Kategori
Uncategorized

Batik Garutan: Terang Redup Batik Sunda

Batik Garutan layaknya film-film Wes Anderson: cerah, ceria dan minimalis. Mencerminkan dinamika urang Sunda dalam kesederhanaan dan watak jenaka. Meski didominasi tipikal warna dasar biru dan merah bata, yang merupakan pengaruh batik Yogyakarta dan Cirebon, tapi dikawinkan dengan warna kalem yang sesuai kondisi Priangan yang sejuk.

Sayangnya, batik dari tatar Sunda tak terlalu terdengar gaungnya, termasuk batik Garutan ini. Padahal bisa dibilang mencapai masa keemasan pada masa kolonial Hindia Belanda, namun industri batik Garutan mengalami kelesuan sejak masa penjajahan Jepang. Begitu juga masa setelahnya, selama masa sulit di era awal kemerdekaan hingga dekade tahun 1970-an, batik Garutan seakan tertidur lelap. Industri kerajinan batik Garutan kembali kembali berjalan, meski tertatih-tatih pada 1980-an, ketika keluarga para perajin batik Garutan mencoba untuk bangkit kembali dari tidur panjangnya.

Sejak pengukuhan UNESCO yang menjadikan batik sebagai warisan budaya Indonesia pada tanggal 2 Oktober 2009, batik mulai berkembang pesat di seluruh Indonesia. Geliat ini juga berpengaruh pada batik Garutan ini.

Mengenal Batik Sunda, Mengakrabi Batik Garutan

Sejarah batik dalam masyarakat Sunda bisa ditelusuri dengan kata kunci “euyeuk” dan “pangeuyeuk”. Hal ini terdapat di dalam naskah Sunda kuno Siksa Kanda Ng Karesian pada abad ke-16 yang menjelaskan bahan, potongan, warna, corak, estetika, dan cikal bakal yang menjadi batik seperti saat ini.

Tumbuhnya batik di Tatar Sunda tak bisa dilepaskan dari kedatangan para pengungsi Perang Diponegoro tahun 1825-1830. Sebagian pengungsi ini adalah pembatik dari wilayah Banyumas. Mereka memberikan pengaruh terhadap ragam dan corak batik di Tatar Sunda, khususnya Ciamis, Indramayu dan Tasikmalaya. Kegiatan membatik berkembang pesat pada abad ke-20, terutama di Cirebon, Indramayu, Ciamis, Tasikmalaya dan Garut.

Berdasarkan wilayah persebarannya, secara umum batik dibedakan antara batik pedalaman dan batik pesisiran. Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis termasuk ke dalam batik pedalaman bersama Yogyakarta, Surakarta dan Banyumas.

Seperti dalam kultur Jawa, batik punya sisi filosofis mendalam yang hadir di tiap siklus kehidupan manusia. Ketika manusia lahir, batik digunakan untuk menyelimuti bayi merah baru lahir untuk kemudian kain batik itu terus dipakai oleh ibunya untuk ngais, atau menggendongnya. Selanjutnya, ketika seorang manusia menikah, batik jadi busana wajib bagi semua. Kemudian di akhir masa hidup manusia, batik digunakan untuk menutupinya sebelum dimakamkan.

Sebagai bahan sandang, batik telah memenuhi fungsinya sebagai sinjang (kain panjang), selendang, sarung dan ikat kepala. Secara mendasar pada batik Garut terdapat unsur-unsur yang memengaruhi perwujudannya seperti warna dan motif, bahan, teknik, termasuk aspek psikologis dan simbolik. Adanya berbagai perpaduan unsur-unsur tersebut memberikan peluang untuk berbagai penafsiran terhadap makna yang dikandungnya.

Contoh warna khas batik Sunda biasanya didominasi merah kuat dan hijau pekat serta warna lainnya. Berdasarkan buku Kidung Sunda yang diterbitkan pada tahun 1928 oleh Balai Pustaka, diterangkan bahwa warna yang dipilih sudah tergambar dengan sendirinya dan tersusun dalam dominasi dasar warna merah dan antara hijau ke biru.

Untuk spektrum warna merah yaitu beureum (merah), beureum cabe (merah cabe), beureum ati (merah hati), kasumba (merah ketela pohon), kayas (merah mawar), gedang asak (merah pepaya masak), gading (kuning gading), koneng (kuning), koneng enay (kuning pisang). Sementara untuk warna biru dan hijau tersusun dengan urutan dari hejo (hijau), hejo lukut (hijau lumut), hejo ngagedod (hijau kelam), hejo paul, paul, gandaria (ungu), gandola (ungu kelam), bulao saheab (biru sekilas), pulas haseup, bulao (biru).

Selain warna merah, biru, dan hijau, pilihan warna orang Sunda juga tertuju pada warna berdasarkan tingkat kekelaman yang tidak terurai. Beberapa warna yang dimaksud itu seperti bodas (putih), hideung (hitam), borontok, kopi tutung (kopi gosong), candra mawat, dan lainnya.

Kepopuleran batik Garutan bisa ditarik juga kepada Karel Frederick Holle, seorang preangerplanters, perintis dan pemilik perkebunan teh Waspada yang mulai dibangun sejak tahun 1862. Orang-orang di lingkungan perkebunan sana menyebutnya sebagai Tuan Hola. Ia dikenal sebagai seorang yang menaruh minat terhadap kebudayaan Sunda. Mulai dari cara berpakaian hingga kesenangannya pada gamelan. Tuan Hola juga menyukai batik tulis garutan. Ia bahkan mulai memproduksi batik tulis Garutan di dalam lingkungan perkebunannya. Konon, mulai dari sinilah batik tulis Garutan kemudian dikenal luas.

Pada periode 1930 Garut masuk dalam masa keemasannya sebagai daerah tujuan wisata. Banyaknya pelancong yang berkunjung, menjadikan batik tulis Garutan sebagai salahsatu oleh-oleh yang dipromosikan kepada mereka.

Industri batik Garutan mengalami kelesuan ketika masa penjajahan Jepang. Sejak ini pula, selama masa sulit di era awal kemerdekaan hingga dekade tahun 1970-an, batik Garutan seakan mati suri. Industri kerajinan batik Garutan kembali kembali berjalan, meski tertatih-tatih pada 1980-an, ketika keluarga para perajin batik Garutan mencoba untuk bangkit kembali. Baru pada dekade 2000an, batik Garutan makin menguat seiring bergairahnya produk batik secara nasional.

Keunikan Batik Garutan

Foto: batikpelangi.co

Kesederhanaan komposisi bentuk motif dan warna adalah ciri khas batik Garut. Hal ini merupakan cerminan kehidupan sosial budaya dan falsafah hidup serta adat istiadat masyarakat Sunda. Letak geografis, sifat dan tata kehidupan daerah yang bersangkutan, serta keadaan alam termasuk flora dan fauna dan konstruksi hubungan antar-daerah pembatikan menjadi faktor yang memengaruhi gaya pembatikan pada ragam batik Garut.

Pengulangan bentuk geometrik yang mengarah pada garis diagonal merupakan perwujudan batik Garutan. Meski begitu, batik Garutan bisa dibilang dinamis juga, karena diimbangi dengan penempatan warna yang serasi. Di samping itu penampilan flora digambarkan secara sederhana dengan bentuk bunga, daun dan tangkai.

Hal ini dipengaruhi oleh letak geografis Kota Garut dan keadaan alam sekitarnya, termasuk bentuk fauna seperti kupu-kupu dan burung merak. Dalam hal warna sesuai dengan kondisi daerah Priangan pada umumnya yang beriklim sejuk. Dengan demikian warna latar (dasar) batik Garut berciri khas lembut/muda (kalem-Sunda), yaitu krem (gumading-Sunda) yang berdasar cerah, bersih dan dinamis.

Kecenderungan masih dipergunakan beberapa pedoman dalam pembuatan batik Garut tentu tidak didasarkan atas adanya perbedaan kelas pengguna, melainkan bersumber dari unsur sejarah, seni, pupuh, sastra, dan tembang yang memunculkan unsur simbolik seperti tertera di atas. Unsur artistik tentu bersifat subjektif dan dilihat dari kacamata masyarakat Garut itu sendiri. Apakah menarik atau tidak untuk diterapkan menjadi salah satu motif batik Garutan.

Khusus inspirasi pembuatan batik Garut dari sumber seni, pupuh, sastra, dan tembang kadang diterjemahkan secara berbeda dalam pembuatan motif batik Garut, namun secara garis besar ada kesamaan dalam pola garis dan warna yang dipergunakan. Hal ini patut dimaklumi mengingat antara satu pupuh dengan pupuh yang lain dalam menggambarkan satu objek terkadang dituangkan dalam beberapa kalimat yang berbeda namun bermaksud sama.

Hal senada juga dituangkan dalam tata cara berbusana yang diungkapkan dalam berbagai sumber seni, pupuh, sastra, dan tembang Sunda. Salah satunya adalah sajak pupuh Sunda yang dinyanyikan dalam seni Celempungan atau Gamelan dari Juru Kawih H. Idjah Hadidjah, produksi Jugala tahun 1981 Bandung berjudul Kuwung-kuwung.

Syair tersebut menggambarkan keindahan alam Priangan yang menjadi sumber inspirasi dalam berbagai bentuk seni tembang, sastra, dan teralisasi dalam bentuk visual untuk menentukan kecocokan antara tata cara berbusana dengan alam sekitar, yaitu alam Priangan. Gambaran tata cara berbusana batik adat Sunda Garutan terus berlanjut melalui kemunculan syair-syair bertemakan tata cara berbusana.

Aneka Ragam Batik Garutan Kontemporer

Membatik, yang pada dasarnya suatu perjuangan proses kreatif melalui sebuah ungkapan berupa gambar pada media kain, ternyata sarat dengan makna. Makna ini dibangun sebagai sebuah hasil simbolisasi, pengharapan, tetapi tidak menutup kemungkinan juga ungkapan nyata dari realitas yang terjadi pada diri dan lingkungan hidup si pembatik.

Pekerjaan membatik selain membutuhkan ketelitian tinggi juga mesti didasari cita rasa seni yang memadai. Tanpa memiliki kedua aspek di atas rasanya agak mustahil menjadi perajin batik tulis. Perempuan sering dimitoskan sebagai orang yang tepat melakukan pekerjaan ini. Dalam prosesnya membatik memerlukan keterampilan, ketekunan dan kesabaran serta konsentrasi batin. Untuk menyelesaikan sehelai batik kadang-kadang memerlukan waktu berbulan-bulan, karena seluruh prosesnya dikerjakan secara manual dengan tangan. Jadi seperti pada umumnya usaha pembatikan lain di Jawa, para pengrajin di Garut pun umumnya kaum wanita.

Karena proses yang ruwet tersebut, menjadikan harga jual yang tinggi pula. Keberhasilan strategi pemasaran batik Garutan saat ini rupanya memliki lubang-lubang kelemahan yang meskipun sedikit namun cukup vital, yaitu proses regenerasi pembatik. Untuk mengakomodasi kalangan lebih luas dengan harga lebih terjangkau, dalam perkembangannya diciptakan alat cap sebagai pengganti canting yang dapat mempercepat proses pembatikan, hingga saat ini batik tulis dan batik cap berjalan berdampingan. Hasil penggambaran di atas kain melalui canting atau cap dapat dihasilkan pola-pola yang lebih bebas, halus, rumit maupun kasar bergantung desain dan bahan dasar kainnya.

Berdasarkan kondisi daerah pembatikan di Garut, dan perkembangannya, batik dengan ragam khasnya mengalami pasang surut. Meski motif lama masih banyak digemari, namun terlihat selalu ada upaya kreatif pengusaha batik tulis Garut untuk memodifikasi motif lama agar lebih menarik calon pelanggan. Dengan kata lain, modifikasi motif batik Garutan menjadi semakin penting artinya.

Tinggalkan Balasan