Kategori
Celotehanku Contest/Giveaway

Taman Kota, Solusi Bagi Kota Sakit

kita butuh taman kota

Kota itu bagaikan suatu makhluk hidup. Sebuah keniscayaan, sakit menjadi satu proses fisiologis yang alamiah. Ya, kota bisa jatuh sakit juga. Salah satu ciri kota yang sakit adalah warganya merasa tidak nyaman untuk keluar rumah. Bisa jadi karena merasa di rumah lebih baik ketimbang harus jadi stres di jalan.

Untuk kota-kota besar di Indonesia, bisa dibilang sebagian besar penduduknya menderita sakit jiwa. Macet, udara yang tidak bersahabat, banjir meski cuma hujan sebentar, beban kerja yang menumpuk, ditambah tanggungan hidup yang makin hari makin berat. Bisa dibayangkan, begitu banyak masalah lain yang akan timbul jika suatu kota dihuni para manusia yang akalnya sakit.

Ciri kota sakit adalah pemerintahnya koruptif, pebisnisnya opurtunis dan kaum intelektualnya apatis. -Ridwan Kamil

Betapa jahiliyah-nya suatu kota, jika tiga pilar utama tadi, yang harusnya menjadi penggerak dan pembangun kota, malah jadi faktor bobroknya suatu kota.

Kategori
Cacatnya Harianku

Pelesir ke Museum KAA

Kota Bandung lagi berpesta nih. Lagi suasan-suasana ultah yg ke 203. Wilujeng milangkala, mugia janten kota nu livable sareng lovable!

Nah, salah satu event yg sekarang jadi perbincangan ya Braga Festival. Ga bakal bahas si Bragfest, tapi bakal ngebahas soal si museum yg lokasinya emang sekitaran Braga ini. Ya, Museum Konferensi Asia Afrika!

Dalam rangka memperingati ulang tahun Kota Bandung, sebagai bentuk promosi juga kali ya, Museum yg berlokasi di Jl. Asia Afrika No. 65 ini ngadain beragam kegiatan dengan tema “203 Tahun Kota Bandung: Bandung Berbenah”. Udah dimulai dari 20 September lalu.

Dan hari ini (28/09/13), agendanya ada talkshow yg digelar di Ruang Utama Gedung Merdeka dengan menghadirkan Kang Acil Bimbo, Budhiana Kartawidjaja, M. Ichsan Harja, dan T. Bachtiar sebagai pembicara.

Ruang utama Gedung Merdeka pas KAA 1955
Ruang utama Gedung Merdeka pas KAA 1955. Sumber: Google image.
Pa walikota baru lagi sambutan. Oh Ya Allah, turunkanlah dari langit "kamera yg mumpuni" buat hamba-Mu ini.
Pa walikota baru lagi sambutan. Oh Ya Allah, turunkanlah dari langit “kamera yg mumpuni” buat hamba-Mu ini.
Para pembicara. Emang jelek jepretannya, salahkan kameranya ya.
Para pembicara. Emang jelek jepretannya, salahkan kameranya ya.

“Bangsa yg besar adalah bangsa yg ngehargain sejarahnya”. Oke, sebagai anak bangsa yg pengen bangsanya jadi satu bangsa yg besar, saya datang ke Museum KAA. Ya, museum di Bandung pertama yg saya kunjungi. Touch down perdana di museum, tapi berhasil ga check-in sekarang mah, Foursquare sama Path-nya udah saya hapus soalnya.

Okeh balik lagi ke Museum KAA ini. Sesuai namanya aja, tempat ini merupakan memorabilia konferensi super dahsyat yg mengguncang dunia Asia Afrika. Konferensi Asia Afrika yang diselenggarakan di Bandung pada tanggal 18 sampai dengan 24 April 1955 mencapai kesuksesan besar, baik dalam mempersatukan sikap dan menyusun pedoman kerja sama di antara bangsa-bangsa Asia Afrika dalam ikut serta membantu terciptanya ketertiban dan perdamaian dunia.

Konferensi ini melahirkan Dasa Sila Bandung yang kemudian menjadi pedoman bangsa-bangsa terjajah di dunia dalam perjuangan memperoleh kemerdekaannya dan yang kemudian menjadi prinsip-prinsip dasar dalam usaha memajukan perdamaian dan kerja sama dunia.