Kategori
Celotehanku

Burung Murakami Berkicau di Klip Radiohead

“Ada satu buku yang aku baca, dari Murakami, The Wind-Up Bird Chronicles,” ungkap Thom Yorke saat ditanya Rolling Stone soal proses pembuatan album Hail to the Thief pada 2003 silam. “Tokoh utama dalam buku ini bukan seorang karakter sama sekali. Ini adalah soal kegelapan yang menyelubungi dan menghantui orang, yang menarik jatuh mereka. Kekuatan gelap dalam buku ini ikut memikatku.”

Sekarang sudah 2016, apakah kekuatan gelap tadi masih terikat pada diri seorang Thom Yorke? Entahlah. Tapi saat memutar lagu teranyarnya Radiohead di Youtube, ada sesuatu yang menarik, juga misterius, sebab terdapat penampakan burung biru berparuh kuning seperti dalam sampul The Wind-Up Bird Chronicles hasil desain dari John Gall. Burung itu bertengger di tangkai pohon, berkicau di awal dan penghujung klip video, mirip seperti cerita dalam novel terbaik Haruki Murakami tadi.

Kategori
Fiksi

Cerpen Terjemahan: “Burung Nejimaki dan Wanita-wanita Hari Selasa” Karya Haruki Murakami [2/2]

Sebelum pukul dua tepat, aku memanjat dari halaman belakangku melewati dinding batako masuk ke gang. Sebenarnya, ini bukan seperti gang yang kau bayangkan seperti gang pada umumnya; itu hanya penamaan dari kami karena tak punya nama lain yang lebih bagus. Sesungguhnya, itu bukan gang. Sebuah gang punya jalan masuk dan keluar, menghubungkan dari satu tempat ke tempat lain.

Tapi gang ini tak punya jalan masuk atau keluar, mengarah ke tembok batako di satu sisi dan pagar kawat di sisi lainnya. Ini bahkan bukan lorong. Setidaknya, sebuah lorong harus memiliki sebuah jalan masuk. Penduduk sekitar menamainya “gang” hanya demi kemudahan.

Gang berkelok-kelok dihimpit halaman belakang rumah warga kira-kira sepanjang enam ratus kaki. Tiga-kaki-sekian lebarnya, tapi karena sampah yang menumpuk dan tanaman liar yang tumbuh di sisinya, hanya tersisa sedikit ruang sehingga kau harus berdesak-desakan melalui jalur ini.

Kategori
Fiksi

Cerpen Terjemahan: “Burung Nejimaki dan Wanita-wanita Hari Selasa” Karya Haruki Murakami [1/2]

Aku sedang di dapur memasak spaghetti saat wanita itu menelepon. Beberapa saat sebelum spaghetti matang; di sanalah aku, menyiulkan awalan dari La Gazza Ladra-nya Rossini yang sedang diputar radio FM. Sungguh sempurna memasak spaghetti diiringi musik yang pas.

Aku mendengar dering telepon tapi membatin, Acuhkan saja. Biarkan spaghetti matang dulu. Hampir beres, dan di samping itu, Claudio Abbado bersama London Symphony Orchestra akan memasuki crescendo. Setelah berpikir sejenak, aku memutuskan untuk mengecilkan api dan pergi menuju ruang tengah, dengan sumpit yang dipakai menggoreng masih di tangan, mengangkat gagang telepon. Mungkin telepon dari teman, terpikir olehku, mengabarkan kalau ada tawaran kerja.

Kategori
Buku

The Wind-Up Bird Chronicle

Berharaplah jangan jadi perempuan atau kucing dalam dunia fiksi Haruki Murakami, karena kemungkinan besar kamu akan menghilang. Jadi lelaki pun sama sih, bahkan lebih nelangsa, karena kau bakal menderita kesepian ditinggal pergi mereka. Maka, sungguh malang nasib lelaki bernama Toru Okada dalam semesta The Wind-up Bird Chronicle, sebab setelah kehilangan pekerjaan, lalu kucingnya, kemudian istrinya pun ikut-ikutan hilang. Dan yang dilakukan si Toru Okada tadi malah masuk ke dalam sumur kering, kampret banget kan? Mau nyusul Kagome sama Inuyasha kali ya.