Kategori
Celotehanku

Buku yang Terus Hidup

borges obra poetica

Ini seperti semacam olahraga otak, tapi bukan. Buku pertama yang saya dapat dari perempuan yang saya cintai dan yang tinggal bersamanya adalah sebuah buku yang ditulis Mircea Eliade. Saya masih tidak mengerti apa yang dia coba sampaikan. Siapapun itu, siapapun yang tidak lebih dungu, bakal cepat sadar kalau hubungan ini tak akan bertahan lama dan tak akan sampai pada jalan yang lebih mendingan untuk menjauhkan dirinya dari kemalangan. Saya tak bisa mengingat apa buku pertama yang ibu saya kasih. Yang bisa saya ingat adalah sebuah buku ilustrasi sejarah tebal, lebih sebuah komik, yang lebih mendekati Pangeran Valiant ketimbang Superman, tentang Perang Pasifik, perang antara Cile dengan aliansi Peru-Bolivia. Jika ingatan saya benar, jagoan di buku itu — semacam War and Peace yang masih dalam tahap pengembangan — adalah seorang sukarelawan yang mendaftar di Séptimo de la Línea, satu resimen infanteri terkenal. Saya akan selalu bersyukur karena ibu memberi buku itu ketimbang buku bocah klasik Papelucho. Sedangkan ayah, saya tidak ingat ia pernah memberi saya sebuah buku, walaupun kadang-kadang kami melintasi toko buku dan atas permintaan saya, dia akan membelikan sebuah majalah berisi satu artikel panjang tentang penyair-penyair elektrik Prancis. Semua buku-buku tadi, termasuk majalah, bersama dengan banyak buku lainnya, hilang selama petualangan dan pindahan saya, atau meminjamkannya pada orang dan tidak pernah melihatnya lagi, atau menjualnya atau menghadiahkannya.

Tapi ada satu buku yang tidak akan pernah saya lupakan. Bukan sebatas saya ingat kapan dan di mana saya saat membelinya, tapi juga sepanjang hari itu, orang yang menunggu saya di luar toko buku, apa yang saya lakukan malam harinya, dan kebahagiaan (sama sekali tidak rasional) yang saya rasakan ketika saya menggenggamnya di tangan. Itu adalah buku pertama yang saya beli di Eropa dan masih saya punya sampai sekarang. Itu Obra poetica-nya Borges, diterbitkan Alianza/Emecé pada 1972 dan sudah lama tak dirilis lagi. Saya membelinya saat di Madrid pada 1977 dan, meski puisi Borges tidak terlalu akrab bagi saya, saya mulai membacanya malam itu juga dan tak berhenti sampai pukul delapan pagi esok harinya, seolah-olah tidak ada sesuatu di dunia ini yang layak dibaca kecuali puisi-puisi itu, tidak ada hal lain yang bisa mengubah jalannya kehidupan liar yang telah saya jalani sampai saat itu, tidak ada hal lain yang dapat membuat saya merenung (karena puisi Borges punya kecerdasan alami dan juga keberanian dan keputusasaan — dengan kata lain, satu-satunya hal yang mengilhami permenungan dan yang mempertahankan puisi tetap hidup).

Bloom berpendapat bahwa adalah Pablo Neruda, lebih dari penyair lainnya, yang menjadi pewaris Whitman. Menurut Bloom, bagaimanapun, Neruda berusaha untuk menjaga agar pohon Whitmanian tetap tumbuh dan berakhir dengan kegagalan. Saya pikir Bloom salah, seperti yang sering terjadi, bahkan pada banyak topik lainnya, meski memang dia adalah kritikus sastra terbaik di benua kita ini. Memang benar bahwa semua penyair Amerika harus — untuk lebih baik atau lebih buruk, cepat atau lambat — dihadapkan dengan Whitman. Tanpa diketahui, Neruda melakukannya sebagai anak yang taat. Vallejo melakukannya sebagai anak pembangkang atau pemboros. Borges — dan ini adalah sumber keautentikannya dan kepalanya yang dingin — melakukannya sebagai keponakan, dan bukan hanya sangat dekat, seorang keponakan yang rasa ingin tahunya terombang-ambing antara minat entomologis dan semangat seorang pecinta yang gigih. Tidak ada yang lebih asing baginya daripada usaha untuk mengejutkan atau menyetir kekaguman. Tidak ada yang lebih acuh tak acuh terhadap massa Amerika yang luas, meskipun di suatu tempat dia menulis bahwa apa yang terjadi pada satu orang terjadi pada semua manusia.

Namun puisi Borges adalah yang paling Whitmanian dari yang lain-lain: Tema-tema Whitman selalu ada dalam sajaknya, seperti juga kontradiksi dan sanggahannya, kebalikan dan kepatuhannya pada sejarah, kepala dan ekor dari campuran bernama Amerika dan yang sukses atau gagalnya belum bisa diputuskan. Tapi dia tak sebatas itu, dan bukan prestasi kecil.

Saya mulai dengan cinta pertama saya dan Mircea Eliade. Dia masih hidup dalam ingatan saya; Orang Rumania telah lama diusir ke api penyucian dalam kejahatan yang belum terpecahkan. Saya berakhir dengan Borges dan dengan rasa syukur dan kagum saya, meski hati-hati untuk tidak melupakan baris dalam “Dekat Penghakiman Akhir,” sebuah puisi yang dibenci Borges: “Aku mengatakan keheranan saat orang lain mengatakan hanya hal biasa.”

*

Diterjemahkan dari The Book that Survives dalam Between Parentheses: Essays, Articles and Speeches, kumpulan tulisan dari Roberto Bolano.

Kategori
Non Fakta

Sang Juru Luka, Walt Whitman

walt-whitman_hospital-interior

Terjemahan puisi The Wound Dresser karya Walt Whitman. Bapak Penyair Amerika ini pernah bekerja menjadi perawat sukarela selama tiga tahun saat Perang Sipil Amerika, dan pengalamannya dalam merawat si sakit dan menghadapi beragam kematian itu dituangkan salah satunya dalam puisi ini.

1

Seorang pak tua menunduk saat aku muncul ke arah wajah-wajah baru,
Menengok tahun-tahun yang lampau untuk dirangkum sebagai jawab pada anak-anak,
Ayo kisahkan pada kami hai pak tua, seperti seorang pria muda dan gadis yang mencintaiku,
(Tergugah dan marah, aku berpikir untuk membanting tanda bahaya, dan mendesak perang yang tak berkesudahan,
Tapi segera jariku menghentikanku, wajahku luruh dan aku undur diri,
Untuk duduk bersama yang terluka dan menenangkan mereka, atau diam-diam menyaksikan kematian;)
Tahun-tahun setelah kejadian ini, dalam kegeraman berapi-api ini, dalam kesempatan ini,
Pahlawan pilih tanding, (apakah yang satu begitu perkasa? dan yang lain sama-sama perkasa;)
Sekarang jadilah saksi lagi, ulas balatentara paling tangguh di muka bumi itu,
Dari balatentara itu begitu gegas begitu menakjubkan yang kau lihat bisakah untuk dikisahkan buat kami?
Apa yang tetap tinggal paling akhir dan mendalam? dalam kepanikan yang sukar dipahami,
Dari pertempuran gemilang atau pengepungan luar biasa itu apa yang tertinggal paling membekas?

2

Wahai gadis dan pria muda yang kucinta dan yang mencintaiku,
Apa yang kau minta dari hari-hariku yang begitu aneh dan ingatan akan perbincangan yang tiba-tiba,
Serdadu membuatku siaga setelah perjalanan panjang dalam balutan peluh dan debu,
Tepat pada waktu aku datang, terjun dalam perjuangan, keras berteriak dalam serbuan cepat penuh gemilang,
Masukkan hasil kerja tangkapan—meski pun, seperti satu sungai berarus deras yang menghilang secara perlahan,
Melintas dan hilang memudar—aku tidak memikirkan resiko serdadu atau sukacita serdadu,
(Keduanya kuingat dengan baik—banyak kesulitan, beberapa kegembiraan, namun aku puas.)

Tapi dalam diam, dalam proyeksi mimpi,
Sementara blantika peruntungan dan pertunjukan dan keriaan berlangsung,
Segera apa yang telah selesai dilupakan, dan gelombang menghapus jejak di atas pasir,
Dengan lutut-lutut dibebat kembali aku memasuki pintu, (sedangkan untuk kau di sana,
Siapa pun kau, ikuti dengan tanpa suara dan kuatkan hati.)

Menjingjing perban, air dan spons,
Lekas dan sigap untuk rawatanku aku pergi,
Di mana mereka terbaring di tanah setelah pertempuran terjadi,
Di mana darah tak ternilai mereka memerahkan rumput, juga tanah,
Atau ke deretan tenda rumah sakit, atau di bawah rumah sakit beratap,
Untuk deretan panjang dipan yang ke atas ke bawah di setiap sisi aku sekembalinya,
Untuk masing-masing dan semuanya satu demi satu aku mendekat, tidak satu pun kulewatkan,
Petugas lainnya memegang nampan, ia membawa ember sampah,
Segera akan penuh dengan gumpalan kain dan darah, dikosongkan, dan penuh lagi.

Aku terus pergi, aku berhenti,
Dengan lutut dibebat dan tangan yang mantap untuk membalut luka,
Aku ketat pada tiap-tiap mereka, kepedihan begitu jelas dan tak dapat dihindari,
Seseorang mengalihkanku dengan matanya yang menarik—bocah yang malang! Aku tidak pernah mengenalimu,
Namun aku pikir aku tidak bisa menolak saat ini untuk mati karenamu, jika itu akan menyelamatkanmu.

3

Saat ini, saat ini aku pergi, (buka pintu-pintu waktu! buka pintu-pintu rumah sakit!)
Kepala yang remuk kubebat, (tangan makin menggila merobek perban,)
Leher seorang kavaleri yang tertembus peluru kuperiksa,
Keras untuk bernapas, sayu matanya, namun kehidupan berjuang keras,
(Datanglah kematian yang manis! Jadi yakinlah Hai maut yang indah!
Dalam rahmat cepatlah datang.)

Dari tunggul lengan, tangan yang diamputasi,
Aku membuka balutan bergumpal, mengerik kulit mati, membersihkan nanah dan darah,
Kembali pada bantalnya si prajurit membungkuk dengan leher bengkok dan kepala yang menyamping,
Matanya tertutup, wajahnya pucat, dia tidak berani melihat pada tunggul berdarah,
Dan belum melihatnya.

Aku membebat luka di sampingnya, dalam, dalam,
Tapi satu atau dua hari lagi, untuk melihat keadaan badan seluruhnya sia-sia dan tenggelam,
Dan wajah kuning-biru terlihat.

Aku membebat bahu berlubang, kaki dengan luka akibat peluru,
Membersihkan satu dengan gangren busuk yang menggerogoti, begitu memuakkan, begitu menjijikan,
Sementara petugas lain berdiri di belakangku memegang nampan dan ember.

Aku setia, aku tidak menyerah,
Paha yang patah, di lutut, luka di perut,
Ini dan lainnya aku bebat dengan tangan tanpa ekspresi, (meski di dadaku ada api, api yang membakar.)

4

Jadi dalam keheningan dalam proyeksi mimpi-mimpi,
Kembali, lanjutkan, aku memperjalin jalan menuju rumah sakit,
Yang sakit dan luka kutentramkan dengan belaian menenangkan,
Aku duduk bersama dengan gelisah setiap malam gelap, ada yang masih begitu muda,
Beberapa benar-benar menderita, aku teringat pengalaman manis dan sedih,
(Banyak lengan penuh kasih seorang prajurit leher ini telah bersilang dan istirahat,
Banyak ciuman prajurit berdiam di bibir berjenggot ini.)

Kategori
Celotehanku

Manifesto Hidup Sehat ala Walt Whitman

Walt Whitman quote

Selain Agatha Christie,  ada Walt Whitman yang merupakan penulis penting yang pernah berprofesi sebagai perawat. Whitman, dikenal dalam sejarah sastra kanon Amerika Serikat sebagai penyair yang pertama kali mengenalkan puisi gaya bebas–enggak terikat oleh rima dan matra. Di awal 1860-an, enam tahun setelah menerbitkan secara mandiri Leaves of Grass, Whitman mulai bekerja menjadi perawat sukarela saat Perang Sipil Amerika. Dan pengalamannya dalam merawat si sakit dan menghadapi beragam kematian itu dituangkan dalam kumpulan puisi yang dihimpun dalam The Wound Dresser.