the godfather ii eating lonely

Balada Esais Bau Kencur

Kebanyakan artikel Tirto kalau dibaca rasanya kayak novel terjemahan. Rasa Zen RS. Rasa Catatan Pinggir. Rasa daftar pustaka yang dibikin berbunga-bunga. Serbuan komentar pada satu produk tulisan saya. Yang asyik dari adanya media sosial adalah timbulnya polusi notifikasi; meningkatnya nafsu berkomentar sekaligus munculnya rasa haus untuk melihat komentar-komentar tadi – bahkan berlanjut untuk menimpali komentar tadi, kalau sekiranya foto profil si komentator menarik hati. Komentar-komentar buat produk tulisan saya tersebut bisa ditangkap sebagai pujian sekaligus hinaan, atau bisa juga sebagai latihan menulis paling ampuh: menerjemahkan tulisan dari bahasa asing, berguru langsung pada yang lebih jago, menulis ulang teks orang, dan memperpanjang daftar bacaan. Juga, dan di zaman kiwari ini makin terasa, keahliaan oportunistik paling berguna di bawah payung demokrasi liberal dan sistem kapitalisme lanjut adalah memanjat tangga sosial dan memperluas koneksi orang dalam. “Menulis itu hanya omong kosong,” seorang George Orwell mewejang, “Hanya ada satu cara untuk menghasilkan uang dari menulis: kau harus menikahi anak pemilik penerbit.” Baca keadaan lebih penting ketimbang baca buku atau baca komentar seliwatan di medsos.

Read more

kamu sabda armandio

Dio dan Novelnya yang Boleh Kamu Percaya

Salah satu tugas pertama penulis, tegas Aan Mansyur, adalah membunuh klise! Maka, jika masih memakai protagonis penyuka kopi – sungguh ini sudah sebasi tema senja dalam puisi, janganlah menulis fiksi (kecuali jika kau sudah benar-benar hebat yang mampu menggarap tema-tema pasaran macam begini). Dan Sabda Armandio Alif, menegaskan kepenulisannya, karena belum hebat tadi, dengan menghadirkan sosok protaganis yang berbeda: penyuka mie instan goreng. Dilihat dari diferensiasi ini aja, novel perdana Dio ini layak dibaca.

Read more

jisoo blackpink

Berkenalan dengan Realisme Magis

“Saat kita menemukan dunia ini terlalu buruk,” sabda novelis Gustave Flaubert, “kita butuh mengungsi ke dunia lain.” Maka Gabriel Garcia Marquez menemukan dunia lain itu dalam fiksi. Ya, kita bakal menikmati keasyikan akan penemuan sebuah dunia yang hilang, petualangan masa silam lewat pengembaraan sebuah semesta dari novel-novelnya penulis kelahiran Kolombia ini.

Read more