree Olson, yang sebenarnya tidak bisa dibedakan dari Ashlynn Brooke. Subgenre dari orang-orang yang menawarkan uang buat gadis untuk bercinta di depan kamera, sehingga menyamakan fantasi dengan kenyataan. Saat di awal sebuah adegan gonzo dimana sang aktris mengalihkan fokusnya dari kamera ke aktor lainnya, dan penonton menjadi voyeur.

Beberapa jam kemudian ia menyapu keringat dari bibir atasnya dan terbatuk dengan kesadaran mendadak bahwa tenggorokan dan matanya kering. Dia biasa bertanya-tanya tentang kesukaannya pada aktor porno, karena dia secara pasti membenci orang-orang yang membuat seks menjadi mudah, tapi porno tidaklah mudah; Semua orang tahu itu adalah permainan uang mungkin lewat paksaan dan adiksi, yang diciutkan dalam kesombongan. Will lebih suka bukan pada glamoristas yang aduhai, bukan Tori Blacks dan Delta Whites, tapi Sasha Greys dan Anastasia Blues, mereka yang punya biografi muram, yang tidak bisa kalian tonton tanpa berpikir, Ya Tuhan, gadis ini bakal meninggal suatu hari nanti . . Terkadang mereka sudah meninggal, membuatnya sangat jelas bahwa ketika berada sejajar pada tatapan kalian atau lebih rendah, kebijaksanaan terdegradasi, rasa bersalah meningkat tapi rasa malu berkurang. Semua ini akan mendiskualifikasinya sebagai orang baik dan seorang feminis, tapi Will bukan antifeminis, lebih merupakan seorang solipsis —dan jika solipsisme adalah teori, maka masturbasi adalah praktik.

*

Nukilan dari Private Citizen dari Tony Tulathimutte.