Kategori
Inspirasi

Jadilah Seniman, Sekarang Juga!

Kenapa kita berhenti bermain dan berkreasi? Dengan luwes dan humoris, Young-ha Kim, penulis asal Korea Selatan ini memberi ceramah asyik soal membangkitkan kembali sang seniman yang bersembunyi dalam diri kita di TEDxSeoul.

Ah saat sedang dilanda galau ‘quarter-life crisis’, akhirnya saya dipertemukan dengan tautan super keren dan inspiratif ‘Talks to watch when you don’t know what to do with your life’. Ya, video di atas adalah salah satunya, dengan pembicara seorang penulis kontemporer Korea Selatan sekaligus profesor di Korea National University of Arts. Entah kenapa saya pilih video ini sebagai yang pertama, mungkin karena serasa lagi bercermin kalau ngeliat Young-ha Kim ini. Yang pasti ini salah satu ceramah TEDx yang keren banget.

Every child is an artist. The problem is how to remain an artist once we grow up. – Pablo Picasso

“Ah gue sibuk, nggak punya waktu buat seni atau apalah namanya.”

“Hey seni nggak bikin perut kenyang. Aku harus pergi sekolah, nyari kerjaan, bla bla bla…”

Dan banyak alasan lain, khususnya karena kita menganggap seni hanya bagi mereka yang berbakat. Padahal kita semua adalah seniman, saat masih kecil kita sangat berbakat, jadi pelukis, jadi penulis, jadi penari, jadi penyanyi, jadi apapun yang kita mau. Tapi kemana si seniman tadi? Ya, kita sendiri yang menguncinya, membuangnya, bahkan membunuh ‘sang seniman kecil’ itu.

Semakin dewasa, kita semakin banyak beralasan.

young ha kim writer tips quote

Tentunya, sebagai pengarang I Have the Right to Destroy Myself dan Your Republic is Calling You, juga karya novel lainnya, Kim Young-ha membeberkan beberapa pencerahan soal menulis, khususnya dalam hal ‘story-telling’. Dia mengutip Roland Barthes yang menyoal novel Flaubert, “Flaubert tidak menulis novel. Dia hanya menghubungkan satu kalimat demi satu kalimat. Ada eros di antar kalimatnya, yang merupakan esensi novel Flaubert.” Ya, novel, pada dasarnya, adalah menulis satu kalimat, kemudian, tanpa melanggar ruang lingkup yang pertama, menulis kalimat berikutnya. Dan kamu terus membuat koneksi.

Ambil contoh kalimat ini: Gregor Samsa terbangun dari satu mimpi buruk dan menemukan dirinya menjadi seekor kecoa besar. Ya, ini adalah kalimat pertama dalam Metamorfosis-nya Franz Kafka. Dia menulis kalimat yang enggak benar dan terus melanjutkan kalimatnya untuk membenarkan kalimat pertama itu, dan karya Kafka ini menjadi karya agung di sastra kontemporer.

Yang paling saya suka adalah konsep pengajaran soal menulis cerita dari Young-ha Kim. Dalam kelasnya, ia menyuruh muridnya untuk menuliskan cerita tentang momen paling sial di sekolah, namun harus dengan buru-buru. Menulis dengan tergesa-gesa. Alasannya, ketika kita menulis dengan lambat dan penuh perhitungan, akan muncul yang namanya setan. Yaitu setan yang akan membisikin, “Tulisan apa ini? Jelek amat. Bakal diketawain loh nanti.” Nah, dengan menulis secara ngebut, mudah-mudahan setan tadi nggak bakal ngejar. Dan terbukti, Young-ha Kim menilai kalau tulisan bagus dari para muridnya justru tercipta dari kelas menulis ngebut selama 40-60 menit ini, bukan dari tugas menulis yang di-PR-kan. Harus dicoba nih!

Kategori
Inspirasi

Kekuatan Sebuah Kalimat

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=Hzgzim5m7oU]

Lagi mencari inspirasi untuk buat film pendek, eh bertemu dengan video satu ini.

Sebuah video peletup kreativitas. Video berdurasi kurang dari dua menit ini menampilkan bagaimana dengan mengubah sebuah kalimat dapat melambungkan profit seorang pengemis buta.

Selain inspiratif, juga video yg menyentuh. Membuat yg menyaksikan merasa terenyuh.