Kategori
Anime

Fate/Zero yang Sinis dan Dingin

Selamat datang di Perang Cawan Suci. Premis dan konsep umum kurang lebih sama dengan premis serial Fate; Ada tujuh penyihir yang dikenal sebagai Master yang bertarung berpasangan dengan versi magis dari tokoh sejarah atau mitos yang disebut Servant. Pertarungan sampai mati ini digelar untuk memperebutkan Cawan Suci, objek misterius yang dikatakan dapat mengabulkan permintaan yang diminta sang pemenang. 

Fate/Zero dipenuhi dengan aliansi rahasia, pengkhianatan, ketegangan yang mengerikan, sentuhan horor, tragedi menyayat hati dan taktik yang apik. Bahkan ketika Perang mendekati penyelesaiannya yang tak terhindarkan dan destruktif, ia terus maju dengan alur ceritanya yang cerdas dan belokan yang bikin para penonton tetap terpana meski sudah di ujung tanduk; bahkan bagi orang-orang yang sudah akrab dengan seri Fate akan terkejut dengan betapa licik dan menipunya Fate/Zero.

Fate/Zero yang Gelap dan Memikat

Tidak diragukan lagi ini adalah aspek terkuat Fate/Zero: ditulis dengan kepala dingin dan matang. Skripnya logis, canggih, dingin, dan penuh perhitungan, tetapi mencegah potensi keruntuhan ke wilayah apatis semata-mata berkat emosi dan motif yang disuntikkan ke dalam karakter-karakter utamanya, yang pada gilirannya memicu tema dan pesan Fate/Zero ke dalam percakapan yang bermakna dan penuh pemikiran. Beberapa momen komikal yang subtil menambah rasa dan keseimbangan yang diperlukan untuk keseluruhan suasana gelap Fate/Zero.

Fate/Zero menghadang Fate/Stay Night lewat eksplorasi tema-tema utamanya, soal kepahlawanan, kehormatan, moralitas, dan ksatria. Sementara seri Stay Night memiliki momen-momen cemerlang, pandangan idealisnya pada cita-cita ini dihancurkan oleh Zero yang lebih sinis dan kritis.

Apa yang dibutuhkan untuk menjadi pahlawan? Bisakah kamu benar-benar berusaha menjadi pahlawan dengan mempertahankan cita-cita kamu? Berapa banyak yang harus kamu korbankan untuk itu? Fate/Zero tidak segan-segan membahas kebenaran tentang apa yang dipandangnya sebagai moral dan ideologi yang tidak realistis dan terlalu optimistis, dan banyak momen terbaiknya terjadi ketika dua faksi saling bertukar pandangan. Mempertanyakan beragam kiasan heroik yang sering ditampilkan sebagian besar media.

Bukan berarti ia selalu mencoba untuk menjadi pesimis, karena pada saat yang sama Fate/Zero menawarkan gagasan tentang kepercayaan diri, penebusan dan harapan. Beberapa karakter akhirnya berhasil mencari tahu lebih banyak tentang diri mereka sendiri, dan beberapa bahkan berdamai dengan kekurangan diri mereka. Yang lain, setelah begitu banyak kesulitan dan cobaan, akhirnya dibiarkan tenang setelah perjalanan panjang dan menyedihkan yang mereka lalui.

Fate/Zero Dipenuhi Karakter yang Kompleks

emiya kiritsugu fate zero

Salah satu aspek yang menentukan Fate/Zero adalah cara mengatasi para pemainnya. Fate/Zero dimulai dengan menolak untuk mengakui karakter utama tertentu untuk ceritanya. Baru menuju pertengahan kita akan tahu siapa tokoh utama yang sebenarnya, tetapi pada awalnya sebagian besar karakter dapat dianggap sebagai protagonis cerita, dengan peluang yang hampir sama untuk menang.

Masing-masing dari Master Perang Cawan Suci punya alasan mereka sendiri untuk menginginkan Cawan, dengan cara yang paralel dan kontras satu sama lain; penyihir arogan Kayneth El-Melloi mencari keagungan lewat Grail, sama seperti muridnya Waver Velvet, yang setelah dipermalukan oleh Kayneth untuk membuktikan dirinya.

Sementara itu, Kariya Matou, mantan pewaris keluarga penyihir ganas yang berjuang dalam perang untuk menyelamatkan keponakannya, seorang gadis bernama Sakura. Yang bersebrangan dengannya adalah Tokiomi Tohsaka, kepala keluarga Tohsaka yang kuat yang ingin menyelesaikan tujuan semua penyihir melalui Cawan: mencapai aspek dalam seri Fate yang dikenal sebagai Root. Master lain adalah Ryuunosuke Uryuu, seorang pembunuh berantai gila yang tidak seperti Master lain, yang bahkan tidak tahu apa yang sedang dia jalani.

Dan akhirnya kita memiliki dua Master perang yang paling menarik; yang pertama adalah Kirei Kotomine, seorang pendeta mematikan yang bekerja di bawah Tokiomi sebagai kartu truf, tetapi kemudian dirinya yang tanpa emosi berusaha keras meraih tujuan yang dia yakin akan dia temukan lewat Cawan Suci. Dan yang kedua adalah pembunuh-penyihir terkenal, Kiritsugu Emiya, seorang pembunuh bayaran yang tak terduga yang bergabung dengan Perang Cawan Suci untuk mewujudkan cita-citanya sendiri, bahkan jika tindakannya akan membuatmu mempertanyakan itu.

Hubungan Master dan Servant dalam Fate/Zero

iskandar fate zero

Masing-masing dari Master dipasangkan dengan Servant yang, dalam satu atau lain cara, mencerminkan atau kontras dari diri mereka. Kayneth, merupakan seorang bangsawan yang sangat dingin dan angkuh, memanggil Lancer yang benar-benar ksatria dan setia, yang dalam beberapa hal mencurigai sikap Tuannya.

Dan kita memiliki Kariya yang mengorbankan diri memasuki kegelapan, memanggil si gila Berserker, yang menderita masalah mental parah. Waver memanggil Rider yang bombastis, yang dalam segala hal adalah segalanya yang Waver inginkan: seorang lelaki legendaris dengan kesuksesan dalam beragam penaklukan.

Tokiomi akhirnya berhasil memanggil Archer yang kuat, yang tidak menunjukkan kepedulian terhadap hasrat ambisius Tokiomi karena dia yakin dia sudah memiliki semua yang dia harapkan ketika dia masih hidup.

Ryuunosuke memanggil Caster yang terbukti sama sintingnya dengan tuannya, sementara Kirei memanggil Assassin yang sangat tidak populer dan terkenal lemah, yang menandakan dia tampaknya tidak relevan dengan Perang. Tentu saja kita memiliki Kiritsugu, yang akhirnya memanggil Saber yang heroik dan mulia yang pola pikirnya terus-menerus berbenturan dengan ideologi tuannya. 

Satu hal yang Fate/Zero lakukan dengan baik, lebih baik daripada kebanyakan anime, adalah hubungan antar karakternya. Interaksi dan dinamika antara masing-masing karakter, baik itu Master dan Servant-nya atau yang lain, atau hanya antara pemain dan orang luar atau rekan, semuanya dilakukan dengan luar biasa dan mendorong pengembangan cerita. Setiap karakter memiliki kepribadian, pola pikir, dan daftar ideal cita-cita mereka sendiri yang unik. Setiap kali dua karakter bertemu kita selalu dapat mengharapkan sesuatu seperti diskusi tentang harapan, bentrokan pedas tentang moral atau hanya olok-olok lucu.

Beberapa contoh favorit seperti ikatan yang tulus antara Saber dan istri Kiritsugu Irisviel, hubungan komikal namun menawan antara Saber dan Lancer atas pemikiran mereka tentang ksatria, diskusi menarik antara Archer, atau lebih dikenal sebagai Gilgamesh, dengan Kirei, dan tentu saja, pasangan Waver dan Rider; pahlawan Macedonia Iskandar yang memiliki persediaan karisma dan pesona yang tak ada habisnya dan berfungsi sebagai inspirasi bagi harapan Waver yang secara bersamaan memicu perkembangan sang Master. Sebagian besar hubungan yang ada dalam Fate/Zero dieksekusi dengan sangat baik.

Pemeran pendukung terdiri dari Irisviel “Iri” serta Maiya antek dari Kiritsugu dan bahkan putri Tokiomi, seorang gadis berdarah panas bernama Rin. Iri dengan mudah adalah salah satu karakter yang paling disukai, dengan aura lembut yang menyembunyikan seorang wanita yang cukup berani dengan sikap kekanak-kanakan yang tetap menggemaskan. Maiya mungkin tidak mendapatkan banyak sorotan yang layak, tetapi dia membuktikan dirinya mampu bahkan melawan sosok yang lebih kuat. Dan Rin? Rin yang berusia 7 tahun mendapatkan satu episode penuh untuk dirinya sendiri yang dengan berani menandainya sebagai sedikit karakter badass.

Sayangnya tidak semua karakter, bahkan karakter utama, mendapatkan perlakuan yang sama. Dengan menjadi turnamen kematian ini sudah jelas, tetapi itu tidak mengurangi perasaan bahwa beberapa karakter seperti Assassin tidak benar-benar mendapatkan banyak pengembangan atau bahkan karakterisasi. Berserker juga menderita hal ini pada tingkat yang lebih rendah, meskipun bertanggung jawab atas beberapa adegan pertarungan terbaik seri ini. Syukurlah, para Master mendapatkan lebih banyak keseimbangan antara satu sama lain, walaupun seri itu tidak bisa berbuat lebih banyak dengan Kayneth, misalnya.

Namun masalah terbesar datang dari pengambilan mitos di balik karakter Servant-nya. Fate/Zero benar-benar melakukan riset mengenai nama-nama domain historis yang dipinjamnya, tetapi untuk sepenuhnya menghargai semua yang disajikannya kita perlu setidaknya menelusuri beberapa halaman Wikipedia untuk mendapatkan ide di balik beberapa karakter, tragedi dan koneksi mereka. Ini memang wawasan trivial, tetapi sedikit saja penggambaran tentang kisah-kisah khusus dan elemen-elemen dalam latar belakang karakter seperti Gilgames dan Raja Arthur tampaknya akan membantu menangkap dan memahami beberapa momen karakter dan garis-garis yang tampaknya tidak relevan.

Animasi Fate/Zero yang Memukau

saber lancer fate zero

Fate/Zero adalah salah satu karya animasi paling indah yang pernah diproduksi. Tingkat kualitas dan detailnya lebih sering ditemukan dalam film-film teater ketimbang serial anime. Tentu, saat ini ada cukup banyak film seperti Your Name, The Wind Rises dan A Silent Voice yang mungkin melampauinya, tetapi bahkan tujuh tahun setelah episode pertamanya ditayangkan, Fate/Zero masih menjadi salah satu film animasi yang paling teliti dan cemerlang. Ufotable membawa permainan kelas atasnya ke Fate/Zero dalam gaya khas mereka dengan karya-karya selanjutnya.

Desain karakter menarik, sangat detail dengan banyak sentuhan kecil, dan sangat dapat dibedakan satu sama lain. Desain karakter Type-Moon yang terkenal menarik dan baik animasi maupun efek pencahayaan/bayangan memberi setiap karakter penampilan yang mencolok dan apik di semua adegan mereka.

Selain karakter, latar dirancang dengan cermat dengan pengaturan pencahayaan dan efek bayangan yang cukup psikotik yang saling berhubungan dengan warna-warna yang kaya, gelap dan metalik yang digunakan Ufotable untuk menciptakan atmosfer lingkungan yang menakutkan yang terus-menerus mengalirkan suasana yang sangat melankolik.

Tentu saja, animasinya tak kalah menakjubkan. Ada banyak adegan pertarungan, dari benturan antar pedang ke pembunuhan monster bahkan pertempuran udara menegangkan antara jet penyerbu yang dirasuki melawan kereta bersayap bertabur emas dan semuanya terlihat sangat mengesankan berkat animasi digital terbaik dikombinasikan dengan berbagai kemampuan dan trik yang dimiliki oleh setiap karakter.

Penggunaan CGI begitu cerdik dan terintegrasi dengan baik. Ini digunakan untuk efek yang luar biasa dalam beberapa adegan aksi, latar dan detail tambahan, yang membuatnya terlihat apik dan megah. Dan beberapa bit CGI, seperti dalam Berserker atau monster Caster, cenderung terlihat seperti hanya tempelan CGI, tetapi efek tambahan ini membuat mereka terlihat benar-benar mengerikan, asing dan aneh.

saber emiya fate zero

Fate/Zero adalah apa yang berusaha dan gagal dilakukan oleh banyak seri anime aksi; itu adalah epik eksplosif tentang kenyataan, takdir dan sifat manusia yang hampir tidak pernah jatuh ke kiasan dan klise umum anime. 

Sebagai prekuel, Fate/Zero dipaksa untuk membuka jalan ke Stay Night ketimbang menciptakan klimaks bombastisnya sendiri, tetapi saya merasa bahwa akhir yang kita dapatkan benar-benar pas. Fate/Zero adalah tragedi terus-menerus, dan sementara akhir yang benar-benar bahagia mungkin merupakan hadiah yang indah untuk rasa sakit dan kesedihan yang tersimpan sepanjang 24 episode sebelumnya, kesimpulan yang lebih pahit dan melankolis begitu terasa.

Ada kerugian besar dan realisasi yang mengerikan, tetapi itu sejalan dengan apa yang ditunjukkan sebelumnya, dan Fate/Zero paling tidak benar-benar berakhir dengan harapan bahwa penerus kronologisnya akan mencapai beberapa tugas mustahil yang sebelumnya begitu banyak dikritik. Dan bagi saya, akhir cerita ini sangat memukau.

Oleh Arif Abdurahman

Pekerja teks komersial, yang juga mengulik desain visual dan videografi. Pop culture nerd dan weeboo yang punya minat pada psikologi, sastra, dan sejarah.

Berkomentarlah sebelum komentar dilarang