Langsung ke konten utama

Panduan Untuk Tidak Menulis


Ketika tulisan yang saya bikin dirilis dan bisa dibaca, saya seringnya malu untuk membaginya. Pertama, saya orang yang jauh dari laku percaya diri, selalu merasa tulisan dan pemikiran saya begitu payah dan sampah. Ada semacam tanggung jawab sosial ketika menulis esai, untuk menggiring opini, misalnya, dan saya pikir saya bukan orang yang arif, siapa pula saya. Kedua, menghindari komentar dari Akay: “Si Aip mah mun nulis pasti keur butuh duit”.

Saya sering berpikir untuk berhenti bermimpi jadi penulis dan dijauhkan dari gagasan sosialisme, untuk kemudian banting stir mengambil prospek karier yang lebih bersahabat dengan pasar bebas dan kapitalisme lanjut. Kalau pun masih keukeuh pengen jadi penulis, solusi terbaik adalah belajar menulis puisi liris kacangan, bikin novel yang penuh kata-kata bijak yang mudah dikutip, buat esai yang didanai antek neolib atau jadi seleb medsos beratusribu pengikut agar dilirik pengiklan dan partai politik. “Menulis itu hanya omong kosong,” tulis George Orwell dalam Why I Write, “Hanya ada satu cara untuk menghasilkan uang dari menulis: kau harus menikahi anak pemilik penerbit.”

Tentu saja, hari ini ada banyak jenis pekerjaan dengan menulis. Namun, bagi saya, memilih jalan sebagai pekerja teks komersial ini sebagai kesalahan. Sialnya, semakin banyak membaca justru semakin timbul hasrat celaka untuk jadi seorang penulis, dan bodohnya, saya malah yakin kalau bakal jadi semacam penulis hebat. Sebab inilah, dari asalnya membaca cuma sebatas bentuk eskapisme, sekarang punya sebuah tuntutan membaca-untuk-menulis. Sehingga, belakangan saya agak mengurangi intensitas baca buku, secara sengaja. Namun, bahkan sehabis nonton film atau main gim, saya merasa perlu untuk menuliskannya. Meski akhirnya, karena saya lebih seorang pemalas ketimbang seorang penulis, lebih banyak ide tulisan tadi mangkrak jadi sekedar draf.

Beberapa waktu lalu saya dipercaya jadi pemateri workshop esai di Sabilulungan Fest 2019 yang diadakan Sosiologi Fisip Unpad. Karena pesertanya anak SMA, tentu yang paling utama adalah saya harus menjaga diri agar tak memberi pengaruh negatif bagi mereka. Saya sempat bingung ketika ditanya “Bagaimana agar percaya diri ketika mengirim tulisan”.

Tentu, saya menjawab dengan jujur, bahwa saya pun punya krisis kepercayaan diri, namun ditambahi beberapa petuah agak inspiratif. Saya sebenarnya ingin memberi jawaban yang pernah diajukan Virginia Woolf: agar berhenti menulis esai.

Pada tahun 1905, Woolf menulis sebuah esai yang judes dengan judul sinis: The Decay of Essay Writing. Ia mengeluhkan proliferasi esai personal yang terlalu sering diproduksi. Ia menulis: “Traktat, pamflet, iklan, salinan majalah gratis, dan produk sastrawi dari teman-teman datang lewat pos, dengan mobil gerbong, oleh kurir — datang setiap saat sepanjang hari dan tenggelam saat malam hari, sehingga meja sarapan pagi ditimbuni olehnya.” Saya pikir itu ditulis sebagai sindiran, pada awalnya esai itu dapat dibaca sebagai semacam pembelaan Woolfian tentang hak seorang wanita untuk menulis. Namun ketika saya membaca lebih lanjut esai tersebut, saya menyadari bahwa Woolf menggerutu lebih dari itu, bahwa terlalu banyak tulisan yang dihasilkan.

Woolf berpendapat bahwa waktunya tidak lebih egois ketimbang zaman sebelumnya, tetapi bahwa orang-orang sezamannya memiliki keuntungan memiliki “ketangkasan manual dengan pena.” Dia berpendapat bahwa proliferasi penulisan adalah karena banyaknya orang yang tahu cara menulis dan memiliki akses ke pena dan kertas. Ketika semua orang dapat menulis, untuk apalagi menulis?

Saya membayangkan Woolf pasti benci kehadiran internet. Untuk mengadaptasi Woolf bagi zaman kita: hanya karena kamu dapat mengetikkannya di komputermu bukan berarti kamu harus melakukannya. Sialnya saya terlalu bebal dan malah menulis esai kacangan macam begini.

Komentar

  1. Seorang Arif yang tidak arif hehe.

    Kalau saya pribadi sehabis baca biasanya akan susah tidur,gak tau kenapa setelah selesai baca pikiran saya akan jadi rame banget sama pertanyaan2, dan itu berlansung lama kalau saya tidak share atau melihat persepsi orang lain terhadap isi bacaan tersebut.

    Untungnya saya punya satu teman setia, yang selalu selalu saya tanyai persepsinya ttg buku yabg saya baca.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah alasan kenapa pakenya arip.

      Itu emang logis banget, editor saya bilangnya cara paling baik belajar nulis ya lewat baca. Karena menulis perpanjangan dari membaca. Punya teman yg bisa diajak diskusi buku emang rezeki haha.

      Hapus
  2. Waktu pertama kali baca, saya sepakat dengan tulisan ini. Sekarang baca ulang dan semakin yakin buat enggak perlu sering-sering menulis karena sudah banyak penulis hebat di luaran sana. Siapa sih yang butuh pendapat atau pemikiran saya?

    Setiap kali mau berbagi tulisan blog ke media sosial tentu ada rasa cemas. Bahkan untuk pencet publikasi juga ada ketakutan, sampai-sampai tanpa sadar mengucap basmalah dulu biar terasa lebih ringan menerbitkannya di blog. Tapi kalau cuma dipendam sendiri, saya jelas enggak akan tahu di mana bagian buruknya. Enggak akan ada penilaian. Enggak ada yang mendebatnya. Apalagi enggak akan ada interaksi.

    Apalagi akhir-akhir ini lagi berlatih menulis cerpen dan menerjemahkan pula, padahal sadar diri sama kemampuan yang jauh dari kata bagus. Cuma lama-lama bodo amatlah. Selama bisa memuaskan diri sendiri sekalian bersenang-senang, nanti bisa sekalian belajar menulis lebih baik lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah saya enggak ada maksud buat menggiring opini apalagi menghasut. Sebenarnya ini cuma semacam keluhan atau mungkin kepengecutan saya karena selalu setengah hati ngelakuin apa pun dan ingin ngambil gampangnya doang.

      Sampai sekarang saya juga sering ga percaya diri kalau mau ngeshare tulisan, padahal ingin dibaca tapi takut kalau dibaca haha.

      Hapus

Posting Komentar

Berkomentarlah sebelum komentar dilarang. Jika kolom komentar enggak muncul, hapus cache browser atau gunakan versi web.

Postingan populer dari blog ini

Urutan Nonton Anime TenSura: That Time I Got Reincarnated as a Slime

Tensei Shitara Slime Datta Ken , yang sering disingkat jadi TenSura , adalah salah satu anime isekai terbaik yang diisi humor, karakter-karakter unik, pertempuran sengit, dan tak lupa serangkaian rapat. Dengan judul Inggris That Time I Got Reincarnated as a Slime , mengikuti perjalanan Rimuru Tempest yang bereinkarnasi sebagai slime tapi kemudian jadi karakter overpower. Nah, saya telah menyusun urutan rilis dan urutan kronologis serial anime isekai TenSura untuk membantu kamu menikmati dunia sang slime ini dengan lebih baik. 1. That Time I Got Reincarnated as a Slime (2018) Judul Tensei Shitara Slime Datta Ken Episode 24 Tayang Fall 2018 Satoru Mikami yang berusia tiga puluh tujuh tahun yang kesepian terjebak dalam pekerjaan buntu, tidak bahagia dengan kehidupan duniawinya, tetapi setelah mati di tangan perampok, ia terbangun untuk awal yang baru di dunia fantasi sebagai monster slime! Saat ia menyesuaikan diri dengan keberadaan barunya yang konyol, eksploi...

Urutan Nonton Anime Chainsaw Man

Chainsaw Man mengemas kisah Denji yang amburadul jadi sebuah mahakarya visual yang memukau, sekaligus memperkenalkan kita pada sosok Makima , waifu red flag yang bakal jadi alasan utama kenapa kita harus punya trust issues. Nah berikut urutan anime garapan studio MAPPA ini:  1. Chainsaw Man (2022) Episode 12 Tayang Fall 2022 Denji adalah seorang remaja laki-laki yang tinggal bersama Chainsaw Devil bernama Pochita. Akibat utang yang ditinggalkan ayahnya, ia menjalani kehidupan yang sangat sulit untuk membayar utangnya dengan memanen mayat iblis bersama Pochita.   Suatu hari, Denji dikhianati dan dibunuh. Saat kesadarannya memudar, ia membuat kontrak dengan Pochita dan dihidupkan kembali sebagai Chainsaw Man. 2. Chainsaw Man – The Movie: Reze Arc (2025)   Episode 1 Film Tayang Summer 2025 Denji menjadi Chainsaw Man, seorang anak laki-laki berhati iblis, dan kini menjadi bagian dari para pemburu iblis Special Division 4. Setelah berkencan dengan Makima, wanita impia...

Urutan Nonton Seishun Buta Yarou (Rascal Does Not Dream)

Serial Seishun Buta Yarou , disebut juga Ao Buta, atau   dalam judul bahasa Inggris  Rascal Does Not Dream. Serial light novel ditulis oleh Hajime Kamoshida dan diilustrasikan oleh Keji Mizoguchi. Animenya diadaptasi oleh studio CloverWorks . Jika ingin menonton anime sekolahan dengan unsur fantasi supranatural seperti Haruhi Suzumiya atau Monogatari , maka bisa coba anime ini. Nah ini urutan anime Seishun Buta Yarou : 1. Rascal Does Not Dream of Bunny Girl Senpai (2018) Judul Seishun Buta Yarou wa Bunny Girl Senpai no Yume wo Minai Episode 13 Tayang Fall 2018 Ada desas-desus tentang fenomena misterius yang disebut “sindrom pubertas”. Misalnya, Sakuta Azusagawa adalah seorang siswa sekolah menengah yang tiba-tiba melihat seorang gadis dengan kostum kelinci muncul di depannya. Gadis itu sebenarnya adalah seorang gadis bernama Mai Sakurajima, yang merupakan kakak kelas Sakuta yang juga seorang aktris terkenal yang telah hiatus dari industri hibu...

Urutan Nonton Anime JoJo’s Bizarre Adventure

Meski belum menonton Jojo’s Bizarre Adventure , sebagai penggemar anime, kamu pastinya pernah melihat banyak meme yang referensinya dari serial ini JoJo’s Bizarre Adventure  memang sangat absurd dan aneh, tetapi interaksi serta keunikan karakter membuat setiap momen sangat berharga. Serial yang sudah berjalan panjang ini juga menghasilkan beragam pertarungan paling epik. Nah, berikut urutan arc ceritanya: Phantom Blood Battle Tendency Stardust Crusaders Diamond is Unbreakable Golden Wind Stone Ocean Steel Ball Run  JoJo’s Bizarre Adventure Versi Jadul 1. JoJo’s Bizarre Adventure (1993) Judul JoJo no Kimyou na Bouken Episode 6 Tayang Fall 1993 Adaptasi pertama JoJo’s Bizarre Adventure adalah anime 1990-an yang dirilis dalam bentuk OVA. Untuk menyelamatkan ibunya, Kujo Jotaro memutuskan untuk bergabung dengan Joseph Joestar dan Muhammad Abdul dalam perjalanan ke Mesir untuk mengalahkan Dio Brando sekali dan untuk selamanya. 2. JoJo’s Biz...

5 Fakta JAV (Japanese Adult Video), Ikeh-ikeh Kimochi!

Di Indonesia, istilah JAV tampaknya sangat terkenal. Hampir setiap orang mengetahui produk Japanese Adult Video ini. Dengan sebutan “bokep Jepang” sampai “ikeh-ikeh kimochi”, bentuk pornografi asal Negeri Sakura ini sering dijadikan bahan candaan sesama teman tapi terus dikonsumsi. JAV memang paling diminati. Pasalnya, film porno asal Jepang ini punya kualitas terdepan, dari segi cerita, alur, latar, dan tokoh. Hal ini menciptakan pengalaman menonton yang memuaskan, dan karenanya banyak yang lebih mengenal produksi ‘blue film’ dari Jepang ini. Itu merupakan salah satu fakta JAV, akan tetapi masih ada fakta-fakta yang lain dan mungkin begitu mengejutkan. 1. Pemeran JAV Lulusan Sarjana Foto: Saika Kawakita Fakta telah membuktikan, kebanyakan pemeran JAV lulusan sarjana. Bahkan ada yang S2 hingga S3, datang dari keluarga baik-baik, memiliki kekayaan, dan mempunyai karir yang gemilang. Aktris dan aktor Japan Adult Video memang dicari yang bermutu dan berpendidi...

45 Anime Jadul yang Pernah Tayang di Indosiar

Pernah mengalami masa-masa galau ketika harus menentukan pilihan kartun Jepang mana yang harus ditonton antara yang di Indosiar atau RCTI? Selamat, kamu termasuk golongan orang-orang yang sudah menua. Dari drama Hong Kong, kuis Family 100, sinetron Tersanjung , kontes menyanyi AFI, sampai berita kriminal Patroli, Indosiar juga paling terkenal karena menjadi salah satu stasiun TV swasta nasional yang menayangkan beragam judul anime. Sampai sekarang mungkin ada banyak anime jadul yang pernah tayang di Indosiar ini masih menempati hati dan ingatan. Atau ada anime yang kadang terlintas di pikiran tapi lupa nama judulnya. Nah, berikut beragam anime jadul yang pernah tayang di Indosiar: 1. Air Gear Genre Action, Comedy, Ecchi, Sport Episode 25 Studio Toei Animation Minami Itsuki, yang dipanggil Ikki, tak pernah berpikir untuk serius mengendarai sepatu roda bermotor Air Treck. Sampai ia menemukan sebuah ruangan terkunci, sepasang AT dan sekotak stiker mili...