Kategori
Anime

Wotakoi: Love Is Hard for Otaku

Kita bertemu Narumi Momose di hari pertamanya di pekerjaan barunya. Tujuan satu-satunya adalah menyembunyikan rahasia tergelapnya: ia adalah seorang otaku. Dia suka membaca yaoi, cerita cinta sesama lelaki, dan dia merupakan fangirl bahkan bikin ceritanya sendiri, atau doujin.

Sayangnya, tak ada keberuntungan baginya, karena di hari pertama di kantor baru, ia berpapasan dengan teman masa kecilnya Hirotaka Nifuji, yang sama-sama seorang otaku, yang bertanya padanya di tengah-tengah koridor apakah Narumi akan pergi ke eksibisi Comiket dan menyebutkan bahwa Hirotaka bisa membantunya menjaga stan.

Sementara dua orang lainnya, Hanako Koyanagi dan Taro Kabakura, yang juga berdiri di koridor berpura-pura tidak mendengar, dan ini menandai awal dari persahabatan, bahkan kisah romantis antar mereka.

Wotakoi: Ketika Para Otaku Pacaran

Salah satu faktor utama yang membuat Wotakoi makin menarik adalah sedikitnya karakter yang terlibat. Hal ini memberi setiap karakter kesempatan untuk bersinar tanpa meninggalkan yang lain. Keempat karakter utama, memiliki gaya otaku sendiri. Narumi fangirl yaoi, Hirotaka seorang gamer, Hanako cosplayer, dan Kabakura penggemar manga dan anime.

Di episode-episode penghujung, muncul dua tokoh lain, yang punya potensi jadi pasangan: Naoya Nifuji, adik Hirotaka yang non-otaku, dan Kou Sakuragi, gadis penyendiri seumuran Naoya sekaligus gamer akut.

Tiap karakter terlihat berbeda antara satu sama lain dengan warna rambut dan ekspresi wajah yang berbeda. Reaksi karakter juga menjual banyak komedi terutama setiap kali karakter bereaksi dengan cara berlebihan, seringpula mengambil referensi dari Gintama dan Jojo Bizzare.

wotakoi love is hard for otaku

Sejoli Narumi dan Nifuji sangat menghibur untuk ditonton. Kedekatan mereka ditunjukkan melalui minat mereka yang entah bagaimana bersinggungan dengan kehidupan sehari-hari mereka.

Di akhir episode pertama, Hirotaka menembak Narumi. Argumen Hirotaka terlalu bagus untuk ditolak Narumi, dan untuk pertamakalinya Narumi mulai berkencan dengan sesama otaku dalam hidupnya.

Di kantor, keduanya mempertahankan hubungan profesional meskipun mereka masih bersikap santai terhadap satu sama lain. Wotakoi mengeksplorasi perkembangan hubungan mereka karena mereka lebih saling memahami dalam kehidupan dewasa mereka, seperti pergi berkencan ke bioskop atau taman hiburan.

Hanako dan Kabakura sudah berkencan sejak lama, sebuah hubungan yang hanya akan terjadi jika dua tsundere bersatu. Mereka sudah berpacaran sejak lulus SMA, meskipun tidak ada yang tahu di kantor. Sebagian besar kisah mereka adalah romansa ringan yang lebih mengandalkan realisme. Sementara untuk Naoya dan Kou, karena diperkenalkan di akhir-akhir, belum terekplorasi lebih jauh.

Obrolan ringan sampai perdebatan antar karakter sering dilontarkan untuk memunculkan komedi. Ini sangat menghibur karena setiap karakter mendapatkan sorotan tersendiri, begitu cocok dengan langkah dialog yang terasa sangat nyata. Kesan yang dibawa momen-momen itu adalah gambaran akurat tentang bagaimana rekan kerja berperilaku. Setiap kali kelompok Otaku ini keluar untuk minum-minum, mereka bertindak seperti orang dewasa biasa yang menikmati hidup.

Wotakoi yang Memanjakan Para Otaku

Meski tidak terlalu episodik, kamu masih akan tersesat jika langsung melompat ke tengah-tengah episode. Setiap episode memiliki tema sendiri seperti menginap, Narumi dan Hirotaka yang mencoba kencan normal dengan melarang obrol soal topik otaku. Ini adalah kombinasi yang bagus dari setiap episode yang memiliki kisah unik tetapi juga kisah-kisah tersebut meneruskan dan membangun warisan bagi diri mereka sendiri ketika seri mendorong maju. Alur ceritanya sangat lancar dan membuat ketagihan.

Dengan 11 episode, rasanya cukup bagi anime ini untuk melakukan apa yang dimaksudkan dan itu untuk menjual ide-idenya kepada penonton. Ini berhasil berkat lingkaran kreatif karakter dan minat mereka.

Otakuisme bukanlah sesuatu yang diterima dengan mudah sebagai norma budaya positif. Bahkan, sering dipandang remeh dalam masyarakat kita. Namun, anime ini disajikan dengan cara yang positif. Saya dapat mengatakan tanpa keraguan bahwa anime ini direkomendasikan untuk siapa saja. Anime seperti ini patut mendapat perhatian lebih, dengan serius.

Oleh Arif Abdurahman

Pekerja teks komersial, yang juga mengulik desain visual dan videografi. Pop culture nerd dan weeboo yang punya minat pada psikologi, sastra, dan sejarah.

Berkomentarlah sebelum komentar dilarang