‘Red’ dan ‘Velvet’ dalam Red Velvet

red velvet

Ketika Red Velvet meledak ke dalam kesadaran publik pada tahun 2014, mereka memulai dengan sebuah konsep dwitunggal menarik yang jarang ditemukan dalam grup K-Pop perempuan, mengadu antara suara berbasis R&B yang agak lambat (‘velvet’), dibenturkan dengan musik pop yang catchy (‘red ‘). Tapi bukan hanya soal musiknya yang membedakan mereka: dengan pengecualian seperti yang juga diperagakan 2NE1 dan Girls’ Generation, target audiens grup K-Pop perempuan umumnya untuk laki-laki, dengan kecenderungan adanya pengkotak-kotakan si artis ke dalam kategori antara ‘sexy‘ atau ‘innocent‘, yang dibuat (seperti kebanyakan wanita dalam musik pop) untuk menyajikan fantasi sebanyak mungkin sebagai sarana menghibur. Red Velvet, di sisi lain, memiliki fanbase yang didominasi perempuan muda, dan grup ini tidak seksi tidak juga polos, dengan video musik yang seringnya gelap, trippy, menyeramkan, atau menghantui, sekalipun ketika mereka tenggelam dalam warna-warni pastel.

Baca Selengkapnya

Wendy’s

Tuhan meneleponku dan memintaku bertemu empat mata, di Wendy’s Braga. “Langsung saja,” sepersekian detik setelah aku duduk di hadapannya, masih dalam kebingungan, Dia langsung memberondongku. “Kiamat akan datang sebentar lagi. Tepatnya besok lusa.” Benarkah aku sedang bertatapan langsung dengan tuhan? Manusia pertama yang bertemu dengan Tuhan adalah Adam, dan itu di surga, sebelum kemudian kakek … Baca Selengkapnya