Kategori
Cacatnya Harianku

Novel Yang Memprovokasi Pikiran

arif abdurahman

Sebagai blogger, pernah terlintas impian untuk bisa bikin buku berformat personal literature komedi – genre yang marak dan melejit berkat Raditya Dika, Alitt Susanto, Benazio Putra, dan seleblog lainnya. Namun, kelihatannya ini jenis buku yang nggak mungkin saya lahirkan. Pertama, saya bukan blogger populer, siapa pula yang pengen baca kehidupan orang yang membosankan? Kedua, saya nggak jago melucu. Ketiga, ternyata pelit komedi menjadi bacaan yang selalu bikin saya kecewa, nggak menarik hati, orgasmenya nggak dapet. PengecualianĀ mungkin buat Tetralogi Drunken-nya Pidi Baiq.

Ketika membaca belum saya jadikan hobi, saya nekat bikin blog, mulai mencoba menulis dan langsung bercita-cita ingin jadi seorang penulis populer, terinspirasi Radith. Saat itu 2008, pas masih imut-amit berseragam SMA, dan saya hanya mengenal namanya tanpa pernah coba baca karya penulis metropop itu.

Cita-cita jadi penulis tadi sesungguhnya hanya bual besar doang. Menulis tanpa dibarengi banyak membaca adalah ketololan. Belakangan saya baru menyadari bahwa menulis justru adalah perpanjangan dari membaca. Jadilah pembaca, maka kau pun akan jadi penulis.