Kategori
Psikologi

Khasiat Kesedihan

Cara kesedihan bekerja adalah salah satu teka-teki teraneh di dunia. Ia membakar, bukan hanya karena hadirnya rasa sakit, tetapi karena ia tampaknya menyebar ke seluruh hidup kita, seperti asap dari kebakaran hebat.

Kita mungkin merasa sulit untuk melihat apa pun selain kesedihan itu sendiri, seperti asap dapat mengubah pemandangan jadi hitam belaka. Tentu saja, seperti bakal ada petugas pemadam kebakaran yang menjinakkan kobaran api, kesedihan bisa dipadamkan, tetapi tidak pernah memulihkan apa yang telah terbakar.

Ketika kesedihan datang, tampaknya tidak ada yang bisa kita lakukan untuk melarikan diri darinya. Apakah karena berakhirnya sebuah hubungan romantis, atau kegagalan menggapai angan-angan, atau kematian orang yang kita cintai, atau mungkin gara-gara nonton serial drama, kesedihan adalah emosi normal, sekaligus menjadi satu perasaan yang secara konsisten kita coba hindari. Kita merasa harus berlari ke arah kebahagiaan – yang seringnya malah bikin kita makin tertekan.

Kebahagiaan, di sisi lain, memang telah banyak diketahui punya berbagai macam keuntungan, dari meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan membuat kita lebih tahan terhadap rasa sakit, juga mengurangi stres dan secara keseluruhan meningkatkan kualitas hidup kita. Kesedihan sepertinya tak punya guna bagi kita, hanya simbol kelemahan. Namun, selama beberapa tahun terakhir, lewat beragam penelitian ilmiah, telah ditemukan beragam manfaat kesedihan. Sesuatu yang tampaknya bisa membenarkan eksisnya perasaan manusiawi ini, bahwa kesedihan bukan kesalahan.

1. Komunikasi yang lebih baik

Saat kita sedih, berbicara dengan orang lain tampak berat, kecuali jika dengan seseorang yang dekat dengan kita atau konsul langsung ke profesional. Hanya saja itu bukan sesuatu yang kita sukai kalau sedang berada dalam kondisi itu. Namun, jika kita mengumpulkan cukup kemauan untuk melakukannya, kita akan menyadari bahwa kita jauh lebih baik dalam percakapan ketika sedang berada dalam suasana hati yang buruk.

Sebuah penelitian dari UNSW Sydney tentang bagaimana suasana hati memengaruhi keterampilan komunikasi telah menemukan bahwa orang yang sedang sedih jauh lebih persuasif, dan lebih baik dalam memengaruhi pendapat pendengar mereka. Tampaknya, menjadi sedih mengubah cara kita memproses sesuatu, dan membuat kita lebih jelas dalam menyampaikan apa yang ingin kita katakan.

2. Meningkatkan pengembangan memori

Kesedihan memengaruhi otak dengan cara yang tidak kita mengerti, terutama mengenai berbagai kemampuan kognitif kita. Walaupun jelas memiliki efek negatif di banyak hal, seperti kemampuan analitis dan pemikiran abstrak, tapi kesedihan juga membuat kita lebih baik dalam hal-hal lain, seperti menghafal.

Beberapa eksperimen telah menemukan bahwa orang yang sedih jauh lebih baik dalam proses ingatan. Penelitian di Cardiff University menunjukkan bahwa orang yang sedih lebih baik dalam hal pengenalan wajah ketimbang orang yang sedang bahagia.

3. Empati lebih tinggi

Orang yang menderita depresi, bahkan yang ringan, dianggap terputus dari seluruh dunia. Soal empati, kita selalu berpikir bahwa orang yang lebih bahagia akan lebih siap dan lebih bersedia untuk membantu orang lain. Namun, penelitian membuktikan, justru terjadi sebaliknya.

Eksperimen yang dilakukan Queen’s University di Kanada pada siswa yang mengalami depresi ringan menunjukkan bahwa menjadi sedih dapat membuat kita lebih berempati terhadap emosi orang lain. Mereka tampil secara signifikan lebih baik pada tes daripada siswa yang tidak depresi. Selain dapat diartikan bahwa kebahagiaan membuat kita lebih egois, para peneliti juga berpikir bahwa hal ini disebabkan oleh munculnya hipersensitivitas pada saat depresi.

4. Keahlian berpikir lebih baik

Kebanyakan orang tidak merasa ingin melakukan apa pun ketika mereka sedang sedih atau dalam suasana hati yang buruk, inginnya duduk nyaman di satu tempat atau makan seenaknya. Ini adalah respons alami tubuh terhadap kesulitan emosional, bahkan jika kita tidak mengerti kenapa itu bisa membantu. Jika kita berusaha dan mengerjakan beragam hal pada saat itu, kita akan menemukan bahwa itu sebenarnya waktu terbaik untuk menyelesaikan tugas yang membutuhkan pemikiran.

Penelitian yang dilakukan University of Waterloo, Kanada, menemukan bahwa orang-orang dalam suasana hati yang buruk jauh lebih baik dalam fokus, manajemen waktu dan prioritas tugas, walaupun hanya jika mereka reaktif secara emosional. Namun, justru sebaliknya bagi orang-orang yang kurang rentan terhadap emosi negatif, yang melihat penurunan kemampuan fungsi mereka selama fase buruk mereka.

5. Motivasi lebih baik

Kesedihan seringnya dikaitkan dengan kurangnya motivasi. Saat kita sedih, kita cenderung berfokus pada hal-hal yang membuat kita sedih ketimbang berfokus untuk mengatasinya. Masuk akal bahwa menjadi sedih juga akan datang dengan ketidakmampuan untuk memperbaiki penyebab sebenarnya dari masalah. Namun, secara ilmiah, kurangnya motivasi bukanlah salah satu efek samping dari kesedihan.

Faktanya, penelitian University of New South Wales menunjukkan bahwa kesedihan adalah alat motivasi yang cukup efektif. Orang yang bahagia cenderung merasa nyaman dan kurang memiliki kecenderungan untuk mengubah apa pun dalam hidup mereka, yang pada gilirannya dapat menyebabkan perasaan mandek atau tidak terpenuhi. Sebaliknya, orang yang sedih lebih terdorong untuk keluar dari situasi mereka, dan memiliki kemauan yang lebih tinggi untuk berubah menjadi lebih baik.

6. Lebih baik dalam menghadapi kesulitan

Kesedihan adalah respons alami terhadap hal-hal yang tidak menguntungkan kita. Kita semua mengalaminya sesekali tergantung pada keadaan kita masing-masing. Sementara kita sepakat bahwa menyebalkan untuk menjadi sedih, tapi sains mengatakan bahwa kesedihan itu sebenarnya bermanfaat.

Satu studi yang dilakukan di University of Buffalo, New York, pada 2.400 partisipan menemukan bahwa orang-orang yang telah mengalami semacam kemalangan dalam kehidupan masa lalu mereka lebih bisa menyesuaikan diri secara emosional daripada yang lain. Mereka lebih baik dalam menghadapi situasi buruk daripada mereka yang belum pernah mengalami pengalaman serupa, membuat mereka lebih siap untuk menghadapi kesulitan di kemudian hari.

7. Tanda bahwa kita orang baik

Sudah lama diduga bahwa umumnya orang baik memiliki kemungkinan lebih besar untuk bersedih terhadap keadaan dunia di sekitar mereka. Meskipun kita tidak pernah memiliki banyak data untuk mendukungnya, masuk akal bahwa semakin baik terhadap orang lain, semakin besar kemungkinan akan terpengaruh secara negatif oleh situasi buruk mereka.

Penelitian yang dilakukan Rutgers University mengkonfirmasi bahwa hal itu benar. Orang yang lebih prososial atau lebih sadar akan orang lain cenderung memiliki gejala depresi, atau lebih mungkin mengembangkannya di kemudian hari.

Oleh Arif Abdurahman

Pekerja teks komersial, yang juga mengulik desain visual dan videografi. Pop culture nerd dan weeboo yang punya minat pada psikologi, sastra, dan sejarah.

Berkomentarlah sebelum komentar dilarang