Kategori
Uncategorized

Promare yang Penuh Gaya

Promare, film aksi anime dari perusahaan produksi terkenal Studio Trigger, tidak membuang waktu. Sebagian populasi dunia meledak ke semacam api supernatural. Para korban itu, dijuluki Burnish, bergabung setelah dipersekusi dan menyebabkan kiamat kecil dengan membuat ledakan-ledakan. Great World Blaze berakhir, dunia pulih, dan baru saat itulah kredit pembuka dimulai.

Demikian pula, film ini memperkenalkan tim sentral protagonis pemadam kebakaran dengan begitu ekonomis. Bapak-bapak keren dengan kumis dan kacamata hitam mengkilap adalah pembina. Gadis dengan jas lab dan kacamata adalah master teknologi yang unik. Pria berotot besar adalah pria berotot besar. Galo Thymos, pemula sembrono dan bertelanjang dada – yang secara jelas tampak mirip Kamina dari Gurren Lagann, seri sebelumnya dari sutradara Hiroyuki Imaishi – adalah jagoan kita. Setiap karakter utama mendapat catatan pengantar heboh. Dengan setelan robot besar dan modular, mereka melawan teroris Burnish di gedung pencakar langit yang terbakar. Namun kemegahan adegan aksi pertama ini berakhir dengan intrik yang cukup untuk menunjukkan bahwa “tidak semua seperti yang terlihat”.

Sebagai film pertama dari Studio Trigger, Promare dipenuhi dengan motif-motif dari produksi sebelumnya. Gambar kepala tengkorak dengan kacamata hitam bersudut, simbol Trigger yang muncul pada Gurren Lagann, Space Patrol Luluco, dan SSSS.Gridman, membuat penampilan sebagai helm dari pemimpin Burnish. Seorang karakter menerbangkan pesawatnya dalam pose yang sama seperti yang dilakukan Zero Two di Darling in the FRANXX. Frame-frame
kadang-kadang dihilangkan untuk tampilan kinetik, tampak lebih kartun yang mengingatkan pada adegan-adegan canda dari Kill la Kill. Tentu saja, ada banyak robot besar yang dikemudikan oleh jagoan pemberani dengan sepenuh hati.

Beragam referensi ke masa lalu Trigger menjadikan Promare sebagai pernyataan artistik dari etos perusahaan, atau, sebagaimana studio sendiri menggambarkannya, “puncak dari Tuan Imaishi dan [penulis Gurren Lagann] Tuan Nakashima.” Film ini merupakan penjabaran dari semangat anime shonen dengan semangat artistik dan drama fisik. Lebih samar lagi, seorang perwakilan untuk Trigger mengatakan melalui email bahwa alasan di balik motif-motif umum ini “mungkin menjadi jelas suatu hari nanti, pada saat ketika kisah PROMARE berpotongan.” Mungkin ada kesalahan terjemahan di sana, tetapi perasaan persatuan simbolis muncul.

Tidak seperti seri dengan anggaran yang lebih ketat, film ini memiliki banyak ruang untuk dipamerkan. Promare dibuat berdasarkan teknik CG yang menggabungkan animasi 2D dan 3D yang dicoba di Panty and Stocking. Jika seri itu masih mentah (baik humor dan animasinya), Promare sudah dipoles. Garis karakter menyatu dengan latar belakang dengan warna yang selalu berubah dan mekanisme CG menjadi lebih kompleks dan inventif. Bahkan suar lensa berbentuk persegi, seperti piksel raksasa. Namun pendekatan ini memiliki batasnya; semakin sederhana objek CG, seperti gedung pencakar langit atau truk pemadam kebakaran, semakin banyak teknik geometris yang berselisih dengan gaya kartun karakter. 3D sering digunakan dalam anime dengan efek yang luar biasa (lihat: SSSS.Gridman), tetapi di sini sedikit disonansi visual tetap ada.

Masalah teknis ini dapat disingkirkan dengan cara luar biasa ketika kru telah menganimasikan api Burnish. Studio Trigger mengakui bahwa api adalah “motif ekspresi animasi” klasik tetapi sulit untuk dianimasikan dalam penggayaan 3D. Karena Burnish mengendalikan api secara tidak wajar, Trigger memiliki ruang kreatif untuk menghidupkannya. Api itu geometris, berderak, berwarna neon, dan selalu ada dalam adegan aksi. Sebuah kolase yang secara bersamaan datar dan luas, abstrak dan memikat. Seringkali frame begitu penuh dengan api Burnish yang bergerak ke segala arah sehingga orang mungkin bertanya-tanya bagaimana pemirsa dapat memahaminya. Staging dan sinematografi mengorientasikan kekacauan.

Membahas plot Promare tampaknya tidak perlu; cerita bukan propelan film ini. Promare dibangun dalam skala dramatis, kartunis, tapi tidak dalam kompleksitas. Ada subplot yang relevan secara politis tentang demonisasi kelompok-kelompok minoritas. Bukan berarti Promare hanya menggertak.

Galo Thymos berulang kali memberi tahu tokoh-tokoh di sekitarnya, bahkan pada saat-saat ketika nasib dunia bisa berubah, bahwa “jiwa yang membara” dalam dirinya tidak dapat bertarung tanpa gaya. Ketika waktu sangat mendesak, ia menghentikan aksi untuk berdebat dengan orang lain tentang nama robotnya, tentang seperti apa rupanya, tentang kisah di balik senjata yang dimilikinya. Setiap saat, rekannya jengkel dengan omong kosongnya, dan setiap kali ia mendapatkan apa yang diinginkannya. Seolah-olah dia sedang menulis film di setiap saat di mana dia adalah karakter utama, dan dia ingin itu menjadi semegah mungkin. Dia adalah Trigger sendiri, menusuk langit dengan ambisinya.

*

Diterjemahkan dari Promare: Studio Trigger’s First Feature Anime is a Visual Marvel.

Tinggalkan Balasan