Kategori
Catutan Pinggir

‘Red’ dan ‘Velvet’ dalam Red Velvet

tumblr_o3erjd0ot61rcoad1o1_1280

Terjemahan dari wawancara Dazed Magazine dengan Red Velvet dalam artikel “Meet the Girl Group Breaking Kpop’s Rules”, oleh jurnalis musik dan penulis asal London Taylor Glasby.

Ketika Red Velvet meledak ke dalam kesadaran publik pada tahun 2014, mereka memulai dengan sebuah konsep dwitunggal menarik yang jarang ditemukan dalam grup K-Pop perempuan, mengadu antara suara berbasis R&B yang agak lambat (‘velvet’), dibenturkan dengan musik pop yang catchy (‘red ‘). Tapi bukan hanya soal musiknya yang membedakan mereka: dengan pengecualian seperti yang juga diperagakan 2NE1 dan Girls’ Generation, target audiens grup K-Pop perempuan umumnya untuk laki-laki, dengan kecenderungan adanya pengkotak-kotakan si artis ke dalam kategori antara ‘sexy‘ atau ‘innocent‘, yang dibuat (seperti kebanyakan wanita dalam musik pop) untuk menyajikan fantasi sebanyak mungkin sebagai sarana menghibur. Red Velvet, di sisi lain, memiliki fanbase yang didominasi perempuan muda, dan grup ini tidak seksi tidak juga polos, dengan video musik yang seringnya gelap, trippy, menyeramkan, atau menghantui, sekalipun ketika mereka tenggelam dalam warna-warni pastel.

Meskipun mereka masih dipandang sebagai pendatang baru sepanjang hirarki K-Pop yang bersangkutan, dua tahun sejak mereka memulai debutnya dengan “Happiness” dan Irene, Seulgi, Wendy, Joy, juga Yeri masih bermain-main dengan aturan. Awalnya dibentuk sebagai grup empat personel (Yeri, anggota termuda mereka, bergabung pada awal tahun 2015), Red Velvet menunjukkan suara mereka yang tak kalah bersaing di dua single A-side seperti “Ice Cream Cake” dan “Automatic”, peleburan lebih lanjut soal pembagian ‘red’/’velvet’  ada di album penuh mereka Red pada tahun 2015, yang seluruhnya didedikasikan untuk eksperimen tempo cepat dalam pop, electronica, dan dance, salahsatunya “Dumb Dumb” yang tak terkalahkan. Tapi dengan rilis terbaru, mini album ketiga mereka Russian Roulette, grup ini terus melakukan hal-hal dengan cara mereka sendiri, secara efektif membuang konsep yang mereka bangun dengan mengawinkan kedua sisi mereka, ‘red’ dan ‘velvet’. Dalam acara musik Show Champion, Joy secara impulsif menyebutkan bahwa mereka tidak akan lagi memisah-misahkan tema tadi, satu momen langka tentang sikap kasual dalam dunia K-pop yang biasanya sangat penuh perhitungan.

Sebuah ‘persaudaraan’ adalah cara paling jelas untuk menggambarkan Red Velvet – hanya sekali saja orang dari luar grup ditampilkan dalam salah satu video mereka. Barangkali karena imej mereka tetap terjaga, bebas dari seksualisasi terang-terangan atau stereotip tak realistis, adalah sebagian alasan grup ini mendapatkan fans loyal, yang membuat “Russian Roulette” langkah mengesankan pada banyak tangga musik Korea Selatan. Tapi mungkin juga disebabkan keunikan dalam tubuh Red Velvet sendiri – grup ini adalah sekumpulan dari banyak bagian, dari yang bersemangat ke yang dengan pemikiran mendalam dan introvert. Kami duduk untuk mengenal mereka, fanbase mereka, album terbaru mereka – dan pelajaran apa yang telah mereka dapatkan dalam dua tahun terakhir sebagai salah satu grup muda K-Pop paling sukses.

‘Russian Roulette’ sejauh ini terasa sebagai lead track ‘red’-nya Red Velvet yang paling matang. Apa yang kalian pikirkan ketika kalian pertama kali mendengar lagu ini?

Wendy: Mungkin karena aku terbiasa dengan lagu-lagu sebelumnya seperti ‘Ice Cream Cake’ atau ‘Dumb Dumb’, (tapi) ketika aku mendengar tempo medium aku berpikir, ‘Bukankah seharusnya dibuat sedikit lebih cepat?” Tapi meskipun kami mendengarkan lagu ini lebih dari seratus kali sehari ketika kami berlatih, aku tidak pernah bosan dan justru makin menyukainya setiap kali diputar.

Irene: Aku pikir kalau ‘Russian Roulette’ akan mirip dengan ‘Ice Cream Cake’ atau ‘Dumb Dumb’, karena banyak orang menyukai lagu ini. Meski memang, ketika aku pertama kali mendengarkan lagu ini aku merasa iramanya agak lemah dibanding dengan lagu-lagu sebelumnya, yang membuatku khawatir kalau-kalau tidak akan memiliki banyak gebrakan. Tapi saat kami sedang dalam rekaman aku pikir ‘Russian Roulette’ menunjukkan sisi penting lain dari ‘red’, dengan pesona yang berbeda.

MV ini memiliki kombinasi menyeramkan antara rasa manis dan ancaman – sulit membayangkan bahwa yang lain bisa melakukan konsep macam ini. Apa ide kalian yang ingin dicoba yang belum ada grup perempuan lainnya pakai – mungkin konsep yang biasanya diberikan pada grup laki?

Wendy: Meskipun ini bukan sebuah konsep yang belum dilakukan, aku ingin melakukan penampilan panggung karismatik, memakai tuksedo seperti dalam ‘Mr. Mr’-nya Girls’ Generation. Aku pikir ini mungkin akan mempertunjukkan sisi lain Red Velvet yang belum kami singkapkan.

Seulgi: Aku ingin melakukan pertunjukan karismatik juga. Aku benar-benar suka genre dance, seperti BoA ‘No.1’ atau ‘MOTO’, dan ingin melihat bagaimana Red Velvet akan terlihat jika kami membuat penampilan penuh tenaga di atas panggung.

Joy: Aku pikir menarik untuk mencoba konsep yang berlawanan, seperti grup laki lakukan, yang kuat, liar, dan bahkan sesuatu yang mungkin tak karuan.

Album terbaru ini adalah campuran antara kedua sisi grup ‘red’ dan ‘velvet’, manakah lagu yang paling mencerminkan kalian?

Yeri: Bagiku, ‘Some Love’. Aku pikir itu mungkin lagu favoritku dari semua lagu Red Velvet, tak bohong. Suaranya benar-benar segar, dan lirik yang begitu manis dan jujur, itulah sebabnya aku pikir lagu ini akan mencerminkan bukan hanya diriku tetapi juga banyak orang yang seusia denganku.

Irene: Aku akan menyebut ‘Some Love’ juga. Lagu ini tidak terlalu riang atau terlalu lambat, dan memiliki suara yang unik. Ketika aku mendengarkan lagunya aku merasa nyaman, seolah-olah aku sedang mengenakan pakaian dan mendapati diriku secara tak sadar mengangguk-angguk terhadap temponya dan merasai iramanya.

Joy: Aku pikir ‘My Dear’ memperlihatkan sisi lucu dari ‘red’ dan sisi feminin dari ‘velvet’ pada saat yang sama, sehingga lagu ini paling mencerminkanku. Ini adalah lagu yang dapat aku ekspresikan dengan baik lewat vokalku. Aku masih ingat begitu bahagia selama sesi rekaman seolah aku terhubung dengan emosi keseluruhan lagu dan berempati dengannya.

Red Velvet memiliki fans perempuan besar, yang dipandang sebagai tidak biasa bagi grup perempuan. Bagaimana perasaan kalian mengetahui begitu banyak perempuan muda yang mengagumi kalian? Apakah kalian merasa terbebani karena dianggap sebagai panutan?

Wendy: Sejujurnya, aku tidak bisa mengatakan kalau aku tidak merasakan tekanan apapun, tapi aku punya perasaan yang lebih besar yakni rasa syukur. Para fans memberi rasa cinta seiring berjalannya waktu, yang memberiku gairah untuk melakukan kinerja yang lebih baik dan lebih baik. Itu sebabnya, jika aku membuat kesalahan di atas panggung, aku merasa sangat menyesal pada fans karena tidak bisa menampilkan performa sempurna yang mereka tunggu-tunggu. Mengetahui akan hal ini, memberiku kekuatan lebih untuk berlatih lebih keras.

Seulgi: Ketika aku masih muda, aku mengagumi artis seperti BoA dan TVXQ!, dan dicintai oleh fans seperti mereka adalah sesuatu yang hebat. Jadi aku ingin mengucapkan terima kasih kepada semua fans di seluruh dunia! Kami berpikir tentang apa yang para fans ingin lihat dari kami dan apa yang bisa kami lakukan untuk menjadi panutan yang baik bagi mereka. Itu sebabnya aku selalu mencoba untuk menunjukkan kepercayaan diri pada apapun yang kulakukan baik di atas dan di luar panggung – dan akan terus melakukannya.

Irene: Aku masih berpikir ada banyak yang harus dipelajari dan diperbaiki karena masih belum lama sejak kami debut, dan aku masih merasa bingung dan bersyukur dari beragam rasa cinta dan dukungan. Aku mencoba untuk berhati-hati dengan apa yang kukatakan atau lakukan karena fans menonton dan mengikuti kami, tetapi aku menganggap itu sebagai tekanan yang baik karena benar-benar membimbingku untuk berkembang lebih baik.

‘My Dear’ adalah lagu cinta yang sangat manis, dan menyentuh. Siapa member yang mampu mengekspresikan ini dengan mudah? Dan siapa yang bukan tipe sentimental sama sekali?

Seulgi: Sedikit memalukan untuk mengatakan demikian, tapi aku pikir alasan mengapa kami mampu mengekspresikan lagu dengan sangat baik karena nada vokal kami benar-benar cocok dengan baik dan setiap anggota memiliki sisi sentimental mereka sendiri. Aku terutama berpikir bahwa nada dan emosi Joy cocok dengan lagu ini. Perasaan menyenangkan dan berdebar-debar yang kamu tangkap dari lagu itu benar-benar pas diekspresikan melalui vokal Joy.

Yeri: Aku setuju dengan Seulgi. Aku benar-benar berpikir tentang Joy ketika aku mendengar lagu ini untuk pertama kalinya!

Joy: Aku sangat suka lagu ini, jadi aku senang dengan member lain memilihku! Aku pribadi sangat suka lagu-lagu seperti ‘My Dear’ yang memiliki lirik manis yang ceria dan melodi yang mengingatkanku akan masa muda – meskipun aku masih muda … (tertawa)

 

 

 

IRENE

Setelah mendapat sambutan baik berkat web drama Game Development Girls, apa peran yang ingin kamu mainkan berikutnya?

Irene: Para member sering meniru-niruku setelah menonton web drama itu. Mereka bersenang-senang dengan itu selama beberapa waktu! Jika aku mendapatkan kesempatan, aku ingin mencoba karakter seperti Pippi Longstocking. (Aku berpikir demikian karena) Yeri benar-benar energik dan memiliki kepribadian yang ceria, dan tiba-tiba aku mendapati bahwa diriku berbeda pada usianya. Aku menikmati masa remajaku dengan caraku sendiri, tapi aku pikir akan menarik untuk menunjukkan sisi yang tidak kumiliki, atau mungkin aku tidak menyadari, lewat akting.

Sebagai leader Red Velvet, apa saranmu kepada anggota yang datang kepadamu dengan masalah? Dan bagaimana kamu menangani masalahmu sendiri?

Irene: Alih-alih memberikan nasihat atau mengatakan hal-hal umum seperti ‘tetap semangat’ atau ‘semuanya akan baik-baik saja’, aku mencoba untuk mendengarkan dengan cermat, bersimpati, dan berbagi situasi yang sama atau perasaan yang pernah kualami di masa lalu. Di sisi lain, aku cukup banyak mencoba untuk mengatasi masalahku sendiri. Jika keprihatinanku terkait dengan kelompok, maka aku akan membahasnya bersama-sama dengan member lain – tetapi jika itu pribadi, aku mencoba menyelesaikannya sendiri dengan penuh pemikiran.

 

 

 

JOY

Dengan suksesnya dalam variety show We Got Married, mana yang akan kamu lakukan selanjutnya?

Joy: Aku benar-benar gugup karena itu adalah variety show pertamaku, tapi itu adalah pengalaman hebat! Jika aku memiliki kesempatan untuk melakukan hal yang lain, aku benar-benar ingin berada di sebuah reality show dengan anggota Red Velvet, di mana kami dapat menampilkan lebih dari sisi alami kami buat fans.

Selama dua tahun terakhir, kita telah mampu mengetahui kepribadian ceria, kadang-kadang penuh semangat. Tapi adakah sesuatu dalam diri Soo-young (nama lahir Joy) yang ingin dibeberkan pada kita? Apakah ada bagian yang kamu ingin agar orang-orang pahami lebih baik?

Joy: Itu pertanyaan yang sangat sulit, karena aku bahkan tidak tahu semua tentang diriku sendiri! Ketika monitoring (menonton pemutaran), aku menemukan ekspresi baru, perilaku, suara, dan lebih dari diriku sendiri, yang sangat mengejutkan bagiku juga. Aku pikir ada lebih banyak sisiku untuk ditelusuri.

 

 

 

SEULGI

Kamu dilatih dalam waktu yang sangat lama. Ketika trainee lainnya debut sebelum kamu, apa yang kamu katakan pada diri sendiri untuk menjaga semangatmu? Apakah kamu pernah berpikir untuk berhenti?

Seulgi: Ada masa-masa sulit dan merosot, tapi aku tidak pernah menghindarinya. Aku percaya bahwa jika aku tidak melalui periode tersebut, aku tidak akan berada di sini sekarang. Juga, jika aku tidak melalui masa-masa sulit ketika aku masih trainee, aku akan menghadapi pula setelah memulai debut, yang akan menjadi lebih sulit untuk diatasi. Melihat ke belakang, masa-masa sulit yang kulalui benar-benar momen tak ternilai yang membuatku fokus pada tujuanku.

Sebagai main dancer, kamu membuat rutinitas Red Velvet ini terlihat mudah sementara sebenarnya tidak. Mana dance yang paling sulit untuk dikuasai, dan yang menurut kamu paling diingat oleh fans?

Seulgi: Anehnya, koreografi untuk ‘Russian Roulette’ itu sebenarnya yang paling sulit bagi ku. Meskipun terlihat mudah dibandingkan dengan yang sebelumnya, koreografinya memerlukan gerakan tubuh dan otot yang tidak biasa kita lakukan, sehingga butuh waktu untuk membiasakan diri. Secara pribadi aku pikir ‘Be Natural’ menjadi bagian dance yang paling mengesankan bagi para fans, karena penampilan dengan kursi benar-benar menunjukkan sisi baru yang berbeda dari imaji Red Velvet miliki saat itu.

 

 

 

YERI

Menonton pertunjukan comeback, rasa percaya dirimu di atas panggung tampaknya telah banyak bertambah. Apa kamu membiasakan diri, selain berlatih?

Yeri: Benarkah? Apa aku terlihat lebih percaya diri di atas panggung? (Tertawa) Yah, aku melakukan banyak pemantauan diri tidak hanya pada penampilan-penampilan terkini, tapi juga penampilan sebelumnya. Juga, sebelum merilis album baru, aku mencoba untuk menonton dan memeriksa semua penampilan terdahulu untuk melihat hal-hal yang kubutuhkan untuk ditingkatkan, yang mana ini sangat membantu. Meski aku masih punya banyak kekurangan, pengalaman yang kuperoleh selama bertahun-tahun benar-benar membantuku untuk tampil lebih percaya diri.

Apakah ada saat-saat menyenangkan ketika merekam album ini? Apa yang kamu lakukan ketika sedang tidak ada giliran dalam kamar rekaman?

Yeri: Meskipun aku seringnya bermain dan bercanda dengan member lain, aku menjadi kebalikannya selama sesi rekaman. Sambil menunggu giliranku di studio, aku fokus dan mendengarkan musik sehingga aku dapat sepenuhnya memahami dan mengekspresikan perasaan dalam lagu tapi, yang paling utama, aku makan! Aku hampir pingsan suatu kali dalam sesi rekaman karena tak makan terlebih dahulu, dan harus beralih bergantian dengan member lain. Karena banyak energi dan stamina yang dibutuhkan selama sesi, makan makanan yang baik adalah nomor satu yang kulakukan untuk dipersiapkan.

 

 

 

WENDY

Sudah dua tahun sejak debutmu. Ketika berpikir tentang grup, apa kekhawatiranmu terbesar, dan apa yang kamu pelajari untuk mengurangi kekhawatiran tadi?

Wendy: Aku merasa lebih bertanggung jawab untuk menampilkan yang lebih baik dan meningkatkan imej Red Velvet karena kami memperoleh dukungan yang lebih besar. Aku khawatir tentang apa yang fans pikirkan tentang album baru ini dan berharap untuk tidak mengecewakan mereka. Namun, aku tak terlalu khawatir soal kerja sama tim. Meskipun kami benar-benar sibuk dan lelah mempersiapkan album baru atau membuat penampilan, aku merasa kerja tim kami telah menjadi lebih kuat – kami memahami satu sama lain tanpa perlu berkata apa-apa.

Keluargamu masih tinggal di Kanada – seberapa besar mereka mengikuti pekerjaanmu? Dan apa jenis umpan balik yang mereka berikan padamu? Apakah membantu, ungkapan cinta atau hal-hal aneh yang orang tua akhirnya katakan?

Wendy: Keluargaku melakukan banyak pemantauan – bahkan mungkin setiap hari! Kami biasanya berkirim pesan satu sama lain di pagi hari dan di malam hari, dan selalu ada beberapa jenis umpan balik dari mereka setiap kali aku tampil di atas panggung. Mereka bahkan tetap terjaga dan mendengarkan program radio malam jika ada aku. Ayah dan kakakku biasanya mengirim dukungan lewat pesan singkat, sedangkan ibuku selalu bertanya tentang kesehatan dan vokalku. Kadang-kadang dia lebih teliti ketimbang aku!

Kategori
Non Fakta

Wendy’s

wendys logo

Tuhan meneleponku dan memintaku bertemu empat mata, di Wendy’s Braga.

“Langsung saja,” sepersekian detik setelah aku duduk di hadapannya, masih dalam kebingungan, Dia langsung memberondongku. “Kiamat akan datang sebentar lagi. Tepatnya besok lusa.”

Benarkah aku sedang bertatapan langsung dengan tuhan? Manusia pertama yang bertemu dengan Tuhan adalah Adam, dan itu di surga, sebelum kemudian kakek moyang kita itu diusir dari sana. Manusia kedua yang bertemu dengan Tuhan, dan itu terjadi di bumi, di Gunung Sinai, adalah Musa, dan gunung-gunung dibuat meledak karenanya. Yang ketiga adalah Muhamad, dan beliau yang mendatangi-Nya langsung, dari bumi, melewati tujuh lapis langit. Mungkin ada yang lainnya, tapi cuma itu yang kuingat. Kalau benar Dia yang duduk di hadapanku adalah Tuhan, sungguh tak praktis cara kerjanya. Biasanya Dia akan menyuruh Jibril sebagai perantara, itu pun sebagian besar pesannya bakal disampaikan lewat mimpi. Dan para manusia pilihan itu, minimal akan dibuat resah gelisah, atau sakit panas selama berhari-hari setelahnya. Morgan Freeman pernah berperan jadi tuhan, dan kalau wujudnya seperti dia aku pasti percaya. Yang sungguh membuatku ganjil adalah, yang menganggap dirinya Tuhan itu adalah seorang perempuan muda. Ditambah, rambutnya dicat merah.

“Panggil saja Aku Wendy,” ucap-Nya datar. “Ya, member Red Velvet itu, favoritmu, kan? Di surga kau enggak hanya bisa menonton Youtube sepuasnya, tapi lebih dari itu. Aku sudah siapkan.”

Aku tak tahu, apa Dia benar Yang Maha Tahu atau cuma perempuan yang pandai memakai keserbatahuan Google. Yang pasti, perempuan itu memang sangat mirip gadis Korea yang sering kutatap di layar laptop. Padahal, suara telepon tadi adalah dari seorang pria paruh baya, dan sekarang, entah berkat operasi plastik dan pita suara dengan kecepatan tinggi, dia sudah jadi gadis cantik tak terkira sepantaranku. Atau, jawaban paling masuk akal adalah, bahwa Dia beserta komplotan-Nya hendak menjahiliku.

“Aku tak hendak menjahilimu atau apa,” dengan tangan kanan, Dia mengibas rambut panjang yang menghalangi matanya ke belakang telinga kanannya. “Aku hanya ingin memberimu tugas. Tolong kabarkan hal ini pada umat manusia.”

Dia mencelupkan sebatang kentang goreng ke saus tomat, memutar-mutarnya sebelum memasukan ke mulutnya dengan tiga kali gigit. Siang yang terik, aku menatap ke luar, angkot berhenti mendadak tepat di jalanan depan untuk mengeluarkan seorang penumpang, membuatnya dihadiahi rentetan klakson dari mobil dan motor di belakangnya. Minum dulu, tawar-Nya, kemudian menyodorkan gelas plastik berisi minuman dingin warna kuning.

“Baik. Sebelum kiamat terjadi, biarkan saya minum yang satu ini,” ucapku, menghela napas, kemudian menyesap jus limun itu.

“Kau pasti pikir aku sakit jiwa, kan?”

Aku tak tahu harus membalas apa.

“Maaf sebelumnya. Nampaknya aku sudah gila.”

Aku masih tak tahu harus menanggapi apa. Dia menghela nafas panjang, menyisir rambut dengan kedua tangannya ke belakang, menghela napas lagi diakhiri dengan sedikit geraman. Sungguh salah, tuhan yang satu ini mengambil wujud seorang gadis muda sepantaranku. Dan Dia terlihat cemberut sekarang. Kau tahu, bagiku, kecantikan seorang perempuan terlihat justru saat dia senewen.

“Aku memang sudah sinting sejak dulu,” kata-Nya. “Membuat dunia ini dan melahirkan kalian semua, untuk kemudian memberi kehidupan penuh penderitaan. Kalian pantas marah. Besok lusa akan kiamat, dan aku menyuruh seorang pengecut untuk mengabarkannya. Sungguh gila. Dan lebih gila kalau kau percaya.”

“Aku percaya ada Tuhan, tapi-”

“Ya?”

“Kau terlalu cantik buat jadi tuhan.”