Kategori
Anime

Yesterday wo Utatte dan Para Masokis Emosional

Terlepas dari apa yang kamu pikirkan tentang anime romantis pada umumnya, kamu harus mencoba Yesterday wo Utatte.

Para masokis adalah ahlinya menyakiti diri. Meski dimulai dan tetap terhubung sepenuhnya dengan seks, masokisme sama kuatnya di ranah emosional. Ketakmampuan untuk keluar dari perasaan muram menandai masokisme ini. Mungkin ada lebih banyak masokis emosional ketimbang yang seksual, dan bisa jadi kita tak menyadari kecenderungan ini.

Lihat: Masokis Emosional

Selalu ada orang yang doyan makan sesuatu yang pedas, berkeringat deras dan tampak menderita tapi mengklaim kalau dia justru menikmatinya. Sambal hot jeletot bukan satu-satunya cara orang untuk menikmati sesuatu yang menyiksa diri, banyak orang suka menonton film sedih, mendengarkan musik murung atau menaiki roller coaster yang bikin jantung copot. Ini berlaku juga ketika berhubungan dengan yang lain, apalagi dalam asmara.

yesterday wo utatte poster
Foto: singyesterday.com

Yesterday wo Utatte, anime 12 episode yang tayang di musim Semi 2020 ini, memotret para masokis emosional itu. Mengikuti empat orang, dua laki-laki dan dua perempuan, yang berusaha menjalani kehidupan terbaik mereka melalui kesulitan dan kekacauan. Di sebuah daerah sekitar dekat Shinjuku, kesalahpahaman kecil menyebabkan komplikasi besar, dan berbagai perasaan mereka menjadi terjerat.

Kebanyakan anime asmara berlatar di sekolah menengah atau perguruan tinggi, tapi Yesterday wo Utatte memandu kita melalui hambatan karakter yang jauh melewati tahap itu. Dengan hari-hari terbaik mereka yang tampaknya jauh di belakang, para tokoh ini berjuang untuk memilih antara hidup di masa kini atau berpegang pada ingatan mereka yang sekarat.

rikuo shinako yesterday wo utatte anime spring 2020

Rikuo Uozumi adalah lulusan perguruan tinggi yang tak yakin tentang masa depannya. Punya hobi fotografi, dan saat ini bekerja paruh waktu di sebuah toko serba ada, sementara belum memutuskan untuk memasuki semacam karir tertentu.

Kehidupan monotonnya terpecah ketika Haru Nonaka yang nyentrik sering mampir ke minimarketnya. Dengan pembawaan yang riang, Haru sering menggodanya. Tak lama, Rikuo mengetahui kalau seorang teman kampus dan gebetannya, Shinako Morinome, pindah kembali ke kota. Timbul tekad Rikuo untuk memajukan hubungan mereka.

Rikuo sejak lama memiliki perasaan pada Shinako, tapi lebih memilih memendamnya. Apalagi sekarang, ketika dia cuma pegawai minimarket sementara Shinako telah punya pekerjaan tetap sebagai guru sekolah menengah. Meski bukan sepenuhnya pengangguran, tentu saja rasa minder menggerogoti Rikuo.

Tanpa diketahui Rikuo, Shinako membawa kenangan menyakitkan dari masa lalunya yang menahannya. Sementara itu, Haru terus mengejar Rikuo, dan menemukan kalau Rikuo, sama seperti dirinya, juga hidup sendiri dan sedang ingin melangkah keluar dari zona nyamannya ke masa depan yang penuh ketakpastian.

Masuk Rou Hayakawa, siswa sekolah menengah yang tengah megikuti persiapan masuk kuliah seni rupa, seseorang yang sudah kenal Shinako sejak kecil, dan yang akan terus saling menjerat perasaan satu sama lain. Kisah-kisah yang dibawakan oleh Yesterday wo Utatte bisa dibilang menjadi semakin rumit.

rikuo yesterday wo utatte

Sejak episode pertama, saya langsung merasa, “Anjing, ieu aing pisan!” atau istilah kerennya “relate” dengan karakter Rikuo. Terlalu banyak mikir, terlalu baik, penuh keraguan, hobi memendam perasaan, terlalu gampag menyerah dan tak cakap berhubungan dengan perempuan.

Yesterday wo Utatte seakan menjadi cermin bagi banyak penonton dan itulah sebabnya banyak orang akan dengan mudah mengaguminya, sekaligus membencinya. Namun terlepas dari apa yang kamu pikirkan tentang anime romantis pada umumnya, kamu harus mencoba Yesterday wo Utatte. Sebuah kisah kehidupan sehari-hari yang dijalani dengan 49% melihat ke belakang dan 51% menatap masa depan.

yesterday wo utatte anime
Visual latar yang ciamik dari Yesterday wo Utatte.

Yesterday wo Utatte sendiri adalah manga karya Kei Toume, yang memulai serialisasi di majalah manga seinen Business Jump pada tahun 1997, lalu pindah ke majalah Grand Jump pada November 2011 dan berakhir pada Juni 2015.

Baru keluar adaptasi animenya tahun ini dan latar 1990-an akhir yang melingkupi Yesterday wo Utatte ini jadi begitu nostalgik. Visualisasinya juga setara film, latar lokasi begitu detil. Ketika ponsel apalagi aplikasi chat belum hadir, kegiatan menunggu tanpa kejelasan adalah siksaan yang menghibur.

Masa lalu selalu melekat dalam pikiran, dan masa depan tetap sulit dipahami. Di persimpangan di sepanjang jalan yang saling terkait, para individu dalam Yesterday wo Utatte mengalami apa artinya melepaskan perasaan mereka yang kemarin dan merangkul perubahan yang dibawa esok.

Pada akhirnya, perbedaan yang paling relevan antara masokisme seksual dan emosional adalah bahwa aktivitas yang pertama, dalam keadaan yang tepat, akan sangat menyenangkan, sedangkan yang terakhir tidak pernah jadi apa-apa selain neraka pahit yang melelahkan.

Oleh Arif Abdurahman

Pekerja teks komersial, yang juga mengulik desain visual dan videografi. Pop culture nerd dan weeboo yang punya minat pada psikologi, sastra, dan sejarah.

15 tanggapan untuk “Yesterday wo Utatte dan Para Masokis Emosional”

Enggak tahu kenapa saya kurang suka film2 jepang dan anime hehe. Pernah dulu dipaksa teman saya yang suka anime buat nonton, kalau gak salah judulnya Kimi no nawa, setelah selesai nonton saya bengong karena saya nggak ngerti, jadi dariapada menjadi masokis emosional yang memaksakan diri menyukai sesuatu, mending saya jujur saja saya nggak suka filmnya haha.

gw juga suka nonton anime, cuma kebanyakan yang gw tonton anime yang lagi hits aja, kayak misal one piece, shingeki, kalo yang romatis jarang karna gak ada rekomendasi, nah disini gw menemukan sebuah rkomendasi :D.. terakhir anime roman yg gw tonton adalah anohana 😀

Review nya keren! Ahah. Setuju banget sih. Aku aja heran kenapa nonton anime ini. Aku benci sekaligus suka sama ni anime. Aneh, sih. Aku benci Uozumi karena mirip diri sendiri. Bhah. Anehnya, meskipun aku kesel tetep aku tonton sampe ending. Ajaib emang.

entah kenapa baca tulisan bang arif saya jadi lebih mengerti jalan cerita anime nya. tros jadi lebih paham character rikuo uozumi. tros dapat wawasan baru mengenai masokis emosional. yang tidak menyakiti secara fisik melainkan secara emosional. yang suka menyakiti diri sendiri ato disakiti dengan menonton anime ini. kakakaka.. semangat tros bang arif.. padahal baru baca udah suka tulisan nya.. keep up the good work.. saya nantikan anime selanjutnya..

Terima kasih sudah membaca, sekaligus udah nyemangatin dan muji saya hehe. Tentu saja selama anime masih eksis di dunia, saya akan menontonnya, dan kalau sempet dan ga lagi males akan terus menuliskannya. Arigatou, Shalman!

Balas

Tinggalkan Balasan