Kategori
Buku Celotehanku

Dio dan Novelnya yang Boleh Kamu Percaya

kamu sabda armandio

Salah satu tugas pertama penulis, tegas Aan Mansyur, adalah membunuh klise! Maka, jika masih memakai protagonis penyuka kopi – sungguh ini sudah sebasi tema senja dalam puisi, janganlah menulis fiksi (kecuali jika kau sudah benar-benar hebat yang mampu menggarap tema-tema pasaran macam begini). Dan Sabda Armandio Alif, menegaskan kepenulisannya, karena belum hebat tadi, dengan menghadirkan sosok protaganis yang berbeda: penyuka mie instan goreng. Dilihat dari diferensiasi ini aja, novel perdana Dio ini layak dibaca.

Sebenarnya sudah lama saya membaca KAMU (Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya), tapi berhubung baru kemarin saya mengangkat novel ini untuk Riungan Buku Komunitas Aleut! dan saya pun belum menuliskan resensinya, maka enggak ada salahnya saya ulas novel jenis coming-of-age yang masuk 5 Buku Terbaik 2015 versi majalah Rolling Stones Indonesia ini. Jujur, dulu saya beli novel ini, kagok aja sih kalau cuma ambil kumpulan fiksimini terjemahannya Ronny Agustinus, yang sama-sama dari Moka Media.

Kategori
Non Fakta

Ayam dan Penari, Yasunari Kawabata

ayana jkt48

Seorang penari mengepit seekor ayam – meskipun tengah malam si penari niscaya tidak mau. Bukan ia sendiri yang memeliharanya. Ibunya yang memelihara ayam itu. Jika seandainya ia menjadi penari yang terkemuka mungkin ibunya takkan mau lagi memelihara ayam.

*

“Kami akan bersenam telanjang di atas atap rumah.”

Mendengar itu ibunya terkejut.

“Bukan hanya satu-dua orang. Empat atau lima puluh orang berbaris dan bersenam seperti para pelajar wanita. Walaupun telanjang, tapi hanya kaki saja yang telanjang.”

Kategori
Celotehanku

Book Porn

Apa yang salah dengan mempos foto makanan yang kau konsumsi? Apa yang salah dengan memamerkan foto buku yang telah kau baca? Apa yang salah dengan menyombongkan fotomu yang sedang berada di puncak gunung sembari memberi info ketinggian gunung yang kau daki itu? Untuk ukuran benar salah, saya tak mau dan tak bisa (intinya malas sih) untuk menilai. Kau boleh lakukan apa yang kau suka, terserah, asal jangan bikin risih orang. Yang pasti, menurut saya, kegiatan-kegiatan manusia modern ini suatu yang alami, lebih tepatnya hewani.

Pada pertengahan abad ke-20, ahli biologi Belanda Nikolaas Tinbergen menemukan sebuah perilaku aneh binatang: Di setiap spesies, hewan dalam percobaannya akan lebih memilih yang lebih cantik, lebih cemerlang, lebih menarik perhatian dalam lingkungannya—”stimulus supernormal,” ia menyebutnya—bahkan ketika rangsangan itu palsu semata.

Kategori
Celotehanku

Kartini atau Dewi Sartika?

“Aku juga berjuang,” bela Kartini, “ikut melawan tirani budaya yang feodalistis, tiranik dan hegemonis. Sama sepertimu.”

“Ya, ya, aku tak hendak mencibirmu atau apa. Maksudku-”

“Oke, jujur saja, tak perlu berputar-putar. Kau iri kan?”

“Hey!” Muka Dewi Sartika mendadak merah padam. Seakan ada sejuta sumpah serapah tercekat di kerongkongannya, memaksa ingin keluar. “Di Sumatera sana, Cut Nyak Dien dan Cut Nyak Meutia dengan gagah berani mengangkat senjata langsung. Ada pula Nyai Siti Ahmad Dahlan juga Maria Walanda Maramis yang sama-sama sepertiku, berjuang lewat pendidikan. Dan, ya, mungkin aku memang iri. Kenapa cuma kau yang namanya diabadikan jadi lagu dan ada hari peringatannya segala? Kami, paling banter cuma jadi nama jalan.”

Bayangan kedua perempuan yang kemudian silih jambak layaknya cewek-cewek belia yang bentrok karena rebutan pacar sungguh menyiksa pikiran saya—membuat saya ingin mati ketawa. Apalagi jika sampai saya  mengisahkan kalau mereka selain adu jotos, juga adu mulut dengan beragam umpatan dan kata-kata jorok, sungguh kualat benar saya. Maka, saya tak hendak melanjutkan kisah ini. Namun, masih ada pertanyaan yang masih tertinggal: “Kartini atau Dewi Sartika?”

***

Dalam sesi berbagi Ngaleut Dewi Sartika yang dilakukan tepat di depan pekuburan “Makam Para Boepati Bandoeng” (13/12/15), hampir semua peserta ngaleut menyinggung Kartini, bahkan membandingkannya. Bahwa Dewi Sartika kalah pamor ketimbang Gadis Jepara itu, padahal pahlawan perempuan dari Bandung ini jasanya ‘begitu nyata’.

dewi sartika tinder

“Nike atau Adidas?”, “Pepsi atau Coca-Cola?”, “Honda atau Toyota?”, “Airbus atau Boeing?” dan seterusnya. Saya tak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu (kecuali mungkin jika salah satu di antara mereka membayar saya). Dan ini hampir sama kasusnya seperti ketika harus memilih antara Dewi Sartika atau Kartini. Ini juga berlaku ketika saya ditanya, “Devi Kinal Putri atau Viny?”, “Taeyeon atau Seohyun?”, “Camus atau Sartre?” Meski memang, untuk semacam tokoh ini, saya bisa saja memilih bahwa yang satu lebih saya sukai ketimbang yang lain. Saya akan memberanikan diri memilih, bahkan meskipun saya tak punya alasan yang memadai kenapa memilih.

Dan jujur, saya sebenarnya lebih suka Dewi Sartika. Salah satu alasannya, selain karena beliau begitu gigih memperjuangkan kaumnya lewat pendidikan, tentu saja karena tanpanya, tak akan lahir Raden Atot yang kemudian menginisiasi terbentuknya Persib. 😎

Pahlawan sendiri, berasal dari bahasa Sansakerta, yaitu “phala-wan” yang memiliki arti “orang yang dari dalam dirinya telah menghasilkan sesuatu (phala) yang berkualitas untuk bangsa, negara dan agama” atau bisa juga diartikan sebagai orang yang terkenal akan keberanian dan pengorbanannya dalam usaha untuk membela kebenaran. Meski kita tahu, soal-soal kepahlawanan masih diakuisisi institusi negara. Yang pasti, tanpa perlu membeda-bedakan, kedua perempuan pejuang tadi tentu saja pahlawan.

Kategori
Blog Celotehanku

Belajar Ngeblog dari Viny JKT48

“Semua harus ditulis. Apa pun!” tegas Pramoedya Ananta Toer, “Jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti akan berguna.”

Lantas kenapa kita harus menulis? Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.

Ah ya, kutipan dari ‘Anak Semua Bangsa’ ini mungkin suatu saat akan saya gombalkan buat sang istri—semoga aja sih dapatnya penulis (tapi yang lebih semoga bisa beristri sih). Seperti Eka Kurniawan-Ratih Kumala, Sylvia Plath-Ted Hughes, atau sekadar pasangan yang nggak nikah macam Erik Prasetya-Ayu Utami dan Jean-Paul Sartre-Simone de Beauvoir, rasanya bisa beradu kasih dengan dia yang hobi baca dan tulis jadi salah satu impian terbesar saya.