Urutan Baca Tetralogi Buru Pramoedya Ananta Toer

Tahun 1973, sastrawan Pramoedya Ananta Toer ditahan di Pulau Buru, Kepulauan Maluku. Ia diberi keleluasaan, meski hanya sedikit, untuk melanjutkan kerja kreatifnya. Hasrat lama untuk menyusun sejarah Indonesia dalam bentuk cerita pun kembali ditekuninya.

Dengan bahan yang serba terbatas ia mulai menceritakan kisahnya kepada tahanan lain, baik yang sedang di sawah atau ladang atau saat ada di barak penampungan.

Baru dua tahun kemudian ia mulai menulis atas inisiatif beberapa tahanan yang memperbaiki dan menghadiahi mesin tik tua Royal 440 untuknya.

Bulan April 1980 selepas dari tahanan, Pramoedya menemui Joesoef Isak, mantan wartawan Merdeka yang belasan tahun mendekam di Rutan Salemba. Diskusi berkembang, dan kesepakatan dicapai untuk menerbitkan karya-karya eks-tapol yang selama ini tidak mendapat sambutan dari penerbit lain.

Naskah pertama terpilih untuk diterbitkan adalah Bumi Manusia. Pramoedya kembali bekerja keras memilah tumpukan kertas yang berhasil ia selamatkan dari Pulau Buru. Dalam waktu tiga bulan ia berhasil menyalin kembali dan merajut tumpukan kertas lusuh itu jadi naskah buku.

Awal Juli 1980 naskah Bumi Manusia dikirim ke percetakan Aga Press dengan harapan terbit menjelang peringatan Proklamasi. Cetakan pertama keluar tanggal 25 Agustus 1980.

Sinopsis Tetralogi Buru

Tetralogi Buru atau Tetralogi Pulau Buru atau Tetralogi Bumi Manusia adalah nama untuk empat novel karya Pramoedya Ananta Toer yang terbit dari tahun 1980 hingga 1988 dan kemudian dilarang peredarannya oleh Jaksa Agung Indonesia selama beberapa masa.

https://pbs.twimg.com/media/EWhWM3lUEAE2j_K?format=jpg&name=small

Tetralogi Buru ini mengungkapkan sejarah keterbentukan Nasionalisme, dan pengukuhan atas seorang yang bernama Tirto Adhi Soerjo yang digambarkan sebagai tokoh Minke.

Latar utama tetralogi ini terjadi pada masa awal abad ke-20, tepatnya medio 1898-1918.

Urutan Baca Tetralogi Buru

Keempat cerita dalam Tetralogi Buru dibacakan secara lisan kepada tahanan-tahanan lain semasa Pramoedya diasingkan di Pulau Buru oleh pemerintah Indonesia.

Setelah Pramoedya bebas, dia menerbitkan keempat cerita tersebut dalam bentuk novel yang kemudian dilarang peredarannya tak lama setelah diterbitkan. Keempat buku tersebut adalah:

1. Bumi Manusia

bumi manusia tetralogi buru pramoedya ananta toer

Roman bagian pertama; Bumi Manusia, sebagai periode penyemaian dan kegelisahan seorang Minke sebagai aktor sekaligus kreator.

Minke adalah manusia berdarah priyayi yang semampu mungkin keluar dari kepompong kejawaannya menuju manusia yang bebas dan merdeka, di sudut lain membelah jiwa ke-Eropa-an yang menjadi simbol dan kiblat dari ketinggian pengetahuan dan peradaban.

2. Anak Semua Bangsa

anak semua bangsa tetralogi buru pramoedya ananta toer

Roman Anak Semua Bangsa adalah periode observasi atau turun ke bawah mencari serangkaian spirit lapangan dan kehidupan arus bawah Pribumi yang tak berdaya melawan kekuatan raksasa Eropa.

Di titik ini Minke diperhadapkan antara kekaguman yang melimpah-limpah pada peradaban Eropa dan kenyataan di selingkungan bangsanya yang kerdil. Sepotong perjalanannya ke Tulangan Sidoarjo dan pertemuannya dengan Khouw Ah Soe, seorang aktivis pergerakan Tionghoa, korespondensinya dengan keluarga De la Croix (Sarah, Miriam, Herbert), teman Eropanya yang liberal, dan petuah-petuah Nyai Ontosoroh, mertua sekaligus guru agungnya.

Kesadaran Minke tergugat, tergurah, dan tergugah, bahwa ia adalah bayi semua bangsa dari segala jaman yang harus menulis dalam bahasa bangsanya (Melayu) dan berbuat untuk manusia-manusia bangsanya.

3. Jejak Langkah

jejak langkah tetralogi buru pramoedya ananta toer

Roman ketiga ini, Jejak Langkah, adalah fase pengorganisasian perlawanan.

Minke memobilisasi segala daya untuk melawan bercokolnya kekuasaan Hindia yang sudah berabad-abad umurnya. Namun Minke tak pilih perlawanan bersenjata. Ia memilih jalan jurnalistik dengan membuat sebanyak-banyaknya bacaan Pribumi. Yang paling terkenal tentu saja Medan Prijaji.

Dengan koran ini, Minke berseru-seru kepada rakyat Pribumi tiga hal: meningkatkan boikot, berorganisasi, dan menghapuskan kebudayaan feodalistik. Sekaligus lewat langkah jurnalistik, Minke berseru-seru: “Didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah penguasa dengan perlawanan”.

4. Rumah Kaca

jejak langkah tetralogi buru pramoedya ananta toer

Roman keempat, Rumah Kaca, memperlihatkan usaha kolonial memukul semua kegiatan kaum pergerakan dalam sebuah operasi pengarsipan yang rapi.

Arsip adalah mata radar Hindia yang ditaruh di mana-mana untuk merekam apa pun yang digiatkan aktivis pergerakan itu. Pram dengan cerdas mengistilahkan politik arsip itu sebagai kegiatan pe-rumahkaca-an.

Novel besar berbahasa Indonesia yang menguras energi pengarangnya untuk menampilkan embrio Indonesia dalam ragangan negeri kolonial. Sebuah karya pascakolonial paling bergengsi.

Kenapa Tetralogi Buru Dilarang dan Begitu Diburu?

Pemerintah Indonesia menuduh bahwa karya-karyanya mengandung pesan Marxisme-Leninisme yang dianggap tersirat dalam kisah-kisahnya.

Ketiga karya terakhir ini bahkan langsung dilarang oleh Kejaksaan Agung hanya 1-2 bulan setelah terbit.

Di luar negeri, Tetralogi Buru diterbitkan dengan nama The Buru Quartet. Penerjemah Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa ke dalam bahasa Inggris, Max Lane, yang sejak April 1980 bertugas sebagai pegawai di Kedubes Australia di Jakarta, harus dideportasi karena menerjemahkan kedua buku tersebut.

Share your love
Arif Abdurahman
Arif Abdurahman

Pekerja teks komersial asal Bandung, yang juga mengulik desain visual dan videografi. Pop culture nerd dan otaku yang punya minat pada psikologi, sastra, dan sejarah.

Articles: 1771

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *